Seri Akhlak for Kids, Semua Berawal dari Mimpi

Mimpi?
Lebih tepatnya harapan. Harapan-harapan yang sering diam-diam saya lontarkan ke langit untuk dijadikan doa.
Ingin punya buku anak? Saya bermimpi dan jungkir balik berlatih. Masih juga berjuang mengirim tulisan ke sana dan ke mari. Ditolak? Kalau dulu sakit hati rasanya bisa sampai sejam. Sekarang hanya sedetik saja. Sekarang bahkan hanya sepersekian detik saja, setelah memahami bahwa itu adalah bagian dari takdir saya.

Impian memiliki buku adalah impian saya. Sejak dulu.
Setelah menulis sekian lama, dan bermimpi sekian lama maka setelah saya menikah baru saya memiliki buku.
Dari tahun 1982 menulis. Ketika SD itu saya sudah terbayang memiliki buku. Tapi baru tahun 2002 saya bisa memiliki buku. Itu artinya 20 tahun saya bermimpi.

Kadang saya berharap setelah kemenangan lomba di sana sini, naskah-naskah itu menjadi sebuah buku. Tapi rupanya itu hanya impian saya saja.
20 tahun terus bermimpi, berjuang, berusaha, lalu segalanya cring. Kerja keras saya terbayar. Telur saya pecah. Dan biasanya kalau sudah pecah satu akan mudah memecahkan yang lain.
Cring cring cring, maka bermuncullah buku-buku saya. Buku-buku solo. Jumlahnya lebih banyak dari angka pernikahan saya yang belum sampai 20 tahun. Jumlahnya hampir menyamai usia saya. Bahkan jauh melampaui usia saya, jika antologi juga saya hitung sebagai buku.

Satu buku diikuti buku yang lain.
Satu pesanan penerbit diikuti pesanan penerbit yang lain. Rahasianya apa?
Saya tidak punya rahasia.
Semua harapan saya jadikan doa. Saya lemparkan di sepertiga malam. Saya bisikkan di waktu-waktu mustajab untuk berdoa, seperti di antara azan dan shalat. Ketika tahiyat terakhir sebelum salam.
Kadang ketika melihat postingan seorang teman, saya pejamkan mata dan berdoa. Saya ingin seperti itu.

Sepuluh buku Akhlak prosesnya cepat sekali.
Menerima job sebelum Ramadhan. Saya kerjakan sepanjang Ramadhan bersamaan dengan buku lain pesanan penerbit lain.
Saya model serius dalam mengerjakan sesuatu.
Tidak boleh terganggu.
Bantuan agar waktu bisa dilipat mudah. Awali hari dengan tahajud dan membaca Al Qur’an satu juz. Maka semuanya jadi mudah. Bahkan apa yang saya yakin tidak bisa kita kerjakan, ternyata sanggup saya kerjakan.
Misalnya?
Misalnya sambil mengajar kelas menulis di komputer di ruang kerja saya di bawah, saya bisa mencuci pakaian di lantai atas rumah saya.
Sambil mengaji bersama teman, saya bisa mengajari anak tetangga belajar membuat cerita.

Tidak ada mimpi yang tidak bisa diraih.
Untuk saya yang paling penting, fokus mendekat pada Allah. Biarkan nama kita terkenal di langit. Jangan fokus terkenal di bumi, dan menghabiskan waktu di sosial media, sedang menyentuh kalam Allah juga tidak sempat. Fokus lakukan apa yang dianggap baik oleh Allah.
Maka segalanya akan dimudahkan untuk kita.
Sama seperti buku ini.

Buku ini berisi cerita yang diangkat dari hadist Bukhari Muslim tentang akhlak Rasulullah. Saya racik sedemikian rupa, agar pesannya tidak membebani anak. Seperti biasa, saya selalu membungkus pesan dengan sederhana. Karena saya memang tidak bisa berpikir rumit.
Ada cerita, ada hadist dan ada rujukan kisah. Komplit semuanya ada di dalam buku ini.

Masih hangat.
Buku ini, yuk, dicari di toko buku.

Yuk Belajar Menulis Pictorial Book

.

Membuat pictbook? Susah atau mudah, ya?
Untuk saya yang awalnya sangat mencintai kata-kata, menulis buku bergambar itu susah. Apalagi dulu saya memang tidak membiasakan anak membaca buku dengan banyak gambar. Alasan saya biar mereka bisa bebas berimajinasi tanpa harus tersekat gambar.
Ops, tapi itu karena saya punya suami ilustrator juga. Buku-buku di rumah berupa buku design dengan gambar menarik banyak. Dan anak-anak terbiasa juga. Jadi ketika ada satu di buku yang untuk saya susah menjelaskan lewat kata-kata, saya bisa bertanya langsung pada suami dan meminta beliau menggambarkan untuk saya.

Menulis pictbook?
Menulis buku dipenuhi gambar itu, harus mau berbagi dengan ilustrator. Jadi kalimat hanya sedikit. Tugas penulis memberi gambaran ilustrasi pada ilustrator. Sehingga ilustrator mudah membuat karakter tokohnya sesuai panduan dari penulis.

Dalam naskah buku pictbook harus ada halaman, lalu teks dan terahir adalah panduan ilustrasi.
Buatlah dalam bentuk tabel.

Di bagian atas tabel tulis :
Hal, lalu teks di bagian tengah, selanjutnya bagian ilustrasi.

Lalu setelah itu mulai tulis dalam tabel :

Seperti :
Halaman satu. Cover buku. Pada panduan ilustrasi tulis seperti apa ilustrasi cover yang kita inginkan.,

Hal Teks Cover
________________________

Pada hal 2. Mulai untuk membuat teks. Dan bayangkan ilustrasi yang kita inginkan.
Misalnya pada halaman 2, saya menulis.
Horee, sekolah sudah selesai (teks)
Momo dan teman-teman binatang lain ke luar kelas, ada jerapah, kelinci (ilustrasi)

Bayangkan semuanya dalam bentuk tabel, ya.
Maaf agak susah membuat tabel di sini.
Gunakan words dan insert tabel.

Hal 3
Aku pulang dulu (teks).
Kelinci melambaikan tangan pada Momo, dan teman-teman Momo ke luar kelas berlari
menuju Ibu mereka yang menjemput di luar kelas (ilustrasi).

Untuk kalimat percakapan, dalam pict book tidak perlu menggunakan tanda kutip (“).

Begitu kira-kira sedikit contohnya yang saya ambil dari buku “Kring Kring”.
Untuk pict book seperti yang saya pelajari di Room to Read, ada naskah untuk level pemula, menengah dan lanjut.
Perbedaannya ada di mana?
Perbedaannya adalah pada minimnya kalimat.
Level pemula ditujukan untuk pembaca pemula. Bisa anak-anak usia PAUD. Atau bisa juga orang dewasa tapi yang belum pernah bersentuhan dengan buku sebelumnya. Tentu saja pada level ini fokus pada ilustrasi. Jadi kalimat sedikit. Porsi terbanyak ada pada ilustrator.
Untuk level menengah kalimat sudah bisa lebih banyak.
Dan level lanjut, rangkaian kalimat sudah lebih banyak lagi dan bisa memasukkan kalimat yang lebih sulit.

Karakter panduan untuk tokoh yang penulis tulis harus jelas, ya. Termasuk karakter berupa fisik. Misalnya bentuk tubuh, ekspresi wajah, warna kulit dan lain sebagainya.
Sedang karakter internal, berupa perasaan, sifat, hobi dan lainnya.
Dengan menuliskan karakter itu lebih detail, ilustrator akan mudah menggambar sesuai inginnya penulis akan tokoh yang ada dalam benak penulis.

Halaman untuk buku pemula terdiri dari 24 halaman.
Halaman pertama ditujukan untuk cover.
Halaman selanjutnya dibuat seusai rangkaian cerita yang ada.
Usahakan ada satu halaman yang dijadikan satu sebagai titik sentral.
Misalnya 8-9, satu adegan tapi dibuat memenuhi dua halaman.

Ada kunci penting lagi.
Pada halaman ganjil, usahakan cerita itu membuat anak penasaran. Sehingga mereka akan bersemangat untuk membuka halaman dibaliknya.

Menulis Buku Apa?

Menulis buku apa?
Penulis buku apa? Anak? Remaja? Atau dewasa?
Pertanyaan seperti itu sering mampir ke saya. Ada yang bertanya bukunya apa? Penulis spesialisasi apa dan lain sebagainya?

Jujur sejak awal pertama menulis, saya berjuang untuk mampu menguasai jenis tulisan. Standar mampu untuk saya adalah ketika tulisan saya bisa menjadi juara lomba, itu artinya saya bisa berkata, “yes, memang bisa disematkan standar itu pada saya.”
Itu standar saya loh. Penulis lain berhak punya standar yang berbeda dengan saya tentu saja.

Penulis apa?
Saya mencintai semua jenis tulisan yang saya buat. Entah itu artikel maupun cerpen. Entah itu feature ataupun cerbung atau bahkan novel.
Fiksi untuk saya menghaluskan perasaan. Makin sering menulis fiksi, makin haluslah perasaan saya. Tapi juga harus hati-hati nanti terjebak halusinasi. Alias jadi suka berimajinasi. Kadang di tengah jalan, ketika sedang naik motor saya kaget sendiri ketika ada yang mengklakson. Rupanya saya sedang melamun.
Kadang kalau terlalu banyak menulis fiksi, terhampar dunia rekaan kita di hadapan kita. Sehingga ketika bertemu seseorang seringnya kita berpikir, sepertinya saya pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya.
Non fiksi untuk saya berfungsi untuk mengasah logika. Dengan menulis non fiksi saya harus berjuang menambah daftar bacaan saya.
Mungkin karena otak kanan dan kiri saya seimbang, maka saya tidak bisa bilang saya cenderung di mana.

Menulis apa?
Buku anak, remaja dan dewasa adalah seperti memasuki dunia lain untuk saya.
Dengan menulis naskah anak, saya sungguh seperti ditarik kembali ke masa anak-anak, di mana tidak peduli ketika saya memanjat pohon mangga paling tinggi dan berteriak dari atasnya. Meskipun tetangga di bawah mengelus dada dan teriak-teriak menyuruh saya turun, karena takut jatuh.
Buku remaja seperti menarik saya pada sebuah masa remaja ketika SMP, di mana saya lompat pagar pembatas lapangan. Hingga pulang dalam keadaan kaki keseleo.
Dan buku dewasa adalah cerminan saya. Impian yang saya pendam, pengalaman yang tidak saya ungkapkan, semua bebas saya tulis dalam naskah dewasa. Juga solusi sebuah permasalahan.

Jadi kalau ada yang tanya lagi setelah saya jawab bahwa saya adalah penulis. Maka saya akan menjawab bahwa saya menulis semuanya. Anda mau memberi order tulisan apa pada saya?

Menulis Buku Anak yang Dikemas Ringan

Menulis selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Menulis naskah remaja, dewasa, fiksi non fiksi. Semua jenis tulisan adalah tantangan tersendiri untuk saya.
Jadi karena biasa berjuang untuk menulis, saya termasuk orang yang suka jengkel jika diremehkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia menulis.

Beberapa tahun belakangan ini saya kecemplung menulis buku anak. Sebenarnya sederhana. Permintaan dua anak saya yang waktu itu masih kecil, yang selalu saya bacakan buku sebelum tidur. Mereka request kepada saya, minta dibacakan buku karangan ibu, begitu katanya.
Saya sendiri waktu itu hanya menulis naskah novel remaja juga dewasa. Ada cerita anak di majalah anak Bobo, tapi itu hanya satu dua saja. Tidak rutin saya buat.

Lalu ketika si anak sudah bisa mendesak saya untuk menulis cerita untuk mereka, saya yang terdesak pun akhirnya mencoba menulis. Sebuah novel yang sebenarnya berat karena berkisah tentang seorang anak yang punya dua ibu. Satu ibunya terkena sakit jiwa. Novel itu hasil riset saya berdasarkan pengalaman berteman dengan teman-teman yang anak yatim atau bahkan yang ayahnya menikah lagi.
Novel itu kemudian mendapat Award sebagai novel anak terbaik. Disusul dua tahun berikutnya, dua novel yang lain masuk nominasi novel anak terbaik juga.

Iya saya menulis dan konsisten menulis cerita anak sejak saat itu. Mulai membuka kelas untuk mengajari menulis cerita anak. Baik secara online maupun secara offline. Dan ternyata saya menemukan bahwa orang dewasa yang menulis cerita anak itu, jauh lebih sulit dari anak-anak sendiri. Kalau anak-anak yang menulis, wusss, idenya bebas. Mau jungkir balik dengan ide mereka santai saja. Ketika orang dewasa yang menulis cerita anak, waduh diajarkan untuk berimajinasi mereka sudah tersekat dengan pola pikir ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Belum lagi tidak bisa bebas menempatkan diri sebagai anak-anak dan pesan yang kadang terselip begitu banyak, sehingga membuat beban untuk yang membacanya.

Jika orang dewasa berniat menulis cerita anak, tentunya mereka harus menanggalkan diri sebagai orang dewasa. Harus mau bergaul banyak-banyak dengan anak-anak. Dan ujungnya mau kembali ke masa anak-anak. Jadi ketika menulis mereka harus mau jadi anak-anak kembali.

Untuk cerita-cerita fiksi seperti novel anak, saya bersyukur punya masa kecil yang indah dan rumit. Bukan karena hidup saya rumit. Tapi karena Allah perkenankan saya berteman dengan teman-teman yang hidupnya rumit. Ketika SD saya punya teman yang ibunya bahkan jadi wanita malam. Saya bersyukur orangtua menjaga saya dengan cara yang baik. Sehingga berteman dengan teman lain menambah wawasan saya tentang banyak hal.
Jadi kalau saya bisa mengemas hal rumit dan menyederhanakannya dalam bentuk buku anak, itu sudah biasa.

Yang sulit untuk saya adalah justru ketika saya dipercaya untuk menulis tutorial ibadah atau buku-buku agama lainnya untuk anak. Susahnya?
Susahnya adalah karena setelah saya membaca banyak kitab rujukan, saya harus mencari yang umum, agar anak-anak yang mebacanya tidak bingung. Kok yang ini beda dengan yang diajarkan guruku, misalnya seperti itu? Rujukan yang umum pun tetap harus berdasarkan apa yang Rasulullah ajarkan.
Ketika menulis naskah yang lain sehari bisa mendapat 10 halaman, maka menulis buku ibadah, sehari saya harus baca setumpuk kitab, paling hanya dapat empat sampai lima halaman.
Belum lagi beban takut salah. Belum lagi beban takut dihujat oleh orang-orang yang hobi menghujat ketika melihat sedikit kesalahan.

Sampai sekarang saya masih terus menulis. Pesanan buku anak datang silih berganti. Kalaupun pesanan sudah selesai, saya masih kotak-katik naskah untuk dikirim ke penerbit.
Masih ada yang meremehkan menulis buku anak?
Coba suruh saja dia menuliskannya.

Penulis Remah Rengginang

Penulis remah rengginang? Waktu saya membaca tulisan seperti itu saya tersenyum sendiri. Rengginang, makanan seperti kerupuk yang biasa disajikan pada saat lebaran itu memang unik. Rengginang, tidak pernah bisa membuat orang yang memakannya bersih dari kotoran. Karena setiap gigitan gigi kita pada rengginang, akan menyisakan remah yang jatuh.
Atau jika rengginang berada di dalam wadah dan wadah itu sering berpindah tempat, akan membuat rengginang itu menghasilkan banyak remah yang rontok dari si rengginang itu sendiri yang mengumpul di bagian bawah wadah.

Ops, saya sebenarnya mau ngomong apa, sih?
Yup, ini berkaitan dengan dunia menulis. Sejak dulu ketika saya masuk ke dunia menulis, saya sadar saya harus terus menulis. Ikut lomba ini itu untuk menunjang kepenulisan saya. Karena sebuah lomba menulis dari sebuah instansi atau lembaga yang diakui juga penerbit atau media yang memiliki banyak pembaca, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri saya sendiri.
Tapi bukan berarti setelah itu saya raih, lalu saya menjadi merasa paling besar.

Ada Kalanya Saya Hanya Remah Rengginang

“Pada masa lalu aku punya prestasi di bidang nulis, Bu,” ujar anak saya.
Saya mengangguk. Ia sadar akan hal itu. Pada masanya, di masa lalu, itu artinya tidak terjadi di masa sekarang. Orang juga sudah tidak ingat lagi akan hal itu, dan diri sendiri juga merasa tidak ada artinya dengan pencapaian itu. Karena ada banyak orang lain yang memiliki pencapaian yang lebih tinggi.

Bicara soal pencapaian, saya malah jadi teringat kisah remahnya rengginang. Orang-orang kecil yang merasa tidak ada artinya akan menganggap diri mereka seperti remah rengginang.
Saya?
Saya harus juga menempatkan diri seperti remah rengginang tersebut. Karena apa? Karena prestasi di masa lalu, meskipun sebulan atau seminggu yang lalu, tetap saja namanya masa lalu. Dan untuk hidup kita adalah masa kini dan masa depan.
Uangmu yang kamu dapat dari prestasi di masa lalu akan habis. Pujian akan sirna. Jika kamu menulis mengandalkan puja dan puji maka tidak akan bisa kamu melangkah lebih jauh lagi.

Saya selalu menempatkan diri bahwa saya tidak bisa apa-apa. Remah rengginanglah saya. Karena itu setiap ada program menulis dari ahlinya, untuk bidang yang belum saya kuasai, saya akan ikut mengirimkan lamaran untuk mengikuti audisi itu.
Pun di setiap kesempatan saya selalu meyakinkan diri sendiri saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan begitu saya jadi memiliki energi untuk menulis lebih banyak dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

“Kamu penulis remah rengginang?”
Jika ada yang menunjuk seperti itu, apa yang harus saya lakukan?
Tugas saya terus menulis. Dan tulisan saya yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tuduhan orang lain untuk saya, tidak akan jatuh membebani amalan saya.
Mari terus menulis saja.

Hubungan Penulis dan Penerbit, Harusnya Seperti Apa?

Penulis?
Penulis lepas seperti saya ketika dulu zamannya media cetak, akan terhubung dengan redaksi. Redaksi ini yang mengurusi naskah yang masuk, juga jadi penyambung lidah dengan bagian keuangan ketika penulis ingin mengambil honor.
Dulu zamannya saya masih suka mengambil honor langsung ke media, saya akan menunggu di ruang redaksi. Melihat cara kerja mereka. Lalu dapat tanda tangan dari redaksi plus nomor bukti majalah. Setelah itu saya akan meluncur menuju bagian keuangan untuk mengambil honor.
Eh itu dulu dan terjadi pada masanya. Alias zaman sekarang sudah berganti. Ada banyak yang berubah. Termasuk tumbangnya satu persatu media cetak berganti dengan media online.

Setelah media cetak tumbang penulis mau apa?
Sejak media cetak tumbang maka banyak sebenarnya pekerjaan untuk penulis. Produk-produk mencari blogger untuk mengiklankan produk mereka. Kalau di media cetak hitungannya berapa senti kali berapa senti iklan yang ditayangkan dan harganya bisa mencapai ratusan juta, sekarang kan budget untuk iklan bisa dikurangi.
Iya, blogger adalah salah satu profesi yang tumbuh subur setelah media cetak gugur.

Penulis buku?
Yup, termasuk penulis buku. Meski dari dulu sudah ada penulis buku, tapi sekarang ini semakin marak lagi. Penulis yang menulis buku semakin banyak. Saya yang termasuk akhirnya fokus untuk menulis buku.

Penulis buku akan berhubungan dengan penerbit. Lebih mengerucut lagi, biasanya penulis akan berhubungan dengan editor yang menangani naskah. Masing-masing penerbit punya editor sendiri untuk lini naskah mereka masing-masing. Ada lini naskah anak, remaja atau dewasa, fiksi dan non fiksi.
Hubungan yang harus dibina tentu saja hubungan baik. Penulis manusia, editor juga manusia. Maka membina hubungan baik dengan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan sinergi kerja yang bermanfaat untuk karya yang dihasilkan.

Penulis menulis buku dan editor menyeleksi naskahnya.
Beberapa editor yang saya kirimi naskah langsung suka dengan karya saya. Hanya memberi sedikit editan, setelah itu bahkan memberi order tulisan untuk saya.
Ada juga editor yang mengoreksi naskah saya. Tapi saya suka sepanjang tidak membuat naskah itu bukan lagi menjadi milik saya. Alias isi dirombak sana sini. Jika hanya untuk merubah satu dua kalimat efektif tidak masalah untuk saya. Misalnya bahasa di tulisan itu saya gunakan kata kamu, dan editor maunya kata kita.
Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya pakai kata kamu gunanya untuk mengakrabkan dengan pembaca karena ini non fiksi untuk remaja, maka editor pun setuju.

Mengunjungi penerbit sebenarnya salah satu cara efektif untuk membina hubungan baik. Tapi zaman semakin canggih, dan internet bisa membuat semuanya mudah dilakukan. Jarak bisa dilipat. Komunikasi bisa dijalin.
Hanya saya tetap sesekali mengunjungi penerbit. Salah satunya ketika saya ke Solo dan saya mengunjungi penerbit yang menerbitkan buku saya.
Dengan bertemu langsung, saya lebih paham kebutuhan penerbit seperti apa dan maunya editor juga bagaimana? Dan dari sini bisa melihat lebih jelas tentang penerbit yang saya kunjungi.

Ketika buku sudah jadi pun, penulis bukan berarti harus ongkang-ongkang kaki. Penulis harus mau berjuang untuk promosi agar buku itu laris manis. Laris manis bukan sekedar agar penulis dapat penghasilan. Kalau saya berjuang untuk promosi buku adalah agar pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku yang sudah saya tulis dengan susah payah, bisa sampai pada pembacanya.
Kalau saya tidak melakukannya, pembaca tidak akan pernah tahu ada buku saya yang baru terbit.
Lagipula ini juga sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap editor yang sudah menerima naskahnya atau juga memesan naskahnya.

Dan pada akhirnya sebelum berjuang membina hubungan baik dengan penerbit termasuk dengan editornya, sebaiknya membinalah hubungan baik dengan Allah yang membuat kita dilimpahi banyak ide untuk menulis. Allah yang membuka hati seseorang termasuk hati editor di penerbitan untuk menerima naskah kita.

Soal surat perjanjian, soal naskah yang bisa tembus ke penerbit dan soal royalti?
Next akan saya bahas di hari yang lain In syaa Allah.

Horeee, Aku Punya Banyak Buku Baru

Buku. Itu menjadi masalah utama di masyarakat kita.
Sebuah buku tebal menarik untuk saya tentu saja. Karena saja sejak dulu memang gemar membaca. Bahkan saya tidak terlalu suka dengan buku yang dipenuhi banyak gambar. Buyar rasanya segala imajinasi yang sudah saya susun baik-baik di kepala ketika melihat ada gambar di ddalamnya.

Tapi orang seperti saya kan tidak akan ditempatkan di masyarakat yang memiliki kesamaan dengan saya. Kita semua diuji dari orang terdekat kita. Dan karena di rumah baik-baik saja, maka tantangan terberat untuk saya adalah membenahi lingkungan. Lingkungan yang tidak suka baca. Lingkungan yang saya lihat malah dengan santainya membuang buku cerita.
Pernah loh, zaman ketika SD saya suka sekali dengan satu buku. Saya mengidam-idamkan buku itu. Buku tentang seorang raja yang ditipu oleh tukang jahitnya.
Dan buku itu saya baca di rumah teman saya. Lalu teman saya bosan dan buku itu ada di tempat sampah.
Saya ingat, kakak saya membawa buku itu pulang. Iya, karena di rumah bacaan yang dibelikan kepada kami oleh Bapak, seperti barang berharga yang harus dijaga.

Ini ujian. Ujian setiap orang berbeda-beda. Dan ujian saya yang kukuh hanya ingin bekerja sebagai penulis adalah selalu terhubung dengan lingkungan yang tidak kenal buku. Lingkungan saya tidak suka membaca. Lingkungan saya harus dipengaruhi untuk cinta membaca. Dan menyodori mereka buku-buku tebal tidak mungkin. Tontonan televisi, dangdutan atau hiburan dalam bentuk lainnya dalam telepon genggam jauh lebih asyik daripada membaca buku tebal.

Lalu ketika mendapati lingkungan seperti itu, apa harus berdiam diri saja?
Saya penulis. Itu yang selalu ada di benak saya.
Dulu ketika tetangga kanan kiri belum paham profesi itu, menganggap bahwa waktu saya banyak habis di rumah untuk menonton sinetron dan lainnya seperti mereka. Maka tidak sedikit yang menyarankan agar saya membuka toko kelontong di sedikit halaman rumah saya daripada menganggur. Jujur, ketika mendengar kalimat itu rasanya pingin tangan bergerak untuk meninju wajah mereka.
But, it’s ok.
Bukankah di dunia ini banyak orang yang tak paham dan ternyata lebih sok tahu mengatur hidup orang lain.

Maka saya pikir kerja nyata jauh lebih bagus daripada memberi penjelasan.
Saya penulis, saya bahagia menjadi penulis. Orang lain tidak paham dengan profesi saya, itu masalah mereka bukan masalah saya.
Jadi ketika ada sesuatu tugas dilemparkan ke saya dengan alasan saya nganggur di rumah, saya akan menolak. Karena meski di rumah saya punya jam kerja yang jelas setiap harinya.

Waktu bergulir dan syukurlah sekarang hampir semua paham kalau saya penulis. Itu karena efek sosial media. Satu dua tetangga follow beberapa akun sosial media saya, jadi mereka paham kegiatan saya.
Saya penulis dan tugas saya memintarkan lingkungan. Banyak caranya. Salah satunya membuka pintu rumah untuk anak-anak tetangga belajar. Meminjamkan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi. Menambah jumlah buku-buku yang ada di lemari buku untuk dipinjamkan.

Yang lainnya?
Alhamdulillah, anak-anak tetangga suka membaca. Bacanya cepat. Pinjam tiga buku bisa selesai dalam sehari dan minta tukar buku yang lain.
Saya bingung juga pada awalnya.
Pernah saya pakai StoryWeaver. Buku yang ada di sana saya foto lalu saya setting ulang sebelum diprint dan dijadikan buku untuk anak-anak tetangga. Maklum anak-anak yang datang ke rumah sekarang anak-anak TK dan SD kelas satu, dua. Jadi pict book tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan.
Lalu kemarin saya mulai sadar ada situs lain. Bacanya sudah lama, tapi baru sadar kalau kebutuhan pict book anak-anak tetangga bisa saya dapatkan dari sana. Di Seru Setiap Saat. Di sini saya mudah mendownload dan saya print untuk saya jadikan buku yang bisa dipinjam para tetangga saya.

Ini cara saya bermanfaat sebagai penulis dan membuat orang lain paham bahwa saya di rumah bekerja bukan pengangguran.

Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?

Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.

Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.