Begini Cara Kirim Naskah ke Penerbit

IMG-20160507-WA0001

Ada banyak pertanyaan dari penulis pemula. Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Karena jawabannya bisa ditemukan di banyak tempat. Tinggal ambil smart phone. Lalu ketik penerbit dan alamatnya. Maka akan ketemulah nama penerbit.
Lalu cari kriteria kirim naskah. Dengan mencoba klak klik halaman yang ada. Harus mau mencari. Kalau malas mencari, jangan harap orang lain mau mencarikan untuk kamu.

Ada banyak penerbit.
Umum dikenal dengan mayor, penerbit besar. Penerbit yang menerbitkan buku kita dengan sistem perjanjian. Kita cuma modal naskah bagus saja. Lalu mereka akan menerbitkan dan menjualkan. Kita dapat royalti beberapa persen dari buku yang mereka jual itu. Royalti turun sesuai perjanjian. Ada yang pertiga bulan, ada yang enam bulan.
Dan untuk tahu sistem royalti ini, ada baiknya kalian menulis dulu, punya karya dulu, kirim naskah dulu, tunggu di acc dulu, baru akhirnya paham seperti apa sistem royalti berjalan.

Ada penerbit indie.
Penerbit indie ini adalah jalur indipendent alias mandiri.
Jadi kalau kamu merasa punya naskah bagus, punya uang, terus dengar kata teman-teman susah masuk ke penerbit mayor, maka biasanya penerbit indie yang dilirik. Tapi ya itu. Mereka akan menerbitkan buku kamu sesuai budget yang kamu punya. Kamu punya lima ratus ribu, akan dicetak sesuai dengan dana itu.
Untuk lay out, EYD kamu masih harus keluar kocek lebih dalam lagi untuk itu.
Mereka juga akan menayangkan buku kamu sesuai order. Jadi naskah kamu akan dijual online.

Untuk kamu yang baru belajar nulis, saya tidak sarankan penerbit indie. Karena kamu harus melewati proses menulis yang membuat kamu sadar, bahwa menjadi penulis yang baik itu tidak gampang. Bukan sekedar punya naskah sampai selesai saja lalu terbit. Tapi naskah itu memang idenya harus benar-benar bagus.
Untuk orang yang sudah punya massa seperti pembicara seminar, jalur indie yang dipilih karena lebih cepat. Lagipula mereka sudah punya massa yang pasti akan membeli buku itu.

Ada banyak penerbit.
Browsing penerbit saja, maka akan banyak nama penerbit bermunculan.
Baca lebih jelas lagi. Lebih mantap kalau jalan ke toko buku. Di toko buku biasanya yang dijual buku-buku dari penerbit mayor.
Ambil salah satu buku itu. Beli satu atau dua buku. Jangan malas merogoh kocek untuk membeli buku. Terus baca isi buku itu. Lihat nama dan alamat penerbitnya. Lihat alamat email dan nomor teleponnya. Kalau punya pulsa langsung telepon tanya-tanya. Atau kirim email ke sana.
Hiks,
saya suka sebel kalau ditanya kirim ke penerbit ini dan itu larinya ke saya, bukan ke penerbitnya. Bahkan murid-murid yang belajar privat di saya pun, saya minta untuk kirim surat pertanyaan ke redaksi penerbit untuk mendapat jawaban dari mereka sendiri. Jadi bukan melalui saya.

Setelah kamu baca buku terbitan mereka yang kamu beli, kamu bandingkan dengan tulisan yang kamu buat.
Kalau yakin kirim saja ke mereka.
Jangan lupa sertakan kata pengantar yang sopan. Jangan asal kirim.
Karena penerbit mayor biasanya antri maka jangan kirim hari ini lalu minta jawaban besok.
Ada penerbit mayor yang baru menjawab setelah sekian bulan. Ada yang dua bulan juga sudah dapat jawaban.

Apakah penerbit mayor pilih-pilih penulis?
Tergantung.
Kalau kamu punya naskah bagus dan ide yang benar-benar beda, saya yakin naskah itu akan membuat penerbit jatuh hati dan mau menerbitkannya.
Tapi kalau naskahmu hanya naskah biasa, kisah cinta biasa, sama seperti novel-novel yang sudah ada, jangan heran kalau naskah kamu tidak akan dilirik oleh penerbit tersebut.

Terus gimana cara agar ide itu terasa unik?
Wajib banyak baca, bukan banyak mimpi.
Dari banyak membaca, bisa paham ide mana yang belum ditulis oleh penulis lain.

Jadi tugas kamu sekarang.
Browsing nama penerbit.
Lihat buku-buku hasil karya penerbit tersebut. Lari ke toko buku atau cari di toko buku online yang banyak ada di sosial media atau di mana saja, asal pulsa kamu mencukupi.
Terus pikirkan ide yang menarik untuk kamu tulis dan kamu kirim ke mereka.
Soal surat perjanjian dan lain sebagainya, nanti mudah mempelajarinya. Kalau naskah kamu sudah acc. Kalau belum-belum kamu sudah pusing dengan surat perjanjian, padahal naskah juga belum ada, buku juga tidak pernah baca, nanti kasihan. Kasihan kamu dan juga kasihan penulis penulis seperti saya yang terus-menerus ditanya hal-hal seperti itu.

Masalah Serius Penulis Pemula

Tanda-Tanya

Masalah di dunia menulis sebenarnya berputar dari itu ke itu saja. Dan solusinya juga akhirnya berputar dari itu ke itu saja. Kalau dulu masalah saya adalah bingung mencari tempat bertanya, sebab akses internet belum popular seperti sekarang ini. Masalah penulis di zaman sekarang ini adalah bingung karena terlalu banyak tempat bertanya.
Kemudahan mencari tempat bertanya itu pada akhirnya justru bukan membantu penulis pemula bertambah maju, tapi mereka justru jalan di tempat.
Dan pertanyaan mereka itu, seringnya justru membuat para penulis yang dianggap senior menutup akses dengan tidak membuka inbox dari mereka.

Beberapa masalah ini saya rangkum dari pengamatan selama ini di sosial media, plus inbox-inbox yang masuk ke saya :

1. Jarang memperhatikan tata krama
“Kak, aku mau diskusi.” Atau, “Kak bagi link pengumuman lomba, dong.”
Itu kalimat yang banyak saya temukan. Tapi setelah link didapat. Taraa. Mereka hilang tidak muncul lagi.
Bukan, bukan mengharap ucapan terima kasih dari mereka. Tapi kasihan. Karena jika itu mereka lakukan untuk penerbit atau media, sikap seperti itu pasti akan membuat pihak penerbit atau media jadi malas untuk melayani mereka. Dan tentu saja malas juga untuk ngecek naskah mereka.
Jika ingin serius menjadi penulis, selain harus belajar menulis yang bagus, mereka juga harus belajar menjaga sikap. Ada aturannya bagaimana menyodorkan naskah dan menarik naskah di sebuah penerbit atau media.

2. Tanya alamat email media atau penerbit.
“Bun, minta alamat email media ini, dong.”
Ketika saya tanya apakah sudah punya tulisan untuk dikirim ke sana? Mereka bilang belum.
Ketika tanya tentang email penerbit juga seperti itu. Ketika saya tanya apakah mereka sudah punya buku terbitan penerbit yang akan mereka tuju? Mereka bilang belum.
Hiks. Itu sama saja kalau mau masukin kue ke sebuah toko kue, tapi tidak pernah merasakan sebelumnya kue-kue yang dijual di sana. Cuma main feeling. Dan itu tidak akan berhasil.

3. Mau informasi cepat tanpa perlu browsing
Saya masih suka mencari alamat penerbit atau media dari browsing. Dari FB atau twitter bisa didapatkan nama media. Tinggal klik search majalah. Maka keluarlah banyak nama majalah. Maka pelajari saja satu persatu majalah itu. Pelajari apa yang mereka posting. Di situ juga biasanya disebutkan alamat pengiriman naskah. Jadi sebenarnya tidak perlu ribet untuk bertanya.
Penulis pemula? Mereka kirim pesan ke saya hanya minta email penerbit atau media cetak. Plus minta untuk mengecek naskah mereka.

4. Tanya kriteria sebuah lomba. Padahal sudah dijelaskan di poster yang dibagikan
Sering juga saya posting sebuah lomba yang diadakan oleh media atau penerbit. Datanya lengkap. Tapi tetap saja masih ada yang bertanya kriteria lomba tersebut.

5. Merasa punya ide hebat, padahal biasa. Itu tanda jarang baca buku
Setiap penulis pemula yang saya temui selalu merasa yakin mereka punya ide yang hebat. Ide mereka berbeda dari penulis lain. Lalu mereka menjabarkan ide mereka tersebut. Hasilnya? Hasilnya menurut saya ide itu masih biasa.
Biasanya sih solusinya, saya minta mereka banyak-banyak membaca buku saja.

6. Merasa tulisan sudah cocok di semua media, padahal tidak pernah beli satu media pun.
Banyak yang seperti ini. Dulu mungkin saya juga seperti ini. Tapi saya berjuang untuk terus belajar. Dan bersyukur zaman saya tidak ada sosial media. Sehingga pertanyaan saya simpan sendiri dengan terus berjuang untuk menulis.
Sekarang, banyak penulis pemula yang datang ke inbox atau email saya. Dengan bahasa belum bagus, masih disingkat-singkat. Lalu mereka merasa yakin punya karya yang bagus dan cocok untuk semua media.

7. Merasa proses menulisnya sudah berdarah-darah. Padahal baru dijalani satu dua bulan
“Sudah, Bun. Sudah. Saya sudah berjuang menulis sampai berdarah-darah. Ditolak terus karya saya.”
Eh pas saya tanya, sudah berapa lama belajar menulis? Jawabannya adalah mereka baru belajar menulis satu dua bulan ini.
Lalu bagaimana mungkin bisa bilang kalau proses yang dialuinya sudah berdarah-darah?

8. Mau hasil yang cepat
Menulis itu ada aturannya. Agar tulisan bagus, harus mau berlatih keras terus-menerus. Mengirim tulisan ke media atau penerbit harus memiliki tulisan bagus. Dan karena media atau penerbit menerima ratusan atau bahkan ribuan tulisan dari banyak penulis, maka ada proses yang harus ditaati. Proses itu bernama menunggu.
Jadi untuk di media masa tunggunya minimal tujuh bulan sampai dua tahun. Ada yang bisa cepat satu minggu juga sudah dapat kabar. Tapi tidak jarang sampai dua tahun karya yang kita kirim juga belum dapat kabar.
Penulis pemula merasa yakin karya mereka sudah bagus dan yakin akan dimuat. Mereka bergantung pada satu karya itu saja yang mereka kirim.
Untuk mereka yang seperti itu biasanya saya sarankan untuk kirim lalu lupakan. Tulis yang banyak lagi. Nanti kalau sudah menulis yang banyak, akan ada satu titik mereka sadar, bahwa karya yang mereka tulis sebelumnya sebenarnya tidak ada apa-apanya. Alias memang belum pantas untuk diterbitkan.

9. Cepat Puas Diri
Ketika satu tulisan sudah dimuat di media atau di penerbit, merasa sudah cukup hebat dan tidak perlu belajar lagi. Bahkan ada juga yang mulai meremehkan orang lain. Padahal satu dua sampai sepuluh naskah dimuat, itu baru langkah awal. Karena ujiannya adalah setelah berkali-kali naskah kita hadir, apakah kita akan tetap bisa konsisten menulis? Apakah kita tetap bisa menghadirkan karya yang memang idenya berbeda?

10. Fokus Ingin Terkenal
Ingin terkenal memang menjadi incaran anak-anak muda. Karena itu jalan menjadi artis lewat kontes ini itu banyak diminati anak muda. Terkenal membuat mereka mudah mengumpulkan pundi-pundi uang.
Tapi proses menulis bukan proses menjadi artis.
Menulis ada di jalur yang berbeda. Yang terkenal itu karya baru diri penulis mengikuti. Karena yang orang baca karya kita. Bermanfaat karya kita, maka titik puasnya ada di situ.
Jika terkenal diusung pertama kali, maka penulis akan rela menulis apa saja untuk jadi terkenal. Ujungnya mereka mau menulis tulisan-tulisan porno yang tidak bermanfaat.

11. Mudah Meminta
Ini yang paling sering juga saya dapatkan.
Penulis pemula sering merasa bahwa setiap penulis punya waktu luang yang banyak. Mungkin menempatkan standar dengan diri mereka.
Padahal kalau sudah terjun ke dunia menulis, waktu untuk main sosial media adalah waktu untuk istirahat. Jadi inginnya tidak diganggu.
Tapi yang datang ke inbox saya adalah banyak permintaan. Mulai dari meminta untuk mengendors buku mereka. Biasanya kalau minta yang ini, saya minta penerbit mereka untuk menghubungi saya. Ada yang minta sumbangan buku. Untuk yang ini biasanya saya salurkan ke beberapa penerbit yang punya program pemberian buku gratis untuk taman bacaan. Ada yang minta dicek naskahnya. Kalau yang ini biasanya saya menolak, kecuali untuk orang yang saya sudah kenal akrab dan saya merasa orang itu punya potensi.

Well,
penulis pemula tidak akan terus-terusan jadi pemula kalau mau terus berkarya.
Sekali bertanya tidak masalah tapi kalau terus-menerus bertanya itu membuat yang ditanya jadi malas untuk menjawabnya.
Jadi sibuklah berkarya, jangan sibuk bertanya. Karena penulis lainnya yang ditanya seperti saya, juga sibuk untuk terus berkarya.

Tetap Lancar Menulis Ketika Berpuasa

Banyak yang mengeluh tidak bisa menulis ketika saat berpuasa. Padahal bisa atau tidaknya kita menulis, bukan karena kita sedang menjalankan puasa. Tapi karena memang mindset kita yang memang sudah kita simpan di otak. Bahwa berpuasa itu saatnya istirahat untuk berpikir.
Sama seperti mindset bahwa tanpa minum kopi tidak akan bisa menulis. Padahal mindset seperti itu bisa kita bersihkan dari otak kita dan menggantinya dengan mindset yang baru.

Tidurmu saat berpuasa adalah ibadah. Itu hadist lemah yang biasa dipakai kebanyakan dari kita. Dengan alasan itu, maka banyak penulis pemula yang merasa bahwa ketika berpuasa maka itu artinya mereka berhenti saja menulis. Kenapa disebut penulis pemula? Karena untuk orang yang sudah terbiasa menulis, maka puasa atau tidak, tidak ada efeknya lagi. Karena menulis adalah pekerjaan. Sama seperti profesi lain.
Seorang tukang jahit akan tetap menjahit ketika berpuasa. Seorang guru akan tetap mengajar di bulan puasa. Bahkan seorang murid akan tetap belajar di bulan puasa.
Lalu kenapa kita mesti bingung ketika sedang berpuasa.

Okelah ada mindset dan harus ada solusinya. Solusi apa yang paling efektif?
1. Awali dengan basmalah alias Bismillah
2. Ubah mindset kita. Buat keyakinan bahwa dengan berpuasa pintu ide akan terbuka seluas-luasnya.
3. Niatkan pekerjaan menulis kita untuk ibadah, sama seperti pekerjaan yang lainnya. Jadi kita mendapat pahala untuk itu.
4. Kurangi bermain sosial media dan fokus untuk menulis. Kalaupun melihat sosial media, fokus untuk mencari info penting yang berguna untuk tulisan kita.
5. Cari ide utamanya dulu, baru buka komputer. Sehingga ketika komputer kita nyalakan, langsung kita bisa mengeksekusi idenya.
6. Punya target yang nyata, yang bisa kita kejar. Misalnya, puasa ini saya akan menulis sepuluh tulisan dan harus selesai.
7. Ambil waktu satu jam setiap harinya saja untuk menulis. Maka hari-hari berikutnya akan mudah menambah jam menulisnya.
8. Kalau kamu benar-benar cinta menulis, bukan sekedar ikut-ikutan saja, pasti kamu akan berjuang untuk menaklukkan semua hal yang membuatmu malas untuk menulis.

Berapa Harga Tulisanmu?

permen

“Kamu cuma dibayar segini?” tanya almarhum Bapak beberapa tahun yang lalu, ketika saya harus menagih honor di sebuah koran lokal. “Setelah bertahun-tahun kamu menulis, hasilnya cuma segitu? Harus diambil ke kantornya lagi. Gimana kalau orangtua kamu bukan di Solo?”
Saya tersenyum kecut.
Bapak orang yang paling paham perjuangan saya sebagai penulis. Bapak tahu, untuk sejajar di mata orang lain yang bekerja sebagai pegawai, saya jungkir balik untuk itu.
Iya saya menulis sejak sekolah dasar. Tapi orang banyak hanya menganggap itu hobi bukan profesi. Dan saya yang sudah kadung cinta, tentu saja berjuang keras untuk menjadikan profesi itu dikenal orang, paling tidak sejajar dengan kakak-kakak saya di mata Bapak. Salah satunya adalah dengan sekolah di sana sini dari honor menulis. Ini juga akhirnya membuka cakrawala orang dan melihat bahwa penulis bukan orang yang otaknya kosong dipenuhi khayalan.
“Bertahun-tahun kamu berjuang…”
Saya mengangguk, saya tahu Bapak kecewa.
Mungkin Bapak tidak ingin tulisan saya dihargai seharga permen. Bapak ingin perjuangan saya yang saya lakukan berdarah-darah, dihargai cukup layak.
Lagipula, saya yang memang memilih untuk tidak jadi pegawai seperti saudara saya yang lain. Harusnya saya berjuang untuk sesuatu yang memang saya pilih dengan hati.

Harga yang Pantas

Harga yang pantas didapat dari pasar yang tepat.
Baju sebagus apapun, dibuat dengan hati-hati, bahan terpilih, ketika masuk ke pasar yang tidak tepat, akan dianggap seperti baju obralan biasa. Contoh di seputaran rumah. Barang-barang bagus yang dijual, akan diberi harga standar. Contoh saya pernah menawarkan bed cover batik yang memang dijahit tangan, dan penjahitnya memang berkualitas karena di Solo sendiri menerima pesanan dari hotel yang ada di sana. Bed cover itu dihargai murah, disamakan dengan bed cover yang panas bahannya.

Atau kue yang bahannnya kita pakai dari bahan berkualitas, lalu kebersihannya kita jaga, ketika dijual di lingkungan yang tidak paham isi tapi hanya paham kemasan, maka harga yang akan ditawarkan bikin miris. Disandingkan dengan kue-kue yang menggunakan bahan pengawet dengan warna-warni menggunakan pewarna kimia.

Begitu juga di dunia menulis.
Ketika ada penulis yang memasang harga yang menurutnya pantas, maka penulis lain yang masih baru terjun ke dunia menulis, menganggap penulis itu matre dan mengukur segalanya dengan uang. Mereka tidak berpikir bahwa karya yang ada harganya itu mengikuti putaran industri. Tulisan yang terbit di media nasional terbit di Jakarta tentu honornya berbeda dengan tulisan yang terbit di media lokal.
Tidak boleh panas ketika menyikapi hal itu. Mungkin sebuah saran bisa diberikan.
Kalau yang bicara ingin benar-benar beramal lewat tulisan caranya mudah kok.
Tulislah sebuah tulisan yang bermanfaat. Lalu cetak dengan uang sendiri. Perbanyak dan bagikan ke orang lain. Cobalah.

Harga yang pantas itu saya pelajari. Beberapa tahun yang lalu, saya berani menawarkan proposal ke beberapa penerbit menyediakan jasa untuk tulisan saya perlembarnya. Ada penerbit yang setuju, ada yang tidak. Tapi dari satu keberanian itu muncul keberanian lain.
Ketika ada penerbit yang mengorder ke saya, maka mereka akan memberikan jumlah pembayarannya dan kapan waktu pembayarannya. Biasanya surat itu datang lebih dulu sebelum pekerjaan. Dan ketika saya oke, pekerjaan turun. Lewat dari tenggat pembayaran, saya biasanya akan menagih.
Kok enggak malu menagih?
Kenapa mesti malu? Kan sudah ada perjanjian di awalnya.

Pernah ada yang menawari untuk mengisi media cetak miliknya. Tapi untuk coba-coba. Alias saya dianggap beruntung karena diberi kesempatan itu. Saya menolak. Karena saya punya karya bagus dan akan terus meningkatkan kualitas. Akhirnya saya dipanggil ke kantor lalu diskusi soal harga.

Belum lama saya juga bertemu seseorang. Dan saya terus terang bilang padanya kesulitan saya adalah menerapkan harga. Tapi silakan baca tulisan saya. Lalu saya berikan buku saya. Hingga akhirnya tetap kesepakatan kita buat sesuai harga yang saya tawarkan. Harga dari saya disetujui, karena klien yakin saya bukan asal tulis, apalagi cuma sekedar tulisan dari hasil berkhayal.

Temui Orang yang Paham

Suatu hari suami mendatangi saya. Menunjukkan angka yang tertera di telepon genggamnya. “Gambarku dihargai segini. Besar, ya?”
Kami sepasang suami istri yang memang tidak paham soal harga pada awalnya. Karena untuk saya menulis dan suami menggambar, melakukan keduanya adalah masalah passion dan cinta. Yang memberi order puas saja kami bahagia.
Dan mau tahu hasilnya?
Hasilnya ada yang minta gambar, gambar selesai terus kabur. Ada yang membuat cetakan juga kabur.

Tapi lambat laun kami harus menghargai karya kami. Di sini, ada pengalaman suami yang mendesign logo di tanah abang dihargai dengan harga 25 ribu rupiah. Sedang ketika mengikuti kontes logo internasional, harga logo buatannya diberi hadiah 10 juta rupiah. Untuk logo yang sederhana.

Ketika kami mulai menghargai karya kami sendiri, yang memang tidak mudah melakukannya, bukan sekedar dari berkhayal saja, maka pada saat itu akan dibukakan pintu-pintu menuju orang yang paham dan mau menghargai karya.
Kami tidak berani untuk buat yang asal jadi. Bahkan sering tidak bisa tidur, menunggu jawaban dari klien apakah ia puas dengan hasil kerja kami.

“Yah, tulisanku dihargai segini,” ujar saya juga suatu hari menunjukkan pesan dari seseorang yang memesan tulisan saya. “Besar, ya?”

Kami belajar dari banyak hal. Sebelum orang lain menghargai kami, kami sendiri yang harus menghargai diri kami, juga karya kami. Ketika orang sudah menghargai, maka kami akan memiliki rezeki bernama uang. Nah uang itu bisa kami pakai untuk banyak hal.

Lalu soal sedekah?
Alaaah, itu masalah rahasia. Cukup Pemilik Rezeki saja yang paham.

Sim Salabim, Jadilah Tulisan Keren

pak tarno

“Ajarin menulis, dong, Bunda. Biar bisa jadi novel.”
“Ajarin menulis biar dimuat di media dan dapat honor.”
Tungguuuu.
Saya mau merenung dulu. Untuk setiap pertanyaan seperti itu, kening saya memang langsung berkerut. Mereka mau belajar menulis, apa mau membuat mi instan?

Ketika saya pertama kali membuka kelas menulis bernama Penulis Tangguh, yang saya rekrut pertama kali adalah orang-orang yang sudah saya kenal lama lewat beberapa group penulisan. Dan saya tahu seperti apa cara mereka mencari ide. Saya tahu seperti apa mereka menjawab tantangan saya. Makanya saya ambil murid-murid dengan melalui seleksi melihat tulisan mereka.

Lalu lambat laun tulisan mereka muncul satu persatu di media. Dan banyak yang tertarik. Saya tertantang untuk mengambil yang memang dari nol belajar menulis. Tentu diimbangi dengan teman lain yang sudah bisa menulis, tapi patah semangat. Hasilnya yang dari nol terpengaruh teman yang lain yang semangat. Lalu satu persatu tulisan mereka muncul di media.

Setelah itu, banyaklah yang melamar pada saya untuk ikut kelas menulis.
Lama-kelamaan bukan proses menulisnya yang mereka pelajari, melainkan mereka ingin yang lain. Tulisan cepat dimuat, tanpa menyadari prosesnya.
Satu dua teman tulisannya masih mentah, tapi berharap untuk tembus di media. Tidak mungkin. Karena saya di kelas tidak mengajarkan teori sim salabim.
Untuk yang sudah bisa menulis, mungkin saya tinggal sedikit memolesnya. Tapi untuk yang belum bisa, yang mulai dari nol, tapi memegang harapan cepat dapat honor? Ohooo, saya sudah putus asa dan kecewa di awal. Karena itu biasanya mereka juga akan mundur di tengah kelas.

“Sim salabim jadi apa prok prok prok.” Itu kata Pak Tarno pesulap tua yang sekarang terkenal.
Tahu proses Pak Tarno bisa sulap?
Dia berlatih terus=menerus. Bahkan dia menjadi pesulap di pasar dan pesta ulang tahun. Pesulap tradisional dengan trik sulap sederhana pun harus berlatih bertahun-tahun.
Lalu menulis?
Mau cepat?
Uhuk. Mungkin saya harus mengajak batuk berjamaan.

“Bundaaa, ajarin aku nulis, dong.” Dari whatsapp atau FB sering saya dapat yang seperti ini. Biasanya saya akan memberi jawaban.
“Maukah berproses dalam menulis?” Lalu saya jelaskan prosesnya seperti apa. Jika ia menjawab siap dengan segala konsekwensi belajar, itu artinya saya akan nikmati mengajarinya. Dan itu artinya saya akan lebih mudah mengarahkannya sehingga tulisannya bisa cepat jadi.

Simsalabim dalam menulis?
Kalau masih ingin yang seperti itu, lebih baik tutup mata dan minum kopi saja. Duduk di teras dengan semilir angin yang sepoi-sepoi. Tidur dan semoga bermimpi. Mimpi punya tulisan keren tanpa proses.

Guru, Waktu dan Jarak yang Terlipat

DSC_5299

Pada suatu malam di Senin malam, saya menyaksikan acara Indonesia Emas dengan narasumber pendiri ESQ Ary Ginanjar. Sedang membahas pentingnya membaca buku. Pentingnya kebiasaan membaca agar para generasi muda bertambah pemikirannya. Sebab proses membaca adalah proses ringkas untuk melipat waktu dan jarak.
Kok bisa?
Iya. Bisa karena sebuah buku berisi penelitian, pengalaman dan wawasan penulisnya. Jadi pembaca tidak perlu susah-susah melakukan riset untuk bisa mengetahui sesuatu. Misal, pembaca yang belum pernah keliling dunia dan ingin tahu sudut pandang dunia yang berbeda, tinggal baca buku trilogi novelnya Agustinus Wibowo. Atau mau kisah G30S PKI di pulau Buru yang dibalut dengan kisah perwayangan? Baca saja Amba karya Laskmi Pamuntjak.

Guru.
Itu cita-cita saya sejak dulu. Sejak kecil. Tapi saya tidak lulus masuk FKIP malah lulus tes BMKG jurusan geofisika, pindah ke UT Bahasa inggris lalu FISIP Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Solo.
Tapi guru tetap jadi impian saya. Karena itu disetiap kegiatan kuliah, saya mengajukan diri jadi guru. Termasuk ketika KKN, saya mengajar anak-anak kampung plus mengajar TPA.

Setiap Orang adalah Guru

DSC06000

“Jangan jadi katak dalam tempurung.”
Pesan Bapak itu saya ingat betul. Iya, mungkin dulu Bapak benar. Pada saat itu, saya adalah seekor katak dalam tempurung. Selalu merasa benar sendiri.
Maklum ketika pertama kali mengirim tulisan di media anak, langsung tulisan dimuat. Ketika mengirim ke koran, langsung dimuat. Nilai Bahasa Indonesia di sekolah juga selalu the best nomor satu. Jadi? Jadi tidak salah ketika Bapak mengingatkan saya untuk jangan jadi katak dalam tempurung. Saya harus mau meluaskan wawasan saya.

Okelah, orang sombong, besar kepala pada saatnya akan jatuh juga. Jatuh untuk dapat pengalaman.
Dari puisi saya mau pindah jalur. Saya geregetan pingin bisa nulis cerpen. Kalau artikel saya sudah bisa. Hasilnya adalah naskah yang saya anggap keren ditolak sana-sini.
Bayangkan, setiap bulan saya kirim minimal 5 naskah. Naskah cerpen. Lima naskah ke majalah Anita Cemerlang, lima naskah ke majalah Aneka Yess, lima naskah ke majalah Kawanku, lima naskah ke majalah Hai, lima naskah ke majalah Gadis, lima naskah ke majalah Ceria Remaja. Semuanya saya ketik sendiri di kertas HVS yang kadang-kadang saya beli sendiri, kadang-kadang dibelikan Bapak karena kasihan dengan saya.
Semuanya saya kirim via pos kilat khusus agar sampai dengan cepat ke redaksi. Satu dua ada yang dimuat, tapi itu puisi. Dapat honor buat traktir adik-adik, tapi saya maunya yang dimuat cerpen buat puisi. Saya butuh tantangan baru.

Hingga akhirnya saya membaca di majalah Anita Cemerlang kesempatan untuk kursus menulis via pos, dan ada biayanya alias berbayar. Pemandunya sastrawan Adek Alwi. yang waktu itu jadi redaksi fiksi majalah Anita. Apa yang diajarkan? Hal-hal yang awalnya saya yakin betul saya sudah bisa, tapi nyatanya saya salah.
Diajarkan beberapa ketukan spasi ketika masuk ke paragraf baru dan lain sebagainya. Saya sudah koleksi buku panduan menulis juga. Jadi teori tidaklah berat untuk saya. Justru saya suka karena kelas menulis lewat pos itu, mengajarkan praktik.
Jadi saya kirim tulisan ke beliau kirim via pos kilat khusus. Dikembalikan lagi via pos dengan catatan.
Ada catatan yang saya dapat, yaitu poin tertentu. Bahwa karya saya lebih cocok untuk koran ketimbang majalah remaja.
Umur saya baru 18-19 tahun pada masa itu. Saya anak remaja, yang memang tidak kenal pacaran. Buku-buku yang saya baca buku koleksi Bapak dan koran langganan Bapak ternyata yang membuat saya punya gaya tulisan seperti itu.
Selesai kursus, ada satu naskah yang dimuat di koran. Tapi itu bukan naskah pertama. Karena sebelumnya sebelum kursus saya pernah menulis naskah cerpen dan dimuat di koran. Boleh deh ge er kalau saya bilang, naskah itu bukan hasil kursus tapi karena saya menulisnya sudah bagus. Yah begitulah namanya manusia yang sedang dihinggapi kesombongan.

Sesudah kursus menulis selesai saya semakin menggila menulis. Saya mau buktikan pada diri saya sendiri, bahwa saya seorang remaja normal dan bisa menulis kisah remaja juga. Tapi kisahnya bukan cinta-cintaan. Kalaupun ada yang jatuh cinta, saya mau dikemas dalam kemasan psikolog. Maklum saya penikmat kolom psikologi di koran sejak dulu.
Hasilnya. Yeeeah, dua cerpen saya dimuat pada saat yang sama di dua majalah yang berbeda. Di majalah Anita Cemerlang dan di majalah Aneka. Lebih girangnya lagi, waktu saya ambil honor ke redaksi, mereka tanya. Saya ingat bu Astuti Wulandari dan bu Yeni W, kakak beradik bertanya. “Ini yang suka kirim naskah ke majalah Aneka, ya?”
Ditanya begitu saja saya sudah girang.
Horeee, pintu dari keyakinan itu sudah terbuka. Setelah itu berturut-turun naskah saya dimuat dan menang lomba. Habis menang lomba cerpen Anita, saya menang lomba cerber majalah Gadis.
Iya, itu tulisan saya buat sendiri tidak ada yang memeriksa. Tapiiii, tanpa bekal rujukan ilmu dari buku, kelas yang saya ikuti, saya pikir langkah saya hanya akan terhenti di satu titik. Titik sombong dan terlalu percaya diri hingga mengecilkan orang lain.

Ada Banyak Pintu Ada Banyak Guru

Cimori ri

Setelah tidak mau jadi katak, saya jadi paham teori pintu. Satu pintu yang terbuka akan diikuti pintu lain lagi yang terbuka. Tentunya itu pasti dilandasi karena kita sudah paham bagaimana membuka pintu, hingga mudah untuk membuka pintu yang lainnya lagi.
Ada kesempatan lain yang terbuka. Belajar menulis skenario. Pas kebetulan saya memasukkan adik untuk ikut teater, pas disitulah Aditya Gumay membuka kelas menulis skenario. Kelas skenarionya banyak yang baru belajar menulis. Saya sudah punya tulisan di media, jadi saya tunjukkan padanya. Dan hasilnya saya diminta menjadikan cerpen saya di majalah Anita untuk dijadikan skenario. Skenario saya pelajari dari banyak buku juga pelajaran dari beliau. Beliau juga membantu merevisi. Beliau juga mendampingi mengajukan naskah ke kepala bidang naskah di TVRI. Beliau ajarkan tips dan trik termasuk menggunakan map yang berlabel nama kita. Skenario saya di acc. Saya belajar setiap minggu lho. Naik bus tiga kali dari Kemayoran menuju Senayan. Kadang seminggu dua kali juga jadwalnya.
Kalau sudah begini, bukankah guru membuat jarak tempuh kita menjadi lebih pendek?

Setelah itu banyak guru-guru lainnya lagi. Ada Erry Sofid juga Nunik Kurnia. Mereka dulu sama-sama menulis untuk media. Erry malah pernah satu kantor jadi jurnalis di sebuah majalah remaja. Kami biasa kumpul-kumpul untuk membahas naskah atau sekedar traktir makanan setelah tulisan di acc. Hanya keduanya mengerucut memilih skenario, sedang saya memilih tetap menulis untuk media cetak dan buku. Banyak alasan. Salah satunya adalah saya selalu meriang kalau begadang. Iya, dunia skenario banyak mengharuskan kita untuk begadang karena order bisa saja datang malam dan harus selesai pagi untuk sinetron striping.
Di skenario saya juga pernah belajar pada Dyah Kalsitorini yang sekarang baru meluncurkan film tentang anak penghapal Al Quran. Saya menyerah. Jam tidur saya tidak bisa diganggu. Setelah Isya saya tidur, itu artinya saya tidak cocok untuk dunia skenario.
Mereka itu guru untuk saya.
Sama seperti para redaksi majalah, yang membuat saya berproses panjang dalam menulis.

Networking itu Penting

karya ibu dan bilqis

Akhirnya.
Akhirnya demi mimpi saya pindah ke Solo. Beruntungnya saya pindah ke Solo setelah tulisan muncul di mana-mana. Maklum prinsip lima tulisan ke setiap majalah setiap bulannya saya terapkan. Bapak pensiun. Saya mau merasakan kuliah reguler agar bisa menulis lebih bernyawa lagi. Saya baru menang lomba cerber dan masuk nominasi cerber majalah Gadis. Uangnya bisa saya jadikan uang pangkal untuk biaya kuliah.

Beberapa media memuat profil saya karena produktivitas saya menghasilkan karya. Ketika saya pindah ke Solo kesempatan itu datang. Pihak majalah Anita Cemerlang mengadakan road show bekerja sama dengan salah satu radio terkenal di Solo. Saya dan Donatus A Nugroho yang dipilih mewakili Solo dan menjadi juri lomba menulis puisi.
Maklum acaranya majalah remaja. Ada artis dari ibukota yang ngetop pada masanya. Acaranya tiga hari. Kita dalam satu rombongan di wawancara dan dikerubuti fans layaknya artis. Ada jumpa fans di radio juga. Di situ saya sempat berkenalan dengan almarhum Adra P Daniel.

Di Solo, saya mudah berinteraksi dengan Om Donat, begitu saya selalu bilang. Saya kenal baik istri dan dua anaknya. Kakak iparnya dosen kuliah saya dan kerabatnya teman sekampus saya. Jadi hasrat berguru saya, tersalurkan. Iya berguru sebenar-benarnya berguru. Saya sepulang kuliah nongkrong di rumahnya. Ganggu jadwal nulisnya. Zaman saya SMP sampai SMA tulisan Om Donat yang tersebar di mana-mana bikin saya ngiler. Saya punya mimpi suatu saat tulisan saya bersanding dengan tulisan Om Donat dalam satu edisi. Alhamdulillah tulisan saya dan Om Donat berkali-kali (lebih sepuluh kali) bersanding di beberapa media. Dan dijadikan iklan pemancing untuk media yang terbit berikutnya.
Saya belajar soal menulis cepat, tips dan trik bahkan sampai harus belajar untuk menerima perubahan. Perubahan itu bernama komputer yang menggantikan mesin tik.

Pindah dari Solo ke Jakarta kembali dan kembali menulis, membuat saya belajar untuk tidak sembunyi di balik karya. Ali Muakhir orang yang berjasa memunculkan saya ke permukaan. Saya diundang acara launching buku, lalu dikenalkan pada editor dan penulis. Hasilnya saya dapat order nulis dua buku. Satu buku best seller dan dialihbahasakan ke Malaysia juga dijadikan sinetron di bulan Ramadhan.

Sebelum membuat buku, saya galau. Galau kepingin punya buku. Tapi galau itu saya bawa menulis terus, hingga saya terus berkarya dan memenangkan beberapa lomba menulis. Saking galaunya soal job menulis karena pingin datangnya terus-menerus, saya pernah menelepon Benny Rhamdani., hi hi mungkin orangnya juga sudah lupa dengan peristiwa ini. Dapat nomor dari Ali juga. Disarankan saya untuk ikut milis FLP untuk info lomba-lomba menulis.
Ali Muakhir ini juga yang memberikan nomor kontak Asma Nadia pada saya. Nah, si Asma ini, saya biasa panggil Rani, adalah teman dekat adik saya sejak SD. Kebetulan adik saya kehilangan jejaknya. Makanya saya tanya ke Ali. Lalu Ali memberikan nomor kontaknya dan adik saya yang menghubungi. Dari adik saya, saya jadi tahu, kalau penerbit Lingkar Pena membutuhkan banyak naskah. Alhamdulillah dari sana, lahir banyak karya Solo saya.

Sekarang, zaman sudah berubah.
Profesi menulis tidak selangka seperti dulu. Kehadiran komunitas membantu banyak orang untuk melipat jarak dan waktu dalam menulis.
Iya, proses yang berdarah-darah seperti saya dulu, bisa dilipat waktunya hingga tidak selama seperti yang saya jalani. Proses untuk mengenali penerbit juga tidak usah selama yang saya jalani.
Karena itulah saya membuat komunitas dan menjadikan menulis itu menjadi sesuatu yang mudah.

Tapi komunitas itu bukannya membuat karya jadi tidak asli lagi?
Mungkin suara sumbang yang bicara itu tidak pernah merasakan kecemplung dalam suatu komunitas penulis yang sesungguhnya. Yang benar-benar mengajarkan menulis hingga ke luar karakter asli penulis itu sendiri.

Oh iya belum lama saya jadikan anak bungsu saya guru untuk saya, ketika menerima lamaran editor Sinta Handini untuk menulis beberapa buku anak. Saya belajar dari buku-buku koleksi Bungsu. Saya juga belajar dari gaya menulis Bungsu, hingga saya bisa menulis lepas seperti anak abege menulis. Tentunya itu setelah saya tanggalkan egoisme dan merasa paling bisa.

Siapa guru menulismu?
Siapa saja boleh. Yang terpenting kalaupun proses menulis kamu lalui sendiri, jangan sampai besar kepala. Buku yang kamu pegang, itu juga guru untukmu.

Ah, pokoknya saya bersyukur punya banyak guru. Bersyukur saya berproses sepanjang ini.

Bagi Bukunya, doooong

R1cover

“Bagi bukunya, dooong.”
Itu todongan yang sering diarahkan ke penulis, ketika bukunya terbit. Buku terbarunya. Todongan seperti itu bisa dari teman dekat atau teman jauh.
Salah, kah?
Tentu tidak salah. Karena banyak dari teman-teman yang tidak paham soal dunia menulis. Tidak paham kalau menulis dan menerbitkan buku itu, jungkir baliknya luar biasa. Tidak paham juga kalauuuuu, kalau pendapatan penulis di Indonesia itu tidak seperti di negara lain. Memang ada beberapa nama penulis yang pendapatannya bisa mencapai milyaran. Tapi itu hanya segelintir dari jutaan penulis lainnya, yang hidupnya susah.

“Mbak, minta bukunya, dong..”
Saya berikan gratis?
Iya untuk yang belum kenal dunia menulis. Untuk klien-klien saya, yang ingin tahu karakter tulisan saya. Untuk penerbit yang ingin tahu karya saya.
Untuk yang belum kenal dunia menulis, seperti para anak-anak tetangga, maka saya memberikan gratis. Kasihan lagi, mereka punya semangat dan potensi ke arah yang baik, tapi orangtuanya tidak mendukung. Bagi para orangtua penulis kan pekerjaan mengarang-ngarang dan semua orang bisa melakukannya.
Makanya salah satu bentuk penyadaran itu adalah dengan memberikan buku gratis ke anak-anak. Paling tidak orangtuanya jadi paham. Dan saya akan lebih mudah menularkan kebiasaan membaca, karena sudah ada bukti konkritnya.

Untuk yang baru pertama kenal?
Iya saya berikan juga. Misalnya ada teman di angkutan umum, yang asyik diajak diskusi. Lalu lama-lama bertanya soal profesi. Saya akan tunjukkan buku saya dan berikan ke dia.
Karena itu di tas saya selalu saya bawa buku-buku karya saya di dalam tas saya, setiap saya ke luar rumah.
Kadang-kadang ada kurir yang suka kirim buku dan tanya. Saya kasih juga.
Rugi, dong?
Sedikit rugi untuk manfaat yang lebih baik dan ingatan tentang dunia menulis yang jauh lebih lagi, saya rasa jauh lebih penting dari kerugian yang hanya sedikit.

Dulu di Jakarta saya tinggal mengontrak. Ada beberapa keluarga yang anaknya suka main ke rumah. Anak yang ibunya tukang cuci gosok dan penjual nasi goreng. Saya berikan bukunya pada ibu anak itu. Sampai sekarang si penjual nasi goreng masih suka menghubungi.

Untung rugi untung rugi kalau dilihat hanya dari perspektif uang justru tidak menyehatkan. Menulis di blog untung? Kalau biasa menulis untuk media cetak dan tahu honornya yang satu tulisan dihargai satu juta, maka menulis di blog akan terasa rugi.
Tapi ketika kebutuhan kita adalah kebutuhan agar tulisan bermanfaat untuk banyak orang, maka masalah rugi itu akan hilang dengan sendirinya. Menulis dan yang penting tulisan itu bermanfaat meski tidak dibayar akan membuat kita fokus pada manfaat.
Beberapa job menulis saya datangnya dari blog. Mereka melihat tulisan saya, gaya menulis saya dan cocok. Lalu menghubungi. Itulah kenapa saya tidak merasa terbebani ketika menulis di blog.

“Mbaaaak, minta bukunya, doooong. Satu aja.”
He he yang minta pernah seorang dokter. Teman lama. Ia pasti hanya ingin punya buku karya teman lamanya.
Kalau baru sekali dan mungkin saja ia malas ke toko buku atau bingung cari online, apa salahnya diberi? Anggap itu bagian dari promosi.
Kalau teman yang setiap buku saya terbit dapat satu dari saya, oooh tidak. Saatnya untuk tidak memberi. Agar ia paham bahwa ada orang lain yang memang lebih layak untuk diberi.

Memberi tidak akan memiskinkan kita.
“Penulis udah kaya, kan?” biasanya ada juga yang bertanya seperti itu.
“Aamiin,” begitu jawaban saya.
Aminkan saja. Kalau sudah berani memberi itu artinya memang kita sudah kaya. Kaya hati, kaya pemahaman. Insya Allah kaya harta sesuai persepsi orang dari yang kita beri.

Kita Bukan J.K Rowling juga Tere Liye

dan-kematian-makin-akrab-buku-subagio-sastrowardoyo

Siapa yang tidak kenal J.K Rowling?
Eits…., jangan salah, banyak kok yang tidak kenal Tante J.K Rowling ini. Orang-orang tua di desa tidak kenal, kan? Mereka yang ada di daerah Jawa Tengah seperti ibu saya, jauh lebih kenal Emha Ainun Najib. Ibu saya suka dengan Emha. Maklum Emha hadir di TVRI Jogja seminggu sekali. Saya juga duluuuu suka dengan beliau. Fans berat. Tapi sekarang tidak lagi. Artinya apa? Artinya tidak semua orang akan kenal kita. Apa karena kita sudah menulis buku yang best seller, tukang getuk keliling langganan kita jadi kenal kita?

Tere Liye?
Fansnya banyak. Tapi apa berarti semua penulis menjadi fans-nya Tere? Tidak juga. Saya bukan penggemar Tere Liye. Saya menggemari tulisan Agustinus Wibowo ketimbang Tere Liye. Jadi itu artinya apa? Artinya kita tidak bisa berharap semua orang menyukai kita.

Sejak menulis dulu, saya bersyukur tidak ingin menjadi siapa-siapa.
Saya penggemar berat Kahlil Gibran. Karena sudah terbiasa menulis puisi sejak SD, dan disuguhi majalah Horison, bahkan berlangganan oleh kakak tertua saya, maka saya kenyang dengan puisi. Lompat dari satu puisi ke puisi lain. Saya justru jatuh hati dengan puisi karya Subagio Sastrowardoyo yang berjudul “Dan Kematian pun Akrab.” Tema kematian lain yang saya suka ada di buku Sang Nabi Kahlil Gibran tentang kematian.

Di muka pintu masih bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
Memang ia tak kembali
tapi ada yang mereka tak mengerti
—mengapa ia tinggal diam waktu berpisah.
Bahkan tak ada kesan kesedihan
pada muka dan mata itu, yang terus memandang,
seakan mau bilang dengan bangga:
—Matiku muda—Ada baiknya mati muda
dan mengikut mereka yang gugur sebelum waktu

Di ujung musim yang mati dulu
bukan yang dirongrong penyakit tua,
melainkan dia yang berdiri menentang angin di atas bukit
atau dekap pantai di mana badai mengancam nyawa.
Sebelum umur pahlawan ditanam di gigir gunung
atau di taman-taman di kota
tempat anak-anak main layang-layang.
Di jam larut daun ketapang makin lebat
berguguran diluar rencana

Dan kematian jadi akrab, seakan kawan berkelakar
yang mengajak tertawa
—itu bahasa semesta yang dimengerti
Berhadapan muka, seperti lewat kaca bening
Masih dikenal raut muka,
bahkan kelihatan bekas luka dekat kening
Ia menggapai tangan di jari melekat cincin.
—Lihat, tak ada batas antara kita.

Aku masih terikat kepada dunia karena janji karena kenangan
Kematian hanya selaput gagasanyang gampang diseberangi
Tak ada yang hilang dalam perpisahan,
semua pulih, juga angan-angandan selera keisengan
—Di ujung musim dinding batas
bertumbangan dan kematian makin akrab.
Sekali waktu bocah cilik tak lagi sedih
karena layang-layangnya robek atau hilang
—Lihat, bu, aku tak menangis
sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit—

Kuntowijoyo

Saya juga penggemar cerpen Kuntowijoyo. Salah satunya yang berjudul. “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.” Itu kisah tentang seorang kakek yang memelihara bunga-bunga di rumahnya. Lalu ada anak tetangganya suka bermain ke sana, dan dilarang oleh orangtuanya.
Philosofi yang dirangkum Kuntowijoyo itu terekam di ingatan. Sehingga saya juga membuat novel anak tentang anak lelaki yang nakal tapi dia suka mencuri bunga. Tapi novel saya bercerita tentang leukimia. Inspirasi dari Kuntowijoyo adalah polesan untuk membuat novel menjadi lebih manis.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?
Banyak penulis pemula atau memang sudah lama menulis, tapi diam di tempat, selalu mengukur kapasitas kemampuannya pada dua penulis tersebut. Mungkin ditambah lagi dengan Asma Nadia, sebagai penulis yang produktif menjadikan novelnya film.
Tapiiiiii,
banyak yang lupa behind the scene dari kerja keras mereka yang saya sebut.

Novel-novel mereka bermunculan dan laris karena apa?
Karena banyak nongkrong di sosial media? Atau karena mereka berkarya, dan mereka punya target ke depannya? Target seperti apa?
Ya target. Bahwa ketika mereka menulis, tulisan itu nantinya akan diterbitkan jadi buku (entah itu indie atau masuk ke penerbit lewat agen). Atau ketika buku itu sudah diterbitkan mereka akan melakukan proses lain untuk menjadikan buku itu sebuah film.
Mereka menulis memang. Sama seperti semua penulis. Tapi saya yakin, mereka tidak sering-sering melihat status orang lain, lalu galau lagi dengan kepenulisan mereka. Apalagi jika galaunya lebih lama ketimbang waktu menulisnya.

Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya bersyukur setelah melewati proses berdarah-darah dalam menulis, saya sampai di titik ini.
Saya tidak membandingkan dengan penulis lain. Saya tidak mau galau hanya karena status penulis yang mendapatkan ini dan itu. Sebab saya fokus dengan tugas saya untuk menulis.
Karena apa?
Karena saya merasa ada banyak sumbatan di otak ketika saya tidak menulis. Dan sumbatan di otak itu terasa terbuka, seperti sebuah selang kosong yang langsung dialiri air. Itulah kenapa saya tidak bisa tidak menulis.

Saya main sosial media juga. Tapiii, saya batasi. Batasnya apa? Saya harus sudah menulis di blog satu, dua tulisan. Saya juga sudah menulis untuk dikirim ke media. Dan tentu saja, yang paling penting saya sudah membaca Al Quran. Akun sosial media saya hanya tiga. Itu pun hanya FB yang sering saya tengok.
Membandingkan dengan orang lain?
Iiih, bukan ciri khas saya.
Sebab saya punya pilihan sendiri dalam hidup. Prioritas saya adalah suami dan anak-anak. Jadi saya punya target sendiri, dan pencapaian sendiri.

Jadi suatu saat kalau ditanya kenal karya J.K Rowling? Saya bilang kenal, dong?
Tapi punya mimpi ingin seperti dia?
Uhuk.
Saya bahagia Allah berikan saya mimpi yang berbeda. Saya bahagia masih bisa terus menuulis, dan tulisan saya dibaca orang lain. Di media cetak dan di blog sekarang sama saja. Sepanjang orang lain mendapat manfaat dari tulisan saya, dan saya tidak asal menulis. Dan itu artinya sederhana. Saya sudah jadi diri sendiri, bukan orang lain. Dan itulah kebahagiaan hakiki untuk saya.

Perhatikan, 10 Kalimat Pertama Pembuka Tulisan

“Nulis? Gampang? Ide bisa dari mana saja. Dan bisa nulis apa saja.”
Itu kalimat biasa yang sering terlontar dari mulut orang yang tidak paham. Atau ke luar dari mulut orang yang beranggapan bahwa menulis itu mudah sekali. Saking mudahnya, penulis tidak perlu memikirkan pembukaan tulisannya.

Ada yang harus diperhatikan.
Menulis untuk media atau penerbit, berbeda dengan menulis di blog, yang bisa kita tulisi sesuka hati kita. Meskipun, sebenarnya menulis di blog juga ada tata caranya, agar manfaat dari tulisan kita bisa menyebar.

Jika kita menulis dan sasaran kita adalah media atau penerbit, baik online maupun cetak, maka harus memperhatikan banyak hal. Hal yang paling penting adalah 10 kalimat pembuka.
Kenapa harus memikirkan 10 kalimat pembuka?
Karena redaksi sebuah media atau penerbit, banyak menerima kiriman naskah dari banyak penulis. Mereka harus membaca cepat. Mereka juga harus menyeleksi cepat. Dan paling efektif tentu saja dengan melihat 10 kalimat pembuka cerita.

Dari 10 kalimat pembuka itu ketika menarik, redaksi yang menerimanya akan meneruskan membaca sampai paragraf kedua, atau 10 kalimat berikutnya. Masih bagus lagi, mereka akan meneruskan sampai halaman berikutnya.
Jika sampai redaksi ingin mengetahui endingnya, itu artinya ceritamu sukses menarik perhatiannya.
Selebihnya nanti redaksi memiliki pertimbangan sendiri. Apakah diteruskan atau tidak.

Kalimat pembuka seperti apa yang dicari?
1. Kalimat itu membawa sihir dan membuat redaksi ingin membaca kelanjutannya.
2. Ide ceritanya sudah terlihat berbeda alias tidak garing
3. Nyawa ceritanya sudah bisa tertangkap. Artinya jika kalian mengirim cerita remaja, maka nyawa anak-anak remaja sudah bisa kelihatan di dalam cerita itu.
4. Kalau semua itu sudah kamu lewati maka selamat naskahmu lolos akan dibaca 10 kalimat berikutnya. Kalau masih sama bagus dan menariknya, maka bisa jadi redaksi akan melihat endingnya. Jika ending itu memang berbeda, maka sudah dipastikan redaksi akan memilih ceritamu itu untuk dipublikasikan alias dimuat.

Lemparkan Mimpimu Lewat Doa

IMG-20160301-WA0002

Mimpi apa yang ingin saya raih?
Banyak.
Tapi mimpi-mimpi itu adalah mimpi yang saya tahu jelas takarannya untuk saya. Mimpi sesudah berumah tangga dan memiliki anak bukan lagi mimpi yang muluk-muluk, ingin ini ingin itu.

Dulu mimpi saya jadi reporter, dan sudah merasakan jadi reporter. Dari reporter yang meliput demo sampai meliput artis.
Lalu ingin jadi guru? Sudah. Mengajar privat anak-anak tetangga. Dari mulai kursus baca tulis, baca Iqra sampai kursus bahasa Inggris.
Psikolog?
Bukan psikolog memang. Tapi saya pernah bekerja di sebuah bidang yang sebagian besar teman-teman saya adalah psikolog, dengan buku-buku psikologi yang jadi santapan saya sehari-hari.

Mimpi apa yang paling menyenangkan untuk istri dan ibu selain melihat pasangan dan anak-anak bahagia?
Kita juga menjadi bahagia, karena bisa fokus mengarahkan semuanya, tanpa membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Sebagai penulis, mimpi saya banyak. Buanyak. Pencapaian itu mungkin tidak ada apa-apanya untuk orang lain. Saya juga tidak ngoyo untuk meraihnya. Yang saya lakukan setiap hari hanya menulis, menambah ilmu saya.

Pingin mampu menulis semua genre tulisan?
Saya berjuang untuk itu. Dan Alhamdulillah Allah mudahkan semuanya. Saya bisa mudah belajar. Bahkan di setiap genre tulisan, saya pernah memenangkan penghargaan. Dari lomba novel remaja sampai novel anak juga dewasa.

Pingin tulisan saya dijadikan kolom sebuah majalah, dan saya dikontrak untuk itu?
Sudah. Tiga tahun saya memupuk mimpi. Lalu belajar menulis dengan gaya kolom. Alhamdulillah tawaran itu datang begitu saja, dan kolom saya rutin pernah muncul sebulan sekali di majalah motivasi.

Pingin nulis skenario?
Sudah kesampaian. Tapi saya memang memutuskan tidak fokus ke bidang itu. Karena saya tidak bisa dengan ritme kerjanya. Apalagi harus begadang dan mengalahkan tahajud saya.

Pingin nulis komik?
Nah ini dia.
Setahun belakangan ini, saya dan suami sedang kotak-katik konsep komik. Sedikit maksa anak-anak juga belajar bikin komik. Maklum saya tahu bakat mereka.
Ternyata, tiba-tiba saya dihubungi Shinta Handini, ditawari untuk menulis naskah buku cerpen dan komik, yang diterbitkan oleh penerbit Muffin Graphis. Saya dapat dua buku dan anak saya dua buku. Satu buku kami berdua menulis duet dalam edisi mix edition (gabungan cerpen dan komik).
Saya tinggal kotak-katik ceritanya sebebasnya saya. Saya bisa memasukkan pesan sesuka hati saya. Alhamdulillah buku ini sudah terbit.

Apa hikmah yang bisa saya dapatkan dari semuanya?
Jangan jadi manusia yang hanya bermimpi tanpa mau berusaha. Harus kerja keras. Dan belajar untuk itu. Dan yang lebih utama tentu saja, melemparkan mimpi kita kepada Penguasa Mimpi yang bisa merealisasikan mimpi kita tersebut. Tunaikan apa yang wajib. Tolong orang lain jangan menunggu ditolong.
Kalau sudah begini, apa yang menjadi keresahan kita, akan direalisasikan jadi sebuah kenyataan, yang membuat kita terkejut ketika menerimanya.

Beberapa hari belakangan ini saya sedang melow. Melow karena kakak, adik dan Ibu pergi umroh bersama-sama. Saya harus fokus ke anak, karena anak mau tes masuk SMPIT. Jadwalnya bersamaan dengan jadwal umroh.
Pas hari keberangkatan umroh, bersamaan dengan itu suami saya sakit. Allah seolah-olah mau mengatakan, memang bukan jatah saya untuk pergi ke sana. Saya harus fokus menjaga anak dan suami, sesuai janji saya. Paling tidak yang bungsu SMP, baru bisa saya tinggal agak lama.

Dan tahu apa yang terjadi?
Senin kemarin, saya meeting di sebuah penerbitan. Untuk bincang-bincang soal buku. Buku apa? Buku dengan setting negeri Arab yang harus saya garap.

Hum…,
sampai sekarang saya masih terus bermimpi.
Punya sekolah gratis.
Alhamdulillah di rumah, sudah belajar anak-anak tetangga di kelas menulis. Dan gratis. Doa saya hanya satu. Allah terus membolehkan saya menggenggam mimpi.