Agar Media Tidak Bangkrut Part One

Me, pak guru dan mbak ruwi

Dosen tamu

IBF JOgja

Hal apa yang paling menyedihkan untuk saya sebagai penulis? Hal ini saya yakin juga dirasakan para penulis lain, yang cukup lama berkutat mengukuhkan nama di media cetak. Hal itu bernama matinya sebuah media cetak. Saya dan Pak Guru dari Makasar S Gegge Mappangewa membahasnya dalam pertemuan di anjungan Jawa Tengah TMII kemarin (Rabu 27 Agustus 2014).
Matinya sebuah media cetak menjadi sangat penting untuk penulis. Apalagi penulis yang tumbuh kembang dengan karya yang kami kirimkan untuk media. Saya bukan cuma tumbuh berkembang tapi melekat erat dengan media ceteak. Karena hidup dari menulis yang saya lakukan, banyak terkait dan berhubungan dengan karya saya yang ada di media cetak.

Seseorang bisa hidup dan bisa menemui ajal. Media cetak? Media cetak tentu saja bisa mengalami hal yang sama. Seidealis apapun media cetak tersebut, ketika berhubungan dengan pasar, maka media itu harus mengambil keputusan.

Yang pertama dia tetap bertahan dengan prinsipnya dan hidup dari para pelanggan yang cinta pada media juga tergantung lalu membeli.

Dua, media itu bisa hidup dari suply iklan. Itu artinya iklan akan memberi penghasilan untuk media dan dengan adanya iklan yang deras, laku tidak lakunya media tidak lagi memusingkan pemilik modal karena akan selalu ada uang yang mengalir. Tapi itu juga artinya media tersebut akan mengikuti arus pengiklan. Isi akan mereka sesuaikan dengan iklan yang masuk. Dan iklan yang masuk itu pastinya akan dilingkari dengan apa yang dinamakan kebutuhan industri.

Tiga media cetak itu mempunyai sistem management yang buruk, sehingga seleksi alam mengharuskan ia mati.

Untuk saya, kematian sebuah media cetak itu seringkali membuat kening lebih banyak berkerut. Yang paling membuat miris adalah option ketika media cetak mati karena tidak ada lagi pembeli. Sebab saya paham betul banyak dari penulis yang malas bersentuhan dengan media cetak, pelit untuk membeli dengan banyak alasan, tapi mereka berjuang keras untuk menembus media cetak tersebut. Padahal membeli sebuah media cetak itu banyak keuntungan untuk penulis. Informasi di media cetak itu, karena sifatnya massal (mass communication), maka tentunya bukan informasi yang diolah asal jadi. Ada sentuhan seperti tegangan listrik tertentu yang bisa didapat ketika membeli sebuah media, yang tidak bisa tergantikan dengan membacanya dari postingan seorang teman di sebuah blog.

Seorang yang memegang media cetak juga artinya dia punya waktu khusus untuk membaca dan memahami. Berbeda dengan ketika membaca media online yang informasinya cepat dan seringnya tidak digarap dengan maksimal. Bahkan nara sumber sering juga hanya copy paste dari berita-berita yang ada.

Menjadi Penulis yang Bijak

Saya membenarkan ucapan Pak Guru Gegge pemenang novel Republika, peraih IBF Award 2013 dan pemenang pertama lomba Tulis Nusantara bahwa dulu, kami para penulis dihubungkan oleh media cetak . Itu artinya ketika kami menulis untuk media cetak, kami jadi terikat pada media tersebut. Kami mengamati teman-teman yang namanya hadir di media tersebut. Tentunya mengamati dengan cara bersentuhan dengan media tersebut, membeli eceran atau dengan cara berlangganan.

Kami paham gaya penulis yang satu dengan penulis yang lain. Kami paham seberapa sering penulis itu karyanya dimuat di satu media. Itulah mengapa sesama penulis yang biasa menulis di media di masa lalu, saling mengenal dengan baik, bahkan hingga saat ini.

Saya juga membenarkan bahwa meski sekarang menulis adalah profesi, kami dulu ingin menulis karena ingin nama kami ada di media. Dan nama hadir di media cetak itu artinya membawa banyak konsekwensi termasuk harus rajin-rajin membeli media dan bersentuhan dengan media.
Karena itu media cerpen Anita Cemerlang bisa berumur panjang dan lama karena kesetiaan pelanggannya, yaitu kebanyakan kami para penulisnya yang menjadi pelanggan setia. Bukan hanya pelanggan mengirimkan karya.

Penulis sekarang hubungannya tidak sekental dulu. Persaingan yang ada bahkan justru menjatuhkan. Yang satu ingin dianggap hebat dari yang lain, lalu berujung justru melecehkan karya yang lain hanya untuk diupload di social media.

Padahal jika penulis yang satu dan penulis yang lain terhubung dalam satu ikatan yang kental dan tulus, maka akan mudah untuk mendapatkan informasi baru tentang dunia media atau dunia penerbitan. Misalnya, media mana yang harus dijauhi karena tidak menghargai penulis dengan tidak membayar honor yang jelas-jelas sudah mereka cantumkan bahwa setiap kontributor akan mendapatkan honor.

Atau penerbit mana yang surat perjanjiannya membuat penulis mati kutu karena ujungnya menddapat royalti yang tidak masuk akal karena saking sedikitnya.
Terhubung untuk sesuatu yang lebih baik lagi untuk saya menjadi penting.

Sungguh modal utama penulis bukan sekedar ide apalagi seperangkat peralatan menulis canggih. Yang diperlukan adalah niat untuk terus belajar dan mau menyisikan sebagian kecil dananya untuk membeli media cetak . Dengan begitu, kebangkrutan media bisa diminimalisir.

Pada pertemuan itu, saya juga bicara dengan Mbak Ruwi, pemenang pertama lomba Tulis Nusantara. Kali ini bicara tentang dunia penerbitan dan kisaran royalti yang membuat miris para penulis. Di belakang tempat kami bertemu itu, kebetulan ada sebuah acara yang suaranya berisik di isi para remaja. Mbak Ruwi bilang sering sekali ada acara seperti itu selama ia menginap.
Saya bilang pada Mbak Ruwi yang novelnya sudah banyak untuk mulai belajar PD. Belajar PD bisa dengan cara memulai duduk berkenalan dengan mereka. Lalu tunjukkan novel yang ia buat. Itu artinya, ia harus siap selalu membawa buku karyanya kemanapun ia pergi. Dan tentu saja kartu nama.

Buku yang penulis hasilkan berbeda sifatnya dengan karya di media cetak. Media cetak berisi banyak karya, banyak tulisan. Orang fokus pada keberagaman isinya untuk menggali banyak informasi. Sebuah buku lebih personal lagi, apalagi jika ditulis secara sendiri dalam artian buku solo. Orang dihadapkan pada satu informasi tapi disajikan lebih mendalam.

Dalam hal ini, pandangan saya untuk buku solo seperti ketika pedagang kue membuat kue. Kue yang menjadi andalan karena dibuat dengan sepenuh hati, sepenuh tenaga, apalagi kue itu bergizi, tentu saja wajar jika si pembuat kue ingin kue itu juga dinikmati oleh orang lain. Karena itu tidak salah, kalau ia memberi tahu pada yang lain, bahwa ia punya kue yang enak dan bergizi. Orang yang belum mengenal akan menganggap aneh pastinya pada awalnya.

Tapi ketika orang sudah merasai kue itu,dan memang benar-benar lezat, maka orang itu bukan saja menjadi suka, tapi bisa menjadi ketagihan dan menjadi pelanggan. Pelanggan itu bisa jadi akan bicara pada pelanggan yang lain. Semakin banyak jaringan pelanggan, semakin banyak kue-kue yang bergizi dihasilkan. Dan akhirnya bisa merubah pasar. Pasar yang menjual kue tanpa gizi akan mencoba membuat kue bergizi pula. Sebab kuenya yang tidak bergizi tidak laku. Begitu juga dengan buku.

Saya belajar banyak dari adik saya yang marketing. Ketika mengajak membeli batik dan adik saya langsung promo ke penjual batik mengatakan, kalau batik itu untuk saya pakai di acara launching buku. Konyol dan aneh di mata saya yang pada awalnya beranggapan menulis saja tidak perlu orang tahu. Tapi lama kelamaan saya paham. Ada ribuan penulis dan cuma segelintir orang yang paham dan bersentuhan langsung dengan penulis.

Ribuan penulisnya bertugas hanya menulis saja, padahal orang lain perlu tahu pemikirannya yang bagus. Bahkan orang lain butuh juga bersentuhan dengannya, agar dapat ikut merasakan atmosfir positif darinya.
Tentunya ini bukan berarti setiap orang harus kenal dirinya dan ingin dipuja seperti layaknya artis. Ini cara lain agar mempengaruhi pasar dengan sesuatu yang bergizi. Dengan begini penulis yang bukunya tidak bergizi, lama kelamaan akan malu ketika orang di sekelilingnya hanya mau membaca buku yang bergizi. Lambat laun ia pasti akan mengubah tulisannya menjadi tulisan bergizi juga.

Mari Membeli, Sah Kok Membagi

Saya suka membagi buku. Membagi buku dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Saya membeli buku karya saya, saya beri tanda tangan, lalu saya berikan pada anak tetangga yang cukup pintar. Dia suka, terharu dan bertanya di toko mana ia bisa mendapatkan buku saya yang lain? Orangtuanya juga suka. Bahkan hebatnya, ia bisa mempengaruhi teman yang lain untuk membaca buku.
Memberi yang seperti ini sah untuk saya. Saya ikhlas mengeluarkan uang untuk membeli buku karangan saya di penerbit, untuk kemudian saya berikan pada orang yang layak menerimanya.

Saya juga suka memberi buku untuk teman yang berkunjung ke rumah meski ia tidak memintanya. Alasannya untuk saya karena saya senang dengan kehadiran mereka, dan balasan terima kasih saya adalah dengan menghadiahkan buku untuknya.
Rugi? Buat saya tidak.

Saya memberi juga ke orang lain. Mereka yang belum paham buku akan suka dan takjub. Lalu mulai membacanya. Seorang tetangga pernah meminta buku saya dan saya berikan. Dia tidak suka baca tapi anaknya suka baca. Dan buku saya itu menjadikan rujukan untuknya sering bertanya banyak hal pada saya.

Saya terdorong mengirim karya ke media karena sobekan kertas bungkus cabe milik Ibu. Ada sebuah puisi dan alamat pengiriman puisi tersebut pada kertas itu. Jadi andai saja, ada orangtua yang tidak suka buku lalu buku anaknya disobek olehnya, untuk jadi bungkus cabe atau bungkus apa saja, saya berharap lebih dari itu. Saya berharap akan ada orang lain yang membaca sobekan itu untuk kemudian jadi rujukan ia suatu saat kelak. Dan saya yakin itu bukan mimpi.

Memberi dengan mimpi suatu saat ke depan, itu akan membuat perjalanan memberi menjadi ringan. Untuk itu saya membuka kelas penulisan gratis di FB bernama Penulis Tangguh. Tujuannya memberi teladan dengan memberi yang terbaik.
Kalaupun kelas itu sekarang saya vakumkan, dan saya akhirnya membuat kelas berbayar, tentunya bukan karena saya akhirnya berhenti memberi. Ada niat lain yang wajib saya sembunyikan dan hanya saya bagi pada Pemilik Hidup. Ada tujuan lain yang tidak perlu digembar-gemborkan hanya untuk membuat orang lain memberi komentar sinis karena mereka tidak paham.

Untuk para penulis yang ingin menulis, mari belajar untuk membeli karya teman penulis lain. Jangan pernah meminta. Tetap jaga fokus menulis kita. Menjaganya seperti berada di sebuah jalan. Lurus atau bengkok memang terserah kita. Kalau saya, memaksakan diri untuk selalu lurus dan fokus. Artinya seheboh apapun penghasilan orang lain dengan tulisannya, saya punya gaya sendiri dan prinsip moral sendiri. Jadi saya tidak akan pernah mau mengganti prinsip moral saya dengan rupiah yang tidak bisa saya bawa sampai mati.

Tips Menang Lomba Menulis

DSCF3072

Berapa kali saya menang lomba?
Lomba balap karung? Lomba jahit kancing? Lomba MTQ? Lomba gerak jalan? Atau lomba masak?
Kebetulan saya sejak kecil selalu diikutkan lomba. Bukan oleh Bapak Ibu saya. Tapi oleh lingkungan.
Lomba MTQ tingkat kecamatan, itu waktu saya kelas dua SD. Jadi ceritanya Bapak saya suka jadi imam masjid. Dan Pak RT merasa sayalah orang yang paling pantas untuk diikutkan lomba MTQ mewakili RT.
Anak kecil umur delapan tahun, naik panggung, tidak paham aturannya. Aturan lomba yang disesuaikan dengan jenis lampu yang menyala di panggung. Lampu merah, hijau, sampai kuning.
Tapi,
lomba itu akhirnya menjadi pemicu saya diikutkan ke lomba-lomba lainnya, dan saya tidak mau menolak. Bahkan menikmati.

Saya memang mau menulis tentang lomba menulis. Tapi latar belakang itulah yang membuat saya suka ikut lomba. Senang menghadirkan kemenangan dan melihat wajah Bapak Ibu berseri dengan mata bercahaya, ketika saya menang lomba.
Sebuah lomba membuat saya bersemangat berjalan menuju target dan bukan hanya memberi atau menjadi yang terbaik. Tapi berproses untuk menjalani segala hal untuk menjadi yang terbaik alias pemenang.

Banyak mengikuti lomba membuat saya belajar kecewa ketika kalah. Dan yang terpenting saya belajar untuk tidak berhenti di satu titik bernama kecewa. Saya belajar untuk mengalahkan kecewa dan berjuang lagi. Saya juga menjadi sadar, selalu ada orang hebat di depan saya.
Saya pikir itu esensi paling penting dari seorang pemenang lomba.

Berapa kali saya menang lomba menulis?
Entahlah.
Di awal-awal menulis saya berkali-kali menang lomba menulis puisi. Lalu lama kelamaan kemenangan itu meningkat lagi, sesuai dengan target.
Saya memang tidak mau berhenti di satu titik bernama rasa puas diri.
Karena itu saya menciptkan target sendiri dalam menulis.
Saya harus bisa menguasai semua jenis tulisan. Dan indikator saya menguasai itu adalah, saya menang lomba di setiap genre tulisan. Alhamdulillah, target saya tercapai.

Sok tahu, kan? Sok pinter, kan? Atau sok hebat, kan? Atau malah kemaruk alias rakus?

Menjadi yang terbaik dan membuktikan hal itu. Itu yang diharapkan Bapak saya.
Dan saya pikir, membuktikan hal itu adalah dengan terus memacu diri memberi karya terbaik dan menjadi pemenang.

Soal lomba menulis, saya bukan sekedar pernah jadi pemenang. Tapi saya juga berkali-kali kalah. Tapi saya tidak mau terpuruk dalam kekalahan.
Setiap kekalahan membuat saya menganalisa, apa yang salah dengan naskah saya.
Setiap kekalahan membuat saya belajar banyak.

Ini yang saya pelajari dari sebuah kompetisi menulis :

Siapa yang Mengadakan Lomba

Ikut lomba boleh. Semua lomba juga tidak apa-apa. Tapi ada yang harus diperhatikan. Yaitu, siapakah penyelenggara lomba tersebut?
Jika penyelenggara lomba itu media cetak, juga harus dibedakan media cetak yang mana, dan seperti apa gaya tulisannya? Lalu ulasan seperti apa yang diinginkan?
Nah, untuk itu kamu harus mempelajari media cetak tersebut.

Jika penyelanggara lomba itu terhubung dengan sebuah instansi. Pelajari secara detail gambaran instansi tersebut. Sehingga kita bisa mengambil celah yang tidak bisa dilirik penulis lain.

Lihat Jurinya

Juri itu, orang yang dipilih untuk memeriksa naskah lomba yang masuk. Juri itu juga, biasanya orang yang punya gaya yang seirama dengan penyelenggara lomba. Karena itu, jika ingin ikut sebuah lomba menulis, pelajari siapa jurinya.
Cari tahu tulisan jurinya. Jelajahi blognya. Hingga kita akhirnya tahu seperti apa tulisan yang diinginkan oleh juri tersebut.

Patuhi Aturan Lomba

Saya suka ngeyel dengan aturan ketika menulis untuk media. Alasan saya sederhana. Ketika tulisan saya atau idenya mereka suka, maka pasti mereka akan menghubungi saya kembali untuk meminta revisi. Dan itu terbukti.
Tapi jangan pernah lakukan ini untuk sebuah lomba menulis.
Kalian yang ingin ikut lomba menulis, harus mengikuti aturan syarat yang berlaku. Syarat itu berupa, jumlah halaman, font yang diinginkan atau spasinya.

Pelajari Pemenang Tahun Sebelumnya

Banyak penulis yang mengikuti lomba dan ingin jadi pemenang, mempelajari naskah pemenang sebelumnya. Itu memang langkah yang paling benar. Tapi sayangnya, banyak yang akhirnya bertumpu pada naskah yang menang itu, lalu mencoba membuat dengan gaya yang sama. Atau bahkan ending yang sama. Ceritanya memang berbeda. Tapi gaya tulisan, bahkan ending, bahkan masalah juga hampir sama.
Alhasil tidak akan menang lomba.
Saya mempelajari pemenang sebelumnya bukan untuk melakukan hal itu.
Saya belajar untuk melihat celahnya. Artinya, saya harus menulis yang berbeda. Mencari celah yang berbeda. Mengulik sisi unik yang tidak dibahas sebelumnya.

Riset

Setiap lomba membutuhkan riset. Jadi lakukan hal itu, untuk membuat tulisanmu jadi berbeda.

Bonus DariNYA

Menjadi pemenang lomba memang hasil kerja keras kita. Tapi saya selalu yakin bahwa itu adalah rezeki dariNYA, yang memang dijatahkan untuk kita.
Ketika menjadi pemenang lomba cerpen remaja majalah Anita Cemerlang, kemenangan itu setelah saya putus asa dan berniat berhenti menulis. Karena bertahun-tahun kirim naskah, tulisan saya berupa cerpen remaja tidak ada yang dimuat.
Ketika menang lomba cerita bersambung majalah Gadis, itu ketika saya ingin kuliah di kuliah umum. Sebelumnya saya kuliah di UT. Saya ingin merasakan atmosfir kuliah di tempat yang umum, agar bisa mendapat pengalaman lebih banyak lagi. Uang hasil lomba itu, untuk uang pangkal kuliah saya.
Ketika menang lomba cerita bersambung Femina, itu ketika saya berniat resign dari pekerjaan dan memutuskan jadi penulis.
Bahkan ketika buku “Aku Sayang Bunda” terpilih sebagai buku anak terbaik, itu ketika saya membutuhkan laptop dan uang untuk melunasi utang. Kami baru saja bangkrut ditipu sana-sini. Laptop warna biru itu jadi kenangan manis sampai sekarang. Bisa dibaca pengalamannya di Tips Menulis IKAPI IBF AWARD 2012

Tulis yang Terbaik

Setiap karya pemenang adalah karya yang dianggap terbaik oleh jurinya. Jadi yang harus kamu lakukan ketika akan ikut lomba menulis adalah, beri tulisan yang terbaik. Jangan menulis asal saja dan berharap keberuntungan ada di tangan kamu.

Kamu Bisa Kalah
Jika ada pemenang dalam lomba menulis, pasti ada juga yang kalah. Ketika menulis, melakukan riset, saya selalu berjuang untuk menjadi pemenang. Hingga energi dari semangat itu membantu saya menulis sesuatu yang berbeda.
Tapi ketika naskah itu sudah saya kirim, saya selalu bersiap menjadi seorang yang kalah. Sehingga ketika saya benar-benar kalah, saya tidak terpuruk.
Dan hidup terus berlanjut. Saya terus menulis.

Hidup Dari Menulis

Salah satu hal yang selalu diinginkan seseorang yang masuk ke dunia penulis adalah mendapatkan honor dari tulisannya. Honor dalam bentuk uang tentu saja. Karena akan bisa terlihat jelas sebagai bentuk kerja kerasnya.
Pertanyaan selanjutnya, setelah beberapa kali mendapatkan honor di media adalah apakah kita bisa dapat hidup hanya dari menulis?
Untuk itu kita wajib memulainya dengan keyakinan KITA BISA.
Saya tidak akan pernah lupa rasanya ketika saya mencoba hidup dari dunia tulis menulis. Bukan lagi jatuh bangun tapi jungkir balik. Saya juga tidak akan lupa ketika saya bersikukuh tidak akan melamar pekerjaan dan akan melanjutkan kuliah dari honor menulis karena Bapak memasuki masa pensiun dan saya punya 4 adik lainnya.
Saat-saat pembayaran uang semester mendekat, hati saya kebat kebit tak menentu. Dan pertolongan Allah selalu datang tepat waktu. Selalu ada tiga atau empat naskah yang dimuat pada saat yang bersamaan dengan semakin mepetnya jadwal membayar uang semesteran. Sehingga langkah saya melaju dengan cepat.
Saya juga tidak akan pernah melupakan tekad saya dan ketidakyakinan orang lain pada keputusan saya. Pada saat itu saya saya merasa bahwa jalan saya sudah diarahkan untuk menjadi penulis.
Ketika lulus SMA, saya lulus menjadi mahasiswa di Badan Meteorologi dan Klematologi Geofisika (BMKG) dan mengalahkan ratusan pesaing lainnya, toh saya harus mundur. Karena Bapak tidak menyetujui saya menjalani ikatan dinas di Manado.
Bahkan ketika kakak saya bisa mendapatkan informasi bahwa kenalannya bisa menampung saya di Manado, telegram yang Kakak berikan pada saya baru sampai dua minggu kemudian padahal saya sudah mengirimkan surat mengundurkan diri dari BMKG.
Ketika lamaran saya sebagai pramugari Garuda diterima, surat untuk interview pun lagi-lagi datang terlambat. Karena surat panggilan itu baru sampai seminggu kemudian dari jadwal wawancara.
Akhirnya saya bukan lagi bertekad tapi memang tercebur dan tenggelam di dunia menulis.
Bisa bertahan hingga sekarang sejak naskah puisi saya pertama dimuat di media tahun 1982.
Bisa bertahan karena dulu jarang yang berniat menjadi menulis?
Saya berpikir begini. Ketika ada yang bertanya seperti itu maka saya akan menjawab seperti ini :
1. Pada saat itu memang tidak banyak saingannya tapi akses untuk mengirimkan tulisan ke media memerlukan tekad besar. Selain peralatan mesin tik yang mengharuskan kita menulis dengan minim kesalahan agar tidak sia-sia selembar kertas yang harus dibeli dengan uang, kita juga harus membeli perangko atau menggunakan kilat khusus bila ingin cepat sampai ke redaksi majalah. Sekarang kita tinggal duduk di depan komputer dan sent. Dengan tiga ribu satu jam di warnet kita bisa cari informasi sebanyak-banyaknya dan mengirim naskah sebanyak-banyaknya.
2. Dulu stasiun televisi hanya sedikit, maka kemungkinan untuk menembus ke media televisi untuk naskah berbentuk skenario perlu waktu lama. Sekarang, banyak teman-teman penulis skenario dan PH yang membutuhkan skenario yang bisa kita cari asal memiliki kepekaan dan kejelian untuk mencarinya. Dan semuanya itu bisa dilakukan di depan komputer.
Padahal dulu untuk sebuah naskah skenario yang di ACC di TVRI pun saya harus bolak-balik dengan bus dan merevisi naskah itu berkali-kali. Meski sudah memakai kop yang dipinjamkan Mas Aditya Gumay atas nama sanggar Kawula Muda, tetap naskah itu tidak meluncur sempurna.
3. Dulu, menerbitkan buku sulit sekali. Jadi honor datang dari majalah dan koran. Saya sendiri bisa menghasilkan buku setelah 20 tahun menulis dan 10 tahun bermimpi untuk itu. Artinya apa? Artinya dengan banyaknya penerbit, kemungkinan besar kita akan mudah dong mendapatkan honor dari buku kita yang diterbitkan. Banyaknya penerbit juga membuka peluang kita untuk menjadi editor atau reviewer di penerbit tersebut.
4. Lomba menulis dulu tidak seramai sekarang? Jadi bisa disimpulkan sendiri, kan?
Menjadi penulis ketika ingin total itu artinya hanya satu untuk saya. Terus bekerja lebih giat dengan menulis dan tidak patah semangat.
Usaha ingin maju dan bertahan bila kita kreatif dan tidak diam di tempat. Punya sesuatu yang unik yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Bila sudah merasa mampu menulis fiksi, coba lah belajar untuk menulis artikel. Mulai dari artikel yang ringan hingga yang berat. Sehingga ketika porsi fiksi dikurangi dalam satu media, atau buku fiksi tidak lagi booming kita punya cadangan untuk menulis yang lain.
Menulis memang sudah menjadi sesuatu yang mudah saat ini . Tapi jangan disepelekan. Feeling sangat diperlukan dalam menulis. Keyakinan bahwa naskah kita akan selalu berada di tangan yang benar juga wajib diperlukan. Dan standar untuk setiap tulisan kita mau dikirim kemana juga dibutuhkan.
Lalu bagaimana cara bertahan di dunia tulis menulis?
Saya jadi ingat pengalaman kedua saya begitu yakin dengan dunia tulis menulis adalah ketika saya memutuskan resign dari kantor dan fokus menjadi penulis. Bukan karena suami saya hidup berlimpah harta. Tapi karena saya yakin saya bisa hidup dari menulis.
Lalu apakah pilihan itu membahagiakan?
Ketika suami memilih untuk memiliki usaha dan kami bangkrut pun saya terus menulis. Bahkan bersyukur pada saat itu royalti dan DP dari buku-buku saya cukup besar. Dari satu buku saja royaltinya sepuluh kali lipat lebih banyak dari honor cerpen di majalah ternama.
Ketika rumah tangga kami diuji dengan hutang bertumpuk pun, saya tetap melakoni menulis. Buku-buku tetap bermunculan. Dengan fasilitas seadanya. Monitor komputer yang tidak utuh penampilannya.
Sekarang ketika dalam keadaan segala badai sudah berlalu saya terus menulis. Dengan produktivitas yang masih sama dengan saya pertama kali menulis dulu.
Dan kebahagiaan saya dari dulu hingga sekarang sama. Dengan semangat yang juga tidak berubah.
Jadi masalah sebenarnya dalam dunia kepenulisan bukan dunia menulis itu sendiri. Tapi tekad kita yang kurang sebagai penulis.
Bisa diibaratkan dengan seorang yang baru menceburkan ujung kakinya di dalam air dan merasakan cubitan seekor kepiting pada kakinya, ia merasa jera untuk terus memasukkan kakinya lebih dalam ke air tersebut. Lalu bicara pada setiap orang bahwa masuk ke dalam air itu berbahaya.
Padahal semakin dalam tercebur, semakin kita tahu bahwa banyak rintangan yang bisa diatasi dengan trik-trik yang kita dapatkan karena pengalaman kita bergelut dengan air.
Sampai sekarang saya terus menulis. Setiap hari saya menulis dengan jadwal harian yang tetap. Setelah urusan rumah tangga selesai, suami dan anak-anak meninggalkan rumah dengan perut kenyang.
Saya selalu melupakan naskah yang saya kirim ke media. Tapi saya punya folder setiap bulannya naskah apa yang saya kirim ke media dan ke penerbit. Lalu saya punya hitungan waktu, kapan naskah itu harus saya poles kembali dan saya lempar ke penerbit atau media lain.
Saya juga masih aktif untuk ikut lomba menulis. Selain untuk merasakan sensasi persaingan, di dalam sebuah lomba juga disediakan hadiah uang.
Matre?
Menulis adalah pekerjaan saya. Jadi menulis bukan lagi untuk nama. Tidak masalah bila ada sebuah tulisan yang saya tulis tanpa nama saya tercantum di dalamnya. Sepanjang tulisan itu adalah tulisan yang saya buat dengan prinsip hidup yang selama ini saya jalani. Toh setahun belakangan ini saya juga menjadi penulis tetap sebuah majalah dan menghasilkan bermacam-macam tulisan tanpa nama saya tercantum untuk itu.
Lalu masalah menulis untuk amal?
Masalah amal atau sedekah, biar lah itu jadi rahasia saya dan Allah. Lebih indah bila hanya saya dan Yang Memiliki Rezeki yang mengerti.
Bagaimana?
Masih ingin terus menjadi penulis?
Nasehat saya lagi.
Jika yakin dengan menulis, pegang keyakinan dan jangan beri garam keluhan.
Tambah ilmu, tambah wawasan dan jangan diam di tempat. Kita yang diam ditempat dan merasa sudah pintar hanya akan membuat orang lain yang terus menambah ilmunya dan menambah wawasannya berlari jauh di depan kita.
Tetap menulis.
Kalau merasa tidak mampu bertahan sebagai penulis, lebih baik cari pekerjaan lain dan jadikan penulis pekerjaan sampingan bukan pekerjaan utama. Sehingga tidak mengotori hari kita dengan mengeluh dan mengeluh.
Life is simple. So, make it simple. Right?

Bukan Sekedar Menulis

DSCF2218

Menjadi penulis, untuk yang terbiasa menulis pada akhirnya adalah suatu hal yang menyenangkan. Kesukaan alias hobi yang bisa dijadikan profesi. Semakin menyenangkan ketika setelah menjadi ibu, karena itu artinya kita punya jadwal kerja di rumah dan bisa memantau perkembangan anak-anak total dalam jangkauan pandangan mata.
Tapi sayangnya menjadi penulis, banyak yang menganggap hanya perlu kemampuan menulis saja. Padahal menurut saya, penulis adalah seseorang yang menuliskan segala hikmah dalam bentuk tulisan (ini teori saya).
Penulis menulis apa yang ia lihat, ia jalani, ia baca, ia sikapi, ia teladani. Bukan sekedar menulis dan mengarang-ngarang cerita tidak jelas tanpa makna bahkan tanpa keinginan orang lain mengambil manfaat dari cerita itu.
Menulisnya sederhana (banyak yang berpikiran begitu). Aku punya pengalaman, aku bisa menulis, ya tulis saja. Ada yang menerbitkan, ada media yang memuat, Alhamdulillah.
Proses menulis yang sederhana seperti itu, pada akhirnya juga akan berakhir dengan sederhana. Tulisan kita berputar dari itu ke itu saja. Idenya itu ke itu saja. Cara kita bertutur juga itu ke itu saja. Banyak yang suka. Tapi lama kelamaan bisa dilanda kejenuhan.
Menurut saya, jika menulis dengan cara seperti itu, maka karir menulis kita juga hanya berjalan di jalan yang sama. Jalan di tempat, sebelum akhirnya mengambil keputusan, berhenti atau tenggelam karena tidak mampu bersaing dengan para penulis-penulis baru yang bermunculan.
Konsep menulis itu memang sederhana. Anak-anak di rumah suka menyederhanakan seperti itu. Ah gampang. Dikarang-karang saja. Itu menurut mereka yang setiap hari melihat ibunya di depan komputer dan selalu menghadiahi mereka buku-buku.
Menulis memang dimulai dari ide, setelah niat kuat tentu saja. Tapi kita tidak menulis hanya berbekal ide saja.
Kalau hanya berbekal ide, maka seorang Buya Hamka tidak akan bisa membuat novel Di Bawah Lindungan Kabah dan Angkatan Baru. Lalu berproses membuat Tafsir Al Azhar 30 juz. Kebetulan Bapak saya mengidolakan Buya Hamka jadi buku-buku beliau banyak di rumah.
Buya Hamka berproses dalam menulis.
Atau idola saya Emha Ainun Najib. Beliau mampu menulis puisi, kumpulan kolomnya juga cantik. Fiksinya juga sarat makna. Kenapa? Sebab Emha mau berproses dan sadar bahwa menulis itu butuh proses.
Menjadi penulis itu, menurut saya, seperti seperti menjadi sebuah teko berisi air. Yang ke luar dari dalam teko itu, apakah air gula, air sirup atau air comberan sekalipun, adalah tergantung apa isi yang ada di dalam diri teko itu.
Demikian juga dengan tulisan.
Jika kita terbiasa membaca yang tidak bermanfaat, maka tulisan yang kita hasilkan juga sesuatu yang tidak bermanfaat. Yang tidak membuat orang lain tergerak untuk melakukan perubahan setelah membaca tulisan kita.
Menjadi penulis itu juga jangan seperti teko kosong? Apa yang dihasilkan oleh sebuah teko yang kosong? Cuma angin. Angin yang bisa jadi membuat sakit perut. Angin yang juga tidak menyegarkan karena kecil kapasitasnya untuk membuat orang lain merasa tersejukkan.
Baca.
Seribu kali baca. Bukankan itu makna kenapa ayat pertama yang diturunkan dalam Al Quran adalah kalimat Iqra (baca). Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menjadikan.
Artinya untuk saya adalah baca. Sebab dengan membaca sumber pengetahuan kita bertambah. Dunia yang tidak pernah kita datangi akan ada di dalam genggaman ketika sebuah buku ada di tangan kita. Kebijaksanaan yang dilakukan orang lain, bisa kita jadikan teladan, jika kita mau membaca.
Termasuk menulis fiksi?
Ya, menulis fiksi (mengarang) memang sederhana. Setiap orang punya dongeng tentang hidupnya. Dan semuanya yakin bisa menulis apa yang dilihat dengan menuliskannya menjadi sebuah cerita.
Sederhana harusnya.
Tapi menjadi tidak sederhana ketika yang merasa mampu menulis itu tidak mau membaca. Kisah-kisah hidup yang ditulisnya dalam cerita, karena ia tidak mau belajar dari contoh tulisan orang lain, akhirnya mati gaya. Hanya itu ke itu saja.
Menjadi penulis harus mau berkembang.
Saya ingat betul proses saya menulis cerita anak. Ketika mahasiswa, cerpen saya beberapa kali menghiasi majalah BOBO. Tapi setelah itu, apakah saya mulus menulis novel untuk anak?
Untuk memulai menulis cerita anak lagi, setelah vakum bertahun-tahun fokus di naskah remaja dan dewasa, saya belajar lagi. Saya membeli banyak novel anak dalam dan luar negeri. Membandingkan.
Pada akhirnya mendapatkan trik ide yang tidak biasa.
Sebuah novel anak yang tidak memuaskan untuk saya, karena seringnya tokohnya tidak sebebas anak-anak khususnya sebebas saya ketika anak-anak. Kalimatnya sering terlalu panjang sehingga ketika saya ceritakan pada anak-anak, saya harus memotong kalimat itu agar mereka tidak bosan, pada akhirnya membuat saya tahu bagaimana menulis cerita yang saya suka, anak-anak suka dan mereka bisa membaca cerita itu tanpa saya pandu.
Novel Aku Sayang Bunda, itu novel anak pertama yang saya buat.
Ketika saya ingin sekali memiliki sebuah kolom di sebuah surat kabar atau majalah, setahun saya belajar bagaimana tulisan dalam sebuah kolom itu. Mengandai-andai bila kelak saya memiliki sebuah kolom di majalah.
Belajar tak kenal henti. Membaca dan menulis juga tak kenal henti dalam satu kesatuan utuh.
Jadwal menulis saya pasti. Jadwal membaca saya juga pasti. Setelah urusan rumah tangga selesai, anak-anak dan suami kenyang. Dan semuanya biasa saya kerjakan pagi-pagi. Dari mulai menyetrika, mencuci baju dan mengepel.
Selingan dalam menulis adalah ketika tukang sayur lewat, ketika anak minta ditemani membuat PR, atau ketika mereka hanya ingin adu panco juga belajar catur.
Selingan lainnya kalau lagi ingin sedikit lama ngobrol dengan tetangga. Itu artinya setelah membeli sayur, saya bisa mengobrol dulu dengan tetangga dengan tambahan waktu beberapa menit. Dan komputer tetap menyala.
Menjadi penulis itu mudah. Membaca juga tidak kalah mudah. Membekali diri dengan membaca akan membuat tulisan kita berkembang.
Jika ingin tulisan kita ‘kaya’, maka jangan hanya membaca buku fiksi saja. Coba jelajahi buku-buku non fiksi. Bertekun dalam membaca non fiksi akan membuat kita tambah ilmu.
Tulislah apa yang memang enak untuk karakter kita sesuai dengan gaya kita. Karena sebenarnya menulis itu seperti kita memakai baju. Baju yang kita sukai gayanya berbeda dengan gaya orang lain.
Beberapa tahun ini, proses membaca saya menjadi lebih berkembang bukan sekedar membaca.
Ketika sedang membaca sebuah buku, saya membayangkan ketika penulis itu menulis sebuah cerita yang sedang saya baca, apa yang sedang ia lakukan.
Pada akhirnya pengetahuan saya menjadi berkembang. Dan saya jadi memahami karakter penulisnya dari dua atau tiga buku karangannya yang saya baca.
Karakter penulis yang satu dan yang lain berbeda meski idenya sama. Seperti baju biru yang dipakai A dan dipakai B itu berbeda meski motifnya sama. Karena style ketika dia memakainya itu yang akan membuat berbeda.
Jane Eyre dan Anne Of The Island berkisah tentang gadis yatim piatu dan kisah cinta mereka. Sama-sama kisah cinta klasik. Tapi toh bisa berbeda karena penulisnya berbeda.
Dan belajar tentang karakter penulis, saya lalu mencoba menggali-gali mana tulisan yang sekedar tempelan sebuah cerita dan mana yang benar-benar keluar dari hati, membuat saya semakin kaya pemahaman juga imajinasi.
Jadi jangan mau mati langkah dalam menulis.
Saya ingin terus menulis bahkan ketika usia sudah menua dan tentu saja, saya tidak ingin diam di tempat.
Bapak saya di usia 80 tahun masih kuat ingatannya karena gemar membaca. Orangtua sahabat, penulis fiksi bahasa Jawa juga masih kuat ingatannya. Ibu saya bahkan baru belajar menghapal juz 30 di usia 65 tahun dan masih bisa menghapal, kuat juga ingatannya.
Membaca dan menulis itu rangkaian yang harus kita jalankan jika tidak ingin diam di tempat dalam menulis.