Belum Tua

10484030_10152368490438591_6258940314478080337_n

Di negeri dongeng, siapakah yang selalu bersemangat melakukan kejahatan meski mereka sudah tua usianya?
Nenek sihir jawabannya. Dalam cerita apapun di sebuah negeri dongeng, selalu ada tokoh nenek sihir yang tidak pernah kenal menyerah dengan segala inovasinya untuk melakukan banyak kejahatan. Mulai dari memberi apel beracun pada kisah putri salju, hingga membuat rumah coklat pada kisah Hansel and Gretel.
Nenek sihir buat saya bukan sekedar sosok yang menakutkan. Saya suka semangatnya tapi bukan kejahatannya. Saya suka setiap pangeran berusaha mengalahkannya dan itu dilakukan bukan dengan cara mudah, tapi dengan banyak rangkaian kegagalan.

Nenek sihir sosok inspiratif untuk saya. Ia mengajarkan untuk terus bersemangat melakukan banyak hal tanpa peduli pada usianya.
Karena itu saya selalu suka dengan para ibu yang sudah tidak muda lagi, yang terus bersemangat dalam hidupnya.
Pernah seorang Ibu cukup tua duduk di samping saya. Kami duduk untuk menunggu jadwal interview untuk menjadi tenaga freelance di sebuah penerbitan. Usianya sudah tidak muda lagi. Baru masuk masa pensiun. Dan ia merasa bahwa ilmunya masih bisa berguna, pada masa dimana orang lain seusianya memilih untuk tinggal di rumah, menikmati masa pensiun.
Di tempat lain, saya bertemu dengan seorang ibu yang melanjutkan kuliah di tingkat sarjana pada usia 60 tahun. Tujuannya bukan ambisi pada sebuah jabatan. Tapi karena ingin anak-anaknya kelak tidak berhenti untuk terus menuntut ilmu.

Usia, bukan menjadi halangan untuk melangkah maju, merintis mimpi atau melakukan hal yang baru. Karena mimpi tidak boleh terhadang oleh usia. Sepanjang masih terus diberi nafas itu artinya kita masih bisa mewujudkan mimpi menjadi nyata.
Tapi jangan salah, sosok nenek sihir dengan semangatnya itu justru tidak dimiliki oleh para ibu-ibu muda.
Banyak ibu muda di bawah 40 tahun dengan dua anak yang saya ajak bicara soal mimpi hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Mereka bilang tidak punya mimpi lagi, karena sudah tua. Mereka justru aneh dengan mimpi-mimpi saya yang masih banyak dan ingin saya raih.
Merasa tua di usia muda dan pada akhirnya menjadi tua sesuai mindset kita. Merasa tua pada akhirnya malas untuk berpikir lagi, karena berpikir itu jatahnya anak muda. Merasa tua itu artinya malas memeras keringat lagi, karena itu juga artinya jatah anak muda.
Merasa sudah tua itu pada akhirnya akan menggiring pada sikap lain. Menekan anak-anak untuk tumbuh dengan cepat, menjejali dengan aneka ragam ilmu yang tidak menjadi minat dan bakat anak-anak, demi sebuah prestasi. Ujung dari prestasi dari anak-anak mereka adalah masa tua mereka jadi bisa dilewatkan dengan santai tanpa perlu bekerja lagi.
Nenek sihir dengan rambut putih, dagu panjang juga tubuh bungkuk mungkin berumur sekitar seratus tahun lebih. Tapi para manusia lanjut usia yang banyak di lingkungan kita, berusia separuh dari nenek sihir dan merasa sudah tidak perlu melakukan apa-apa lagi.

Belajar dari Orang Hebat

Pelajaran tentang semangat yang lain saya dapatkan dari eyang putri saya. Beliau janda sejak usia 25 tahun yang suaminya ditembak di depan matanya, dan meninggal di usia hampir satu abad. Beliau tidak berhenti bekerja dan masih mendapatkan penghasilan di usianya yang ke 90. Eyang putri benar-benar berhenti ketika tulang kakinya patah dan pikun mulai menyapanya.
Kita memang tidak akan hidup selamanya. Kita juga tidak paham sampai titik mana kita berhenti untuk tinggal di dunia.

Justru hal itu yang membuat saya seperti menabung sesuatu. Andaikan dua puluh tahun atau tiga puluh tahun lagi saya masih ada di dunia, maka benih mimpi yang saya rintis sejak saat ini, pasti pada dua puluh tahun atau tiga puluh tahun lagi akan membuat saya menjadi manula yang tetap produktif. Dan tentu saja itu akan membuat saya tidak tergantung pada anak-anak kelak.
Bahkan andaikata umur saya berakhir besok, saya tetap punya sesuatu yang berharga yaitu waktu yang tidak terbuang sia-sia.

Mooryati Soedibyo memulai usahanya di usia 44 tahun. Dan mengadakan ajang pemilihan putri Indonesia di usianya yang ke 62 tahun. Di usianya sekarang 86 tahun beliau adalah pengusaha sukses yang juga menjabat di MPR.
Saya suka nenek sihir dan semangat banyak orang tua yang tidak pernah merasa tua.
Untuk hidup yang bermanfaat, sungguh saya merasa belum tua.

Memahami Pikun

10274015_10152252934958591_596811819218095025_n

Lumpuhkanlah ingatanku
Hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentangnya

(Lumpuhkan Ingatanku –Geisha)

Ada banyak cerita pikun mengalir ketika saya dan teman-teman sekolah dulu bertemu, Pikun yang maksud tentu saja lupa, bukan pikun seperti yang dialami para manula di atas tujuhpuluh tahun.
Pikunnya teman-teman ini saya sadari ketika bertemu dengan mereka pada sebuah acara kumpul-kumpul, atau sekedar chating di sosial media. Beberapa teman mengalami pikun yang agak akut menurut saya. Karena ia lupa kejadian penting yang justru ingatan saya masih segar untuk itu. Beberapa teman yang lain bahkan tidak lagi mengenali saya sebagai bagian dari teman bermain mereka.

Cerita pikun bukan cerita yang aneh untuk setiap dari kita yang merangkak naik usianya. Untuk saya, cerita pikun itu justru bisa disederhanakan menjadi suatu hal yang penting.
Pikun adalah proses dari tahu menjadi tidak tahu. Dari ingat menjadi tidak ingat.
Ketika bayi, kita terlahir sebagai makhluk polos, tidak tahu apa-apa. Polos seperti selembar kertas putih belum ada coretan sama sekali.

Lalu dari bayi yang tidak tahu itu, kita mendapat pelajaran sehingga menjadi momen tahu ketika beranjak sebagai anak-anak atau anak kecil. Beranjak lagi kita menjadi individu yang semakin tahu dan sering dibilang sok tahu ketika remaja. Lalu proses itu berlanjut lagi sehingga pengalaman hidup yang kita lalui dan ilmu yang kita dapat, sering membuat kita merasa paling pintar hingga sering juga kita merasa orang lain bodoh.

Menjelang tua, semua pengetahuan yang bersarang di otak itu terkikis pelan tapi pasti. Menahan ingatan bisa dilakukan dengan kegiatan membaca. Hanya saja banyak yang mengabaikan hal ini dikarenakan memang mayoritas manusia menganggap bahwa membaca adalah kegiatan yang menyebalkan. Budaya mendengar dan menonton lebih dinikmati ketimbang membaca.

Mengenai pikun, lambat laun kita akan pikun juga. Biasanya bermula dari lupa hal-hal kecil terlebih dahulu dan kemudian melebar menjadi lupa dengan hal-hal besar. Bahkan hingga akhirnya benar-benar lupa apa yang sudah kita lewati dalam hidup kita. Beberapa manula bahkan lupa untuk mengenali siapa teman dekat dan anak-anak mereka.
Pikun itu hukum alam. Sama seperti hukum alam bahwa selamanya daun itu tidak selalu hijau warnanya. Daun akan berubah warna menjadi kuning dan setelah kuning akan gugur menjadi daun yang kering.
Kita akan menyesali kepikunan bila kita tidak memahami maknanya.

Bersyukur Kita Pikun

Kita pernah menjadi selembar kertas kosong tanpa coretan dan bila kembali dalam kondisi kosong tak mengenali coretan yang sudah kita tulis dalam kertas hidup kita, maka itu adalah hal yang wajar dalam hidup. Seperti roda ada saatnya berada di atas dan saatnya berada di bawah.
Kita pernah menjadi bayi. Tidak ingat apa-apa. Masih kosong. Ingatan anak-anak dimulai pada usia sekitar tiga atau empat tahun. Di usia sebelumnya bayi-bayi tidak ingat apa perlakuan orangtua mereka pada mereka. Mereka hanya bisa melihat kenangan itu dalam bentuk foto dan cerita.

Bertambah besar, ingatan semakin bertambah. Bahkan anak-anak mengingat lebih banyak tentang orangtua yang rewel dan suka mengomel.
Kita tidak diberi ingatan ketika orangtua tidak tidur di malam hari untuk mengurus kita dan resah hingga tak mampu tenang ketika kita tergolek sakit.
Tidak ada ingatan akan masa-masa tersulit sebagai orangtua di awal kehadiran kita itu, mungkin yang membuat kita menjadi tidak sabar ketika mengurus orangtua yang sudah beranjak tua dan diserang pikun. Mereka kembali ke masa awal menjadi bayi. Kita tidak punya pemahaman tentang hal itu.

Pikun atau lupa bisa menyerang siapa saja. Bahkan pada kondisi tertentu saya sendiri bersyukur ada hal-hal memang yang harus saya lupakan dan tidak perlu mengingatnya lagi.
Sebab hidup kita tidak selalu manis. Teman kita tidak selalu baik. Bahkan perjalanan hidup yang kita lalui tidak selalu semulus jalan tol.
Mengingat yang manis tentu saja tidak akan mendatangkan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika ingatan tentang hidup yang manis di masa lalu, membuat kita malas bergerak untuk berada di kehidupan sulit yang memang sedang kita jalani.

Saya bersyukur beberapa hal manis saya lupakan. Hal-hal manis ini yang membuat saya pasti akan terlena ketika menjalani hidup di masa sekarang ini. Ketika saya melupakannya saya berada pada satu titik untuk terus berjuang dan terus berjuang lebih baik lagi.
Saya sengaja pikun untuk prestasi yang saya dapat. Tujuannya agar saya merasa kembali menjadi orang yang nol prestasi dan berjuang untuk menorehkan prestasi.
Saya juga bersyukur diserang pikun pada orang yang menyakiti saya. Sebab sakit dari mereka itu jsutru yang membuat saya belajar lebih baik lagi di kehidupan ini.
Pikun untuk hal-hal yang memang harus kita lupakan untuk saya memang penting. Seperti gigitan seekor semut merah di kulit kita. Jika gigitan itu hanya mengajarkan kita terus mengeluh, bahkan menyumpahi semut merah itu, maka lupakanlah.

Jangan Jadi Pikun

Jika menjadi pikun adalah hukum alam yang memang biasa terjadi pada setiap menusia maka memaksa diri untuk tidak pikun pada hal-hal yang memang seharusnya kita kenang sebagai suatu yang indah, untuk saya menjadi suatu keharusan.
Saya tidak mau lupa atau pikun dengan kebaikan orang lain kepada saya. Saya juga tidak mau lupa dengan segala hal-hal termasuk ingatan kecil yang akan membuat kita bersyukur.
Seorang yang mengajarkan saya bagaimana trik menembus media, masih saya ingat, menempati porsi bukan di salah satu bagian otak tapi menyeluruh. Hingga membuat saya ingin memberi penghargaan padanya dengan mengajarkan pada orang lain bagaimana cara menembus media.

Saya juga tidak mau pikun dengan sekumpulan teman-teman baik sesama penulis yang dimasa merintis menulis dulu, mau bersama-sama mengantar saya ke sebuah media hanya untuk mengirimkan tulisan saya ke salah satu media yang ingin saya tuju.
Seorang yang menyediakan map-nya untuk naskah saya, lalu membawa saya pada seorang kepala di salah satu stasiun televisi untuk menyerahkan skenario milik saya, masih juga saya hapal betul. Bahkan detil peristiwa itu. Itu yang membuat saya juga mau bersabar ketika mengajarkan hal itu pada yang lain.

Atau seorang yang tidak saya kenal yang mengantar saya berjalan dengan jarak cukup jauh hanya untuk mencari satu alamat yang saya tuju, juga tidak mungkin saya lupakan. Apalagi ia mengantar saya dalam keadaan, ia juga sedang tersesat mencari alamat seseorang yang belum juga ditemukannya.
Banyak hal indah dan membuat saya menemukan bahwa selalu ada orang baik di sekeliling kita, ketika saya memutuskan saya mau pikun pada kebaikan mereka.

Pada akhirnya untuk saya, pikun itu adalah proses yang bisa jadi rumit tapi bisa juga jadi sederhana. Hidup boleh saja terus berjalan. Usia boleh bertambah. Sedikit lupa itu hal biasa. Tapi menjadi pikun atau tidak pikun pada akhirnya ada sebuah pilihan.

Doa yang Tidak Sederhana

DSCF2362

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadang biso urip mulyo
Dadio wanita utomo

(Song by Waljinah)

 

            Pernah membaca buku cerita Sewidak Loro? Buku cerita anak itu inspiratif sekali untuk saya. Bercerita tentang doa ibu untuk anak gadisnya yang buruk rupa dan hanya memiliki enam puluh dua rambut di kepalanya.

Anak gadis yang buruk rupa dan diejek tetangganya itu setiap malam selalu didoakan lewat lagu. Lagu yang mengatakan bahwa kelak ia akan menjadi istri seorang raja. Lagu yang diulang-ulang setiap malam itu membuat salah seorang tetangga yang merasa terganggu menghadap raja. Dan mengatakan bahwa tetangganya ada yang menginginkan anaknya untuk menjadi istrinya.

Maksud hati ingin membuat ibu yang baik hati itu berhenti mendoakan anaknya dan menina bobokan dengan lagu, ternyata membuat raja memiliki pikiran lain.

Raja justru yakin bila putri itu tentu saja cantik rupanya. Dan yakin ibu yang bernyanyi dan berharap seperti itu pasti tidak sedang berdusta.

Alkisah raja mengirimkan pengawalnya untuk menjemput Sewidak Loro dengan tandu. Dan si Ibu meminta agar sepanjang perjalanan tandu itu tidak boleh dibuka.

Sepanjang perjalanan, bidadari-bidadari dari kayangan turun. Merias Sewidak Loro dan menjadikan wajah buruknya menjadi wajah seorang wanita secantik bidadari. Tentu saja sang Raja jatuh hati dan meminangnya menjadi istri.

Moral cerita itu saya pegang terus sejak saya membaca buku itu ketika Sekolah Dasar. Tentang sebuah kekuatan doa dan sikap optimis dari seorang ibu kepada anaknya. Bahkan ketika orang lain tidak memiliki harapan sama sekali.

Doa itu menembus ke langit yang paling tinggi. Merubah nasib buruk menjadi nasib yang baik.

Hal yang sepele seperti itu yang sering dilupakan manusia zaman sekarang. Action berkali-kali dilakukan tapi mengabaikan sesuatu yang dianggap kecil yang dianggap doa.

Sewidak Loro cerita yang sederhana yang ketika dibacakan pada anak-anak, mereka akan paham maknanya.

 

Doa dan Klik

 

Lalu apa hubungannya doa dengan klik?

Saya menyebutnya klik sebagaimana anak-anak muda sering menyebutkan. Bila mereka cocok dengan seseorang mereka akan mengatakan klik.

Klik itu bunyi yang biasa. Bunyi yang bisa dihasilkan oleh dua benda yang beradu dan terbentur. Tidak semua benda memang menghasilkan bunyi klik.

Songket telepon dimasukkan ke ujungnya berbunyi klik. Tombol lampu ketika dinyalakan atau dimatikan akan berbunyi klik. Hingga akhirnya klik itu menjadi diperlebar maknanya menjadi sesuatu yang sering diartikan sebagai bentuk kecocokan.

Aku dan kamu klik. Itu artinya aku dan kamu cocok. Aku dan kamu menjadi satu kesatuan utuh.

Klik dan doa itu rangkaian yang menyatu untuk saya.

Karena saya selalu berdoa agar berada di dalam lingkungan yang tepat, teman-teman yang tepat, dan doa itu saya percayai bisa menjadi pembuka jalan untuk bertemu dengan orang-orang yang tepat juga berada di lingkungan yang tepat, maka ada signal tersendiri ketika saya berada pada suatu siatuasi yang tidak tepat.

Klik itu artinya, ketika saya melihat seseorang mendekat tapi signal di hati saya mengatakan bahwa ia bukan teman yang cocok untuk saya, maka saya serasa ada tembok menghalangi.

Maka doa itu membuat saya selalu bertemu dengan teman-teman yang memang klik untuk saya. Bukan karena teman-teman itu memahami saya, tapi karena kami saling memahami.

Bukan karena pertemanan arahnya juga di jalan yang lurus tanpa masalah. Tapi pertemanan itu hadir untuk saling membantu menguatkan ketika datang masalah.

Doa itu membuat segala yang rumit menjadi sederhana. Terkadang kemampuan doa bekerja melebihi kemampuan kita merencanakan. Segalanya menjadi mudah selesai ketika dibantu dengan doa.

Doa dan Action

Cerita Sewidak Loro memang tidak mengajarkan action. Si mbok, ibu Sewidak Loro terlalu lugu untuk melakukan action menjadikan putri buruk rupanya menjadi istri seorang raja. Si Mbok tahu diri. Dan saking tahu dirinya itu, ia berdoa terus menerus dengan suara lantang. Hingga suaranya itu terdengar oleh orang lain dan orang lain bertindak melakukan action yang akhirnya berwujud menjadi sebuah kenyataan.

Kita hanya berdoa dan merasa bahwa doa saja akan mengantar kita pada sesuatu perubahan bisa saja terjadi. Apalagi doa itu kita panjatkan bukan karena kita bukan karena kita orang yang selurus seperti Mbok-nya Sewidak Loro. Tapi karena kita orang yang malas untuk melakukan sebuah action.

Kita tidak mau berubah bukan karena keterbatasan diri kita tapi karena kita memang malas untuk melakukannya.

Di Negeria, seorang pengemis yang bertahun-tahun menjadi pengemis pada satu titik akhirnya melakukan action. Itu terjadi ketika seorang peramal melihat garis tangannya dan melihat tanggal lahirnya yang katanya sama dengan garis tangan dan tanggal lahir pelukis terkenal Leonardo Da Vinci.

Sebuah ramalan bagus tanpa action tetap menjadikannya pengemis selama bertahun-tahun. Hingga ia akhirnya bertemu peramal kedua dan meramalkan hal yang sama.
Lalu ia mulai melakukan perubahan.
Pengemis itu mulai belajar melukis. Ia mulai melakukan action dengan melukis. Berhari-berbulan hingga akhirnya lukisannya menjadi bagus dan memiliki daya jual tinggi. Akhirnya ia dikenal sebagai seorang pelukis terkenal yang lukisannya banyak digemari di negaranya.

Action bukan sekedar berharap dan berdoa.

Jika doa adalah landasan maka action adalah pesawat terbangnya yang akan membawa kita sampai pada tujuan.

Tinggal kita memilih yang mana. Apakah kita akan action menggunakan pesawat mainan, helicopter, pesawat penumpang atau sebuah pesawat jet. Masing-masing tentunya ditentukan dengan kapasitas kemampuan kita untuk menalar sampai sejauh mana kita bisa melakukan action itu.

Jika nyali kita kecil jangan bermimpi menggunakan pesawat jet. Bisa hancur berkeping kita karena tidak bisa mengendalikannya.

Lakukan action dari hal paling kecil yang kita bisa. Lalu bertahap setelah yang kecil itu menjadi kebiasaan, tingkatkan action pada sesuatu yang lebih besar dan lebih besar lagi. Hingga pada suatu saat kelak, kita akan berdiri di suatu tempat dimana kita merasa bahagia karena itulah hasil yang selama ini ingin kita dapatkan.

Mari kuatkan doa kita.