Belajar dari Sakit Hati

IMG-20160617-WA0046

Manusia besar adalah
manusia yang mampu mengolah sakit hati
Menjadi prestasi
(Anonim)

Salah satu rangkaian dalam hidup yang harus kita hadapi adalah sakit hati. Sakit hati entah karena perilaku orang lain atau entah karena perilaku kita sendiri tapi kita tidak tanggap sehingga setiap orang yang dekat dengan kita dan melakukan suatu hal kecil membuat kita menjadi sakit hati. Terbakar, terluka dan akhirnya kita berpikir bahwa mereka tidak mengerti kita.

Contoh yang paling jelas tentang sakit hati bisa dilihat di televisi. Berita suami istri saling sakit hati lalu mengakhiri rasa sakit itu dengan tindakan kriminal. Seorang murid yang sakit hati dan mencedari gurunya. Anak kecil yang sakit hati dengan temannya lalu melukainya.
Sakit hati ada di mana-mana. Sakit hati bukan lagi dikenal sebagai penyakit yang tertera di buku resep dokter. Sakit hati lebih dikenal dengan sakit perasaan. Jiwa yang sakit. Bila sakit hati itu dipendam menjadi sebuah dendam.
Pandawa disakiti oleh Kurawa. Dikucilkan di hutan. Para Nabi dikucilkan pengikutnya sendiri. Para pemimpin sering ditikam dari belakang justru oleh orang yang ada di sampingnya.
Sakit di hati adalah sebuah rasa yang tertusuk dan nyeri. Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Sakit ini bisa menetap bila tidak diobati. Menjadi bara yang membakar dalam konotasi positif dan negatif. Positif ketika sakit ini membakar ke arah prestasi. Negatif ketika justru sakit ini berubah menjadi dendam tak berkesudahan.
Saya selalu ingat bagaimana rupa teman-teman yang sakit hati. Ada yang merasakan begitu perihnya sakit hati hingga tidak bisa bangkit. Ada yang menyalurkanya pada sesuatu yang lain. Mimpi yang lebih indah lewat rokok atau ganja. Ada yang tenang saja dan menganggap sakit di hati adalah angin lalu.

Belajar Dari Sakit Hati

Saya juga pernah sakit hati. Sakit karena perlakuan teman-teman ketika kecil dulu. Ketika nilai rapor berhias angka merah untuk satu pelajaran bernama matematika.
Saya sendiri kurang ingat kenapa saya bisa mendapatkan angka itu di rapor. Apakah karena guru terlalu lelah hingga tertukar dengan nilai teman yang absennya di atas atau di bawah saya yang nama depannya sama dengan saya. Atau karena memang saya yang sudah berada pada kondisi memberontak pada saat kelas lima SD sehingga ingin melihat sesuatu yang berbeda di rapor saya.
Tapi nilai itu menjadi satu tonggak untuk paham banyak hal. Bahwa ketika nilai itu berada di rapor, entah kenapa teman-teman perempuan menyoraki saya lalu menganggap saya bodoh. Untuk nilai lima yang hanya satu itu saya dikucilkan oleh mereka yang sebelumnya juga tidak memiliki nilai di atas saya.
Saya sakit hati untuk nilai lima itu tapi saya berusaha keras agar nilai lima itu berubah. Perjuangan untuk mendapatkan perubahan nilai itu yang berat karena harus fokus pada buku dan keyakinan penuh untuk menyadarkan teman-teman bahwa nilai itu yang salah bukan saya.
Di penghujung semester, sakit hati yang saya olah menjadi suatu bentuk keyakinan dengan giat belajar itu berubah menjadi nilai lain yang membuat teman-teman yang menyudutkan saya diam. Terlebih ketika guru mengumumkan prestasi lain sebagai murid dengan nilai tertinggi nomor tiga di kelas.

Saya juga sakit hati ketika teman-teman tidak mau mengajak saya ke kolam renang untuk berenang karena saya dianggapnya tidak bisa berenang. Walaupun saya pada akhirnya bisa berenang teman-teman beranggapan bahwa cara saya berenang kacau balau.
Justru karena dikecilkan seperti itu, saya berjuang keras untuk bisa berenang. Menutup telinga untuk fokus pada kemampuan bisa berenang. Lalu tersenyum sendiri ketika mampu melompat dari papan lompat sambil menghadap ke teman-teman dan meluncur hingga ke dasar untuk kemudian timbul kembali.

Sakit hati yang hanya membuat kita duduk diam tak bergerak bahkan hanya menangisi nasib hanya akan membuat sakit hati itu berputar di ranah sakit hati bukan ranah lain yang harusnya menjadi fokus dalam tujuan hidup kita.
Sakit hati yang berikutnya adalah ketika saya menyadari bahwa memiliki tubuh yang gemuk adalah tidak menyenangkan. Apalagi di saat tumbuh kembang sebagai remaja. Selalu saja ada mulut usil yang mengatakan hal yang buruk seolah bertubuh gemuk adalah kutukan.
Sakit hati itu membuat justru saya semakin mengolah prestasi di bidang penulisan. Melecut diri sendiri dan yakin pada suatu saat cara saya ini akan mendatangkan banyak kebahagiaan untuk saya.
Lalu tubuh yang gemuk itu mudah disiati dengan pola makan dan olah raga yang baik.
Toh segalanya menjadi mudah ketika dilakukan dengan fokus pada tujuan dan target kita. Bukan fokus pada omongan miring yang justru membuat langkah lurus kita menjadi miring. Yakin bahwa setiap kemudahan terjadi karena kita mencari kemudahan itu dan tidak meratapi setiap kesulitan yang kita hadapi.

Sakit Hati Bukan Hal Penting

Sakit hati sesungguhnya bukan hal penting ketika kita sadar kita yang menciptakan dan memelihara rasa itu.
Seorang pengamen yang mengamen dari satu rumah ke rumah yang lain bisa jadi sakit hati karena ia ditolak. Tapi memelihara sakit hati itu cuma akan membuatnya bergerak jadi pengamen dengan nasib yang sama seperti itu.

Saya pernah sakit hati dengan seorang pemulung yang menolak pemberian saya. Tapi sakit hati itu saya olah menjadi hal lain yang lebih menyehatkan. Pola pikir positif bahwa siapa tahu pemulung itu menolak karena ia punya harga diri dan bisa jadi hidupnya jauh lebih baik ketimbang saya.
Bisa jadi juga karena ia terbiasa mendapatkan barang yang justru tidak layak pakai yang seharusnya masuk ke tong sampah sehingga pemberian itu hanya pengalihan dari tong sampah ke tempatnya.
Pola pikir bisa jadi seperti itu membuat akhirnya saya mengubah kalimat ketika memanggil pemulung untuk membagi barang. Ucapkan kata lebih sopan, iringi dengan kata maaf karena takut ia tersinggung dan sampaikan terima kasih karena mereka jsutru yang membantu kita mengurangi barang tidak terpakai di rumah.
Peristiwa lainnya mengajarkan banyak hal.

Sakit hati ketika anak-anak berucap tidak baik justru membuat saya sebagai orangtua mengambil jalan intropeksi. Hingga akhirnya tahu penyebab sebenarnya kenapa kata-kata tidak baik itu bisa ke luar dari mulut anak-anak.
Sakit hati sering terjadi karena kita berharap terlalu banyak. Dan yang kita terima tidak sesuai harapan. Sakit hati bisa juga karena kita menganggap diri kita terlalu tinggi hingga tidak terima ketika direndahkan.
Pilihan ada pada kita. Memelihara sakit hati atau mengolahnya menjadi prestasi.

**

Berkorban dan Bahagia

IMG-20160617-WA0062

Siapa yang suka berkorban? Berkorban perasaan? Berkorban harta benda? Sampai mengorbankan hal-hal yang sifatnya prinsip?
Pengorbanan yang paling sering dan nyata dilakukan oleh orangtua untuk anak-anak mereka. Seperti lagu Iwan Fals tentang Ibu. Ribuan kilo juga akan dihadapi seorang ibu untuk membahagiakan anak-anaknya.
Timbal balik bisa didapatkan dari pengorbanan. Tentu saja jika orang yang mendapatkan pengorbanan itu, sadar bahwa ada orang lain yang sudah berkorban untuknya.

Dua bersaudara penulis buku Ring of Fire, Lawrence Blair dan Lorne Blair melakukan pengorbanan harta dan nyawa. Mereka mengelilingi Indonesia untuk membuat film dokumentar yang akurat tentang Indonesia. Film dokumenter dan buku perjalanan yang bagus itu, akan membuat setiap orang yang membacanya mendapat pengalaman seperti Blair bersaudara mengalaminya.
Blair bersaudara ini menjelajahi tanah Jawa, Sumatera hingga ujung Papua. Blair bersaudara mengenal bagaimana caranya mendekati Komodo yang beberapa kali memangsa manusia . Bahkan Blair bersaudara mampu menjalin komunikasi dengan ketua suka di pedalaman Papua. Di sana mereka paham bahwa banyak dari suku-suku itu yang sebenarnya berat mengikuti aturan pemerintah yang melarang mereka menjadi kanibal. Mereka bahkan rinci menjelaskan, perbedaan daging manusia suku bangsa yang satu dan bangsa yang lain.

Blair bersadara untuk saya telah melakukan pengorbanan. Tidak semua orang mau bersusah payah seperti mereka untuk membuat film dan buku dengan riset yang super lengkap. Tidak semua orang bisa menjalani masa-masa seperti mereka terombang-ambing di lautan, dan menghadapi perompak di karang-karang tersembunyi.
Pengorbanan mereka membahagiakan pembaca dan penonton film. Dan saya yakin, mereka layak disebut sukses.

Salah Berkorban

Berkorban memang tidak dimiliki oleh setiap orang. Tapi ada satu titik tertentu, banyak dari kita harus intropeksi. Sudah benarkah bentuk pengorbanan kita? Sudah pada jalur yang tidak melanggar normakah pengorbanan kita?
Di suatu tempat, saya menyaksikan teman yang salah melakukan pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan memang menyenangkan keluarga besarnya, tapi justru menghancurkan hidupnya.
Mencari harta benda sebanyak-banyaknya dan berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Bahagianya semu. Ia bahkan pergi dari desa kecil ke desa yang lain, untuk mencari gadis-gadis muda yang ingin kerja di kota. Ujungnya hanya diserahkan pada lelaki hidung belang.
Pengorbanan memanjakan keluarga besarnya itu, akhirnya berujung kehancuran tubuhnya sendiri. Cerita terakhir yang saya dengar, ia tutup usia dengan sakit yang tidak bisa diobati karena kekurangan biaya.

Di tempat lain, teman-teman saya berjuang keras. Mengorbankan waktunya dan hartanya untuk memintarkan banyak generasi bangsa. Mereka berjuang keras membuka perpustakaan, demi untuk membangun kecintaan membaca. Membuka perpustakaan di desa-desa kecil bukan hal yang mudah. Jika di kota saingan perpustakaan adalah gadget yang ada di genggaman anak-anak kecil yang bahkan belum kenal sekolah, di desa saingan itu adalah mimpi besar untuk menjadi artis.
Entah itu jadi penyanyi dangdut atau jadi artis sinetron. Tapi mimpi seperti itu yang tumbuh menjamur. Mereka butuh uang dalam tempo cepat. Dan perpustakaan tidak bisa mewujudkan bukti itu dalam tempo yang cepat.
Saya bersyukur teman-teman saling bahu-membahu berbagi semangat dan membagi buku bacaan. Pengorbanan mereka untuk saya adalah lilin kecil, yang mungkin saja bisa padam cepat. Tapi setiap orang yang pernah merasakan cahayanya, bisa jadi suatu saat bermimpi jadi lilin juga dan menerangi dengan cara yang sama.

Dari Hal Terkecil

Berkorban untuk orang terdekat itu biasa. Ada ikatan darah, ikatan batin yang membuat kita mampu berkorban bahkan hingga tetes darah terakhir. Tapi berkorban untuk orang lain di luar jangkauan kita, atau orang yang baru kita kenal adalah hal yang luar biasa.
Memulainya tentu tidak mudah. Tapi mulailah dari hal terkecil. Hal-hal yang diabaikan oleh orang lain, justru yang kita lakukan.
Menyebrangkan orang yang sudah tua di saat ia bingung menyeberang jalan yang ramai, termasuk hal kecil. Tapi tidak semua orang bisa melakukannya.
Menulis kata-kata baik di sosial media, di saat orang lain bicara saling menghujat, merupakan hal kecil tapi meneduhkan siapa yang membacanya.
Tersenyum pada orang yang membenci kita, bukan hal besar. Tapi tidak semua orang besar mampu untuk melakukannya.
Kita bisa memulainya di hari ini.
Perbuatan kecil kita, entah suatu saat kelak akan menjadi besar. Dan itu bentuk pengorbanan yang paling indah, yang bisa jadi kenangan manis hidup kita kelak.
Mari mencoba.

Bohong Berbahaya dan Menyakitkan

IMG-20160617-WA0027

Bohong, kamu tukang bohong
Bohong janjimu palsu
(Bohong-Bagoes AA)
.

Ketika Pinokio boneka kayu buatan tuan Gepetto berbohong, Peri Biru membuat hidung Pinokio bertambah panjang. Semakin panjang hidung itu, ketika Pinokio tidak menyadari bahwa kebohongan itu berakibat pada bentuk hidungnya. Dan tentu saja akan merugikannya.
Pinokio akhirnya sadar dan mengakui kebohongannya karena merasa aneh dengan bentuk hidungnya yang panjang sekali. Ia sudah tidak merasa nyaman hingga akhirnya mau berkata jujur.

Bohong tentu saja bisa menjadi perkara sederhana untuk orang lain, tapi bisa menjadi perkara rumit untuk orang lain. Bohong akan nyaman untuk orang tertentu tapi membuat tidak nyaman untuk orang yang lain.
Untuk Ekawya dalam kisah epik Mahabarata bohongnya guru Drona menyakitkan hatinya. Ia yang sudah berjuang keras untuk menjadi murid guru Drona bahkan membuat patung guru Drona, harus mendapat perlakuan buruk.
Ibu jarinya dipotong dan ia tidak bisa memanah lagi. Dikarenakan ia menuruti syarat guru Drona jika ingin menjadi muridnya. Dan ternyata ketika syarat berupa potong ibu jari itu diikuti, Ekalawya diminta kembali ke tempatnya semula berasa. Drona berbohong demi untuk memenuhi janjinya pada Arjuna, untuk menjadi pemanah terhebat di jagat raya.

Karna juga harus berbohong. Nasibnya sebagai manusia dari kasta terendah tidak mungkin membuat ia menjadi pemanah yang hebat. Dikarenakan pemanah yang diakui hanya dari kasta keturunan raja.
Maka ia merubah dirinya menjadi seorang dengan kasta Brahma. Mendapatkan guru resi yang mumpuni. Tapi pada akhirnya kebohongannya diketahui sang resi yang justru bersumpah bahwa semua ilmu Karna akan hilang kelak.
Dua bohong itu bisa menjadi pelajaran berharga. Buat saya, kebohongan Drona adalah kebohongan yang biasa terjadi pada seorang guru yang begitu mencintai muridnya, Arjuna.

Kebohongan Karna juga kebohongan yang biasa terjadi untuk individu yang selalu saja mendapat hinaan dan cacian karena kedudukannya. Karna melakukan itu melalaui proses penghinaan terus menerus hingga akhirnya ia memutuskan merasa nyaman hidup dalam kebohongan. Meskipun kerapkali hati nuraninya masih menyuarakan kebenaran.
Bohong itu sebenarnya tabiat yang berasal dari dalam diri individu dengan tujuan melindungi diri mereka dari sesuatu yang mereka anggap ancaman.
Anak-anak kecil bisa jadi suka berbohong ketika mereka terus ditanya dengan cara diinterogasi oleh orangtuanya.

Bohong bisa kita lakukan pada siapa saja. Di social media banyak bertebaran berita bohong dari media online yang tidak bertanggung jawab. Tujuannya jelas, memecah belah dan memancing isu yang tidak jelas.
Banyak juga akun-akun palsu yang tujuannya menipu. Dari mulai online shopping hingga akun lelaki hidung belang yang tujuannya jelas mencari mangsa anak gadis yang belum paham banyak tentang seluk beluk dunia.
Bohong biasanya akan ampuh untuk seorang yang memiliki harapan tinggi. Harapan itu membuat ia tidak pernah puas dengan apa yang didapatinya saat ini. Karena itu Ibllis membohogi Hawa yang boleh makan apa saja di surga tapi dilarang mendekati buah Kuldi. Hawa memiliki harapan tinggi untuk dapat tinggal di surga selamanya. Dan buah Kuldi itu dikatakan iblis sebagai buah yang bisa membuat Hawa kekal di surga. Iblis membawa-bawa nama Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan tidak ingin Hawa kekal di surga selamanya.
Mungkin karena itu di musim kampanye banyak politikus menyuarakan kebohongan yang akan membuat rakyat percaya pada mereka lalu memilih mereka. Sering pula mengatasnamakan Tuhan untuk membuat diri mereka dipercaya.

Menyaring Dengan Hati
Bohong pada akhirnya setelah menjadi kebiasaan, akan menyebar seperti sebuah virus penyakit. Sekarang justru susah sekali dideteksi siapa yang benar dan siapa yang bohong. Yang bohong dan yang benar sama-sama kuat memegang argumen. Siapa pendukung yang benar dan siapa pendukung yang bohong sama-sama pintar bersuara sehingga orang bingung akan mudah menjadi pengikutnya.
Karena semakin mewabahnya bohong, pihak kepolisian dan hukum memiliki alat yang biasa dikenal dengan sebutan Lie Detector. Alat ini tujuan awalnya untuk mendeteksi kebohongan. Jika ada indikasi seorang tertuduh berbohong maka alat ini akan memberi signal ke arah itu.

Tapi yang menjadi masalah, seorang yang rajin berbohong, semua urat-urat nadinya akan menjadi lebih fleksible sehingga ia justru rilesk menghadapi alat itu. Sedang yang tidak biasa berbohong ketika dikenakan alat itu, justru ia menjadi tegang. Sehingga bisa jadi alat itu menuduhnya berbohong. Belakangan karena kurang akurat alat ini akhirnya sudah tidak terdengar lagi penggunaannya.
Di beberapa stasiun televisi, acara hipnotis untuk membuat seseorang rileks dan menceritakan suatu hal yang ia sembunyikan nyatanya sangat disukai penonton. Acara itu membuat saya yakin bahwa begitu banyak orang yang nyaman dengan kebohongan sehingga diperlukan orang lain untuk membuatnya sadar dengan cara tidak sadar.
Tapi sampai sekarang saya yakin dan percaya bahwa sesering apapun dan sepandai apapun berbohong, alam dan bintang tetap tidak mudah untuk dibohongi.

Sungai yang jernih jelas tidak bisa bohong kalau itu artinya mereka terpelihara dengan baik. Begitu juga dengan sungai yang kotor.
Pohon-pohon yang tidak disayang tidak bisa bohong. Daun-daunnya akan menguning perlahan dan ia tidak tumbuh seperti pohon yang lain.
Binatang bahkan bukan yang kita pelihara sendiri, juga tidak akan bisa bohong. Mereka akan nyaman pada manusia yang mau menyayanginya meski itu hanya sekedar elusan saja.
Seorang yang sudah terbiasa berbohong akan nyaman dengan kebohongannya. Sehingga tidak lagi paham bagaimana berkata jujur.
Seorang Ibu bisa mendeteksi kebohongan yang dilakukan anaknya dengan cara meningkatkan kualitas hubungan dengan anak. Sehingga setiap perubahan kecil bisa terasa oleh si Ibu.

Seorang istri juga bisa mendeteksi kebohongan suaminya dengan cara yang sama. Alam memiliki sinyal untuk sebuah hubungan batin. Dan sinyal itu hanya bisa tertangkap oleh seorang yang memang terus mengasahnya.
Guru bisa melakukan hal yang sama kepada muridnya. Atasan juga bisa melakukan hal yang sama pada bawahannya. Dan semua kualitas itu akan semakin optimal ketika hati diikutsertakan.
Jadi ketika sekarang saya disuguhkan dengan banyaknya berita tentang cawapres. Yang saya lakukan adalah menyaringnya dengan hati. Mereka bisa saja bohong, tapi hati saya akan menyaring dan memilih yang benar.

Mari biasakan untuk tidak berbohong.

Teman Sejati

Teman Sejati

Masha sudah menemukan teman sejatinya. Bagi yang biasa menyaksikan film kartun Masha and the Bear pasti paham, seperti apakah kebaikan hati seekor beruang, menghadapi anak kecil yang bisa dibilang nakal. Masha tinggal di pinggiran hutan dan ditinggal ibunya bekerja. Suatu hari, Masha masuk ke hutan lalu menemukan rumah beruang, dan berkenalan dengan seekor beruang sirkus yang besar.
Masha mendapatkan teman sejati yang baik hati. Seekor beruang sirkus yang tinggal sendiri di hutan, yang rela terganggu kehidupannya dengan ulah gadis kecil itu. Beruang yang baik itu menyediakan makan untuk Masha. Bahkan rela semua bahan makanannya habis, dijadikan bubur oleh Masha. Beruang juga menjadi guru baca tulis Masha, juga guru musik. Beruang punya kesabaran berlipat ganda.

Dengan kesabaran itu akhirnya Masha yang usil tumbuh empatinya. Ketika beruang letih menghadapi sikapnya dan pura-pura sakit, Masha menjadi dokter lalu mencarikan obatnya. Ketika beruang mendekati beruang lainnya, dan beruang betina itu tidak mau terganggu dengan anak kecil, hingga akhirnya berpaling pada beruang lainnya, Masha hanya bilang kalau beruang betina itu tidak cocok untuk beruang dan juga untuknya.
Masha and the Bear sebuah cerita sederhana. Mengajarkan kita banyak hal.
Kita punya ulah yang mungkin tidak senakal Masha, karena kita sudah dewasa. Tapi pernahkah terpikir, punyakah kita teman sebaik beruang? Yang mau menerima kita apa adanya, bahkan dalam keadaan kita yang paling buruk sekalipun?

Seorang yang rela melakukan banyak hal, sulit dicarinya. Sosok seperti beruang yang bisa marah tapi cepat memaafkan adalah sosok yang luar biasa.
Sosok itu menjadi langka, ketika kita sendiri hanya mau menjadi seorang Masha. Kita hanya maunya menerima, tanpa pernah berpikiran untuk memberi.

Marah yang Benar

Bear beruang juga bisa marah ketika Masha terlalu nakal. Tapi ia tahu batasannya kapan marah itu harus diluapkan.
Ia meminta Masha untuk membersihkan rumahnya, ketika bubur buatan Masha mengotori seluruh rumah. Tapi ujung dari marah itu adalah, Bear tetap mau menyediakan makan untuk Masha.
Bear berhati jernih. Tidak membiarkan ada rasa yang bisa mengotori perasannya.

Saya masih memiliki seorang teman yang sejak dua puluh tahun lalu masih suka marah. Marah itu membuat orang lain takut. Marah itu juga membuat orang sakit hati. Dan sayangnya meski diprotes oleh banyak teman, ia tetap juga tidak sadar. Hingga akhirnya satu persatu teman lebih memilih untuk meninggalkannya.
Marah adalah salah satu bentuk emosi. Seperti halnya api. Ketika dipelihara ia bisa semakin membesar dan membakar. Bahkan kenangan termanis pun bisa hilang, karena emosi bernama amarah itu.

Biasanya marah yang seperti ini hadir, karena tidak pernah mendapat siraman kasih sayang. Rasa cemburu pada kehidupan orang lain begitu besar, sehingg salah satu cara yang menurutnya efektif adalah dengan meluapkannya pada orang lain.
Marah seperti ini juga bisa hadir, karena ia mendapatkan teman sejati yang salah. Yang tidak bisa meluruskan tapi tetap membiarkannya bengkok.

Lihatlah si Ratu pada kisah Putih Salju. Teman sejatinya hanyalah sebuah cermin yang selalu bicara kalau ia tidak cantik. Kalah cantik dengan anak tirinya. Dan Ratu yang pencemburu, karena pernah menjadi orang paling cantik sesuai versi cermin, melakukan banyak cara, agar anak tirinya itu tidak ada lagi di dunia.
Marah model Ratu ini marah yang menjatuhkan. Teman yang dimiliki Ratu ini, bukan teman yang baik tentu saja. Apalagi teman sejati.

Sulit memang menemukan sejati. Tapi mengukurnya mudah. Dalam keadaan kita terpuruk, akan semakin mudah menemukan. Orang-orang yang ada selalu di dekat kita, untuk terus memberi semangat itulah teman sejati kita.
Jika hingga saat ini masih belum bisa menemukannya, cobalah jangan lagi mencari. Tapi jadikan diri kita sendiri teman sejati. Selalu setia berada di samping seorang teman ketika ia jatuh, bukan pada saat ia bangkit dan berjaya.
Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadi teman sejati.

Memahami Makna Kejutan

kejutan

Tidak semua orang suka dengan kejutan. Kejutan klakson kencang dari kendaraan di belakang kita, akan membuat kita yang kikuk berkendara semakin kikuk saja.
Kejutan dalam sebuah film, kadang membuat penonton yang memiliki harapan lain sebelumnya tentang akhir film itu, akan menggerutu setelah ke luar dari gedung bioskop.
Kejutan dalam sebuah buku atau cerita fiksi juga demikian.

Sebuah kejutan membuat seorang menjadi suka atau juga benci. Kejutan sesungguhnya tidak datang secara tiba-tiba. Sebuah film yang dibilang penuh kejutan, sebenarnya sudah memberi petunjuk yang samar sejak awal. Penonton yang mahir melihatnya akan paham hal itu. Sebuah buku yang akhir ceritanya juga dianggap mengejutkan, sebenarnya sudah memberi petunjuk juga di awalnya.

Hidup kita sendiri adalah sebuah rangkaian kejutan demi kejutan. Coba bayangkan saja ketika kita muda dan akhirnya menikah. Pasangan yang kita miliki seringnya kita anggap kejutan. Tapi sebenarnya kita sudah punya bayangan sosok yang akan menjadi pasangan kita.
Ada kejutan yang menjadi benar-benar kejutan dalam hidup kita. Kejutan yang seperti itu, sesungguhnya memberi pemahaman pada kita, untuk menerima hidup ini, sebagai bagian dari rencanaNYA.
Anak-anak yang lahir dengan jenis kelamin tidak sesuai prediksi dokter, juga kejutan. Mesin USG tidak mampu mendeteksi jenis kelamin bayi, ketika kejutan dari Pemilik Hidup itu akan diberikan pada kita.

Seorang teman yang rajin memeriksa ke dokter menerima kejutan melahirkan bayi kembar. Selama ini dokter menganggap bayinya hanya satu.
Sedang saya menerima kejutan ketika hamil anak pertama. Pemeriksaan dokter secara detil mengatakan bahwa saya tidak hamil karena tidak memiliki kantung janin.
Kejutan-kejutan seperti itu, sesungguhnya membuat irama hidup kita menjadi lebih dinamis, dan membuat kita menjadi manusia yang selalu berserah diri padaNYA.

Kejutan dan Pikiran Positif

Kejutan tidak selalu manis. Ada juga yang pahit. Tapi sebenarnya manis pahitnya kejutan itu, tergantung seberapa besar luasnya hati kita untuk menerima hal itu, sebagai bagian dari proses perjalanan hidup kita.
Semestakung, itu yang dikatakan oleh Prof Yohanes Surya, seorang ahli fisika. Ketika ada kejutan yang membuat hati sedikit terkejut, atau bahkan benar-benar terkejut karena di luar prediksi, kita harus mengarahkan pikiran menuju hal positif. Berharap banyak yang positif itu, bisa mengganti segala efek negatif yang akan datang.

Semoga semesta mendukung ini sering saya pakai ketika mengajar menulis. Ketika teman-teman mengirimkan naskah ke media, karya yang sudah masuk standar media itu, harus disertai dengan keyakinan positif. Kerja keras mereka tidak akan sia-sia.
Ketika mereka mulai menulis, mereka juga harus berpikir bahwa pesan yang mereka tulis, mengandung banyak kebaikan. Sehingga kebaikan itu akhirnya membuat semesta mendukung karya mereka hadir di media, dan dibaca banyak orang.
Saya memilih yang pasti dalam hidup. Berpikir positif itu jelas dan pasti untuk saya. Dengan hal tersebut, maka kejutan yang datang akan selalu diterima dengan lapang dada.

Kejutan saya di tahun 2014 adalah menjadi pemenang lomba cerpen Femina. Kejutan ini sudah diprediksi sebelumnya, karena sudah saya targetkan untuk hal itu. Tapi sebenarnya kemenangan itu, adalah hadiah atas pikiran positif saya pada peristiwa sebelumnya. Beberapa bulan sebelumnya saya kalah lomba menulis. Pemenangnya dua murid saya, mereka menggondol tiket ke Beijing dan mendapatkan dua ribu dolar dari yayasan Korea.
Jika saya tidak berpikir positif, mungkin saya yang merasa gagal bersaing, akan malas untuk kembali berlomba.

Kita sesungguhnya menerima banyak sekali kejutan dalam hidup. Dikhianati, diremehkan dan diperlakukan semena-mena, sebenarnya merupakan rangkaian kejutan.
Berpikir bahwa tidak semua orang mengalami hal itu, dan kita adalah orang yang terpilih, yang pantas untuk mendapatkan kejutan, akan membuat kita bukan hanya tegar, tetapi juga bersyukur.
Jadi mari siapkan diri untuk selalu menerima kejutan.

Bodoh

Bodoh

Sony Wakwaw seorang anak kecil yang dari penampilan fisik dan pikirannya kelihatan kurang, belakangan ini menjadi insipirasi banyak orang. Bicaranya tidak selancar anak seusianya. Orangtuanya pernah putus asa dengannya, hingga akhirnya nasib baik berpihak padanya dan membuatnya menjadi bintang sinetron komedi.
Jika pernah melihat film kartun Spongebob tentunya kita paham apa yang diucapkan berkali-kali oleh Squidwarld pada Patrik si bintang laut dan Spongebob. Yap bodoh. Squidwarld selalu beranggapan bahwa dirinya adalah makhluk laut yang pintar, sedang yang lainnya adalah bodoh.
Pintar dan bodoh adalah dua sisi mata uang. Di dalam diri kita ada sisi baik dan buruk. Ada sisi bodoh dan sisi pintarnya juga. Seringnya agar dianggap hebat kita selalu menampilkan sisi pintar kita. Kita lalu berjuang keras melakukan banyak hal, agar dianggap pintar oleh orang lain. Padahal kita tidak menyukai apalagi mencintai apa yang kita lakukan.
Seorang akan menganggap kita bodoh, ketika mereka menyadari diri mereka pintar. Dan pintar ini bisa masuk dalam banyak katagori. Ada yang pintar memasak, maka ia akan menganggap bodoh orang lain yang tidak bisa memasak.
Ada yang pintar bicara menguasai public speaking yang baik, maka ia akan menganggap bodoh orang lain yang tidak bisa melakukan hal itu.
Padahal kita dianugerahi banyak kelebihan dan juga banyak kekurangan. Ada hal-hal yang memang bisa kita kuasai, tapi ada yang tidak bisa. Dan itu yang membuat kehidupan jadi penuh warna.
Jika semua orang pintar memasak, tentunya tidak akan ada pembeli. Karena semua orang siap jadi penjual dan membuka rumah makan atau toko kue. Jika setiap orang pintar bicara di muka umum, maka pastinya tidak akan ada orang yang mau menjadi pendengar. Semuanya ingin didengar.

Orang Hebat yang Bodoh

Banyak orang yang fokus pada cita-citanya sering dianggap bodoh oleh orang lain yagn tidak sepaham dan tidak mengerti.
Di dunia yang semakin berlandaskan pada materi, para sukarelawan sering dianggap bodoh karena melakukan sesuatu tanpa bayaran. Mereka yang menganggap bodoh tidak mengerti, bahwa kebahagiaan membantu orang lain adalah bayaran tersendiri yang tidak bisa dihitung dengan lembaran uang.
Bob Sadino bahkan bangga ia bodoh. Karena ia paham ia kebodohannya itu membuat ia berani menekuni bidang yang tidak ditekuni orang lain, termasuk orang yang dianggap pintar. Ia berjualan telur hasil persilangan door to door bersama istrinya. Orang pintar tentunya memilih untuk keluar masuk kantor dan melakukan hal lain, yang dianggapnya bisa membuat orang lain menganggapnya hebat.
Martha Tilaar diajarkan ibunya untuk meneliti tentang telur dan juga rempah-rempah. Karena ibunya paham, nilai bidang studi Martha Tilaar tidak seperti saudaranya yang lain. Hasilnya ia hebat di bidangnya. Yang merasa pintar, apa mau bergelut dengan rempah-rempah dan tangannya kotor karena membuat jamu?
Setelah dipikir-pikir ternyata saya juga mengaku bodoh. Bodohnya karena saya terlalu fokus pada kegiatan menulis saya. Dulu teman-teman sekolah keheranan, kenapa saya selalu kelihatan bahagia setiap keluar masuk perpustakaan? Dulu teman kuliah saya pastinya juga sebal karena setiap kali diajak untuk menghabiskan waktu di luar, saya menolak dan selalu bilang ada tulisan yang harus saya kerjakan.
Saya akhirnya berada pada sebuah pemikiran, bahwa dianggap bodoh karena kita fokus pada suatu hal yang sedang kita tekuni, adalah suatu hal yang lumrah. Tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi harus membuat kita tersinggung.
Jadi kalau saat ini ada orang lain yang bilang kita bodoh, jangan kecil hati. Bisa jadi karena orang itu tidak sama minatnya dengan kita, atau memang kita yang harus kembali belajar.

Cinta yang Membesarkan

DSCF2761

Kita pernah jatuh cinta. Bukan hanya cinta pada lawan jenis, tapi cinta pada sesuatu hal yang melekat dan tidak bisa lepas dari diri kita.
Saya cinta menulis, orang lain mungkin cinta berolahraga.
Kecintaan saya pada dunia menulis, membuat saya tahan berjam-jam di depan komputer, dan pada akhirnya juga membuat saya tahan untuk memberikan pelatihan menulis pada orang lain yang ingin belajar menulis.
Kecintaan orang lain yang suka olahraga atau menekuni hobi yang lain, bisa jadi seperti itu. Mereka dengan senang hati menghabiskan waktu untuk hal yang dicintainya.
Saya belajar untuk memperbaiki kadar cinta saya setiap saat.

Saya belajar banyak dari cinta yang sangat besar yang diberikan Sosaku Kobayashi pada murid-muridnya, di sebuah sekolah yang berada dalam rangkaian gerbong kereta api. Seorang gadis mungil bernama Totto-Chan, yang dikeluarkan dari sekolahnya yang petama karena membuat gurunya kewalahan dengan tingkah lakunya, ternyata tumbuh berkembang menjadi pribadi yang kuat di sekolah ini.
Mr Kobayashi memberi pelajaran dengan cinta bukan sekedar teori. Ia membiarkan anak-anak belajar sesuatu yang mereka sukai. Anak-anak bebas memilih pelajaran mana yang lebih dahulu ingin mereka pelajari.
Mr Kobayashi membiarkan anak-anak berproses. Ia menyiapkan sebuah lomba untuk mengangkat kepercayaan diri muridnya yang cacat. Dan lomba itu dirancang sedemikian rupa sehingga anak-anak yang normal kalah bersaing dengan yang cacat. Hadiah lomba yang diberikan bukan piala tapi sayuran. Anak-anak yang tidak suka dengan hadiah itu hanya diberi kalimat indah. Bahwa mereka yang pulang membawa hadiah sayuran adalah anak yang hebat, karena sudah memberi makanan untuk keluarga dari hasil jerih payah mereka.

Bahkan seorang petani diangkat kepercayaan dirinya oleh Mr Kobayashi untuk dijadikan guru bercocok tanam di sekolah. Anak-anak belajar menanam sayuran dan mengamati tumbuhan lalu membuat tanah menjadi subur dari pakarnya langsung. Seorang yang memang berkutat dengan tanah, bukan seorang yang hanya belajar melalui buku.
Mr Kobayashi membiarkan anak-anak bebas dengan dunianya dan prosesnya menjalani hidup. Mereka bukan sekedar menjadi pribadi unggul, tapi menjadi pribadi yang dipenuhi cinta pada sesamanya.
Hebatnya, cara Mr Kobayashi membesarkan anak-anak dengan cinta itu, akhirnya menjadi rujukan banyak sekolah di Jepang. Dari sebuah sekolah kecil, dipandang sebelah mata, hadir kurikulum besar yang mengubah pola pikir dunia soal pendidikan.

Bukan Cinta Jika Mengecilkan

Jika kita pernah jatuh cinta pada lawan jenis, tentu kita paham bagaimana sosok yang tadinya biasa saja, bisa berubah menjadi sosok besar di mata kita. Seorang yang biasa saja, tiba-tiba terlihat istimewa di mata kita. Dan keistimewaan itu membuat kita bisa jadi dianggap aneh oleh orang lain, karena mereka tidak sepaham dengan apa yang kita pikirkan.
Cinta kepada sesama manusia tentu berbeda dengan cinta kepada hobi dan kesenangan kita. Karena yang kita hadapi adalah manusia, yang bukah hanya memiliki hati untuk menolak tapi juga memiliki logika untuk berpikir.

Hebatnya Mr Kobashi mampu merangkum keduanya. Ia mencintai kegiatan mengajar dan ia mencintai proses pelajaran itu berlangsung lalu ditangkap oleh murid-muridnya. Ia menyusun semua pelajaran agar nyaman dan melekat selamanya di benak muridnya, bukan melekat sekejap saja.
Cinta yang sesungguhnya memang seperti itu. Cinta itu membesarkan. Cinta itu tidak menginginkan diri kita sendiri yang besar, tapi juga menginginkan orang lain suatu saat sebesar kita.

Banyak dari kita yang mencintai tapi justru mengecilkan. Banyak dari kita yang bahkan belum berproses untuk mencintai apa yang ia jalani, sehingga ketika ilmu ia berikan yang ada di benaknya hanyalah keuntungan yang besar.
Hastinapura menjadi pelajaran berharga tentang cinta yang justru mengecilkan. Kasih sayang seorang Ayah bernama Destarasta pada anaknya Duryodana, justru membuat Duryodo menjadi kecil. Ia tidak pernah diajarkan tentang belas kasih. Yang diajarkan hanyalah cara meraih ambisinya. Hingga ia selalu merasa besar , padahal orang lain di luar kerajaan mengecilkannya.

Cinta yang membesarkan akan menyehatkan jiwa. Karena cinta itu akan mengalir masuk ke sanubari. Cinta seperti itu akan mampu membuat kita melihat jauh ke depan. Cinta seperti itu akan membuat kita paham potensi tersembunyi dari orang yang kita cintai.
Kalau kita belum pernah mencintai dengan cara seperti itu, maka belajarlah mulai sekarang untuk mencintai.

Tidak Sempurna

DSCF2757

Tidak ada yang mau menjadi tidak sempurna. Setiap individu pasti memilih kesempurnaan, sebagai salah satu bentuk keyakinan mereka untuk bisa meraih dunia. Iklan kosmetik hadir dengan mimpi membuat wajah wanita berubah menjadi cantik alias sempurna.
Bintang komedi yang tidak sempurna, seringnya jadi bahan olok-olok dengan cara didorong sana-sini dan bahkan dihina terus-menerus sepanjang pertunjukkan.
Siapa bilang ingin sempurna hanya menjadi impian para wanita?
Untuk lelaki dihadirkan produk susu dan postur tubuh idaman para lelaki. Dan postur tubuh seperti itu yang menurut iklan disukai para wanita.
Anak-anak kita juga dihadirkan pada sosok sempurna bernama pangeran dan putri ,dengan kisah indahnya yang membuat mereka yakin ketidaksempurnaan itu tidak ada. Dan sempurna adalah keharusan.
Sempurna dan tidak sempurna adalah dua mata sisi uang. Masing-masing dari kita pasti memilikinya. Tapi sayangnya banyak yang hanya fokus pada kesempurnaan bukan sebagai titik akhir, tapi justru pada titik awal.
Mungkin dengan alasan seperti itu banyak orangtua yang menekan anak-anaknya untuk berprestasi, bukan karena anak mencintai jalur yang ditekuninya. Mungkin juga dengan alasan itu, saya justru banyak sekali menemukan teman-teman di dunia nyata yang depresi dan akhirnya fokus pada kehidupan di dunia maya.
Sempurna untuk setiap orang memiliki standar berbeda. Untuk saya bahagia dan sehat sudah merupakan kesempurnaan. Tapi untuk orang lain mungkin saja tidak begitu.
Untuk saya masih memiliki memiliki waktu untuk membaca dan menulis sudah merupakan kesempurnaan. Tapi untuk yang lain kesempurnaan yang saya sukai itu, justru merupakan hal yang aneh dan tidak sempurna.

Jadilah Tidak Sempurna

Sesuatu yang spesial itu adanya di dalam diri kita. Begitu kita merasa spesial atau istimewa, maka segalanya akan menjadi berbeda. Itu nasehat burung bangau bapak tiri panda dalam film Kungfu Panda yang saya ingat betul.
Ketidaksempurnaan itu ada. Tapi bukan sesuatu yang penting. Yang penting adalah justru ketika kita menyadari bahwa banyak hal lain yang bisa dikejar, dan melupakan ketidaksempurnaan yang kita miliki.
Karena itu saya selalu suka pada buku yang mengajarkan bagaimana keluar dan mencari sisi sempurna dari kehidupan yang tidak sempurna.
Beast tidak sempurna menjadi makhluk monster singa. Tapi ia sempurna baiknya sehingga bisa membuat putri cantik yang jadi tawanannya jatuh hati setengah mati dan meningalkan pemujanya yang rupawan.
Emil tidak sempurna. Ia anak nakal pada buku karangan Astrid Lindgren, yang membuat para orangtua di kampungnya berembuk mengumpulkan uang, untuk disumbangkan pada orangtua Emil. Tujuannya adalah agar Emil dibawa ke kota yang lain dan tidak mengganggu kehidupan mereka yang sudah nyaman.
Dari ketidaksempurnaan Emil yang nakal itu, ibunya melihat sesuatu yang lain. Kreativitas Emil melampui anak-anak seusianya. Ia sesungguhnya bukan nakal tapi terlalu kreatif. Ibunya benar. Emil akhirnya menjadi salah satu walikota seperti harapan ibunya pada setiap tulisan dalam buku hariannya.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Operasi plastik menjadikan para wanita sempurna. Tapi tetap ada ketimpangan di hati mereka.
Banyak bintang film korea yang cantik dan digila-gilai penggemarnya, toh nasibnya berakhir tragis. Mereka memutuskan bunuh diri.
Robin Williams sosok guru sempurna dalam film Dead Poets Society juga seperti itu. Ia ditemukan bunuh diri di dalam kamarnya. Padahal sebagian besar penggemarnya menganggap hidupnya sempurna seperti di film-filmnya.
Tidak sempurna tidak enak memang. Sempurna itu seperti gunung yang tinggi dan gagah atau matahari di siang hari.
Yang bisa kita pelajari adalah bahwa kesempurnaan sebuah gunung berapi menyimpan bara yang bisa meledak dan menghanguskan diri sendiri dan orang di sekitarnya. Kesempurnaan matahari menyilaukan dan justru dijauhi banyak orang.
Jika hari ini kita tidak sempurna, maka bersyukurlah. Itu artinya kita masihlah seorang manusia.

Air Mata

airmata

Saya, seperti kebanyakan perempuan lainnya, pasti lebih banyak menyimpan kolam air mata ketimbang para lelaki. Kolam-kolam itu bisa keluar dengan cepat hanya dengan sentuhan bernama novel yang mengiris-iris perasaan atau tontonan yang membuat miris melihat tokoh utmanya diperlakukan secara tidak baik.
Kolam-kolam air mata itu anehnya tidak juga kering airnya. Bahkan semakin banyak kita menonton atau membaca sesuatu yang mengiris-iris hati, maka semakin banyak mata air yang hadir untuk menimbuni kolam-kolam itu.
Kolam-kolam air mata itu yang akhirnya dimanfaatkan oleh industri televisi dan juga banyak oleh industri buku.
Sebagian besar tayangan sinetron di televisi berisi air mata. Diminati oleh para gadis dan ibu-ibu dan ikut berlelehan air mata mereka dengan kisah tragis tokoh di dalamnya.
Bahkan tayangan musibah sekarang juga dikemas untuk mengambil air mata penontonnya. Berlama-lama mereka bicara tentang sebuah musibah lalu kamera akan men-zoom seorang Ibu yang kehilangan anak-anaknya atau anak yang kehilangan orangtua dengan backsound music yang akan membuat air mata di pipi berlelehan tanpa terasa.
Musibah itu belakangan bukan lagi diceritakan sekilas saja oleh industri televisi, tapi diceritakan dengan begitu detil, sehingga para perempuan khususnya dan lelaki umumnya, akan terpaku untuk lebih lama lagi menonton tayangan itu.
Penderitaan dan musibah selalu menjadi obat yang mujarab mengeluarkan air mata tapi belum tentu efektif untuk membasuh jiwa.

Air Mata Dan Buku
Air mata harusnya berhubungan dengan rasa. Sebuah rasa yang lebih banyak dimiliki perempuan ketimbang laki-laki. Dan rasa itu juga lebih banyak dimiliki oleh seorang yang sensitif atau lebih sering disebut perasa.
Perasa artinya mudah untuk merasakan. Sesuatu yang dianggap biasa-biasa saja oleh orang lain, bisa dianggap berlebihan olehnya.
Dan rasa yang seperti ini yang banyak dimiliki oleh penulis perempuan. Kadang mengungkapkannya terlalu berlebihan hanya ingin agar rasa itu tertangkap dan dikeluarkan dalam bentuk air mata oleh pembacanya.
Jika orang lain menangkap dan menumpahkan air mata ketika membaca sebuah buku, saya justru menangkap sesuatu yang berbeda.
Saya lebih suka belajar banyak makna lain dibalik kisah yang mengundang air mata. Luka yang tertulis dan sampai ke hati pembacanya, pasti adalah luka yang sesungguhnya terjadi.
Kite Runner, A Thousand Splendid Suns, hingga And The Mountains Echoed yang ditulis Khaled Hosseini adalah luka yang dialami penulisnya pada suatu tempat di Kabul dimana pertempuran tidak juga mau berhenti.
Air mata berupa luka yang dialami tokoh-tokoh dalam tiga buku tersebut adalah air mata penulisnya dan sampai kepada pembacanya. Air mata itu efektif untuk bisa merasakan jejak peperangan yang hanya membuat luka. Air mata di sana juga jadi bahan perenungan bahwa harus selalu hadir sosok bijaksana yang fokus pada kedamaian hingga berjuang keras untuk menepis segala perbedaan.
Air mata dalam buku A Fuadi mulai dari Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna hingga Rantau Muara, adalah air mata yang menggiring pembacanya untuk tetap kukuh pada keyakinan sebuah mimpi. Perjuangan untuk meraih mimpi itu berat. Akan ada air mata bukan saja dari individu yang sedang bermimpi untuk sukses, tapi juga dari orang-orang terdekat yang rela mengucurkan air mata dan membasuhnya dengan doa juga keyakinan bahwa segala mimpi pasti bisa terwujud.
Air mata Ibu yang percaya bahwa anaknya akan menjadi orang baik, menyekolahkan di tempat yang baik hingga segala optimisme itu ditelah utuh oleh si anak dan membuatnya yakin bahwa segala kejadian buruk adalah rahasia menuju pintu kesuksesan.
Secret Garden dan The Railway Children, adalah buku anak-anak yang menyadarkan pembacanya bahwa kadang kala dalam hidup ini ada air mata orang dewasa yang harus dipahami anak-anak. Anak-anak yang tidak mengerti perilaku orang dewasa dan masalah orang dewasa. Air mata itu justru membuat mereka jadi pribadi tangguh dan memotivasi.

Jangan Buang Percuma

Air mata perempuan bukan air mata lelaki. Para lelaki tidak semudah perempuan mengeluarkan air mata. Pada budaya patriarki yang mengharapkan laki-laki tumbuh dewasa dengan segala ketegaran plus ketegasan, aneh rasanya melihat mereka menangis.
Sudah terbiasa untuk saya melihat perempuan menangis. Meskipun ada saja peristiwa yang menggiring bahwa terkadang air mata bukan sekedar air yang meleleh dari mata. Tapi bisa berarti banyak. Air mata bisa jadi usaha untuk mengangkat beban hidup yang menghimpit dada ke luar ke permukaan hingga hidup menjadi lebih ringan.
Saya menyaksikan sendiri ketika melihat seorang ibu menangis. Ibu itu saya temukan tidak sengaja di halaman depan masjid. Benar-benar menangis. Meskipun tangisan itu terlihat sekali ditahan mungkin tidak enak hati dengan orang yang melintas dan nanti melihatnya.
Lalu tangisan itu berubah menjadi tangisan yang tidak bisa ditahan lagi ketika saya datang dan duduk di sampingnya.
Ia mulai bercerita, meskipun tidak didesak. Bisa jadi sesak di batinnya sudah tidak bisa dikuasai sehingga butuh ditumpahkan. Lalu ia mulai bercerita tentang jalan hidupnya.
Ibu yang saya temui bukan seorang perempuan yang dengan pandangan biasa juga sudah patut dikasihani. Pakaian-nya rapi. Sosoknya tinggi. Dan wajahnya terawat tidak kusam.
Tangisan itu disambung dengan cerita yang membuat saya terhenyak sendiri. Dia bercerita bukan karena berharap saya memberi sesuatu atau ia meminta sesuatu. Ia bercerita karena memang ingin bercerita. Berbagi beban. Setelah beban itu terbagi terlihat jelas sekali bagaimana ia merasa lega.
Hidupnya yang berada di titik nol. Dipisahkan dari anak-anaknya. Masih dikejar-kejar oleh mantan suaminya yang tidak ingin ia memiliki hidup baru. Kemanapun ia melangkah, selalu ada mata-mata dari suaminya. Setiap kali ia bekerja, majikannya selalu mengeluarkannya karena suaminya akan mengancam si majikan. Maka sempurnalah penderitaan perempuan manis itu.
Justru setelah itu saya yang merasa aneh. Aneh, bila hidup yang baik-baik saja yang selama ini saya jalani harus dipenuhi air mata. Apalagi air mata itu hanyalah air mata karena kekonyolan terpancing oleh sebuah tontonan yang dilebih-lebihkan. Atau karena penderitaan seujung kuku saja.
Di tempat lain saya tahu, ada wanita yang mengeluarkan air mata hanya karena tidak memiliki baju sebagus wanita lain atau tidak memiliki rumah sebagus rumah tetangganya.
Ada yang hidupnya fokus hanya untuk menangisi kemalangan yang ia anggap malang tak berujung tanpa pernah membandingkannya dengan kehidupan orang lain.
Ada juga yang menangis ketika menonton tontonan tentang musibah di televisi, tapi tidak bergerak sama sekali hatinya untuk bergegas membantu.
Saya punya cara tersendiri agar kolam air mata saya tidak tumpah untuk hal percuma. Kehidupan yang saya jalani selalu saya bandingkan dengan kehidupan dengan orang lain yang lebih sulit. Bahkan dengan tingkat cobaan hidup yang cukup berat. Dan perbandingan itu bukan sekedar berada dalam alam pikiran, tapi saya mendekatinya hingga nyata segala yang terlihat.
Air mata keluar itu hak kita.
Tapi sekarang saya tahu bagaimana cara mengeluarkan air mata lebih tepat lagi.

Kemarin dan Hari Ini

kembang api

Bahwa hari kemarin tiada lain dari
kenangan hari ini.
Dan hari depan merupakan
impian masa kini.

(Kahlil Gibran)

Apa yang terjadi kemarin bisa jadi tidak tersisa di hari ini. Apa yang menjadi luka di hari kemarin, bisa jadi tidak terasa apa-apa di hari ini. Waktu sebenarnya akan membuat masalah yang dilepaskan tidak lagi menjadi beban.
Tapi perkara waktu itu bukan perkara sederhana. Banyak waktu yang hilang dan tidak menghasilkan apa-apa. Waktu terbuang percuma. Luka tidak bisa sembuh, pelajaran hidup juga tidak bisa didapatkan.
Tahun baru juga soal waktu. Waktu di mana almanak berganti. Serentak berganti sama di semua belahan dunia. Dan yang sama itu artinya adalah sebuah pesta.
Pesta tahun baru.
Pesta untuk penjual terompet yang terompetnya laku. Pesta untuk penjual ikan dan jagung yang barang dagangannya diserbu pembeli karena di banyak tempat banyak yang menghabiskan waktu menutup tahun dengan acara bakar ikan dan jagung bersama. Pesta untuk pedagang petasan yang juga laku, sebab sebuah pesta selalu disatukan dengan kemeriahan. Dan di tahun baru kemeriahan itu adalah kemeriahan pesta kembang api juga petasan. Seolah-olah kembang api di langit malam itu sebagai sebuah harapan yang dilambungkan tinggi-tinggi, berwarna, menyala terang dan membuat banyak orang bahagia.
Hanya sayangnya akhir sebuah pesta kembang api adalah padamnya harapan. Di pagi hari, pada hari baru, yang terlihat adalah jalanan menjadi sunyi karena yang penikmat harapan di langit masih terlelap dalam mimpi panjangnya.

Tahun Baru yang Baru
Tahun baru itu apa?
Dulu pertanyaan itu tidak pernah mampir ke benak saya karena kemeriahan pesta di tahun baru belum seperti sekarang. Yang saya tahu, acara televisi bertambah jam tayangnya dengan ucapan selamat pergantian tahun dari satu propinsi ke propinsi lain yang memiliki perbadaan waktu. Sudah itu saja.
Yang jelas keesokan paginya saya melihat jalanan menjadi sepi. Teman-teman tidur sampai siang karena malamnya menonton pesta kembang api.
Esoknya lagi di tanggal 2 kehidupan kembali seperti semula. Yang biasa marah kembali marah, yang terbiasa tergesa-gesa juga tergesa-gesa, yang menjadi preman tetap menjadi preman dan yang menjadi baik tetap menjadi baik.
Lalu apa bedanya tahun yang kemarin dengan tahun yang baru?
Tahun baru yang lalu, dua tahun yang lalu, lima tahun yang lalu akan tetap sama, jika kita menjalaninya hanya sekedar putaran waktu. Bahkan detik kemarin dan hari ini sama. Kita masih sama-sama diberi waktu untuk bernapas.
Perubahan tahun akan menjadi beda bila ada sesuatu yang memang ingin kita tandai sebagai sebuah perbedaan.
Saya suka melihat tahun baru dengan sisi berbeda. Pencapaian kebijaksanaan harus jadi pijakan paling penting setiap tahunnya seiring dengan pertambahan usia.
Bertemu dengan seorang yang baru dan belajar seperti apa karakter orang lain adalah perjalanan mengawali tahun yang menyenangkan.
Dari siapa saja saya bisa belajar.
Sebut saja namanya Dini. Saya kenal dia sebagai gadis yang sesungguhnya tidak memiliki kemampuan untuk mengikuti kuliah. Tapi sebagai anak orang berpunya orangtua mengharuskannya.
Dini berpenampilan modis. Tapi Dini menjadi bahan tertawaan diam-diam teman-teman yang lain karena selalu tidak nyambung setiap diajak bicara. Dini cuma bisa memamerkan senyumnya saja.
Ketika ada anak-anak muda yang mendekatinya di kenal Dini di pintu masuk sebuah mall, Dini takluk. Teman-teman tidak bereaksi. Lalu cerita Dini adalah cerita kesedihan seorang perempuan yang berujung pada Dini yang hamil oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.
Setelah itu selesai?
Belum. Dini melahirkan dan kembali kuliah, kembali hanya senyum-senyum saja. Saya sendiri tidak lagi memantau Dini karena sudah lebih dulu lulus. Hanya saya mendapatkan banyak hal dari Dini.
Bahwa ketika kita menjadi lemah, terlihat lemah, maka orang-orang yang merasa kuat akan memanfaatkan. Kita boleh terlihat lemah di mata orang lain tapi jangan memiliki jiwa yang lemah. Tidak ada orang yang berani memanfaatkan ketika jiwa kita tidak lemah.
Tahun itu saya belajar dari Dini untuk tidak menjadi lemah.
Tahun lainnya saya belajar dari gadis-gadis muda nan cantik yang mau dijadikan simpanan di dalam rumah susun sederhana. Belajar juga tentang bagaimana kecintaan akan materi mengejar lewat gadis-gadis malam yang pekerjaan malam harinya diketahui oleh keluarganya. Mereka masih muda, seksi dan harusnya punya banyak mimpi untuk diraih menjadi kenyataan.
Tahun lainnya saya belajar banyak dari yang lain. Dan pelajaran dari tahun ketahun itu yang membuat saya menjadi kaya pemahaman.

Berubah atau Berhenti
Dulu, dulu sekali di belakang rumah saya ada bandara. Bandara berisi banyak pesawat dari mulai ukuran kecil sedang sampai besar itu membuat saya belajar banyak hal. Tentang sebuah perubahan.
Pesawat-pesawat tidak pernah berhenti total. Mereka istirahat untuk mengisi bahan bakar. Setelah itu mereka akan kembali terbang.
Ada yang menarik ketika pesawat itu akan kembali berjalan. Baling-balingnya akan berputar menciptakan hawa panas di sekelilingnya. Saya memaknai sebagai sebuah semangat yang menyebar dan mengenai orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Pesawat tidak lantas terbang. Pesawat berputar mencari arah menuju landasan pacu. Sebelum akhirnya pelan tapi pasti mulai perlahan terbang dan melipat roda-roda kecilnya masuk ke dalam tubuhnya.
Perjalanan kita menuju suatu target juga seperti itu. Kita tidak harus lantas terbang. Kita berputar mencari posisi yang tepat. Posisi yang akan membuat kita bisa melaju cepat di landasan pacu mimpi kita.
Ada yang harus kita lipat seperti pesawat melipat rodanya. Kenangan, masa lalu harus kita lipat untuk bisa melesat lebih tinggi. Kenangan itu mengokohkan kita. Kenangan itu membuat kita berpijak pada bumi sebagai bentuk nyata kepribadian kita.
Yang harus kita bawa hingga menembus awan adalah harapan. Harapan yang dibungkus dengan keyakinan bahwa kelak kita akan kembali turun ke bumi sebagai pribadi yang lain.
Masa-masa istirahat adalah masa ketika pesawat kembali ke bumi. Kembali ke bandara.
Itu juga suatu masa yang saya maknai sebagai masa istirahat. Untuk kembali menjadi manusia yang membumi. Masa dimana saya harus intropeksi lagi tentang perjalanan yang harus dilanjutkan sesudah istirahat selesai.
Perjalanan masih panjang.
Selamat tahun baru.