Perjuangan Bernama Revisi Naskah

revisi

Apa yang dirasakan penulis ketika tulisan dikirim ke media cetak dan penerbit untuk dimuat atau diterbitkan?
Revisi.
Iya revisi.
Sebuah naskah yang dikirim oleh penulis, akan berhadapan dengan editor di media cetak atau penerbit. Dan tugas editor kata teman saya yang kerjaannya sebagai editor adalah mencari kutu. Alias berusaha mencari celah dalam naskah itu, sehingga akhirnya naskah itu menjadi naskah yang sempurna.

Pengalaman Revisi
Saya minim dengan pengalaman revisi.
Kalau zaman dulu, naskah buruk tidak dimuat. Alias kita memang harus menulis bagus jika naskah kita ingin hadir di media cetak dan mendapat honor.
Kita juga harus mencari ide yang berbeda dan unik dari penulis lain, sehingga redaksi tersentuh.
Jadi jangan tanya soal pengalaman revisi. Pengalaman itu minim sekali.

Setelah ratusan karya saya dimuat di media, saya merasa redaksi menjadi sungkan untuk meminta saya merevisi naskah. Paling jalan cerita saja minta ditambahkan atau sedikit dibelokkan.
Di buku juga seperti ini.
Kalaupun ada revisi itu adalah revisi kalimat yang saya gunakan karena tidak efektif.
Di buku Aku Keren kemarin saya merevisi karena kalimat tidak efektif tersebut.

Pernah ada buku non fiksi yang direvisi. Artinya si editor membuat blok merah dan meminta saya menambahi atau mencoba riset lagi. Itu dalam buku “Agar Suami Menjadi Pemimpin Sejati” yang diterbitkan penerbit ProUmedia.
Hasilnya?
Hasilnya saya senang luar biasa.
Saya merasa naskah saya memang harus dibegitukan biar saya sadar, bahwa saya juga memiliki kekurangan sebagai penulis.

Akhirnya…., Pengalaman Revisi
Lalu pengalaman revisi saya dapat darimana?
Sejak September saya ikut Room to Read. Dan prosesnya berlangsung hingga saat ini.

Jadi naskah saya akhirnya terpilih untuk dibukukan di penerbit Litara. Itu artinya naskah harus masuk standar Internasional seperti memang yang dilakukan Room to Read selama ini.
Dan karena saya terbiasa menulis yang panjang, dan fokus pada teks bukan gambar, maka ini adalah pengalaman paling berat yang saya dapatkan.
Naskah saya mentah terus dan terus-menerus direvisi.
Bahkan sampai seringnya permintaan revisi, saya sampai stress kalau buka email.

Tapi dari sini saya menjadi semakin sadar.
Selalu ada ruang baru untuk belajar. Kita sebagai penulis tidak bisa sempurna di semua bidang tulisan. Tapi berjuang untuk bisa adalah suatu keharusan.

Naskah saya belum selesai.
Baru meeting dihadapan beberapa editor dan beberapa ilustrator. Itu artinya naskah dicabik-cabik seluruh bagian untuk dibuat lebih bagus lagi.
Saya nikmati saja prosesnya.
Semuanya.
Semoga naskah saya bisa jadi naskah yang sempurna dan tentu penuh manfaat.

Yang Negatif, Ditulis Saja

IMG_0259

“Kenapa aku harus menulis, Bu?” itu yang ditanyakan anak-anak pada saya.
Kenapa?
Saya sering mengurai pengalaman masa lalu yang membentuk karakter saya hingga saat ini.
Menulis itu membuat saya bisa menahan emosi, bisa juga membuat saya meredam curiga. Bahkan ketika ingin menuduh seseorang, saya bisa merenung dulu untuk dipikir ulang benar atau tidak tuduhan itu?

“Aku kan mau jadi pemain bola bukan penulis?” sanggah anak lelaki saya, yang pernah menang lomba nulis dan sekarang fokus bermain futsal di tim inti sekolahnya.
Biasanya saya akan jelaskan bahwa menulis itu membuat otak berpikir ulang tentang apa yang dilihat lalu disaring untuk dijadikan manfaat.
Menulis juga akan membantu ia meredam emosi.
Memang tidak sesering adiknya menulis. Tapi paling tidak seminggu sekali, saya tetap minta ia mengisi blognya atau hanya sekedar tulisan di kertas. Yang terpenting ia bisa menulis apa yang ada di kepalanya. Sehingga suatu saat kelak, dia jadi terbiasa.
Dan ilmu yang dia dapat bisa bermanfaat untuk orang lain.

Curiga Kita, Tulis Saja

Menulis itu sesungguhnya membuat kita belajar untuk bersikap bijaksana kok. Jika menulis tentang sosok Ibu yang bijaksana, kita sebagai Ibu harus berjuang untuk mengarah ke sana.
Kalau saya sih berpikir, apa yang kita tulis harus apa yang kita kerjakan. Maka perjuangan ke arah itu tetap harus kita lakukan terus-menerus.

Ketika curiga dengan seseorang, saya lebih suka menuliskannya.
Menyaring sikapnya, untuk kemudian bisa saya rangkai jadi pemahaman baru yang bisa dibagi dalam bentuk tulisan pada orang lalin.

Anggap saja diri kita busa alias spon. Ketika ada curiga atau prasangka buruk yang membuat spon kita mengembang, cukup peras dan tulis. Hingga spon itu kembali kosong.
Setelah kosong tentunya kita akan mampu menerima pemahaman baru lagi dari orang lain. Dan yang kita terima harus kita peras lagi.
Berulang kali hal itu terjadi tentu akan membuat segala yang negatif tidak akan betah bertahan di diri kita.

Terus masalahnya adalah, yang kita tulis negatif itu apa, ya?
Mudah kok.
Jika kita bertemu dengan seorang yang menyebalkan, tulis saja orang itu jadi karakter tokoh tulisan kita. Biasanya banyak penulis yang melakukan hal ini. Bahkan murid menulis saya yang masih SD, juga menulis hal ini.
Dia menulis tentang temannya yang sifatnya buruk, mendapat balasan setimpal.

Itu baru tahap permulaan.
Tahapan lainnya adalah. Tuliskan saja hikmah yang kita dapat dari pengalaman dengan rasa curiga itu. Percaya deh, hasil tulisan jadi akan lebih berisi karena kita sendiri berbagi manfaat tentang hal itu.
Misalnya ada seorang yang berkata kasar pada kita, coba renungkan. Jangan-jangan kita yang memulainya dan tidak terasa. Jangan-jangan ia sedang bermasalah. Lalu kita pilih meneruskan sakit hati atau justru melupakannya.
Nah kalau jadi tulisan bisa tulisan tentang seorang yang berteman dengan teman yang biasa berkata kasar tapi dia tidak tertular dengan kekasarannya itu.

Menulis itu Sebenarnya Menghaluskan

“Jangan emosi. Tarik napas panjang terus tulis,” itu biasa saya katakan pada dua abege saya.
Iya menulis membantu kita meredam emosi juga menghaluskan jiwa.
Karena apa, karena semakin banyak kita menulis, tentunya kita akan semakin terasah menyaring apa yang ada di kepala untuk dijadikan tulisan.
Ketika pada awal menulis kita tulis semua yang ada di kepala, maka ketika seratus kali menulis maka apa yang kita tulis tentu akan berbeda. Kita akan mulai bisa menyaring apa yang ada di kepala sehingga tidak semuanya ditulis.

“Tapi kenapa ada penulis yang masih kasar?”
Mungkin tulisan yang dia tulis datangnya tidak dari hati.
Atau mungkin ia merasa menulis itu sekedar menulis saja, tidak perlu idealis menjadi baik seperti yang dia tulis. Jadi menulis itu seperti pakaian saja buat dia, bisa dilepas dan dipakai lagi.

Setiap orang boleh berpendapat berbeda, kan?
Kalau buat saya menulis tetap membuat jiwa saya terasah lebih halus lagi. empati saya terasah lebih dalam lagi.
Dan itu artinya menulis benar-benar jadi sesuatu yang bermanfaat untuk saya.

Room to Read dan Belajar Menulis Lagi

R to R pengumuman

Seorang penulis harus berjuang untuk mau terus-menerus belajar. Itu sih keyakinan saya. Keyakinan seyakin-yakinnya bahwa ketika penulis tidak mau belajar dan langsung puas dengan hasil yang diperolehnya, maka justru itu adalah sumber kematian si penulis.

Saya suka belajar. Sarana apa pun yang bisa membuat saya tambah ilmu, saya akan mencarinya.
Kebetulan nih.
Kebetulan, suatu hari di kelas Kami Penulis Tangguh kita memiliki target untuk menembus lomba. Dan lomba itu audisi Room to Read. Di Merah Jambu Gabungan juga saya tawarkan, adakah yang mau mengikuti audisi tersebut.
Jadi kami sama-sama berdiskusi dengan melihat persyaratannya.
Lalu kami saling upload karya paling tidak untuk memberi tahu kepada yang lain bahwa mungkin kriteria yang diinginkan panitia seperti itu.
Empat naskah di Penulis Tangguh termasuk saya, ternyata Alhamdulillah masuk kriteria tersebut.

Eh tapi Room to Read itu apa, sih?
Room to Read itu sebuah organisasi yang ingin menghadirkan buku-buku yang baik untuk anak-anak. Biasanya buku itu akan disebarkan ke perpustakaan di daerah terpencil.
Itu gambaran umumnya.

Bayangan dan Realitas

Yang terbayang dari acara workshop itu sebenarnya tidak terlalu berlebihan. Kita belajar. Membuat tulisan untuk pictorial book. Itu yang saya pahami.
Tentang pengalaman teman sebelumnya, kalau di sana akan membuat tulisan, maka itu juga bisa saya pikirkan dengan santai. Karena masalahnya saya juga terus menulis setiap hari, jadi soal hambatan ide pasti bisa saya tanggulangi dengan baik.

Panitia meminta untuk membawa netbook alias laptop.
Nah itulah. Saya terbiasa menulis menggunakan komputer yang sudah menyatu dengan jiwa. Iya, tidak mudah untuk saya berpindah dari satu komputer ke komputer lain. Kalau saya sudah cocok dengan sesuatu itu artinya saya akan setia.
Jadi ceritanya laptop di rumah juga ukurannya agak besar. Itu laptop suami. Laptop dengan program ilustrasi dan design yang ribet untuk saya. Lagipula saya tidak mau ribet membawanya. Ada netbook kecil hadiah saya dari pak Mentri Pendidikan dulu ketika dapat Award. Tapi itu sudah saya berikan untuk anak bungsu saya, biar dia produktif menulis.
Tanya sana sini, baca pengalaman yang pernah ikutan workshop hasilnya saya putuskan saya akan menulis di kertas saja. Artinya saya bawa penggaris, pulpen, tip ex sampai rautan pensil. Komplit. Jadi kalau panitia minta hasilnya, tinggal saya foto dan kirim.
Untuk antisipasi, saya download program words di HP saya.

Teruuuus…
Saya cerita hari pertama dulu, ya.

Hari pertama, kami check ini.
Barengan saya dari stasiun Bandung, ada Luthfi, Widya dan Saptorini. Kami naik taksi sampai Green Resort Lembang.
Sampai di sana ternyata check ini baru bisa pukul dua siang.
Kami sampai jam sepuluh. Itu artinya….

14445622_637470359749224_1431247766_n

R to R la

Saya jalan-jalan bersama Fifa Dila asal Malang. Cekrek sana sini. Sampai cari musholla untuk shalat.
Dan ketika jam dua tiba, kami cepat-cepat masuk kamar.
Eit…, sebelum masuk kamar, datanglah Izzah Annisah dari Lampung. Berpelukan.

Oh iya ada masalah nih.
Saya berangkat pagi hari dari rumah. Jam empat saya berangkat karena kereta saya akan berangkat pukul setengah enam kurang. Jadi saya subuh di musholla stasiun. Maklumlah tinggal saya di ujung Bekasi yang tidak mudah dapat kendaraan di pagi hari. Lagipula, lebih baik datang lebih dahulu ketimbang ketinggalan kereta.
Saya bawa bekal air mineral dan beberapa butir kurma.
Udara cukup dingin. Teruuus. Kami hunting ke kamar-kamar penulis lain. Ngobrol sana sini. Dan…, rupanya saya dan Izzah punya masalah yang sama. Kita berdua kelaparan. Hi hi, sampai kita kedinginan. Hingga akhirnya kami cari alternatif main ke kamar Yuniar Khairani dan Saptorini untuk cari pengganjal perut.
Lumayan, lapar sedikit berkurang.
Saya dan Izzah cekikikan setelah itu.

Karena resort maka tanahnya berkontur. Saya dapat kamar di lantai dua. Untuk makan kami harus turun ke bawah, melewati jembatan yang menurun yang di bawahnya ada kolam ikan.
Tempatnya bagus.

aku dan room to read

kamarku

Jam tujuh saatnya makaaaan.
Ada di restoran sistem prasmanan. Nasi beserta lauk pauk silakan ambil sendiri.
Setelah itu kami tidur dan bangun di pagi hari dengan segar dan sarapan lagi.

Saatnya Belajar di Hari Pertama

belajar di room to read

Belajarnya apa?
Belajarnya banyak. Tapi lebih utama pada pembuatan naskah buku anak. Pictorial book.
Susah?
Buat saya susahnya adalah, ketika diajarkan untuk memikirkan awal, tengah dan ending cerita. Padahal hiks, padahal, saya tipe penulis yang tidak punya konsep yang harus dicoret-coret dulu. Semua coretan ada di kepala saya.
Yang mengisi workshop adalah Alfredo Santos dari Filipina. Ada penerjemah. Tapi karena bahasanya mudah dimengerti jadi bisalah. Lagipula untuk menangkap kalimat dalam Bahasa Inggris juga membaca buku Bahasa Inggris saya tidak kesulitan. Yang sulit buat saya adalah ketika bicara Bahasa Inggris. Mulut dan otak rasanya susah connect. Haduh.

Jadi Alfredo menyampaikan materi. Kita dipisah menjadi beberapa kelompok. Saya dengan beberapa teman. Horee, saya kelompok dengan mbak Yuniar dan Saptorini. Kita udah akrab di PT, jadi senanglah.
Setiap kelompok ada pendamping. Kami dapat pendamping mbak Eva Nukman dari Litara (penerbit yang khusus menerbitkan buku bacaan anak dan disebar untuk program perpustakaan di daerah terpencil). Dan Pak Agus Raymon dari Bestari.

kita PT

Alfredo menerangkan sesuatu.
Tangan saya sih bergerak. Bukan buat nyatat. Tapi buat bikin coretan beberapa ide yang kebetulan nempel di kepala.
Oh ya, pada hari pertama kita diminta memikirkan satu ide yang akan kita presentasikan besok.
Alhamdulillah ide itu ada.
Dan editor siap diskusi tentang itu.

Workshop ada waktu istirahatnya. Istirahat untuk coffee break, makan siang, coffee break lagi. Pokoknya soal makanan memang sudah dijamin jadi jangan takut kelaparan.
Hari pertama kita dikasih kertas untuk kita kerjakan perkelompok. Macam-macam pertanyaannya. Termasuk apa yang kita inginkan dalam workshop tersebut.

Hari pertama selesai.
Bawa PR di kepala.
Dan tidur pun mulai resah.

Hari kedua

Hari kedua artinyaaa.
Eit karena membuat pict book adalah masalah baru buat saya, maka tidur saya mulai tidak tenang. Ide udah ada sih. Sudah langsung saya buat jadi adegan pict book. Sudah disetujui editor pendamping.
Seperti biasa saya sih biasa menulis idenya jadi cerita dulu. Baru saya pisah mana awal, tengah dan ending.
Tapi tengah malam saya terbangun. Ada ide lain yang menurut saya lebih menariik.
Langsung saya catat dan selesaikan dalam sebuah cerita.

Eng ing eng, ternyata. Di hari kedua ide saya yang saya dapat itu, kata editor kurang mengena karena tokohnya harus anak dan yang mengambil inisiatif anak bukan orang dewasa, lebih bagus yang pertama.
Maka saya kembali ke ide pertama.

Oh ya ada juga warming up dari Olivia dari Amerika kalau tidak salah. Dia memberi pemanasan dengan mengajak setiap kelompok untuk menciptakan tarian dengan modal, beginning, middle dan ending. Seperti sebuah cerita.
Kelompok kami bikin tarian tentang ikan yang tertangkap dan akhirnya dimasak.
Olivia ini membuat kelas menjadi lebih segar. Karena dia selalu meminta kelompok untuk tampil dan memikirkan jalan cerita yang seru untuk ditampilkan. Mikirnya harus serba cepat.

Oh ya untuk presentasi.
Setiap ide itu dipilihlah satu orang di kelompok yang akan presentasi.
Siapa yang merasa yakin silakan presentasi untuk kemudian diberi masukan oleh teman, Alfredo juga editor dari beberapa penerbit.

Saya diskusi matang pada editor tentang ide itu.
Jadi ketika masuk kamar, saya sudah menggambar dan menulis ide itu. Lalu cekrek, kirim ke panitia.
Maklum kan saya tidak bawa laptop.

Ini editor saya yang kayaknya sih jadi editor favorit dan harapan semua peserta karena kejeliannya. Mbak Eva Nukman.

izzah, aku dan mbak eva

Hari kedua malam ini, karena workshopnya panjang. Dan banyak wajah-wajah yang mulai stress, maka bawaannya masuk kamar udah capek. Saya masuk kamar malah masih ditodong Bungsu dengan pesan soal-soal matematikanya yang minta dibantu cari jalan ke luarnya.
Sambil ngantuk saya ajarkan matematika dan kirim pesan ke WA Bungsu. Ternyata ujungnya pesan itu salah kirim. Untung salahnya ke Saptorini. Dan lucunya Saptorini merasa pesan itu adalah kode dari saya, untuk mengarahkan jalan cerita yang sedang dia buat.
Hari kedua kami dikasih pesan bahwa di hari ketiga, kami akan diminta untuk merevisi naskah yang kami kirim untuk audisi.

Hari Ketiga

PR room to read

Hari ketiga. Wajah-wajah tegang.
Kita dipisah kelompok lagi.
Lagi-lagi saya bersyukur dapat kelompok dengan mentor mbak Eva Nukman dan mas Agus Raymon lagi. Saya sekelompok dengan Fifa Dila juga Maharani Aulia dan Arleen pakarnya pict book karena buku pict booknya udah lebih dari seratus.

Kita diskusi ide yang kita kirim untuk audisi.
Nah, waktu semua sibuk diskusi, saya pindahkan cerita dalam bentuk tabel yang saya buat di kertas ke dalam HP. Ketak ketik di HP. Itu pertama kalinya lho saya menulis di HP.
Jadi saya ulang ketik tabel berisi cerita dan panduan untuk ilustrator. Kirim dalam bentuk words ke panitia.
Beres, saya tidak punya utang tulisan.

Lalu cerita yang kita kirim dibahas. Saya dengarkan masukannya. Lalu saya buat tabel yang baru.
Iya tabel.
Pict book itu penulis bukan sekedar membuat tulisan. Tapi harus memikirkan konsep ilustrasinya yang akan membuat ilustrator jadi mudah nanti menggambarkan ide yang kita tulis.
Porsi terbanyak adalah porsi ilustrator.

Ada presentasi lagi.
Dan pada saat presentasi itu, saya kotak-katik naskah kedua. Saya tulis di HP. Sudah disetujui editor, lalu kirim ke panitia.
Di hari ketiga ini ada materi tentang folktale dari mbak Dina Amalia dari Badan Bahasa. Membahas seberapa banyak kita boleh mengadaptasi dan mengembangkan ide dari cerita rakyat.
Kebetulan yang saya tanya adalah boleh tidak saya membuat cerita dari sudut pandang berbeda? Misalnya Maling Kundang saya buat versi semutnya yang bercerita.
MBak Dina bilang boleh.

Kami masing-masing diberi satu naskah cerita rakyat yang harus kami tulis ulang.
Saya dapat cerita dari Kalimantan Barat dan saya memikirkan sudut pandang berbeda. Cerita ditulis lalu, mbak Eva bilang, sudut pandang itu belum berbeda dan ceritanya masih sama.
Berpikir, berpikir, berpikir.
Teman yang lain juga berpikir, berpikir dan berpikir. Cuma untungnya saya hanya memikirkan satu naskah cerita rakyat, karena dua cerita sudah terkirim. Teman lain ada yang masih ada yang tiga ceritanya belum selesai. Pusing, kan?
Makanya jangan kaget lihat gelas kopi di meja-meja yang ada. Termasuk meja saya.

Room to Read ruang belajar

Hari Keempat

Malamnya saya tidur dengan tenang.
Karena saya merasa tidak akan ada presentasi. Di kelompok saya ada dua orang yang belum presentasi naskah. Saya pikir sebagai senior (cie cie..), saya wajib memberi kesempatan untuk yang mau belajar presentasi.
Tapi ternyata.
Ketika kelas dimulai pada jam setengah sembilan. Mbak Eva bilang. “Nur, kamu yang maju ya untuk presentasi.”
O alah, naskah belum jadi. Yang kemarin masih mentah.
Tapi semalam saya terbangun sih dan tulis judul baru yang nempel di kepala. Judul itu artinya untuk saya, sudah mencakup semuanya.

Presentasi itu artinya…, saya harus ngebut bikin naskah.
Saya tulis di buku. Berikan ke mentor editor saya. Dan dia bilang oke.
Kasih ke mentor lain, dia bilang idenya menarik. Tapi untuk lebih afdol sebaiknya saya tanya mbak Dina. Saya langsung ke mbak Dina dan bilang oke. Itu adaptasi dari cerita rakyat dengan sudut pandang berbeda. Dan tidak masalah kalau akhirnya jadi cerita baru.

Sudah oke. Jam makan siang. Semua menghadap laptop. Saya malah ketak ketik di smartphone bikin tabel.
Saya simpan dan screen shoot. Kenapa screen shot? Soalnya saya belum tahu caranya simpan ke google drive dan sudah dicoba ternyata gagal terus.
Setelah jadi saya kirim.
Satu persatu kelompok maju. Kok saya tidak dipanggil. Ada dari kelompok lain yang maju. Ada yang protes karena aturannya satu kelompok satu orang yang maju. Saya bilang ke mbak Rina dan mbak Rina langsung cari file saya.
Majulah saya.

Maju ke depan.

Saya maju, deh.
Kasih folktale yang saya buat.
Ada yang bertanya kok bisa dibuat seperti itu termasuk Alfredo bertanya pada mbak Dina. Alhamdulillah mbak Dina bilang tidak masalah dan mbak Eva juga membantu memberi penjelasan.

Terus masanya panik.
Karena ternyata panitia minta kita mengirim file yang kita buat dikirim dalam versi ZIP.
Saya kotak-katik HP dan ternyata baru nemu cara simpan ke google drive. Pak Raymon mentor saya juga tanya. “MBak Nur gimana? Mbak Nur kirim pakai apa?”
He he, saya tunjukkan file di HP saya.
Saya kirim dalam versi words.

Selesai.
Kami masing-masing dapat sertifikat dari Alfredo. Kasih kesan dan pesan. Lalu berfoto bersama.

Aku di Room to Read

terakhir di Room to Read

Ada 30 penulis yang masing-masing kirim 3 naskah.
Tapi dari tiga naskah itu, hanya akan dipilih satu naskah saja untuk revisi.
Dan dari 30 naskah itu, hanya akan dipilih 20 naskah saja.
Jadi pulang dari sana, kami masih harus revisi lagi dengan cepat bila ingin naskah itu terpilih.
Kalau saya sih, terpilih atau tidak terpilih pada akhirnya itu masalah rezeki. Yang penting ilmu sudah saya dapatkan.

Sebagai tambahan catatan :

Pict book yang diajarkan terdiri dari beberapa level.
Tapi kemarin sepertinya fokus ke level pemula pertama, kedua dan ketiga.
Pemula dalam artian seperti apa? Saya tanya ke mbak Eva Nukman. Karena berangkat dari pengalaman menurut saya, orang yang tidak terbiasa, bahkan orangtua pun bisa disebut pembaca pemula.
Mbak Eva membenarkan.
Pemula itu range usia 6 -9 tahun.
Kosakata masih sederhana. Jadi tulisan juga harus sederhana dan gambar menguatkan tulisan itu.
Orang yang tidak terbiasa membaca dan belum pernah membaca, meski usia 12 tahun bahkan orangtua sekalipun, bisa masuk katagori ini. Contohnya di daerah-daerah terpencil yang sulit mendapatkan buku.
Semakin meningkat levelnya artinya tulisannya bisa lebih banyak. Misalnya bisa beberapa kalimat. Dan kosakata yang lebih sulit bisa dimasukkan.

Oh ya di Room to Read ini semua transportasi kita diganti, ya.
Plus kita belajar setiap hari di sana, dibayar juga hitungan perhari kok.
Di malam sebelum kita check out semua biaya itu akan dirinci untuk diganti. Karena itu bukti tiket jangan sampai hilang. Print out atau difoto atau bahkan bawa kwitansi untuk ditandatangani supir angkot atau supir taksi yang kita naiki.

Ini catatan sederhana yang nanti kalau ada tambahan lagi, akan saya tambahkan yaaa.

Dalam Menulis Jangan Takut Pada Siapa-Siapa

Banyak yang ingin jadi penulis. Buanyak sekali. Saya temukan permintaan untuk mengajari menulis di sosial media sering membuat saya menggeleng untuk menolak. Sebab berdasarkan pengalaman, banyak yang hanya ingin ikut-ikutan saja untuk menulis. Sekali dua kali lalu bergugurlah dengan target yang saya berikan kepada mereka.

Banyak penulis yang lebih takut pada komentar orang lain. Karena biasanya komentar di sosial media memang lebih pedas daripada cabai. Padahal yang rajin memberi kritik di sosial media bukan kritikus, dan tidak juga menguasai satu jenis tulisan.

Naskah yang kita tulis sepenuh hati, pasti ada celahnya. Pasti tidak ada kurangnya. Sebab kita manusia, jadi khilap salah itu biasa.
Berlandaskan hal sepeti itu, maka kita siap sedia jika ada orang lain yang tidak suka dengan naskah kita. Karena masalahnya bisa jadi bukan terletak pada baik dan buruknya naskah kita. Seringnya karena perbedaan selera bacaan. Bisa juga bahkan merembet pada hal yang lebih pribadi.

Saya menulis sejak dulu, dan saya tidak mau takut pada siapa-siapa.
Kalau saya takut, mungkin langkah saya sudah terhenti jauh-jauh hari.
Menjadi penulis sejak dulu menguntungkan saya. Karena dulu saya berhadapan dengan orang yang tidak lazim dengan pekerjaan saya sebagai penulis. Jadi kalau sekarang hanya naskah yang dibantai tidak jadi masalah untuk saya.
Karena apa yang tulis bukan sesuatu yang dikarang-karang tapi berdasarkan hasil riset.

Penulis yang takut biasanya karena :
1. Naskah mereka tidak ada risetnya. Jadi data yang mereka dapatkan hanya berdasarkan khayalan belaka.
2. Naskah mereka bisa jadi meniru naskah orang lain, baik soal ide maupun soal nyawa tulisan.
3. Naskah mereka mengambil ide dari orang lain atau idenya sama dengan orang lain. Jadi tentu saja takut kalau ada yang mengenali naskah mereka itu.

Penulis tidak boleh takut pada komentar orang lain.
Takut saja pada yang Maha Memberi Ide, jika ide yang kita olah tidak baik, tidak benar, tidak mencerahkan, dan menulis apa saja sesuka hati kita tanpa batasan moral. Takut jika DIA mencabuat amanah ide dari kepala kita.

Mencari Jodoh untuk Naskah Kita

Mencari jodoh itu bukan sesuatu yang mudah. Kalau pengalaman saya seperti itu. Jodoh, orang yang bisa membuat saya terus meningkat secara signifikan dalam segala aspek, harus dicari dengan matang dan keyakinan penuh bahwa saya pasti akan mendapatkannya.
Kalau dulu, saya cuma pingin seorang lelaki yang bisa menggambar. Dan lelaki itu harus bisa melakukan banyak hal seperti bapak saya. Sederhana memang keinginannya. Tapi ternyata sulit juga mendapatkannya.
Yang datang ternyata tidak dengan kriteria tersebut.

Eit…, saya mau ngomong apa, sih?
Yup, soal naskah dan soal jodoh naskah kita. Hampir miriplah dengan jodoh alias pasangan kita. Naskah kita jika ingin diterbitkan harus menemui tempat yang tepat.
Pasangan naskah adalah media cetak atau penerbit. Jika naskah diterbitkan maka sisi enaknya, kita akan mendapatkan honor, dan tulisan kita bisa dibaca banyak orang. Itu artinya manfaat tulisan kita tersebar tidak sekedar jadi penghuni komputer kita.
Setiap orang bebas melakukannya. Mengambil keputusan akan ke mana naskah itu berujung? Mau dicetak terbatas untuk diri sendiri, juga tidak masalah.

Kalau saya?
Kalau saya senang menulis. Senang tulisan saya bisa dibaca oleh orang lain. Kalau bisa dibaca sebanyak-banyaknya oleh orang lain. Karena apa? Karena akhirnya saya berjuang untuk meningkatkan kemampuan menulis saya. Tidak merasa puas hanya tulisan dipuji oleh satu dua orang saja.
Dulu, waktu baru belajar menulis, tulisan selalu saya berikan pada teman-teman yang tahu saya suka menulis. Mereka rata-rata memuji dan bilang bagus.
Iya baguslah. Wong mereka rata-rata tidak terlalu suka membaca seperti saya. Jadi tidak ada bahan perbandingannya.

Standar yang lebih tinggi saya dapatkan ketika naskah saya kirim ke media. Banyak sekali naskah ditolak. Itu artinya cuma satu buat saya. Saya harus menulis lebih baik dan lebih baik lagi.

Jodoh itu Tidak Mudah
Mencari jodoh untuk tulisan kita, entah itu di media atau penerbit buat saya bukan hal yang mudah. Iya kalau mudah tentu tulisan saya bisa setiap hari dimuat di media. Saya kan menulis setiap hari dan mengirim hampir setiap hari.
Kalau hari ini tidak mengirim, pasti besoknya saya bisa mengirim double tulisan saya ke media cetak.

Yang saya tahu jodoh itu harus diperjuangkan sekuat tenaga. Atas nama cinta. Kalau yang mengaku cinta. Kalau saya ukurannya adalah penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor.
Kenapa penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor? Karena saya masih yakin, naskah saya akan dicek oleh orang yang memang mampu di bidangnya. Semua sisi diperhatikan. Dan itu tentu membuat saya bahagia sebagai penulis.

Kalau ingin menjadi penulis yang naskahnya bisa cepat diterima, perjuangannya berat. Menulis setiap hari. Rajin ke toko buku dan menyisihkan dana bulanan untuk membeli buku. Jadi isi kepala penuh. Jadi kita juga bisa paham, mana tulisan yang belum pernah digarap oleh orang lain.
Nah, penerbit atau media suka dengan ide yang unik yang belum digarap oleh orang lain.
Untuk penulis yang sudah punya banyak tulisan, mungkin kriteria tidak terlalu sulit penulis yang baru mulai. Asal naskah tetap harus bagus dan dapat dipertanggungjawabkan.

Okelah semua tulisan ada jodohnya.
Dan kita terutama saya harus berjuang keras untuk mencarikan jodoh itu. Agar tulisan yang saya buat tersebar manfaatnya. Iya , dong. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk sesamanya.

Ada beberapa naskah saya yang ditolak oleh satu media cetak, malah jadi cerita utama di majalah lainnya.
Ada satu buku saya ditunda di satu penerbit, tapi akhirnya saya kirim ke penerbit lain dan berujung pada penghargaan sebagai buku terbaik versi IBF Award.
Ada buku saya yang ditolak dua penerbit dengan alasannya mereka belum punya tempat untuk menerbitkan buku tersebut, sampai saya hampir putus asa, lalu berjuang keras mencari penerbit lain. Ternyata mendapatkan tempat yang baik dan naskah digarap dengan sangat baik di penerbit tersebut.

Lalu apa yang harus dilakukan penulis dengan naskahnya?

1. Tulis yang terbaik. Kalau penulis yang sudah lama seperti saya, biasanya dapat order dari penerbit atau media. Dan tetap saya harus berjuang menulis yang terbaik.
2. Ke toko buku dong. Lihat dan bandingkan. Lihat buku-buku yang diterbitkan macam-macam penerbit. Dengan begitu kita bisa tahu, ide yang mana yang belum ada. Nah itu itu yang harus kita tulis.
3. Add fanpage penerbit atau twitternya. Biasanya penerbit besar sering membuat pengumuman menerima naskah. Nah cepatlah kirim ke penerbit tersebut. Pengalaman saya, ketika mengirim setelah pengumuman itu dibuat, naskah akan cepat di acc. Naskah novel anak karya saya pernah di acc dalam tempo dua hari setelah kirim. Buku saya yang akan terbit di acc seminggu setelah saya kirim.
4. Nah, kalau ingin seperti ini, tentu harus menulis setiap hari. Sehingga memiliki banyak tabungan naskah.
5. Kalau naskah ditolak, cari penerbit lagi. Ditolak lagi, cari lagi. Sampai akhirnya kita paham apakah naskah kita benar-benar layak terbit? Kalau naskha benar-benar layak terbit, yakinlah pasti akan ada saatnya naskah itu diterima oleh satu penerbit.

Kenapa Penulis Harus Promosi Bukunya?

Aku Keren

Pahala mengalir. Itu memang sengaja yang saya kejar dari menulis. Karena itu sekarang bukan lagi saya hanya sekedar menulis dan menuangkan ide. Atau hanya sekedar naskah dimuat atau buku terbit. Lalu saya terima honor atau royaltinya.
Tidak, tidak seperti itu.

Ada banyak yang saya kejar, terutama pahala mengalir, yang akan membuat saya menjadi terbantu di hari setelah kematian nanti. Ada tiga pahala mengalir yang saya paham betul memang dijanjikan untuk setiap muslim. Yaitu; 1. doa anak yang saleh, 2. Ilmu yang bermanfaat 3. amal jariyah.
Menulis yang bermanfaat untuk saya akan mengalirkan pahala berupa ilmu yang bermanfaat. Ketika kita tidak ada kelak, maka ilmu bermanfaat dari tulisan-tulisan kita yang dibagi lagi oleh orang yang membaca dan dijalankan, akan bermanfaat untuk kita.

Ilmu yang bermanfaat harus disebar.
Kenapa harus disebar? Karena dengan begitu orang akan meniru dan ingin ikut menjalani.
Ilmu yang bermanfaat dalam bentuk buku, juga harus disebar. Jadi orang paham bahwa diantara ribuan buku yang terbit, ada buku yang bermanfaat untuk orang lain.

Penulis di Zaman Sekarang

Setiap orang yang ingin maju, harus berani ke luar dari zona nyaman.
Saya penulis dari era masa lalu alias zaman jadul. Saya biasa nyaman tanpa ribet harus tampil ke permukaan. Maklum bukan karena saya yang pemalu, seperti kebanyakan para penulis lainnya. Tapi karena memang pada zamannya dulu, kita penulis hidup nyaman. Media cetak banyak yang membeli. Yang dilihat karya bukan si pembuat karya.
Buat saya waktu itu, yang penting saya menulis dan biaya kuliah saya lancar.

Penulis di zaman sekarang, terhubung dengan media sosial.
Sempat ikut-ikutan juga saya upload foto-foto wajah. Maklum belum paham bagaimana bermain di media sosial. Apalagi ketika bermain di media sosial, yang saya temui banyak yang mengaku penulis dan sering upload foto. Tapi ternyata mereka tidak menulis. Kalaupun menulis hanya satu dua karya saja.
Akhirnya memang saya menemukan format yang asyik untuk saya di media sosial.
Sesekali pasang foto tidak masalah asal jangan terlalu sering. Wong saya juga tidak cantik seperti para model. Sudah berumur pula.
Tapi sering-seringlah saya akan upload karya saya di media sosial. Buat apa? Biar orang tahu, dong, kalau menulis itu sebuah pekerjaan. Jadi bukan sekali dua kali saja karya bisa hadir di media cetak. Tapi bisa ratusan bahkan ribuan kali. Dan untuk mencapai karya yang banyak tentu harus mau menulis bukan sekedar bilang saya penulis tapi tidak pernah menulis selain hanya menulis di status.

Okelah penulis di zaman sekarang itu artinya saya harus paham.
Bahwa banyak dari pembaca yang tidak ingin sosok penulisnya itu sekedar bayang-bayang. Itu artinya penulis harus muncul ke permukaan. Tampil sedikit tapi bukan bergaya ala model. Sebab nanti malah yang dijadikan rujukan bukan tulisannya tapi gayanya. Kalau saya takutnya, saya sebagai pribadi malah takut kalau nanti terpeleset pingin dipuja dan dipuji. Sehingga harus terus-terusan eksis dengan tampilan diri, tampilan baju, dan ujungnya mengeluarkan semua sudut rahasia diri kita.
Biarlah penulis lain seperti itu, sedang saya lebih suka cari jalan yang berbeda.
Jalan yang berbeda saya seperti apa? Jalan berbeda saya adalah saya akan terus-menerus menulis, terus menerus menampilkan status tentang tulisan yang sudah dibukukan dan hadir di media cetak.
Dengan begitu orang jadi paham bahwa saya terus menulis.

Promosi oh Promosi
Pernah lihat iklan?
Iklan di televisi atau dengar di radio?
Apa yang dilakukan iklan itu?
Yaitu memasarkan produknya. Setiap hari, terus-menerus, hingga melekat di benak yang melihat atau mendengar. Ujung-ujungnya mereka yang mendengar atau melihat akan membeli produk iklan tersebut.

Dalam tempo tertentu, seperti buku yang pernah saya baca semasa kuliah dulu (ops, sayangnya saya lupa judulnya). Bahwa produk yang sudah lama, biar tetap melekat di benak konsumennya harus diganti covernya dan diulang lagi promosi seperti pada awalnya.
Makanya sering kan kita lihat produk minyak, misalnya, berganti warna kemasan atau dirubah logonya atau bahkan berganti namanya?

Lalu promosi buku seperti apa?
Tidak seheboh promosi yang di televisi tentu saja. Karena selama ini promosi buku banyak bertumpu pada penulisnya. Penerbit akan membantu, tapi jika penulis itu dianggap mampu untuk meraup pembeli yang banyak. Seperti contoh penulisnya seorang artis alias public figure.
Kalau yang bukan dari kalangan artis seperti apa?

Begini.
Media sosial membuat penulis memiliki kekuatan penuh untuk meraih pembaca.
Kalau saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa saya penulis dan bukan orang yang menghasilkan tulisan dari sekedar berkhayal. Saya menulis dengan riset dan pengalaman yang mendalam. Itu artinya, pembaca status saya akan paham hal itu.
Jadi suatu ketika saya menelurkan sebuah buku, mereka paham buku saya memang datang dari ide yang saya benar-benar melakukan riset untuk itu. Dan tentu saja hasilnya karya saya itu bisa dipertanggungjawabkan.
Media sosial membuat kita bisa terhubung banyak orang, banyak calon pembeli. Ketika mereka suka dengan gaya tulisan dan pemahaman kita, maka akan mudahlah sebenarnya meraup pembeli.
Jujur saya belajar marketing pada adik kandung saya.
Yang paling terasa adalah saya harus yakin dengan karya yang saya buat. Karena ketika saya yakin karya saya bermanfaat, maka orang lain akan tertular keyakinan itu. Lalu setelah tertular mereka akan mau membeli untuk membaca dan menikmati karya tersebut.

Membeli Buku dari Penerbit

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya selalu membeli buku yang terbit dari penerbit. Buku karya saya. Saya punya target membeli 100 buku dari sana untuk dijual kembali.
Itu artinya, lebih baik terbit indie, dong? Begitu yang dulu terlintas di benak saya.
Iya, indie. Saya bisa cetak buku sesuka hati, lalu jual. Berharap dapat meraih keuntungan dari 100 buku yang terjual.
Hiks, tapi ternyata tidak semudah seperti itu.
Energinya berbeda.
Di penerbit, saya kirim naskah, ada editor, ada tim marketing yang akan mendistribusikan buku-buku ke mana saja. Karena apa? Karena mereka harus menghidupi karyawan mereka. Penulis cuma dapat 10 persen royalti atau lebih sedikit.

Jika menerbitkan sendiri, maka saya akan menanggung biaya cetak, dan biaya lay out buku juga editing. Soal layout tidak masalah karena suami ilustator.
Tapi entah kenapa kendala itu selalu datang pada saya. Sehingga akhirnya saya berpikir, penulis lain mungkin bisa menerbitkan indie, tapi saya belum saatnya. Saya tidak boleh hanya melulu memikirkan keuntungan belaka. Saya cukup menulis, bantu promosi dan beli buku dari sana untuk dijual.
Dan itu artinya win win solution.
Penerbit menerbitkan buku. Saya dapat buku yang editing terjaga, cover menjual. Lalu saya beli buku saya untuk dijual kembali dengan harga diskon dari penerbit. Saya ke luar uang, tapi saya puas dengan hasilnya. Di samping itu jika penerbit berkelas yang mengeluarkan buku saya, maka orang punya tambahan keyakinan bahwa naskah saya memang benar-benar oke.

Saya biasanya akan menggandeng adik saya untuk jadi marketing buku saya. Adik saya ini memang sejak kecil suka berdagang. Energinya energi penjual. Jadi setiap buku saya terbit minimal 100 buku yang saya beli bisa dijual olehnya. Dengan catatan, semua pembeli minta saya memberi pesan khusus untuk mereka di buku yang mereka beli.

Akhirnya,
balik lagi ke pahala mengalir.
Ada rezeki mutlak, ada rezeki ikhtiar. Rezeki mutlak itu akan datang kepada kita meski kita tidak mencarinya. Contohnya warisan. Sedang rezeki ikhtiar beda lagi. Rezeki ikhtiar adalah rezeki yang harus kita ikhtiarkan.
Agar karya kita dikenal orang lain, dibaca dan terasa manfaatnya oleh orang lain, maka kita wajib sebagai penulis memiliki ikhtiar untuk itu.
Kasih foto dengan tanda tanga? Sudah enggak zaman.
Kasih reward aja.
Saya sendiri mencoba memberi reward kelas menulis selama satu minggu untuk yang membeli buku saya. Karena apa? Karena saya paham, saya dikenal sebagai penulis yang bisa dan biasa mengajar kelas menulis online. Karena itu reward seperti itu menyenangkan untuk mereka.

Akhirnya,
mari promosi buku sendiri.
Sepanjang buku itu bermanfaat agar pesan bisa terbaca banyak orang.

Pertanyaan Penulis Pemula yang Harus Dijawab Dengan Tanya

meja kerja saya

Penulis?
Punya akun di sosial media?
Banyak tulisan yang muncul di media? Atau buku muncul di penerbit? Maka bersiap-siaplah dengan pertanyaan yang akan menghujani kita dari berbagai individu, yang mau menulis juga untuk media dan penerbit.

Tidak semua pertanyaan bisa dijawab.
Saya membatasi diri. Menjawab satu pertanyaan di kolom komentar, hanya akan membuat yang lain ikut bertanya.
Kenapa mesti dibatasi? Karena sebenarnya jawaban pertanyaan itu bisa didapat, kalau yang bertanya mau untuk meluangkan waktu ke toko buku atau ke lapak majalah dan koran, pasti pertanyaan itu bisa terjawab.

Pertanyaan apa saja yang pada akhirnya saya jawab dengan pertanyaan?

1. “Mbak cara kirim tulisan ke majalah A gimana?”
Maka biasanya saya akan bertanya,” Sudah pernah baca dan beli majalah A tersebut?
Nah, biasanya yang bertanya seperti ini tidak akan bertanya lagi. Sebab kalau bertanya lagi biasanya saya akan meminta mereka untuk cari medianya dan membelinya, jadi bisa tahu isi media tersebut.

2. “Mbak berapa honor untuk satu tulisan di majalah B?”
Saya akan jawab, ” Sudah buat tulisan untuk majalah B?”
Banyak yang bertanya hanya tergiur pada kata honor. Tapi mereka hanya berangan-angan untuk menulis saja. Tidak pernah menuntaskan tulisannya.

3. “Mbak, tulisan untuk majalah C berapa halaman?”
Saya akan tanya,” Kamu sudah pernah baca tulisan yang ada di sana?”
Banyaknya halaman masalah mudah. Karena sebetulnya kalau yang bertanya mau berjuang, mereka bisa copas tulisan yang sering saya upload yang sudah dimuat di media. Setelah copas di words bisa terlihat berapa halaman lembar tulisan yang saya buat. Soal font itu masalah selera. Kalau idenya sudah disuka redaksi maka segalanya akan jadi mudah.

4. “Mbak, ide yang bisa dimuat di media N seperti apa?”
Saya akan balik bertanya,” kamu sudah pernah baca tulisan di media N?”
Lagi, lagi banyak yang bertanya soal ide, tapi sebenarnya mereka tidak mau membeli media yang ingin mereka kirimi tulisan. Mereka juga tidak mau membaca contoh tulisan yang banyak tersebar di blog-blog penulis yang karyanya sudah dimuat di media tersebut.
Alasannya karena tidak punya waktu dan sayang pulsa.
Kalau sudah begitu, jangan harap bisa jadi penulis.

5. “Mbak, kok naskah mbak dimuat terus, naskah aku enggak?”
Maka akan saya tanya,” berapa banyak kamu kirim tulisan?”
Saya menulis setiap hari mengirim tulisan ke media setiap hari. Yang bertanya menulis tujuh bulan yang lalu, mengirim tujuh bulan yang lalu. Dan berharap satu naskah mereka yang terkirim itu bisa dimuat dan menghasilkan uang untuk mereka.

6. “Mbak, kalau mau buat buku, ide seperti apa ya yang diterima?”
Maka saya akan bertanya juga,” Kamu suka baca buku? Suka main ke toko buku?”
Nah, ini juga yang sering jadi masalah. Yang bertanya lebih suka ke bioskop daripada ke toko buku, tapi mereka berharap bisa menulis buku.

7. “Mbk aq sk nls tp…”
Nah untuk yang bertanya seperti ini biasanya saya malas untuk menjawab. Sebab untuk menjadi penulis harus berjuang untuk tidak menyingkat tulisan.

Jangan pelit membagi ilmu memang.
Tapi untuk kondisi tertentu di mana minat baca semakin menurun, dan banyak media cetak yang gulung tikar, sedang banyak sekali individu yang ingin menjadi penulis tapi mereka tidak suka membaca dan merasa mahal untuk membeli media cetak juga buku, solusi itu yang akhirnya saya ambil.
Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan dengan tujuan baik.
Berharap setelah itu mereka mau berjuang bukan sekedar bermimpi menjadi penulis, tapi berjuang untuk terus mengisi kepala dengan ilmu dari buku atau media cetak yang mereka baca.

THR-nya Penulis Lepas

mesin tik ku

Apa yang paling terasa ketika akhir Ramadan untuk penulis?
THR alias tunjangan hari raya. Yang bekerja di kantor, yang punya majikan, akan mendapatkan THR. Penulis lepas, tidak terikat kantor manapun pastinya harus menerima kenyataan. Mereka tidak mendapatkan THR dari kantor. Ada satu dua hadiah dari klien, tapi tentu bukan THR.

Tapi masa segitu mirisnya kehidupan penulis?
Dari tahun ke tahun saya merasakan Ramadan sebagai penulis lepas, dan ternyata dapat THR. THR dalam bentuk yang lain. THR seperti apa itu?

1. THR dari royalti buku-buku saya yang sudah terbit. Ada beberapa buku yang terbit, yang royaltinya setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Dan ternyata royalti itu selalu pas dengan waktu menjelang akhir Ramadan. Alhamdulillah royalti itu bisa jadi uang saku untuk pulang mudik.

2. THR dari buku-buku yang akan terbit. Ada buku-buku yang memang jual putus. Dan tahun ini, dua buku yang jual putus malah jatuhnya tanggal pembayaran pas di sepuluh hari sebelum Ramadan. Tambah deh uang saku untuk mudik.

3. THR dari DP buku yang akan terbit. Nah ada beberapa penerbit yang memberikan DP royalti untuk buku yang akan terbit. Kalau terbitnya setelah Ramadan, maka DP itu bisa kita dapat. Tambah lagi deh uang saku kita.
In syaa Allah dua buku saya dengan sistem royalti akan terbit juga setelah Ramadan.

3. THR dari honor tulisan di media cetak. Nah yang ini prinsipnya asal terus menulis dan terus mengirim tulisan, maka tidak akan rugi judulnya.

4. THR dari honor menulis di blog. Nah, kalau sudah biasa menulis blog, maka biasanya akan ada agen yang mencari penulis dan menawari order menulis. Kalau sudah mau lebaran, biasanya bukan cuma minta satu tulisan tapi bisa sampai sepuluh tulisan. Asal berani pasang harga untuk tulisan kita, dijamin honor order itu akan membuat kantong kita menjadi penuh di bulan Ramadan.

Pada akhirnya fokus saja ibadah di bulan Ramadan sambil tidak lupa bekerja. Baca Al Quran dan terjemahan hingga kita memahami maknanya bukan sekedar deretan huruf saja. Berdoa yang banyak, karena doa orang yang berpuasa akan langsung tembus ke langit.
Yang terpenting, sebanyak apapun THR yang didapat, jangan berfoya-foya. Begitu dapat harus langsung sisihkan untuk disedekahkan kepada yang berhak, jangan pakai ditunda. Tidak menunda hak rezeki orang lain yang di tangan kita itu, yang akan membuat Allah tidak akan menunda permintaan kita.

Yang terpenting, setelah lebaran saya akan tetap jadi penulis. Tentu saja saya harus tetap menulis jika ingin terus ada penghasilan.

Menulis Membuat Awet Muda

“Ooooh, saya kira umurnya baru….. Tahunya sudah…”
Itu kalimat kesekian dari sekian banyak orang yang bertemu dengan saya. Dulu bikin ge er. Tapi sekarang disyukuri sebagai bagian nikmat menjadi penulis.
Dulu sering tidak dipercaya ketika mengajukan untuk kegiatan ini dan itu. Bahkan ketika mewawancarai tokoh tertentu. Dianggap anak kecil yang sok tahu. Sekarang tentu tidak lagi.

Ini bukan masalah minum jamu atau lain sebagainya. Banyak obat awet muda. Tapi menurut saya obat yang paling ampuh untuk membuat awet muda adalah dengan menulis.
Kenapa?
Penulis membuat awet muda. Memang. Karena semua beban bisa tuntas ketika ditulis. Jadi tidak menyimpan beban lagi di hati. Karena orang yang membenci kita bahkan bisa bebas kita masukkan jadi tokoh dalam tulisan. Mau kita buat nasibnya buruk atau baik, terserah kita. Yang jelas beban kita jadi terangkat setelah membuat tokoh itu terombang-ambing nasibnya dalam tulisan kita.

Penulis membuat awet muda. Karena ketika ada masalah, saya tidak tidur dengan membawa masalah. Begitu masalah menyentuh saya. Langsung ide-ide bertumpuk di kepala. Dan saya langsung mengeluarkannya jadi tulisan. Untuk saya bermanfaat karena saya bisa jadi menemukan solusinya. Dan untuk orang lain yang membacanya saya berharap apa yang saya tulis bisa diambil manfaatnya oleh mereka.
Jadi kalau marah sama suami? Tulis. Marah sama anak? Tulis. Saya menjadi ringan tanpa beban. Dan rumah tangga nyaman tanpa perlu tarik otot melampiaskan emosi.

Penulis membuat awet muda, karena dunianya penuh warna-warni. Kadang menciptakan tokoh sempurna dan akhirnya jatuh cinta pada tokoh itu. Meski jeleknya, kadang-kadang tokoh itu seperti menjelma dalam kehidupan nyata. Tiba-tiba ada orang yang sikap dan karakteryna seperti tokoh yang kita ciptakan.

Penulis jelas membuat awet muda. Apalagi saya yang menulis di berbagai genre. Kadang-kadang saya bisa jadi anak-anak ketika menulis cerita anak. Atau saya jadi remaja kembali ketika menulis cerita remaja. Jadi dewasa ketika menulis cerita dewasa. Dan jadi orang yang penuh logika ketika menulis artikel. Dunia saya seperti berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Dan setiap ruangan itu menyajikan pemandangan yang berbeda juga pengalaman yang berbeda.
Dan tentu saja pengalaman seperti itu tidak bisa dimiliki oleh setiap orang.

Penulis memang harusnya awet muda. Khususnya fiksi, dunianya penuh imajinasi. Meski kadang-kadang ada buruknya. Saya sering tidak connect di dunia nyata. Karena kadang-kadang saya melamun sendiri. Dan tidak sadar ketika orang memanggil-manggil saya, kecuali menyentuh saya. Keluarga inti sudah paham hal itu. Tapi orang lain seringnya menganggap saya tulalit.
Kalau sudah begitu saya wajib memaksakan diri untuk tetap fokus di dunia nyata dan tidak membiarkan pikiran melantur ke mana-mana.
Yang seperti ini juga membuat saya butuh mengobrol ketika di kendaraan umum. Ngobrol dengan orang lain. Itu untuk menjaga agar saya tetap fokus dan tidak tenggelam dengan lamunan.
Ini juga yang membuat saya tidak berani ke jalan raya dengan kendaraan sendiri. Karena beberapa kali saya terkejut mendengar bunyi klakson orang lain. Kalaupun terpaksa, saya harus beberapa kali menarik napas panjang, agar tetap fokus dan tidak masuk ke dunia imajinasi.

Penulis membuat awet muda. Tanpa perlu ke salon. Karena saya memang tidak suka ke salon. Tanpa perlu cream anti aging. Karena saya yakin, kerut itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Yang terpenting, selalu membuka hari dengan bersyukur. Iya bersyukur, saya masih bisa menulis dan melepaskan beban-beban yang saya miliki untuk jadi tulisan.
Berniat awet muda?
Ayo mulai menulis.

Begini Cara Kirim Naskah ke Penerbit

IMG-20160507-WA0001

Ada banyak pertanyaan dari penulis pemula. Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Karena jawabannya bisa ditemukan di banyak tempat. Tinggal ambil smart phone. Lalu ketik penerbit dan alamatnya. Maka akan ketemulah nama penerbit.
Lalu cari kriteria kirim naskah. Dengan mencoba klak klik halaman yang ada. Harus mau mencari. Kalau malas mencari, jangan harap orang lain mau mencarikan untuk kamu.

Ada banyak penerbit.
Umum dikenal dengan mayor, penerbit besar. Penerbit yang menerbitkan buku kita dengan sistem perjanjian. Kita cuma modal naskah bagus saja. Lalu mereka akan menerbitkan dan menjualkan. Kita dapat royalti beberapa persen dari buku yang mereka jual itu. Royalti turun sesuai perjanjian. Ada yang pertiga bulan, ada yang enam bulan.
Dan untuk tahu sistem royalti ini, ada baiknya kalian menulis dulu, punya karya dulu, kirim naskah dulu, tunggu di acc dulu, baru akhirnya paham seperti apa sistem royalti berjalan.

Ada penerbit indie.
Penerbit indie ini adalah jalur indipendent alias mandiri.
Jadi kalau kamu merasa punya naskah bagus, punya uang, terus dengar kata teman-teman susah masuk ke penerbit mayor, maka biasanya penerbit indie yang dilirik. Tapi ya itu. Mereka akan menerbitkan buku kamu sesuai budget yang kamu punya. Kamu punya lima ratus ribu, akan dicetak sesuai dengan dana itu.
Untuk lay out, EYD kamu masih harus keluar kocek lebih dalam lagi untuk itu.
Mereka juga akan menayangkan buku kamu sesuai order. Jadi naskah kamu akan dijual online.

Untuk kamu yang baru belajar nulis, saya tidak sarankan penerbit indie. Karena kamu harus melewati proses menulis yang membuat kamu sadar, bahwa menjadi penulis yang baik itu tidak gampang. Bukan sekedar punya naskah sampai selesai saja lalu terbit. Tapi naskah itu memang idenya harus benar-benar bagus.
Untuk orang yang sudah punya massa seperti pembicara seminar, jalur indie yang dipilih karena lebih cepat. Lagipula mereka sudah punya massa yang pasti akan membeli buku itu.

Ada banyak penerbit.
Browsing penerbit saja, maka akan banyak nama penerbit bermunculan.
Baca lebih jelas lagi. Lebih mantap kalau jalan ke toko buku. Di toko buku biasanya yang dijual buku-buku dari penerbit mayor.
Ambil salah satu buku itu. Beli satu atau dua buku. Jangan malas merogoh kocek untuk membeli buku. Terus baca isi buku itu. Lihat nama dan alamat penerbitnya. Lihat alamat email dan nomor teleponnya. Kalau punya pulsa langsung telepon tanya-tanya. Atau kirim email ke sana.
Hiks,
saya suka sebel kalau ditanya kirim ke penerbit ini dan itu larinya ke saya, bukan ke penerbitnya. Bahkan murid-murid yang belajar privat di saya pun, saya minta untuk kirim surat pertanyaan ke redaksi penerbit untuk mendapat jawaban dari mereka sendiri. Jadi bukan melalui saya.

Setelah kamu baca buku terbitan mereka yang kamu beli, kamu bandingkan dengan tulisan yang kamu buat.
Kalau yakin kirim saja ke mereka.
Jangan lupa sertakan kata pengantar yang sopan. Jangan asal kirim.
Karena penerbit mayor biasanya antri maka jangan kirim hari ini lalu minta jawaban besok.
Ada penerbit mayor yang baru menjawab setelah sekian bulan. Ada yang dua bulan juga sudah dapat jawaban.

Apakah penerbit mayor pilih-pilih penulis?
Tergantung.
Kalau kamu punya naskah bagus dan ide yang benar-benar beda, saya yakin naskah itu akan membuat penerbit jatuh hati dan mau menerbitkannya.
Tapi kalau naskahmu hanya naskah biasa, kisah cinta biasa, sama seperti novel-novel yang sudah ada, jangan heran kalau naskah kamu tidak akan dilirik oleh penerbit tersebut.

Terus gimana cara agar ide itu terasa unik?
Wajib banyak baca, bukan banyak mimpi.
Dari banyak membaca, bisa paham ide mana yang belum ditulis oleh penulis lain.

Jadi tugas kamu sekarang.
Browsing nama penerbit.
Lihat buku-buku hasil karya penerbit tersebut. Lari ke toko buku atau cari di toko buku online yang banyak ada di sosial media atau di mana saja, asal pulsa kamu mencukupi.
Terus pikirkan ide yang menarik untuk kamu tulis dan kamu kirim ke mereka.
Soal surat perjanjian dan lain sebagainya, nanti mudah mempelajarinya. Kalau naskah kamu sudah acc. Kalau belum-belum kamu sudah pusing dengan surat perjanjian, padahal naskah juga belum ada, buku juga tidak pernah baca, nanti kasihan. Kasihan kamu dan juga kasihan penulis penulis seperti saya yang terus-menerus ditanya hal-hal seperti itu.