Tips Menjadi Penulis yang Kreatif

aku-1-copy

“Ibu gambar lagi? Ampun, deh.”
Itu kalimat yang meluncur dari mulut anak-anak. Menggambar, kebiasaan lama yang dulu saya suka, dan saya tinggalkan. Ada banyak gambar. Hanya memakai pensil saja. Sudah saya hibahkan ke tukang loak, karena merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan gambar karya suami.

Tapi belakangan ini, saya butuh sesuatu yang lain selain menulis.
Anak-anak tetangga yang belajar di rumah, perlu sesuatu yang lain. Yang membuat mereka bergairah untuk belajar dan mencintai kehalusan seni.
Jika menulis membuat mereka kesulitan, maka keahlian lain yang saya miliki tentu bisa membuat mereka betah berlama-lama tanpa menyangka kalau mereka sedang belajar.

Maka membuat roti hal yang dulu saya anti, justru menjadi sesuatu yang saya suka saat ini. Melipat, menggulung, membuat aneka macam bentuk ternyata menjadi sensasi berbeda. Apalagi ilmu itu bisa saya terapkan dalam menulis. Saya bisa menulis cerita tentang roti. Dan tentunya akan lebih hidup, karena berdasarkan pengalaman nyata.

aku-3

Penulis harus tahu apa yang ditulisnya. Harus riset. Itu yang selalu saya katakan berulang kali, kepada murid-murid menulis saya. Jangan berpikir bahwa hanya dengan berkhayal, maka kita akan bisa terus menulis. Sekali dua kali mungkin bisa. Tapi selebihnya tulisan tidak akan ada peningkatan.

Bersyukur saya punya Ibu yang pandai menjahit. Dan sekolah dulu mewajibkan siswanya pelajaran tata busana. Jadi saya tahu pola-pola dasar. Dan itu membuat saya tahu, ketika membuat tulisan tentang penjahit atau alat jahit.
Bersyukur saya punya Bapak yang serba bisa. Bapak pernah jadi guru di sekolah, Bapak jadi imam di masjid, Bapak pintar membuat kerajinan, Bapak bisa mengetik sepuluh jari dengan cepat, Bapak menguasai bercocok tanam, bahkan Bapak tahu bagaimana mengobati putra-putrinya ketika sakit. Bukan asal obat. Tapi kucuran ilmu dari teman-teman kerjanya yang rata-rata dokter, membuat Bapak paham ilmu kedokteran.
Dan kucuran ilmu dari Bapak itu membuat saya bersyukur, karena paling tidak saya tahu sedikit lebih banyak, tanpa perlu masuk ke sekolah ini dan itu.

Okelah itu karena saya memang beruntung. Terus bagaimana dengan penulis yang kurang beruntung, alias tidak memiliki orangtua kreatif dan lingkungan yang mendukung?

Penulis itu harus berjuang menjadi kreatif sendiri.
Mulailah dengan mencoba hal-hal kecil.

1, Mewarnai gambar contohnya. Sekarang banyak gambar-gambar di interntet yang belum diwarnai. Tingkat kerumitannya juga macam-macam. Pilih satu gambar dan warnai. Nikmati. Dari situ bisa kita menulis sebuah cerita tentang mewarnai gambar.

2. Bercocok tanam. Jangan anggap sepele bercocok tanam. Karena melihat pohon tumbuh, rontok atau mati, itu sensasi sendiri dan jadi pengalaman sendiri, yang tentu saja bisa ditulis.

3. Belajar menjahit atau merajut. Memasukkan benang ke dalam lubang jarum, dan mengetahui ukuran jarum dan benang saja, juga merupakan ilmu baru yang bisa ditulis.

4. Memelihara binatang juga sama. Akan memancing kreativitas. Tingkah laku binatang peliharaan, tingkat kedekatan kita dengan binatang, bisa menjadi rangkaian cerita yang akan menyentuh pembacanya.

5. Menggambar. Iya menggambar apa saja. Mulai dari hal kecil. Mulai dari meniru dulu. Lama kelamaan, akan muncul ide baru di benak kita. Kalau tangan sudah terlatih, maka gambar itu sendiri sudah jadi rangkaian cerita.

6. Memasak tentu saja. Aroma bumbu masak, cara pengolahan, cara penyajian, akan membuat kita kehujanan banyak ilmu. Dan itu bisa dijadikan tulisan yang bermanfaat untuk orang lain.

Masih banyak tips lainnya.
Cobalah mulai dari sekarang, dan jangan ditunda.

Resolusi Tahun Baru untuk Penulis. Perlu, kah?

2016

Akhirnya, tahun baru datang juga.
Akhirnya. Meskipun saya juga tidak terbiasa merayakan pergantian tahun. Karena sejak dulu dalam didikan Bapak, tidak suka acara ramai-ramai.

Hitungan tahun sudah berganti.
Artinya apa? Artinya usia kita bertambah tua. Artinya untuk saya anak-anak bertambah besar. Biaya pendidikan mereka juga semakin besar. Tenaga untuk menjaga mereka dengan doa dan nasihat juga akan semakin banyak.

Ada resolusi. Biasa dibuat oleh orang yang punya target tahunan. Perusahaan biasanya yang membuat hal ini. Tujuannya untuk mengukur kinerja perusahaan, keuntungan plus kerugian. Karena itu setiap menjelang akhir tahun, bagian keuangan pasti sibuk.

Sebagai penulis, ada banyak yang harus ditulis. Ada ide yang akan menguap jika tidak ditulis. Ada banyak hal, yang akan hilang momentum jika tidak ditulis. Jadi resolusi untuk saya sebagai penulis, tidak perlu.

Resolusi Harian

oke-8

Ada banyak penerbit, yang terus-menerus membutuhkan naskah.
Ada blog yang terus-menerus harus diisi, karena penulis tidak boleh menutup mata dengan perkembangan zaman.
Memang di saat yang sama, ada media-media cetak yang satu-persatu gugur. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti menulis.

Gugur satu tumbuh seribu, itu berlaku untuk dunia menulis.
Media cetak gugur, digantikan dengan media online yang jumlahnya tidak terhitung. Tapi perjuangan hidup yang ssungguhnya itu, bukan pada saat kesempatan terbuka luas. Kreativitas justru banyak yang tumbuh dari situasi terjepit.

Ketika ruang menulis tertutup, blog bisa dioptimalkan. Ada banyak perusahaan yang sekarang fokus mencari blogger untuk dioptimalkan. Ketika penerbit-penerbit konvensional bertambah ketat seleksinya, ada penerbit-penerbit online yang gencar mencari penulis.
Ada ruang terbuka untuk penulis mencari kesempatan, bukan hanya terpaku pada interaksi di sosial media, dan berebut rezeki dari sana.
Internet memudahkan penulis. Optimalkan hal itu. Memang tidak seramai sosial media, tapi itu justru lebih optimal.

Jadi soal resolusi untuk tahun baru?
Kalau saya setiap hari terus-menulis. Tidak fokus pada pergantian tahun, tapi pada pergantian hari.
Saya yakin sudah hukum alam, siapa yang terus bekerja, itu yang akan sering menuai hasilnya.

Kenapa Penulis Harus Mau Jadi Marketing Bukunya?

buku-2016

“Nulis buku itu susah, Mbak. Kenapa harus pakai belajar jualan buku lagi?”
Hiks, benar. Itu perkataan yang benar. Dulu saya juga berpikir seperti itu. Nulis buku itu susah. Susahnya setengah mati, apalagi kalau menulis tidak ingin menulis asal saja, dan berjuang dengan riset. Maka setelah buku selesai ditulis, lalu penerbit mau menerima, rasanya plong yang ada di hati.
Lega. Iya, lega selega-seleganya.
Kita berharap, sih, sama seperti penulis di luar negeri yang jadi rujukan kita. Bisa plesiran ke mana saja, setelah bukunya selesai dicetak.
Kita mulai membandingkan kenikmatan, tapi tidak berjuang menuju satu titik kualitas yang sama.

Dulu Bukan Sekarang

Dulu, pada zaman kita belum diserbu tekhnologi, dan ketika tidak semua orang paham dunia menulis, menulis adalah sebuah bentuk ekspresi yang menyenangkan. Pengalaman dan isi hati kita, bisa bebas kita tulis, tanpa kita dituntut kelihatan identitasnya.
Maka biasanya para penulis yang muncul dari masa lalu, adalah penulis yang kebanyakan pemalu dan takut muncul di publik, termasuk saya.

Tapi dulu bukan sekarang.
Dulu media cetak masih jadi andalan. Telepon genggam ada tapi yang memiliki hanya segelintir orang saja. Untuk mendapatkan nomor pun, harus antri panjang. 16 tahun yang lalu nomor saya, saya beli seharga 250 ribu rupiah.
Dulu, para remaja menunggu media remaja, para orangtua menunggu harian dan para ibu menunggu tabloid. Semua sumber bacaan dari media cetak. Ada masa di mana pada sore hari, kalau di keluarga saya, kita akan berkumpul, dan masing-masing membawa bacaannya, lalu keluarlah banyak sekali perbincangan dari apa yang kita baca.
Sekarang?
Sekarang perbincangan dan diskusi banyak diambil dari berita-berita pendek dari timeline dan status orang lain. Saya masih berjuang mengambil buku untuk dibawa ke ajang diskusi dengan anak-anak dan pasangan. Dan sungguh, itu terasa melelahkan.
Karena itu, saya minta ada satu hari untuk anak-anak fokus membaca dan menulis yaitu di hari Sabtu.

Kondisi sekarang berbeda.
Media cetak satu persatu gugur. Karena industri mulai berpihak ke dunia digital, yang setiap individu memegang minimal satu.
Saya ingat perbincangan dua tahun yang lalu, ketika pemilik majalah Luar Biasa seorang motivator ingin menutup majalah. Ada satu pendapat dari seorang agen majalah yang sudah puluhan tahun berada di bidang tersebut. Beliau bilang kondisi memang seperti itu. Satu persatu kios media ditutup dan diganti dengan kios pulsa. Maka bisnis yang menjamur adalah bisnis pulsa.

Penerbit?
Penerbit masih ada. Tapi penerbit tidak mungkin menerbitkan sebuah naskah, tanpa proyeksi pada keuntungan. Untuk buku-buku yang kira-kira agak sulit untuk diterbitkan, semisal buku non fiksi dengan ukuran tebal, ada penerbit yang bertanya lebih dahulu, penulis bisa membeli berapa buku nanti jika buku itu terbit?

Seram pertanyaan itu?
Iya seram sekali untuk saya pertama kali. Meskipun tanpa ditanyai seperti itu, saya biasa membeli buku dari penerbit hingga 100 buku untuk dijual kembali. Kebetulan saya punya marketing sendiri, yang memasarkan dari satu sekolah ke sekolah lain.
Tapi ya itu. Saya tidak berani memasang target, takut target itu meleset jauh.
Belum lama ketika ada naskah yang di acc, saya juga ditanya, berani beli berapa buku? Dengan keyakinan penuh, saya bilang saya bisa beli 100 buku.
Kenapa saya berani?

Satu buku saya, saya endapkan cukukp lama. Lama sekali. Saya riset lama, lama sekali. Lalu ketika di acc penerbit, ternyata komunikasi lancar. Saya melihat proses bukunya, dan akhirnya saya jatuh cinta. Proses jatuh cinta, itu jadi semakin cinta ketika melihat hasilnya. Sebuah buku yang memang sesuai dengan apa yang ada di otak saya. Design huruf, warna buku dan tampilan covernya memang benar-benar sesuai yang saya inginkan.
Ketika sampai pada proses akhirnya buku itu sudah dicetak dan saya pegang, saya bertambah cinta. Melihat satu persatu halamannya, saya semakin cinta.
Dan saya memang berjuang menjual buku itu, baik secara online maupun secara offline. Target 100 buku akhirnya bisa saya penuhi, dan sampai sekarang saya terus memesan ke penerbit buku itu, karena ada teman-teman yang masih menanyakan buku itu.
Buku hasil jerih payah dan keringat saya, kenapa saya mesti malu menjualnya? Apalagi kiri kanan atas bawah, kita digempur oleh buku yang lain yang bisa jadi lebih merusak moral anak-anak kita.

Tekhniknya Pembelian Buku Seperti Apa?

“Tapi, Mbak, aku enggak punya uang untuk beli buku aku?”
Ada pertanyaan seperti itu.
Oh, membeli 100 buku langsung juga tidak saya lakukan. Tapi step by step saya melakukannya.

1. Untuk penerbit yang memberikan DP royalti, maka biasanya, saya tidak ambil uang DP itu. Saya minta agar uang itu diputar dalam bentuk buku.
Bukunya datang, bisa saya jual.

2. Untuk penerbit yang tidak pakai DP, saya membelinya pelan-pelan. Misalnya 20 buku dulu. Setelah 20 buku itu laku, uangnya saya putar lagi, untuk membeli buku yang lain.

3. Ada juga penerbit yang membolehkan membeli buku, dengan dipotong uang royalti kita nanti. Nah itu juga sangat memudahkan penulis yang tidak pegang uang cash pada saat itu.

Tidak akan rugi kok kita membeli buku kita sendiri.
Dari situ kita akhirnya bisa menyortir, buku apa yang harus kita tulis, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan isinya di mata pembaca dan di mata Allah kelak.

Mau Produktif Menulis, Gunakan Sosial Media Seperlunya

buku-buku-solo

“Hai, Mbak. Seneng, deh, bisa kenalan sama mbak di sini.”
“Aku suka tulisan Mbak dari remaja dulu, lho.”
“Boleh main ke rumah?”

Penulis dan sosial media, memang sudah jadi kesatuan utuh. Dari sosial media, penulis yang biasanya bersembunyi di belakang layar, dan membuat pembaca penasaran, akhirnya mulai timbul ke permukaan. Pembaca jadi bisa mengenal seorang penulis yang tulisannya disukai. Di atas contoh dialog yang biasa masuk ke inbox saya.
Tidak dipungkiri, itu salah satu efek kebaikan dari sosial media. Meskipun efek kebaikan itu pastilah akan diikuti dengan efek keburukan juga. Yaitu pembaca melihat penulis sebagai sosok yang sempurna, maka ketika timbul setitik noda di mata mereka, maka mereka akan berbondong-bondong mencaci.

Ada banyak wadah komunitas di sosial media. Saya sendiri memiliki beberapa komunitas menulis dengan anggota terbatas. Banyak komunitas yang gugur, padahal anggotanya ribuan. Menulis adalah kerja cinta. Sama seperti kerja bakti. Kerja bakti membersihkan got itu tidak menyenangkan untuk orang yang tidak cinta mengerjakannya, dan tidak fokus pada keuntungan kebersihan lingkungan. Menulis juga seperti itu. Banyak komunitas yang lebih suka ramai-ramai dan heboh dengan pertemuan di dunia nyata ketimbang kembali fokus menulis.
Satu, dua, tiga masih terus menulis. Empat, lima, enam, bahkan sampai seribu, harus dipecut dulu untuk kembali menulis.

Sosial media akhirnya jadi bumerang untuk penulis.
Lalu bagaimana cara yang efektif menggunakan sosial media?

Gunakan Sosial Media Seperlunya

Ada banyak sosial media.
Saya malah menemukan teman yang itu itu saja di berbagai sosial media.
Tapi saya juga menemukan sesuatu yang baru. Penerbit-penerbit, editor-editor yang mudah ditemui di sosial media. Cara marketing yang dicontohkan teman-teman penulis lain, juga bisa saya dapatkan di sosial media. Bahkan pembeli buku-buku saya, bisa dengan mudah saya dapatkan di sosial media.
Semua bisa kita dapatkan di sosial media. Tapi itu justru yang membuat seorang penulis akhirnya terjerumus. Menganggap sosial media adalah segalanya.
Iya segalanya. Keuntungan dan keberuntungan ada di sosial media. Demi keberuntungan dan keuntungan itu, sikut sana-sini pun mulai terjadi.

Penulis biasa punya banyak sosial media.
Tapi tetap kontrol harus ada di tangan penulis. Banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan menulis, sejak hadirnya sosial media hilang terbang waktu itu tergantikan dengan mengamati status, membuat status bahkan mengomentari status. Ujungnya tulisan yang harusnya selesai tidak jadi selesai. Banyak status penulis yang ujung-ujungnya mengeluh karena target tulisannya tidak selesai.

Ini tips dari saya, agar sosial media bisa bermanfaat dan tidak mengganggu jadwal menulis kita.

1. Buat target tulisan yang harus dibuat
2. Buat list daftar tulisan yang harus selesai.
3. Selesaikan dulu tulisan tersebut, sebelum akhirnya membuka akun sosial media.
4. Batasi penggunaan sosial media dan jadikan itu reward karena kita berhasil menyelesaikan tulisan.
5. Setelah itu harus menulis lagi.
6. Ketika membuka sosial media, langsung fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan dunia menulis saja. Misalnya akun penerbit atau akun teman-teman penulis yang bisa memompa semangat menulis kita.
7. Sepuluh tahun ke depan, jika kita sibuk terus dengan sosial media, maka kita tidak dapat apa-apa. Tapi jika kita terus menulis dan fokus pada tulisan yang akan kita selesaikan, maka tulisan kita menjelma menjadi bentuk lain, misalnya buku atau mungkin pembaca yang tercerahkan dengan tulisan kita.
8. Fokus pada menambah wawasan dengan membaca banyak buku, bukan dengan banyak-banyak membaca status apalagi status saling hujat.
9. Tutup akun sosial media jika itu mengganggu jadwal menulismu.
10. Dan kembalilah ke jalan yang sunyi dengan produktif menulis.

Percayalah, mengurangi sosial media dan menambah produktivitas kita, tidak akan membuat kita menjadi rugi. Materi yang kita hasilkan dari menulis, akan bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan kita dan juga untuk menolong orang lain.

Menulis itu Mudah tapi Jangan Dianggap Sepele

anak

Apa yang selalu saya katakan pada ibu-ibu dan murid-murid yang datang ke rumah. Iya, semua bisa menulis. Menulis itu mudah. Mudah sekali.
Tujuannya tentu saja, agar semua punya antusias yang sama dan akan menganggap bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini, termausk menulis. Bakat hanya bagian kecil yang bisa dikalahkan dengan kerja keras.

Kerja keras. Iya kerja keras.
Maka kerja keras dalam melalui proses menulis itu akhirnya jadi bagian kerja yang super keras.
Anak-anak yang belajar menulis di rumah, ketika tidak didukung orangtuanya, maka mereka malas-malasan datang. Menganggap hanya belajar menulis terus. Padahal dari situ, saya melhat perkembangan proses menulisnya dan mulai memasukkan riset sedikit demi sedikit.

Anak-anak yang didukung orangtuanya, tapi si anak merasa serba mudah alias tidak ada tantangan dan kelihatan sulit diajak berproses karena mungkin dibenaknya tercantum mindset bahwa menulis itu seperti pelajaran di sekolah yang diajarkan gurunya, maka tulisannya akan berputar ke itu itu saja.

Bahkan anak yang didukung orangtua-nya pun, tapi si anak merasa sudah hebat, maka segalanya akan menjadi sulit untuk saya mengajarinya.

Proses itu Mahal

Proses dalam mengejar cita-cita itu mahal. Saya dulu bahkan merasa jadi makhluk asing. Hobi ke perpustakaan, bukan perpustakaan sekolah saja. Tapi semua perpustakaan dulu. Di zaman SMP, SMA di Jakarta, saya senang berpindah dari perpustakaan Soemantri Bojonegoro di daerah KUningan alias Rasuna Said, perpustakaan HB Jassin di TIM, perpustakaan Balai Pustaka, perpustakaan di LIA dan masih banyak perpustakaan lainnya.
Kalau ada teman yang bosan saya ajak ke perpustakaan, maka itu artinya saya pergi sendiri saja. Naik bus ke sana ke mari. Atau saya membaca dalam tempo cepat, sehingga saya puas teman saya juga terpuaskan, karena tidak menunggu saya terlalu lama.

Proses menulis itu yang saya rasakan lebih mahal dari kemampuan menulis saya.
Saya suka baca, senang menulis buku harian. Itu biasa. Biasa menurut anggapan orang lain. Karena banyak anak yang juga melakukan hal itu.
Dan hal yang biasa itu dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa. Tidak mungkin bisa membuat saya jadi apa-apa.

Maka proses menulis sebenarnya adalah belajar menggenggam mimpi sekuat tenaga agar tidak terlepas. Mahalnya adalah karena ketika orang lain sibuk membeli baju baru, saya sibuk membeli buku baru. Ketika yang lain sibuk membaca buku pelajarna dan les sana sini. Saya sibuk dengan buku-buku yang saya suka dan tidak ikut les sana-sini.

Karena itu setelah proses sekian lama, lalu ada yang meremehkan menulis, saya jengkel.
Dulu, ibu-ibu di seputaran rumah menganggap saya menganggur. Dilimpahkan tugas ini itu, dikiran pengangguran, waktunya banyak di rumah. Tapi setelah saya bilang, bahwa saya penulis, tetap mereka menganggap itu bukan pekerjaan, cuma selingan. Alias saya cuma bengong-bengong mengkhayal, persis seperti mereka berkhayal.

Proses itu mahal.
Semahal saya menggeleng dan menutup kursus private di rumah. Karena ibu-ibu yang datang kebanyakan meneruskan untuk tidak menjemput anak mereka tepat waktu. Mereka menitipkan pada saya, sedang akibat dari itu pekerjaan menulis saya terbengkalai.
Murid-murid les datang ke rumah dari pagi sampai malam. Kalau ibunya ingin pergi, itu artinya anak-anak usia TK dititipkan ke saya dan baru dijemput setelah si ibu puas bermain. Mereka tidak paham bahwa pekerjaan saya bukan sekedar mengurus rumah tangga dan mendapat uang dari kursus private yang tidak saya patok bayaran. Karena saya pikir saya masih bisa menghasilkan rupiah dari tulisan saya di media cetak.

“Kenapa ditutup lesnya?” tanya beberapa ibu-ibu.
“Banyak pekerjaan menulis,” jawab saya penuh keyakinan.
Lambat laun akhirnya lingkungan sadar, bahwa saya punya pekerjaan sebagai penulis. Dam menulis itu sebuah pekerjaan serius. Bukan cuma pekerjaan laki-laki saja. Tapi bisa dikerjakan oleh perempuan dan berkantor di rumah.
Maklum mindset kebanyakan ibu rumah tangga, para perempuan tidak perlu berpikir lagi, karena sudah disibukkan dengan urusan dapur, sumur dan kasur.

Bangga Sebagai Penulis

lemari

“Oooh penulis.”
“Oooh bukunya banyak.”
“Oooh setiap hari kerja.”
Dan oh oh lainnya akhirnya jadi pembuka kunci ketidaktahuan para tetangga saya.
Mereka masuk rumah, lihat buku-buku yang saya koleksi, dan boleh pinjam jika ingin ada yang dibaca oleh mereka. Meski kebanyakan juga hanya lihat-lihat saja.

Tapi paling tidak dari sana mereka paham bahwa ada pekerjaan bernama penulis. Pekerjaan itu bukan sekedar mengkhayal, tapi harus banyak baca buku. Pekerjaan itu bisa dikerjakan laki-laki dan perempuan. Pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh ibu rumah tangga dari rumah.

“Ih, kapan karyaku dimuat?”
tanya salah satu murid menulis saya, yang yakin bahwa tulisannya bagus. Padahal dia baru benar-benar belajar dan nilai yang saya berikan berdasarkan kenaikan tingkat untuk setiap prosesnya.
“Aku baca buku aja,” ujar yang lain.
Tulisannya memang sudah bagus di lingkungan sedikit. Bukan di lingkungan yang lebih luas lagi, yang untuk anak seumurannya ternyata banyak yang lebih bagus lagi.

Seorang anak di sudut yang berproses dari tidak bisa menulis sampai akhirnya bisa menulis bagus, tapi dia terus belajar, justru jadi sumber keyakinan saya.
Sedikit polesan lagi, dia akan punya ide bagus dan membuat yang lain tercengang karenanya.

Hasil itu tidak bisa berbohong.
Hasil yang kita dapat itu adalah dari proses yang kita lakukan.

Bank Naskah untuk Apa?

Menulis setiap hari?
Iya, saya tipikal penulis yang harus menulis setiap hari.
Karena menulis untuk saya membantu untuk membuang energi negatif. Eenergi itu saya keluarkan dan saya saring dan peras sari patinya agar bermanfaat untuk diri saya dan orang lain. Bentuknya ya dalam bentuk sebuah tulisan tentu saja.

Menulis setiap hari tentu saja tidak asal menulis.
Saya punya daftar apa yang harus saya tulis.
Apakah tulisan untuk media cetak, atau tulisan untuk saya jadikan buku, atau tulisan untuk saya tulis di blog lalu saya bagikan pada pembaca.
Yang jelas setiap hari komputer saya menyala, persis seperti jam kantor. Jam delapan sampai jam enam. Jeda waktu bisa saya pakai bersih-bersih rumah, ambil jemuran, ke tukang lauk bila sedang malas masak, atau sekedar leyeh-leyeh untuk meluruskan punggung.

Fungsi Bank Naskah

Di bank kita menyimpan uang. Fungsinya tentunya kita berharap simpanan itu bertumpuk, dan suatu saat ketika kita butuh, kita bisa menggunakannya.
Fungsi bank naskah juga seperti itu.
Setiap hari kita menulis. Untuk penulis pasti pahamlah tulisan macam apa itu yang bisa dijadikan tabungan. Tulisan bukan asal tulis tentu saja. Tulisan dengan standar media cetak dan penerbit tentu saja. Tulisan yang enak dibaca oleh orang lain dan isinya bukan keluh kesah tentu saja.

Di komputer kita simpan naskah. Naskah seperti apa?

1. Pastikan yang kita simpan adalah naskah yang menarik. Yang memang benar-benar kita tertarik untuk menyelesaikannya. Kita mengendapkannya atau menyimpannya di bank naskah, karena kita menunggu moment tertentu untuk naskah tersebut. Misalnya lomba penulisan di suatu tempat dengan hadiah tinggi di atas sepuluh juta misalnya.

2. Pastikan naskah itu naskah yang sudah jadi. Artinya memang bukan naskah yang baru judul saja, tapi naskah yang sudah jadi. Hanya butuh revisi ulang dan edit sana-sini.
Naskah seperti ini yang ketika media butuh naskah atau penerbit butuh naskah, bisa cepat dikirim ke sana tanpa perlu bingung membenahi ini dan itu lagi.

3. Pastikan naskah itu adalah naskah yang idenya berbeda. Artinya kalau cuma membuat naskah biasa dan menyimpan di bank naskah di folder kita juga rugi. Karena apa? Karena pasti di setiap kesempatan penerbit atau media selalu mencarinaskah yang berbeda untuk diterbitkan, bukan naskah yang biasa-biasa saja.

4. Trus kapan dapat uangnya kalau begitu?
Kalau naskahmu sudah oke. Ditulis, direvisi, dibaca ulang. Mulailah berteman dengan penerbit atau media cetak. Nanti mereka pada suatu waktu (seringnya akhir tahun) akan membuat pengumuman butuh naskah. Nah, kamu tinggal kirim naskah itu.
Percayalah, jika naskah itu menarik, maka kamu cuma butuh waktu dua hari sampai satu minggu untuk mendapat kabar dari mereka, kalau naskah kamu masuk daftar tunggu untuk diterbitkan.

Jadi untuk yang serius menulis,
ayo mulai dari sekarang buat target.
Lalu menulislah setiap hari biar pikiranmu terasah dan tulisanmu jadi semakin keren.

Perjuangan Bernama Revisi Naskah

revisi

Apa yang dirasakan penulis ketika tulisan dikirim ke media cetak dan penerbit untuk dimuat atau diterbitkan?
Revisi.
Iya revisi.
Sebuah naskah yang dikirim oleh penulis, akan berhadapan dengan editor di media cetak atau penerbit. Dan tugas editor kata teman saya yang kerjaannya sebagai editor adalah mencari kutu. Alias berusaha mencari celah dalam naskah itu, sehingga akhirnya naskah itu menjadi naskah yang sempurna.

Pengalaman Revisi
Saya minim dengan pengalaman revisi.
Kalau zaman dulu, naskah buruk tidak dimuat. Alias kita memang harus menulis bagus jika naskah kita ingin hadir di media cetak dan mendapat honor.
Kita juga harus mencari ide yang berbeda dan unik dari penulis lain, sehingga redaksi tersentuh.
Jadi jangan tanya soal pengalaman revisi. Pengalaman itu minim sekali.

Setelah ratusan karya saya dimuat di media, saya merasa redaksi menjadi sungkan untuk meminta saya merevisi naskah. Paling jalan cerita saja minta ditambahkan atau sedikit dibelokkan.
Di buku juga seperti ini.
Kalaupun ada revisi itu adalah revisi kalimat yang saya gunakan karena tidak efektif.
Di buku Aku Keren kemarin saya merevisi karena kalimat tidak efektif tersebut.

Pernah ada buku non fiksi yang direvisi. Artinya si editor membuat blok merah dan meminta saya menambahi atau mencoba riset lagi. Itu dalam buku “Agar Suami Menjadi Pemimpin Sejati” yang diterbitkan penerbit ProUmedia.
Hasilnya?
Hasilnya saya senang luar biasa.
Saya merasa naskah saya memang harus dibegitukan biar saya sadar, bahwa saya juga memiliki kekurangan sebagai penulis.

Akhirnya…., Pengalaman Revisi
Lalu pengalaman revisi saya dapat darimana?
Sejak September saya ikut Room to Read. Dan prosesnya berlangsung hingga saat ini.

Jadi naskah saya akhirnya terpilih untuk dibukukan di penerbit Litara. Itu artinya naskah harus masuk standar Internasional seperti memang yang dilakukan Room to Read selama ini.
Dan karena saya terbiasa menulis yang panjang, dan fokus pada teks bukan gambar, maka ini adalah pengalaman paling berat yang saya dapatkan.
Naskah saya mentah terus dan terus-menerus direvisi.
Bahkan sampai seringnya permintaan revisi, saya sampai stress kalau buka email.

Tapi dari sini saya menjadi semakin sadar.
Selalu ada ruang baru untuk belajar. Kita sebagai penulis tidak bisa sempurna di semua bidang tulisan. Tapi berjuang untuk bisa adalah suatu keharusan.

Naskah saya belum selesai.
Baru meeting dihadapan beberapa editor dan beberapa ilustrator. Itu artinya naskah dicabik-cabik seluruh bagian untuk dibuat lebih bagus lagi.
Saya nikmati saja prosesnya.
Semuanya.
Semoga naskah saya bisa jadi naskah yang sempurna dan tentu penuh manfaat.

Yang Negatif, Ditulis Saja

IMG_0259

“Kenapa aku harus menulis, Bu?” itu yang ditanyakan anak-anak pada saya.
Kenapa?
Saya sering mengurai pengalaman masa lalu yang membentuk karakter saya hingga saat ini.
Menulis itu membuat saya bisa menahan emosi, bisa juga membuat saya meredam curiga. Bahkan ketika ingin menuduh seseorang, saya bisa merenung dulu untuk dipikir ulang benar atau tidak tuduhan itu?

“Aku kan mau jadi pemain bola bukan penulis?” sanggah anak lelaki saya, yang pernah menang lomba nulis dan sekarang fokus bermain futsal di tim inti sekolahnya.
Biasanya saya akan jelaskan bahwa menulis itu membuat otak berpikir ulang tentang apa yang dilihat lalu disaring untuk dijadikan manfaat.
Menulis juga akan membantu ia meredam emosi.
Memang tidak sesering adiknya menulis. Tapi paling tidak seminggu sekali, saya tetap minta ia mengisi blognya atau hanya sekedar tulisan di kertas. Yang terpenting ia bisa menulis apa yang ada di kepalanya. Sehingga suatu saat kelak, dia jadi terbiasa.
Dan ilmu yang dia dapat bisa bermanfaat untuk orang lain.

Curiga Kita, Tulis Saja

Menulis itu sesungguhnya membuat kita belajar untuk bersikap bijaksana kok. Jika menulis tentang sosok Ibu yang bijaksana, kita sebagai Ibu harus berjuang untuk mengarah ke sana.
Kalau saya sih berpikir, apa yang kita tulis harus apa yang kita kerjakan. Maka perjuangan ke arah itu tetap harus kita lakukan terus-menerus.

Ketika curiga dengan seseorang, saya lebih suka menuliskannya.
Menyaring sikapnya, untuk kemudian bisa saya rangkai jadi pemahaman baru yang bisa dibagi dalam bentuk tulisan pada orang lalin.

Anggap saja diri kita busa alias spon. Ketika ada curiga atau prasangka buruk yang membuat spon kita mengembang, cukup peras dan tulis. Hingga spon itu kembali kosong.
Setelah kosong tentunya kita akan mampu menerima pemahaman baru lagi dari orang lain. Dan yang kita terima harus kita peras lagi.
Berulang kali hal itu terjadi tentu akan membuat segala yang negatif tidak akan betah bertahan di diri kita.

Terus masalahnya adalah, yang kita tulis negatif itu apa, ya?
Mudah kok.
Jika kita bertemu dengan seorang yang menyebalkan, tulis saja orang itu jadi karakter tokoh tulisan kita. Biasanya banyak penulis yang melakukan hal ini. Bahkan murid menulis saya yang masih SD, juga menulis hal ini.
Dia menulis tentang temannya yang sifatnya buruk, mendapat balasan setimpal.

Itu baru tahap permulaan.
Tahapan lainnya adalah. Tuliskan saja hikmah yang kita dapat dari pengalaman dengan rasa curiga itu. Percaya deh, hasil tulisan jadi akan lebih berisi karena kita sendiri berbagi manfaat tentang hal itu.
Misalnya ada seorang yang berkata kasar pada kita, coba renungkan. Jangan-jangan kita yang memulainya dan tidak terasa. Jangan-jangan ia sedang bermasalah. Lalu kita pilih meneruskan sakit hati atau justru melupakannya.
Nah kalau jadi tulisan bisa tulisan tentang seorang yang berteman dengan teman yang biasa berkata kasar tapi dia tidak tertular dengan kekasarannya itu.

Menulis itu Sebenarnya Menghaluskan

“Jangan emosi. Tarik napas panjang terus tulis,” itu biasa saya katakan pada dua abege saya.
Iya menulis membantu kita meredam emosi juga menghaluskan jiwa.
Karena apa, karena semakin banyak kita menulis, tentunya kita akan semakin terasah menyaring apa yang ada di kepala untuk dijadikan tulisan.
Ketika pada awal menulis kita tulis semua yang ada di kepala, maka ketika seratus kali menulis maka apa yang kita tulis tentu akan berbeda. Kita akan mulai bisa menyaring apa yang ada di kepala sehingga tidak semuanya ditulis.

“Tapi kenapa ada penulis yang masih kasar?”
Mungkin tulisan yang dia tulis datangnya tidak dari hati.
Atau mungkin ia merasa menulis itu sekedar menulis saja, tidak perlu idealis menjadi baik seperti yang dia tulis. Jadi menulis itu seperti pakaian saja buat dia, bisa dilepas dan dipakai lagi.

Setiap orang boleh berpendapat berbeda, kan?
Kalau buat saya menulis tetap membuat jiwa saya terasah lebih halus lagi. empati saya terasah lebih dalam lagi.
Dan itu artinya menulis benar-benar jadi sesuatu yang bermanfaat untuk saya.

Room to Read dan Belajar Menulis Lagi

R to R pengumuman

Seorang penulis harus berjuang untuk mau terus-menerus belajar. Itu sih keyakinan saya. Keyakinan seyakin-yakinnya bahwa ketika penulis tidak mau belajar dan langsung puas dengan hasil yang diperolehnya, maka justru itu adalah sumber kematian si penulis.

Saya suka belajar. Sarana apa pun yang bisa membuat saya tambah ilmu, saya akan mencarinya.
Kebetulan nih.
Kebetulan, suatu hari di kelas Kami Penulis Tangguh kita memiliki target untuk menembus lomba. Dan lomba itu audisi Room to Read. Di Merah Jambu Gabungan juga saya tawarkan, adakah yang mau mengikuti audisi tersebut.
Jadi kami sama-sama berdiskusi dengan melihat persyaratannya.
Lalu kami saling upload karya paling tidak untuk memberi tahu kepada yang lain bahwa mungkin kriteria yang diinginkan panitia seperti itu.
Empat naskah di Penulis Tangguh termasuk saya, ternyata Alhamdulillah masuk kriteria tersebut.

Eh tapi Room to Read itu apa, sih?
Room to Read itu sebuah organisasi yang ingin menghadirkan buku-buku yang baik untuk anak-anak. Biasanya buku itu akan disebarkan ke perpustakaan di daerah terpencil.
Itu gambaran umumnya.

Bayangan dan Realitas

Yang terbayang dari acara workshop itu sebenarnya tidak terlalu berlebihan. Kita belajar. Membuat tulisan untuk pictorial book. Itu yang saya pahami.
Tentang pengalaman teman sebelumnya, kalau di sana akan membuat tulisan, maka itu juga bisa saya pikirkan dengan santai. Karena masalahnya saya juga terus menulis setiap hari, jadi soal hambatan ide pasti bisa saya tanggulangi dengan baik.

Panitia meminta untuk membawa netbook alias laptop.
Nah itulah. Saya terbiasa menulis menggunakan komputer yang sudah menyatu dengan jiwa. Iya, tidak mudah untuk saya berpindah dari satu komputer ke komputer lain. Kalau saya sudah cocok dengan sesuatu itu artinya saya akan setia.
Jadi ceritanya laptop di rumah juga ukurannya agak besar. Itu laptop suami. Laptop dengan program ilustrasi dan design yang ribet untuk saya. Lagipula saya tidak mau ribet membawanya. Ada netbook kecil hadiah saya dari pak Mentri Pendidikan dulu ketika dapat Award. Tapi itu sudah saya berikan untuk anak bungsu saya, biar dia produktif menulis.
Tanya sana sini, baca pengalaman yang pernah ikutan workshop hasilnya saya putuskan saya akan menulis di kertas saja. Artinya saya bawa penggaris, pulpen, tip ex sampai rautan pensil. Komplit. Jadi kalau panitia minta hasilnya, tinggal saya foto dan kirim.
Untuk antisipasi, saya download program words di HP saya.

Teruuuus…
Saya cerita hari pertama dulu, ya.

Hari pertama, kami check ini.
Barengan saya dari stasiun Bandung, ada Luthfi, Widya dan Saptorini. Kami naik taksi sampai Green Resort Lembang.
Sampai di sana ternyata check ini baru bisa pukul dua siang.
Kami sampai jam sepuluh. Itu artinya….

14445622_637470359749224_1431247766_n

R to R la

Saya jalan-jalan bersama Fifa Dila asal Malang. Cekrek sana sini. Sampai cari musholla untuk shalat.
Dan ketika jam dua tiba, kami cepat-cepat masuk kamar.
Eit…, sebelum masuk kamar, datanglah Izzah Annisah dari Lampung. Berpelukan.

Oh iya ada masalah nih.
Saya berangkat pagi hari dari rumah. Jam empat saya berangkat karena kereta saya akan berangkat pukul setengah enam kurang. Jadi saya subuh di musholla stasiun. Maklumlah tinggal saya di ujung Bekasi yang tidak mudah dapat kendaraan di pagi hari. Lagipula, lebih baik datang lebih dahulu ketimbang ketinggalan kereta.
Saya bawa bekal air mineral dan beberapa butir kurma.
Udara cukup dingin. Teruuus. Kami hunting ke kamar-kamar penulis lain. Ngobrol sana sini. Dan…, rupanya saya dan Izzah punya masalah yang sama. Kita berdua kelaparan. Hi hi, sampai kita kedinginan. Hingga akhirnya kami cari alternatif main ke kamar Yuniar Khairani dan Saptorini untuk cari pengganjal perut.
Lumayan, lapar sedikit berkurang.
Saya dan Izzah cekikikan setelah itu.

Karena resort maka tanahnya berkontur. Saya dapat kamar di lantai dua. Untuk makan kami harus turun ke bawah, melewati jembatan yang menurun yang di bawahnya ada kolam ikan.
Tempatnya bagus.

aku dan room to read

kamarku

Jam tujuh saatnya makaaaan.
Ada di restoran sistem prasmanan. Nasi beserta lauk pauk silakan ambil sendiri.
Setelah itu kami tidur dan bangun di pagi hari dengan segar dan sarapan lagi.

Saatnya Belajar di Hari Pertama

belajar di room to read

Belajarnya apa?
Belajarnya banyak. Tapi lebih utama pada pembuatan naskah buku anak. Pictorial book.
Susah?
Buat saya susahnya adalah, ketika diajarkan untuk memikirkan awal, tengah dan ending cerita. Padahal hiks, padahal, saya tipe penulis yang tidak punya konsep yang harus dicoret-coret dulu. Semua coretan ada di kepala saya.
Yang mengisi workshop adalah Alfredo Santos dari Filipina. Ada penerjemah. Tapi karena bahasanya mudah dimengerti jadi bisalah. Lagipula untuk menangkap kalimat dalam Bahasa Inggris juga membaca buku Bahasa Inggris saya tidak kesulitan. Yang sulit buat saya adalah ketika bicara Bahasa Inggris. Mulut dan otak rasanya susah connect. Haduh.

Jadi Alfredo menyampaikan materi. Kita dipisah menjadi beberapa kelompok. Saya dengan beberapa teman. Horee, saya kelompok dengan mbak Yuniar dan Saptorini. Kita udah akrab di PT, jadi senanglah.
Setiap kelompok ada pendamping. Kami dapat pendamping mbak Eva Nukman dari Litara (penerbit yang khusus menerbitkan buku bacaan anak dan disebar untuk program perpustakaan di daerah terpencil). Dan Pak Agus Raymon dari Bestari.

kita PT

Alfredo menerangkan sesuatu.
Tangan saya sih bergerak. Bukan buat nyatat. Tapi buat bikin coretan beberapa ide yang kebetulan nempel di kepala.
Oh ya, pada hari pertama kita diminta memikirkan satu ide yang akan kita presentasikan besok.
Alhamdulillah ide itu ada.
Dan editor siap diskusi tentang itu.

Workshop ada waktu istirahatnya. Istirahat untuk coffee break, makan siang, coffee break lagi. Pokoknya soal makanan memang sudah dijamin jadi jangan takut kelaparan.
Hari pertama kita dikasih kertas untuk kita kerjakan perkelompok. Macam-macam pertanyaannya. Termasuk apa yang kita inginkan dalam workshop tersebut.

Hari pertama selesai.
Bawa PR di kepala.
Dan tidur pun mulai resah.

Hari kedua

Hari kedua artinyaaa.
Eit karena membuat pict book adalah masalah baru buat saya, maka tidur saya mulai tidak tenang. Ide udah ada sih. Sudah langsung saya buat jadi adegan pict book. Sudah disetujui editor pendamping.
Seperti biasa saya sih biasa menulis idenya jadi cerita dulu. Baru saya pisah mana awal, tengah dan ending.
Tapi tengah malam saya terbangun. Ada ide lain yang menurut saya lebih menariik.
Langsung saya catat dan selesaikan dalam sebuah cerita.

Eng ing eng, ternyata. Di hari kedua ide saya yang saya dapat itu, kata editor kurang mengena karena tokohnya harus anak dan yang mengambil inisiatif anak bukan orang dewasa, lebih bagus yang pertama.
Maka saya kembali ke ide pertama.

Oh ya ada juga warming up dari Olivia dari Amerika kalau tidak salah. Dia memberi pemanasan dengan mengajak setiap kelompok untuk menciptakan tarian dengan modal, beginning, middle dan ending. Seperti sebuah cerita.
Kelompok kami bikin tarian tentang ikan yang tertangkap dan akhirnya dimasak.
Olivia ini membuat kelas menjadi lebih segar. Karena dia selalu meminta kelompok untuk tampil dan memikirkan jalan cerita yang seru untuk ditampilkan. Mikirnya harus serba cepat.

Oh ya untuk presentasi.
Setiap ide itu dipilihlah satu orang di kelompok yang akan presentasi.
Siapa yang merasa yakin silakan presentasi untuk kemudian diberi masukan oleh teman, Alfredo juga editor dari beberapa penerbit.

Saya diskusi matang pada editor tentang ide itu.
Jadi ketika masuk kamar, saya sudah menggambar dan menulis ide itu. Lalu cekrek, kirim ke panitia.
Maklum kan saya tidak bawa laptop.

Ini editor saya yang kayaknya sih jadi editor favorit dan harapan semua peserta karena kejeliannya. Mbak Eva Nukman.

izzah, aku dan mbak eva

Hari kedua malam ini, karena workshopnya panjang. Dan banyak wajah-wajah yang mulai stress, maka bawaannya masuk kamar udah capek. Saya masuk kamar malah masih ditodong Bungsu dengan pesan soal-soal matematikanya yang minta dibantu cari jalan ke luarnya.
Sambil ngantuk saya ajarkan matematika dan kirim pesan ke WA Bungsu. Ternyata ujungnya pesan itu salah kirim. Untung salahnya ke Saptorini. Dan lucunya Saptorini merasa pesan itu adalah kode dari saya, untuk mengarahkan jalan cerita yang sedang dia buat.
Hari kedua kami dikasih pesan bahwa di hari ketiga, kami akan diminta untuk merevisi naskah yang kami kirim untuk audisi.

Hari Ketiga

PR room to read

Hari ketiga. Wajah-wajah tegang.
Kita dipisah kelompok lagi.
Lagi-lagi saya bersyukur dapat kelompok dengan mentor mbak Eva Nukman dan mas Agus Raymon lagi. Saya sekelompok dengan Fifa Dila juga Maharani Aulia dan Arleen pakarnya pict book karena buku pict booknya udah lebih dari seratus.

Kita diskusi ide yang kita kirim untuk audisi.
Nah, waktu semua sibuk diskusi, saya pindahkan cerita dalam bentuk tabel yang saya buat di kertas ke dalam HP. Ketak ketik di HP. Itu pertama kalinya lho saya menulis di HP.
Jadi saya ulang ketik tabel berisi cerita dan panduan untuk ilustrator. Kirim dalam bentuk words ke panitia.
Beres, saya tidak punya utang tulisan.

Lalu cerita yang kita kirim dibahas. Saya dengarkan masukannya. Lalu saya buat tabel yang baru.
Iya tabel.
Pict book itu penulis bukan sekedar membuat tulisan. Tapi harus memikirkan konsep ilustrasinya yang akan membuat ilustrator jadi mudah nanti menggambarkan ide yang kita tulis.
Porsi terbanyak adalah porsi ilustrator.

Ada presentasi lagi.
Dan pada saat presentasi itu, saya kotak-katik naskah kedua. Saya tulis di HP. Sudah disetujui editor, lalu kirim ke panitia.
Di hari ketiga ini ada materi tentang folktale dari mbak Dina Amalia dari Badan Bahasa. Membahas seberapa banyak kita boleh mengadaptasi dan mengembangkan ide dari cerita rakyat.
Kebetulan yang saya tanya adalah boleh tidak saya membuat cerita dari sudut pandang berbeda? Misalnya Maling Kundang saya buat versi semutnya yang bercerita.
MBak Dina bilang boleh.

Kami masing-masing diberi satu naskah cerita rakyat yang harus kami tulis ulang.
Saya dapat cerita dari Kalimantan Barat dan saya memikirkan sudut pandang berbeda. Cerita ditulis lalu, mbak Eva bilang, sudut pandang itu belum berbeda dan ceritanya masih sama.
Berpikir, berpikir, berpikir.
Teman yang lain juga berpikir, berpikir dan berpikir. Cuma untungnya saya hanya memikirkan satu naskah cerita rakyat, karena dua cerita sudah terkirim. Teman lain ada yang masih ada yang tiga ceritanya belum selesai. Pusing, kan?
Makanya jangan kaget lihat gelas kopi di meja-meja yang ada. Termasuk meja saya.

Room to Read ruang belajar

Hari Keempat

Malamnya saya tidur dengan tenang.
Karena saya merasa tidak akan ada presentasi. Di kelompok saya ada dua orang yang belum presentasi naskah. Saya pikir sebagai senior (cie cie..), saya wajib memberi kesempatan untuk yang mau belajar presentasi.
Tapi ternyata.
Ketika kelas dimulai pada jam setengah sembilan. Mbak Eva bilang. “Nur, kamu yang maju ya untuk presentasi.”
O alah, naskah belum jadi. Yang kemarin masih mentah.
Tapi semalam saya terbangun sih dan tulis judul baru yang nempel di kepala. Judul itu artinya untuk saya, sudah mencakup semuanya.

Presentasi itu artinya…, saya harus ngebut bikin naskah.
Saya tulis di buku. Berikan ke mentor editor saya. Dan dia bilang oke.
Kasih ke mentor lain, dia bilang idenya menarik. Tapi untuk lebih afdol sebaiknya saya tanya mbak Dina. Saya langsung ke mbak Dina dan bilang oke. Itu adaptasi dari cerita rakyat dengan sudut pandang berbeda. Dan tidak masalah kalau akhirnya jadi cerita baru.

Sudah oke. Jam makan siang. Semua menghadap laptop. Saya malah ketak ketik di smartphone bikin tabel.
Saya simpan dan screen shoot. Kenapa screen shot? Soalnya saya belum tahu caranya simpan ke google drive dan sudah dicoba ternyata gagal terus.
Setelah jadi saya kirim.
Satu persatu kelompok maju. Kok saya tidak dipanggil. Ada dari kelompok lain yang maju. Ada yang protes karena aturannya satu kelompok satu orang yang maju. Saya bilang ke mbak Rina dan mbak Rina langsung cari file saya.
Majulah saya.

Maju ke depan.

Saya maju, deh.
Kasih folktale yang saya buat.
Ada yang bertanya kok bisa dibuat seperti itu termasuk Alfredo bertanya pada mbak Dina. Alhamdulillah mbak Dina bilang tidak masalah dan mbak Eva juga membantu memberi penjelasan.

Terus masanya panik.
Karena ternyata panitia minta kita mengirim file yang kita buat dikirim dalam versi ZIP.
Saya kotak-katik HP dan ternyata baru nemu cara simpan ke google drive. Pak Raymon mentor saya juga tanya. “MBak Nur gimana? Mbak Nur kirim pakai apa?”
He he, saya tunjukkan file di HP saya.
Saya kirim dalam versi words.

Selesai.
Kami masing-masing dapat sertifikat dari Alfredo. Kasih kesan dan pesan. Lalu berfoto bersama.

Aku di Room to Read

terakhir di Room to Read

Ada 30 penulis yang masing-masing kirim 3 naskah.
Tapi dari tiga naskah itu, hanya akan dipilih satu naskah saja untuk revisi.
Dan dari 30 naskah itu, hanya akan dipilih 20 naskah saja.
Jadi pulang dari sana, kami masih harus revisi lagi dengan cepat bila ingin naskah itu terpilih.
Kalau saya sih, terpilih atau tidak terpilih pada akhirnya itu masalah rezeki. Yang penting ilmu sudah saya dapatkan.

Sebagai tambahan catatan :

Pict book yang diajarkan terdiri dari beberapa level.
Tapi kemarin sepertinya fokus ke level pemula pertama, kedua dan ketiga.
Pemula dalam artian seperti apa? Saya tanya ke mbak Eva Nukman. Karena berangkat dari pengalaman menurut saya, orang yang tidak terbiasa, bahkan orangtua pun bisa disebut pembaca pemula.
Mbak Eva membenarkan.
Pemula itu range usia 6 -9 tahun.
Kosakata masih sederhana. Jadi tulisan juga harus sederhana dan gambar menguatkan tulisan itu.
Orang yang tidak terbiasa membaca dan belum pernah membaca, meski usia 12 tahun bahkan orangtua sekalipun, bisa masuk katagori ini. Contohnya di daerah-daerah terpencil yang sulit mendapatkan buku.
Semakin meningkat levelnya artinya tulisannya bisa lebih banyak. Misalnya bisa beberapa kalimat. Dan kosakata yang lebih sulit bisa dimasukkan.

Oh ya di Room to Read ini semua transportasi kita diganti, ya.
Plus kita belajar setiap hari di sana, dibayar juga hitungan perhari kok.
Di malam sebelum kita check out semua biaya itu akan dirinci untuk diganti. Karena itu bukti tiket jangan sampai hilang. Print out atau difoto atau bahkan bawa kwitansi untuk ditandatangani supir angkot atau supir taksi yang kita naiki.

Ini catatan sederhana yang nanti kalau ada tambahan lagi, akan saya tambahkan yaaa.

Dalam Menulis Jangan Takut Pada Siapa-Siapa

Banyak yang ingin jadi penulis. Buanyak sekali. Saya temukan permintaan untuk mengajari menulis di sosial media sering membuat saya menggeleng untuk menolak. Sebab berdasarkan pengalaman, banyak yang hanya ingin ikut-ikutan saja untuk menulis. Sekali dua kali lalu bergugurlah dengan target yang saya berikan kepada mereka.

Banyak penulis yang lebih takut pada komentar orang lain. Karena biasanya komentar di sosial media memang lebih pedas daripada cabai. Padahal yang rajin memberi kritik di sosial media bukan kritikus, dan tidak juga menguasai satu jenis tulisan.

Naskah yang kita tulis sepenuh hati, pasti ada celahnya. Pasti tidak ada kurangnya. Sebab kita manusia, jadi khilap salah itu biasa.
Berlandaskan hal sepeti itu, maka kita siap sedia jika ada orang lain yang tidak suka dengan naskah kita. Karena masalahnya bisa jadi bukan terletak pada baik dan buruknya naskah kita. Seringnya karena perbedaan selera bacaan. Bisa juga bahkan merembet pada hal yang lebih pribadi.

Saya menulis sejak dulu, dan saya tidak mau takut pada siapa-siapa.
Kalau saya takut, mungkin langkah saya sudah terhenti jauh-jauh hari.
Menjadi penulis sejak dulu menguntungkan saya. Karena dulu saya berhadapan dengan orang yang tidak lazim dengan pekerjaan saya sebagai penulis. Jadi kalau sekarang hanya naskah yang dibantai tidak jadi masalah untuk saya.
Karena apa yang tulis bukan sesuatu yang dikarang-karang tapi berdasarkan hasil riset.

Penulis yang takut biasanya karena :
1. Naskah mereka tidak ada risetnya. Jadi data yang mereka dapatkan hanya berdasarkan khayalan belaka.
2. Naskah mereka bisa jadi meniru naskah orang lain, baik soal ide maupun soal nyawa tulisan.
3. Naskah mereka mengambil ide dari orang lain atau idenya sama dengan orang lain. Jadi tentu saja takut kalau ada yang mengenali naskah mereka itu.

Penulis tidak boleh takut pada komentar orang lain.
Takut saja pada yang Maha Memberi Ide, jika ide yang kita olah tidak baik, tidak benar, tidak mencerahkan, dan menulis apa saja sesuka hati kita tanpa batasan moral. Takut jika DIA mencabuat amanah ide dari kepala kita.