Kite Runner, Kite of Competition

DSCF3234

Too much love will kill you.
It happen to Amir Agha. Amir Agha come from rich family. His father, Baba, is a famous man in Kabul. Baba has a servant Ali and his boy Hassan. In Amir Agha eyes, Baba gived so munch love to Hassan, and Amir become jealous.
Baba always remember Hassan birthday and always give a gift to Hassan.
Hassan is a loyal boy. His mother Sanaubar, a beautiful woman married with old man named Ali. Five days after Hassan born, Sanaubar ran from home with group of music.

Hassan from Hazara (moslem syiah) and Amir from Patsun (moslem sunny). In Kabul, Hazara always underestimated.

One day, there was a kite festival in Kabul. Amir Aga did’t know how to make a kite playing. Hassan can do that. Even Hassan always become a winner in that competition.
Amir Agha keep his jealous.
One day, Amir Agha saw Hassan trapped by a group of Patsun boy. One of the boy pull his pants and raped him (being sodomy). And Amir didn’t brave enough to help Hassan. After that a situation changed.
Amir still has guilty feeling, want to buried his guilty by get rid of Hassan and Ali from his home. And one day, he pretended lose his watch and put on Hassan bag. So he had a reason to accused Hasan. Hasan and Ali must go from Amir’s home.

Story about Hassan and Ali become good opening. Although after that surprised by surprised look slow than before. Kabul, war and whole situation including government decision who changed Amir life from rich become nothing, dominant in this book.
I have a surprised when finally in the middle of story the fact appeared. Amir finally knew the real story about Hassan. Hassan was his brother. Because the fact, Sanaubar was pregnant by his father, Baba. And Ali, as Sanaubar ‘s husband knew about that.

I like the book until in the middle of the page, when Hassan finally moved from Amir Agha home.
From this book, I try to find another book written by Khaled.

A Little Princess

DSCF3224

Bermimpi? Saya orang yang tidak pernah takut bermimpi. Karena bermimpi itu menyenangkan untuk saya. Apalagi mimpi-mimpi yang mengarahkan pada pikiran positif.

Sara juga memiliki mimpi. Ia selalu yakin bahwa suatu saat dirinya akan menjadi seorang ratu.
Sara, gadis kecil berusia 7 tahun, tinggal berdua dengan ayahnya. Kapten Crewe seorang ayah yang kaya raya, tampan dan masih muda. Ia bisa memberikan segalanya untuk Sara.

Suatu hari, Kapten Crewe harus tugas ke India, dan ia memutuskan untuk memasukkan Sara ke asrama putri. Sara tidak keberatan. Asal sebelum berpisah dengan ayahnya, ia ingin dibelikan boneka yang sudah ia beri nama Emily.
“Aku mau Emily tidak terlihat seperti boneka,” kata Sara. “Aku mau dia terlihat seolah-olah dia bisa MENDENGAR, saat aku bicara padanya (halaman 17).

Akhirnya, tinggalah Sara di asrama yang dimiliki oleh seorang perempuan bernama Mrs Minchin. Mrs Minchin selalu merasa bahwa Sara adalah keberuntungan untuk sekolahnya. Karena apa? Karena Sara adalah anak orang kaya.

Suatu hari terjadi musibah. Ayah Sara dikabarkan meninggal dan meninggalkan utang bertumpuk. Mrs Minchin yang tidak memiliki niat tulus, berbalik 360 derajat sikapnya pada Sara. Ia menjadikan Sara seperti pembantu. Dan itu dilakukan selama bertahun-tahun, hingga Sara bertambah usia. Bahkan Sara ditempatkan di kamar di loteng dengan jendela kecil. Dari jendela itu Sara bisa melihat sebuah rumah di dekat asrama. Meskipun Sara juga diminta untuk menjadi guru bahasa Prancis di asrama itu. Mrs Minchin berdalih, bahwa Sara harus bersyukur karena jika ke luar dari asrama ia tidak mungkin akan hidup.

Tapi Sara yang suka berkhayal masih terus bermimpi. Ia tetap memegang impiannya untuk menjadi seorang ratu.
“Apapun yang terjadi,” katanya,” takkan bisa mengubah satu hal. Meski pakaianku lusuh dan kumal, aku tetap bisa menjadi putri raja di dalam hati. Pasti gampang menjadi putri raja seandainya aku mengenakan gaun mewah. Tapi jauh lebih membanggakan menjadi putri raja ketika tak seorang pun mengetahuinya (halaman 174).

Hingga suatu hari nasib akhirnya benar-benar merubah hidup Sara. Seekor monyet milik tetangga dekat sekolah, yang selalu masuk ke lotengnya membawakan makanan untuknya, membuat nasibnya berubah. Pemilik rumah itu ternyata sudah lama mencari-cari info tentang dirinya. Siapa dia? Dia adalah parner bisnis ayahnay Sara di pertambangan berlian. Tambang mendapatkan untung besar, dan ia mencari ahli warisnya.

Hidup Sara berubah.
Lalu Mrs Minchin? Mrs Minchin harus gigit jari, karena Sara memilih tinggal dengan Bapak dari India itu.

Dibandingkan dengan yang Secret Garden, saya lebih suka buku yang ini, dari penulis yang sama. Meskipun akhirnya membaca dua buku dari penulis yang sama, membuat saya paham apa yang akan ditampilkan.
Yaitu, India selalu hadir sebagai setting. Mungkin karena penulisnya pernah bermukim ke sana. Anak kecil yang punya mimpi besar dan bisa berubah hidupnya, juga ada di buku Secret Garden.

Saya juga akan terus bermimpi Sara.

Judul buku : A Little Princess
Penulis : Francess Hodgson Burnett
Penerbit : Gramedia
Halaman : 309

Totto Chan

DSCF3223

Namanya Toto-Chan. Gadis kecil kelas satu SD ini dikeluarkan dari sekolahnya. Hanya karena gurunya tidak mengerti kreativitas Totto-Chan.
“Putri Anda mengacaukan kelas saya. Saya terpaksa meminta Anda memindahkannya ke sekolah lain. Kesabaran saya sudah benar-benar habis (halaman 12).

Totto-Chan mewakili anak-anak yang kreatif, yang tidak bisa diam, yang menganggap semua hal bisa menjadi sumber belajarnya. Termasuk meja-meja di sekolah yang tidak sama dengan meja yang dimiliki di rumah. Di rumah meja Totto-Chan hanya meja dengan laci. Tapi di sekolah, meja itu bisa dibuka dan ditutup kembali bagian atasnya. Sehingga sepanjang pelajaran sekolah, Totto-Chan membunyikan meja itu.
Totto Chan menurut si guru juga tidak patuh pada aturan. Ketika ibu guru memintanya menggambar bendera Jepang, yang digambar Tott-Chan adalah bendera yang lain.

Pindahlah Totto-Chan ke sekolah biasa dengan pelajaran yang luar biasa.
Sekolah yang dimiliki oleh seorang kepala sekolah yang baik hati. Yang menerima semua murid tanpa melihat bentuk fisik. Yang meminta semua murid menggunakan baju yang kusam ketika ke sekolah, karena takut para murid jadi dibebani dengan baju yang bagus dan takut rusak, sehingga mereka tidak bisa mengeksplorasi dunia indah mereka.

Seorang kepala sekolah yang bertanya tentang Totto-Chan dan Totto Chan jawab pertanyaan itu dengan kalimat panjang tak berhenti, selama 4 jam (halaman 25).

Sekolah yang biasa itu berada di sebuah tempat dalam salah satu gerbong kereta api yang sudah tidak terpakai.
Murid-muridnya kebanyakan dari kalangan tidak mampu.
Di sekolah itu, setiap murid bebas memulai hari dengan memilih mata pelajaran yang mereka sukai lebih dahulu. Jadi dalam satu kelas ada yang belajar matematika, ada yang belajar menggambar, bahkan ada yang melakukan percobaan fisika. Yang penting mereka semua bahagia melakukannya.

Setiap tahun ada lomba diadakan oleh kepala sekolah.
Siapa murid yang selalu menang?
Seorang murid yang tangan dan kakinya berhenti tumbuh, selalu menang. Kepala sekolah yang bijaksana membuat semua rintangan lomba, sesuai dengan standar murid itu. Bukan curang. Tapi untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada murid yang cacat itu.

Setiap orang yang bekerja di bidangnya dan mengenal betul apa yang dikerjakannya adalah seseorang yang bisa dijadikan guru. Maka Totto-Chan kaget ketika melihat seorang yang dikenalnya sebagai petani yang mengolah ladang dekat anak sungai, menjadi guru di sekolahnya, untuk mengajarkan semua murid bercocok tanam (halaman 177).

“Wah! Jadi Anda akan menjadi guru kami hari ini,” seru anak-anak penuh semangat.
“Tidak!” kata pria itu sambil menggoyang-goyangkan kedua tangan di depan wajahnya. “Aku bukan guru! Aku hanya petani. Kepaal sekolah kalian memintaku mengajarkan apa yang aku tahu. Itu saja.”
“Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia guru pertanian kalian,” kata Kepala Sekolah yang beridri di samping petani itu. (halaman 178).

Seorang kepala sekolah yang hebat, yang tahu caranya mendidik murid, yang ada di benaknya hanyalah kata-kata positif.
Totto Chan yang dikenal nakal di sekolahnya pertama, ternyata selalu dipuji baik oleh kepala sekolah. “Kau benar-benar anak baik. Kau tahu itu, kan?” ujar kepala sekolah bukan sekali dua kali. Tapi berkali-kali setiap kali bertemu dengan Totto-Chan.
Sehingga tumbuhdi hati Totto- Chan keyakinan bahwa ia memang anak baik.

Karena sekolah tempat Totto-Chan belajar adalah sekolah usang, di dalam gerbong kereta api tua, maka sering ada serombongan anak-anak dari sekolah lain lewat, dan menyanyikan lagu yang tidak enak didengar.
Seolah Tomoe sekolah tua dan usang.
Di dalamnya juga tua dan usang.

Totto-Chan yang mendengar hal itu langsung berlari mengejar murid-murid dari sekolah lain yang menghina sekolahnya. Lalu akhirnya ia merubah syair lagu itu menjadi lagu versinya sendiri.
Sekolah Tomoe sekolah yang hebat
Di dalam maupun di luar, sekolah yang hebat! ( halaman 195).

Ya, sekolah itu memang sekolah yang hebat. Kepala sekolahnya luar biasa. Bahkan ketika akhirnya si gadis kecil Totto-Chan ini menjadi besar dan menulis buku ini, semua orang kenal dengan sekolah usang itu, dan sekolah ini menjadi rujukan sekolah lain di Jepang.

Membaca Totto-Chan membuat kita paham tentang bagaimana seharusnya menjadi guru, dan memahami anak-anak. Tidak dengan sesuatu yang berlebihan, tapi cukup dengan pemahaman tentang dunia mereka dan bahasa mereka juga kreativitas mereka.

Judul Buku : Totto – Chan
Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : Gramedia
Halaman : 271 halaman

Railway Children

DSCF3220

Pada awalnya mereka bukan anak-anak yang tinggal di rel kereta api. Pada awalnya mereka adalah anak-anak yang tinggal di rumah besar, dengan Ibu yang suka mendongeng dan membantu mengerjakan PR, kamar yang penuh mainan dan liburan ke tempat-tempat menyenangkan.
Tapi sesuatu di luar rencana terjadi.
Ayah tiba-tiba pergi dan tidak pernah kembali. Beberapa orang datang mengajak Ayah pergi. Setelah itu semua harus membereskan apa yang bisa dibawa, lalu pindah ke tempat lain.

Tempat lain itu adalah sebuah rumah sederhana di pinggir rel kereta api. Tempat di mana mereka harus membiasakan hidup seadanya, makan tidak bermewah-mewahan. Makan mewah yang bisa mereka dapatkan adalah jika Ibu mendapatkan honor. Iya, Ibu mereka adalah seorang penulis. Dan semenjak mereka pindah rumah, hidup mereka jadi tergantung pada honor-honor puisi Ibu yang dimuat di media.

Roberta biasa dipanggil Bobbie, Peter dan Phylis jadi anak-anak yang bahagia, meski hidup mereka lebih susah ketimbang sebelumnya. Mereka melakukan banyak hal, termasuk mereka senang sekali melambaikan bendera warna putih kepada kereta yang baru ke luar dari terowongan. Dan lambaian mereka selalu dibalas dengan lambaian tangan dari bapak tua yang berpenampilan rapi yang selalu ada di dalam kereta.

Sampai akhirnya sebuah peristiwa terjadi.
Kesukaan mereka berpetualang membuat mereka mendapat kejutan. Seorang terperangkap di dalam terowongan. Kakinya patah. Dan mereka berjuang mengeluarkan dari dalam terowongan. Ada juga yang menghubungi kepala stasiun agar bisa menghentikan kereta yang berjalan menuju terowongan.
Semua berakhir indah.
Anak yang terperangkap di dalam terowongan itu adalah cucu si bapak tua yang suka naik kereta.
Dan…, bapak tua itu orang berpengaruh yang bisa menyakinkan pengadilan kalau ayahnya anak-anak tidak bersalah.

Kisahnya menarik.
Tapi sayangnya kurang digarap dengan lincah untuk sebuah cerita anak-anak. Sehingga jadi membosankan.
Pantas anak-anak yang suka baca buku, agak malas membacanya.

Halaman : 309 halaman
Penerbit : Gramedia

Secret Garden

DSCF3218

May sesungguhnya gadis kecil yang malang. Meski orangtuanya kaya raya, ibunya cantik dan suka berpesta, tapi kehadiran May tidak mereka sukai. Sejak kecil May diasuh oleh orangtua asuh, dan tidak dianggap oleh ibunya dan ayahnya yang sibuk.
Hingga suatu hari, di daerah tempat May tinggal terjadi wabah kolera. Semua orang panik ingin ke luar dari tempat itu. May sedang bersembunyi di kamar bermainnya dan tidak peduli dengan hiruk pikuk itu. Ia makan dan tidur sesuka hatinya seperti biasa.
Hingga suatu hari, ia benar-benar tidak melihat siapa-siapa. Yang ia dengar adalah berita tentang kematian wanita cantik dari petugas yang mencari, jangan-jangan masih ada orang yang tertinggal di rumah itu.

May ditemukan. Tidak punya siapa-siapa. Ia akhirnya dibawa ke rumah pamannya, seorang bangsawan kaya raya bernama Mr Archibald Craven. Rumah besar tempat May sekarang memiliki 100 kamar. Pamannya sendiri konon katanya selalu mengurung diri sejak istrinya yang sangat dicintainya meninggal dunia.
May yang egois, keras kepala belajar banyak di rumah itu, termasuk berteman dengan banyak teman di sana. Salah satunya bernama Dickon.

Di sana, May selalu mendengar suara anak lain berteriak dan menangis. Tapi setiap ditanya, ada yang bilang kalau itu bukan suara siapa-siapa.
May sendiri mulai melupakannya. Apalagi ia mulai berkenalan dengan Pak Tua bernama Ben, yang merupakan pengurus kebun. Kebun yang luas milik Mr Craven diurusnya, hanya ada satu kebun yang pintunya tertutup rapat yang tidak diurusnya.

Kebun itu membuat May penasaran. Ia berusaha mencari jalan ke sana, karena katanya, dulu kebun itu milik istri Mr Craven, ditumbuhi mawar. Tapi sejak istrinya meninggal, Mr Craven membuang kunci menuju taman rahasia itu. Karena ia tidak ingin mengingat-ingat lagi.
May menemukan jalan rahasia menuju taman itu mengikuti burung robin merah.

Sampai suatu hari May mendengar suara tangisan semakin keras. Dan kali ini May penasaran. Ia menuju satu kamar dan menemukan seorang anak laki-laki sepantaran dirinya yang sedang terbaring di tempat tidur. Katanya ia sakit.
Anak itu juga merasa sakit, merasa ada benjolan di tubuhnya. Dokter bilang seperti itu. Karena apa? Karena dokter miskin itu ingin anak itu tidak punya harapan hidup, dan akhirnya meninggal dunia karena putus asanya itu. Mr Craven yang semakin menua juga pastinya akan meninggal.

Tapi May yang sudah berubah menjadi anak baik mengubah semuanya.
Colin diajak berjuang untuk hidup. Diajak ke taman untuk berkebun dan belajar jalan, karena kakinya lemah terlalu lama di atas tempat tidur. May mengajak untuk membuat taman rahasia itu menjadi taman indah kembali.
Lalu apa hasilnya?

Setahun setelah kerja keras itu, ada surat sampai ke tangan Mr Craven, yang sudah setahun tidak pulang ke rumahnya. Mr Craven hanya melihat anaknya ketika tidur saja dan tidak mengajaknya bicara. Ia juga sudah hilang harapan dengan anak yang suka menjerit kesakitan dan histeris itu.
Tapi surat memintanya pulang itu membuatnya terkejut.

Di sebuah taman yang dipenuhi pohon bunga, ia melihat seorang anak laki-laki gagah yang mampu berjalan tanpa bantuan tongkat, menuju ke arahnya. “Aku Colin, Ayah…”
Mr Craven sungguh terharu.
May sudah membuat taman rahasia itu kembali seperti semula.

Judul Buku : The Secret Garden
Penulis : Frances Hudgson Burnett
Hal : 456
Penerbit : Qanita

Saya Menemukan Kahlil Gibran Kembali

DSCF3215

Judul buku : Menyimak Kicau Merajut Makna
Penulis : Ustadz Salim A Fillah
Harga : Rp 64.000
Penerbit : ProUmedia
Halaman : 419
Terbit : April 2014 (cetakan ketiga)

Kita memaafkan bukan karena dia layak mendapat maaf. Kita memaafkan sebab berharap dipeluk mesra Allah dalam cinta-NYA. Maka Al Quran tak menyuruh meminta maaf, justru memerintahkan memberi maaf. Sebab ia hendak menyembuhkan yang lebih tersiksa.
Membenci itu memang perjuangan. Dia nyenyak dan kita insomnia. Dia makan enak dan kita menggigit jari. Dia tertawa dan kita merana (Sang Pemaaf-halaman 174).

Setelah sekian lama mencari buku, dan belum menemukan juga yang bisa membuat saya plong dan merasakan sensasi ketika membacanya, akhirnya saya menemukan buku ini. Plong dan sensasi ala saya tentu berbeda dengan apa yang pembaca lain rasakan tentang buku ini.

Untuk saya, ini mungkin ada kaitannya dengan kesukaan saya membaca buku Kahlil Gibran. Saya koleksi buku-buku Kahlil Gibran komplit. Kalimat yang terbungkus manis, tidak transparan hingga saya harus mencari lagi maknanya, adalah pelajaran pertama saya memahami banyak hal. Mengajarkan saya untuk membungkus pesan sedemikian rapi, sehingga pembaca diajak untuk berpikir lebih dalam lagi.

Banyak buku yang sudah saya baca. Buku dengan gaya Kahlil Gibran. Penggalan-penggalan judul dan makna. Tapi saya belum menemukan yang pas di hati. Baru ketika saya membaca buku ini, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda, yang bisa membuat saya berkata, “Ini buku yang saya cari selama ini.”

Salim A Fillah dengan bahasanya yang bagus dan pemahamannya yang bagus. Tidak menggurui tapi menggiring untuk paham. Mengajarkan banyak hal dengan bahasa santun. Dan akhirnya pemahaman itu bisa benar-benar masuk ke benak pembaca.

Buku ini terdiri dari banyak judul. Mungkin ada seratus judul lebih tulisan di sini. Dan yang pendek, berupa hikmah, hingga panjang lebar ketika bercerita tentang Salman Al Farisi sahabat di zaman Umar bin Khatab. Ada yang berupa puisi, ada yang berupa pengalaman pribadi. Dan sebagian besar 90% dikemas dengan bahasa yang manis dan menyentuh.
Untuk pembaca yang suka membaca karya Kahlil Gibran, pasti paham apa yang saya maksud.
Warna Kahlil Gibran dalam Sang Nabi, Taman Sang Nabi atau Sang Musafir, terlihat jelas sekali di sini.
Jika Kahlil Gibran mengemas kehidupan nyata dan pandangannya tentang dunia, maka Salim A Fillah juga mengemas kehidupan. Tapi kehidupan dalam kaca mata seorang muslim dan rujukan kisah Rasul juga para sahabat. Sehingga sebagai muslim, akan mendapat pengetahuan lebih ketika membaca buku ini.

Kemahsyuran itu pintu untuk menghabiskan waktu tapi melalaikan diri. Untuk melipatganda dosa saat ketergelinciran kita mengilhami.
Kemahsyuran itu peluang untuk menjadi bodoh karena tak sempat belajar. Untuk habis pahala, sebab tampak amalnya. Untuk hina sebab berbangga. Untuk jadi penumpuk dosa, sebab tergelincir ucap (Kemahsyuran halaman 354).

Buku ini saya rekomendasikan untuk yang ingin belajar lebih paham tentang dunia Islam dengan kelembutan.