Hidup Dari Menulis

Salah satu hal yang selalu diinginkan seseorang yang masuk ke dunia penulis adalah mendapatkan honor dari tulisannya. Honor dalam bentuk uang tentu saja. Karena akan bisa terlihat jelas sebagai bentuk kerja kerasnya.
Pertanyaan selanjutnya, setelah beberapa kali mendapatkan honor di media adalah apakah kita bisa dapat hidup hanya dari menulis?
Untuk itu kita wajib memulainya dengan keyakinan KITA BISA.
Saya tidak akan pernah lupa rasanya ketika saya mencoba hidup dari dunia tulis menulis. Bukan lagi jatuh bangun tapi jungkir balik. Saya juga tidak akan lupa ketika saya bersikukuh tidak akan melamar pekerjaan dan akan melanjutkan kuliah dari honor menulis karena Bapak memasuki masa pensiun dan saya punya 4 adik lainnya.
Saat-saat pembayaran uang semester mendekat, hati saya kebat kebit tak menentu. Dan pertolongan Allah selalu datang tepat waktu. Selalu ada tiga atau empat naskah yang dimuat pada saat yang bersamaan dengan semakin mepetnya jadwal membayar uang semesteran. Sehingga langkah saya melaju dengan cepat.
Saya juga tidak akan pernah melupakan tekad saya dan ketidakyakinan orang lain pada keputusan saya. Pada saat itu saya saya merasa bahwa jalan saya sudah diarahkan untuk menjadi penulis.
Ketika lulus SMA, saya lulus menjadi mahasiswa di Badan Meteorologi dan Klematologi Geofisika (BMKG) dan mengalahkan ratusan pesaing lainnya, toh saya harus mundur. Karena Bapak tidak menyetujui saya menjalani ikatan dinas di Manado.
Bahkan ketika kakak saya bisa mendapatkan informasi bahwa kenalannya bisa menampung saya di Manado, telegram yang Kakak berikan pada saya baru sampai dua minggu kemudian padahal saya sudah mengirimkan surat mengundurkan diri dari BMKG.
Ketika lamaran saya sebagai pramugari Garuda diterima, surat untuk interview pun lagi-lagi datang terlambat. Karena surat panggilan itu baru sampai seminggu kemudian dari jadwal wawancara.
Akhirnya saya bukan lagi bertekad tapi memang tercebur dan tenggelam di dunia menulis.
Bisa bertahan hingga sekarang sejak naskah puisi saya pertama dimuat di media tahun 1982.
Bisa bertahan karena dulu jarang yang berniat menjadi menulis?
Saya berpikir begini. Ketika ada yang bertanya seperti itu maka saya akan menjawab seperti ini :
1. Pada saat itu memang tidak banyak saingannya tapi akses untuk mengirimkan tulisan ke media memerlukan tekad besar. Selain peralatan mesin tik yang mengharuskan kita menulis dengan minim kesalahan agar tidak sia-sia selembar kertas yang harus dibeli dengan uang, kita juga harus membeli perangko atau menggunakan kilat khusus bila ingin cepat sampai ke redaksi majalah. Sekarang kita tinggal duduk di depan komputer dan sent. Dengan tiga ribu satu jam di warnet kita bisa cari informasi sebanyak-banyaknya dan mengirim naskah sebanyak-banyaknya.
2. Dulu stasiun televisi hanya sedikit, maka kemungkinan untuk menembus ke media televisi untuk naskah berbentuk skenario perlu waktu lama. Sekarang, banyak teman-teman penulis skenario dan PH yang membutuhkan skenario yang bisa kita cari asal memiliki kepekaan dan kejelian untuk mencarinya. Dan semuanya itu bisa dilakukan di depan komputer.
Padahal dulu untuk sebuah naskah skenario yang di ACC di TVRI pun saya harus bolak-balik dengan bus dan merevisi naskah itu berkali-kali. Meski sudah memakai kop yang dipinjamkan Mas Aditya Gumay atas nama sanggar Kawula Muda, tetap naskah itu tidak meluncur sempurna.
3. Dulu, menerbitkan buku sulit sekali. Jadi honor datang dari majalah dan koran. Saya sendiri bisa menghasilkan buku setelah 20 tahun menulis dan 10 tahun bermimpi untuk itu. Artinya apa? Artinya dengan banyaknya penerbit, kemungkinan besar kita akan mudah dong mendapatkan honor dari buku kita yang diterbitkan. Banyaknya penerbit juga membuka peluang kita untuk menjadi editor atau reviewer di penerbit tersebut.
4. Lomba menulis dulu tidak seramai sekarang? Jadi bisa disimpulkan sendiri, kan?
Menjadi penulis ketika ingin total itu artinya hanya satu untuk saya. Terus bekerja lebih giat dengan menulis dan tidak patah semangat.
Usaha ingin maju dan bertahan bila kita kreatif dan tidak diam di tempat. Punya sesuatu yang unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Bila sudah merasa mampu menulis fiksi, coba lah belajar untuk menulis artikel. Mulai dari artikel yang ringan hingga yang berat. Sehingga ketika porsi fiksi dikurangi dalam satu media, atau buku fiksi tidak lagi booming kita punya cadangan untuk menulis yang lain.
Menulis memang sudah menjadi sesuatu yang mudah saat ini . Tapi jangan disepelekan. Feeling sangat diperlukan dalam menulis. Keyakinan bahwa naskah kita akan selalu berada di tangan yang benar juga wajib diperlukan. Dan standar untuk setiap tulisan kita mau dikirim kemana juga dibutuhkan.
Lalu bagaimana cara bertahan di dunia tulis menulis?
Saya jadi ingat pengalaman kedua saya begitu yakin dengan dunia tulis menulis adalah ketika saya memutuskan resign dari kantor dan fokus menjadi penulis. Bukan karena suami saya hidup berlimpah harta. Tapi karena saya yakin saya bisa hidup dari menulis.
Lalu apakah pilihan itu membahagiakan?
Ketika suami memilih untuk memiliki usaha dan kami bangkrut pun saya terus menulis. Bahkan bersyukur pada saat itu royalti dan DP dari buku-buku saya cukup besar. Dari satu buku saja royaltinya sepuluh kali lipat lebih banyak dari honor cerpen di majalah ternama.
Ketika rumah tangga kami diuji dengan hutang bertumpuk pun, saya tetap melakoni menulis. Buku-buku tetap bermunculan. Dengan fasilitas seadanya. Monitor komputer yang tidak utuh penampilannya.
Sekarang ketika dalam keadaan segala badai sudah berlalu saya terus menulis. Dengan produktivitas yang masih sama dengan saya pertama kali menulis dulu.
Dan kebahagiaan saya dari dulu hingga sekarang sama. Dengan semangat yang juga tidak berubah.
Jadi masalah sebenarnya dalam dunia kepenulisan bukan dunia menulis itu sendiri. Tapi tekad kita yang kurang sebagai penulis.
Bisa diibaratkan dengan seorang yang baru menceburkan ujung kakinya di dalam air dan merasakan cubitan seekor kepiting pada kakinya, ia merasa jera untuk terus memasukkan kakinya lebih dalam ke air tersebut. Lalu bicara pada setiap orang bahwa masuk ke dalam air itu berbahaya.
Padahal semakin dalam tercebur, semakin kita tahu bahwa banyak rintangan yang bisa diatasi dengan trik-trik yang kita dapatkan karena pengalaman kita bergelut dengan air.
Sampai sekarang saya terus menulis. Setiap hari saya menulis dengan jadwal harian yang tetap. Setelah urusan rumah tangga selesai, suami dan anak-anak meninggalkan rumah dengan perut kenyang.
Saya selalu melupakan naskah yang saya kirim ke media. Tapi saya punya folder setiap bulannya naskah apa yang saya kirim ke media dan ke penerbit. Lalu saya punya hitungan waktu, kapan naskah itu harus saya poles kembali dan saya lempar ke penerbit atau media lain.
Saya juga masih aktif untuk ikut lomba menulis. Selain untuk merasakan sensasi persaingan, di dalam sebuah lomba juga disediakan hadiah uang.
Matre?
Menulis adalah pekerjaan saya. Jadi menulis bukan lagi untuk nama. Tidak masalah bila ada sebuah tulisan yang saya tulis tanpa nama saya tercantum di dalamnya. Sepanjang tulisan itu adalah tulisan yang saya buat dengan prinsip hidup yang selama ini saya jalani. Toh setahun belakangan ini saya juga menjadi penulis tetap sebuah majalah dan menghasilkan bermacam-macam tulisan tanpa nama saya tercantum untuk itu.
Lalu masalah menulis untuk amal?
Masalah amal atau sedekah, biar lah itu jadi rahasia saya dan Allah. Lebih indah bila hanya saya dan Yang Memiliki Rezeki yang mengerti.
Bagaimana?
Masih ingin terus menjadi penulis?
Nasehat saya lagi.
Jika yakin dengan menulis, pegang keyakinan dan jangan beri garam keluhan.
Tambah ilmu, tambah wawasan dan jangan diam di tempat. Kita yang diam ditempat dan merasa sudah pintar hanya akan membuat orang lain yang terus menambah ilmunya dan menambah wawasannya berlari jauh di depan kita.
Tetap menulis.
Kalau merasa tidak mampu bertahan sebagai penulis, lebih baik cari pekerjaan lain dan jadikan penulis pekerjaan sampingan bukan pekerjaan utama. Sehingga tidak mengotori hari kita dengan mengeluh dan mengeluh.
Life is simple. So, make it simple. Right?

Bukan Sekedar Menulis

DSCF2218

Menjadi penulis, untuk yang terbiasa menulis pada akhirnya adalah suatu hal yang menyenangkan. Kesukaan alias hobi yang bisa dijadikan profesi. Semakin menyenangkan ketika setelah menjadi ibu, karena itu artinya kita punya jadwal kerja di rumah dan bisa memantau perkembangan anak-anak total dalam jangkauan pandangan mata.
Tapi sayangnya menjadi penulis, banyak yang menganggap hanya perlu kemampuan menulis saja. Padahal menurut saya, penulis adalah seseorang yang menuliskan segala hikmah dalam bentuk tulisan (ini teori saya).
Penulis menulis apa yang ia lihat, ia jalani, ia baca, ia sikapi, ia teladani. Bukan sekedar menulis dan mengarang-ngarang cerita tidak jelas tanpa makna bahkan tanpa keinginan orang lain mengambil manfaat dari cerita itu.
Menulisnya sederhana (banyak yang berpikiran begitu). Aku punya pengalaman, aku bisa menulis, ya tulis saja. Ada yang menerbitkan, ada media yang memuat, Alhamdulillah.
Proses menulis yang sederhana seperti itu, pada akhirnya juga akan berakhir dengan sederhana. Tulisan kita berputar dari itu ke itu saja. Idenya itu ke itu saja. Cara kita bertutur juga itu ke itu saja. Banyak yang suka. Tapi lama kelamaan bisa dilanda kejenuhan.
Menurut saya, jika menulis dengan cara seperti itu, maka karir menulis kita juga hanya berjalan di jalan yang sama. Jalan di tempat, sebelum akhirnya mengambil keputusan, berhenti atau tenggelam karena tidak mampu bersaing dengan para penulis-penulis baru yang bermunculan.
Konsep menulis itu memang sederhana. Anak-anak di rumah suka menyederhanakan seperti itu. Ah gampang. Dikarang-karang saja. Itu menurut mereka yang setiap hari melihat ibunya di depan komputer dan selalu menghadiahi mereka buku-buku.
Menulis memang dimulai dari ide, setelah niat kuat tentu saja. Tapi kita tidak menulis hanya berbekal ide saja.
Kalau hanya berbekal ide, maka seorang Buya Hamka tidak akan bisa membuat novel Di Bawah Lindungan Kabah dan Angkatan Baru. Lalu berproses membuat Tafsir Al Azhar 30 juz. Kebetulan Bapak saya mengidolakan Buya Hamka jadi buku-buku beliau banyak di rumah.
Buya Hamka berproses dalam menulis.
Atau idola saya Emha Ainun Najib. Beliau mampu menulis puisi, kumpulan kolomnya juga cantik. Fiksinya juga sarat makna. Kenapa? Sebab Emha mau berproses dan sadar bahwa menulis itu butuh proses.
Menjadi penulis itu, menurut saya, seperti seperti menjadi sebuah teko berisi air. Yang ke luar dari dalam teko itu, apakah air gula, air sirup atau air comberan sekalipun, adalah tergantung apa isi yang ada di dalam diri teko itu.
Demikian juga dengan tulisan.
Jika kita terbiasa membaca yang tidak bermanfaat, maka tulisan yang kita hasilkan juga sesuatu yang tidak bermanfaat. Yang tidak membuat orang lain tergerak untuk melakukan perubahan setelah membaca tulisan kita.
Menjadi penulis itu juga jangan seperti teko kosong? Apa yang dihasilkan oleh sebuah teko yang kosong? Cuma angin. Angin yang bisa jadi membuat sakit perut. Angin yang juga tidak menyegarkan karena kecil kapasitasnya untuk membuat orang lain merasa tersejukkan.
Baca.
Seribu kali baca. Bukankan itu makna kenapa ayat pertama yang diturunkan dalam Al Quran adalah kalimat Iqra (baca). Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan.
Artinya untuk saya adalah baca. Sebab dengan membaca sumber pengetahuan kita bertambah. Dunia yang tidak pernah kita datangi akan ada di dalam genggaman ketika sebuah buku ada di tangan kita. Kebijaksanaan yang dilakukan orang lain, bisa kita jadikan teladan, jika kita mau membaca.
Termasuk menulis fiksi?
Ya, menulis fiksi (mengarang) memang sederhana. Setiap orang punya dongeng tentang hidupnya. Dan semuanya yakin bisa menulis apa yang dilihat dengan menuliskannya menjadi sebuah cerita.
Sederhana harusnya.
Tapi menjadi tidak sederhana ketika yang merasa mampu menulis itu tidak mau membaca. Kisah-kisah hidup yang ditulisnya dalam cerita, karena ia tidak mau belajar dari contoh tulisan orang lain, akhirnya mati gaya. Hanya itu ke itu saja.
Menjadi penulis harus mau berkembang.
Saya ingat betul proses saya menulis cerita anak. Ketika mahasiswa, cerpen saya beberapa kali menghiasi majalah BOBO. Tapi setelah itu, apakah saya mulus menulis novel untuk anak?
Untuk memulai menulis cerita anak lagi, setelah vakum bertahun-tahun fokus di naskah remaja dan dewasa, saya belajar lagi. Saya membeli banyak novel anak dalam dan luar negeri. Membandingkan.
Pada akhirnya mendapatkan trik ide yang tidak biasa.
Sebuah novel anak yang tidak memuaskan untuk saya, karena seringnya tokohnya tidak sebebas anak-anak khususnya sebebas saya ketika anak-anak. Kalimatnya sering terlalu panjang sehingga ketika saya ceritakan pada anak-anak, saya harus memotong kalimat itu agar mereka tidak bosan, pada akhirnya membuat saya tahu bagaimana menulis cerita yang saya suka, anak-anak suka dan mereka bisa membaca cerita itu tanpa saya pandu.
Novel Aku Sayang Bunda, itu novel anak pertama yang saya buat.
Ketika saya ingin sekali memiliki sebuah kolom di sebuah surat kabar atau majalah, setahun saya belajar bagaimana tulisan dalam sebuah kolom itu. Mengandai-andai bila kelak saya memiliki sebuah kolom di majalah.
Belajar tak kenal henti. Membaca dan menulis juga tak kenal henti dalam satu kesatuan utuh.
Jadwal menulis saya pasti. Jadwal membaca saya juga pasti. Setelah urusan rumah tangga selesai, anak-anak dan suami kenyang. Dan semuanya biasa saya kerjakan pagi-pagi. Dari mulai menyetrika, mencuci baju dan mengepel.
Selingan dalam menulis adalah ketika tukang sayur lewat, ketika anak minta ditemani membuat PR, atau ketika mereka hanya ingin adu panco juga belajar catur.
Selingan lainnya kalau lagi ingin sedikit lama ngobrol dengan tetangga. Itu artinya setelah membeli sayur, saya bisa mengobrol dulu dengan tetangga dengan tambahan waktu beberapa menit. Dan komputer tetap menyala.
Menjadi penulis itu mudah. Membaca juga tidak kalah mudah. Membekali diri dengan membaca akan membuat tulisan kita berkembang.
Jika ingin tulisan kita ‘kaya’, maka jangan hanya membaca buku fiksi saja. Coba jelajahi buku-buku non fiksi. Bertekun dalam membaca non fiksi akan membuat kita tambah ilmu.
Tulislah apa yang memang enak untuk karakter kita sesuai dengan gaya kita. Karena sebenarnya menulis itu seperti kita memakai baju. Baju yang kita sukai gayanya berbeda dengan gaya orang lain.
Beberapa tahun ini, proses membaca saya menjadi lebih berkembang bukan sekedar membaca.
Ketika sedang membaca sebuah buku, saya membayangkan ketika penulis itu menulis sebuah cerita yang sedang saya baca, apa yang sedang ia lakukan.
Pada akhirnya pengetahuan saya menjadi berkembang. Dan saya jadi memahami karakter penulisnya dari dua atau tiga buku karangannya yang saya baca.
Karakter penulis yang satu dan yang lain berbeda meski idenya sama. Seperti baju biru yang dipakai A dan dipakai B itu berbeda meski motifnya sama. Karena style ketika dia memakainya itu yang akan membuat berbeda.
Jane Eyre dan Anne Of The Island berkisah tentang gadis yatim piatu dan kisah cinta mereka. Sama-sama kisah cinta klasik. Tapi toh bisa berbeda karena penulisnya berbeda.
Dan belajar tentang karakter penulis, saya lalu mencoba menggali-gali mana tulisan yang sekedar tempelan sebuah cerita dan mana yang benar-benar keluar dari hati, membuat saya semakin kaya pemahaman juga imajinasi.
Jadi jangan mau mati langkah dalam menulis.
Saya ingin terus menulis bahkan ketika usia sudah menua dan tentu saja, saya tidak ingin diam di tempat.
Bapak saya di usia 80 tahun masih kuat ingatannya karena gemar membaca. Orangtua sahabat, penulis fiksi bahasa Jawa juga masih kuat ingatannya. Ibu saya bahkan baru belajar menghapal juz 30 di usia 65 tahun dan masih bisa menghapal, kuat juga ingatannya.
Membaca dan menulis itu rangkaian yang harus kita jalankan jika tidak ingin diam di tempat dalam menulis.