Lomba Menulis Konferensi Penulis Cilik Indonesia

Konferensi Penulis Cilik, ajang lomba untuk anak-anak usia SD seluruh Indonesia sudah dibuka lagi. Yuk cek ketentuan lombanya ;

· Peserta merupakan siswa SD/MI atau sederajat dan masih berstatus sebagai pelajar pada tahun ajaran 2017/2018.

· Peserta belum pernah menjadi juara 1, 2, dan atau 3 tingkat nasional pad kategori lomba yang sama.

· Peserta hanya boleh mengikuti satu kategori lomba dan hanya boleh mengirimkan satu karya.

· Karya bertema “Indahnya Persahabatan dalam Keberagaman” ditulis dalam Bahasa Indonesia dan tidak mengandung undur SARA atau Pornografi.

· Karya merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba sejenis.

· Karya diketik pada kertas HVS ukuran A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman ukuran 12 dengan jarak margin 4-3-3-3 cm. Atau bisa juga ditulis tangan pada kertas folio bergaris.

Untuk yang belum mengirim karya dan masih bingung akan ikut kategori lomba apa, lebih baik Sahabat lihat dulu baik-baik persyaratan dan ketentuan setiap kategori lombanya lewat tautan-tautan di bawah ini:

Lomba Menulis Cerpen Bagi Penulis

Lomba Menulis Cerpen Bagi Pemula

Lomba Cipta Pantun

Lomba Mendongeng

Lomba Cipta Syair

Ayo segera tentukan kategori yang Sahabat sukai, karena setiap peserta hanya boleh memilih satu kategori dan hanya boleh mengirimkan satu karya saja. Jadi, pikirkan baik-baik yah! Kalau semuanya sudah siap, Sahabat bisa langsung kirim karya Sahabat dengan tujuan sebagai berikut:

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar

u.p. Kasubdit Peserta Didik, Subdit Peserta Didik

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar

Gd. E Kemdikbud Lt. 17,

Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

Telepon: (021) 5725638 atau (021) 572564

Naskah yang akan dikirimkan harus dibuat sebanyak 3 rangkap dan kesemuanya itu harus disahkan keasliannya oleh kepala sekolah atau pihak yang mewakilinya (diberi cap dan tanda tangan kepala sekolah). Kemudian karya dimasukan ke dalam amplop yang diberi keterangan kategori lomba yang diikuti di sudut kiri atas amplop (contoh: KPCI – Lomba Cipta Syair).

Naskah atau karya yang dikirim harus dilengkapi fotokopi identitas berupa kartu pelajar serta biodata singkat yang mencantumkan nama peserta, tempat tanggal lahir, kewarganegaraan, alamat lengkap, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat e-mail, nama sekolah, alamat sekolah, dan kelas. Supaya panitia nanti tidak bingung untuk mengidentifikasi karya kamu. Kita tunggu karya Sahabat selambat-lambatnya pada 31 Agustus 2017 (cap pos).

Ayo diserbu.
Setiap tahunnya KPCI akan mengundang 150 anak dari seluruh Indonesia untuk berkumpul selama empat hari mengikuti konferensi.

Lomba Menulis Novel Universitas Negeri Semarang

Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan sayembara penulisan novel tingkat internasioal (Unnes International Novel Writing Contest 2017). Melalui sayembara ini para penulis diharapkan dapat mengeksplorasi nilai-nila budaya lokal untuk menumbuhkembangkan solidaritas kemanusiaan.

KETENTUAN UMUM:

Mengisi formulir pada tautan daring http: unnesnovelcontest.com
Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah novel.
Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu atau Inggris.
Tema: eksplorasi nilai-nila lokal untuk kontruksi solidaritas kemanusiaan.
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
KETENTUAN KHUSUS:

Panjang karya 40.000—100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.
Peserta mengirimkan salinan tanda pengenal beserta naskah novel.
Peserta tidak perlu membubuhkan nama penulis di dalam novel.
Naskah dikirim melalui tautan unnesnovelcontest.com
Batas akhir pengiriman naskah: 11 September 2017
HADIAH :

1. Pemenang I Rp. 20.000.000

2. Pemenang II Rp. 15.000.000

3. Pemenang III Rp. 10.000.000

4. Untuk 10 karya pilihan juri @ Rp. 2.000.000

LAIN-LAIN:

Pemenang akan diumumkan dalam Anugerah Unnes International Novel Writing Contest 2017
Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
Pajak ditanggung pemenang.
Sayembara ini tertutup bagi panitia dan keluarga inti Dewan Juri.
Maklumat/informasi dapat diakses di tautan unnesnovelcontest.com
Dewan Juri terdiri atas Dr. Seno Gumira Ajidarma, Prof. Agus Nuryatin, dan Prof. Suminto A Sayuti.

SUBMIT NASKAH

IN HERE

KONTAK :

Muhamad Burhanudin
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85743563778

Izzati
unnesnovelcontest@gmail.com
+62 85 727 462 643

Klik Di sini

Sayembara Penulisan Buku Balai Bahasa Jawa Tengah

Dewan Balai Bahasa membuka sayembara penulisan buku untuk anak.

Ketentuan Khusus

1. Tema dasar “sikap hidup dalam keluarga dan lingkungan sekitar”.
2. Naskah dalam Bahasa Indonesia berbentuk prosa.
3. Bahan bacaan ditujukan untuk anak sekolah dasar.
4.Naskah mengandung kearifan lokal Jawa Tengah.
5 Tidak mengandung unsur SARA.
6. Karya asli bukan terjemahan juga saduran.
7. Belum pernah diterbitkan.
8. Ketentuan naskah.
2500-1000 kata. Ditulis pada kertas HVS ukuran A5 dengan menggunakan font huruf Tahoma 12 spasi 1,5. Margin kanan 1,5 dan margin kiri 1 cm.
Halaman berkisar antara 20-50 halaman.
9. Naskah bahan bacaan dibagi menjadi beberapa episode dan setiap episode disertai ilustrasi.
10. Penilaian juri terhadap naskah meliputi ; tema, gaya penulisan dan penggunaan bahasa.

Ketentuan Umum
1. Sayembara terbuka untuk umum.
2. Peserta berdomisili di Jawa Tengah dan memiliki KTP Jawa Tengah
3. Peserta dapat mengirim maksimal 3 judul
4. Naskah lomba berupa dummy kirim ke :

PANITIA SAYEMBARA PENULISAN BAHAN BACAAN PENGAYAAN
PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
JAWA tENGAH TAHUN 2017
Jalan Elang Raya no 1
Mangunharjo, Tembalang
SEMARANG 50272

5. Naskah dikirim dalam bentuk dummy print out tiga rangkap, selambatnya ditunggu hingga tanggal 3 April 2017
Penyeleksian penilaian naskah tanggal 10 – 22 April 2017.
Pengumuman pemenang tanggal 26 April 2017 lewat email juga telepon.

Kursus Menulis Online Nurhayati Pujiastuti

Merah Jambu

Penulis Tangguh

Ada banyak yang ingin belajar menulis, tapi selalu berpikiran bahwa menulis itu susah.
Ada yang ingin belajar menulis, tapi merasa bahwa membaca saja ia tidak suka.
Ada yang ingin bisa menulis, tapi beranggapan menulis itu percuma dan tidak ada hasilnya.

Saya kebetulan sudah suka menulis sejak kecil. Jadi kebiasaan sudah terbangun. Bisa dilihat di Nurhayati Pujiastuti. Ada orang yang baru ingin belajar menulis ketika sudah besar, atau pada saat ia merasa sudah tua. Lalu merasa, ia tidak akan mungkin bisa menulis.

“Pasti bisa,” itu yang selalu saya katakan untuk yang ingin belajar menulis.
Iya, pasti bisa.
Karena ketika menulis dianggap mudah, maka segala hal yang kita rasa sulit, akan mudah kita kendalikan.

“Mbak buka kursus menulis?”
Iya, saya membuka kursus menulis online. Sarananya bisa melalui email, WA atau messenger.
Belajarnya private.
Waktu belajarnya setiap hari selama 6 minggu. Libur pada hari besar, Sabtu juga Minggu.
Kenapa setiap hari? Karena dengan setiap hari, saya menerapkan metode pembiasaan. Dan dengan setiap hari, saya jadi mampu mengontrol kemampuan menulis siswanya. Saya jadi tahu, sudah sampai di mana tahap kemampuan menulisnya berkembang.
Untuk biaya?
Biaya untuk sekarang masih kisaran Rp 350 ribu dibayar di muka.
Peserta akan dibimbing sampai bisa menulis.
Ke depannya, saya persiapkan buku panduan menulis, sehingga pelajaran dari saya akan mudah diingat oleh teman-teman yang belajar.

“Jam berapa, mbak?”
Jam fleksible tergantung kenyamanan peserta.
Jika tidak bisa pada hari kerja, maka bisa dipadatkan pada Sabtu juga Minggu. Yang penting serius mengikuti jalannya pelajaran. Karena yang saya sampaikan adalah praktik bukan sekedar materi.
Peserta bebas. Boleh anak, sampai orang tua. Lelaki juga perempuan.
Kelas menulis yang saya buka adalah, kelas menulis untuk cerita anak, cerita remaja dan juga cerita dewasa, juga artikel meliputi resensi dan artikel di media cetak.
Ke depannya, saya akan merencanakan membuka kelas menulis buku dan novel juga.

Ingin informasi lebih banyak?
Bisa WA saya di 0812 9926 446
Atau bisa cek FB, juga fanpage saya di Nurhayati Pujiastuti.

Ingin lihat karya penulis yang sudah belajar.
Bisa baca karya mereka di Penulis Tangguh
Merah Jambu
juga di Kelas Biru.

Karya-karya itu sudah hadir di media cetak, dan mendapatkan honor.
Ada juga karya yang untuk lomba yang dimenangkan. Termasuk lomba yang membuat penulisnya jalan-jalan ke Beijing. Juga memenangkan lomba-lomba menulis lainnya.

Peyek’e, Mas…..

DSCF3576

“Peyek’e mboten, Mas….”
Suara nyaring itu akan terdengar setiap Sabtu menjelang siang. Perempuan separuh baya, kulit kecoklatan dengan topi caping di kepalanya. Di keranjang yang biasa ia letakkan di depan pintu pagar, ada banyak peyek alias rempeyek. Dari kacang tanah atau kacang kedelai hitam. Sebungkusnya ia jual dengan harga enam ribu rupiah.
Ia akan datang tanpa peduli cuaca sedang panas-panasnya atau bahkan hujan yang mengakibatkan jalan masuk perumahan kami tergenang air.
Suaranya nyaring dan khas. Anak-anak di rumah sudah paham. Suami yang pertama kali menemukannya.
Ia akan memanggil dengan suara…,” Peyek’e, Mas.”
Biasanya saya akan berlari ke pintu pagar. Dan pertanyaan itu akan dilanjutkan dengan.
“Setunggal napa kaleh?” tanyanya. “Wonten kacang, wonten kedelai.”
Maka ia akan menyodorkan dua bungkus peyek yang dipenuhi kacang seperti pilihan kami. Satu plastik dihargai enam ribu rupiah.
Sebenarnya, peyek yang dijualnya juga bukan peyek yang istimewa. Di perumahan kami banyak yang menjualnya. Peyek asli Jogja, itu biasa yang tertulis di badan mobil atau motor penjual peyek di perumahan.
Tapi soal memutuskan untuk membeli terus dagangannya adalah bukan masalah sepele untuk kami. Saya dan suami pernah berproses, hingga akhirnya mengambil keputusan. Bahwa kami harus membeli.

Tapi masalah yang kami rasakan adalah soal rezeki yang menjadi hak orang lain. Peyek yang kami buat banyak. Diberikan ke tetangga juga masih banyak. Dimakan sendiri bosan. Porsi kami adalah peyek yang dijual oleh perempuan bercaping itu setiap Sabtu, lalu kami nikmati pelan tapi pasti. Hingga ketika Kamis persediaan peyek sudah habis, kami akan merindukan suaranya memanggil di depan pintu pagar.
Buat saya, itu hak rezeki buat Mbak pengantar peyek.

“Ke sini naik apa?” tanya saya suatu hari.
“Naik angkutan, Mbak. Dari depan jalan kaki.”
Rumahnya jauh. Demi sekeranjang peyek yang saya beli dua bungkus, rasanya tidak mungkin ia mendapat keuntungan berlipat ganda. Saya yakin ia menjualnya karena yakin kami butuh, dan ia suka menawari kami.
“Banjir tadi di tempat saya, Mbak…,” ujung celana panjangnya ia gulung.

Ada banyak jalan rezeki yang akhirnya harus dipahami dengan betul. Ada keterbatasan kita sebagai manusia yang memang juga harus disadari. Dan keterbatasan itu akan jadi jalan rezeki untuk yang lain.
Untuk perempuan yang tidak bisa memasak, tapi ingin di dapurnya lauk yang tersedia adalah lauk yang beragam. Maka rezeki itu adalah jadi haknya para perempuan yang pintar memasak, dan membuka warung makan dengan beraneka macam lauk.
Kita tinggal memilih lauk apa saja dalam porsi kecil. Tiga atau lima ribu rupiah. Dengan uang sejumlah itu, kita tidak mungkin mendapatkan masakan seperti itu. Contohnya untuk urap.
Mereka bukan sembarang perempuan.
Mereka memutar uang dan dari perputaran uang itu mereka memberikan banyak kontribusi yang tidak kecil untuk bangsa ini.

Rempeyek harus digoreng dengan minyak goreng. Minyak goreng itu tentunya tidak diproduksi sendiri tapi dibeli di kios atau toko sembako. Lalu kacang tanah. Meski tersedia di toko sembako, tapi jika tidak ada petani kacang yang menanamnya, maka mustahil akan bisa hadir dan dijual di toko. Tepung beras juga seperti itu. Plus plastik untuk membungkus rempeyek.
Dan lingkaran ekonomi tingkat mikro ini yang menguatkan ekonomi tingkat makro. Perusahaan plastik tidak akan beroperasi bila tidak jutaan pedagang seperti ini. Dan para pegawai yang bekerja di sana, adalah imbas dari larisnya pedagang kecil seperti tukang rempek langganan kami.

“Peyek….”
Di lain tempat seorang Nenek usia sekitar 70 tahun berjalan terbungkuk. Ada keranjang warna merah di tangannya.
“Peyek, Neng?” ia menawari.
Satu bungkusan rempeyek renyah diberi harga tujuh ribu rupiah. Rempeyek dagangannya selalu habis. Dan habis itu artinya ia harus membeli tepung beras lagi, kacang lagi, minyak goreng lagi dan plastik lagi.
Sesuatu itu terlihat kecil. Tapi industri menjadi kokoh karena hal-hal seperti itu. Dan saya seperti ibu-ibu lainnya yang ribet dengan urusan dapur, menjadi sangat terbantu.

“Peyek mboten Mbak’e….”
“Banjir? Tetap jualan?”
“Kalau ndak jualan sayang, Mbak. Rumah saya juga kebanjiran,” ujarnya dengan senyumnya yang khas.
“Ada peyek kedelai, peyek kacang. Setunggal napa kaleh?”
Saya mengangguk. Membeli rempeyek dagangannya.
Sejak dua tahun yang lalu saya putuskan. Kami tidak pernah menolak dagangannya lagi.
**

Tentang Za

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com.

Za berbeda. Ia manis. Kulit sawo matang sama seperti yang lainnya. Tubuh sintal. Dan sungguh ia sangat manis dan suka menggoda.
Sejak kecil Za sudah manis. Sejak kecil ia sudah merasa bahwa ia manis. Maka ia selalu percaya diri ketika menunjuk seseorang.
“Dia naksir aku..,” ujarnya percaya diri sambil mengedipkan kelopak matanya yang dinaungi bulu mata lentik.
Za selalu percaya diri dalam hal penampilan fisiknya. Apalagi bapaknya selalu sayang padanya.
Suatu hari kalung emas tergantung di lehernya. Kalung baru, dengan rantai yang lebih tebal dan bandul yang lebih berat.
“Kata Bapak, jangan bilang-bilang ke yang lain.”
Za memang berbeda. Ia manis, dengan rambut ikal dan gigi gingsul. Za semakin percaya diri ketika ia lepas SD.
“Dia pegang tanganku,” ujarnya suatu sore sambil menggigit es mambo. Di pipinya ada lesung kecil. “Ini pacar ketigaku.”
Pacarnya banyak. Semua laki-laki seperti tersedot magnetnya. Meskipun Za tidak terlalu menonjol seperti remaja lainnya. Sekolahnya? Biasa saja. Nilai rapornya biasa saja. Pacarnya? Luar biasa…, beberapa teman geleng-geleng kepala jika membicarakan Za.
Za juga pintar menyanyi. Suara Za merdu. Dan Za berani naik ke atas panggung. Tapi Za tidak punya cita-cita seperti yang lain. Cita-cita Za berbeda.
“Aku mau jadi orang kaya,” katanya.
Za ingin jadi orang kaya, mungkin karena ingin mengangkat kehidupan orangtuanya. Tapi bukan kaya ilmu. Sebab Za tidak tertarik dengan hal itu. Za ingin kaya dalam pandangan umum. Berlimpah harta, keliling dunia dan dihormati semua orang karena kekayaannya.
“Enak naik mobil..,” ujar Za sambil tersenyum.
Za punya mimpi. Mimpi yang dimiliki oleh gadis-gadis muda sepertinya.
**
“Namanya Pak Wan…,” kata Za. Ia sudah tersenyum ketika berjalan menuju rumah. “Pak Wan direktur.”
Namanya Pak Wan. Putih, tinggi besar dengan mobil baru.
“Kamu kenalan di mana?”
Za tersipu. “Tadi kebetulan ketemu di apotik.”
Maka hari-hari Za adalah bersama Pak Wan. Mobil Pak Wan akan terparkir di tanah kosong depan rumah Za. Lalu bapaknya Za akan mengambil kemoceng dan membersihkan mobil itu.
“Pak Wan suka memberi uang.”
“Ditabung uangnya?”
Za menggeleng. “Buat Bapak beli rokok, buat Emak beli baju. Yang lain juga suka minta beli baju,” ujar Za dengan bangga.
Za dan Pak Wan adalah sepasang kekasih yang jadi perbincangan.
“Anaknya sepantar aku,” kata Za. “Istri Pak Wan sudah punya suami baru.”
“Terus kamu kapan nikah?”
Za menggeleng. Ia masih duduk di bangku SMA. “Aku kan sudah punya pacar yang lain.”
“Jadi punya dua pacar?”
Za mengangguk.
Dua kekasih yang Za punya. Satu Pa Wan, dan satunya teman sekelasnya, yang suka ia traktir.
“Senang-senang aja dulu,” Za bicara dengan mantap.
Bersenang-senang ala Za artinya tidak perlu memikirkan masa depan. Tidak perlu menabung. Uang ada di tangan langsung dihabiskan dan bisa ia cari lagi. Caranya? Dengan meminta dari Pak Wan.
Lama tidak mendengar kabar tentang Za. Cukup lama.
Ia bukan lagi gadis remaja, tapi sudah gadis dewasa. Dengan rok span mini lalu tas kerja dan sepatu high heel.
“Kerja di perusahaan swasta,” ujarnya bangga.
Kerja di perusahaan swasta, tetap jadi penopang ekonomi keluarga. Semua berharap banyak darinya. Kakak-kakaknya pengangguran.
“Sekarang pacarku kerja di rumah sakit.”
Pacarnya kerja di rumah sakit. Lelaki muda. Anak orang kaya. Tapi berujung pada perpisahan. Za dikhianati.
**
Beberapa tahun yang lalu Za menikah. Dengan seorang preman.
“Aku cinta sama dia…,” katanya sambil menangis ketika menginap di rumah. “Cinta setengah mati.”
Preman sebuah diskotik. Preman itu yang lari dari jendela karena Za memergoki ia sedang selingkuh dengan perempuan lain.
“Aku tidak mau cerai…,” Za berurai air mata.
Za tidak mau cerai karena cinta. Cinta itu yang membuat Za datang lagi beberapa tahun kemudian sambil tersenyum.
“Habis dari Singapura,” ujar Za.
“Sama suami kamu?”
Za semakin tersipu. “Sama suami yang lain.”
Lalu ke luarlah cerita dari mulut Za tentang lelaki lain berkewarnageraan Singapura. Lelaki dengan dua anak. Lelaki itu memberi banyak materi juga cinta.
“Punya dua suami?”
Za mengangguk.
“Benar-benar menikah?”
Za diam. Mengerutkan keningnya seperti ingin menghimpun sebuah cerita. Lalu dari bibirnya hadirlah sebuah cerita.
Ia hanya memiliki satu suami. Suami pengangguran dengan satu anak. Suami yang membolehkan ia tidur dengan lelaki lain, bahkan menjadi simpanan lelaki lain. Suami yang membuat Za justru bahagia, karena dengan cara seperti itu ia merasa memiliki harga diri sebagai seorang wanita.
“Kamu bahagia?”
Za mengangguk.
Ia bahagia betul nampaknya. Sesekali ia menelepon bercerita bahwa ia baru saja dari Singapura. Lain waktu ia menelepon mengatakan kalau lelaki yang ia bilang suami dari Singapura, datang di hotel. Dan Za diantar salah seorang kakaknya akan bersiap ke sana.
“Sudah punya tabungan, rumah dari lelaki itu?”
“Cinta…,” ujar Za. Meyakinkan bahwa ia sudah cukup memiliki itu saja.
“Tidak takut dosa? Kenapa tidak minta cerai dan memilih salah satu dari mereka?”
Za menggeleng. “Cinta,” desisnya seolah ia tidak bisa hidup tanpa cinta.
“Anakmu butuh sekolah yang tinggi suatu saat. Jangan cuma makan cinta. Kalau lelaki itu benar-benar cinta, mintalah sebuah rumah untuk masa depan. Suami yang mencintai istri dengan sungguh-sungguh tidak akan membiarkan istrinya dengan lelaki lain.”
“Za diam.”
“Mereka berdua memanfaatkanmu.”
Za cuma diam.
Ia mungkin bahagia. Sama bahagianya setiap kali ia upload foto jalan-jalannya ke luar negeri.
Saya tidak tahu lagi bagaimana cara menasehati Za.
**
Setahun lalu sebuah foto masuk ke group WA. “Ini Za. Sedang sakit.”
Za yang sekarang berbeda. Tubuh kurus kering dan sudah tidak ingat siapa-siapa lagi.
“Za dirawat di rumah, karena tidak ada biaya.”
Za yang malang. Za yang tidak punya rencana masa depan, hanya senang dan senang saja. Para lelaki yang dekat menjauh semua. Za sendirian melawan sakitnya hanya ditemani Emak yang sudah pikun.
“Za akhirnya dipanggilNYA,” berita lain tak lama muncul.
Za akhirnya berpulang. Dalam kesengsaraan.
Za dipenuhi cinta dan percaya cinta. Tidak berani menapaki kenyataan, bahwa cinta yang benar tidak mungkin menyengsarakan.

Bapak dan Hidup Seadanya

Aq dan Bapak

“Cuma sepeda bekas. Bukan sepeda baru…,” ujar Bapak mengelus-elus sepeda itu.
Hari ini kami, saya dan adik-adik punya dua sepeda baru di mata kami. Dua sepeda yang Bapak beli di pasar rumput. Sepeda bekas dengan cat mengelupas. Tapi saya dan adik-adik gembira menerimanya.
Kami selalu punya sepeda bekas. Sepatu juga bukan beli di toko sepatu. Tapi di pedagang kaki lima. Penah dua pasang sepatu dari plastik Bapak belikan untuk saya.
“Harganya murah. Cuma seribu sepasang.”
Sepatu itu saya pakai. Jika kaki keringatan, akan tercium bau tidak sedap, karena plastik itu tidak menyerap keringat.
“Yah…, itu kan sepatu beli di pinggir jalan,” ejek beberapa teman.
Sepeda bekas, sepatu bukan dari toko adalah hal-hal yang biasa untuk saya. Seragam yang Bapak beli bahannya sendiri lalu Ibu yang akan menjahitnya.

Pada saat kelas enam SD, saya menghadap kepala sekolah. Pada waktu itu ketentuan para murid untuk menggunakan seragam putih merah mulai diberlakukan. Bapak sudah membeli bahan di toko tekstil.
“Pak…., saya tidak beli seragam dari sekolah. Bapak saya sudah beli bahannya,” ujar saya di hadapan guru dan kepala sekolah. Entah kenapa di mata terbayang banyaknya uang yang harus ke luar nanti jika saya membeli seragam dari sekolah.
Pindah dari satu rumah kontrakkan ke rumah kontrakkan lain sudah biasa.
Sampai kami pernah tinggal di rumah petak berlantai semen seadanya, hanya satu ruangan saja. Di atasnya anak pemilik kontrakkan memelihara banyak sekali burung merpati.
Bapak harusnya mendapatkan jatah rumah dinas seperti pegawai lainnya. Apalagi Bapak dipercaya di kantornya. Tapi Bapak selalu bilang,” Bapak bukan peminta-minta.”

Maka kami hidup seadanya. Justru keadaan seadanya itu membuat kami malu jika tidak berprestasi di sekolah.
Keadaan seadanya itu semakin mendesak ketika pemilik kontrakkan konon katanya kesurupan. Di saat kesurupan itu, ia berteriak mengusir kami dari rumah kontrakkannya.
Pada saat itu kami juga sakit berjamaah. Saya yang kerap sakit semakin sering sakit. Dan Bapak yang sehat juga akhirnya sakit.
Lalu dalam keadaan terpuruk itu, atasan Bapak datang menjenguk. Lalu mencarikan rumah dinas yang kosong untuk Bapak.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah kontrakkan, saya terkejut. Rumahnya besar, ada ruang tamu, dua kamar tidur dan dapur juga. Dan kami punya kamar mandi sendiri.
“Ini kursi siapa? Ini lemari siapa?” tanya saya melompat ke atas kursi yang empuk. Maklum sebelumnya kami tidak punya kursi yang bagus.
“Punya kita,” ujar Bapak.

Setelah itu kami tetap hidup sederhana. Tetangga kiri kanan naik kendaraan bermotor. Milik sendiri atau inventaris dari kantor. Tapi Bapak tetap naik sepeda. Bahkan Ibu cerita, Bapak menolak kendaraan dari kantor, dan memberikan pada teman yang rumahnya lebih jauh.
“Bapak kamu Omar Bakrie…,” begitu ledekan anak-anak tetangga setiap kali melihat Bapak pulang dan berangkat kerja naik sepeda. Topi yang Bapak kenakan juga topi caping ala petani. Dengan alasan topi itu lebar dan bisa menghalau panasnya matahari.

Bapak saya tidak pernah memiliki harta berlimpah. Rumah pribadi tidak Bapak miliki. Kami tinggal di rumah dinas sampai Bapak pensiun. Lalu karena ada penggusuran, maka ada kebijakan baru. Semua yang tinggal di rumah dinas, mendapatkan ganti rugi. Pada saat itu, saya bertanya ke banyak tetangga. Dan semuanya memiliki rumah yang lain selain rumah dinas. Cuma Bapak yang tidak punya.

Kami punya rumah sendiri akhirnya di Solo. Rumah yang berdiri di atas tanah warisan milik Ibu. Rumah warisan milik Bapak sampai Bapak meninggal tidak Bapak tempati. Bahkan di akhir hidupnya, Bapak bicara pada saya.
“Tolong rumah warisan Bapak dijual. Lalu dibagi ke semuanya. Bapak takut harta itu membuat anak-anak Bapak jadi tidak akur.”
Saya mengangguk. Saya punya Bapak yang hebat. Yang tidak punya uang, tapi punya prinsip yang hebat. Yang membuat kami berjuang dalam hidup kami hingga tidak jadi peminta-minta, bahkan mengambil yang bukan hak kami.

“Bapak tidak punya uang. Maaf, ya, kamu tidak bisa kursus di tempat itu. Mahal.”
Bapak tidak punya kami sudah biasa.
Pegawai negeri dengan delapan anak, hidup tidak mungkin berlebih. Cukup saja sudah lumayan.
Seumur hidup bersama Bapak dan Ibu, saya tidak pernah merasakan lebaran pulang kampung ke kampung halaman Bapak dan Ibu di Solo. Biaya tidak ada. Yang datang biasanya embah Putri setiap beberapa bulan sekali diantar kerabatnya yang berpunya.
“Bapak bukan peminta-minta,” ujar Bapak suatu hari pada saya. Memberi tahu bahwa meski kerabatnya banyak yang berpunya, tapi Bapak punya hidup sendiri dan mencari rezeki dengan kerja keras sendiri.

Adik-adik saya belajar berjualan sejak SD. Dari berjual buku sampai berjualan es. Sekarang ia marketing handal di kantornya.
Saya sendiri menulis sejak SD, dan sekolah hingga sarjana dari uang hasil honor menulis.
“Jadi orang yang hebat dan pintar,” pesan Bapak kepada anak-anaknya. “Dan rukun sesama saudara.”
Kami berjuang keras untuk itu.
Beberapa bulan yang lalu Bapak masuk rumah sakit. Sebulan penuh. Kami 8 anak yang tinggal berjauhan datang silih berganti, untuk bergantian menjaga Bapak.
Dan lelaki hebat yang mengajarkan kami untuk hidup seadanya itu bertanya pelan setelah komanya. “Biayaku di rumah sakit ini mahal pastinya. Siapa yang membiayai?”
Sampai sekarang setelah enam bulan kepergiannya, saya selalu meneteskan air mata untuk perjuangannya menjadikan kami manusia dengan prinsip yang teguh.
#parentingantikorupsi #GakPakeKorupsi

Emak dan Si Jadul

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’

di taman

“Emak jatuh lagi.”
Jil menahan tawanya. Emak jatuh lagi. Ada luka di siku Emak.
“Emak tadi jalan di pinggir, terus kaget waktu ada angkot…”
Tawa itu sebenarnya Jil tahah, tapi Jil tidak sanggup lagi. Ia akhirnya terkikik. Motor tua itu pasti bengkok stangnya.
“Nanti antar Emak ke tukang urut, ya.”
Jil mengangguk. Motor tua berwarna hitam itu Jil masukkan ke dalam pagar.
Sebulan ini, sudah tiga kali Emak jatuh dari motornya. Motor berwarna hitam yang selalu Emak panggil dengan panggilan Si Jadul. Motor itu Emak sayang-sayang. Bahkan Emak senang sekali ke sekolah Jil membawa motor itu.
“Itu motor kenangan…”
Dari dalam Jil mendengar suara Emak. Emak seperti tahu apa yang Jil pikirkan.
Motor tua itu Jil pandangi lagi. Di sebelah motor itu, ada motor matic milik Jil berwarna merah muda. Jil suka menawarkan Emak untuk memakai motor Jil, tapi Emak selalu menolak.
“Panggil tukang urutnya nanti, Jil…”
Jil mengangguk. Untung tidak ada yang bengkok.
**
“Jadi Babe juga pusing…”
Jil memandangi Babe. Tangan Babe berkali-kali menepuk dahinya.
“Babe pusing… Emak loe susah dikasih tahu.”
Jil memijat-mijat pundak Babe. Emak memang belum lama bisa naik motor. Jil ingat baru setahun yang lalu Emak belajar naik motor. Emak memilih Si Jadul, yang siap Babe jual.
“Emak loe itu curigaan, tuh motor mau Babe jual ke mantan pacar Babe dulu. Dia kan koleksi motor jadul.”
Jil menggaruk kepalanya. Mantan pacar Babe pedagang yang sukses. Tokonya banyak di mana-mana.
“Padahal tuh motor, kalau diganti sama yang baru, kan lebih enak dipakainya.”
Jil kali ini terkikik. Emak mungkin belum cerita sama Babe. Soal Jono, mantan pacar Emak yang sebenarnya suka kalau Emak bisa naik motor. Dan Emak belajar naik motor juga karena Jono.
Jil tahu, kalau setiap pagi sebenarnya Emak muter dulu lewat depan rumah Jono, sebelum beli gemblong untuk Babe.
“Kalau Emak naik motor baru, kan Emak kayak anak abegeh, Jil?” tanya Emak pada suatu waktu pada Jil. “Nah…, kalau naik motor ini, istri si Jono kan juga enggak akan tahu?”
Jil menggeleng.
“Babe harus ambil keputusan,” suara Babe memecah lamunan Jil.
**

Emak baik-baik saja. Cak Dayat yang suka mengurut itu bilang, Emak tidak apa-apa. Cuma sikut Emak luka.
Sekarang, pagi-pagi sekali Emak bahkan sudah menyalakan Si Jadul.
“Babe minta gemblong…,” ujar Emak mulai menstarter. Beberapa kali Emak menggoyangkan kakinya, tapi tetap Si Jadul tidak berbunyi.
Emak lalu mengambil kunci dari tempatnya, dan memasukkan ke lubang kunci di bawah jok Si Jadul. Emak memutarnya dan membuka jok itu. Mengambil sesuatu. Lalu…
Jill diam saja meneguk tehnya. Jill tahu apa yang Emak lakukan. Emak itu pasti akan mengambil amplas, lalu membuka busi Si Jadul dan menggosoknya. Kalau businya sudah agak hitam, Emak memilih menggosok daripada beli yang baru.
Sebentar kemudian suara Jadul berbunyi.
“Tanya Babe…, butuh gemblong berapa?” Emak mulai teriak.
Jil mengangkat seluruh jarinya. Babe lagi ada di atas mengurus burung-burung kenari peliharaannya yang sebentar lagi ikut kontes.
“Emak cuma sebentar…”
**
Dua puluh gemblong dan orang lain yang mengantar Emak.
“Emak jatuh lagi…,” kali ini Emak meringis. “Padahal Emak sudah lewat kampung…”
Tukang gemblong itu ada di jalan besar. Emak paling takut lewat jalan besar. Emak pasti memilih lewat jalan kampung.
Orang yang mengantar Emak bicara pada Babe. Lalu pulang.
“Besok-besok harus pakai helm.”
Emak cemberut. Menggeleng. “Pusing…”
Jil meringis. Emak memang paling tidak suka pakai helm. Bukan karena tidak punya, di rumah ada banyak helm. Jil punya warna pink dan ungu. Babe malah membelilkan satu helm berwarna biru untuk Emak. Tapi Emak selalu menolak dengan alasan helm membuat kepala Emak jadi pusing.
Motor Emak bengkok di bagian stang. Jil lihat Babe geleng-geleng kepala.
**
Sore itu Jil lihat Babe berdiri dan bicara dengan seseorang. Babe mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu pintu pagar dibuka sedikit. Teman Babe itu melongok ke arah Si Jadul yang ada di teras.
Jil melihat teman Babe itu juga masuk sebentar. Mengelus Honda Astrea tahun 1996 sambil mengangguk-angguk. Lalu Jil lihat jarinya terangkat. Dua jari. “Pas,” katanya sambil memandang Babe.
Babe garuk-garuk kepala. Lalu akhirnya mereka berdua tertawa.
**
Emak marah.
Emak mengomel.
Babe menyodorkan surat pada Emak. Surat perjanjian yang harus Emak tanda tangan.
“Semua ibu-ibu enggak ada yang pakai helm kalau cuma beli gemblong,” ujar Emak sambil cemberut.
Surat itu Babe yang menulis. Jil melihatnya.
“Emak harus tanda tangan…”
Emak cemberut.
“Atau…,” Jil mengambil helm dan membawakan untuk Emak. “Emak pakai helm ini kalau mau ke jalanan.”
“Tapi Emak cuma lewat jalan kampung…”
“Tapi Emak kadang-kadang suka lewat jalanan raya juga. Emak ingat, kan, motor Emak pernah keserempet truk?”
Emak meringis.
Surat itu Babe kibas-kibaskan. “Gimana?” tanya Babe. “Dua juta. Cash!”
Emak langsung ambil pulpen dan menandatangani surat itu.
**
Pagi-pagi sekali Emak mengajak Jil pergi. Emak mengeluarkan motornya. Memakai helm warna biru di kepalanya.
Bukan cuma itu, Emak juga pakai kaca mata hitam, sarung tangan. Padahal helm yang Emak pakai juga sudah pakai kaca yang diturunkan.
“Kita mau cari gemblong?” tanya Jil.
Emak diam. Jil duduk di belakang. Biasanya Emak keliling tidak jauh-jauh. Paling jauh ke warung gemblong, nyebrang sedikit dari jalan kampung.
“Emak mau ke mana?” tanya Jil.
Emak terus melajukan motornya. Selip kanan kiri. Belok ke gang, ke luar lagi.
“Emak mau ke mana?”
Emak terus melaju. Jil lihat Emak memencet lampu sen ke kiri tapi Emak malah belok kanan.
Lalu…
Prit….
Sebuah motor mendahului Emak. Emak kaget. Mendadak menginjak rem. Dan akhirnya Jil dan Emak sukses jatuh dari motor.
Polisi itu menggelengkan kepala. Lalu meminta Emak mengeluarkan surat-surat resmi. Emak menggeleng. Jil lihat Emak sudah hampir menangis.
**
Emak tidak mungkin jatuh lagi. Emak sepertinya sudah kapok. Babe akhirnya menjual motor Jadul yang biasa dipakai Emak.
Kepada Jil Emak bilang tidak apa-apa. Karena si Jono mantan pacar Emak ternyata sudah pindah ke kampung halamannya. Jadi Emak tidak butuh motor lagi. Emak ngebut kemarin karena Emak sakit hati, Jono si mantan pacar pindah rumah tidak bilang-bilang pada Emak.
“Emak naik sepeda aja, Jil. Lebih aman. Kepala Emak juga bebas dari pusing.”
Jil tertawa. Mengacungkan jempolnya pada Emak.
**

Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015

11187214_10150504735754944_4185936338905356925_o

1. Peserta lomba adalah siswa Sekolah Dasar dan sederajat.
2. Karya ertema “Berani Bertanya Berani Mengubah Dunia”
3. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar
4. Tidak menghasilkan karya yang mengandung unsur SARA dam PORNOGRAFI
5. Hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba sejenis
6. Naskah diketik menggunakan computer pada kertas HVS ukuran A4, spasi 2, jenis huruf Times Newas Roman ukuran 12

Cerpen : Membuat satu judul sepanjang 4-6 halaman
Syair : Membuat dua judul syair
Pantun : Membuat lima pantun
Dongeng : Mengirimkan CD berisi video peserta mendongeng dengan durasi 5 menit

7. Setiap karya harus disahkan keaslinannya oleh Kepala Sekolah (distempel dan tanda tangan kepala sekolah)
8. Pemenang lomba dan peserta terpilih akan diundang ke Jakarta untuk mengikuti Konferensi Penulis Cilik Indonesia mewakili daerahnya masing-masing, sekaliguna pemberian penghargaan kepada para pemenang.
9. Karya dikirim dua rangkap (sudah distempel dan tanda tangan kepala sekolah) disertai dengan fotokopiidentitas diri (kartu pelajar, dan biodata singkat, nama, tempat, tanggal lahir, alamat lengkap, no mor telepon (handphone), e mail, nama dan alamat sekolah, kelas) ke Sekretariat KOferensi Penulis Cilik Indonesia 2015 alamat :

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar
u.p Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik
Gedung E, Lnatai 17 Kemdikbud
Jalan Jenderal Sudirman Senayan
Jakarta Pusat 10270

Beri keterangan di sudut kiri amplop
Tentang lomba yang diikuti (contoh KPCI-Lomba Cerpen).

Pemenang akan diumumkan di acara
Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015