Menulis Buku Anak yang Dikemas Ringan

Menulis selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Menulis naskah remaja, dewasa, fiksi non fiksi. Semua jenis tulisan adalah tantangan tersendiri untuk saya.
Jadi karena biasa berjuang untuk menulis, saya termasuk orang yang suka jengkel jika diremehkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia menulis.

Beberapa tahun belakangan ini saya kecemplung menulis buku anak. Sebenarnya sederhana. Permintaan dua anak saya yang waktu itu masih kecil, yang selalu saya bacakan buku sebelum tidur. Mereka request kepada saya, minta dibacakan buku karangan ibu, begitu katanya.
Saya sendiri waktu itu hanya menulis naskah novel remaja juga dewasa. Ada cerita anak di majalah anak Bobo, tapi itu hanya satu dua saja. Tidak rutin saya buat.

Lalu ketika si anak sudah bisa mendesak saya untuk menulis cerita untuk mereka, saya yang terdesak pun akhirnya mencoba menulis. Sebuah novel yang sebenarnya berat karena berkisah tentang seorang anak yang punya dua ibu. Satu ibunya terkena sakit jiwa. Novel itu hasil riset saya berdasarkan pengalaman berteman dengan teman-teman yang anak yatim atau bahkan yang ayahnya menikah lagi.
Novel itu kemudian mendapat Award sebagai novel anak terbaik. Disusul dua tahun berikutnya, dua novel yang lain masuk nominasi novel anak terbaik juga.

Iya saya menulis dan konsisten menulis cerita anak sejak saat itu. Mulai membuka kelas untuk mengajari menulis cerita anak. Baik secara online maupun secara offline. Dan ternyata saya menemukan bahwa orang dewasa yang menulis cerita anak itu, jauh lebih sulit dari anak-anak sendiri. Kalau anak-anak yang menulis, wusss, idenya bebas. Mau jungkir balik dengan ide mereka santai saja. Ketika orang dewasa yang menulis cerita anak, waduh diajarkan untuk berimajinasi mereka sudah tersekat dengan pola pikir ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Belum lagi tidak bisa bebas menempatkan diri sebagai anak-anak dan pesan yang kadang terselip begitu banyak, sehingga membuat beban untuk yang membacanya.

Jika orang dewasa berniat menulis cerita anak, tentunya mereka harus menanggalkan diri sebagai orang dewasa. Harus mau bergaul banyak-banyak dengan anak-anak. Dan ujungnya mau kembali ke masa anak-anak. Jadi ketika menulis mereka harus mau jadi anak-anak kembali.

Untuk cerita-cerita fiksi seperti novel anak, saya bersyukur punya masa kecil yang indah dan rumit. Bukan karena hidup saya rumit. Tapi karena Allah perkenankan saya berteman dengan teman-teman yang hidupnya rumit. Ketika SD saya punya teman yang ibunya bahkan jadi wanita malam. Saya bersyukur orangtua menjaga saya dengan cara yang baik. Sehingga berteman dengan teman lain menambah wawasan saya tentang banyak hal.
Jadi kalau saya bisa mengemas hal rumit dan menyederhanakannya dalam bentuk buku anak, itu sudah biasa.

Yang sulit untuk saya adalah justru ketika saya dipercaya untuk menulis tutorial ibadah atau buku-buku agama lainnya untuk anak. Susahnya?
Susahnya adalah karena setelah saya membaca banyak kitab rujukan, saya harus mencari yang umum, agar anak-anak yang mebacanya tidak bingung. Kok yang ini beda dengan yang diajarkan guruku, misalnya seperti itu? Rujukan yang umum pun tetap harus berdasarkan apa yang Rasulullah ajarkan.
Ketika menulis naskah yang lain sehari bisa mendapat 10 halaman, maka menulis buku ibadah, sehari saya harus baca setumpuk kitab, paling hanya dapat empat sampai lima halaman.
Belum lagi beban takut salah. Belum lagi beban takut dihujat oleh orang-orang yang hobi menghujat ketika melihat sedikit kesalahan.

Sampai sekarang saya masih terus menulis. Pesanan buku anak datang silih berganti. Kalaupun pesanan sudah selesai, saya masih kotak-katik naskah untuk dikirim ke penerbit.
Masih ada yang meremehkan menulis buku anak?
Coba suruh saja dia menuliskannya.

Penulis Remah Rengginang

Penulis remah rengginang? Waktu saya membaca tulisan seperti itu saya tersenyum sendiri. Rengginang, makanan seperti kerupuk yang biasa disajikan pada saat lebaran itu memang unik. Rengginang, tidak pernah bisa membuat orang yang memakannya bersih dari kotoran. Karena setiap gigitan gigi kita pada rengginang, akan menyisakan remah yang jatuh.
Atau jika rengginang berada di dalam wadah dan wadah itu sering berpindah tempat, akan membuat rengginang itu menghasilkan banyak remah yang rontok dari si rengginang itu sendiri yang mengumpul di bagian bawah wadah.

Ops, saya sebenarnya mau ngomong apa, sih?
Yup, ini berkaitan dengan dunia menulis. Sejak dulu ketika saya masuk ke dunia menulis, saya sadar saya harus terus menulis. Ikut lomba ini itu untuk menunjang kepenulisan saya. Karena sebuah lomba menulis dari sebuah instansi atau lembaga yang diakui juga penerbit atau media yang memiliki banyak pembaca, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri saya sendiri.
Tapi bukan berarti setelah itu saya raih, lalu saya menjadi merasa paling besar.

Ada Kalanya Saya Hanya Remah Rengginang

“Pada masa lalu aku punya prestasi di bidang nulis, Bu,” ujar anak saya.
Saya mengangguk. Ia sadar akan hal itu. Pada masanya, di masa lalu, itu artinya tidak terjadi di masa sekarang. Orang juga sudah tidak ingat lagi akan hal itu, dan diri sendiri juga merasa tidak ada artinya dengan pencapaian itu. Karena ada banyak orang lain yang memiliki pencapaian yang lebih tinggi.

Bicara soal pencapaian, saya malah jadi teringat kisah remahnya rengginang. Orang-orang kecil yang merasa tidak ada artinya akan menganggap diri mereka seperti remah rengginang.
Saya?
Saya harus juga menempatkan diri seperti remah rengginang tersebut. Karena apa? Karena prestasi di masa lalu, meskipun sebulan atau seminggu yang lalu, tetap saja namanya masa lalu. Dan untuk hidup kita adalah masa kini dan masa depan.
Uangmu yang kamu dapat dari prestasi di masa lalu akan habis. Pujian akan sirna. Jika kamu menulis mengandalkan puja dan puji maka tidak akan bisa kamu melangkah lebih jauh lagi.

Saya selalu menempatkan diri bahwa saya tidak bisa apa-apa. Remah rengginanglah saya. Karena itu setiap ada program menulis dari ahlinya, untuk bidang yang belum saya kuasai, saya akan ikut mengirimkan lamaran untuk mengikuti audisi itu.
Pun di setiap kesempatan saya selalu meyakinkan diri sendiri saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan begitu saya jadi memiliki energi untuk menulis lebih banyak dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

“Kamu penulis remah rengginang?”
Jika ada yang menunjuk seperti itu, apa yang harus saya lakukan?
Tugas saya terus menulis. Dan tulisan saya yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tuduhan orang lain untuk saya, tidak akan jatuh membebani amalan saya.
Mari terus menulis saja.

Hubungan Penulis dan Penerbit, Harusnya Seperti Apa?

Penulis?
Penulis lepas seperti saya ketika dulu zamannya media cetak, akan terhubung dengan redaksi. Redaksi ini yang mengurusi naskah yang masuk, juga jadi penyambung lidah dengan bagian keuangan ketika penulis ingin mengambil honor.
Dulu zamannya saya masih suka mengambil honor langsung ke media, saya akan menunggu di ruang redaksi. Melihat cara kerja mereka. Lalu dapat tanda tangan dari redaksi plus nomor bukti majalah. Setelah itu saya akan meluncur menuju bagian keuangan untuk mengambil honor.
Eh itu dulu dan terjadi pada masanya. Alias zaman sekarang sudah berganti. Ada banyak yang berubah. Termasuk tumbangnya satu persatu media cetak berganti dengan media online.

Setelah media cetak tumbang penulis mau apa?
Sejak media cetak tumbang maka banyak sebenarnya pekerjaan untuk penulis. Produk-produk mencari blogger untuk mengiklankan produk mereka. Kalau di media cetak hitungannya berapa senti kali berapa senti iklan yang ditayangkan dan harganya bisa mencapai ratusan juta, sekarang kan budget untuk iklan bisa dikurangi.
Iya, blogger adalah salah satu profesi yang tumbuh subur setelah media cetak gugur.

Penulis buku?
Yup, termasuk penulis buku. Meski dari dulu sudah ada penulis buku, tapi sekarang ini semakin marak lagi. Penulis yang menulis buku semakin banyak. Saya yang termasuk akhirnya fokus untuk menulis buku.

Penulis buku akan berhubungan dengan penerbit. Lebih mengerucut lagi, biasanya penulis akan berhubungan dengan editor yang menangani naskah. Masing-masing penerbit punya editor sendiri untuk lini naskah mereka masing-masing. Ada lini naskah anak, remaja atau dewasa, fiksi dan non fiksi.
Hubungan yang harus dibina tentu saja hubungan baik. Penulis manusia, editor juga manusia. Maka membina hubungan baik dengan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan sinergi kerja yang bermanfaat untuk karya yang dihasilkan.

Penulis menulis buku dan editor menyeleksi naskahnya.
Beberapa editor yang saya kirimi naskah langsung suka dengan karya saya. Hanya memberi sedikit editan, setelah itu bahkan memberi order tulisan untuk saya.
Ada juga editor yang mengoreksi naskah saya. Tapi saya suka sepanjang tidak membuat naskah itu bukan lagi menjadi milik saya. Alias isi dirombak sana sini. Jika hanya untuk merubah satu dua kalimat efektif tidak masalah untuk saya. Misalnya bahasa di tulisan itu saya gunakan kata kamu, dan editor maunya kata kita.
Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya pakai kata kamu gunanya untuk mengakrabkan dengan pembaca karena ini non fiksi untuk remaja, maka editor pun setuju.

Mengunjungi penerbit sebenarnya salah satu cara efektif untuk membina hubungan baik. Tapi zaman semakin canggih, dan internet bisa membuat semuanya mudah dilakukan. Jarak bisa dilipat. Komunikasi bisa dijalin.
Hanya saya tetap sesekali mengunjungi penerbit. Salah satunya ketika saya ke Solo dan saya mengunjungi penerbit yang menerbitkan buku saya.
Dengan bertemu langsung, saya lebih paham kebutuhan penerbit seperti apa dan maunya editor juga bagaimana? Dan dari sini bisa melihat lebih jelas tentang penerbit yang saya kunjungi.

Ketika buku sudah jadi pun, penulis bukan berarti harus ongkang-ongkang kaki. Penulis harus mau berjuang untuk promosi agar buku itu laris manis. Laris manis bukan sekedar agar penulis dapat penghasilan. Kalau saya berjuang untuk promosi buku adalah agar pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku yang sudah saya tulis dengan susah payah, bisa sampai pada pembacanya.
Kalau saya tidak melakukannya, pembaca tidak akan pernah tahu ada buku saya yang baru terbit.
Lagipula ini juga sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap editor yang sudah menerima naskahnya atau juga memesan naskahnya.

Dan pada akhirnya sebelum berjuang membina hubungan baik dengan penerbit termasuk dengan editornya, sebaiknya membinalah hubungan baik dengan Allah yang membuat kita dilimpahi banyak ide untuk menulis. Allah yang membuka hati seseorang termasuk hati editor di penerbitan untuk menerima naskah kita.

Soal surat perjanjian, soal naskah yang bisa tembus ke penerbit dan soal royalti?
Next akan saya bahas di hari yang lain In syaa Allah.

Horeee, Aku Punya Banyak Buku Baru

Buku. Itu menjadi masalah utama di masyarakat kita.
Sebuah buku tebal menarik untuk saya tentu saja. Karena saja sejak dulu memang gemar membaca. Bahkan saya tidak terlalu suka dengan buku yang dipenuhi banyak gambar. Buyar rasanya segala imajinasi yang sudah saya susun baik-baik di kepala ketika melihat ada gambar di ddalamnya.

Tapi orang seperti saya kan tidak akan ditempatkan di masyarakat yang memiliki kesamaan dengan saya. Kita semua diuji dari orang terdekat kita. Dan karena di rumah baik-baik saja, maka tantangan terberat untuk saya adalah membenahi lingkungan. Lingkungan yang tidak suka baca. Lingkungan yang saya lihat malah dengan santainya membuang buku cerita.
Pernah loh, zaman ketika SD saya suka sekali dengan satu buku. Saya mengidam-idamkan buku itu. Buku tentang seorang raja yang ditipu oleh tukang jahitnya.
Dan buku itu saya baca di rumah teman saya. Lalu teman saya bosan dan buku itu ada di tempat sampah.
Saya ingat, kakak saya membawa buku itu pulang. Iya, karena di rumah bacaan yang dibelikan kepada kami oleh Bapak, seperti barang berharga yang harus dijaga.

Ini ujian. Ujian setiap orang berbeda-beda. Dan ujian saya yang kukuh hanya ingin bekerja sebagai penulis adalah selalu terhubung dengan lingkungan yang tidak kenal buku. Lingkungan saya tidak suka membaca. Lingkungan saya harus dipengaruhi untuk cinta membaca. Dan menyodori mereka buku-buku tebal tidak mungkin. Tontonan televisi, dangdutan atau hiburan dalam bentuk lainnya dalam telepon genggam jauh lebih asyik daripada membaca buku tebal.

Lalu ketika mendapati lingkungan seperti itu, apa harus berdiam diri saja?
Saya penulis. Itu yang selalu ada di benak saya.
Dulu ketika tetangga kanan kiri belum paham profesi itu, menganggap bahwa waktu saya banyak habis di rumah untuk menonton sinetron dan lainnya seperti mereka. Maka tidak sedikit yang menyarankan agar saya membuka toko kelontong di sedikit halaman rumah saya daripada menganggur. Jujur, ketika mendengar kalimat itu rasanya pingin tangan bergerak untuk meninju wajah mereka.
But, it’s ok.
Bukankah di dunia ini banyak orang yang tak paham dan ternyata lebih sok tahu mengatur hidup orang lain.

Maka saya pikir kerja nyata jauh lebih bagus daripada memberi penjelasan.
Saya penulis, saya bahagia menjadi penulis. Orang lain tidak paham dengan profesi saya, itu masalah mereka bukan masalah saya.
Jadi ketika ada sesuatu tugas dilemparkan ke saya dengan alasan saya nganggur di rumah, saya akan menolak. Karena meski di rumah saya punya jam kerja yang jelas setiap harinya.

Waktu bergulir dan syukurlah sekarang hampir semua paham kalau saya penulis. Itu karena efek sosial media. Satu dua tetangga follow beberapa akun sosial media saya, jadi mereka paham kegiatan saya.
Saya penulis dan tugas saya memintarkan lingkungan. Banyak caranya. Salah satunya membuka pintu rumah untuk anak-anak tetangga belajar. Meminjamkan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi. Menambah jumlah buku-buku yang ada di lemari buku untuk dipinjamkan.

Yang lainnya?
Alhamdulillah, anak-anak tetangga suka membaca. Bacanya cepat. Pinjam tiga buku bisa selesai dalam sehari dan minta tukar buku yang lain.
Saya bingung juga pada awalnya.
Pernah saya pakai StoryWeaver. Buku yang ada di sana saya foto lalu saya setting ulang sebelum diprint dan dijadikan buku untuk anak-anak tetangga. Maklum anak-anak yang datang ke rumah sekarang anak-anak TK dan SD kelas satu, dua. Jadi pict book tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan.
Lalu kemarin saya mulai sadar ada situs lain. Bacanya sudah lama, tapi baru sadar kalau kebutuhan pict book anak-anak tetangga bisa saya dapatkan dari sana. Di Seru Setiap Saat. Di sini saya mudah mendownload dan saya print untuk saya jadikan buku yang bisa dipinjam para tetangga saya.

Ini cara saya bermanfaat sebagai penulis dan membuat orang lain paham bahwa saya di rumah bekerja bukan pengangguran.

Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?

Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.

Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.

Membaca Membantu Menekan Emosi

“Saya penulis dan saya cinta membaca, bahkan bisa terbilang gila membaca.”
“Saya penulis dan geregetan kalau ada orang yang tidak ada sumber ilmunya, main share berita ini dan itu. Karena ketahuan ilmunya minim dan tidak suka membaca.”
“Saya ibu dua anak, yang punya hari wajib untuk anak-anak membaca. Setiap Sabtu sebelum mereka main komputer, maka saya akan meminta mereka membaca buku terlebih dahulu.”
“Saya pernah menawarkan untuk menyumbangkan buku bacaan ke tempat ini dan itu, tapi ditolak, hingga memutuskan untuk memiliki taman bacaan sendiri di rumah.”

Apa yang saya dapat dari membaca?
“Ibu kok tahu semuanya?” tanya anak-anak, yang sering merasa ibunya adalah perpustakaan berjalan, sehingga mereka malas untuk mencari dan tinggal tanya. “Ibu, yang ini jawabannya apa?”
“Ibu ngomomngnya kayak pakar politik aja. Jangan sombong, Ibu.” Itu kata anak lelaki saya, yang sedang asyik kasih laporan tentang berita-berita politik.

“Membaca membuat pintar dan membuat kita tidak mudah dibohongi,” itu penekanan yang selalu saya katakan pada anak-anak.
“Membaca juga membuat kita bersabar.”
Iya, ada poin lain yang memang selalu saya dapat dari membaca.
Proses saya membaca buku dari halaman awal sampai halaman akhir, ternyata

Model Membaca

Ada banyak model membaca.
Saya model pembaca yang suka membaca di bagian awal dua sampai tiga halaman. Setelah itu saya mulai dari belakang beberapa halaman. Setelah itu di bagian tengah. Setelah melihat semua bagian itu berkesinambungan jalan ceritanya, maka saya mulai lagi dari bagian awal sampai selesai buku itu saya baca.

Ternyata kebiasaan membaca seperti itu cukup membantu saya untuk menerapkan sebuah target.
Ketika satu target saya canangkan dan lakukan, maka selangkah dua langkah ketika melakukannya, saya mulai membayangkan berada di titik akhir target saya. Aapakah nanti titik akhir itu sesuai dengan langkah yang saya lakukan.
Lalu saya coba membayangkan berada di tengah perjalanan. Apakah saya kuat dan bisa bertahan.
Ketika semuanya sudah pas dengan kata hati, pembenahan di sana-sini, saya mulai akan melangkah dengan pasti dari awal sampai akhir.

Dan model membaca seperti ini ternyata tidak seirama dengan model menulis saya. Sebab saya tipikal penulis yang tidak bisa membuat tulisan berdasarkan outline.
Semua tulisan yang saya buat, hanya saya pikirkan ide utamanya saja. Setelah itu menulis pembuka, maka saya biarkan jari-jemari saya yang bekerja dan ending seperti apa bisa didapat tanpa saya pikirkan sebelumnya.

Membaca Menekan Emosi

Orang yang suka membaca, belajar menekan emosi.
Sebuah buku yang mereka baca, jika ingin tahu intisarinya harus dibaca semua. Bukan hanya membaca satu dua halaman saja.
Itu artinya para pembaca belajar berproses. Belajar sabar dan belajar memahami bahwa apa yang mereka pikirkan, seringnya berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulisnya.
Dalam kehidupan nyata bahkan maya, tulisan status orang yang suka membaca akan berbeda jauh dengan yang tidak suka membaca.
Akan proses pengendapan untuk mengetahui lebih dalam tentang satu hal.
Akan ada penelusuran, apakah tulisan itu betul atau tidak.
Akan ada proses
Orang yang gemar membaca, tidak akan mudah terpancing emosinya. Karena membaca akan meluaskan wawasan mereka pada banyak pemahaman. Dan pembaca yang baik, pasti akan belajar bagaimana menyaring berbagai sumber ilmu itu, dan mengendapkan apa yang mereka sudah pilih.

Peningkatan Level yang Dibaca

Hidup ini berwarna. Bacaan memberi pengaruh untuk kita. Karena itulah saya membaca banyak tulisan, banyak buku tujuannya agar level saya meningkat.
Membaca buku anak-anak dan menulis cerita anak terlalu banyak, berakibat pada pikiran dan hati. Saya sering merasa terlalu polos terhadap banyak hal. Emosi saya terkikis habis, bahkan untuk hal yang memang seharusnya saya perjuangkan.

Membaca dan menulis banyak fiksi, ternyata membuat saya sering susah memisahkan mana yang nyata dan mana yang fiksi. Semua terasa indah. Sering kaget saya ketika bertemu orang yang kasar, yang membuat saya harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya hidup di dunia nyata.

Membaca dan menulis banyak nonfiksi, membantu saya berpikir logik. Padahal seringnya juga hal-hal yang sifatnya masuk akal, jadi lebih manis kalau diberi bumbu imajinasi.

Ada banyak buku ada banyak bacaan.
Bacalah yang kita suka lebih dahulu.
Lalu tingkatkan level membaca kita.
Jangan hanya satu buku yang sama jenisnya saja. Sebab banyak buku akan memberi banyak warna pada hidup kita. Sehingga kita paham ketika ada yang berbeda dengan kita.

Room to Read, Proses Panjang untuk Membuat Buku Anak

Litara 4

Masih ingat cerita saya tentang Room to Read. Audisi Room to Read dan prosesnya, ternyata tidak semudah seperti yang saya bayangkan.
Prosesnya panjang dan lama.

Pada awalnya saya merasa menulis pict book bisa saya kuasai. Kalau melihat rujukan di buku-buku pict book yang beredar, saya pikir bisalah saya menulis seperti itu. Tapi ternyata saya keliru. Ada banyak hal yang saya kuasai di dunia menulis. Menulis berbagai genre. Tapi ternyata ada banyak hal juga yang tidak saya kuasai, yaitu menulis cerita bergambar. Bukan sekedar bergambar, tapi bergambar dengan standar Internasional.

litara 5

Pict book alias cerita bergambar mengandalkan banyak gambar. Itu artinya, saya sebagai penulis, harus berjuang agar bisa memberikan instruksi kepada ilustrator.
Iya, dalam menulis buku bergambar ini, penulis harus memberikan panduan pada ilustrator, gambar seperti apa yang harus dibuat.
Dan pada buku dari room to read ini, gambar itu harus berdampak tiga dimensi. Artinya ketika anak melihat gambar tersebut, mereka bisa membayangkan seperti melihat cerita hidup di depan mereka.
Jadi, porsi utama memang ada di tangan ilustrator.

Revisi Sampai 10 Kali

Saya biasa menulis cepat. Dengan riset yang mendalam.
Revisi paling pol tidak sampai lima kali. Paling hanya tiga kali revisi dari redaksi. Itu pun karena saya menulis buku dengan sedikit gambar.
Arahan editor paling hanya ingin naskah dibawa ke mana, dengan gaya seperti apa, tentunya dengan tidak meninggalkan karakter saya.

Tapi di room to read berbeda.
Saya dapat penerbit Litara dengan editor super teliti dan pengalaman yang luar biasa.
Ada mbak Eva Nukman dan Sofie Dewayanie sebagai penjaga gawangnya.
Dan di atas mereka ada Alfredo dari room to read, yang punya pengalaman segudang, yang akan membuat naskah kita terasa tidak ada apa-apanya.
Sampai-sampai saya berada pada satu titik bernama putus asa, karena revisi sampai sepuluh kali. Padahal di tempat lain, yang saya tahu, ada yang sampai harus mengalami 20 kali revisi.

Apa kurang naskah saya?
Kok bisa saya tidak bisa menulis?
Kok begini, kok begitu?
Kenapa naskah ini begitu menguras energi sehingga saya tidak bisa fokus ke naskah lain? Telepon, WA dan email membuat saya stress. Bahkan pada saat saya sedang berenang, saya melihat ada beruang duduk di kursi. Itu mungkin menandakan tingkat sress saya sudah tinggi. Tokoh utama saya memang beruang yang ingin belajar naik sepeda.
Tapi seiring perjalanan waktu, setelah jeda sebulan, saya mulai belajar dan memahami pelajaran.

Ini bukan sekedar masalah naskah sederhana. Ini masalah bagaimana, agar justru kalimat sederhana itu membuat anak bahagia. Dan bagaimana agar penulis memberi panduan untuk ilustrator.
“Kok enak banget jadi ilustator? Apa mereka gak bisa baca naskah terus langsung dijadikan gambar, tanpa panduan?”
Itu pertanyaan rata-rata penulis seperti saya.
Tapi kemudian sadar, bahwa otak ilustrator berbeda dengan penulis. Mereka tidak semudah itu menerjemahkan kalimat menjadi gambar.
Jadi penulis harus jeli menulis step by step langkah-langkah untuk ilustrasi.
Pembagian halaman juga harus dilakukan dengan cermat.
Jadi ingat kalau di rumah, suami suka tanya-tanya panduan untuk gambar seperti apa? Padahal naskah yang ada di tangan suami, menurut saya sudah jelas bisa dijadikan panduan untuk gambar.
Dulu saya kesal, tetapi setelah ikut room to read saya baru sadar. He he.

Akhirnya….

Litara 3

Litara

Setelah sepuluh kali revisi, ada workshop untuk ilustrator. Saya lega, Merasa paling tidak sudah selesai tugas saya. Saatnya ilustrator bekerja.
Tapi ternyata tidak seperti itu.
Setelah workshop ilustrator selesai, dan naskah dibuat mokap (contoh buku), naskah itu dibawa ke beberapa SD untuk dibacakan. Reaksi anak-anak itu yang akan menentukan nasib naskah. Apakah harus direvisi kecil, atau direvisi besar?
Jika masih ada yang bertanya isi naskah tersebut dan kurang jelas, itu artinya naskah harus direvisi.

Dan tibalah saat itu.
Dapat surat undangan untuk revisi naskah di Bandung. Dua hari revisi, tapi saya cuma bisa satu hari, karena keesokan harinya saya ada program sedekah Jumat yang tidak bisa ditinggal. Dan mengajar anak-anak di sanggar yang notabene rumah saya.
Malamnya dapat email memberitahukan revisi apa yang harus saya lakukan.
Alhamdulillah saya dapat jatah revisi kecil saja.

Jam empat pagi di hari Kamis, saya meluncur ke Bandung. Bertemu dengan ilustrator yang memegang naskah saya.
Saling diskusi.
Waktu dia tahu saya harus pulang hari itu juga, dia langsung mempercepat kerjanya. Diskusi ke ilustrator dan editor di Litara. Kerja cepat itu jadi judul hari ini.
Ketika hari menjelang sore, naskah saya paling tidak 99 persen disetujui.
Saya dan ilustrator sama-sama bekerja tanpa laptop. Naskah saya digambar, saya memberi masukan, lalu kalimat yang ada saling didiskusikan.

Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk dan merasakan room to read. Saya sangat bersyukur sudah sampai di titik ini. Titik di mana saya berproses untuk terus belajar.

Kok Bisa Penulis Bosan Menulis?

roti Ibu

Kenal banyak penulis?
Sosial media membuat saya dan yang lainnya mudah saling mengenal. Saya jadi kenal penulis yang satu dan yang lain. Saya juga kenal penulis yang semangat menulis dan yang bosan menulis.

Penulis bosan menulis?
Kalau anak-anak kecil disuguhi mainan baru, biasanya mereka akan langsung menyambarnya.
Mainan itu dimainkan sampai mereka bosan. Bahkan ketika mainan itu masih membuat mereka penasaran, mereka akan marah jika ada temannya meminjam. Sering kan kita lihat anak-anak kecil bertengkar hanya karena berebut satu mainan?
Mereka dalam proses sedang bergairah menghadapi permainan yang mereka anggap baru.
Tapi cobalah perhatikan, apa yang mereka lakukan setelah mereka bosan? Kadang-kadang mereka membongkarnya. Setelah bosan, mencari permainan baru lagi.

Sama seperti banyak kita dalam menulis.
Awalnya menganggap menulis itu mudah. Awalnya merasa iri melihat orang lain karyanya muncul terus-menerus. Awalnya merasa bisa dan menggampangkan.
Setelah merasa mampu itu, bisa menghasilkan satu dua tulisan, yang dipuji oleh orang lain, maka timbullah rasa puas.
Dan rasa puas itu membuat si penulis yang dipuji merasa tidak perlu belajar lagi. Terus-menerus melakukan hal yang sama. Tulisan yang tidak berkembang. Dan akhirnya timbul rasa bosan. Tidak ingin menulis lagi, karena tidak tahu apa yang harus ditulis.

Agar Tidak Bosan Menulis

Sampai saat ini saya bersyukur. Bersyukur karena saya menjadi penulis diawali dengan suka membaca. Ingin kisah yang saya baca, berubah ceritanya sesuai apa yang saya pikirkan. Ingin sesuatu yang saya pikirkan, dibaca orang lain, dan orang lain itu paham ada sesuatu yang berbeda. Iya berbeda. Karena saya suka melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Kebiasaan membaca itu membentuk saya untuk menulis berdasarkan apa yang saya baca. Kebiasaan saya penasaran dan ingin mencoba, membuat saya ingin menulis sesuatu dari apa yang saya kerjakan. Bukan sekedar dari apa yang saya khayalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan orang agar tidak bosan menulis?

1. Cobalah hal baru.
Saya mencoba belajar menggambar kembali. Untuk mendapatkan sensasi baru. Dan itu ternyata bermanfaat untuk tulisan-tulisan saya.
Saya juga belajar memasak hal yang tadinya saya hindari. Berkumpul dengan oven dan adonan. Tapi ternyata ketika kemampuan memasak saya meningkat, kemampuan menambah manfaat dalam tulisan juga meningkat.
Sekarang saya bisa menulis tentang resep masakan, yang tentu saja hasilnya bisa dimanfaatkan dan dipraktikkan bagi pembacanya.

2. Targetmu Apa, sih?
Target dalam dunia menulis selalu saya punya.
Dulu target saya adalah bisa membuat orang percaya, bahwa puisi yang saya tulis bisa menghasilkan.
Lalu makin jauh, target saya ingin bisa sekolah dari uang menulis.
Setelah itu saya ingin punya ini itu dari hasil menulis.
Selanjutnya saya ingin bermanfaat dari menulis.
Selanjutnya saya ingin masuk surga dari menulis, dan pahala menulis saya bisa menjadi pahala ilmu yang bermanfaat untuk saya.
Punyai target. Itu akan membuat kita melihat bahwa menulis itu memiliki hasil nyata bukan abstrak.

3. Mimpimu Apa?
Mimpi mungkin bisa dibilang target, ya.
Tapi begini. Dulu pernah ada yang tanya pada saya. “Mau sampai kapan berhenti menulis?”
Waktu ditanya itu karya saya sudah ratusan jumlah di media cetak dan sudah memenangkan lomba-lomba.
Saya ingat, saya menjawab.
“Sampai bisa menghasilkan seratus buku, baru berhenti menulis.”
Sekarang kalau ditanya lagi, maka saya akan menjawab berbeda. Saya tidak akan berhenti menulis sampai Allah mencabut kemampuan menulis saya.

4. Kamu dan Komunitas
Kalau dalam komunitas, tingkat kemalasan satu anggota akan menular pada anggota lain.
Nah kalau pada akhirnya kita masuk dalam komunitas yang ngakunya komunitas menulis, tapi lebih banyak sharing keluhan atau sesuatu yang tidak bermanfaat, putuskan. Iya putuskan berhenti dari komunitas itu, atau tetap di dalamnya dan jadi dirimu. Ubahlah apa yang harusnya diubah.

5. Kita Punya Jalan Sendiri
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin dianggap pintar.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin jadi orang terkenal.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin punya banyak uang.
Macam-macam alasannya.
Tapi punyailah jalan sendiri, jangan jadi siapa-siapa.
Berjuang saja agar menulis itu menjadi kebutuhan kita, sehingga kita tetap punya prinsip dalam menulis.