Menulis vs Percaya Diri

koran ibu yang kedua

Ada satu hal yang sejak dulu selalu saya miliki, yang sekarang saya pahami banyak tidak dimiliki teman-teman yang lain. Apakah itu? Kepercayaan diri. Kepercayaan diri dalam hal ini tentu saja bukan kepercayaan diri untuk tampil di depan umum. Karena sebagai penulis yang lebih diutamakan tentu saja hasil tulisan kita. Bukan tampilan kita.
Kepercayaan diri sebagai penulis itu berkaitan dengan isi tulisan.
Ini yang wajib diingat oleh banyak penulis, ya. Kepercayaan diri sebagai penulis bukan sebagai seorang public figure. Karena kalau sudah fokusnya menjadi public figure kepercayaan diri yang dipoles beda lagi. Hasil yang ingin diraih juga beda lagi.

Mari kita mulai dari hal yang sederhana, yang bisa membuat kita bahagia. Fokus pada hal kecil itu dulu, yang In syaa Allah ketika hal kecil itu kita cintai setengah mati dan ingin manfaatnya menyebar, maka yang kecil itu yang akan membesarkan kita.

Mengirim tulisan ke media itu artinya kita harus percaya diri. Karena saya banyak sekali bertemu dengan teman-teman yang tidak percaya diri untuk mengirimkan tulisannya, dan ada juga yang terlalu percaya diri yang tidak menyadari kualitas tulisannya.
Jenis kedua ini saya.
Saya dulu terlalu percaya diri kirim tulisan ke sana ke mari. Karena tidak ada yang menilai sesuai standar media, saya selalu merasa tulisan saya bagus. Untung rasa seperti itu selalu saya timpa dengan rasa tidak puas diri dan rakus membaca. Sehingga perlahan tapi pasti, saya sadar ada yang harus dibenahi dengan tulisan saya.

Percaya diri harus datang ketika kita mengirim tulisan ke media. Landasan percaya diri itu tentu saja ada. Apa saja ?
1. Kita sudah banyak berlatih menulis.
Kalau satu dua kali menulis lalu percaya diri bolehlah. Tapi tetap harus dihujani dengan terus menulis tidak berhenti. Sehingga ketika tulisan itu tidak dimuat kita sadar diri, sebagus apa tulisan yang sudah kita kirimkan.
2. Kita sudah banyak membaca karya orang lain.
Membaca karya orang lain bukan hal yang sepele. Justru itu hal yang penting. Dari sebuah media yang ingin kita tuju, ketika kita membaca tulisan yang sudah dimuat di sana, kita akan paham tema yang sudah hadir di sana tema apa saja. Jadi kalau kita ingin mengirimkan tulisan dengan tema yang sama, itu artinya kita harus menulisnya dengan sudut pandang berbeda.
Misalnya.
Kisah di cerita anak tentang ibu dan anak. Ada ibu yang selalu mengomel dengan anaknya. Ada ibu yang capek mengurus anaknya. Banyak penulis yang menulis hal itu. Berulang-ulang dan membuat jenuh redaksinya. Akhirnya tulisan kita yang semacam itu tentu saja ditolak redaksi.
Tapi coba tulis tentang seorang anak yang rajin dan ibunya yang malas. Pasti lebih memikat hati redaksi.
3. Kita sudah berinteraksi dengan media itu cukup lama.
Karena itu saya selalu menyarankan agar para penulis baru yang ingin menembus media, mau membeli media yang ingin dituju itu minimal sepuluh edisi media tersebut. Dengan begitu mereka akan paham isi di dalamnya.

Masalah Ilmu

Kepercayaan diri dalam menulis itu sesungguhnya masalah ilmu yang ada di kepala. Jika ilmu sudah kita kuasai, maka sebenarnya otomatis kepercayaan diri itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ingat kepercayaan diri beda dengan berbangga diri.
Jika kamu sudah banyak membaca media remaja. Seluruh isinya. Setiap edisi kamu beli. Maka otomatis ilmu kamu untuk media tersebut cukup banyak dibanding dengan orang lain yang tidak membacanya. Ilmu itu bisa kamu tulis jadi sebuah tulisan. Sasarannya media remaja itu.
Kamu jadi paham tema apa yang sebaiknya kamu tulis. Semakin banyak kamu menulis untuk media tersebut, semakin paham kamu ide yang seperti apa yang mereka suka. Jenis tulisan seperti apa yang mereka mau.
Nah ilmu ini ilmu tentang media remaja, bukan media anak-anak atau dewasa.

Kalau kamu ingin tambah ilmu tentang media dewasa, ya kamu harus rajin baca media dewasa. Bukan satu dua kali beli media dan satu dua kali baca.
Sebab saya menemukan banyak penulis yang menulis cerita atau buat tulisan dengan ide yang sama dengan penulis lain.Dan sedihnya, banyak juga yang belajar menulis dengan hanya mengandalkan membaca dari karya teman yang sudah tembus ke media yang diposting di blog.
Salah?
Tidak tentu saja. Toh usaha pencarian sudah dilakukan. Tapi akan lebih ideal lagi, jika hal itu dilanjutkan dengan membeli media yang mereka ingin tuju. Jadi ada sensasi dan rasa yang berbeda.
Harus berani mengeluarkan modal.
Modal utama penulis itu, ilmu dari buku-buku atau media yang ia baca. Kalau modal itu sudah malas untuk dikeluarkan, maka jangan kaget pada akhirnya hasil akhirnya juga menentukan.
Ingin menulis buku harus banyak baca buku.
Ingin menulis di media, juga harus rajin baca buku dan baca media yang ingin dituju. Inti sebenarnya adalah BACA!

Ide Unikmu, Mana?

Ide yang unik itu tidak bisa didapat dengan sekali tulis, untuk yang baru belajar. Akan ada hal-hal yang tidak kita temui dari teori, jika kita tidak terjun langsung di dalamnya. Banyak baca mungkin akan memintarkan kamu. Tapi untuk menulis semua yang dibaca harus dieksekusi dalam bentuk tulisan. Ketika sudah biasa menulis itu, baru sadar bahwa ide yang unik itu tidak bisa datang dengan sekali tulis.
Contohnya saya.
Naik motor sudah bisa sejak dari dulu. Ke jalan raya juga sudah dengan hati berdebar-debar. Tapi ilmu tambahan tentang berkendara baru saya dapatkan di jalan raya belum lama. Ketika motor saya terjepit di antara truk besar dan mobil lainnya yang berlawanan arah. Dan supir-supir itu bukan hanya melotot tapi memaki. Untuk saya hal seperti itu unik. Saya jadi bisa paham seperti apa karakter pengemudi di jalan raya. Dan ilmu itu saya dapat karena saya ke jalan raya, bukan hanya mendengar cerita orang saja.

Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga dan unik, jangan biasakan belajar dengan cara instan.
Saya menang lomba cerpen Femina tahun 2014 bukan dengan cara instan. Saya pernah menang dua lomba sebelumnya di majalah tersebut. Saya pelajari naskah-naskah yang menang di tahun sebelumnya. Tapi saya tidak fokus pada ide pemenang lomba tersebut. Saya fokus pada hal lain. Yaitu bahwa saya harus menemukan ide yang berbeda dari pemenang tahun-tahun sebelumnya.
Ide yang unik itu mahal harganya. Karena ide unik itu sebenarnya hasil dari belajar. Hasil dari memeras keringat.

Banyak juga teman yang belajar menulis cerpen di media hanya melihat idenya, lalu membuat cerita dengan ide yang sama. Padahal media itu butuh ide yang berbeda. Ide yang unik. Dan ide yang unik itu yang akan membuat tulisan cepat tembus ke media.
Nah lagi-lagi saya harus tekankan bahwa ide yang berbeda itu, antara satu media dan media yang lain berbeda standarnya. Karena itu rajin-rajinlah baca media yang ingin kita kirimi tulisan kita.

Ide yang seperti itu datang ketika kita terus menerus menulis dan membaca. Jangan sepelekan membaca. Saya paling sebal kalau dengar ada orang yang suka menulis tapi malas membaca. Itu menyepelekan profesi penulis dan menjatuhkan dirinya sendiri. Penulis itu bukan tong kosong nyaring bunyinya. Penulis itu sebuah teko. Air yang masuk di dalamnya akan ke luar juga seperti itu.
Ilmu yang meresap ke otaknya akan ke luar dalam bentuk tulisannya. Empati dan karakternya bisa terlihat dari tulisannya. Semangatnya atau kelembekan hatinya, juga bisa terlihat dari hasil tulisannya.

Percaya Diri Bukan Masalah Tampilan

Banyak penulis sekarang yang lebih dulu fokus pada penampilan. Seolah-olah menulis itu otomatis dikenal dan menjadi terkenal.
Eit tunggu dulu.
Mulailah menulis dengan merasa diri itu sebagai tukang kue. Bukan yang sudah punya toko kue. Jadi pedagang kue. Yang kue-kue buatannya itu masih dalam taraf dijajakan ke pelanggan. Penampilan kue kita itu lebih utama ketimbang kita yang jualan. Kalau penampilan pedagangnya lebih oke dari tampilan kuenya, maka jangan-jangan orang justru ragu dengan rasa kue yang kita dagangkan.

Itu analogi yang sengaja saya buat dengan alasan agar tidak merasa besar kepala.
Sudahlah fokus saja membuat tulisan yang bagus. Fokus pada peningkatan kualitas tulisan. Suatu saat kalau kue-kuemu laku keras, baru kamu bisa menyisihkan dana untuk penampilan. Dan biasanya kalau sudah fokus pada racikan kue, seringnya tidak peduli lagi dengan penampilan diri sendiri. Yang penting rapi dan nyaman. Rapi dan nyaman bukan demi untuk mendapat pujian dari orang lain.
Karena ingat yang hadir pertama kali itu tulisan kita, bukan penampilan diri kita.
Jadi ingat, tulis dulu yang banyak.
Kalau tulisanmu sudah banyak dan kamu memang ingin fokus membangun image kamu lewat penampilan kamu, maka hal itu tidak masalah. Asal baru sekali menulis, sekali dimuat, sudah bingung ketika bertemu orang lain. Yang dipikirkan penampilannya.

Jadi mari tingkatkan kepercayaan diri kita sebagai penulis dengan terus menulis. Semakin bagus tulisan kita, karena kita sudah punya ilmunya, akan semakin percaya diri kita.
Kalau sudah terus menerus menulis seperti itu, sungguh tidak akan ada ruang untuk memikirkan apa yang orang lain katakan tentang diri kita.
Kalau pun ada sedikit ada rasa sakit hati, maka rasa sakit hati itu akan bisa kita tuntaskan lewat tulisan.

Personal Branding dan Masa Tunggu

“Kok naskahku enggak ada kabarnya, ya?”
Pertanyaan seperti itu sering masuk ke inbox saya. Pertanyaan lain seputaran hal itu banyak juga sih masuk ke inbox. Beberapa malah akhirnya hanya sekedar saya baca saja, tapi tidak menjawabnya. Karena pertanyaan itu sebenarnya bisa dibaca di status saya. Kalau niat sih tinggal scroll ke bawah dan baca satu persatu komentar saya, biasanya pertanyaan seperti itu akan muncul setiap kali saya posting foto naskah yang dimuat di media.

Kita bahas naskah yang dikirim ke media. Soal naskah ini, sebetulnya saya sudah menulisnya panjang di bagian lain.
Setiap media memiliki kebijakan masing-masing. Dan kebijakan antara media yang satu dan media yang lain itu berbeda. Setiap media juga punya kebutuhan naskah yang berbeda dengan media lain. Nah soal butuh ini, yang harus diteliti oleh penulis yang ingin mengirim naskah ke sana. Apa sih yang sebenarnya dibutuhkan oleh media? Naskah seperti apa?

Kalau medianya butuh naskah tentang anak dan tidak butuh naskah resep masakan, ya jangan kirim naskah resep masakan dong.
Kalau medianya butuh naskah artikel berat dan tidak menerima cerita pendek, ngaco judulnya kalau kamu sebagai penulis yang merasa cerpen kamu cakep banget, kirim naskah ke sana.
Tahu dirilah setiap mengirim naskah ke media. Pahami media tersebut dengan mempelajarinya terlebih dahulu. Butuh biaya dan ketelitian. Biayanya tentu saja dengan membeli media tersebut. Kalau tidak ada di kotamu, bisa hunting via digital. Atau searching aja google dan cari-cari contoh tulisan di sana. Yang seperti ini juga suka saya lakukan kok, ketika sulit mendapatkan media yang saya butuhkan untuk mempelajari tulisannya.

Terus gimana kabarnya naskah yang dikirim ke media?
Mulai serius, ya.
Sebuah media yang diserbu penulis dengan banyak tulisan, pasti akan memiliki masa tunggu yang lama, ketimbang media yang sepi dikirimi naskah tulisan.
Sebuah media yang masa terbitnya sebulan sekali, maka pasti akan lama masa tunggu tulisan kita di sana, dibandingkan media yang masa terbitnya hanya seminggu sekali.
Sebuah rubrik yang ada hanya seminggu sekali, pasti masa tunggunya juga lebih lama ketimbang rubrik yang ada setiap hari.

Lalu bagaimana kita mengetahui hal itu?
Baca dong, cari dong, teliti dong. Jangan hanya menunggu informasi dari orang lain.
Dan yang penting, jangan hanya mengirim satu tulisan. Soalnya saya menemukan banyak penulis lucu. Dalam satu tahun, hanya mengirim satu tulisan saja ke media, terus ditunggu seolah-olah tulisan itu layak untuk dimuat di media.
Aneh?
Jelas aneh.
Karena prinsip menulis untuk media adalah kirim, lupakan, pantau, simpan filenya dan nulis lagi, kirim lagi, lakukan hal seperti itu berulang-ulang. Sebagai patokan saya menulis setiap hari. Jika dalam satu hari saya tidak mengirim tulisan ke media, itu artinya saya fokus menulis untuk blog. Atau saya sedang membaca buku untuk menambah wawasan tulisan saya. Atau saya sedang riset ke suatu tempat. Nah hari-hari tidak mengirim itu saya anggap utang. Di hari lain, bisa dalam satu hari saya mengirim tiga tulisan ke media. Tulisan yang berbeda tentu saja, bukan tulisan yang sama.

Jadi pada intinya, kalau tulisanmu bagus sesuai standar media yang kamu kirimi naskah, maka jangan khawatir. Selalu ada kesempatan naskah itu dilirik. Dan kalau bagus juga, masa tunggunya bisa dipersingkat, karena redaksi majalah terlanjut suka.

Kadang-kadang ada redaksi yang sengaja menyimpan satu naskah bagus selama setahun untuk mendapatkan momen yang tepat. Seperti momen lebaran, hari ibu, hari natal dan lain sebagainya. Jadi jangan takut kalau kamu merasa naskahmu sudah layak (sudah layak karena bisa menulis lho bukan karena terlalu percaya diri).

Personal Branding

Masa tunggu di media itu tergantung kebutuhan naskah. Nah naskah yang dilirik itu biasanya yang memiliki ciri khas. Ide bisa saja sederhana, karena sesungguhnya ide berputar dari itu ke itu saja. Hanya bagaimana cara penyajiannya itu yang membuat tulisan kita memiliki ciri khas.
Sama seperti ciri khas yang dihadirkan satu chef akan berbeda dengan chef yang lain, meskipun menghadirkan sajian berupa nasi putih.
Sama seperti ciri khas seorang penyanyi yang sama-sama melantunkan lagu cinta. Tapi dengan tutup mata, pendengarnya bisa tahu siapa penyanyinya.
Perbedaan jelasnya sama seperti penyanyi Ebiet G Ade dan Iwan Fals. Sambil tutup mata saya bisa paham ketika sebuah lagu diputarkan. Lagu itu dinyanyikan oleh siapa.

Iya ciri khas. Ciri khas itu melekat pada diri kita. Sesuatu yang berbeda dari orang lain. Ciri khas bukan pencitraan yang dilakukan banyak orang belakangan ini.
Ciri khas itu akhirnya berkembang menjadi sebuah personal branding. Ketika seorang penulis sudah dikenal ciri khasnya, maka disitulah personal brandingnya bermain.

Saya penulis. Ada ribuan bahkan jutaan lain penulis. Dan saya tahu saya punya ciri khas. Dan saya juga paham personal branding saya ada di mana. Ciri khas itu saya dapatkan dengan tempaan kerja keras dan terus menulis. Kerja keras itu menghadirkan tulisan yang berbeda. Dan tulisan yang berbeda itu jadi personal branding saya.
Saya juga lebih suka dikenal sebagai penulis untuk media. Dengan alasan itu saya selalu membuka kelas menulis online untuk menembus media, bukan untuk menembus penerbit. Alasannnya? Karena saya paham dunia itu sejak lama. Jauh lebih lama ketimbang saya kenal dunia penerbitan.

Ciri khas itu saya tonjolkan karena memang sudah jadi bagian dari diri saya. Ide yang sederhana dan ending yang tidak terbaca. Kalimat patah-patah dan ada motivasi di dalamnya. Saya memahami hal itu sebagai ciri khas saya. Kenapa? Karena sebagaian besar usia saya, saya habiskan untuk menulis. Daru dulu hingga sekarang sudah 32 tahun saya terjun menulis, 32 tahun itu saya lalui terus menerus menulis dan tidak pernah vakum alias tidak menulis lagi.

Ciri khas itu akhirnya jadi personal branding saya. Membuat saya percaya diri ketika mengirim tulisan ke media. Yakin kalau ide saya berbeda. Yakin kalau tulisan saya ada isi atau manfaatnya. Dan keyakinan itu yang membuat saya tidak mau mendengar kalau ada komentar yang arahnya cuma syirik. Kalau komentar yang membangun saya selalu siap mendengarkan. Tapi kalau cuma komentar syirik, biasanya sih dalam hati saya bilang, “who do you think you are?”.

Jadi sekarang apa yang harus dilakukan calon penulis?
Terus menulis dan terus menulis. Sampai akhirnya ketemu juga ciri khasmu. Sesuatu yang membuatmu paling nyaman ketika menulis. Dan sesuatu itu bisa jadi agak-agak mirip dengan penulis lain tapi bukan berarti sama. Sesuatu itu (tulisan itu) adalah sesuatu yang orang lain tangkap sebagai bagian dari karaktermu. Dan bila itu sudah terjadi, itu artinya kamu sudah berhasil menjadikan tulisan kamu adalah bagian dari jadi diri kamu dan napas kamu.

Terus masa tunggu tulisan di media kapan?
Ah nulis lagi saja, yuk.
Nanti kalau tulisanmu sudah bagus, kamu akan dapat jawaban sendiri dari pertanyaan itu.

Agar Media Tidak Bangkrut Part Two

10373123_10152466324116828_3056280772566991288_o

10817773_746804045397933_706517249_n

1908017_10152888156232417_7695633769103776457_n

Apa jadinya dunia tanpa media?
Bukan media online. Tapi media cetak.
Tiba-tiba saya menjadi miris dengan kenyataan banyak media yang ditutup karena bangkrut tanpa pembeli. Banyak media yang berganti format dari tulisan panjang dan berisi, menjadi tulisan yang pendek disesuaikan dengan keyakinan bahwa pembaca hanya suka dengan teks pendek seperti halnya di social media. Dengan teks sedikit, informasi asal sharing dari sumber yang sering tidak jelas, anak-anak muda kita merasa sudah cukup pintar dan berisi otaknya.
Tahun ini ada 9 media lisensi dari gramedia group yang ditutup. Itu artinya ada pengurangan bukan hanya satu dua karyawan tapi ratusan karyawan. Dari sumber yang terpecaya beberapa media juga sebenarnya tidak menguntungkan alias impas saja.

Dalam ramah tamah dengan pemilik majalah Luar Biasa Andrie Wongso dan kontributor majalah Luar Biasa termasuk juga Pak Purwaluyo, beliau distributor media yang sudah punya pengalaman selama 30 tahun di Dian Pasifik Komunikasi Utama, saya mendapatkan banyak hal yang harus saya tulis.
Pak Pur menjelaskan bahwa iya, media cetak mengalami penurunan yang bukan cuma signifikan tapi membuat miris. Dari survey tentang lapak-lapak media terlihat jelas bahwa lapak media di tahun sebelumnya berjumlah 3500 penjual, turun drastis menjadi hanya 400 lapak penjual. Itu hanya seputaran Kelapa Gading dan sekitarnya. Tiras penjualan media cetak seperti majalah atau tabloid mingguan plus surat kabar harian, menurun drastis. Banyak di antaranya pada akhirnya memilih gulung tikar.
Para penjual media cetak (lapak majalah dan koran) lebih memilih untuk mengganti dagangan mereka dengan berdagang pulsa yang lebih menguntungkan.

Kemajuan tekhnologi, dalam hal ini dunia digital dengan terus-menerus dikeluarkannya HP tercanggih (smartphone) yang digemari anak-anak muda, membuat pengetahuan itu ada dalam genggaman. Mereka mau apa saja tinggal klik dan cari.
Akibatnya, mereka merasa sudah cukup puas dengan informasi sekedarnya saja. Informasi sekedarnya saja ini, juga dihadirkan oleh situs-situs berita online, seringnya justru beritanya tidak akurat karena bukan ditulis oleh ahlinya. Tapi hasil dari copy paste berita lain, bahkan juga copy paste dari trending topic sosial media.

Menjadi semakin pintarkan anak-anak kita setelah gadget akrab dan dunia ada dalam genggaman?
Coba tengok dan baca satu berita saja. Seperti situs berita yahoo.
Banyak berita yang dikomentari dengan komentar konyol, cenderung bicara kasar dan seenak udelnya sendiri. Hasilnya apa? Hasilnya banyak yang merasa hal seperti itu sah-sah saja. Sah dalam artian bisa mereka tiru.
Malangnya, penyedia situs itu juga tidak berbenah diri dan tetap membuat berita yang justru sering dikomentari dengan tanggapan miring.
Atau bolehlah tengok berita-berita yang di sharing di sosial media seperti FB. Hasil pengamatan saya, ternyata banyak anak-anak yang sharing berita hanya dari membaca judulnya saja, bukan dari membaca keseluruhan isinya. Dan sharing tanpa dibaca ini, anehnya kok membuat mereka sudah merasa cukup pintar.

Sungguh, Bukan Sekedar Membaca

Kalau ayat pertama dalam Al Quran yang turun bukan Iqra yang artinya membaca, mungkin saya tidak tertarik menjadi penulis seperti sekarang ini. Iqra artinya membaca. Dan membaca itu membawa pesan moral yang sangat luas cakupannya.
Bukan sekedar membaca lalu selesai.

Membaca sesungguhnya melatih kita untuk fokus. Dan fokus itu ke depannya bisa berkembang dan diasah untuk hal lain. Membaca juga membantu untuk mengurangi tingkat kepikunan. Semakin banyak membaca semakin banyak sel otak yang terpelihara. Semakin banyak membaca, semakin banyak juga yang kita ketahui.
Jelas membaca model seperti ini bukanlah membaca seperti yang sekarang digemari anak-anak muda. Membaca trending topic, atau berita singkat di sosial media yang tidak sampai 140 kata. Lalu mereka merasa cukup puas dan yakin bahwa itu sudah membuat mereka pintar.

Coba bayangkan, andai tidak ada lagi anak-anak muda yang suka membaca, bagaimana dengan nasib kitab suci kita? Dalam hal ini karena saya muslim tentu saya khawatir dengan nasib kitab suci saya Al Quran. Dengan 114 surat dan kurang lebih 6666 ayat, anak-anak yang tidak terbiasa membaca akan merasa tidak penting lagi untuk mengetahui isinya. Sebab mereka cukup puas dengan apa yang sudah mereka baca dari smart phone di tangan mereka.

Yang jelas kelihatan dari hasil dunia dalam genggaman adalah, banyaknya ahli agama yang merasa sudah cukup pintar hanya dengan membaca rujukan yang mereka butuhkan dari mesin pencari google, tanpa merasa perlu mendatangi kajian untuk mencari rujukan yang jelas dari ahlinya.

Lalu bagaimana dengan kisah-kisah perjalanan Rasul? Kisah-kisah Nabi dan para sahabatnya? Hadist-hadist yang disusun dengan susah payah dan menjadi rujukan setelah Al Quran. Hiks, ngeri saya membayangkan jika kebiasaan membaca sudah tidak dimiliki lagi oleh generasi muda.

Membaca buku (media cetak) yang baik, akan membuat jiwa ikut menjadi baik. Membaca juga melatih imajinasi dan imajinasi ini adalah bekal nyata untuk menjadi manusia yang kreatif. Menjadi manusia kreatif akan membuat kita tidak takut bersaing di tengah kerasnya dunia.

Content Digital

Content digital hadir untuk menggantikan versi cetak yang memakan banyak biaya. Content digital termasuk ebook tentu saja untuk para pengusaha, mengirit biaya. Tidak perlu ada kurir yang mendistribusikan media. Tidak perlu ada membayar biaya cetak yang jelas lebih mahal.
Content digital tentunya diharapkan bisa membuat seseorang yang suka membaca, menjadi lebih mudah mendapatkan buku yang akan dibacanya. Mereka bisa mendapatkan buku dari penerbit mana saja yang memiliki content digital untuk kemudian dibacanya.

Sedemikian mudahkah?
Untuk saya tidak seperti itu.
Karena untuk saya yang biasa menyentuh buku (media cetak) dengan cara dibawa ke tempat tidur, atau diberi garis merah untuk hal-hal penting yang saya suka dalam buku itu, buku versi digital tidak memuaskan saya. Mata tua ini akan semakin sakit bila terus-menerus berinteraksi dengan layar telepon yang saya yakin sedikit banyak mengandung radiasi.

Dan ada satu hal lagi.
Ebook atau content digital lainnya, tidak akan membuat orang yang tidak suka membaca otomatis menjadi suka membaca. Pada akhirnya keberadaannya, kembali lagi lagi hanya akan merengkuh pasar pembaca yang memang sudah suka membaca. Jadi buku dengan versi apa saja dilahap. Artinya seperti saya, ketika sulit mendapatkan buku dalam versi cetak, semisal buku-buku psikologi, maka saya tentu akan mencari alternatif membaca ebook, dari pada saya tidak punya rujukan sama sekali.

Masalah Kebiasaan Membaca

Jujur harus saya akui, mengajarkan kebiasaan membaca di negeri tercinta ini semakin sulit. Beberapa tetangga datang ke rumah untuk meminjam majalah bukan untuk dibaca. Tapi mereka diminta gurunya untuk membawa majalah. Meski saya pesan harap dikembalikan, tetap saja mereka tidak mengembalikan. Dan itu artinya sederhana buat saya. Mereka tidak memperlakukan barang (majalah atau buku) seperti saya memperlakukannya.

Berapa banyak guru yang juga tidak suka membaca? Banyak sekali. Berapa banyak mahasiswa yang tidak suka membaca? Banyak juga. Beberapa mahasiswa yang dirujuk ke saya untuk menjadi nara sumber skripsi mereka, sebenarnya jelas untuk saya. Mereka tidak mendapatkan rujukan yang jelas soal buku-buku dari dosen-dosen mereka. Artinya? Artinya para pengajar tidak mau mengembangkan wawasan mereka dengan membaca buku lain di luar buku wajib yang harus mereka selesaikan. Hasilnya, kebiasaan itu menular pada murid yang mereka ajarkan.

Kebiasaan baik itu menular dan memang harus ditularkan. Kebiasaan saya membaca ditularkan oleh Bapak saya. Meski melaju sendirian karena teman-teman tidak suka membaca, tapi kebiasaan baik itu membuat saya justru bangga menjadi orang yang banyak tahu karena membaca. Kebiasaan membaca saya tularkan pada anak-anak dan saya biasakan bahkan sejak mereka dalam kandungan. Kebiasaan itu bisa hilang ketika tidak yakin apa manfaatnya. Tantangan untuk membuat anak suka membaca sulit. Karena itu saya selalu mengatakan pada anak-anak untuk tetap menjadi kepala bukan ekor. Artinya mereka harus memberi contoh yang baik pada teman-temannya, bukan sekedar mengekor kebiasaan teman-temannya yang tidak suka membaca.

Pada akhirnya PR berat harus kita hadapi.
Miris saya jika tidak ada yang suka membaca, pasti tidak ada yang mau menjadi penulis. Bertambah miris sebenarnya ketika saya paham bahwa banyak juga penulis yang cuma mau menulis tapi tidak mau membaca. Menganggap bahwa apa yang mereka alami sudah cukup untuk jadi bahan tulisan, tanpa rujukan.
Lebih miris lagi ketika industri perbukuan memiliki editor yang tidak suka membaca, dan saya tahu banyak yang seperti itu.Melihat isi buku-buku yang ada saya sendiri bisa membedakan mana yang produk yang dihasilkan oleh penulis yang suka membaca dan editor yang juga suka membaca (bukan hanya melihat peluang pasar).

Jadi sekali lagi saya tekankan. Mari membaca. Sebelum buku-buku menjadi barang langka. Atau sekedar pengganjal lemari yang oleng (miris lagi sehabis baca perpustakaan di jogja ditutup dan bukunya dijual murah).

Tips Asyik Menulis Cerita Anak

buku anak

Mari kembali menjadi seorang anak kecil, itu tips yang selalu saya katakan pada yang bertanya tentang tips menulis cerita anak. Iya menjadi anak-anak, bukan kekanak-kanakkan. Bukan juga mengganti bahasa dengan bahasa cadel khas anak-anak. Tapi yang harus dilakukan adalah merubah pola pikir kita, jadikan pola pikir kita seperti anak-anak.
Anak-anak setelah bermusuhan, kembali bermain bersama. Kecuali dilarang orangtuanya.
Anak-anak itu berani melakukan tindakan yang dilarang orangtua. Karena rasa ingin tahu mereka tinggi. Ketika mereka dilarang main hujan, mereka akan memilih sembunyi-sembunyi melakukannya.
Anak yang pemarah dan pendendam biasanya juga karena karakter orangtuanya.
Senakal apapun anak-anak, ketika mereka diajak bicara dengan baik, diperlakukan dengan lembut, maka mereka akan mudah akrab. Dan kalau sudah akrab, mereka akan menyayangi sepenuh hati.

Panduan di bawah ini akan membuat kamu lebih mudah menulis cerita anak :

1. Coba perhatikan anak-anak. Apakah mereka duduk diam, ketika ada orang dewasa yang bicara panjang lebar pada mereka? Selain tidak betah, mereka juga akan menangkap sebagian kecil saja bukan seluruhnya.
“Kamu tahu nggak, main api itu bikin kamu sakit. Nanti api itu bisa bakar rumah orang. Nanti orang lain marah. Nanti kalau orang lain marah, terus dia marah-marah di rumah kita, apa kamu tidak malu.”
Dari kalimat panjang di atas, apa yang anak-anak tangkap. Sederhana saja. “Main api itu bahaya.” Kalimat lain tidak akan mereka perhatikan.
Jadi jangan memberi nasehat yang panjang lebar. Sebab anak hanya akan menangkap bagian kecilnya saja.
Lagipula kalimat panjang, hanya akan membuat bosan ketika membacanya.

2. Riset
Saya selalu mengatakan bahwa riset itu penting. Meski hanya untuk menulis cerita anak. Meski kamu punya anak, belum tentu anak kamu itu, mewakili karakter anak-anak lainnya. Meski kamu punya orangtua yang hebat, belum tentu pendidikan orangtua kamu itu sempurna untuk anak yang lain.
Riset itu akan membantu kamu paham, percakapan anak yang satu ke anak yang lain seperti apa, sih? Percakapan antara anak di lingkungan satu dan lingkungan lain, perbedaannya ada di mana? Lalu kenapa anak bisa menjadi nakal, mencuri atau melawan guru.

3. Baca
Saya suka membaca. Ketika menulis cerita anak, saya banyak membaca naskah anak lainnya. Saya mencari kekurangan mereka ada di mana. Lalu saya jadikan tulisan, yang menjadi kelebihan saya.
Tapi ketika akan menulis sebuah novel yang menulisnya perlu jangka panjang, dan idenya juga harus jadi kesatuan utuh dengan karakter saya, maka saya melepaskan diri dari novel-novel anak bacaan saya.
Saya tidak mau mengingat novel itu.
Saya justru membaca buku novel dewasa atau non fiksi. Dengan tujuan, saya bebas berekspresi dengan tulisan saya. Dengan begitu, ide saya jadi berbeda dengan penulis lain. Dan saya bebas menulis, tanpa pengaruh gaya penulis lain.

4. Beri Kenyataan
Dalam menulis cerita anak, mungkin saya agak berbeda dengan yang lain. Artinya ketika banyak yang menulis dunia ideal, penuh keceriaan pada anak-anak, saya memilih yang lain. Mungkin karena ketika kecil, saya sudah merasakan banyak hal. Dan banyak hal itu mengolah hati saya, hingga menjadi suatu bentuk empati.
Jadi saya pikir, tidak apa-apa anak-anak paham bagaimana sebuah kematian, sebuah penyakit dan mungkin perceraian, ditulis dalam sebuah cerita anak.
Yang perlu diingat adalah, bagaimana menyampaikannya dalam sebuah cerita, sehingga anak-anak paham. Ada dunia lain yang tidak indah, dan mereka bisa belajar empati dari sana.
Gunakan kacamata anak-anak dalam hal ini. Pemikiran anak-anak bisa didapat dengan kita menanyakan hal itu pada anak-anak.

5 Hindari Kalimat Kasar
Kalimat kasar harus dihindari. Artinya begini, meski di lingkungan yang sebenarnya banyak hadir kalimat-kalimat kasar seperti, bodoh, tolol dan lain sebagainya. Usahakan agar hal itu tidak perlu kita tulis dalam sebuah cerita anak. Karena apa? Karena anak-anak akan lebih mudah merekamnya. Dan setelah rekaman itu, mereka akan menirunya.
Di rumah jika buku yang mereka baca ada tulisan bodoh dan teman-temannya, anak-anak akan bilang. “Bu.., masa parah. Bukunya maaf ya maaf. Ada kata bodoh.”
Menampilkan cerita anak yang sempurna untuk saya adalah dengan menggunakan bahasa yang ideal. Bahasa idealnya dengan tidak menulis kalimat kasar, kotor, juga makian.

6. Tulis dengan Kelembutan
Semua pasti suka mendengarkan kalimat lembut. Maka tulislah kalimat yang baik dan diucapkan lembut.
Paling tidak dengan menulis cerita anak, kita berusaha keras untuk menjadikan karakter kita juga lembut. Ingat saja, jangan menulis apa yang tidak kamu lakukan.Kalau saya mengartikan bahwa saya akan berjuang keras berpikir, bersikap dan bertingkah laku seperti tokoh dalam tulisan saya.

7. Sisipkan Manfaat
Manfaat jelas saja. Setiap tulisan harus mengandung manfaat. Harus ada nilai-nilai yang bisa diambil anak. Entah itu berupa pengetahuan baru, pengalaman baru, lingkungan baru, atau nilai-nilai baru.
Dengan begitu anak-anak akan mendapati bahwa membaca cerita, membuat mereka menjadi pintar.

8 Terus Menulis
Secanggih apapun kamu punya ide, semua itu akan hilang jika kamu tidak menuliskannya. Semahir apapun menulis, tulisan kamu tetap tidak lincah, jika kamu tidak menuliskannya. Karena itu teruslah menulis.
Terus menulis akan membuat kamu paham tulisanmu sendiri. Meningkat juga kepercayaan dirimu sendiri. Sehingga ketika ada yang berkomentar tidak baik, kamu terus melaju.

9. Jangan Anggap ini Teori Baku
Artinya ketika kamu menulis, kamu akan menemukan teori sendiri dan itu yang paling nyaman buatmu.
Jadi jangan anggap tulisan ini teori baku untukmu. Kamu bisa berproses, berkembang dan terus menulis dengan ide yang berbeda. Dengan begitu kamu akan paham lebih banyak lagi tentang cara menulis cerita yang baik.

Riset itu Penting

DSCF2581

Kenapa pekerjaan penulis fiksi sering sekali diremehkan oleh orang yang tidak paham? Jawabannya gampang. Karena para penulis sendiri malas untuk melakukan riset alias penelitan. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa menulis fiksi itu cukup dengan menggunakan imajinasi. Lalu imajinasi itu akan bekerja sendiri, berputar-berputar seperti baling-baling bambunya Dorameon, dan abrakadabra jadilah tulisan.
Percaya sama saya, tulisan yang hasil abrakadabra itu, tentu saja hasilnya berbeda dengan tulisan yang menggunakan riset. Tulisan abrakadabra itu juga tidak akan terus-menerus dimuat. Karena pembaca akan bosan tidak mendapatkan apa-apa dari tulisan yang kita tulis.

Riset dalam penulisan tentu saja memang tergantung pada diri penulis itu sendiri. Apakah hanya ingin bermain di permukaan atau menyelam hingga mendapatkan data yang cukup akurat untuk ditulisnya? Apakah hanya ingin menulis yang itu itu saja, atau ingin berkembang menulis yang lain dan meraih pembaca lebih banyak lagi tentu saja.

Data akurat itu penting. Karena ketika tulisan kita sudah jadi, dimuat di media atau dijadikan buku, maka jika ada orang lain yang menganggap apa yang kita tulis aneh, kita sebagai penulis tidak akan frustasi. Tahu kenapa? Karena kita memang menyelami hal itu, dan orang lain yang menganggap aneh tidak pernah menyelami hal yang seperti kita selami.

Sebagian besar tulisan yang saya hasilkan, saya lakukan riset. Saya tidak akan menulis tentang mesin jahit, sebelum saya paham mesin jahit itu seperti apa. Saya juga tidak mau menulis tentang pemulung, sebelum saya bicara dengan pemulung itu. Atau saya juga tidak mau menulis tentang seorang yang menderita penyakit tertentu, jika saya hanya berinteraksi satu dua kali saja. Sebab menurut saya, saya harus mendapatkan versi lengkap agar saya bisa menulisnya dengan bahasa sederhana saya dan dipahami oleh banyak orang.

Ke mana Risetnya?

Riset atau penelitian untuk menulis cerita pendek bisa kita lakukan dari hal-hal kecil yang ada dalam jangkauan kita. Apa yang kita alami, apa yang kita dengar dan apa yang kita baca bisa menjadi bagian dari riset kita.
Kita yang biasa memasak bisa menuliskan cerita tentang seorang juru masak yang merasik bumbu rahasia. Nah semua ilmu memasak kita, bisa kita ceritakan di sana. Akan jadi cerita yang menarik jika kita ahlinya.

Kita yang punya orangtua yang tidak berpendidikan tinggi, bisa juga menjadikan hal ini riset. Apa yang kita rasakan tentunya akan menjadi rangkaian manis, yang bisa bermanfaat untuk orang lain yang tidak mengalami hal itu.

Kita yang punya teman yang agak terganggu kejiwaannya dan kita mendampinginya bukan hanya melihatnya, akan menjadi sebuah cerita yang pastinya akan membuat isi cerita kita berbeda, karena kita memiliki bukti yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Saya pernah melakukan riset yang untuk saya cukup memenuhi tantangan juga. Ketika akan membuat novel dalam rangka lomba novel majalah Femina, saya mengajak suami untuk riset tentang perempuan malam.
Kebetulan sebelumnya saya pernah tinggal bersama adik-adik mengontrak di salah satu rumah susun. Bertetangga dengan perempuan malam dan wanita simpanan. Memiliki rasa takut juga kalau-kalau dianggap simpanan, ketika pulang dari kantor agak malam. Dan sedikit banyak tahu seperti apa pikiran para lelaki kurang kerjaan menyamaratakan orang lain.
Tapi saya juga paham seperti apa perempuan malam itu, dan bagaimana keluarga mereka. Banyak dari mereka yang sangat cantik dan datang dari keluarga sederhana. Keluarganya tahu kok pekerjaan mereka. Dan keluarga itu tidak masalah 🙁

Riset untuk itu juga saya pertajam dengan mengunjungi Monas di malam hari, pada jam dua belas malam. Saya sempat melihat beberapa kali transaksi. Dan ada satu pemandangan yang cukup masuk ke pikiran saya hingga berhari-hari. Ketika ada seorang gadis, berbaju sopan, membawa tas sepertinya berat isinya dan membawa buku-buku tebal di tangannya layaknya seorang mahasiswi.
Dia bertransaksi dengan laki-laki yang mengenakan helm tertutup. Dia naik ke boncengan motor dan mereka berlalu. Saya ikuti dari belakang hingga mereka hilang di sebuah belokan, mungkin menuju hotel.
Dari situ saya bisa menulis kisah tentang Ipah, gadis kecil yang terpaksa jadi seorang pelacur dan berujung jadi mucikari, hingga akhirnya gila.
Ipah ini jadi salah satu pemenang lomba novel Femina (bukan cerber) yang jurinya Sena Gumira Ajidarma.

Membaca dan Mendengar

Membaca dan mendengar bisa menjadi bagian riset kita. Tapi untuk saya tetap harus terjun langsung agar datanya lebih akurat.
Membaca tentang daerah tertentu akan berbeda rasanya dengan mendatangi. Untuk membuat cerita anak yang hanya tiga halaman mungkin masih bisa kita tidak melakukan riset. Tapi tetap kita harus tahu rambu-rambunya.

Yang harus kita lakukan untuk menghindari kesalahan, adalah membuat cerita yang sifatnya umum tentang daerah itu bukan sifatnya khusus.
Misalnya ketika kita ingin menulis tentang Solo tapi tidak pernah mendatanginya, buatlah cerita dengan lokasi di Keraton Solo aja. Bisa googling hal itu. Tapi untuk membuat cerita lebih lengkap semisal jadi cerita bersambung atau novel, akan jadi lucu jalinan cerita itu.
Karena di Solo tidak hanya ada satu keraton tapi ada dua 🙂

Jangan batasi buku bacaan kita. Saya sendiri menantang diri sendiri untuk menyukai buku-buku di luar genre saya. Tujuannya agar bisa mendapatkan ilmu lebih.Kalau sudah mendapatkan ilmu lebih itu, artinya kita bisa mendapat masukan berarti untuk tulisan kita.

Mendengar juga artinya bukan sekedar menguping saja alias selintas mendengar saja. Mendengar itu artinya untuk saya, mau duduk di dekat orang yang butuh didengarkan, memberinya masukan berupa nasehat dan merelakan waktu kita untuknya paling tidak sampai ia lega. Dengan mendengar seperti itu, empati bisa kita dapatkan. Dan dengan empati itu kita bisa membuat jalinan cerita yang lebih baik lagi.

Ada satu pelajaran mendengar yang saya dapat dari Ibu saya. Ibu saya rajin mendengar curhatan orang lain. Dan herannya meski Ibu saya hanya lulus SD, tapi yang datang untuk curhat ke rumah banyak. Dari mulai anak muda sampai yang tua. Yang saya pelajari adalah bahwa Ibu saya hanya tersenyum dan mendengarkan, memberi sedikit masukan. Ternyata orang lebih suka didengar dan mencari orang yang mau mendengarkan itu sulit. Ibu saya membuat orang nyaman bercerita.

Saya juga berusaha mendapatkan ilmu dengan mendengar. Mendengar curhatan teman lama, yang ternyata adalah seorang germo. Mendengar curhatan teman-teman saya, yang dengan senang hati ceritanya ditulis. Dan mendengar apa-apa yang tidak diceritakan oleh orang lain, tapi bisa saya pahami dari mimik muka dan gerak tubuh.
Mendengar seperti itu membuat rasa empati terasah dengan baik dan tulisan yang dihasilkan menjadi berbeda.

Cari Tahu Kelebihan Tulisan Kita

Setiap penulis memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menyadari di mana kelebihan dan kekurangan kita, akan membuat kita tahu mana yang harus ditulis, dan mana yang harus dihindari.
Saya model penulis yang jarang memakai latar belakang suatu tempat. Alasannya? Karena ketika saya berpergian, lebih menikmati rasa tempat itu. Saya menikmati dengan cara saya, seperti percakapan dengan seseorang atau mengunjungi tempat yang tidak umum. Dan hal yang saya nikmati itu terkadang membuat saya luput mencatat hal-hal yang harusnya saya tulis sebagai bagian dari lokasi. Menyadari kelemahan itu, maka saya jarang membuat cerita dengan menghadirkan sebuah lokasi atau tempat.
Saya akan menggambarkan secara umum saja dan mengambil satu titik yang umum. Misalnya udara yang segar atau jejeran pohon jati.
Kekurangan saya ini juga saya sadari karena biasanya saya tidak betah berlama-lama dengan buku yang bercerita tentang sebuah lokasi. Saya lebih tertarik pada jalinan cerita dan dialognya. Saya merasa mudah belajar dari dialog dan jalinan cerita yang tidak belama-lama bercerita tentang satu hal.

Saya juga sadar selain kekurangan itu, saya memiliki kelebihan. Kelebihan saya adalah dalam hal dialog. Dialog yang saya tulis dalam sebuah cerita saya kuat, begitu pengakuan banyak teman penulis. Dialog saya tulis hidup, meskipun tanpa penjabaran sebuah lokasi.
Karena sadar kelebihan saya di situ, saya belajar terus agar dialog saya tetap terjaga dan mewakili karakter saya.

Saya juga sadar kelebihan saya adalah mampu mengolah hal yang sifatnya rumit menjadi sederhana. Karena memang saya sudah menyederhanakan hal-hal yang menurut saya tidak ada yang rumit.
Maka yang saya lakukan adalah di kehidupan sehari-hari saya terus berusaha membuat hal yang rumit itu sederhana.
Dalam novel “Aku Sayang Bunda” yang mendapat IKAPi IBF Award itu, saya bercerita tentang ibu yang sakit jiwa dan anak kandung yang hidup dengan ibu tiri. Dalam “Kakakku Tersayang”, saya menulis tentang kakak yang menderita kanker darah dan akhirnya pergi meninggalkan adiknya.

Pada akhirnya saya mau bilang, teruslah menulis. Jangan sepelekan riset.
Terus menulis akan membuat tulisan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terus menulis juga akan membuat kita mampu menuliskan hal yang dianggap kecil oleh orang lain, menjadi hal yang bermanfaat untuk orang lain.
Terus menulis juga membuat kita paham apa kelebihan dan kekurangan kita. Terus menulis juga akan membuat kita percaya diri dengan tulisan kita.

Tips Keren Menembus Media Cetak

majalahku

Ada pertanyaan yang selama ini, sudah saya batasi untuk tidak terus-menerus menjawabnya. Pertanyaan yang sama, yaitu bagaimana agar tulisan yang kita buat bisa menembus media?
Pertanyaannya sederhana, kan? Tapi jawaban dari saya bisa panjang. Bertambah panjang kalau yang bertanya menambahi dengan pertanyaan, alamat e mail media itu apa? Tambah jelas untuk saya kalau itu artinya, mereka cuma mau bertanya tapi tidak mau membaca.

Jadi begini. Mari kita serius.
Media itu (versi saya lho), adalah sebuah tempat seperti halnya sebuah rumah. Nah jika setiap rumah memiliki gaya sendiri-sendiri sesuai dengan karakter pemiliknya, maka media juga seperti itu. Memiliki karakteristik sendiri. Sesuai? Sesuai dengan visi misi media tersebut.

Jika setiap rumah memiliki kamar mulai dari kamar pribadi sampai kamar mandi, maka media juga sama seperti itu.
Mereka memiliki kamar sendiri yang disebut rubrik atau apa lah nama lain sejenisnya.
Jika di rumah kita ada kamar tamu, yang bisa disinggahi orang dari luar, maka di media juga disediakan kamar tamu. Yaitu rubrik yang bisa diisi oleh penulis dari luar. Setiap media pasti menyediakan kamar (rubrik tersebut).
Dan penulis dari luar yang bisa menghiasi kamar tamu itu dengan tulisan mereka, akan mendapatkan honor atau souvenir dari media (sesuai kesepakatan yang tertera di media).

Beberapa langkah di bawah ini harus diingat bila kamu ingin mengirim naskah ke media.

Pertama-tama :
Naskahmu harus layak lho. Jangan naskah asal jadi. Apalagi naskah tanpa titik koma. Setelah yakin naskah kamu bagus dan layak, kamu bisa mengirim naskah via email media. Emailnya cari di medianya, ya. Jangan tanya saya 🙂
Di badan email, kamu perkenalkan diri kamu. Bicara sedikit soal naskah kamu. Ucapkan terima kasih dan berharap naskah itu cocok. Sudah. Selesai. Jangan ditambahi dengan pertanyaan, kapan ya naskah kamu dimuat? Kalau sudah begitu, itu namanya bukan lagi basa-basi, tapi sudah tidak sopan.

Kedua
Ketika membawa naskah ke media itu artinya untuk saya, sama seperti membawa suguhan alias kue. Idealnya, tamu yang baik yang mau membawakan kue kesukaan pemilik rumah. Ketika ia sukanya cake, bawakan cake dengan aneka warna dan rasa. Jangan bawakan dia keripik jengkol.
Artinya kalau kamu mau mengirim naskah ke media wanita dewasa, kirimkan tulisan dengan standar media mereka. Gaya mereka itu khusus wanita karir atau wanita rumah tangga. Jangan sampai ketika kamu mengirim naskah untuk media untuk kalangan wanita karir, kamu suguhkan kisah tentang perempuan muda yang bunuh diri.
Jelas tidak akan diterima karena tidak sesuai dengan visi misi mereka.
Atau di media anak, kamu kirimkan cerita dewasa pakai acara caci maki dan lain sebagainya. Jangankan dilirik, cerita yang seperti itu pasti akan langsung masuk ke tong sampah.

Tiga
Meski kesannya nyinyir tapi saya paling suka mengatakan hal ini.
Hei…, meski di blog banyak berseliweran contoh tulisan dari teman-teman yang sudah tembus di media, tetap kamu harus membeli medianya. Minimal untuk mengetahui gaya dan karakteristik isi media tersebut. Nah untuk pemula, idealnya kamu butuh membeli sepuluh edisi media tersebut.
Jadi kamu tahu, tulisan yang mereka butuhkan seperti apa.
Jadi kamu juga percaya diri, jika ada yang bilang tulisan kita tidak cocok di sana, kamu tetap akan mengirim ke media tersebut. Karena kamu sudah tahu dan yakin, bahwa tulisan itu cocok di media itu.
Sampai sekarang ini, paling tidak seminggu sekali saya ke lapak majalah dan koran. Untuk melihat media mana yang membuka peluang untuk penulis dari luar.

Empat
Jangan bandingkan honor. Ini juga sering menjadi pertanyaan teman-teman dan kadang-kadang juga tidak saya jawab.
Mbak honor di sana berapa? Masih general , maka saya akan jawab honor secara umum di media tersebut.
Tapi kalau ada yang tanya, “Mbak honor mbak berapa di media tersebut?” Seringnya tidak saya jawab karena itu sifatnya khusus. Artinya ada media yang memberikan jenjang honor sesuai dengan tingkat senioritas.

Ada juga yang bertanya,”Mbak kok bisa jadi penulis tetap di media itu?”
Biasanya yang seperti ini juga tidak saya jawab. Apalagi yang bertanya baru menulis satu dua kali, dan merasa berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Saya jungkir balik nulis sama seperti jungkir baliknya pembuat kue nawarin kue dari satu toko kue ke toko kue lainnya.

Dan kalau akhirnya ada sebuah toko kue besar, yang mengorder kuenya rutin lalu mengajak kerja sama, itu artinya adalah selain kualitas, mereka juga melihat kerja keras dan kelayakan kue itu ada di toko mereka.
Nah menjadi penulis tetap sebuah media juga begitu.

Sama halnya saya tidak boleh merasa berhak bila ada novel teman-teman yang di filmkan. Karena apa? Karena saya tidak berjuang di ranah tersebut. Dan iri pada bidang yang kita sendiri tidak memperjuangkan, buat saya hal yang aneh.

Lima
Kirimnya sekali tapi seolah-olah sudah mengirim ratusan kali. Itu yang sering saya temui di sosial media.
Banyak penulis yang merasa sudah mengirim banyak (???) dan merasa naskahnya tidak dimuat juga.
Biasanya saya akan balik bertanya, ngirimnya berapa banyak? Lebih banyak mana, mengirimnya atau menunggunya?
Asal tahu saja, saya mengirim ke media hampir setiap hari. Itu artinya setiap hari selalu ada naskah yang saya kirim ke media. Dan saya tidak menunggu, tapi saya terus menulis.
Menulis dan lupakan, menulis dan lupakan, menulis dan lupakan. Begitu yang sering saya katakan.
Tapi arsipnya wajib kamu simpan dan besok-besok jika usia naskah itu sudah melewati dua tahun, kamu bisa merevisi dan kirim ke media lain.

Enam
Senior? O la la.
Sesungguhnya saya paling tidak suka tuh, kalau ada yang bilang, pantas aja dimuat terus. Sudah senior, sih.
Senior?
Dalam menulis, saya tidak pernah merasa sebagai senior. Justru saya selalu menempatkan diri sebagai pemula. Dengan begitu, saya punya rasa bersaing yang kuat, sehingga saya akan berusaha terus untuk menghasilkan karya terbaik.

Senior, lama tidaknya saya menulis membantu ketika saya tentu saja bernegoisasi harga tulisan saya.
Jelas saya tidak mau dong, dengan lamanya saya menulis, hasil tulisan saya hanya dihargai sepuluh dua puluh ribu perlembarnya. Ada pengalaman, ada harga.
Dan tentu saja kesenioran (males sebenarnya menyebut hal ini), membuat saya lebih mudah melihat peluang. Samalah seperti tukang jahit, yang bisa membuat jahitan rumit dan tahu kesalahan sebuah jahitan ada di mana. Nah seorang senior seperti saya (cie cie..), bisa melihat kekurangan sebuah tulisan itu seperti apa.

Oh ya senior di satu media belum tentu senior di media yang lain lho.
Ada yang namanya cukup berkibar di media anak, tapi harus berjuang setengah mati untuk menulis di media dewasa.
Ada yang dianggap hebat di bidang cerpen, tapi harus berjuang keras di bidang penulisan non fiksi seperti artikel.

Kalau saya, jujur saya ingin serba bisa.
Jadi semua bidang tulisan saya pelajari, tujuannya agar tulisan dan pemikiran saya ada di mana-mana.

Tujuh
Jangan males belajar deh.
Belajar dari mana saja. Ada yang belajar cukup dengan membaca karya orang lain. Ini modelnya saya dulu dalam belajar. Karena terus terang, saya tipe pemberontak dan tidak mudah diajari. Jadi belajar otodidak lebih saya sukai.
Tapi ketika saya membuka kelas penulisan online, baru saya sadari, bahwa ternyata tidak semua orang bisa belajar seperti saya. Ada orang yang butuh diajari. Dan model yang seperti ini, saya sarankan sebaiknya belajar dari seorang guru agar paham letak kesalahannya ada di mana.

Delapan
Ayo kirim. Percaya diri.
Iya, mau apa lagi. Kalau kamu sudah merasa cukup bekal ilmu kamu, bagus tulisan kamu, mau apa lagi? Mau didiamkan saja naskah kamu?
Hoi…, tukang kue itu kalau mau tahu kuenya enak atau tidak, bisa dinikmati atau tidak, harus berani diberikan pada orang lain lebih dahulu, untuk dicoba rasanya.
Tulisan kita?
Yah dikirim dong ke media, jangan cuma jadi bungkus cabai saja 🙂

Sembilan
Sabar menunggu itu selalu harus diingat di benak para penulis yang mengirim naskah ke media. Sabar menunggu naskah dimuat, karena bisa jadi antriannya banyak. Waktu dimuatnya sebuah tulisan bisa dari mulai satu dua minggu, bisa jadi juga sampai dua tahun.
Jadi sabar saja dan terus menulis.

Sepuluh
Berdoa jangan lupa.
Iya dong, segala ikhtiar akan komplit jika disertai doa. Itu artinya kita sebagai manusia sadar akan kekurangan diri kita.
Dari mulai keinginan bisa menulis segala jenis cerita hingga membuat kolom, itu adalah hasil ikhtiar yang saya lemparkan dalam bentuk doa terlebih dahulu.
Saya sendiri masih terus berdoa, agar terus mendapatkan ide dan juga agar tulisan saya dimuat. Masa yang baru belajar menulis sudah merasa sok yakin dan merasa tidak butuh berdoa?

Sebelas
Kalau suatu saat naskahmu diterima, dan mereka minta direvisi. Maka lakukanlah secepatnya. Kalau bisa kerjakan dalam satu hari itu. Dan kirim kembali, sehingga redaksi media tahu keseriusan kamu untuk menulis di sana.

Duabelas
Naskah kamu ditolak, lalu apa yang harus kamu lakukan?
Nulis lagi. Gampang, kan?
Untuk saya sih, tulisan yang saya hasilkan itu seperti buku harian. Karena memang kenyataannya apa yang saya tulis adalah apa yang saya jalani sehari-hari. Jadi kalau ditolak tulis lagi. Ditolak, tulis lagi, kirim lagi. Sampai seribu kali. Sampai akhirnya mereka sadar tulisan kamu menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan layak ada di media mereka.

Kalau langkah-langkah ini kamu jalani dengan keyakinan penuh, percaya deh sama saya, tidak lama lagi naskah kamu juga akan menghiasi sebuah media yang kamu tuju.
Jangan lupa, begitu naskah kamu dimuat sekali dua kali jangan sombong. Bahkan bila naskah kamu dimuat sampai ratusan kali.
Sombongmu itu bisa saja membuat kemampuan menulismu diambil kembali.
Apa mau seperti itu?

Penulis Instan

Photo kenangan

Siapa sih yang tidak tergoda dengan makanan instan? Makanan yang langsung jadi cuma diperlukan watu sekian menit tidak pakai repot, makanan itu sudah bisa tersaji dan mengisi perut kita yang kosong. Untuk mengenyangkan? Bukan tentu saja.
Makanan instan itu biasanya tidak berfungsi mengenyangkan, hanya berfungsi untuk mengganjal saja.

Saya bersyukur punya tubuh yang mudah sakit ketika terkena makanan yang instan. Tapi bukan berarti tidak pernah makan makanan instan.
Hayo coba siapa yang tidak tertarik dengan mie instan dan segambreng iklannya di layar televisi?
Mie instan rendang sampai soto lamongan. Anak saya bilang enak, saya bilang enek dan membatasi tidak menyediakan mie instan di rumah. Kecuali sesekali saja.
Saya lebih memilih mengambil cobek dan bumbu dapur untuk makanan di rumah. Kerja kerasnya itu akan terbayar ketika anak-anak sehat.

Di dunia menulis juga ada yang namanya sesuatu yang instan lho. Bukan, bukannya mereka tidak berproses. Saya paham makanan instan pun berproses di atas kompor. Hanya waktu prosesnya itu sebentar.
Penulis instan? Wow… mereka merasa berproses juga. Menulis di buku harian, itu kan juga bagian dari proses, ya? Menulis dimana saja itu bagian dari proses, ya? Dan setelah itu wajar kan bila akhirnya minta pengakuan di dunia industri penulisan atas proses itu?

Oke lah kita berada di suatu masa di mana saya juga wajib membuka mata, bahwa pekerjaan penulis itu bukan hanya menulis untuk media. Ada blogger, ada penulis buku, ada ghostwriter, ada penulis skenario dan bahkan ada copy writer. Dan mereka yang bertahan, saya yakin yang bukan sekedar satu dua kali berproses dan akhirnya memilih untuk menulis di bidang itu saja. Mereka melewati proses yang panjang dan lama. Bukan proses sebulan dua bulan saja.
Suami saya bilang, kalau ngeblog lebih menghasilkan kenapa mesti repot ngirim ke media? Saya bilang ini masalah idealisme yang tidak bisa terganti dengan lambaian uang.

Proses Tidak Sederhana

Seiring dengan maraknya social media, terutama FB yang jadi tempat nongkrong saya, saya menyaksikan proses panjang para penulis. Saya bukan model ibu-ibu yang melihat FB sebagai bagian keisengan. Saya belajar banyak mengamati status di beranda, untuk melihat perjalanan hidupnya, atau untuk mengamati karakternya.
Apalagi banyak yang menulis bahwa ia adalah penulis. Dan biasanya itu saya perhatikan betul statusnya.

Satu dua kali menulis status, banyak yang bisa bilang kalau itu bukan status sesungguhnya. Tapi kalau setahun dua tahun menulis status, saya yakin status yang dibuat seseorang itu, jadi bagian dari karakernya.
Ada yang suka mengeluh bertahun-tahun. Ada yang suka menyindir selama bertahun-tahun juga. Ada yang senang sekali menyakiti perasaan orang lain dengan statusnya, tapi anehnya ia merasa mudah sakit hati ketika orang lain melakukan hal yang sama dengannya. Dia tidak melihat ke belakang dulu, apa yang dulu pernah dilakukannya pada orang lain.

Balik ke masalah instan, di awal-awal FB saya kenal, saya melihat banyak sekali teman-teman yang ingin menjadi penulis, menulis status berupa puisi atau penggalan cerpen. Nah ketika mendapat like atau komen bagus, mereka puas dan merasa bahwa tulisan mereka sudah bagus.
Kalau dibilang buruk mereka anggap sedang di bully..
Bisik-bisik di belakang bahwa penulis senior itu sudah membully aku. Hiks.

Akhirnya kesempatan ini disalahgunakan oleh oknum yang ingin meraup keuntungan dengan menerbitkan buku indie. Tahun 2010 marak penerbitan buku indie. Ketika saya mengeluhkan hal ini di status, ada saja yang merasa bahwa saya sebagap penulis senior tidak menghargai kerja keras teman-teman.
Padahal saya berangkat dari kenyataan, bahwa saya memiliki banyak buku indie kiriman dari penulis. Isinya? Biasa saja. Memang ada yang bagus, tapi selebihnya biasa saja. Yang bagus biasanya, hasil dari tulisan teman-teman yang memang sudah malang melintang di dunia penulisan, lalu ia tidak ingin terikat dengan industri karena royalti yang kecil, dan ingin menjual sendiri.
Di tahun 2011, ada kasus penipuan buku indie ini dengan korban para calon penulis yang ingin punya buku. Besaran uangnya bukan seratus dua ratus ribu, tapi sudah sampai puluhan juta rupiah.
Orangnya mungkin sampai sekarang membenci saya, karena kasus itu saya buka.
Tapi korban-korbannya Alhamdulilllah banyak yang membuka mata, dan mulai menulis untuk media.

Bangga Menulis Buku?

Masyarakat akan bingung kalau pertanyaan soal pekerjaan kita jawab sebagai penulis. Maka pertanyaan itu akan berlanjut menjadi, bukunya apa saja? Karena masyarakat belum paham kalau penulis itu bukan sekedar menulis buku saja.
Mungkin atas dasar landasan itu, banyak penulis yang baru terjun di dunia menulis, bangga memiliki sebuah buku. Bukunya terbit itu artinya mereka akan dianggap keren, punya otak yang keren. Bukankah begitu penilaian masyarakat? Penulis itu orang pintar, kalau sudah pintar artinya hebat dan punya banyak uang.

Saya memendam keinginan memiliki buku selama 10 tahun. Di tahun 1990, penulis yang punya buku bisa dihitung dengan jari. Saya menulis di media sejak 1982. Itu kontinyu saya kirim tulisan ke media. Dapat honor dari media. Ngiri rasanya melihat teman penulis yang biasa sama-sama menulis di media, memiliki buku. Karena sebuah buku, arsip akan lebih bertahan lama. Bangga kalau buku itu berjejer di rak. Ada nama kita sendiri.
Iya nama sendiri. Karena sebelumnya saya tidak pernah mengenal namanya antologi. Yang saya paham, punya buku itu harus menulis buku sendiri, ada nama saya sendiri di dalamnya, bukan cuma bertuliskan dkk alias dan kawan-kawan.

Karena sosial media berupa FB lah saya akhirnya tahu dan paham, bahwa menulis buku itu menjadi sebuah profesi tersendiri. Dulu kami yang biasa tembus media, akan merasa aneh kalau punya buku tanpa karyanya tembus ke media lebih dahulu.
Karena media mengajarkan persaingan sehat pada kami, penulis dulu. Karya dan nama kami dikenal dulu, baru kami menulis buku. Dan itu artinya, buku kami paling tidak bisa laris manis di pasaran. Meski bukan best seller tapi paling tidak habis ketika dicetak dan tidak merugikan penerbit.

Bangga menjadi penulis buku itu yang sekarang banyak ditemui teman penulis. Bukan satu dua kali, saya bertanya pada penulis, kenapa tidak menulis untuk media? Mereka bilang, menulis untuk media saingannya susah. Sudah nulis belum tentu dimuat. Kalau nulis buku lebih enak.
Padahal hasilnya saya yakin seimbang, antara kerja keras dan hasilnya.

Semakin keras kita berusaha, semakin banyak hasil yang kita dapatkan. Menulis untuk media, membuat kita paham sebuah industri itu seperti apa. Menulis untuk media membuat kita jeli, menyuguhkan tema yang berbeda. Menulis untuk media, membuat kita punya kepercayaan diri atas naskah kita.
Karena saya tahu, banyak juga yang bergelut di industri buku tidak suka membaca buku. Mereka hanya mengandalkan feeling buku ini bagus dan layak jual. Kasih tampilan cover yang menarik, endorsment yang memikat, juga judul yang memikat.
Mereka yang bergelut di industri ini datangnya dari penerbit besar juga, bukan hanya penerbit yang baru muncul.

Pada Akhirnya Menulislah

Saya cuma mau bilang, pada akhirnya kalau kita memang ingin menjadi penulis yang baik, menulis lah dimulai dari sekarang. Belajar menulis yang baik. Jangan sekali dua kali menulis, lalu horee…, merasa paling bisa dan akhirnya merasa yakin tidak perlu belajar lagi.
Dunia menulis itu tidak selebar daun kelor. Dunia menulis itu luas.

Tingkatkan bacaan kita. Tingkatkan kualitas bacaan kita.
Anak-anak di rumah kalau ke toko buku, bebas memilih buku yang mereka suka. Sulung saya biasa cari buku bola atau komik yang berhubungan dengan bola. Kalau yang Bungsu, cari buku putri atau kisah peri.
Buku itu bisa habis mereka baca dalam sekali duduk.
Tapi saya pilihkan juga buku dari toko buku online untuk mereka. Dan buku itu pilihan saya untuk mereka. Buku itu wajib dibaca sebelum mereka menonton televisi. Dan saya pantau, juga saya tanya bagus tidak isinya. Sebelumnya tentu saja saya lebih dahulu membaca buku itu.

Baca yang banyak. Belajar yang banyak.
Penulis itu bukan sebuah tong kosong, yang diwarnai dengan warna terang. Orang yang melihatnya mungkin tertarik. Mencoba untuk mengetahui isi di dalamnya. Tapi setelah melongok ternyata tong itu cuma indah di luar tapi kosong di dalam, pasti akan jadi pengalaman buruk mereka terhadap kita.
Penulis juga bukan pom pom girls pemeriah sebuah acara lomba. Begitu acara ramai-ramai selesai, yang tertinggal hanya hening.

Baca yang banyak, menulis yang banyak dan kirim ke media. Tidak mudah memang, tapi saya memang mengajarkan hal itu di Penulis Tangguh dan Kelas Merah Jambu. Menulis dan menembus media tidak mudah. Apalagi media yang diminati banyak penulis karena honornya paling tinggi. Tapi ketika tulisan kita hadir di dalamnya (dimuat) akan terasa energi yang berbeda. Kita menjadi lebih percaya diri. Dan kepercayaan diri itu membuat kita akan terus menulis lebih baik lagi.

Buku Indie

Beberapa penerbit saya perhatikan sekarang mengelola POD alias print on demand. Artinya penulis yang kepingin punya buku, bisa setor uang, diedit dan dicetak sesuai pesanan. Ditaruh di toko buku? Tidak. Penulis harus berjuang keras untuk membuat bukunya laku.
Kebanggaan didapat. Ketika kumpul dengan teman-teman yang tidak mengerti soal dunia penulisan, lalu pamer buku yang sudah dicetak. Bertambah bangga ketika teman-teman bilang, hebat.
Hebat model begini, tidak akan bertahan lama.

Tidak salah menurut saya menerbitkan buku sendiri, asal dia sudah biasa menulis. Sudah punya audience. Jadi buku itu akan dibaca oleh banyak orang. Para ustaz banyak melakukan ini, karena mereka sudah punya jamaah. Lagipula mereka tujuannya untuk menyebarkan ilmu, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Keuntungan kan akhirnya mereka putar juga untuk manfaat lain yang lebih besar.

Kalau penulis yang biasa menulis buku harian kepingin punya buku? Silakan. Tapi untuk konsumsi sendiri, kan? Ditaruh di rak buku di rumahnya sendiri, kan? Bukan dibangga-banggakan di sosial media dan bilang, ini bukuku lho. Aku hebat, kan?

Di beberapa group penulisan di LinkedIn, banyak juga diskusi tentang buku indie. Saya kebetulan tergabung dalam beberapa komunitas, yang dibuat oleh penulis luar. Mereka juga mendiskusikan buku indie. Mereka juga menggarap buku indie. Tapi buku itu benar-benar digarap sempurna. Mereka menawarkan diri siapa yang mau menjadi ilustrator. Dan membayar tentu saja. Menawarkan juga, siapa yang mau mengedit buku mereka.
Jadi indie di sana bukan dihasilkan dengan kualitas asal jadi. Tapi benar-benar dipikirkan matang.

Well, akhirnya menulis saja yang banyak. Kirim ke media. Ke penerbit juga boleh. Paling tidak, kita belajar bersaing.
Emas dihasilkan lewat proses dicari dan dibakar.
Keramik melewati proses dibentuk dan dibakar juga.
Kita sebagai penulis? Harusnya juga dibesarkan lewat proses yang matang, jika ingin memberi yang terbaik untuk bangsa kita. Sungguh memikirkan menulis yang baik dan bisa diserap nilai-nilainya itu tidak mudah, jika kita tidak memulainya dengan melakukan hal yang bermanfaat di kehidupan sehari-hari.
Menulis yang lurus tidak mengikuti tuntutan industri dan tidak melegalkan adegan peluk, cium juga adegan ranjang itu sulit. Bikin nangis ketika apa yang kita usung itu, kalah dengan namanya kebutuhan industri.
Tapi bersyukur jika pilihan itu menulis untuk media, masih banyak alternatif media yang bisa kita pilih.

Saya tidak mau hanya sekedar menulis dan terlupakan. Saya ingin Bapak saya bangga. Anak keturunan saya bangga. Karena itu saya akan terus belajar menulis lebih baik dan lebih baik lagi.
Ayo buat anak cucu kita bangga dengan proses menulis kita.

Semangat Menulismu Hampir Padam

DSCF2770

Menulis untuk media dimulai sejak SD, kadang terlintas pertanyaan sendiri di kepala. Apakah saya punya berkarung-karung semangat sehingga sampai detik ini masih bisa produktif menulis? Apa tidak pernah dihinggapi rasa bosan?

Eit jangan salah. Saya tetap lah manusia. Up and down dalam satu bidang yang kita pilih itu biasa. Bosan juga biasa. Tapi semua itu memang sebuah rasa yang harus dilawan. Yang jadi masalah adalah melawannya itu pakai cara apa?

Melawannya dengan tekad. Tekad saya dalam menulis kuat. Otak-otak saya seperti tersumbat ketika satu dua hari tidak menulis. Dan satu dua hari itu efeknya luar biasa. Satu dua hari tidak menulis, maka akan membuat saya duduk di depan komputer bingung mau menulis apa.
Setiap hari menulis, akan membuat saya dalam lima menit bisa mendapatkan banyak ide cerita dan bisa langsung dijadikan tulisan.
Setiap kali saya malas untuk menulis, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri. “Apa kamu bisa hidup tanpa menulis? Apa kamu bisa membiarkan setiap masalah yang datang, reda begitu saja tanpa ditulis?” Atau…”Masak sih sudah sejauh ini kamu berjalan, kamu mau bilang stop. Berhenti. Aku nggak kuat?”

Menulis itu panggilan hati. Jadi bagian napas juga . Tapi jika napas saja kadang-kadang sering terasa berat, sehingga kita harus menarik napas panjang lalu mengembuskan sebagian besar beban kita, menulis juga seperti itu.
Kadang ada rasa jenuh ketika menyadari bahwa jalan yang kita lalui begitu-begitu saja. Ide dari itu ke itu saja. Sesuatu yang menurut kita indah, ternyata ditolak mentah-mentah atas nama industri karena dianggap tidak akan laku di pasaran.

Lalu setelah itu semangat menulis mati?
Tidak lah. Tidak untuk saya. Bahkan ketika ditolak sekalipun, sepuluh menit kemudian saya sudah menemukan cara jitu untuk menulis lebih baik lagi. Bahkan ketika dikritik sekalipun, saya sudah bisa melihat celah, yang memberikan kritik itu memberi masukan atau sekedar ingin agar namanya dikenal?

Saya paham betul, tidak semua orang memiliki semangat seperti saya. Jalan satu-satunya pada akhirnya memang harus memilih. Kamu mau terus atau berhenti saja sampai di sini? Itu pertanyaan yang wajib diberikan kepada diri sendiri ketika semangat menulis kita mati.
Tanya juga pada diri sendiri, menulis ini sekedar ikut-ikutan tren karena melihat menjadi penulis itu keren, atau karena memang benar-benar mengikuti panggilan hati?

Kalau sekedar ikut tren saya yakin semangat itu bisa mati dengan cepat.
Kreativitas yang datang juga hanya mengekor. Mengekor tren yang ada. Seperti ketika booming novel islami dengan setting Mesir, maka berbondong-bondong semua menulis dengan setting itu. Bahkan saya pernah dapat pesanan untuk merubah setting novel saya dengan setting Mesir. Tapi saya menolak.
Sebab saya suka memiliki ciri khas dan orang mengenali ciri khas saya itu.

Andai kita merasa sudah cinta dengan menulis lalu semangat menulis kita mati(kadar cinta yang sesungguhnya dipertanyakan dengan banyak tanda tanya), bisa jadi juga karena kita tidak bisa melihat jalan ke depan di dunia menulis yang cerah ceria. Nah tidak bisa itu bisa terjadi karena :
1. kita benar-benar tidak bisa melihat jalan itu
2. kita melihat tapi tidak percaya diri, akhirnya putus asa
3. kita tidak tahu harus bagaimana agar jalan itu mulus dan terang?
4. Bisa jadi juga kita sudah merasa cukup sampai di sini. Karena yakin itu bukan passion kita.

Jalan satu-satunya masuklah ke sebuah komunitas.
Komunitas yang baik akan membantu menunjukkan jalan yang terang. Yang tidak sekedar hanya memuji tapi juga tidak ingin menjatuhkan. Komunitas yang baik mendukung, bukan menikam dari belakang.

Pohon cabai milik saya yang sedang berbunga subur, ternyata bisa hampir mati juga, ketika saya yang malas menyirami memasukkan ke dalam kolam, sebagai cara praktis biar dengan anggapan pohon cabai saya bisa subur sendiri. Untung saya cepat saya dan memindahkan kembali. Tapi ya itu bunga-bunganya sebagian besar rontok.
Komunitas dalam menulis juga seperti itu. Bisa merontokkan semangat kita, bila kita masuk dalam komunitas yang salah. Cara yang paling efektif tentu saja keluar secepatnya.

Jadi menurut saya komunitas itu penting. Komunitas yang saling membangun, bukan yang hanya sekedar memuji. Yang membangkitkan semangat bukan yang sekedar ingin menjatuhkan. Dan komunitas itu kalau tidak bisa kita dapatkan, kan bisa kita mulai dari diri sendiri?
Saya yakin masih banyak orang peduli di dunia ini.

Jika semangat menulismu mati hari ini, ayo intropeksi.
Jangan salahkan orang lain.
Kamu bertanggung jawab atas dirimu. Bukan orang lain.

Bullying di Dunia Menulis

bully

Saya penulis bahagia.
Iya, sungguh bahagia. Karena sepanjang pengalaman menulis, saya selalu merasa bahwa semua baik-baik saja pada saya. Semua baik-baik saja bisa jadi dalam artian, saya ini terlalu tambeng (tidak mau tahu) kalau ada orang yang membully.

Jadi ceritanya banyak penulis yang merasa di bully di sosial media, oleh penulis lainnya tentu saja. Di bully dalam versi saya artinya diremehkan. Tapi saya harus menjawab apa jika saya tidak merasakan hal itu?
Tidak mau memikirkan dan merasakan ketika ada orang yang menyakiti saya, memang sudah jadi pilihan saya. Maka saya hanya mau mengenang peristiwa yang manis-manis saja.

Banyak peristiwa yang manis sekali yang saya rasakan ketika mulai jatuh cinta dengan dunia menulis.
Contohnya :
1. Saya selalu kebagian ditunjuk untuk baca puisi di depan kelas oleh guru ketika SD. Dan saya juga selalu ditunjuk untuk membacakan cerita, karena intonasi suara saya jelas.
2. Saya dapat kue tart dan hadiah ulang tahun dari teman sebangku. Gara-garanya apa? Gara-garanya dia melihat buku tulis saya, yang saya corat-coret tentang kisah ulang tahun saya.
3. Saya selalu bangga karena nilai bahasa Indonesia saya selalu lebih tinggi bahkan dari peringkat pertama di kelas.
4. Dosen-dosen dan teman-teman di kampus baik. Dosen saya memberikan beasiswa Supersemar yang saya sendiri tidak mengajukannya karena mereka tahu saya penulis. Dan teman-teman sering sekali membuatkan seminar dengan pembicara saya bersanding dengan dosen. Padahal dulu saya malu bicara di muka umum.
5. Tiga pekerjaan kantoran yang saya lakoni, saya jalani karena saya penulis. Bahkan pekerjaan yang terakhir bukan di media, saya dapatkan karena boss yang gemar membaca. Dan ia menerima saya, karena melihat CV saya diisi dengan menang lomba menulis. Alhasil selama masa bekerja, setiap minggu saya dipinjami setumpuk buku tebal berbahasa Inggris, yang akhirnya membuat saya merasa bersyukur karena dipaksa untuk belajar.

Terus berarti tidak pernah merasa di bully?
Pernah sih. Tapi sungguh saya tidak memikirkannya. Saya justru berpikir kalau saya harus berkarya lebih baik lagi, biar mulut orang yang nyinyir karena memang saya yakin sudah jadi kebiasannya untuk nyinyir, berhenti karena malu saya menjawabnya dengan karya.

Jadi soal bully? Baiklah saya punya pemahaman sendiri soal hal itu :
Buat saya bully membully itu terbagi dalam tiga katagori, yaitu :

1. Bully dari Orang yang Tidak Paham
Orang yang tidak paham wajar dong meremehkan. Karena mereka bingung, kok bisa ya ada orang yang sibuk nulis terus? Apa tidak pusing dan apakah kata-kata itu tidak pernah hilang dari benak mereka yang bekerja sebagai penulis?
Wajar, kan? Sama wajarnya kalau saya bingung sama orang yang fokus belajar matematika. Soalnya saya sendiri lemah di angka.
Sama juga saya masih mikir-mikir ketika anak saya ingin menjadi pemain bola.

2. Bully dari Sesama Penulis
Sesama penulis saling meremehkan? Lalu merendahkan dan mengumumkan hal itu di sosial media?
Walah saya cuma mikir, kalau sinar saya terlalu terang jadi mereka silau. Kalau sudah begitu saya akan terus berkarya dan bersinar lagi, jadi mereka yang suka membully tutup mata, karena tidak sanggup menahan sinar saya. PD banget, kan? He he tapi itu kalau mereka tahu sudah berapa lama saya menulis?
Kalau mereka yang belum tahu dan karena itu membully?
Tetap tidak masalah. Memangnya saya siapa? Wong tidak semua butik terkenal dikenal oleh semua orang. Jadi wajar tidak semua penulis dikenal.
Lagipula, saya menulis bukan untuk terkenal kaleee 🙂

3. Woi, intropeksi
Di bully itu sebenarnya jadi ajang intropeksi kok. Sudah menulis sebagus apa sih kita? Banyak kan para penulis yang baru satu dua kali menulis, lalu merasa paling jago dan tulisannya paling bagus. Kalau diberitahu tulisannya belum bagus, ia lalu merasa sedang dibully.
Padahal proses dalam menulis harus dimulai dengan rasa tidak puas dan terus berproses jangan sampai pada titik puas.

Sesungguhnya saya lebih banyak dicintai di dunia menulis ketimbang di remehkan.
Saya berutang dengan orang-orang yang pernah saya ganggu dengan kegiatan menulis saya. Donatus A Nugroho dan istrinya tahu, saya sering ke rumah mereka cuma untuk main dan lihat-lihat proses kreatifnya.
Tahu kegigihan saya, Donatus mengajak dan mengenalkan saya pada orang-orang yang kompeten di dunia menulis.

Saya merasa berutang dengan mas Farick Ziat, yang datang menemui di ruang tunggu majalah Gadis dan mengucapkan selamat ketika saya menang lomba cerber majalah Gadis. Buat saya itu luar biasa.

Atau ketika saya mau belajar skenario, Aditya Gumay mengajak saya menawarkan naskah ke kepala bagian urusan Drama Remaja TVRI, dengan map bertuliskan kop surat sanggar yang dibinanya. Padahal saya bukan anak sanggar asuhannya, tapi hanya mengantar adik saja. Itu buat saya juga merupakan peristiwa langka.

Saya juga merasa berutang pada Mas Albert Marbun, ketika baru seminggu saya bekerja sebagai reporter di Aneka. Saya diajak bicara selama dua jam, hanya untuk menekankan bahwa saya berada di tempat yang salah dan sistem yang salah. Lebih baik saya fokus menulis saja. Bersyukur saya mengikuti sarannya dan resign dari sana secepatnya.

Saya bertemu dengan banyak teman penulis yang baik pada saya termasuk Erry Sofid juga Nunik Kurnia. Mereka teman baik yang wajib saya pelihara hingga sekarang.

Atau saya selalu saja disisihkan majalah yang ada karya saya, dari beberapa agen persewaan majalah di Solo. Buat saya itu penghargaan yang membuat saya wajib terus menulis. Mereka menghargai saya, kenapa saya mesti tidak menghargai diri sendiri dan kemampuan menulis saya?

Memikirkan orang yang mencintai dan mendorong semua kegiatan menulis saya, membuat saya menjadi penulis yang bahagia.
Jadi kalau masih merasa di bully?
Come on. Hidup saya sudah terlalu berwarna dan saya tidak butuh warna lain, dari orang yang tidak suka.

Hanya Ingin Menulis, Bukan Menjadi Penulis

424948_10151189437018591_976325817_n

Siapa bilang persaingan di dunia menulis semakin ketat?
Saya tidak percaya jika persaingan di dunia menulis itu ketat. Saya juga tidak percaya saking ketatnya persaingan itu, untuk menembus dan meletakkan karya kita di media menjadi semakin susahnya.
Sepanjang pengalaman saya, di dunia tulis menulis hanya nama-nama itu saja yang hadir.
Sekali dua kali ada nama lain, tapi tetap akhirnya kembali ke nama yang itu dan itu lagi.

Sebuah keberuntungan, kah?
Bukan. Menulis untuk media bukan lagi soal keberuntungan atau kedekatan dengan redaksi media. Menulis untuk media adalah sebuah pertarungan. Pertarungan itu dihadapi dengan kerja keras dan semangat baja. Sebab hasil dari pertarungan itu adalah honor yang cukup menggiurkan.

Mendapat honor, mendapatkan nama ada di media sungguh sangat menggiurkan untuk yang kepingin mendapatkan itu. Kepingin bukan berarti cinta. Karena kadar ingin dan cinta sungguh jauh berbeda. Kepingin, ingin, mungkin hanya ingin menuntaskan rasa penasaran saja. Sekali dua kali puas. Setelah itu merasa cukup bisa dan yakin sudah berilmu. Atau memang tidak pernah bisa menghadirkan cinta, jadi kepingin itu tidak beranjak menjadi cinta dan kebutuhan.

Aturan sebuah cinta adalah hadirnya rasa yang berbeda. Ingin terikat terus dan mengikat. Dan terikat dan mengikat itu hanya bisa dituntaskan dengan terus menulis. Ini teori ngaco saya jelas saja. Tapi saya merasakan hadirnya cinta dalam menulis memang harus dipaksakan dengan mengikatkan diri dan merasa terikat. Ketika sudah merasa terikat, jadi tidak bisa berpaling. Kalau sudah tidak bisa berpaling hanya akan melihat ia satu-satunya yang terbaik. Kalau sudah melihat sebagai satu-satunya pilihan yang terbaik, akan terus diasah kemampuannya sehingga terus berkembang dan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan lagi.
Cinta dalam kadar yang sudah melekat, menyatu tak mungkin berpisah.

Hanya ingin menulis sebenarnya sama dengan hanya ingin membuat kue. Hanya ingin bernyanyi atau hanya ingin melukis. Hanya ingin ini, tidak memerlukan kepiawaian karena hasilnya tentu akan lebih nikmat untuk diri sendiri.
Saya selalu hanya ingin memasak dengan membuat kue atau sajian yang lain untuk keluarga. Tapi tidak ingin menjadi ahli masak, disebabkan oleh kesadaran diri akan mood yang tidak pernah sinkron. Apalagi saya biasa memasak mengandalkan feeling. Juru masak yang mahir tentu saja juga mengandalkan feeling. Tapi feelling mereka sudah terasah dengan ratusan atau ribuan percobaan memasak.

Demikian juga dengan menulis.
Hanya ingin menulis, melampiaskan apa kata hati, bisa jadi bisa tembus ke media. Sama seperti saya memasak, bisa saja ada yang suka dan membeli masakan saya. Tapi pelampiasan yang hanya sampai di situ tidak beranjak menjadi sesuatu yang meningkat lagi ilmunya, hanya akan membuat saya sendiri jenuh, orang lain juga mungkin tidak tertarik lagi membeli.

Menulis juga seperti itu.
Hanya ingin menulis membuat bingung mencari ide. Ide itu akhirnya akan kabur. Semakin kabur jika malas mencari referensi bacaaan. Sama seperti saya bingung harus mengolah bahan masakan. Dengan kemampuan memasak minimal terus malas buka resep masakan, maka jadilah masakan amburadul versi saya. Tapi toh kenyataannya saya tidak begitu. Ketika saya bingung saya akan melotot mencari resep di internet atau membuka buku resep yang bertumpuk di rumah. Dan menurut saya itu masih lumayan.

Sebab ada juga penjual makanan yang pakai cara instant. Penjual makanan yang sering muncul karena banyak memakai boraks dan bahan berbahaya makanan itu, modelnya mungkin sama seperti penulis yang malas mencari referensi. Akhirnya mencari jalan pintas menjadi plagiat. Seperti pemakai boraks yang selalu yakin bahwa pembeli tidak akan tahu, nah penulis model seperti ini juga mungkin punya pemikiran seperti itu.

Sekedar menulis, bisa menulis, suka menulis, cinta menulis dan menjadi penulis tentu saja beda. Yang sekedar menulis itu persis anak saya yang sulung. Dia sekedar menulis. Kalau lagi butuh uang untuk membeli baju bola yang harganya di atas 100 ribu dan saya tidak mau membelikannya, maka dia akan berusaha menulis dan mengirimkan ke media. Meski sudah berkali-kali dimuat di media dan sudah pernah menang lomba menulis, tapi menurut saya dia hanya masih sekedar menulis. Sekedarnya itu cuma bergeser sedikit ke arah bisa. Bukan menjadi suka.

Anak saya yang bungsu lain lagi. Dia sudah bukan lagi sekedar menulis, ia sudah bisa menulis dan sudah menang lomba menulis juga, dan menurut saya ia sudah masuk pada tahap suka menulis. Karena setiap hari ia akan kotak-katik buku hariannya untuk menulis. Bahkan bisa tiba-tiba ia bicara pada saya, “Ibu, aku punya ide. Aku mau tulis, ya.” Tapi belum tahap pada cinta menulis. Sekedar suka belum cinta. Karena jika cinta itu sudah menjadi kebutuhan dasarnya.

Menjadi penulis merangkum semuanya. Melewati proses sekedar, bisa, suka, cinta dan berujung pada pilihan untuk menjadi penulis. Sama seperti atlet renang. Yang sekedar berenang buat senang-senang tentu beda dengan atlet renang. Saya bahkan suka berenang bukan saja sekedar berenang. Harus cinta berenang untuk kesehatan saya, karena hanya olah raga renang yang cocok untuk saya yang memiliki penyakit asma. Tapi untuk berkata saya atlet renang, keterlaluan namanya. Itu namanya mengaku-ngaku.

Atlet renang disiplin menjalani latihan. Saya paling banter sebulan dua kali. Itupun cuma untuk melebarkan paru-paru dengan sepuluh kali putaran. Gayanya hanya mahir gaya katak dan gaya punggung.
Tapi saya akan dengan bangga bilang kalau saya penulis. Karena saya memang konsisten menulis. Kalau renang ada gaya khusus yang diperlombakan, maka saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya punya spesialisasi penulis untuk media. Dan untuk itu saya terus meningkatkan kemampuan menulis saya. Caranya dengan terus menulis, mempelajari tulisan orang lain yang hadir di media tentu saja, dan mengasah kepekaan saya akan ide yang diterima oleh media.

Well,
kalau di serial Mahabarata si ganteng Krisna selalu bilang “Pikirkanlah itu.” Maka di sini saya akan bilang hayo yang hanya ingin menulis, pikirkanlah itu. Apakah kalian hanya ingin menulis atau mau menjadi penulis? Atau mungkin hanya pada titik suka menulis saja?
Pikirkanlah masak-masak.
Jika ingin berada pada tahapan menjadi penulis, maka harus berjuang keras untuk terus menulis. Prioritas utama menulis. Sesak napas bila tidak menulis atau pusing bila tidak menulis (ini saya banget!).

Pikirkanlah itu.