Mencari Jodoh untuk Naskah Kita

Mencari jodoh itu bukan sesuatu yang mudah. Kalau pengalaman saya seperti itu. Jodoh, orang yang bisa membuat saya terus meningkat secara signifikan dalam segala aspek, harus dicari dengan matang dan keyakinan penuh bahwa saya pasti akan mendapatkannya.
Kalau dulu, saya cuma pingin seorang lelaki yang bisa menggambar. Dan lelaki itu harus bisa melakukan banyak hal seperti bapak saya. Sederhana memang keinginannya. Tapi ternyata sulit juga mendapatkannya.
Yang datang ternyata tidak dengan kriteria tersebut.

Eit…, saya mau ngomong apa, sih?
Yup, soal naskah dan soal jodoh naskah kita. Hampir miriplah dengan jodoh alias pasangan kita. Naskah kita jika ingin diterbitkan harus menemui tempat yang tepat.
Pasangan naskah adalah media cetak atau penerbit. Jika naskah diterbitkan maka sisi enaknya, kita akan mendapatkan honor, dan tulisan kita bisa dibaca banyak orang. Itu artinya manfaat tulisan kita tersebar tidak sekedar jadi penghuni komputer kita.
Setiap orang bebas melakukannya. Mengambil keputusan akan ke mana naskah itu berujung? Mau dicetak terbatas untuk diri sendiri, juga tidak masalah.

Kalau saya?
Kalau saya senang menulis. Senang tulisan saya bisa dibaca oleh orang lain. Kalau bisa dibaca sebanyak-banyaknya oleh orang lain. Karena apa? Karena akhirnya saya berjuang untuk meningkatkan kemampuan menulis saya. Tidak merasa puas hanya tulisan dipuji oleh satu dua orang saja.
Dulu, waktu baru belajar menulis, tulisan selalu saya berikan pada teman-teman yang tahu saya suka menulis. Mereka rata-rata memuji dan bilang bagus.
Iya baguslah. Wong mereka rata-rata tidak terlalu suka membaca seperti saya. Jadi tidak ada bahan perbandingannya.

Standar yang lebih tinggi saya dapatkan ketika naskah saya kirim ke media. Banyak sekali naskah ditolak. Itu artinya cuma satu buat saya. Saya harus menulis lebih baik dan lebih baik lagi.

Jodoh itu Tidak Mudah
Mencari jodoh untuk tulisan kita, entah itu di media atau penerbit buat saya bukan hal yang mudah. Iya kalau mudah tentu tulisan saya bisa setiap hari dimuat di media. Saya kan menulis setiap hari dan mengirim hampir setiap hari.
Kalau hari ini tidak mengirim, pasti besoknya saya bisa mengirim double tulisan saya ke media cetak.

Yang saya tahu jodoh itu harus diperjuangkan sekuat tenaga. Atas nama cinta. Kalau yang mengaku cinta. Kalau saya ukurannya adalah penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor.
Kenapa penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor? Karena saya masih yakin, naskah saya akan dicek oleh orang yang memang mampu di bidangnya. Semua sisi diperhatikan. Dan itu tentu membuat saya bahagia sebagai penulis.

Kalau ingin menjadi penulis yang naskahnya bisa cepat diterima, perjuangannya berat. Menulis setiap hari. Rajin ke toko buku dan menyisihkan dana bulanan untuk membeli buku. Jadi isi kepala penuh. Jadi kita juga bisa paham, mana tulisan yang belum pernah digarap oleh orang lain.
Nah, penerbit atau media suka dengan ide yang unik yang belum digarap oleh orang lain.
Untuk penulis yang sudah punya banyak tulisan, mungkin kriteria tidak terlalu sulit penulis yang baru mulai. Asal naskah tetap harus bagus dan dapat dipertanggungjawabkan.

Okelah semua tulisan ada jodohnya.
Dan kita terutama saya harus berjuang keras untuk mencarikan jodoh itu. Agar tulisan yang saya buat tersebar manfaatnya. Iya , dong. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk sesamanya.

Ada beberapa naskah saya yang ditolak oleh satu media cetak, malah jadi cerita utama di majalah lainnya.
Ada satu buku saya ditunda di satu penerbit, tapi akhirnya saya kirim ke penerbit lain dan berujung pada penghargaan sebagai buku terbaik versi IBF Award.
Ada buku saya yang ditolak dua penerbit dengan alasannya mereka belum punya tempat untuk menerbitkan buku tersebut, sampai saya hampir putus asa, lalu berjuang keras mencari penerbit lain. Ternyata mendapatkan tempat yang baik dan naskah digarap dengan sangat baik di penerbit tersebut.

Lalu apa yang harus dilakukan penulis dengan naskahnya?

1. Tulis yang terbaik. Kalau penulis yang sudah lama seperti saya, biasanya dapat order dari penerbit atau media. Dan tetap saya harus berjuang menulis yang terbaik.
2. Ke toko buku dong. Lihat dan bandingkan. Lihat buku-buku yang diterbitkan macam-macam penerbit. Dengan begitu kita bisa tahu, ide yang mana yang belum ada. Nah itu itu yang harus kita tulis.
3. Add fanpage penerbit atau twitternya. Biasanya penerbit besar sering membuat pengumuman menerima naskah. Nah cepatlah kirim ke penerbit tersebut. Pengalaman saya, ketika mengirim setelah pengumuman itu dibuat, naskah akan cepat di acc. Naskah novel anak karya saya pernah di acc dalam tempo dua hari setelah kirim. Buku saya yang akan terbit di acc seminggu setelah saya kirim.
4. Nah, kalau ingin seperti ini, tentu harus menulis setiap hari. Sehingga memiliki banyak tabungan naskah.
5. Kalau naskah ditolak, cari penerbit lagi. Ditolak lagi, cari lagi. Sampai akhirnya kita paham apakah naskah kita benar-benar layak terbit? Kalau naskha benar-benar layak terbit, yakinlah pasti akan ada saatnya naskah itu diterima oleh satu penerbit.

Kenapa Penulis Harus Promosi Bukunya?

Aku Keren

Pahala mengalir. Itu memang sengaja yang saya kejar dari menulis. Karena itu sekarang bukan lagi saya hanya sekedar menulis dan menuangkan ide. Atau hanya sekedar naskah dimuat atau buku terbit. Lalu saya terima honor atau royaltinya.
Tidak, tidak seperti itu.

Ada banyak yang saya kejar, terutama pahala mengalir, yang akan membuat saya menjadi terbantu di hari setelah kematian nanti. Ada tiga pahala mengalir yang saya paham betul memang dijanjikan untuk setiap muslim. Yaitu; 1. doa anak yang saleh, 2. Ilmu yang bermanfaat 3. amal jariyah.
Menulis yang bermanfaat untuk saya akan mengalirkan pahala berupa ilmu yang bermanfaat. Ketika kita tidak ada kelak, maka ilmu bermanfaat dari tulisan-tulisan kita yang dibagi lagi oleh orang yang membaca dan dijalankan, akan bermanfaat untuk kita.

Ilmu yang bermanfaat harus disebar.
Kenapa harus disebar? Karena dengan begitu orang akan meniru dan ingin ikut menjalani.
Ilmu yang bermanfaat dalam bentuk buku, juga harus disebar. Jadi orang paham bahwa diantara ribuan buku yang terbit, ada buku yang bermanfaat untuk orang lain.

Penulis di Zaman Sekarang

Setiap orang yang ingin maju, harus berani ke luar dari zona nyaman.
Saya penulis dari era masa lalu alias zaman jadul. Saya biasa nyaman tanpa ribet harus tampil ke permukaan. Maklum bukan karena saya yang pemalu, seperti kebanyakan para penulis lainnya. Tapi karena memang pada zamannya dulu, kita penulis hidup nyaman. Media cetak banyak yang membeli. Yang dilihat karya bukan si pembuat karya.
Buat saya waktu itu, yang penting saya menulis dan biaya kuliah saya lancar.

Penulis di zaman sekarang, terhubung dengan media sosial.
Sempat ikut-ikutan juga saya upload foto-foto wajah. Maklum belum paham bagaimana bermain di media sosial. Apalagi ketika bermain di media sosial, yang saya temui banyak yang mengaku penulis dan sering upload foto. Tapi ternyata mereka tidak menulis. Kalaupun menulis hanya satu dua karya saja.
Akhirnya memang saya menemukan format yang asyik untuk saya di media sosial.
Sesekali pasang foto tidak masalah asal jangan terlalu sering. Wong saya juga tidak cantik seperti para model. Sudah berumur pula.
Tapi sering-seringlah saya akan upload karya saya di media sosial. Buat apa? Biar orang tahu, dong, kalau menulis itu sebuah pekerjaan. Jadi bukan sekali dua kali saja karya bisa hadir di media cetak. Tapi bisa ratusan bahkan ribuan kali. Dan untuk mencapai karya yang banyak tentu harus mau menulis bukan sekedar bilang saya penulis tapi tidak pernah menulis selain hanya menulis di status.

Okelah penulis di zaman sekarang itu artinya saya harus paham.
Bahwa banyak dari pembaca yang tidak ingin sosok penulisnya itu sekedar bayang-bayang. Itu artinya penulis harus muncul ke permukaan. Tampil sedikit tapi bukan bergaya ala model. Sebab nanti malah yang dijadikan rujukan bukan tulisannya tapi gayanya. Kalau saya takutnya, saya sebagai pribadi malah takut kalau nanti terpeleset pingin dipuja dan dipuji. Sehingga harus terus-terusan eksis dengan tampilan diri, tampilan baju, dan ujungnya mengeluarkan semua sudut rahasia diri kita.
Biarlah penulis lain seperti itu, sedang saya lebih suka cari jalan yang berbeda.
Jalan yang berbeda saya seperti apa? Jalan berbeda saya adalah saya akan terus-menerus menulis, terus menerus menampilkan status tentang tulisan yang sudah dibukukan dan hadir di media cetak.
Dengan begitu orang jadi paham bahwa saya terus menulis.

Promosi oh Promosi
Pernah lihat iklan?
Iklan di televisi atau dengar di radio?
Apa yang dilakukan iklan itu?
Yaitu memasarkan produknya. Setiap hari, terus-menerus, hingga melekat di benak yang melihat atau mendengar. Ujung-ujungnya mereka yang mendengar atau melihat akan membeli produk iklan tersebut.

Dalam tempo tertentu, seperti buku yang pernah saya baca semasa kuliah dulu (ops, sayangnya saya lupa judulnya). Bahwa produk yang sudah lama, biar tetap melekat di benak konsumennya harus diganti covernya dan diulang lagi promosi seperti pada awalnya.
Makanya sering kan kita lihat produk minyak, misalnya, berganti warna kemasan atau dirubah logonya atau bahkan berganti namanya?

Lalu promosi buku seperti apa?
Tidak seheboh promosi yang di televisi tentu saja. Karena selama ini promosi buku banyak bertumpu pada penulisnya. Penerbit akan membantu, tapi jika penulis itu dianggap mampu untuk meraup pembeli yang banyak. Seperti contoh penulisnya seorang artis alias public figure.
Kalau yang bukan dari kalangan artis seperti apa?

Begini.
Media sosial membuat penulis memiliki kekuatan penuh untuk meraih pembaca.
Kalau saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa saya penulis dan bukan orang yang menghasilkan tulisan dari sekedar berkhayal. Saya menulis dengan riset dan pengalaman yang mendalam. Itu artinya, pembaca status saya akan paham hal itu.
Jadi suatu ketika saya menelurkan sebuah buku, mereka paham buku saya memang datang dari ide yang saya benar-benar melakukan riset untuk itu. Dan tentu saja hasilnya karya saya itu bisa dipertanggungjawabkan.
Media sosial membuat kita bisa terhubung banyak orang, banyak calon pembeli. Ketika mereka suka dengan gaya tulisan dan pemahaman kita, maka akan mudahlah sebenarnya meraup pembeli.
Jujur saya belajar marketing pada adik kandung saya.
Yang paling terasa adalah saya harus yakin dengan karya yang saya buat. Karena ketika saya yakin karya saya bermanfaat, maka orang lain akan tertular keyakinan itu. Lalu setelah tertular mereka akan mau membeli untuk membaca dan menikmati karya tersebut.

Membeli Buku dari Penerbit

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya selalu membeli buku yang terbit dari penerbit. Buku karya saya. Saya punya target membeli 100 buku dari sana untuk dijual kembali.
Itu artinya, lebih baik terbit indie, dong? Begitu yang dulu terlintas di benak saya.
Iya, indie. Saya bisa cetak buku sesuka hati, lalu jual. Berharap dapat meraih keuntungan dari 100 buku yang terjual.
Hiks, tapi ternyata tidak semudah seperti itu.
Energinya berbeda.
Di penerbit, saya kirim naskah, ada editor, ada tim marketing yang akan mendistribusikan buku-buku ke mana saja. Karena apa? Karena mereka harus menghidupi karyawan mereka. Penulis cuma dapat 10 persen royalti atau lebih sedikit.

Jika menerbitkan sendiri, maka saya akan menanggung biaya cetak, dan biaya lay out buku juga editing. Soal layout tidak masalah karena suami ilustator.
Tapi entah kenapa kendala itu selalu datang pada saya. Sehingga akhirnya saya berpikir, penulis lain mungkin bisa menerbitkan indie, tapi saya belum saatnya. Saya tidak boleh hanya melulu memikirkan keuntungan belaka. Saya cukup menulis, bantu promosi dan beli buku dari sana untuk dijual.
Dan itu artinya win win solution.
Penerbit menerbitkan buku. Saya dapat buku yang editing terjaga, cover menjual. Lalu saya beli buku saya untuk dijual kembali dengan harga diskon dari penerbit. Saya ke luar uang, tapi saya puas dengan hasilnya. Di samping itu jika penerbit berkelas yang mengeluarkan buku saya, maka orang punya tambahan keyakinan bahwa naskah saya memang benar-benar oke.

Saya biasanya akan menggandeng adik saya untuk jadi marketing buku saya. Adik saya ini memang sejak kecil suka berdagang. Energinya energi penjual. Jadi setiap buku saya terbit minimal 100 buku yang saya beli bisa dijual olehnya. Dengan catatan, semua pembeli minta saya memberi pesan khusus untuk mereka di buku yang mereka beli.

Akhirnya,
balik lagi ke pahala mengalir.
Ada rezeki mutlak, ada rezeki ikhtiar. Rezeki mutlak itu akan datang kepada kita meski kita tidak mencarinya. Contohnya warisan. Sedang rezeki ikhtiar beda lagi. Rezeki ikhtiar adalah rezeki yang harus kita ikhtiarkan.
Agar karya kita dikenal orang lain, dibaca dan terasa manfaatnya oleh orang lain, maka kita wajib sebagai penulis memiliki ikhtiar untuk itu.
Kasih foto dengan tanda tanga? Sudah enggak zaman.
Kasih reward aja.
Saya sendiri mencoba memberi reward kelas menulis selama satu minggu untuk yang membeli buku saya. Karena apa? Karena saya paham, saya dikenal sebagai penulis yang bisa dan biasa mengajar kelas menulis online. Karena itu reward seperti itu menyenangkan untuk mereka.

Akhirnya,
mari promosi buku sendiri.
Sepanjang buku itu bermanfaat agar pesan bisa terbaca banyak orang.

Pertanyaan Penulis Pemula yang Harus Dijawab Dengan Tanya

meja kerja saya

Penulis?
Punya akun di sosial media?
Banyak tulisan yang muncul di media? Atau buku muncul di penerbit? Maka bersiap-siaplah dengan pertanyaan yang akan menghujani kita dari berbagai individu, yang mau menulis juga untuk media dan penerbit.

Tidak semua pertanyaan bisa dijawab.
Saya membatasi diri. Menjawab satu pertanyaan di kolom komentar, hanya akan membuat yang lain ikut bertanya.
Kenapa mesti dibatasi? Karena sebenarnya jawaban pertanyaan itu bisa didapat, kalau yang bertanya mau untuk meluangkan waktu ke toko buku atau ke lapak majalah dan koran, pasti pertanyaan itu bisa terjawab.

Pertanyaan apa saja yang pada akhirnya saya jawab dengan pertanyaan?

1. “Mbak cara kirim tulisan ke majalah A gimana?”
Maka biasanya saya akan bertanya,” Sudah pernah baca dan beli majalah A tersebut?
Nah, biasanya yang bertanya seperti ini tidak akan bertanya lagi. Sebab kalau bertanya lagi biasanya saya akan meminta mereka untuk cari medianya dan membelinya, jadi bisa tahu isi media tersebut.

2. “Mbak berapa honor untuk satu tulisan di majalah B?”
Saya akan jawab, ” Sudah buat tulisan untuk majalah B?”
Banyak yang bertanya hanya tergiur pada kata honor. Tapi mereka hanya berangan-angan untuk menulis saja. Tidak pernah menuntaskan tulisannya.

3. “Mbak, tulisan untuk majalah C berapa halaman?”
Saya akan tanya,” Kamu sudah pernah baca tulisan yang ada di sana?”
Banyaknya halaman masalah mudah. Karena sebetulnya kalau yang bertanya mau berjuang, mereka bisa copas tulisan yang sering saya upload yang sudah dimuat di media. Setelah copas di words bisa terlihat berapa halaman lembar tulisan yang saya buat. Soal font itu masalah selera. Kalau idenya sudah disuka redaksi maka segalanya akan jadi mudah.

4. “Mbak, ide yang bisa dimuat di media N seperti apa?”
Saya akan balik bertanya,” kamu sudah pernah baca tulisan di media N?”
Lagi, lagi banyak yang bertanya soal ide, tapi sebenarnya mereka tidak mau membeli media yang ingin mereka kirimi tulisan. Mereka juga tidak mau membaca contoh tulisan yang banyak tersebar di blog-blog penulis yang karyanya sudah dimuat di media tersebut.
Alasannya karena tidak punya waktu dan sayang pulsa.
Kalau sudah begitu, jangan harap bisa jadi penulis.

5. “Mbak, kok naskah mbak dimuat terus, naskah aku enggak?”
Maka akan saya tanya,” berapa banyak kamu kirim tulisan?”
Saya menulis setiap hari mengirim tulisan ke media setiap hari. Yang bertanya menulis tujuh bulan yang lalu, mengirim tujuh bulan yang lalu. Dan berharap satu naskah mereka yang terkirim itu bisa dimuat dan menghasilkan uang untuk mereka.

6. “Mbak, kalau mau buat buku, ide seperti apa ya yang diterima?”
Maka saya akan bertanya juga,” Kamu suka baca buku? Suka main ke toko buku?”
Nah, ini juga yang sering jadi masalah. Yang bertanya lebih suka ke bioskop daripada ke toko buku, tapi mereka berharap bisa menulis buku.

7. “Mbk aq sk nls tp…”
Nah untuk yang bertanya seperti ini biasanya saya malas untuk menjawab. Sebab untuk menjadi penulis harus berjuang untuk tidak menyingkat tulisan.

Jangan pelit membagi ilmu memang.
Tapi untuk kondisi tertentu di mana minat baca semakin menurun, dan banyak media cetak yang gulung tikar, sedang banyak sekali individu yang ingin menjadi penulis tapi mereka tidak suka membaca dan merasa mahal untuk membeli media cetak juga buku, solusi itu yang akhirnya saya ambil.
Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dengan tujuan baik.
Berharap setelah itu mereka mau berjuang bukan sekedar bermimpi menjadi penulis, tapi berjuang untuk terus mengisi kepala dengan ilmu dari buku atau media cetak yang mereka baca.

THR-nya Penulis Lepas

mesin tik ku

Apa yang paling terasa ketika akhir Ramadan untuk penulis?
THR alias tunjangan hari raya. Yang bekerja di kantor, yang punya majikan, akan mendapatkan THR. Penulis lepas, tidak terikat kantor manapun pastinya harus menerima kenyataan. Mereka tidak mendapatkan THR dari kantor. Ada satu dua hadiah dari klien, tapi tentu bukan THR.

Tapi masa segitu mirisnya kehidupan penulis?
Dari tahun ke tahun saya merasakan Ramadan sebagai penulis lepas, dan ternyata dapat THR. THR dalam bentuk yang lain. THR seperti apa itu?

1. THR dari royalti buku-buku saya yang sudah terbit. Ada beberapa buku yang terbit, yang royaltinya setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Dan ternyata royalti itu selalu pas dengan waktu menjelang akhir Ramadan. Alhamdulillah royalti itu bisa jadi uang saku untuk pulang mudik.

2. THR dari buku-buku yang akan terbit. Ada buku-buku yang memang jual putus. Dan tahun ini, dua buku yang jual putus malah jatuhnya tanggal pembayaran pas di sepuluh hari sebelum Ramadan. Tambah deh uang saku untuk mudik.

3. THR dari DP buku yang akan terbit. Nah ada beberapa penerbit yang memberikan DP royalti untuk buku yang akan terbit. Kalau terbitnya setelah Ramadan, maka DP itu bisa kita dapat. Tambah lagi deh uang saku kita.
In syaa Allah dua buku saya dengan sistem royalti akan terbit juga setelah Ramadan.

3. THR dari honor tulisan di media cetak. Nah yang ini prinsipnya asal terus menulis dan terus mengirim tulisan, maka tidak akan rugi judulnya.

4. THR dari honor menulis di blog. Nah, kalau sudah biasa menulis blog, maka biasanya akan ada agen yang mencari penulis dan menawari order menulis. Kalau sudah mau lebaran, biasanya bukan cuma minta satu tulisan tapi bisa sampai sepuluh tulisan. Asal berani pasang harga untuk tulisan kita, dijamin honor order itu akan membuat kantong kita menjadi penuh di bulan Ramadan.

Pada akhirnya fokus saja ibadah di bulan Ramadan sambil tidak lupa bekerja. Baca Al Quran dan terjemahan hingga kita memahami maknanya bukan sekedar deretan huruf saja. Berdoa yang banyak, karena doa orang yang berpuasa akan langsung tembus ke langit.
Yang terpenting, sebanyak apapun THR yang didapat, jangan berfoya-foya. Begitu dapat harus langsung sisihkan untuk disedekahkan kepada yang berhak, jangan pakai ditunda. Tidak menunda hak rezeki orang lain yang di tangan kita itu, yang akan membuat Allah tidak akan menunda permintaan kita.

Yang terpenting, setelah lebaran saya akan tetap jadi penulis. Tentu saja saya harus tetap menulis jika ingin terus ada penghasilan.

Menulis Membuat Awet Muda

“Ooooh, saya kira umurnya baru….. Tahunya sudah…”
Itu kalimat kesekian dari sekian banyak orang yang bertemu dengan saya. Dulu bikin ge er. Tapi sekarang disyukuri sebagai bagian nikmat menjadi penulis.
Dulu sering tidak dipercaya ketika mengajukan untuk kegiatan ini dan itu. Bahkan ketika mewawancarai tokoh tertentu. Dianggap anak kecil yang sok tahu. Sekarang tentu tidak lagi.

Ini bukan masalah minum jamu atau lain sebagainya. Banyak obat awet muda. Tapi menurut saya obat yang paling ampuh untuk membuat awet muda adalah dengan menulis.
Kenapa?
Penulis membuat awet muda. Memang. Karena semua beban bisa tuntas ketika ditulis. Jadi tidak menyimpan beban lagi di hati. Karena orang yang membenci kita bahkan bisa bebas kita masukkan jadi tokoh dalam tulisan. Mau kita buat nasibnya buruk atau baik, terserah kita. Yang jelas beban kita jadi terangkat setelah membuat tokoh itu terombang-ambing nasibnya dalam tulisan kita.

Penulis membuat awet muda. Karena ketika ada masalah, saya tidak tidur dengan membawa masalah. Begitu masalah menyentuh saya. Langsung ide-ide bertumpuk di kepala. Dan saya langsung mengeluarkannya jadi tulisan. Untuk saya bermanfaat karena saya bisa jadi menemukan solusinya. Dan untuk orang lain yang membacanya saya berharap apa yang saya tulis bisa diambil manfaatnya oleh mereka.
Jadi kalau marah sama suami? Tulis. Marah sama anak? Tulis. Saya menjadi ringan tanpa beban. Dan rumah tangga nyaman tanpa perlu tarik otot melampiaskan emosi.

Penulis membuat awet muda, karena dunianya penuh warna-warni. Kadang menciptakan tokoh sempurna dan akhirnya jatuh cinta pada tokoh itu. Meski jeleknya, kadang-kadang tokoh itu seperti menjelma dalam kehidupan nyata. Tiba-tiba ada orang yang sikap dan karakteryna seperti tokoh yang kita ciptakan.

Penulis jelas membuat awet muda. Apalagi saya yang menulis di berbagai genre. Kadang-kadang saya bisa jadi anak-anak ketika menulis cerita anak. Atau saya jadi remaja kembali ketika menulis cerita remaja. Jadi dewasa ketika menulis cerita dewasa. Dan jadi orang yang penuh logika ketika menulis artikel. Dunia saya seperti berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Dan setiap ruangan itu menyajikan pemandangan yang berbeda juga pengalaman yang berbeda.
Dan tentu saja pengalaman seperti itu tidak bisa dimiliki oleh setiap orang.

Penulis memang harusnya awet muda. Khususnya fiksi, dunianya penuh imajinasi. Meski kadang-kadang ada buruknya. Saya sering tidak connect di dunia nyata. Karena kadang-kadang saya melamun sendiri. Dan tidak sadar ketika orang memanggil-manggil saya, kecuali menyentuh saya. Keluarga inti sudah paham hal itu. Tapi orang lain seringnya menganggap saya tulalit.
Kalau sudah begitu saya wajib memaksakan diri untuk tetap fokus di dunia nyata dan tidak membiarkan pikiran melantur ke mana-mana.
Yang seperti ini juga membuat saya butuh mengobrol ketika di kendaraan umum. Ngobrol dengan orang lain. Itu untuk menjaga agar saya tetap fokus dan tidak tenggelam dengan lamunan.
Ini juga yang membuat saya tidak berani ke jalan raya dengan kendaraan sendiri. Karena beberapa kali saya terkejut mendengar bunyi klakson orang lain. Kalaupun terpaksa, saya harus beberapa kali menarik napas panjang, agar tetap fokus dan tidak masuk ke dunia imajinasi.

Penulis membuat awet muda. Tanpa perlu ke salon. Karena saya memang tidak suka ke salon. Tanpa perlu cream anti aging. Karena saya yakin, kerut itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Yang terpenting, selalu membuka hari dengan bersyukur. Iya bersyukur, saya masih bisa menulis dan melepaskan beban-beban yang saya miliki untuk jadi tulisan.
Berniat awet muda?
Ayo mulai menulis.

Begini Cara Kirim Naskah ke Penerbit

IMG-20160507-WA0001

Ada banyak pertanyaan dari penulis pemula. Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Karena jawabannya bisa ditemukan di banyak tempat. Tinggal ambil smart phone. Lalu ketik penerbit dan alamatnya. Maka akan ketemulah nama penerbit.
Lalu cari kriteria kirim naskah. Dengan mencoba klak klik halaman yang ada. Harus mau mencari. Kalau malas mencari, jangan harap orang lain mau mencarikan untuk kamu.

Ada banyak penerbit.
Umum dikenal dengan mayor, penerbit besar. Penerbit yang menerbitkan buku kita dengan sistem perjanjian. Kita cuma modal naskah bagus saja. Lalu mereka akan menerbitkan dan menjualkan. Kita dapat royalti beberapa persen dari buku yang mereka jual itu. Royalti turun sesuai perjanjian. Ada yang pertiga bulan, ada yang enam bulan.
Dan untuk tahu sistem royalti ini, ada baiknya kalian menulis dulu, punya karya dulu, kirim naskah dulu, tunggu di acc dulu, baru akhirnya paham seperti apa sistem royalti berjalan.

Ada penerbit indie.
Penerbit indie ini adalah jalur indipendent alias mandiri.
Jadi kalau kamu merasa punya naskah bagus, punya uang, terus dengar kata teman-teman susah masuk ke penerbit mayor, maka biasanya penerbit indie yang dilirik. Tapi ya itu. Mereka akan menerbitkan buku kamu sesuai budget yang kamu punya. Kamu punya lima ratus ribu, akan dicetak sesuai dengan dana itu.
Untuk lay out, EYD kamu masih harus keluar kocek lebih dalam lagi untuk itu.
Mereka juga akan menayangkan buku kamu sesuai order. Jadi naskah kamu akan dijual online.

Untuk kamu yang baru belajar nulis, saya tidak sarankan penerbit indie. Karena kamu harus melewati proses menulis yang membuat kamu sadar, bahwa menjadi penulis yang baik itu tidak gampang. Bukan sekedar punya naskah sampai selesai saja lalu terbit. Tapi naskah itu memang idenya harus benar-benar bagus.
Untuk orang yang sudah punya massa seperti pembicara seminar, jalur indie yang dipilih karena lebih cepat. Lagipula mereka sudah punya massa yang pasti akan membeli buku itu.

Ada banyak penerbit.
Browsing penerbit saja, maka akan banyak nama penerbit bermunculan.
Baca lebih jelas lagi. Lebih mantap kalau jalan ke toko buku. Di toko buku biasanya yang dijual buku-buku dari penerbit mayor.
Ambil salah satu buku itu. Beli satu atau dua buku. Jangan malas merogoh kocek untuk membeli buku. Terus baca isi buku itu. Lihat nama dan alamat penerbitnya. Lihat alamat email dan nomor teleponnya. Kalau punya pulsa langsung telepon tanya-tanya. Atau kirim email ke sana.
Hiks,
saya suka sebel kalau ditanya kirim ke penerbit ini dan itu larinya ke saya, bukan ke penerbitnya. Bahkan murid-murid yang belajar privat di saya pun, saya minta untuk kirim surat pertanyaan ke redaksi penerbit untuk mendapat jawaban dari mereka sendiri. Jadi bukan melalui saya.

Setelah kamu baca buku terbitan mereka yang kamu beli, kamu bandingkan dengan tulisan yang kamu buat.
Kalau yakin kirim saja ke mereka.
Jangan lupa sertakan kata pengantar yang sopan. Jangan asal kirim.
Karena penerbit mayor biasanya antri maka jangan kirim hari ini lalu minta jawaban besok.
Ada penerbit mayor yang baru menjawab setelah sekian bulan. Ada yang dua bulan juga sudah dapat jawaban.

Apakah penerbit mayor pilih-pilih penulis?
Tergantung.
Kalau kamu punya naskah bagus dan ide yang benar-benar beda, saya yakin naskah itu akan membuat penerbit jatuh hati dan mau menerbitkannya.
Tapi kalau naskahmu hanya naskah biasa, kisah cinta biasa, sama seperti novel-novel yang sudah ada, jangan heran kalau naskah kamu tidak akan dilirik oleh penerbit tersebut.

Terus gimana cara agar ide itu terasa unik?
Wajib banyak baca, bukan banyak mimpi.
Dari banyak membaca, bisa paham ide mana yang belum ditulis oleh penulis lain.

Jadi tugas kamu sekarang.
Browsing nama penerbit.
Lihat buku-buku hasil karya penerbit tersebut. Lari ke toko buku atau cari di toko buku online yang banyak ada di sosial media atau di mana saja, asal pulsa kamu mencukupi.
Terus pikirkan ide yang menarik untuk kamu tulis dan kamu kirim ke mereka.
Soal surat perjanjian dan lain sebagainya, nanti mudah mempelajarinya. Kalau naskah kamu sudah acc. Kalau belum-belum kamu sudah pusing dengan surat perjanjian, padahal naskah juga belum ada, buku juga tidak pernah baca, nanti kasihan. Kasihan kamu dan juga kasihan penulis penulis seperti saya yang terus-menerus ditanya hal-hal seperti itu.

Masalah Serius Penulis Pemula

Tanda-Tanya

Masalah di dunia menulis sebenarnya berputar dari itu ke itu saja. Dan solusinya juga akhirnya berputar dari itu ke itu saja. Kalau dulu masalah saya adalah bingung mencari tempat bertanya, sebab akses internet belum popular seperti sekarang ini. Masalah penulis di zaman sekarang ini adalah bingung karena terlalu banyak tempat bertanya.
Kemudahan mencari tempat bertanya itu pada akhirnya justru bukan membantu penulis pemula bertambah maju, tapi mereka justru jalan di tempat.
Dan pertanyaan mereka itu, seringnya justru membuat para penulis yang dianggap senior menutup akses dengan tidak membuka inbox dari mereka.

Beberapa masalah ini saya rangkum dari pengamatan selama ini di sosial media, plus inbox-inbox yang masuk ke saya :

1. Jarang memperhatikan tata krama
“Kak, aku mau diskusi.” Atau, “Kak bagi link pengumuman lomba, dong.”
Itu kalimat yang banyak saya temukan. Tapi setelah link didapat. Taraa. Mereka hilang tidak muncul lagi.
Bukan, bukan mengharap ucapan terima kasih dari mereka. Tapi kasihan. Karena jika itu mereka lakukan untuk penerbit atau media, sikap seperti itu pasti akan membuat pihak penerbit atau media jadi malas untuk melayani mereka. Dan tentu saja malas juga untuk ngecek naskah mereka.
Jika ingin serius menjadi penulis, selain harus belajar menulis yang bagus, mereka juga harus belajar menjaga sikap. Ada aturannya bagaimana menyodorkan naskah dan menarik naskah di sebuah penerbit atau media.

2. Tanya alamat email media atau penerbit.
“Bun, minta alamat email media ini, dong.”
Ketika saya tanya apakah sudah punya tulisan untuk dikirim ke sana? Mereka bilang belum.
Ketika tanya tentang email penerbit juga seperti itu. Ketika saya tanya apakah mereka sudah punya buku terbitan penerbit yang akan mereka tuju? Mereka bilang belum.
Hiks. Itu sama saja kalau mau masukin kue ke sebuah toko kue, tapi tidak pernah merasakan sebelumnya kue-kue yang dijual di sana. Cuma main feeling. Dan itu tidak akan berhasil.

3. Mau informasi cepat tanpa perlu browsing
Saya masih suka mencari alamat penerbit atau media dari browsing. Dari FB atau twitter bisa didapatkan nama media. Tinggal klik search majalah. Maka keluarlah banyak nama majalah. Maka pelajari saja satu persatu majalah itu. Pelajari apa yang mereka posting. Di situ juga biasanya disebutkan alamat pengiriman naskah. Jadi sebenarnya tidak perlu ribet untuk bertanya.
Penulis pemula? Mereka kirim pesan ke saya hanya minta email penerbit atau media cetak. Plus minta untuk mengecek naskah mereka.

4. Tanya kriteria sebuah lomba. Padahal sudah dijelaskan di poster yang dibagikan
Sering juga saya posting sebuah lomba yang diadakan oleh media atau penerbit. Datanya lengkap. Tapi tetap saja masih ada yang bertanya kriteria lomba tersebut.

5. Merasa punya ide hebat, padahal biasa. Itu tanda jarang baca buku
Setiap penulis pemula yang saya temui selalu merasa yakin mereka punya ide yang hebat. Ide mereka berbeda dari penulis lain. Lalu mereka menjabarkan ide mereka tersebut. Hasilnya? Hasilnya menurut saya ide itu masih biasa.
Biasanya sih solusinya, saya minta mereka banyak-banyak membaca buku saja.

6. Merasa tulisan sudah cocok di semua media, padahal tidak pernah beli satu media pun.
Banyak yang seperti ini. Dulu mungkin saya juga seperti ini. Tapi saya berjuang untuk terus belajar. Dan bersyukur zaman saya tidak ada sosial media. Sehingga pertanyaan saya simpan sendiri dengan terus berjuang untuk menulis.
Sekarang, banyak penulis pemula yang datang ke inbox atau email saya. Dengan bahasa belum bagus, masih disingkat-singkat. Lalu mereka merasa yakin punya karya yang bagus dan cocok untuk semua media.

7. Merasa proses menulisnya sudah berdarah-darah. Padahal baru dijalani satu dua bulan
“Sudah, Bun. Sudah. Saya sudah berjuang menulis sampai berdarah-darah. Ditolak terus karya saya.”
Eh pas saya tanya, sudah berapa lama belajar menulis? Jawabannya adalah mereka baru belajar menulis satu dua bulan ini.
Lalu bagaimana mungkin bisa bilang kalau proses yang dialuinya sudah berdarah-darah?

8. Mau hasil yang cepat
Menulis itu ada aturannya. Agar tulisan bagus, harus mau berlatih keras terus-menerus. Mengirim tulisan ke media atau penerbit harus memiliki tulisan bagus. Dan karena media atau penerbit menerima ratusan atau bahkan ribuan tulisan dari banyak penulis, maka ada proses yang harus ditaati. Proses itu bernama menunggu.
Jadi untuk di media masa tunggunya minimal tujuh bulan sampai dua tahun. Ada yang bisa cepat satu minggu juga sudah dapat kabar. Tapi tidak jarang sampai dua tahun karya yang kita kirim juga belum dapat kabar.
Penulis pemula merasa yakin karya mereka sudah bagus dan yakin akan dimuat. Mereka bergantung pada satu karya itu saja yang mereka kirim.
Untuk mereka yang seperti itu biasanya saya sarankan untuk kirim lalu lupakan. Tulis yang banyak lagi. Nanti kalau sudah menulis yang banyak, akan ada satu titik mereka sadar, bahwa karya yang mereka tulis sebelumnya sebenarnya tidak ada apa-apanya. Alias memang belum pantas untuk diterbitkan.

9. Cepat Puas Diri
Ketika satu tulisan sudah dimuat di media atau di penerbit, merasa sudah cukup hebat dan tidak perlu belajar lagi. Bahkan ada juga yang mulai meremehkan orang lain. Padahal satu dua sampai sepuluh naskah dimuat, itu baru langkah awal. Karena ujiannya adalah setelah berkali-kali naskah kita hadir, apakah kita akan tetap bisa konsisten menulis? Apakah kita tetap bisa menghadirkan karya yang memang idenya berbeda?

10. Fokus Ingin Terkenal
Ingin terkenal memang menjadi incaran anak-anak muda. Karena itu jalan menjadi artis lewat kontes ini itu banyak diminati anak muda. Terkenal membuat mereka mudah mengumpulkan pundi-pundi uang.
Tapi proses menulis bukan proses menjadi artis.
Menulis ada di jalur yang berbeda. Yang terkenal itu karya baru diri penulis mengikuti. Karena yang orang baca karya kita. Bermanfaat karya kita, maka titik puasnya ada di situ.
Jika terkenal diusung pertama kali, maka penulis akan rela menulis apa saja untuk jadi terkenal. Ujungnya mereka mau menulis tulisan-tulisan porno yang tidak bermanfaat.

11. Mudah Meminta
Ini yang paling sering juga saya dapatkan.
Penulis pemula sering merasa bahwa setiap penulis punya waktu luang yang banyak. Mungkin menempatkan standar dengan diri mereka.
Padahal kalau sudah terjun ke dunia menulis, waktu untuk main sosial media adalah waktu untuk istirahat. Jadi inginnya tidak diganggu.
Tapi yang datang ke inbox saya adalah banyak permintaan. Mulai dari meminta untuk mengendors buku mereka. Biasanya kalau minta yang ini, saya minta penerbit mereka untuk menghubungi saya. Ada yang minta sumbangan buku. Untuk yang ini biasanya saya salurkan ke beberapa penerbit yang punya program pemberian buku gratis untuk taman bacaan. Ada yang minta dicek naskahnya. Kalau yang ini biasanya saya menolak, kecuali untuk orang yang saya sudah kenal akrab dan saya merasa orang itu punya potensi.

Well,
penulis pemula tidak akan terus-terusan jadi pemula kalau mau terus berkarya.
Sekali bertanya tidak masalah tapi kalau terus-menerus bertanya itu membuat yang ditanya jadi malas untuk menjawabnya.
Jadi sibuklah berkarya, jangan sibuk bertanya. Karena penulis lainnya yang ditanya seperti saya, juga sibuk untuk terus berkarya.

Tetap Lancar Menulis Ketika Berpuasa

Banyak yang mengeluh tidak bisa menulis ketika saat berpuasa. Padahal bisa atau tidaknya kita menulis, bukan karena kita sedang menjalankan puasa. Tapi karena memang mindset kita yang memang sudah kita simpan di otak. Bahwa berpuasa itu saatnya istirahat untuk berpikir.
Sama seperti mindset bahwa tanpa minum kopi tidak akan bisa menulis. Padahal mindset seperti itu bisa kita bersihkan dari otak kita dan menggantinya dengan mindset yang baru.

Tidurmu saat berpuasa adalah ibadah. Itu hadist lemah yang biasa dipakai kebanyakan dari kita. Dengan alasan itu, maka banyak penulis pemula yang merasa bahwa ketika berpuasa maka itu artinya mereka berhenti saja menulis. Kenapa disebut penulis pemula? Karena untuk orang yang sudah terbiasa menulis, maka puasa atau tidak, tidak ada efeknya lagi. Karena menulis adalah pekerjaan. Sama seperti profesi lain.
Seorang tukang jahit akan tetap menjahit ketika berpuasa. Seorang guru akan tetap mengajar di bulan puasa. Bahkan seorang murid akan tetap belajar di bulan puasa.
Lalu kenapa kita mesti bingung ketika sedang berpuasa.

Okelah ada mindset dan harus ada solusinya. Solusi apa yang paling efektif?
1. Awali dengan basmalah alias Bismillah
2. Ubah mindset kita. Buat keyakinan bahwa dengan berpuasa pintu ide akan terbuka seluas-luasnya.
3. Niatkan pekerjaan menulis kita untuk ibadah, sama seperti pekerjaan yang lainnya. Jadi kita mendapat pahala untuk itu.
4. Kurangi bermain sosial media dan fokus untuk menulis. Kalaupun melihat sosial media, fokus untuk mencari info penting yang berguna untuk tulisan kita.
5. Cari ide utamanya dulu, baru buka komputer. Sehingga ketika komputer kita nyalakan, langsung kita bisa mengeksekusi idenya.
6. Punya target yang nyata, yang bisa kita kejar. Misalnya, puasa ini saya akan menulis sepuluh tulisan dan harus selesai.
7. Ambil waktu satu jam setiap harinya saja untuk menulis. Maka hari-hari berikutnya akan mudah menambah jam menulisnya.
8. Kalau kamu benar-benar cinta menulis, bukan sekedar ikut-ikutan saja, pasti kamu akan berjuang untuk menaklukkan semua hal yang membuatmu malas untuk menulis.

Berapa Harga Tulisanmu?

permen

“Kamu cuma dibayar segini?” tanya almarhum Bapak beberapa tahun yang lalu, ketika saya harus menagih honor di sebuah koran lokal. “Setelah bertahun-tahun kamu menulis, hasilnya cuma segitu? Harus diambil ke kantornya lagi. Gimana kalau orangtua kamu bukan di Solo?”
Saya tersenyum kecut.
Bapak orang yang paling paham perjuangan saya sebagai penulis. Bapak tahu, untuk sejajar di mata orang lain yang bekerja sebagai pegawai, saya jungkir balik untuk itu.
Iya saya menulis sejak sekolah dasar. Tapi orang banyak hanya menganggap itu hobi bukan profesi. Dan saya yang sudah kadung cinta, tentu saja berjuang keras untuk menjadikan profesi itu dikenal orang, paling tidak sejajar dengan kakak-kakak saya di mata Bapak. Salah satunya adalah dengan sekolah di sana sini dari honor menulis. Ini juga akhirnya membuka cakrawala orang dan melihat bahwa penulis bukan orang yang otaknya kosong dipenuhi khayalan.
“Bertahun-tahun kamu berjuang…”
Saya mengangguk, saya tahu Bapak kecewa.
Mungkin Bapak tidak ingin tulisan saya dihargai seharga permen. Bapak ingin perjuangan saya yang saya lakukan berdarah-darah, dihargai cukup layak.
Lagipula, saya yang memang memilih untuk tidak jadi pegawai seperti saudara saya yang lain. Harusnya saya berjuang untuk sesuatu yang memang saya pilih dengan hati.

Harga yang Pantas

Harga yang pantas didapat dari pasar yang tepat.
Baju sebagus apapun, dibuat dengan hati-hati, bahan terpilih, ketika masuk ke pasar yang tidak tepat, akan dianggap seperti baju obralan biasa. Contoh di seputaran rumah. Barang-barang bagus yang dijual, akan diberi harga standar. Contoh saya pernah menawarkan bed cover batik yang memang dijahit tangan, dan penjahitnya memang berkualitas karena di Solo sendiri menerima pesanan dari hotel yang ada di sana. Bed cover itu dihargai murah, disamakan dengan bed cover yang panas bahannya.

Atau kue yang bahannnya kita pakai dari bahan berkualitas, lalu kebersihannya kita jaga, ketika dijual di lingkungan yang tidak paham isi tapi hanya paham kemasan, maka harga yang akan ditawarkan bikin miris. Disandingkan dengan kue-kue yang menggunakan bahan pengawet dengan warna-warni menggunakan pewarna kimia.

Begitu juga di dunia menulis.
Ketika ada penulis yang memasang harga yang menurutnya pantas, maka penulis lain yang masih baru terjun ke dunia menulis, menganggap penulis itu matre dan mengukur segalanya dengan uang. Mereka tidak berpikir bahwa karya yang ada harganya itu mengikuti putaran industri. Tulisan yang terbit di media nasional terbit di Jakarta tentu honornya berbeda dengan tulisan yang terbit di media lokal.
Tidak boleh panas ketika menyikapi hal itu. Mungkin sebuah saran bisa diberikan.
Kalau yang bicara ingin benar-benar beramal lewat tulisan caranya mudah kok.
Tulislah sebuah tulisan yang bermanfaat. Lalu cetak dengan uang sendiri. Perbanyak dan bagikan ke orang lain. Cobalah.

Harga yang pantas itu saya pelajari. Beberapa tahun yang lalu, saya berani menawarkan proposal ke beberapa penerbit menyediakan jasa untuk tulisan saya perlembarnya. Ada penerbit yang setuju, ada yang tidak. Tapi dari satu keberanian itu muncul keberanian lain.
Ketika ada penerbit yang mengorder ke saya, maka mereka akan memberikan jumlah pembayarannya dan kapan waktu pembayarannya. Biasanya surat itu datang lebih dulu sebelum pekerjaan. Dan ketika saya oke, pekerjaan turun. Lewat dari tenggat pembayaran, saya biasanya akan menagih.
Kok enggak malu menagih?
Kenapa mesti malu? Kan sudah ada perjanjian di awalnya.

Pernah ada yang menawari untuk mengisi media cetak miliknya. Tapi untuk coba-coba. Alias saya dianggap beruntung karena diberi kesempatan itu. Saya menolak. Karena saya punya karya bagus dan akan terus meningkatkan kualitas. Akhirnya saya dipanggil ke kantor lalu diskusi soal harga.

Belum lama saya juga bertemu seseorang. Dan saya terus terang bilang padanya kesulitan saya adalah menerapkan harga. Tapi silakan baca tulisan saya. Lalu saya berikan buku saya. Hingga akhirnya tetap kesepakatan kita buat sesuai harga yang saya tawarkan. Harga dari saya disetujui, karena klien yakin saya bukan asal tulis, apalagi cuma sekedar tulisan dari hasil berkhayal.

Temui Orang yang Paham

Suatu hari suami mendatangi saya. Menunjukkan angka yang tertera di telepon genggamnya. “Gambarku dihargai segini. Besar, ya?”
Kami sepasang suami istri yang memang tidak paham soal harga pada awalnya. Karena untuk saya menulis dan suami menggambar, melakukan keduanya adalah masalah passion dan cinta. Yang memberi order puas saja kami bahagia.
Dan mau tahu hasilnya?
Hasilnya ada yang minta gambar, gambar selesai terus kabur. Ada yang membuat cetakan juga kabur.

Tapi lambat laun kami harus menghargai karya kami. Di sini, ada pengalaman suami yang mendesign logo di tanah abang dihargai dengan harga 25 ribu rupiah. Sedang ketika mengikuti kontes logo internasional, harga logo buatannya diberi hadiah 10 juta rupiah. Untuk logo yang sederhana.

Ketika kami mulai menghargai karya kami sendiri, yang memang tidak mudah melakukannya, bukan sekedar dari berkhayal saja, maka pada saat itu akan dibukakan pintu-pintu menuju orang yang paham dan mau menghargai karya.
Kami tidak berani untuk buat yang asal jadi. Bahkan sering tidak bisa tidur, menunggu jawaban dari klien apakah ia puas dengan hasil kerja kami.

“Yah, tulisanku dihargai segini,” ujar saya juga suatu hari menunjukkan pesan dari seseorang yang memesan tulisan saya. “Besar, ya?”

Kami belajar dari banyak hal. Sebelum orang lain menghargai kami, kami sendiri yang harus menghargai diri kami, juga karya kami. Ketika orang sudah menghargai, maka kami akan memiliki rezeki bernama uang. Nah uang itu bisa kami pakai untuk banyak hal.

Lalu soal sedekah?
Alaaah, itu masalah rahasia. Cukup Pemilik Rezeki saja yang paham.

Sim Salabim, Jadilah Tulisan Keren

pak tarno

“Ajarin menulis, dong, Bunda. Biar bisa jadi novel.”
“Ajarin menulis biar dimuat di media dan dapat honor.”
Tungguuuu.
Saya mau merenung dulu. Untuk setiap pertanyaan seperti itu, kening saya memang langsung berkerut. Mereka mau belajar menulis, apa mau membuat mi instan?

Ketika saya pertama kali membuka kelas menulis bernama Penulis Tangguh, yang saya rekrut pertama kali adalah orang-orang yang sudah saya kenal lama lewat beberapa group penulisan. Dan saya tahu seperti apa cara mereka mencari ide. Saya tahu seperti apa mereka menjawab tantangan saya. Makanya saya ambil murid-murid dengan melalui seleksi melihat tulisan mereka.

Lalu lambat laun tulisan mereka muncul satu persatu di media. Dan banyak yang tertarik. Saya tertantang untuk mengambil yang memang dari nol belajar menulis. Tentu diimbangi dengan teman lain yang sudah bisa menulis, tapi patah semangat. Hasilnya yang dari nol terpengaruh teman yang lain yang semangat. Lalu satu persatu tulisan mereka muncul di media.

Setelah itu, banyaklah yang melamar pada saya untuk ikut kelas menulis.
Lama-kelamaan bukan proses menulisnya yang mereka pelajari, melainkan mereka ingin yang lain. Tulisan cepat dimuat, tanpa menyadari prosesnya.
Satu dua teman tulisannya masih mentah, tapi berharap untuk tembus di media. Tidak mungkin. Karena saya di kelas tidak mengajarkan teori sim salabim.
Untuk yang sudah bisa menulis, mungkin saya tinggal sedikit memolesnya. Tapi untuk yang belum bisa, yang mulai dari nol, tapi memegang harapan cepat dapat honor? Ohooo, saya sudah putus asa dan kecewa di awal. Karena itu biasanya mereka juga akan mundur di tengah kelas.

“Sim salabim jadi apa prok prok prok.” Itu kata Pak Tarno pesulap tua yang sekarang terkenal.
Tahu proses Pak Tarno bisa sulap?
Dia berlatih terus=menerus. Bahkan dia menjadi pesulap di pasar dan pesta ulang tahun. Pesulap tradisional dengan trik sulap sederhana pun harus berlatih bertahun-tahun.
Lalu menulis?
Mau cepat?
Uhuk. Mungkin saya harus mengajak batuk berjamaan.

“Bundaaa, ajarin aku nulis, dong.” Dari whatsapp atau FB sering saya dapat yang seperti ini. Biasanya saya akan memberi jawaban.
“Maukah berproses dalam menulis?” Lalu saya jelaskan prosesnya seperti apa. Jika ia menjawab siap dengan segala konsekwensi belajar, itu artinya saya akan nikmati mengajarinya. Dan itu artinya saya akan lebih mudah mengarahkannya sehingga tulisannya bisa cepat jadi.

Simsalabim dalam menulis?
Kalau masih ingin yang seperti itu, lebih baik tutup mata dan minum kopi saja. Duduk di teras dengan semilir angin yang sepoi-sepoi. Tidur dan semoga bermimpi. Mimpi punya tulisan keren tanpa proses.