Tips Keren Menembus Media Cetak

majalahku

Ada pertanyaan yang selama ini, sudah saya batasi untuk tidak terus-menerus menjawabnya. Pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana agar tulisan yang kita buat bisa menembus media?
Pertanyaannya sederhana, kan? Tapi jawaban dari saya bisa panjang. Bertambah panjang kalau yang bertanya menambahi dengan pertanyaan, alamat e mail media itu apa? Tambah jelas untuk saya kalau itu artinya, mereka cuma mau bertanya tapi tidak mau membaca.

Jadi begini. Mari kita serius.
Media itu (versi saya lho), adalah sebuah tempat seperti halnya sebuah rumah. Nah jika setiap rumah memiliki gaya sendiri-sendiri sesuai dengan karakter pemiliknya, maka media juga seperti itu. Memiliki karakteristik sendiri. Sesuai? Sesuai dengan visi misi media tersebut.

Jika setiap rumah memiliki kamar mulai dari kamar pribadi sampai kamar mandi, maka media juga sama seperti itu.
Mereka memiliki kamar sendiri yang disebut rubrik atau apa lah nama lain sejenisnya.
Jika di rumah kita ada kamar tamu, yang bisa disinggahi orang dari luar, maka di media juga disediakan kamar tamu. Yaitu rubrik yang bisa diisi oleh penulis dari luar. Setiap media pasti menyediakan kamar (rubrik tersebut).
Dan penulis dari luar yang bisa menghiasi kamar tamu itu dengan tulisan mereka, akan mendapatkan honor atau souvenir dari media (sesuai kesepakatan yang tertera di media).

Beberapa langkah di bawah ini harus diingat bila kamu ingin mengirim naskah ke media.

Pertama-tama :
Naskahmu harus layak lho. Jangan naskah asal jadi. Apalagi naskah tanpa titik koma. Setelah yakin naskah kamu bagus dan layak, kamu bisa mengirim naskah via email media. Emailnya cari di medianya, ya. Jangan tanya saya 🙂
Di badan email, kamu perkenalkan diri kamu. Bicara sedikit soal naskah kamu. Ucapkan terima kasih dan berharap naskah itu cocok. Sudah. Selesai. Jangan ditambahi dengan pertanyaan, kapan ya naskah kamu dimuat? Kalau sudah begitu, itu namanya bukan lagi basa-basi, tapi sudah tidak sopan.

Kedua
Ketika membawa naskah ke media itu artinya untuk saya, sama seperti membawa suguhan alias kue. Idealnya, tamu yang baik yang mau membawakan kue kesukaan pemilik rumah. Ketika ia sukanya cake, bawakan cake dengan aneka warna dan rasa. Jangan bawakan dia keripik jengkol.
Artinya kalau kamu mau mengirim naskah ke media wanita dewasa, kirimkan tulisan dengan standar media mereka. Gaya mereka itu khusus wanita karir atau wanita rumah tangga. Jangan sampai ketika kamu mengirim naskah untuk media untuk kalangan wanita karir, kamu suguhkan kisah tentang perempuan muda yang bunuh diri.
Jelas tidak akan diterima karena tidak sesuai dengan visi misi mereka.
Atau di media anak, kamu kirimkan cerita dewasa pakai acara caci maki dan lain sebagainya. Jangankan dilirik, cerita yang seperti itu pasti akan langsung masuk ke tong sampah.

Tiga
Meski kesannya nyinyir tapi saya paling suka mengatakan hal ini.
Hei…, meski di blog banyak berseliweran contoh tulisan dari teman-teman yang sudah tembus di media, tetap kamu harus membeli medianya. Minimal untuk mengetahui gaya dan karakteristik isi media tersebut. Nah untuk pemula, idealnya kamu butuh membeli sepuluh edisi media tersebut.
Jadi kamu tahu, tulisan yang mereka butuhkan seperti apa.
Jadi kamu juga percaya diri, jika ada yang bilang tulisan kita tidak cocok di sana, kamu tetap akan mengirim ke media tersebut. Karena kamu sudah tahu dan yakin, bahwa tulisan itu cocok di media itu.
Sampai sekarang ini, paling tidak seminggu sekali saya ke lapak majalah dan koran. Untuk melihat media mana yang membuka peluang untuk penulis dari luar.

Empat
Jangan bandingkan honor. Ini juga sering menjadi pertanyaan teman-teman dan kadang-kadang juga tidak saya jawab.
Mbak honor di sana berapa? Masih general , maka saya akan jawab honor secara umum di media tersebut.
Tapi kalau ada yang tanya, “Mbak honor mbak berapa di media tersebut?” Seringnya tidak saya jawab karena itu sifatnya khusus. Artinya ada media yang memberikan jenjang honor sesuai dengan tingkat senioritas.

Ada juga yang bertanya,”Mbak kok bisa jadi penulis tetap di media itu?”
Biasanya yang seperti ini juga tidak saya jawab. Apalagi yang bertanya baru menulis satu dua kali, dan merasa berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Saya jungkir balik nulis sama seperti jungkir baliknya pembuat kue nawarin kue dari satu toko kue ke toko kue lainnya.

Dan kalau akhirnya ada sebuah toko kue besar, yang mengorder kuenya rutin lalu mengajak kerja sama, itu artinya adalah selain kualitas, mereka juga melihat kerja keras dan kelayakan kue itu ada di toko mereka.
Nah menjadi penulis tetap sebuah media juga begitu.

Sama halnya saya tidak boleh merasa berhak bila ada novel teman-teman yang di filmkan. Karena apa? Karena saya tidak berjuang di ranah tersebut. Dan iri pada bidang yang kita sendiri tidak memperjuangkan, buat saya hal yang aneh.

Lima
Kirimnya sekali tapi seolah-olah sudah mengirim ratusan kali. Itu yang sering saya temui di sosial media.
Banyak penulis yang merasa sudah mengirim banyak (???) dan merasa naskahnya tidak dimuat juga.
Biasanya saya akan balik bertanya, ngirimnya berapa banyak? Lebih banyak mana, mengirimnya atau menunggunya?
Asal tahu saja, saya mengirim ke media hampir setiap hari. Itu artinya setiap hari selalu ada naskah yang saya kirim ke media. Dan saya tidak menunggu, tapi saya terus menulis.
Menulis dan lupakan, menulis dan lupakan, menulis dan lupakan. Begitu yang sering saya katakan.
Tapi arsipnya wajib kamu simpan dan besok-besok jika usia naskah itu sudah melewati dua tahun, kamu bisa merevisi dan kirim ke media lain.

Enam
Senior? O la la.
Sesungguhnya saya paling tidak suka tuh, kalau ada yang bilang, pantas aja dimuat terus. Sudah senior, sih.
Senior?
Dalam menulis, saya tidak pernah merasa sebagai senior. Justru saya selalu menempatkan diri sebagai pemula. Dengan begitu, saya punya rasa bersaing yang kuat, sehingga saya akan berusaha terus untuk menghasilkan karya terbaik.

Senior, lama tidaknya saya menulis membantu ketika saya tentu saja bernegoisasi harga tulisan saya.
Jelas saya tidak mau dong, dengan lamanya saya menulis, hasil tulisan saya hanya dihargai sepuluh dua puluh ribu perlembarnya. Ada pengalaman, ada harga.
Dan tentu saja kesenioran (males sebenarnya menyebut hal ini), membuat saya lebih mudah melihat peluang. Samalah seperti tukang jahit, yang bisa membuat jahitan rumit dan tahu kesalahan sebuah jahitan ada di mana. Nah seorang senior seperti saya (cie cie..), bisa melihat kekurangan sebuah tulisan itu seperti apa.

Oh ya senior di satu media belum tentu senior di media yang lain lho.
Ada yang namanya cukup berkibar di media anak, tapi harus berjuang setengah mati untuk menulis di media dewasa.
Ada yang dianggap hebat di bidang cerpen, tapi harus berjuang keras di bidang penulisan non fiksi seperti artikel.

Kalau saya, jujur saya ingin serba bisa.
Jadi semua bidang tulisan saya pelajari, tujuannya agar tulisan dan pemikiran saya ada di mana-mana.

Tujuh
Jangan males belajar deh.
Belajar dari mana saja. Ada yang belajar cukup dengan membaca karya orang lain. Ini modelnya saya dulu dalam belajar. Karena terus terang, saya tipe pemberontak dan tidak mudah diajari. Jadi belajar otodidak lebih saya sukai.
Tapi ketika saya membuka kelas penulisan online, baru saya sadari, bahwa ternyata tidak semua orang bisa belajar seperti saya. Ada orang yang butuh diajari. Dan model yang seperti ini, saya sarankan sebaiknya belajar dari seorang guru agar paham letak kesalahannya ada di mana.

Delapan
Ayo kirim. Percaya diri.
Iya, mau apa lagi. Kalau kamu sudah merasa cukup bekal ilmu kamu, bagus tulisan kamu, mau apa lagi? Mau didiamkan saja naskah kamu?
Hoi…, tukang kue itu kalau mau tahu kuenya enak atau tidak, bisa dinikmati atau tidak, harus berani diberikan pada orang lain lebih dahulu, untuk dicoba rasanya.
Tulisan kita?
Yah dikirim dong ke media, jangan cuma jadi bungkus cabai saja 🙂

Sembilan
Sabar menunggu itu selalu harus diingat di benak para penulis yang mengirim naskah ke media. Sabar menunggu naskah dimuat, karena bisa jadi antriannya banyak. Waktu dimuatnya sebuah tulisan bisa dari mulai satu dua minggu, bisa jadi juga sampai dua tahun.
Jadi sabar saja dan terus menulis.

Sepuluh
Berdoa jangan lupa.
Iya dong, segala ikhtiar akan komplit jika disertai doa. Itu artinya kita sebagai manusia sadar akan kekurangan diri kita.
Dari mulai keinginan bisa menulis segala jenis cerita hingga membuat kolom, itu adalah hasil ikhtiar yang saya lemparkan dalam bentuk doa terlebih dahulu.
Saya sendiri masih terus berdoa, agar terus mendapatkan ide dan juga agar tulisan saya dimuat. Masa yang baru belajar menulis sudah merasa sok yakin dan merasa tidak butuh berdoa?

Sebelas
Kalau suatu saat naskahmu diterima, dan mereka minta direvisi. Maka lakukanlah secepatnya. Kalau bisa kerjakan dalam satu hari itu. Dan kirim kembali, sehingga redaksi media tahu keseriusan kamu untuk menulis di sana.

Duabelas
Naskah kamu ditolak, lalu apa yang harus kamu lakukan?
Nulis lagi. Gampang, kan?
Untuk saya sih, tulisan yang saya hasilkan itu seperti buku harian. Karena memang kenyataannya apa yang saya tulis adalah apa yang saya jalani sehari-hari. Jadi kalau ditolak tulis lagi. Ditolak, tulis lagi, kirim lagi. Sampai seribu kali. Sampai akhirnya mereka sadar tulisan kamu menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan layak ada di media mereka.

Kalau langkah-langkah ini kamu jalani dengan keyakinan penuh, percaya deh sama saya, tidak lama lagi naskah kamu juga akan menghiasi sebuah media yang kamu tuju.
Jangan lupa, begitu naskah kamu dimuat sekali dua kali jangan sombong. Bahkan bila naskah kamu dimuat sampai ratusan kali.
Sombongmu itu bisa saja membuat kemampuan menulismu diambil kembali.
Apa mau seperti itu?

Penulis Instan

Photo kenangan

Siapa sih yang tidak tergoda dengan makanan instan? Makanan yang langsung jadi cuma diperlukan watu sekian menit tidak pakai repot, makanan itu sudah bisa tersaji dan mengisi perut kita yang kosong. Untuk mengenyangkan? Bukan tentu saja.
Makanan instan itu biasanya tidak berfungsi mengenyangkan, hanya berfungsi untuk mengganjal saja.

Saya bersyukur punya tubuh yang mudah sakit ketika terkena makanan yang instan. Tapi bukan berarti tidak pernah makan makanan instan.
Hayo coba siapa yang tidak tertarik dengan mie instan dan segambreng iklannya di layar televisi?
Mie instan rendang sampai soto lamongan. Anak saya bilang enak, saya bilang enek dan membatasi tidak menyediakan mie instan di rumah. Kecuali sesekali saja.
Saya lebih memilih mengambil cobek dan bumbu dapur untuk makanan di rumah. Kerja kerasnya itu akan terbayar ketika anak-anak sehat.

Di dunia menulis juga ada yang namanya sesuatu yang instan lho. Bukan, bukannya mereka tidak berproses. Saya paham makanan instan pun berproses di atas kompor. Hanya waktu prosesnya itu sebentar.
Penulis instan? Wow… mereka merasa berproses juga. Menulis di buku harian, itu kan juga bagian dari proses, ya? Menulis dimana saja itu bagian dari proses, ya? Dan setelah itu wajar kan bila akhirnya minta pengakuan di dunia industri penulisan atas proses itu?

Oke lah kita berada di suatu masa di mana saya juga wajib membuka mata, bahwa pekerjaan penulis itu bukan hanya menulis untuk media. Ada blogger, ada penulis buku, ada ghostwriter, ada penulis skenario dan bahkan ada copy writer. Dan mereka yang bertahan, saya yakin yang bukan sekedar satu dua kali berproses dan akhirnya memilih untuk menulis di bidang itu saja. Mereka melewati proses yang panjang dan lama. Bukan proses sebulan dua bulan saja.
Suami saya bilang, kalau ngeblog lebih menghasilkan kenapa mesti repot ngirim ke media? Saya bilang ini masalah idealisme yang tidak bisa terganti dengan lambaian uang.

Proses Tidak Sederhana

Seiring dengan maraknya social media, terutama FB yang jadi tempat nongkrong saya, saya menyaksikan proses panjang para penulis. Saya bukan model ibu-ibu yang melihat FB sebagai bagian keisengan. Saya belajar banyak mengamati status di beranda, untuk melihat perjalanan hidupnya, atau untuk mengamati karakternya.
Apalagi banyak yang menulis bahwa ia adalah penulis. Dan biasanya itu saya perhatikan betul statusnya.

Satu dua kali menulis status, banyak yang bisa bilang kalau itu bukan status sesungguhnya. Tapi kalau setahun dua tahun menulis status, saya yakin status yang dibuat seseorang itu, jadi bagian dari karakernya.
Ada yang suka mengeluh bertahun-tahun. Ada yang suka menyindir selama bertahun-tahun juga. Ada yang senang sekali menyakiti perasaan orang lain dengan statusnya, tapi anehnya ia merasa mudah sakit hati ketika orang lain melakukan hal yang sama dengannya. Dia tidak melihat ke belakang dulu, apa yang dulu pernah dilakukannya pada orang lain.

Balik ke masalah instan, di awal-awal FB saya kenal, saya melihat banyak sekali teman-teman yang ingin menjadi penulis, menulis status berupa puisi atau penggalan cerpen. Nah ketika mendapat like atau komen bagus, mereka puas dan merasa bahwa tulisan mereka sudah bagus.
Kalau dibilang buruk mereka anggap sedang di bully..
Bisik-bisik di belakang bahwa penulis senior itu sudah membully aku. Hiks.

Akhirnya kesempatan ini disalahgunakan oleh oknum yang ingin meraup keuntungan dengan menerbitkan buku indie. Tahun 2010 marak penerbitan buku indie. Ketika saya mengeluhkan hal ini di status, ada saja yang merasa bahwa saya sebagap penulis senior tidak menghargai kerja keras teman-teman.
Padahal saya berangkat dari kenyataan, bahwa saya memiliki banyak buku indie kiriman dari penulis. Isinya? Biasa saja. Memang ada yang bagus, tapi selebihnya biasa saja. Yang bagus biasanya, hasil dari tulisan teman-teman yang memang sudah malang melintang di dunia penulisan, lalu ia tidak ingin terikat dengan industri karena royalti yang kecil, dan ingin menjual sendiri.
Di tahun 2011, ada kasus penipuan buku indie ini dengan korban para calon penulis yang ingin punya buku. Besaran uangnya bukan seratus dua ratus ribu, tapi sudah sampai puluhan juta rupiah.
Orangnya mungkin sampai sekarang membenci saya, karena kasus itu saya buka.
Tapi korban-korbannya Alhamdulilllah banyak yang membuka mata, dan mulai menulis untuk media.

Bangga Menulis Buku?

Masyarakat akan bingung kalau pertanyaan soal pekerjaan kita jawab sebagai penulis. Maka pertanyaan itu akan berlanjut menjadi, bukunya apa saja? Karena masyarakat belum paham kalau penulis itu bukan sekedar menulis buku saja.
Mungkin atas dasar landasan itu, banyak penulis yang baru terjun di dunia menulis, bangga memiliki sebuah buku. Bukunya terbit itu artinya mereka akan dianggap keren, punya otak yang keren. Bukankah begitu penilaian masyarakat? Penulis itu orang pintar, kalau sudah pintar artinya hebat dan punya banyak uang.

Saya memendam keinginan memiliki buku selama 10 tahun. Di tahun 1990, penulis yang punya buku bisa dihitung dengan jari. Saya menulis di media sejak 1982. Itu kontinyu saya kirim tulisan ke media. Dapat honor dari media. Ngiri rasanya melihat teman penulis yang biasa sama-sama menulis di media, memiliki buku. Karena sebuah buku, arsip akan lebih bertahan lama. Bangga kalau buku itu berjejer di rak. Ada nama kita sendiri.
Iya nama sendiri. Karena sebelumnya saya tidak pernah mengenal namanya antologi. Yang saya paham, punya buku itu harus menulis buku sendiri, ada nama saya sendiri di dalamnya, bukan cuma bertuliskan dkk alias dan kawan-kawan.

Karena sosial media berupa FB lah saya akhirnya tahu dan paham, bahwa menulis buku itu menjadi sebuah profesi tersendiri. Dulu kami yang biasa tembus media, akan merasa aneh kalau punya buku tanpa karyanya tembus ke media lebih dahulu.
Karena media mengajarkan persaingan sehat pada kami, penulis dulu. Karya dan nama kami dikenal dulu, baru kami menulis buku. Dan itu artinya, buku kami paling tidak bisa laris manis di pasaran. Meski bukan best seller tapi paling tidak habis ketika dicetak dan tidak merugikan penerbit.

Bangga menjadi penulis buku itu yang sekarang banyak ditemui teman penulis. Bukan satu dua kali, saya bertanya pada penulis, kenapa tidak menulis untuk media? Mereka bilang, menulis untuk media saingannya susah. Sudah nulis belum tentu dimuat. Kalau nulis buku lebih enak.
Padahal hasilnya saya yakin seimbang, antara kerja keras dan hasilnya.

Semakin keras kita berusaha, semakin banyak hasil yang kita dapatkan. Menulis untuk media, membuat kita paham sebuah industri itu seperti apa. Menulis untuk media membuat kita jeli, menyuguhkan tema yang berbeda. Menulis untuk media, membuat kita punya kepercayaan diri atas naskah kita.
Karena saya tahu, banyak juga yang bergelut di industri buku tidak suka membaca buku. Mereka hanya mengandalkan feeling buku ini bagus dan layak jual. Kasih tampilan cover yang menarik, endorsment yang memikat, juga judul yang memikat.
Mereka yang bergelut di industri ini datangnya dari penerbit besar juga, bukan hanya penerbit yang baru muncul.

Pada Akhirnya Menulislah

Saya cuma mau bilang, pada akhirnya kalau kita memang ingin menjadi penulis yang baik, menulis lah dimulai dari sekarang. Belajar menulis yang baik. Jangan sekali dua kali menulis, lalu horee…, merasa paling bisa dan akhirnya merasa yakin tidak perlu belajar lagi.
Dunia menulis itu tidak selebar daun kelor. Dunia menulis itu luas.

Tingkatkan bacaan kita. Tingkatkan kualitas bacaan kita.
Anak-anak di rumah kalau ke toko buku, bebas memilih buku yang mereka suka. Sulung saya biasa cari buku bola atau komik yang berhubungan dengan bola. Kalau yang Bungsu, cari buku putri atau kisah peri.
Buku itu bisa habis mereka baca dalam sekali duduk.
Tapi saya pilihkan juga buku dari toko buku online untuk mereka. Dan buku itu pilihan saya untuk mereka. Buku itu wajib dibaca sebelum mereka menonton televisi. Dan saya pantau, juga saya tanya bagus tidak isinya. Sebelumnya tentu saja saya lebih dahulu membaca buku itu.

Baca yang banyak. Belajar yang banyak.
Penulis itu bukan sebuah tong kosong, yang diwarnai dengan warna terang. Orang yang melihatnya mungkin tertarik. Mencoba untuk mengetahui isi di dalamnya. Tapi setelah melongok ternyata tong itu cuma indah di luar tapi kosong di dalam, pasti akan jadi pengalaman buruk mereka terhadap kita.
Penulis juga bukan pom pom girls pemeriah sebuah acara lomba. Begitu acara ramai-ramai selesai, yang tertinggal hanya hening.

Baca yang banyak, menulis yang banyak dan kirim ke media. Tidak mudah memang, tapi saya memang mengajarkan hal itu di Penulis Tangguh dan Kelas Merah Jambu. Menulis dan menembus media tidak mudah. Apalagi media yang diminati banyak penulis karena honornya paling tinggi. Tapi ketika tulisan kita hadir di dalamnya (dimuat) akan terasa energi yang berbeda. Kita menjadi lebih percaya diri. Dan kepercayaan diri itu membuat kita akan terus menulis lebih baik lagi.

Buku Indie

Beberapa penerbit saya perhatikan sekarang mengelola POD alias print on demand. Artinya penulis yang kepingin punya buku, bisa setor uang, diedit dan dicetak sesuai pesanan. Ditaruh di toko buku? Tidak. Penulis harus berjuang keras untuk membuat bukunya laku.
Kebanggaan didapat. Ketika kumpul dengan teman-teman yang tidak mengerti soal dunia penulisan, lalu pamer buku yang sudah dicetak. Bertambah bangga ketika teman-teman bilang, hebat.
Hebat model begini, tidak akan bertahan lama.

Tidak salah menurut saya menerbitkan buku sendiri, asal dia sudah biasa menulis. Sudah punya audience. Jadi buku itu akan dibaca oleh banyak orang. Para ustaz banyak melakukan ini, karena mereka sudah punya jamaah. Lagipula mereka tujuannya untuk menyebarkan ilmu, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan kan akhirnya mereka putar juga untuk manfaat lain yang lebih besar.

Kalau penulis yang biasa menulis buku harian kepingin punya buku? Silakan. Tapi untuk konsumsi sendiri, kan? Ditaruh di rak buku di rumahnya sendiri, kan? Bukan dibangga-banggakan di sosial media dan bilang, ini bukuku lho. Aku hebat, kan?

Di beberapa group penulisan di LinkedIn, banyak juga diskusi tentang buku indie. Saya kebetulan tergabung dalam beberapa komunitas, yang dibuat oleh penulis luar. Mereka juga mendiskusikan buku indie. Mereka juga menggarap buku indie. Tapi buku itu benar-benar digarap sempurna. Mereka menawarkan diri siapa yang mau menjadi ilustrator. Dan membayar tentu saja. Menawarkan juga, siapa yang mau mengedit buku mereka.
Jadi indie di sana bukan dihasilkan dengan kualitas asal jadi. Tapi benar-benar dipikirkan matang.

Well, akhirnya menulis saja yang banyak. Kirim ke media. Ke penerbit juga boleh. Paling tidak, kita belajar bersaing.
Emas dihasilkan lewat proses dicari dan dibakar.
Keramik melewati proses dibentuk dan dibakar juga.
Kita sebagai penulis? Harusnya juga dibesarkan lewat proses yang matang, jika ingin memberi yang terbaik untuk bangsa kita. Sungguh memikirkan menulis yang baik dan bisa diserap nilai-nilainya itu tidak mudah, jika kita tidak memulainya dengan melakukan hal yang bermanfaat di kehidupan sehari-hari.
Menulis yang lurus tidak mengikuti tuntutan industri dan tidak melegalkan adegan peluk, cium juga adegan ranjang itu sulit. Bikin nangis ketika apa yang kita usung itu, kalah dengan namanya kebutuhan industri.
Tapi bersyukur jika pilihan itu menulis untuk media, masih banyak alternatif media yang bisa kita pilih.

Saya tidak mau hanya sekedar menulis dan terlupakan. Saya ingin Bapak saya bangga. Anak keturunan saya bangga. Karena itu saya akan terus belajar menulis lebih baik dan lebih baik lagi.
Ayo buat anak cucu kita bangga dengan proses menulis kita.

Semangat Menulismu Hampir Padam

DSCF2770

Menulis untuk media dimulai sejak SD, kadang terlintas pertanyaan sendiri di kepala. Apakah saya punya berkarung-karung semangat sehingga sampai detik ini masih bisa produktif menulis? Apa tidak pernah dihinggapi rasa bosan?

Eit jangan salah. Saya tetap lah manusia. Up and down dalam satu bidang yang kita pilih itu biasa. Bosan juga biasa. Tapi semua itu memang sebuah rasa yang harus dilawan. Yang jadi masalah adalah melawannya itu pakai cara apa?

Melawannya dengan tekad. Tekad saya dalam menulis kuat. Otak-otak saya seperti tersumbat ketika satu dua hari tidak menulis. Dan satu dua hari itu efeknya luar biasa. Satu dua hari tidak menulis, maka akan membuat saya duduk di depan komputer bingung mau menulis apa.
Setiap hari menulis, akan membuat saya dalam lima menit bisa mendapatkan banyak ide cerita dan bisa langsung dijadikan tulisan.
Setiap kali saya malas untuk menulis, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri. “Apa kamu bisa hidup tanpa menulis? Apa kamu bisa membiarkan setiap masalah yang datang, reda begitu saja tanpa ditulis?” Atau…”Masak sih sudah sejauh ini kamu berjalan, kamu mau bilang stop. Berhenti. Aku nggak kuat?”

Menulis itu panggilan hati. Jadi bagian napas juga . Tapi jika napas saja kadang-kadang sering terasa berat, sehingga kita harus menarik napas panjang lalu mengembuskan sebagian besar beban kita, menulis juga seperti itu.
Kadang ada rasa jenuh ketika menyadari bahwa jalan yang kita lalui begitu-begitu saja. Ide dari itu ke itu saja. Sesuatu yang menurut kita indah, ternyata ditolak mentah-mentah atas nama industri karena dianggap tidak akan laku di pasaran.

Lalu setelah itu semangat menulis mati?
Tidak lah. Tidak untuk saya. Bahkan ketika ditolak sekalipun, sepuluh menit kemudian saya sudah menemukan cara jitu untuk menulis lebih baik lagi. Bahkan ketika dikritik sekalipun, saya sudah bisa melihat celah, yang memberikan kritik itu memberi masukan atau sekedar ingin agar namanya dikenal?

Saya paham betul, tidak semua orang memiliki semangat seperti saya. Jalan satu-satunya pada akhirnya memang harus memilih. Kamu mau terus atau berhenti saja sampai di sini? Itu pertanyaan yang wajib diberikan kepada diri sendiri ketika semangat menulis kita mati.
Tanya juga pada diri sendiri, menulis ini sekedar ikut-ikutan tren karena melihat menjadi penulis itu keren, atau karena memang benar-benar mengikuti panggilan hati?

Kalau sekedar ikut tren saya yakin semangat itu bisa mati dengan cepat.
Kreativitas yang datang juga hanya mengekor. Mengekor tren yang ada. Seperti ketika booming novel islami dengan setting Mesir, maka berbondong-bondong semua menulis dengan setting itu. Bahkan saya pernah dapat pesanan untuk merubah setting novel saya dengan setting Mesir. Tapi saya menolak.
Sebab saya suka memiliki ciri khas dan orang mengenali ciri khas saya itu.

Andai kita merasa sudah cinta dengan menulis lalu semangat menulis kita mati(kadar cinta yang sesungguhnya dipertanyakan dengan banyak tanda tanya), bisa jadi juga karena kita tidak bisa melihat jalan ke depan di dunia menulis yang cerah ceria. Nah tidak bisa itu bisa terjadi karena :
1. kita benar-benar tidak bisa melihat jalan itu
2. kita melihat tapi tidak percaya diri, akhirnya putus asa
3. kita tidak tahu harus bagaimana agar jalan itu mulus dan terang?
4. Bisa jadi juga kita sudah merasa cukup sampai di sini. Karena yakin itu bukan passion kita.

Jalan satu-satunya masuklah ke sebuah komunitas.
Komunitas yang baik akan membantu menunjukkan jalan yang terang. Yang tidak sekedar hanya memuji tapi juga tidak ingin menjatuhkan. Komunitas yang baik mendukung, bukan menikam dari belakang.

Pohon cabai milik saya yang sedang berbunga subur, ternyata bisa hampir mati juga, ketika saya yang malas menyirami memasukkan ke dalam kolam, sebagai cara praktis biar dengan anggapan pohon cabai saya bisa subur sendiri. Untung saya cepat saya dan memindahkan kembali. Tapi ya itu bunga-bunganya sebagian besar rontok.
Komunitas dalam menulis juga seperti itu. Bisa merontokkan semangat kita, bila kita masuk dalam komunitas yang salah. Cara yang paling efektif tentu saja keluar secepatnya.

Jadi menurut saya komunitas itu penting. Komunitas yang saling membangun, bukan yang hanya sekedar memuji. Yang membangkitkan semangat bukan yang sekedar ingin menjatuhkan. Dan komunitas itu kalau tidak bisa kita dapatkan, kan bisa kita mulai dari diri sendiri?
Saya yakin masih banyak orang peduli di dunia ini.

Jika semangat menulismu mati hari ini, ayo intropeksi.
Jangan salahkan orang lain.
Kamu bertanggung jawab atas dirimu. Bukan orang lain.

Bullying di Dunia Menulis

bully

Saya penulis bahagia.
Iya, sungguh bahagia. Karena sepanjang pengalaman menulis, saya selalu merasa bahwa semua baik-baik saja pada saya. Semua baik-baik saja bisa jadi dalam artian, saya ini terlalu tambeng (tidak mau tahu) kalau ada orang yang membully.

Jadi ceritanya banyak penulis yang merasa di bully di sosial media, oleh penulis lainnya tentu saja. Di bully dalam versi saya artinya diremehkan. Tapi saya harus menjawab apa jika saya tidak merasakan hal itu?
Tidak mau memikirkan dan merasakan ketika ada orang yang menyakiti saya, memang sudah jadi pilihan saya. Maka saya hanya mau mengenang peristiwa yang manis-manis saja.

Banyak peristiwa yang manis sekali yang saya rasakan ketika mulai jatuh cinta dengan dunia menulis.
Contohnya :
1. Saya selalu kebagian ditunjuk untuk baca puisi di depan kelas oleh guru ketika SD. Dan saya juga selalu ditunjuk untuk membacakan cerita, karena intonasi suara saya jelas.
2. Saya dapat kue tart dan hadiah ulang tahun dari teman sebangku. Gara-garanya apa? Gara-garanya dia melihat buku tulis saya, yang saya corat-coret tentang kisah ulang tahun saya.
3. Saya selalu bangga karena nilai bahasa Indonesia saya selalu lebih tinggi bahkan dari peringkat pertama di kelas.
4. Dosen-dosen dan teman-teman di kampus baik. Dosen saya memberikan beasiswa Supersemar yang saya sendiri tidak mengajukannya karena mereka tahu saya penulis. Dan teman-teman sering sekali membuatkan seminar dengan pembicara saya bersanding dengan dosen. Padahal dulu saya malu bicara di muka umum.
5. Tiga pekerjaan kantoran yang saya lakoni, saya jalani karena saya penulis. Bahkan pekerjaan yang terakhir bukan di media, saya dapatkan karena boss yang gemar membaca. Dan ia menerima saya, karena melihat CV saya diisi dengan menang lomba menulis. Alhasil selama masa bekerja, setiap minggu saya dipinjami setumpuk buku tebal berbahasa Inggris, yang akhirnya membuat saya merasa bersyukur karena dipaksa untuk belajar.

Terus berarti tidak pernah merasa di bully?
Pernah sih. Tapi sungguh saya tidak memikirkannya. Saya justru berpikir kalau saya harus berkarya lebih baik lagi, biar mulut orang yang nyinyir karena memang saya yakin sudah jadi kebiasannya untuk nyinyir, berhenti karena malu saya menjawabnya dengan karya.

Jadi soal bully? Baiklah saya punya pemahaman sendiri soal hal itu :
Buat saya bully membully itu terbagi dalam tiga katagori, yaitu :

1. Bully dari Orang yang Tidak Paham
Orang yang tidak paham wajar dong meremehkan. Karena mereka bingung, kok bisa ya ada orang yang sibuk nulis terus? Apa tidak pusing dan apakah kata-kata itu tidak pernah hilang dari benak mereka yang bekerja sebagai penulis?
Wajar, kan? Sama wajarnya kalau saya bingung sama orang yang fokus belajar matematika. Soalnya saya sendiri lemah di angka.
Sama juga saya masih mikir-mikir ketika anak saya ingin menjadi pemain bola.

2. Bully dari Sesama Penulis
Sesama penulis saling meremehkan? Lalu merendahkan dan mengumumkan hal itu di sosial media?
Walah saya cuma mikir, kalau sinar saya terlalu terang jadi mereka silau. Kalau sudah begitu saya akan terus berkarya dan bersinar lagi, jadi mereka yang suka membully tutup mata, karena tidak sanggup menahan sinar saya. PD banget, kan? He he tapi itu kalau mereka tahu sudah berapa lama saya menulis?
Kalau mereka yang belum tahu dan karena itu membully?
Tetap tidak masalah. Memangnya saya siapa? Wong tidak semua butik terkenal dikenal oleh semua orang. Jadi wajar tidak semua penulis dikenal.
Lagipula, saya menulis bukan untuk terkenal kaleee 🙂

3. Woi, intropeksi
Di bully itu sebenarnya jadi ajang intropeksi kok. Sudah menulis sebagus apa sih kita? Banyak kan para penulis yang baru satu dua kali menulis, lalu merasa paling jago dan tulisannya paling bagus. Kalau diberitahu tulisannya belum bagus, ia lalu merasa sedang dibully.
Padahal proses dalam menulis harus dimulai dengan rasa tidak puas dan terus berproses jangan sampai pada titik puas.

Sesungguhnya saya lebih banyak dicintai di dunia menulis ketimbang di remehkan.
Saya berutang dengan orang-orang yang pernah saya ganggu dengan kegiatan menulis saya. Donatus A Nugroho dan istrinya tahu, saya sering ke rumah mereka cuma untuk main dan lihat-lihat proses kreatifnya.
Tahu kegigihan saya, Donatus mengajak dan mengenalkan saya pada orang-orang yang kompeten di dunia menulis.

Saya merasa berutang dengan mas Farick Ziat, yang datang menemui di ruang tunggu majalah Gadis dan mengucapkan selamat ketika saya menang lomba cerber majalah Gadis. Buat saya itu luar biasa.

Atau ketika saya mau belajar skenario, Aditya Gumay mengajak saya menawarkan naskah ke kepala bagian urusan Drama Remaja TVRI, dengan map bertuliskan kop surat sanggar yang dibinanya. Padahal saya bukan anak sanggar asuhannya, tapi hanya mengantar adik saja. Itu buat saya juga merupakan peristiwa langka.

Saya juga merasa berutang pada Mas Albert Marbun, ketika baru seminggu saya bekerja sebagai reporter di Aneka. Saya diajak bicara selama dua jam, hanya untuk menekankan bahwa saya berada di tempat yang salah dan sistem yang salah. Lebih baik saya fokus menulis saja. Bersyukur saya mengikuti sarannya dan resign dari sana secepatnya.

Saya bertemu dengan banyak teman penulis yang baik pada saya termasuk Erry Sofid juga Nunik Kurnia. Mereka teman baik yang wajib saya pelihara hingga sekarang.

Atau saya selalu saja disisihkan majalah yang ada karya saya, dari beberapa agen persewaan majalah di Solo. Buat saya itu penghargaan yang membuat saya wajib terus menulis. Mereka menghargai saya, kenapa saya mesti tidak menghargai diri sendiri dan kemampuan menulis saya?

Memikirkan orang yang mencintai dan mendorong semua kegiatan menulis saya, membuat saya menjadi penulis yang bahagia.
Jadi kalau masih merasa di bully?
Come on. Hidup saya sudah terlalu berwarna dan saya tidak butuh warna lain, dari orang yang tidak suka.

Hanya Ingin Menulis, Bukan Menjadi Penulis

424948_10151189437018591_976325817_n

Siapa bilang persaingan di dunia menulis semakin ketat?
Saya tidak percaya jika persaingan di dunia menulis itu ketat. Saya juga tidak percaya saking ketatnya persaingan itu, untuk menembus dan meletakkan karya kita di media menjadi semakin susahnya.
Sepanjang pengalaman saya, di dunia tulis menulis hanya nama-nama itu saja yang hadir.
Sekali dua kali ada nama lain, tapi tetap akhirnya kembali ke nama yang itu dan itu lagi.

Sebuah keberuntungan, kah?
Bukan. Menulis untuk media bukan lagi soal keberuntungan atau kedekatan dengan redaksi media. Menulis untuk media adalah sebuah pertarungan. Pertarungan itu dihadapi dengan kerja keras dan semangat baja. Sebab hasil dari pertarungan itu adalah honor yang cukup menggiurkan.

Mendapat honor, mendapatkan nama ada di media sungguh sangat menggiurkan untuk yang kepingin mendapatkan itu. Kepingin bukan berarti cinta. Karena kadar ingin dan cinta sungguh jauh berbeda. Kepingin, ingin, mungkin hanya ingin menuntaskan rasa penasaran saja. Sekali dua kali puas. Setelah itu merasa cukup bisa dan yakin sudah berilmu. Atau memang tidak pernah bisa menghadirkan cinta, jadi kepingin itu tidak beranjak menjadi cinta dan kebutuhan.

Aturan sebuah cinta adalah hadirnya rasa yang berbeda. Ingin terikat terus dan mengikat. Dan terikat dan mengikat itu hanya bisa dituntaskan dengan terus menulis. Ini teori ngaco saya jelas saja. Tapi saya merasakan hadirnya cinta dalam menulis memang harus dipaksakan dengan mengikatkan diri dan merasa terikat. Ketika sudah merasa terikat, jadi tidak bisa berpaling. Kalau sudah tidak bisa berpaling hanya akan melihat ia satu-satunya yang terbaik. Kalau sudah melihat sebagai satu-satunya pilihan yang terbaik, akan terus diasah kemampuannya sehingga terus berkembang dan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi.
Cinta dalam kadar yang sudah melekat, menyatu tak mungkin berpisah.

Hanya ingin menulis sebenarnya sama dengan hanya ingin membuat kue. Hanya ingin bernyanyi atau hanya ingin melukis. Hanya ingin ini, tidak memerlukan kepiawaian karena hasilnya tentu akan lebih nikmat untuk diri sendiri.
Saya selalu hanya ingin memasak dengan membuat kue atau sajian yang lain untuk keluarga. Tapi tidak ingin menjadi ahli masak, disebabkan oleh kesadaran diri akan mood yang tidak pernah sinkron. Apalagi saya biasa memasak mengandalkan feeling. Juru masak yang mahir tentu saja juga mengandalkan feeling. Tapi feelling mereka sudah terasah dengan ratusan atau ribuan percobaan memasak.

Demikian juga dengan menulis.
Hanya ingin menulis, melampiaskan apa kata hati, bisa jadi bisa tembus ke media. Sama seperti saya memasak, bisa saja ada yang suka dan membeli masakan saya. Tapi pelampiasan yang hanya sampai di situ tidak beranjak menjadi sesuatu yang meningkat lagi ilmunya, hanya akan membuat saya sendiri jenuh, orang lain juga mungkin tidak tertarik lagi membeli.

Menulis juga seperti itu.
Hanya ingin menulis membuat bingung mencari ide. Ide itu akhirnya akan kabur. Semakin kabur jika malas mencari referensi bacaaan. Sama seperti saya bingung harus mengolah bahan masakan. Dengan kemampuan memasak minimal terus malas buka resep masakan, maka jadilah masakan amburadul versi saya. Tapi toh kenyataannya saya tidak begitu. Ketika saya bingung saya akan melotot mencari resep di internet atau membuka buku resep yang bertumpuk di rumah. Dan menurut saya itu masih lumayan.

Sebab ada juga penjual makanan yang pakai cara instant. Penjual makanan yang sering muncul karena banyak memakai boraks dan bahan berbahaya makanan itu, modelnya mungkin sama seperti penulis yang malas mencari referensi. Akhirnya mencari jalan pintas menjadi plagiat. Seperti pemakai boraks yang selalu yakin bahwa pembeli tidak akan tahu, nah penulis model seperti ini juga mungkin punya pemikiran seperti itu.

Sekedar menulis, bisa menulis, suka menulis, cinta menulis dan menjadi penulis tentu saja beda. Yang sekedar menulis itu persis anak saya yang sulung. Dia sekedar menulis. Kalau lagi butuh uang untuk membeli baju bola yang harganya di atas 100 ribu dan saya tidak mau membelikannya, maka dia akan berusaha menulis dan mengirimkan ke media. Meski sudah berkali-kali dimuat di media dan sudah pernah menang lomba menulis, tapi menurut saya dia hanya masih sekedar menulis. Sekedarnya itu cuma bergeser sedikit ke arah bisa. Bukan menjadi suka.

Anak saya yang bungsu lain lagi. Dia sudah bukan lagi sekedar menulis, ia sudah bisa menulis dan sudah menang lomba menulis juga, dan menurut saya ia sudah masuk pada tahap suka menulis. Karena setiap hari ia akan kotak-katik buku hariannya untuk menulis. Bahkan bisa tiba-tiba ia bicara pada saya, “Ibu, aku punya ide. Aku mau tulis, ya.” Tapi belum tahap pada cinta menulis. Sekedar suka belum cinta. Karena jika cinta itu sudah menjadi kebutuhan dasarnya.

Menjadi penulis merangkum semuanya. Melewati proses sekedar, bisa, suka, cinta dan berujung pada pilihan untuk menjadi penulis. Sama seperti atlet renang. Yang sekedar berenang buat senang-senang tentu beda dengan atlet renang. Saya bahkan suka berenang bukan saja sekedar berenang. Harus cinta berenang untuk kesehatan saya, karena hanya olah raga renang yang cocok untuk saya yang memiliki penyakit asma. Tapi untuk berkata saya atlet renang, keterlaluan namanya. Itu namanya mengaku-ngaku.

Atlet renang disiplin menjalani latihan. Saya paling banter sebulan dua kali. Itupun cuma untuk melebarkan paru-paru dengan sepuluh kali putaran. Gayanya hanya mahir gaya katak dan gaya punggung.
Tapi saya akan dengan bangga bilang kalau saya penulis. Karena saya memang konsisten menulis. Kalau renang ada gaya khusus yang diperlombakan, maka saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya punya spesialisasi penulis untuk media. Dan untuk itu saya terus meningkatkan kemampuan menulis saya. Caranya dengan terus menulis, mempelajari tulisan orang lain yang hadir di media tentu saja, dan mengasah kepekaan saya akan ide yang diterima oleh media.

Well,
kalau di serial Mahabarata si ganteng Krisna selalu bilang “Pikirkanlah itu.” Maka di sini saya akan bilang hayo yang hanya ingin menulis, pikirkanlah itu. Apakah kalian hanya ingin menulis atau mau menjadi penulis? Atau mungkin hanya pada titik suka menulis saja?
Pikirkanlah masak-masak.
Jika ingin berada pada tahapan menjadi penulis, maka harus berjuang keras untuk terus menulis. Prioritas utama menulis. Sesak napas bila tidak menulis atau pusing bila tidak menulis (ini saya banget!).

Pikirkanlah itu.

Agar Media Tidak Bangkrut Part One

Me, pak guru dan mbak ruwi

Dosen tamu

IBF JOgja

Hal apa yang paling menyedihkan untuk saya sebagai penulis? Hal ini saya yakin juga dirasakan para penulis lain, yang cukup lama berkutat mengukuhkan nama di media cetak. Hal itu bernama matinya sebuah media cetak. Saya dan Pak Guru dari Makasar S Gegge Mappangewa membahasnya dalam pertemuan di anjungan Jawa Tengah TMII kemarin (Rabu 27 Agustus 2014).
Matinya sebuah media cetak menjadi sangat penting untuk penulis. Apalagi penulis yang tumbuh kembang dengan karya yang kami kirimkan untuk media. Saya bukan cuma tumbuh berkembang tapi melekat erat dengan media ceteak. Karena hidup dari menulis yang saya lakukan, banyak terkait dan berhubungan dengan karya saya yang ada di media cetak.

Seseorang bisa hidup dan bisa menemui ajal. Media cetak? Media cetak tentu saja bisa mengalami hal yang sama. Seidealis apapun media cetak tersebut, ketika berhubungan dengan pasar, maka media itu harus mengambil keputusan.

Yang pertama dia tetap bertahan dengan prinsipnya dan hidup dari para pelanggan yang cinta pada media juga tergantung lalu membeli.

Dua, media itu bisa hidup dari suply iklan. Itu artinya iklan akan memberi penghasilan untuk media dan dengan adanya iklan yang deras, laku tidak lakunya media tidak lagi memusingkan pemilik modal karena akan selalu ada uang yang mengalir. Tapi itu juga artinya media tersebut akan mengikuti arus pengiklan. Isi akan mereka sesuaikan dengan iklan yang masuk. Dan iklan yang masuk itu pastinya akan dilingkari dengan apa yang dinamakan kebutuhan industri.

Tiga media cetak itu mempunyai sistem management yang buruk, sehingga seleksi alam mengharuskan ia mati.

Untuk saya, kematian sebuah media cetak itu seringkali membuat kening lebih banyak berkerut. Yang paling membuat miris adalah option ketika media cetak mati karena tidak ada lagi pembeli. Sebab saya paham betul banyak dari penulis yang malas bersentuhan dengan media cetak, pelit untuk membeli dengan banyak alasan, tapi mereka berjuang keras untuk menembus media cetak tersebut. Padahal membeli sebuah media cetak itu banyak keuntungan untuk penulis. Informasi di media cetak itu, karena sifatnya massal (mass communication), maka tentunya bukan informasi yang diolah asal jadi. Ada sentuhan seperti tegangan listrik tertentu yang bisa didapat ketika membeli sebuah media, yang tidak bisa tergantikan dengan membacanya dari postingan seorang teman di sebuah blog.

Seorang yang memegang media cetak juga artinya dia punya waktu khusus untuk membaca dan memahami. Berbeda dengan ketika membaca media online yang informasinya cepat dan seringnya tidak digarap dengan maksimal. Bahkan nara sumber sering juga hanya copy paste dari berita-berita yang ada.

Menjadi Penulis yang Bijak

Saya membenarkan ucapan Pak Guru Gegge pemenang novel Republika, peraih IBF Award 2013 dan pemenang pertama lomba Tulis Nusantara bahwa dulu, kami para penulis dihubungkan oleh media cetak . Itu artinya ketika kami menulis untuk media cetak, kami jadi terikat pada media tersebut. Kami mengamati teman-teman yang namanya hadir di media tersebut. Tentunya mengamati dengan cara bersentuhan dengan media tersebut, membeli eceran atau dengan cara berlangganan.

Kami paham gaya penulis yang satu dengan penulis yang lain. Kami paham seberapa sering penulis itu karyanya dimuat di satu media. Itulah mengapa sesama penulis yang biasa menulis di media di masa lalu, saling mengenal dengan baik, bahkan hingga saat ini.

Saya juga membenarkan bahwa meski sekarang menulis adalah profesi, kami dulu ingin menulis karena ingin nama kami ada di media. Dan nama hadir di media cetak itu artinya membawa banyak konsekwensi termasuk harus rajin-rajin membeli media dan bersentuhan dengan media.
Karena itu media cerpen Anita Cemerlang bisa berumur panjang dan lama karena kesetiaan pelanggannya, yaitu kebanyakan kami para penulisnya yang menjadi pelanggan setia. Bukan hanya pelanggan mengirimkan karya.

Penulis sekarang hubungannya tidak sekental dulu. Persaingan yang ada bahkan justru menjatuhkan. Yang satu ingin dianggap hebat dari yang lain, lalu berujung justru melecehkan karya yang lain hanya untuk diupload di social media.

Padahal jika penulis yang satu dan penulis yang lain terhubung dalam satu ikatan yang kental dan tulus, maka akan mudah untuk mendapatkan informasi baru tentang dunia media atau dunia penerbitan. Misalnya, media mana yang harus dijauhi karena tidak menghargai penulis dengan tidak membayar honor yang jelas-jelas sudah mereka cantumkan bahwa setiap kontributor akan mendapatkan honor.

Atau penerbit mana yang surat perjanjiannya membuat penulis mati kutu karena ujungnya menddapat royalti yang tidak masuk akal karena saking sedikitnya.
Terhubung untuk sesuatu yang lebih baik lagi untuk saya menjadi penting.

Sungguh modal utama penulis bukan sekedar ide apalagi seperangkat peralatan menulis canggih. Yang diperlukan adalah niat untuk terus belajar dan mau menyisikan sebagian kecil dananya untuk membeli media cetak . Dengan begitu, kebangkrutan media bisa diminimalisir.

Pada pertemuan itu, saya juga bicara dengan Mbak Ruwi, pemenang pertama lomba Tulis Nusantara. Kali ini bicara tentang dunia penerbitan dan kisaran royalti yang membuat miris para penulis. Di belakang tempat kami bertemu itu, kebetulan ada sebuah acara yang suaranya berisik di isi para remaja. Mbak Ruwi bilang sering sekali ada acara seperti itu selama ia menginap.
Saya bilang pada Mbak Ruwi yang novelnya sudah banyak untuk mulai belajar PD. Belajar PD bisa dengan cara memulai duduk berkenalan dengan mereka. Lalu tunjukkan novel yang ia buat. Itu artinya, ia harus siap selalu membawa buku karyanya kemanapun ia pergi. Dan tentu saja kartu nama.

Buku yang penulis hasilkan berbeda sifatnya dengan karya di media cetak. Media cetak berisi banyak karya, banyak tulisan. Orang fokus pada keberagaman isinya untuk menggali banyak informasi. Sebuah buku lebih personal lagi, apalagi jika ditulis secara sendiri dalam artian buku solo. Orang dihadapkan pada satu informasi tapi disajikan lebih mendalam.

Dalam hal ini, pandangan saya untuk buku solo seperti ketika pedagang kue membuat kue. Kue yang menjadi andalan karena dibuat dengan sepenuh hati, sepenuh tenaga, apalagi kue itu bergizi, tentu saja wajar jika si pembuat kue ingin kue itu juga dinikmati oleh orang lain. Karena itu tidak salah, kalau ia memberi tahu pada yang lain, bahwa ia punya kue yang enak dan bergizi. Orang yang belum mengenal akan menganggap aneh pastinya pada awalnya.

Tapi ketika orang sudah merasai kue itu,dan memang benar-benar lezat, maka orang itu bukan saja menjadi suka, tapi bisa menjadi ketagihan dan menjadi pelanggan. Pelanggan itu bisa jadi akan bicara pada pelanggan yang lain. Semakin banyak jaringan pelanggan, semakin banyak kue-kue yang bergizi dihasilkan. Dan akhirnya bisa merubah pasar. Pasar yang menjual kue tanpa gizi akan mencoba membuat kue bergizi pula. Sebab kuenya yang tidak bergizi tidak laku. Begitu juga dengan buku.

Saya belajar banyak dari adik saya yang marketing. Ketika mengajak membeli batik dan adik saya langsung promo ke penjual batik mengatakan, kalau batik itu untuk saya pakai di acara launching buku. Konyol dan aneh di mata saya yang pada awalnya beranggapan menulis saja tidak perlu orang tahu. Tapi lama kelamaan saya paham. Ada ribuan penulis dan cuma segelintir orang yang paham dan bersentuhan langsung dengan penulis.

Ribuan penulisnya bertugas hanya menulis saja, padahal orang lain perlu tahu pemikirannya yang bagus. Bahkan orang lain butuh juga bersentuhan dengannya, agar dapat ikut merasakan atmosfir positif darinya.
Tentunya ini bukan berarti setiap orang harus kenal dirinya dan ingin dipuja seperti layaknya artis. Ini cara lain agar mempengaruhi pasar dengan sesuatu yang bergizi. Dengan begini penulis yang bukunya tidak bergizi, lama kelamaan akan malu ketika orang di sekelilingnya hanya mau membaca buku yang bergizi. Lambat laun ia pasti akan mengubah tulisannya menjadi tulisan bergizi juga.

Mari Membeli, Sah Kok Membagi

Saya suka membagi buku. Membagi buku dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Saya membeli buku karya saya, saya beri tanda tangan, lalu saya berikan pada anak tetangga yang cukup pintar. Dia suka, terharu dan bertanya di toko mana ia bisa mendapatkan buku saya yang lain? Orangtuanya juga suka. Bahkan hebatnya, ia bisa mempengaruhi teman yang lain untuk membaca buku.
Memberi yang seperti ini sah untuk saya. Saya ikhlas mengeluarkan uang untuk membeli buku karangan saya di penerbit, untuk kemudian saya berikan pada orang yang layak menerimanya.

Saya juga suka memberi buku untuk teman yang berkunjung ke rumah meski ia tidak memintanya. Alasannya untuk saya karena saya senang dengan kehadiran mereka, dan balasan terima kasih saya adalah dengan menghadiahkan buku untuknya.
Rugi? Buat saya tidak.

Saya memberi juga ke orang lain. Mereka yang belum paham buku akan suka dan takjub. Lalu mulai membacanya. Seorang tetangga pernah meminta buku saya dan saya berikan. Dia tidak suka baca tapi anaknya suka baca. Dan buku saya itu menjadikan rujukan untuknya sering bertanya banyak hal pada saya.

Saya terdorong mengirim karya ke media karena sobekan kertas bungkus cabe milik Ibu. Ada sebuah puisi dan alamat pengiriman puisi tersebut pada kertas itu. Jadi andai saja, ada orangtua yang tidak suka buku lalu buku anaknya disobek olehnya, untuk jadi bungkus cabe atau bungkus apa saja, saya berharap lebih dari itu. Saya berharap akan ada orang lain yang membaca sobekan itu untuk kemudian jadi rujukan ia suatu saat kelak. Dan saya yakin itu bukan mimpi.

Memberi dengan mimpi suatu saat ke depan, itu akan membuat perjalanan memberi menjadi ringan. Untuk itu saya membuka kelas penulisan gratis di FB bernama Penulis Tangguh. Tujuannya memberi teladan dengan memberi yang terbaik.
Kalaupun kelas itu sekarang saya vakumkan, dan saya akhirnya membuat kelas berbayar, tentunya bukan karena saya akhirnya berhenti memberi. Ada niat lain yang wajib saya sembunyikan dan hanya saya bagi pada Pemilik Hidup. Ada tujuan lain yang tidak perlu digembar-gemborkan hanya untuk membuat orang lain memberi komentar sinis karena mereka tidak paham.

Untuk para penulis yang ingin menulis, mari belajar untuk membeli karya teman penulis lain. Jangan pernah meminta. Tetap jaga fokus menulis kita. Menjaganya seperti berada di sebuah jalan. Lurus atau bengkok memang terserah kita. Kalau saya, memaksakan diri untuk selalu lurus dan fokus. Artinya seheboh apapun penghasilan orang lain dengan tulisannya, saya punya gaya sendiri dan prinsip moral sendiri. Jadi saya tidak akan pernah mau mengganti prinsip moral saya dengan rupiah yang tidak bisa saya bawa sampai mati.

Tips Menang Lomba Menulis

DSCF3072

Berapa kali saya menang lomba?
Lomba balap karung? Lomba jahit kancing? Lomba MTQ? Lomba gerak jalan? Atau lomba masak?
Kebetulan saya sejak kecil selalu diikutkan lomba. Bukan oleh Bapak Ibu saya. Tapi oleh lingkungan.
Lomba MTQ tingkat kecamatan, itu waktu saya kelas dua SD. Jadi ceritanya Bapak saya suka jadi imam masjid. Dan Pak RT merasa sayalah orang yang paling pantas untuk diikutkan lomba MTQ mewakili RT.
Anak kecil umur delapan tahun, naik panggung, tidak paham aturannya. Aturan lomba yang disesuaikan dengan jenis lampu yang menyala di panggung. Lampu merah, hijau, sampai kuning.
Tapi,
lomba itu akhirnya menjadi pemicu saya diikutkan ke lomba-lomba lainnya, dan saya tidak mau menolak. Bahkan menikmati.

Saya memang mau menulis tentang lomba menulis. Tapi latar belakang itulah yang membuat saya suka ikut lomba. Senang menghadirkan kemenangan dan melihat wajah Bapak Ibu berseri dengan mata bercahaya, ketika saya menang lomba.
Sebuah lomba membuat saya bersemangat berjalan menuju target dan bukan hanya memberi atau menjadi yang terbaik. Tapi berproses untuk menjalani segala hal untuk menjadi yang terbaik alias pemenang.

Banyak mengikuti lomba membuat saya belajar kecewa ketika kalah. Dan yang terpenting saya belajar untuk tidak berhenti di satu titik bernama kecewa. Saya belajar untuk mengalahkan kecewa dan berjuang lagi. Saya juga menjadi sadar, selalu ada orang hebat di depan saya.
Saya pikir itu esensi paling penting dari seorang pemenang lomba.

Berapa kali saya menang lomba menulis?
Entahlah.
Di awal-awal menulis saya berkali-kali menang lomba menulis puisi. Lalu lama kelamaan kemenangan itu meningkat lagi, sesuai dengan target.
Saya memang tidak mau berhenti di satu titik bernama rasa puas diri.
Karena itu saya menciptkan target sendiri dalam menulis.
Saya harus bisa menguasai semua jenis tulisan. Dan indikator saya menguasai itu adalah, saya menang lomba di setiap genre tulisan. Alhamdulillah, target saya tercapai.

Sok tahu, kan? Sok pinter, kan? Atau sok hebat, kan? Atau malah kemaruk alias rakus?

Menjadi yang terbaik dan membuktikan hal itu. Itu yang diharapkan Bapak saya.
Dan saya pikir, membuktikan hal itu adalah dengan terus memacu diri memberi karya terbaik dan menjadi pemenang.

Soal lomba menulis, saya bukan sekedar pernah jadi pemenang. Tapi saya juga berkali-kali kalah. Tapi saya tidak mau terpuruk dalam kekalahan.
Setiap kekalahan membuat saya menganalisa, apa yang salah dengan naskah saya.
Setiap kekalahan membuat saya belajar banyak.

Ini yang saya pelajari dari sebuah kompetisi menulis :

Siapa yang Mengadakan Lomba

Ikut lomba boleh. Semua lomba juga tidak apa-apa. Tapi ada yang harus diperhatikan. Yaitu, siapakah penyelenggara lomba tersebut?
Jika penyelenggara lomba itu media cetak, juga harus dibedakan media cetak yang mana, dan seperti apa gaya tulisannya? Lalu ulasan seperti apa yang diinginkan?
Nah, untuk itu kamu harus mempelajari media cetak tersebut.

Jika penyelanggara lomba itu terhubung dengan sebuah instansi. Pelajari secara detail gambaran instansi tersebut. Sehingga kita bisa mengambil celah yang tidak bisa dilirik penulis lain.

Lihat Jurinya

Juri itu, orang yang dipilih untuk memeriksa naskah lomba yang masuk. Juri itu juga, biasanya orang yang punya gaya yang seirama dengan penyelenggara lomba. Karena itu, jika ingin ikut sebuah lomba menulis, pelajari siapa jurinya.
Cari tahu tulisan jurinya. Jelajahi blognya. Hingga kita akhirnya tahu seperti apa tulisan yang diinginkan oleh juri tersebut.

Patuhi Aturan Lomba

Saya suka ngeyel dengan aturan ketika menulis untuk media. Alasan saya sederhana. Ketika tulisan saya atau idenya mereka suka, maka pasti mereka akan menghubungi saya kembali untuk meminta revisi. Dan itu terbukti.
Tapi jangan pernah lakukan ini untuk sebuah lomba menulis.
Kalian yang ingin ikut lomba menulis, harus mengikuti aturan syarat yang berlaku. Syarat itu berupa, jumlah halaman, font yang diinginkan atau spasinya.

Pelajari Pemenang Tahun Sebelumnya

Banyak penulis yang mengikuti lomba dan ingin jadi pemenang, mempelajari naskah pemenang sebelumnya. Itu memang langkah yang paling benar. Tapi sayangnya, banyak yang akhirnya bertumpu pada naskah yang menang itu, lalu mencoba membuat dengan gaya yang sama. Atau bahkan ending yang sama. Ceritanya memang berbeda. Tapi gaya tulisan, bahkan ending, bahkan masalah juga hampir sama.
Alhasil tidak akan menang lomba.
Saya mempelajari pemenang sebelumnya bukan untuk melakukan hal itu.
Saya belajar untuk melihat celahnya. Artinya, saya harus menulis yang berbeda. Mencari celah yang berbeda. Mengulik sisi unik yang tidak dibahas sebelumnya.

Riset

Setiap lomba membutuhkan riset. Jadi lakukan hal itu, untuk membuat tulisanmu jadi berbeda.

Bonus DariNYA

Menjadi pemenang lomba memang hasil kerja keras kita. Tapi saya selalu yakin bahwa itu adalah rezeki dariNYA, yang memang dijatahkan untuk kita.
Ketika menjadi pemenang lomba cerpen remaja majalah Anita Cemerlang, kemenangan itu setelah saya putus asa dan berniat berhenti menulis. Karena bertahun-tahun kirim naskah, tulisan saya berupa cerpen remaja tidak ada yang dimuat.
Ketika menang lomba cerita bersambung majalah Gadis, itu ketika saya ingin kuliah di kuliah umum. Sebelumnya saya kuliah di UT. Saya ingin merasakan atmosfir kuliah di tempat yang umum, agar bisa mendapat pengalaman lebih banyak lagi. Uang hasil lomba itu, untuk uang pangkal kuliah saya.
Ketika menang lomba cerita bersambung Femina, itu ketika saya berniat resign dari pekerjaan dan memutuskan jadi penulis.
Bahkan ketika buku “Aku Sayang Bunda” terpilih sebagai buku anak terbaik, itu ketika saya membutuhkan laptop dan uang untuk melunasi utang. Kami baru saja bangkrut ditipu sana-sini. Laptop warna biru itu jadi kenangan manis sampai sekarang. Bisa dibaca pengalamannya di Tips Menulis IKAPI IBF AWARD 2012

Tulis yang Terbaik

Setiap karya pemenang adalah karya yang dianggap terbaik oleh jurinya. Jadi yang harus kamu lakukan ketika akan ikut lomba menulis adalah, beri tulisan yang terbaik. Jangan menulis asal saja dan berharap keberuntungan ada di tangan kamu.

Kamu Bisa Kalah
Jika ada pemenang dalam lomba menulis, pasti ada juga yang kalah. Ketika menulis, melakukan riset, saya selalu berjuang untuk menjadi pemenang. Hingga energi dari semangat itu membantu saya menulis sesuatu yang berbeda.
Tapi ketika naskah itu sudah saya kirim, saya selalu bersiap menjadi seorang yang kalah. Sehingga ketika saya benar-benar kalah, saya tidak terpuruk.
Dan hidup terus berlanjut. Saya terus menulis.

Hidup Dari Menulis

Salah satu hal yang selalu diinginkan seseorang yang masuk ke dunia penulis adalah mendapatkan honor dari tulisannya. Honor dalam bentuk uang tentu saja. Karena akan bisa terlihat jelas sebagai bentuk kerja kerasnya.
Pertanyaan selanjutnya, setelah beberapa kali mendapatkan honor di media adalah apakah kita bisa dapat hidup hanya dari menulis?
Untuk itu kita wajib memulainya dengan keyakinan KITA BISA.
Saya tidak akan pernah lupa rasanya ketika saya mencoba hidup dari dunia tulis menulis. Bukan lagi jatuh bangun tapi jungkir balik. Saya juga tidak akan lupa ketika saya bersikukuh tidak akan melamar pekerjaan dan akan melanjutkan kuliah dari honor menulis karena Bapak memasuki masa pensiun dan saya punya 4 adik lainnya.
Saat-saat pembayaran uang semester mendekat, hati saya kebat kebit tak menentu. Dan pertolongan Allah selalu datang tepat waktu. Selalu ada tiga atau empat naskah yang dimuat pada saat yang bersamaan dengan semakin mepetnya jadwal membayar uang semesteran. Sehingga langkah saya melaju dengan cepat.
Saya juga tidak akan pernah melupakan tekad saya dan ketidakyakinan orang lain pada keputusan saya. Pada saat itu saya saya merasa bahwa jalan saya sudah diarahkan untuk menjadi penulis.
Ketika lulus SMA, saya lulus menjadi mahasiswa di Badan Meteorologi dan Klematologi Geofisika (BMKG) dan mengalahkan ratusan pesaing lainnya, toh saya harus mundur. Karena Bapak tidak menyetujui saya menjalani ikatan dinas di Manado.
Bahkan ketika kakak saya bisa mendapatkan informasi bahwa kenalannya bisa menampung saya di Manado, telegram yang Kakak berikan pada saya baru sampai dua minggu kemudian padahal saya sudah mengirimkan surat mengundurkan diri dari BMKG.
Ketika lamaran saya sebagai pramugari Garuda diterima, surat untuk interview pun lagi-lagi datang terlambat. Karena surat panggilan itu baru sampai seminggu kemudian dari jadwal wawancara.
Akhirnya saya bukan lagi bertekad tapi memang tercebur dan tenggelam di dunia menulis.
Bisa bertahan hingga sekarang sejak naskah puisi saya pertama dimuat di media tahun 1982.
Bisa bertahan karena dulu jarang yang berniat menjadi menulis?
Saya berpikir begini. Ketika ada yang bertanya seperti itu maka saya akan menjawab seperti ini :
1. Pada saat itu memang tidak banyak saingannya tapi akses untuk mengirimkan tulisan ke media memerlukan tekad besar. Selain peralatan mesin tik yang mengharuskan kita menulis dengan minim kesalahan agar tidak sia-sia selembar kertas yang harus dibeli dengan uang, kita juga harus membeli perangko atau menggunakan kilat khusus bila ingin cepat sampai ke redaksi majalah. Sekarang kita tinggal duduk di depan komputer dan sent. Dengan tiga ribu satu jam di warnet kita bisa cari informasi sebanyak-banyaknya dan mengirim naskah sebanyak-banyaknya.
2. Dulu stasiun televisi hanya sedikit, maka kemungkinan untuk menembus ke media televisi untuk naskah berbentuk skenario perlu waktu lama. Sekarang, banyak teman-teman penulis skenario dan PH yang membutuhkan skenario yang bisa kita cari asal memiliki kepekaan dan kejelian untuk mencarinya. Dan semuanya itu bisa dilakukan di depan komputer.
Padahal dulu untuk sebuah naskah skenario yang di ACC di TVRI pun saya harus bolak-balik dengan bus dan merevisi naskah itu berkali-kali. Meski sudah memakai kop yang dipinjamkan Mas Aditya Gumay atas nama sanggar Kawula Muda, tetap naskah itu tidak meluncur sempurna.
3. Dulu, menerbitkan buku sulit sekali. Jadi honor datang dari majalah dan koran. Saya sendiri bisa menghasilkan buku setelah 20 tahun menulis dan 10 tahun bermimpi untuk itu. Artinya apa? Artinya dengan banyaknya penerbit, kemungkinan besar kita akan mudah dong mendapatkan honor dari buku kita yang diterbitkan. Banyaknya penerbit juga membuka peluang kita untuk menjadi editor atau reviewer di penerbit tersebut.
4. Lomba menulis dulu tidak seramai sekarang? Jadi bisa disimpulkan sendiri, kan?
Menjadi penulis ketika ingin total itu artinya hanya satu untuk saya. Terus bekerja lebih giat dengan menulis dan tidak patah semangat.
Usaha ingin maju dan bertahan bila kita kreatif dan tidak diam di tempat. Punya sesuatu yang unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Bila sudah merasa mampu menulis fiksi, coba lah belajar untuk menulis artikel. Mulai dari artikel yang ringan hingga yang berat. Sehingga ketika porsi fiksi dikurangi dalam satu media, atau buku fiksi tidak lagi booming kita punya cadangan untuk menulis yang lain.
Menulis memang sudah menjadi sesuatu yang mudah saat ini . Tapi jangan disepelekan. Feeling sangat diperlukan dalam menulis. Keyakinan bahwa naskah kita akan selalu berada di tangan yang benar juga wajib diperlukan. Dan standar untuk setiap tulisan kita mau dikirim kemana juga dibutuhkan.
Lalu bagaimana cara bertahan di dunia tulis menulis?
Saya jadi ingat pengalaman kedua saya begitu yakin dengan dunia tulis menulis adalah ketika saya memutuskan resign dari kantor dan fokus menjadi penulis. Bukan karena suami saya hidup berlimpah harta. Tapi karena saya yakin saya bisa hidup dari menulis.
Lalu apakah pilihan itu membahagiakan?
Ketika suami memilih untuk memiliki usaha dan kami bangkrut pun saya terus menulis. Bahkan bersyukur pada saat itu royalti dan DP dari buku-buku saya cukup besar. Dari satu buku saja royaltinya sepuluh kali lipat lebih banyak dari honor cerpen di majalah ternama.
Ketika rumah tangga kami diuji dengan hutang bertumpuk pun, saya tetap melakoni menulis. Buku-buku tetap bermunculan. Dengan fasilitas seadanya. Monitor komputer yang tidak utuh penampilannya.
Sekarang ketika dalam keadaan segala badai sudah berlalu saya terus menulis. Dengan produktivitas yang masih sama dengan saya pertama kali menulis dulu.
Dan kebahagiaan saya dari dulu hingga sekarang sama. Dengan semangat yang juga tidak berubah.
Jadi masalah sebenarnya dalam dunia kepenulisan bukan dunia menulis itu sendiri. Tapi tekad kita yang kurang sebagai penulis.
Bisa diibaratkan dengan seorang yang baru menceburkan ujung kakinya di dalam air dan merasakan cubitan seekor kepiting pada kakinya, ia merasa jera untuk terus memasukkan kakinya lebih dalam ke air tersebut. Lalu bicara pada setiap orang bahwa masuk ke dalam air itu berbahaya.
Padahal semakin dalam tercebur, semakin kita tahu bahwa banyak rintangan yang bisa diatasi dengan trik-trik yang kita dapatkan karena pengalaman kita bergelut dengan air.
Sampai sekarang saya terus menulis. Setiap hari saya menulis dengan jadwal harian yang tetap. Setelah urusan rumah tangga selesai, suami dan anak-anak meninggalkan rumah dengan perut kenyang.
Saya selalu melupakan naskah yang saya kirim ke media. Tapi saya punya folder setiap bulannya naskah apa yang saya kirim ke media dan ke penerbit. Lalu saya punya hitungan waktu, kapan naskah itu harus saya poles kembali dan saya lempar ke penerbit atau media lain.
Saya juga masih aktif untuk ikut lomba menulis. Selain untuk merasakan sensasi persaingan, di dalam sebuah lomba juga disediakan hadiah uang.
Matre?
Menulis adalah pekerjaan saya. Jadi menulis bukan lagi untuk nama. Tidak masalah bila ada sebuah tulisan yang saya tulis tanpa nama saya tercantum di dalamnya. Sepanjang tulisan itu adalah tulisan yang saya buat dengan prinsip hidup yang selama ini saya jalani. Toh setahun belakangan ini saya juga menjadi penulis tetap sebuah majalah dan menghasilkan bermacam-macam tulisan tanpa nama saya tercantum untuk itu.
Lalu masalah menulis untuk amal?
Masalah amal atau sedekah, biar lah itu jadi rahasia saya dan Allah. Lebih indah bila hanya saya dan Yang Memiliki Rezeki yang mengerti.
Bagaimana?
Masih ingin terus menjadi penulis?
Nasehat saya lagi.
Jika yakin dengan menulis, pegang keyakinan dan jangan beri garam keluhan.
Tambah ilmu, tambah wawasan dan jangan diam di tempat. Kita yang diam ditempat dan merasa sudah pintar hanya akan membuat orang lain yang terus menambah ilmunya dan menambah wawasannya berlari jauh di depan kita.
Tetap menulis.
Kalau merasa tidak mampu bertahan sebagai penulis, lebih baik cari pekerjaan lain dan jadikan penulis pekerjaan sampingan bukan pekerjaan utama. Sehingga tidak mengotori hari kita dengan mengeluh dan mengeluh.
Life is simple. So, make it simple. Right?

Bukan Sekedar Menulis

DSCF2218

Menjadi penulis, untuk yang terbiasa menulis pada akhirnya adalah suatu hal yang menyenangkan. Kesukaan alias hobi yang bisa dijadikan profesi. Semakin menyenangkan ketika setelah menjadi ibu, karena itu artinya kita punya jadwal kerja di rumah dan bisa memantau perkembangan anak-anak total dalam jangkauan pandangan mata.
Tapi sayangnya menjadi penulis, banyak yang menganggap hanya perlu kemampuan menulis saja. Padahal menurut saya, penulis adalah seseorang yang menuliskan segala hikmah dalam bentuk tulisan (ini teori saya).
Penulis menulis apa yang ia lihat, ia jalani, ia baca, ia sikapi, ia teladani. Bukan sekedar menulis dan mengarang-ngarang cerita tidak jelas tanpa makna bahkan tanpa keinginan orang lain mengambil manfaat dari cerita itu.
Menulisnya sederhana (banyak yang berpikiran begitu). Aku punya pengalaman, aku bisa menulis, ya tulis saja. Ada yang menerbitkan, ada media yang memuat, Alhamdulillah.
Proses menulis yang sederhana seperti itu, pada akhirnya juga akan berakhir dengan sederhana. Tulisan kita berputar dari itu ke itu saja. Idenya itu ke itu saja. Cara kita bertutur juga itu ke itu saja. Banyak yang suka. Tapi lama kelamaan bisa dilanda kejenuhan.
Menurut saya, jika menulis dengan cara seperti itu, maka karir menulis kita juga hanya berjalan di jalan yang sama. Jalan di tempat, sebelum akhirnya mengambil keputusan, berhenti atau tenggelam karena tidak mampu bersaing dengan para penulis-penulis baru yang bermunculan.
Konsep menulis itu memang sederhana. Anak-anak di rumah suka menyederhanakan seperti itu. Ah gampang. Dikarang-karang saja. Itu menurut mereka yang setiap hari melihat ibunya di depan komputer dan selalu menghadiahi mereka buku-buku.
Menulis memang dimulai dari ide, setelah niat kuat tentu saja. Tapi kita tidak menulis hanya berbekal ide saja.
Kalau hanya berbekal ide, maka seorang Buya Hamka tidak akan bisa membuat novel Di Bawah Lindungan Kabah dan Angkatan Baru. Lalu berproses membuat Tafsir Al Azhar 30 juz. Kebetulan Bapak saya mengidolakan Buya Hamka jadi buku-buku beliau banyak di rumah.
Buya Hamka berproses dalam menulis.
Atau idola saya Emha Ainun Najib. Beliau mampu menulis puisi, kumpulan kolomnya juga cantik. Fiksinya juga sarat makna. Kenapa? Sebab Emha mau berproses dan sadar bahwa menulis itu butuh proses.
Menjadi penulis itu, menurut saya, seperti seperti menjadi sebuah teko berisi air. Yang ke luar dari dalam teko itu, apakah air gula, air sirup atau air comberan sekalipun, adalah tergantung apa isi yang ada di dalam diri teko itu.
Demikian juga dengan tulisan.
Jika kita terbiasa membaca yang tidak bermanfaat, maka tulisan yang kita hasilkan juga sesuatu yang tidak bermanfaat. Yang tidak membuat orang lain tergerak untuk melakukan perubahan setelah membaca tulisan kita.
Menjadi penulis itu juga jangan seperti teko kosong? Apa yang dihasilkan oleh sebuah teko yang kosong? Cuma angin. Angin yang bisa jadi membuat sakit perut. Angin yang juga tidak menyegarkan karena kecil kapasitasnya untuk membuat orang lain merasa tersejukkan.
Baca.
Seribu kali baca. Bukankan itu makna kenapa ayat pertama yang diturunkan dalam Al Quran adalah kalimat Iqra (baca). Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan.
Artinya untuk saya adalah baca. Sebab dengan membaca sumber pengetahuan kita bertambah. Dunia yang tidak pernah kita datangi akan ada di dalam genggaman ketika sebuah buku ada di tangan kita. Kebijaksanaan yang dilakukan orang lain, bisa kita jadikan teladan, jika kita mau membaca.
Termasuk menulis fiksi?
Ya, menulis fiksi (mengarang) memang sederhana. Setiap orang punya dongeng tentang hidupnya. Dan semuanya yakin bisa menulis apa yang dilihat dengan menuliskannya menjadi sebuah cerita.
Sederhana harusnya.
Tapi menjadi tidak sederhana ketika yang merasa mampu menulis itu tidak mau membaca. Kisah-kisah hidup yang ditulisnya dalam cerita, karena ia tidak mau belajar dari contoh tulisan orang lain, akhirnya mati gaya. Hanya itu ke itu saja.
Menjadi penulis harus mau berkembang.
Saya ingat betul proses saya menulis cerita anak. Ketika mahasiswa, cerpen saya beberapa kali menghiasi majalah BOBO. Tapi setelah itu, apakah saya mulus menulis novel untuk anak?
Untuk memulai menulis cerita anak lagi, setelah vakum bertahun-tahun fokus di naskah remaja dan dewasa, saya belajar lagi. Saya membeli banyak novel anak dalam dan luar negeri. Membandingkan.
Pada akhirnya mendapatkan trik ide yang tidak biasa.
Sebuah novel anak yang tidak memuaskan untuk saya, karena seringnya tokohnya tidak sebebas anak-anak khususnya sebebas saya ketika anak-anak. Kalimatnya sering terlalu panjang sehingga ketika saya ceritakan pada anak-anak, saya harus memotong kalimat itu agar mereka tidak bosan, pada akhirnya membuat saya tahu bagaimana menulis cerita yang saya suka, anak-anak suka dan mereka bisa membaca cerita itu tanpa saya pandu.
Novel Aku Sayang Bunda, itu novel anak pertama yang saya buat.
Ketika saya ingin sekali memiliki sebuah kolom di sebuah surat kabar atau majalah, setahun saya belajar bagaimana tulisan dalam sebuah kolom itu. Mengandai-andai bila kelak saya memiliki sebuah kolom di majalah.
Belajar tak kenal henti. Membaca dan menulis juga tak kenal henti dalam satu kesatuan utuh.
Jadwal menulis saya pasti. Jadwal membaca saya juga pasti. Setelah urusan rumah tangga selesai, anak-anak dan suami kenyang. Dan semuanya biasa saya kerjakan pagi-pagi. Dari mulai menyetrika, mencuci baju dan mengepel.
Selingan dalam menulis adalah ketika tukang sayur lewat, ketika anak minta ditemani membuat PR, atau ketika mereka hanya ingin adu panco juga belajar catur.
Selingan lainnya kalau lagi ingin sedikit lama ngobrol dengan tetangga. Itu artinya setelah membeli sayur, saya bisa mengobrol dulu dengan tetangga dengan tambahan waktu beberapa menit. Dan komputer tetap menyala.
Menjadi penulis itu mudah. Membaca juga tidak kalah mudah. Membekali diri dengan membaca akan membuat tulisan kita berkembang.
Jika ingin tulisan kita ‘kaya’, maka jangan hanya membaca buku fiksi saja. Coba jelajahi buku-buku non fiksi. Bertekun dalam membaca non fiksi akan membuat kita tambah ilmu.
Tulislah apa yang memang enak untuk karakter kita sesuai dengan gaya kita. Karena sebenarnya menulis itu seperti kita memakai baju. Baju yang kita sukai gayanya berbeda dengan gaya orang lain.
Beberapa tahun ini, proses membaca saya menjadi lebih berkembang bukan sekedar membaca.
Ketika sedang membaca sebuah buku, saya membayangkan ketika penulis itu menulis sebuah cerita yang sedang saya baca, apa yang sedang ia lakukan.
Pada akhirnya pengetahuan saya menjadi berkembang. Dan saya jadi memahami karakter penulisnya dari dua atau tiga buku karangannya yang saya baca.
Karakter penulis yang satu dan yang lain berbeda meski idenya sama. Seperti baju biru yang dipakai A dan dipakai B itu berbeda meski motifnya sama. Karena style ketika dia memakainya itu yang akan membuat berbeda.
Jane Eyre dan Anne Of The Island berkisah tentang gadis yatim piatu dan kisah cinta mereka. Sama-sama kisah cinta klasik. Tapi toh bisa berbeda karena penulisnya berbeda.
Dan belajar tentang karakter penulis, saya lalu mencoba menggali-gali mana tulisan yang sekedar tempelan sebuah cerita dan mana yang benar-benar keluar dari hati, membuat saya semakin kaya pemahaman juga imajinasi.
Jadi jangan mau mati langkah dalam menulis.
Saya ingin terus menulis bahkan ketika usia sudah menua dan tentu saja, saya tidak ingin diam di tempat.
Bapak saya di usia 80 tahun masih kuat ingatannya karena gemar membaca. Orangtua sahabat, penulis fiksi bahasa Jawa juga masih kuat ingatannya. Ibu saya bahkan baru belajar menghapal juz 30 di usia 65 tahun dan masih bisa menghapal, kuat juga ingatannya.
Membaca dan menulis itu rangkaian yang harus kita jalankan jika tidak ingin diam di tempat dalam menulis.