Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.

Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.

Membaca Membantu Menekan Emosi

“Saya penulis dan saya cinta membaca, bahkan bisa terbilang gila membaca.”
“Saya penulis dan geregetan kalau ada orang yang tidak ada sumber ilmunya, main share berita ini dan itu. Karena ketahuan ilmunya minim dan tidak suka membaca.”
“Saya ibu dua anak, yang punya hari wajib untuk anak-anak membaca. Setiap Sabtu sebelum mereka main komputer, maka saya akan meminta mereka membaca buku terlebih dahulu.”
“Saya pernah menawarkan untuk menyumbangkan buku bacaan ke tempat ini dan itu, tapi ditolak, hingga memutuskan untuk memiliki taman bacaan sendiri di rumah.”

Apa yang saya dapat dari membaca?
“Ibu kok tahu semuanya?” tanya anak-anak, yang sering merasa ibunya adalah perpustakaan berjalan, sehingga mereka malas untuk mencari dan tinggal tanya. “Ibu, yang ini jawabannya apa?”
“Ibu ngomomngnya kayak pakar politik aja. Jangan sombong, Ibu.” Itu kata anak lelaki saya, yang sedang asyik kasih laporan tentang berita-berita politik.

“Membaca membuat pintar dan membuat kita tidak mudah dibohongi,” itu penekanan yang selalu saya katakan pada anak-anak.
“Membaca juga membuat kita bersabar.”
Iya, ada poin lain yang memang selalu saya dapat dari membaca.
Proses saya membaca buku dari halaman awal sampai halaman akhir, ternyata

Model Membaca

Ada banyak model membaca.
Saya model pembaca yang suka membaca di bagian awal dua sampai tiga halaman. Setelah itu saya mulai dari belakang beberapa halaman. Setelah itu di bagian tengah. Setelah melihat semua bagian itu berkesinambungan jalan ceritanya, maka saya mulai lagi dari bagian awal sampai selesai buku itu saya baca.

Ternyata kebiasaan membaca seperti itu cukup membantu saya untuk menerapkan sebuah target.
Ketika satu target saya canangkan dan lakukan, maka selangkah dua langkah ketika melakukannya, saya mulai membayangkan berada di titik akhir target saya. Aapakah nanti titik akhir itu sesuai dengan langkah yang saya lakukan.
Lalu saya coba membayangkan berada di tengah perjalanan. Apakah saya kuat dan bisa bertahan.
Ketika semuanya sudah pas dengan kata hati, pembenahan di sana-sini, saya mulai akan melangkah dengan pasti dari awal sampai akhir.

Dan model membaca seperti ini ternyata tidak seirama dengan model menulis saya. Sebab saya tipikal penulis yang tidak bisa membuat tulisan berdasarkan outline.
Semua tulisan yang saya buat, hanya saya pikirkan ide utamanya saja. Setelah itu menulis pembuka, maka saya biarkan jari-jemari saya yang bekerja dan ending seperti apa bisa didapat tanpa saya pikirkan sebelumnya.

Membaca Menekan Emosi

Orang yang suka membaca, belajar menekan emosi.
Sebuah buku yang mereka baca, jika ingin tahu intisarinya harus dibaca semua. Bukan hanya membaca satu dua halaman saja.
Itu artinya para pembaca belajar berproses. Belajar sabar dan belajar memahami bahwa apa yang mereka pikirkan, seringnya berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulisnya.
Dalam kehidupan nyata bahkan maya, tulisan status orang yang suka membaca akan berbeda jauh dengan yang tidak suka membaca.
Akan proses pengendapan untuk mengetahui lebih dalam tentang satu hal.
Akan ada penelusuran, apakah tulisan itu betul atau tidak.
Akan ada proses
Orang yang gemar membaca, tidak akan mudah terpancing emosinya. Karena membaca akan meluaskan wawasan mereka pada banyak pemahaman. Dan pembaca yang baik, pasti akan belajar bagaimana menyaring berbagai sumber ilmu itu, dan mengendapkan apa yang mereka sudah pilih.

Peningkatan Level yang Dibaca

Hidup ini berwarna. Bacaan memberi pengaruh untuk kita. Karena itulah saya membaca banyak tulisan, banyak buku tujuannya agar level saya meningkat.
Membaca buku anak-anak dan menulis cerita anak terlalu banyak, berakibat pada pikiran dan hati. Saya sering merasa terlalu polos terhadap banyak hal. Emosi saya terkikis habis, bahkan untuk hal yang memang seharusnya saya perjuangkan.

Membaca dan menulis banyak fiksi, ternyata membuat saya sering susah memisahkan mana yang nyata dan mana yang fiksi. Semua terasa indah. Sering kaget saya ketika bertemu orang yang kasar, yang membuat saya harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya hidup di dunia nyata.

Membaca dan menulis banyak nonfiksi, membantu saya berpikir logik. Padahal seringnya juga hal-hal yang sifatnya masuk akal, jadi lebih manis kalau diberi bumbu imajinasi.

Ada banyak buku ada banyak bacaan.
Bacalah yang kita suka lebih dahulu.
Lalu tingkatkan level membaca kita.
Jangan hanya satu buku yang sama jenisnya saja. Sebab banyak buku akan memberi banyak warna pada hidup kita. Sehingga kita paham ketika ada yang berbeda dengan kita.

Room to Read, Proses Panjang untuk Membuat Buku Anak

Litara 4

Masih ingat cerita saya tentang Room to Read. Audisi Room to Read dan prosesnya, ternyata tidak semudah seperti yang saya bayangkan.
Prosesnya panjang dan lama.

Pada awalnya saya merasa menulis pict book bisa saya kuasai. Kalau melihat rujukan di buku-buku pict book yang beredar, saya pikir bisalah saya menulis seperti itu. Tapi ternyata saya keliru. Ada banyak hal yang saya kuasai di dunia menulis. Menulis berbagai genre. Tapi ternyata ada banyak hal juga yang tidak saya kuasai, yaitu menulis cerita bergambar. Bukan sekedar bergambar, tapi bergambar dengan standar Internasional.

litara 5

Pict book alias cerita bergambar mengandalkan banyak gambar. Itu artinya, saya sebagai penulis, harus berjuang agar bisa memberikan instruksi kepada ilustrator.
Iya, dalam menulis buku bergambar ini, penulis harus memberikan panduan pada ilustrator, gambar seperti apa yang harus dibuat.
Dan pada buku dari room to read ini, gambar itu harus berdampak tiga dimensi. Artinya ketika anak melihat gambar tersebut, mereka bisa membayangkan seperti melihat cerita hidup di depan mereka.
Jadi, porsi utama memang ada di tangan ilustrator.

Revisi Sampai 10 Kali

Saya biasa menulis cepat. Dengan riset yang mendalam.
Revisi paling pol tidak sampai lima kali. Paling hanya tiga kali revisi dari redaksi. Itu pun karena saya menulis buku dengan sedikit gambar.
Arahan editor paling hanya ingin naskah dibawa ke mana, dengan gaya seperti apa, tentunya dengan tidak meninggalkan karakter saya.

Tapi di room to read berbeda.
Saya dapat penerbit Litara dengan editor super teliti dan pengalaman yang luar biasa.
Ada mbak Eva Nukman dan Sofie Dewayanie sebagai penjaga gawangnya.
Dan di atas mereka ada Alfredo dari room to read, yang punya pengalaman segudang, yang akan membuat naskah kita terasa tidak ada apa-apanya.
Sampai-sampai saya berada pada satu titik bernama putus asa, karena revisi sampai sepuluh kali. Padahal di tempat lain, yang saya tahu, ada yang sampai harus mengalami 20 kali revisi.

Apa kurang naskah saya?
Kok bisa saya tidak bisa menulis?
Kok begini, kok begitu?
Kenapa naskah ini begitu menguras energi sehingga saya tidak bisa fokus ke naskah lain? Telepon, WA dan email membuat saya stress. Bahkan pada saat saya sedang berenang, saya melihat ada beruang duduk di kursi. Itu mungkin menandakan tingkat sress saya sudah tinggi. Tokoh utama saya memang beruang yang ingin belajar naik sepeda.
Tapi seiring perjalanan waktu, setelah jeda sebulan, saya mulai belajar dan memahami pelajaran.

Ini bukan sekedar masalah naskah sederhana. Ini masalah bagaimana, agar justru kalimat sederhana itu membuat anak bahagia. Dan bagaimana agar penulis memberi panduan untuk ilustrator.
“Kok enak banget jadi ilustator? Apa mereka gak bisa baca naskah terus langsung dijadikan gambar, tanpa panduan?”
Itu pertanyaan rata-rata penulis seperti saya.
Tapi kemudian sadar, bahwa otak ilustrator berbeda dengan penulis. Mereka tidak semudah itu menerjemahkan kalimat menjadi gambar.
Jadi penulis harus jeli menulis step by step langkah-langkah untuk ilustrasi.
Pembagian halaman juga harus dilakukan dengan cermat.
Jadi ingat kalau di rumah, suami suka tanya-tanya panduan untuk gambar seperti apa? Padahal naskah yang ada di tangan suami, menurut saya sudah jelas bisa dijadikan panduan untuk gambar.
Dulu saya kesal, tetapi setelah ikut room to read saya baru sadar. He he.

Akhirnya….

Litara 3

Litara

Setelah sepuluh kali revisi, ada workshop untuk ilustrator. Saya lega, Merasa paling tidak sudah selesai tugas saya. Saatnya ilustrator bekerja.
Tapi ternyata tidak seperti itu.
Setelah workshop ilustrator selesai, dan naskah dibuat mokap (contoh buku), naskah itu dibawa ke beberapa SD untuk dibacakan. Reaksi anak-anak itu yang akan menentukan nasib naskah. Apakah harus direvisi kecil, atau direvisi besar?
Jika masih ada yang bertanya isi naskah tersebut dan kurang jelas, itu artinya naskah harus direvisi.

Dan tibalah saat itu.
Dapat surat undangan untuk revisi naskah di Bandung. Dua hari revisi, tapi saya cuma bisa satu hari, karena keesokan harinya saya ada program sedekah Jumat yang tidak bisa ditinggal. Dan mengajar anak-anak di sanggar yang notabene rumah saya.
Malamnya dapat email memberitahukan revisi apa yang harus saya lakukan.
Alhamdulillah saya dapat jatah revisi kecil saja.

Jam empat pagi di hari Kamis, saya meluncur ke Bandung. Bertemu dengan ilustrator yang memegang naskah saya.
Saling diskusi.
Waktu dia tahu saya harus pulang hari itu juga, dia langsung mempercepat kerjanya. Diskusi ke ilustrator dan editor di Litara. Kerja cepat itu jadi judul hari ini.
Ketika hari menjelang sore, naskah saya paling tidak 99 persen disetujui.
Saya dan ilustrator sama-sama bekerja tanpa laptop. Naskah saya digambar, saya memberi masukan, lalu kalimat yang ada saling didiskusikan.

Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk dan merasakan room to read. Saya sangat bersyukur sudah sampai di titik ini. Titik di mana saya berproses untuk terus belajar.

Kok Bisa Penulis Bosan Menulis?

roti Ibu

Kenal banyak penulis?
Sosial media membuat saya dan yang lainnya mudah saling mengenal. Saya jadi kenal penulis yang satu dan yang lain. Saya juga kenal penulis yang semangat menulis dan yang bosan menulis.

Penulis bosan menulis?
Kalau anak-anak kecil disuguhi mainan baru, biasanya mereka akan langsung menyambarnya.
Mainan itu dimainkan sampai mereka bosan. Bahkan ketika mainan itu masih membuat mereka penasaran, mereka akan marah jika ada temannya meminjam. Sering kan kita lihat anak-anak kecil bertengkar hanya karena berebut satu mainan?
Mereka dalam proses sedang bergairah menghadapi permainan yang mereka anggap baru.
Tapi cobalah perhatikan, apa yang mereka lakukan setelah mereka bosan? Kadang-kadang mereka membongkarnya. Setelah bosan, mencari permainan baru lagi.

Sama seperti banyak kita dalam menulis.
Awalnya menganggap menulis itu mudah. Awalnya merasa iri melihat orang lain karyanya muncul terus-menerus. Awalnya merasa bisa dan menggampangkan.
Setelah merasa mampu itu, bisa menghasilkan satu dua tulisan, yang dipuji oleh orang lain, maka timbullah rasa puas.
Dan rasa puas itu membuat si penulis yang dipuji merasa tidak perlu belajar lagi. Terus-menerus melakukan hal yang sama. Tulisan yang tidak berkembang. Dan akhirnya timbul rasa bosan. Tidak ingin menulis lagi, karena tidak tahu apa yang harus ditulis.

Agar Tidak Bosan Menulis

Sampai saat ini saya bersyukur. Bersyukur karena saya menjadi penulis diawali dengan suka membaca. Ingin kisah yang saya baca, berubah ceritanya sesuai apa yang saya pikirkan. Ingin sesuatu yang saya pikirkan, dibaca orang lain, dan orang lain itu paham ada sesuatu yang berbeda. Iya berbeda. Karena saya suka melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Kebiasaan membaca itu membentuk saya untuk menulis berdasarkan apa yang saya baca. Kebiasaan saya penasaran dan ingin mencoba, membuat saya ingin menulis sesuatu dari apa yang saya kerjakan. Bukan sekedar dari apa yang saya khayalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan orang agar tidak bosan menulis?

1. Cobalah hal baru.
Saya mencoba belajar menggambar kembali. Untuk mendapatkan sensasi baru. Dan itu ternyata bermanfaat untuk tulisan-tulisan saya.
Saya juga belajar memasak hal yang tadinya saya hindari. Berkumpul dengan oven dan adonan. Tapi ternyata ketika kemampuan memasak saya meningkat, kemampuan menambah manfaat dalam tulisan juga meningkat.
Sekarang saya bisa menulis tentang resep masakan, yang tentu saja hasilnya bisa dimanfaatkan dan dipraktikkan bagi pembacanya.

2. Targetmu Apa, sih?
Target dalam dunia menulis selalu saya punya.
Dulu target saya adalah bisa membuat orang percaya, bahwa puisi yang saya tulis bisa menghasilkan.
Lalu makin jauh, target saya ingin bisa sekolah dari uang menulis.
Setelah itu saya ingin punya ini itu dari hasil menulis.
Selanjutnya saya ingin bermanfaat dari menulis.
Selanjutnya saya ingin masuk surga dari menulis, dan pahala menulis saya bisa menjadi pahala ilmu yang bermanfaat untuk saya.
Punyai target. Itu akan membuat kita melihat bahwa menulis itu memiliki hasil nyata bukan abstrak.

3. Mimpimu Apa?
Mimpi mungkin bisa dibilang target, ya.
Tapi begini. Dulu pernah ada yang tanya pada saya. “Mau sampai kapan berhenti menulis?”
Waktu ditanya itu karya saya sudah ratusan jumlah di media cetak dan sudah memenangkan lomba-lomba.
Saya ingat, saya menjawab.
“Sampai bisa menghasilkan seratus buku, baru berhenti menulis.”
Sekarang kalau ditanya lagi, maka saya akan menjawab berbeda. Saya tidak akan berhenti menulis sampai Allah mencabut kemampuan menulis saya.

4. Kamu dan Komunitas
Kalau dalam komunitas, tingkat kemalasan satu anggota akan menular pada anggota lain.
Nah kalau pada akhirnya kita masuk dalam komunitas yang ngakunya komunitas menulis, tapi lebih banyak sharing keluhan atau sesuatu yang tidak bermanfaat, putuskan. Iya putuskan berhenti dari komunitas itu, atau tetap di dalamnya dan jadi dirimu. Ubahlah apa yang harusnya diubah.

5. Kita Punya Jalan Sendiri
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin dianggap pintar.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin jadi orang terkenal.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin punya banyak uang.
Macam-macam alasannya.
Tapi punyailah jalan sendiri, jangan jadi siapa-siapa.
Berjuang saja agar menulis itu menjadi kebutuhan kita, sehingga kita tetap punya prinsip dalam menulis.

Tips Menjadi Penulis yang Kreatif

aku-1-copy

“Ibu gambar lagi? Ampun, deh.”
Itu kalimat yang meluncur dari mulut anak-anak. Menggambar, kebiasaan lama yang dulu saya suka, dan saya tinggalkan. Ada banyak gambar. Hanya memakai pensil saja. Sudah saya hibahkan ke tukang loak, karena merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan gambar karya suami.

Tapi belakangan ini, saya butuh sesuatu yang lain selain menulis.
Anak-anak tetangga yang belajar di rumah, perlu sesuatu yang lain. Yang membuat mereka bergairah untuk belajar dan mencintai kehalusan seni.
Jika menulis membuat mereka kesulitan, maka keahlian lain yang saya miliki tentu bisa membuat mereka betah berlama-lama tanpa menyangka kalau mereka sedang belajar.

Maka membuat roti hal yang dulu saya anti, justru menjadi sesuatu yang saya suka saat ini. Melipat, menggulung, membuat aneka macam bentuk ternyata menjadi sensasi berbeda. Apalagi ilmu itu bisa saya terapkan dalam menulis. Saya bisa menulis cerita tentang roti. Dan tentunya akan lebih hidup, karena berdasarkan pengalaman nyata.

aku-3

Penulis harus tahu apa yang ditulisnya. Harus riset. Itu yang selalu saya katakan berulang kali, kepada murid-murid menulis saya. Jangan berpikir bahwa hanya dengan berkhayal, maka kita akan bisa terus menulis. Sekali dua kali mungkin bisa. Tapi selebihnya tulisan tidak akan ada peningkatan.

Bersyukur saya punya Ibu yang pandai menjahit. Dan sekolah dulu mewajibkan siswanya pelajaran tata busana. Jadi saya tahu pola-pola dasar. Dan itu membuat saya tahu, ketika membuat tulisan tentang penjahit atau alat jahit.
Bersyukur saya punya Bapak yang serba bisa. Bapak pernah jadi guru di sekolah, Bapak jadi imam di masjid, Bapak pintar membuat kerajinan, Bapak bisa mengetik sepuluh jari dengan cepat, Bapak menguasai bercocok tanam, bahkan Bapak tahu bagaimana mengobati putra-putrinya ketika sakit. Bukan asal obat. Tapi kucuran ilmu dari teman-teman kerjanya yang rata-rata dokter, membuat Bapak paham ilmu kedokteran.
Dan kucuran ilmu dari Bapak itu membuat saya bersyukur, karena paling tidak saya tahu sedikit lebih banyak, tanpa perlu masuk ke sekolah ini dan itu.

Okelah itu karena saya memang beruntung. Terus bagaimana dengan penulis yang kurang beruntung, alias tidak memiliki orangtua kreatif dan lingkungan yang mendukung?

Penulis itu harus berjuang menjadi kreatif sendiri.
Mulailah dengan mencoba hal-hal kecil.

1, Mewarnai gambar contohnya. Sekarang banyak gambar-gambar di interntet yang belum diwarnai. Tingkat kerumitannya juga macam-macam. Pilih satu gambar dan warnai. Nikmati. Dari situ bisa kita menulis sebuah cerita tentang mewarnai gambar.

2. Bercocok tanam. Jangan anggap sepele bercocok tanam. Karena melihat pohon tumbuh, rontok atau mati, itu sensasi sendiri dan jadi pengalaman sendiri, yang tentu saja bisa ditulis.

3. Belajar menjahit atau merajut. Memasukkan benang ke dalam lubang jarum, dan mengetahui ukuran jarum dan benang saja, juga merupakan ilmu baru yang bisa ditulis.

4. Memelihara binatang juga sama. Akan memancing kreativitas. Tingkah laku binatang peliharaan, tingkat kedekatan kita dengan binatang, bisa menjadi rangkaian cerita yang akan menyentuh pembacanya.

5. Menggambar. Iya menggambar apa saja. Mulai dari hal kecil. Mulai dari meniru dulu. Lama kelamaan, akan muncul ide baru di benak kita. Kalau tangan sudah terlatih, maka gambar itu sendiri sudah jadi rangkaian cerita.

6. Memasak tentu saja. Aroma bumbu masak, cara pengolahan, cara penyajian, akan membuat kita kehujanan banyak ilmu. Dan itu bisa dijadikan tulisan yang bermanfaat untuk orang lain.

Masih banyak tips lainnya.
Cobalah mulai dari sekarang, dan jangan ditunda.

Resolusi Tahun Baru untuk Penulis. Perlu, kah?

2016

Akhirnya, tahun baru datang juga.
Akhirnya. Meskipun saya juga tidak terbiasa merayakan pergantian tahun. Karena sejak dulu dalam didikan Bapak, tidak suka acara ramai-ramai.

Hitungan tahun sudah berganti.
Artinya apa? Artinya usia kita bertambah tua. Artinya untuk saya anak-anak bertambah besar. Biaya pendidikan mereka juga semakin besar. Tenaga untuk menjaga mereka dengan doa dan nasihat juga akan semakin banyak.

Ada resolusi. Biasa dibuat oleh orang yang punya target tahunan. Perusahaan biasanya yang membuat hal ini. Tujuannya untuk mengukur kinerja perusahaan, keuntungan plus kerugian. Karena itu setiap menjelang akhir tahun, bagian keuangan pasti sibuk.

Sebagai penulis, ada banyak yang harus ditulis. Ada ide yang akan menguap jika tidak ditulis. Ada banyak hal, yang akan hilang momentum jika tidak ditulis. Jadi resolusi untuk saya sebagai penulis, tidak perlu.

Resolusi Harian

oke-8

Ada banyak penerbit, yang terus-menerus membutuhkan naskah.
Ada blog yang terus-menerus harus diisi, karena penulis tidak boleh menutup mata dengan perkembangan zaman.
Memang di saat yang sama, ada media-media cetak yang satu-persatu gugur. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti menulis.

Gugur satu tumbuh seribu, itu berlaku untuk dunia menulis.
Media cetak gugur, digantikan dengan media online yang jumlahnya tidak terhitung. Tapi perjuangan hidup yang ssungguhnya itu, bukan pada saat kesempatan terbuka luas. Kreativitas justru banyak yang tumbuh dari situasi terjepit.

Ketika ruang menulis tertutup, blog bisa dioptimalkan. Ada banyak perusahaan yang sekarang fokus mencari blogger untuk dioptimalkan. Ketika penerbit-penerbit konvensional bertambah ketat seleksinya, ada penerbit-penerbit online yang gencar mencari penulis.
Ada ruang terbuka untuk penulis mencari kesempatan, bukan hanya terpaku pada interaksi di sosial media, dan berebut rezeki dari sana.
Internet memudahkan penulis. Optimalkan hal itu. Memang tidak seramai sosial media, tapi itu justru lebih optimal.

Jadi soal resolusi untuk tahun baru?
Kalau saya setiap hari terus-menulis. Tidak fokus pada pergantian tahun, tapi pada pergantian hari.
Saya yakin sudah hukum alam, siapa yang terus bekerja, itu yang akan sering menuai hasilnya.

Kenapa Penulis Harus Mau Jadi Marketing Bukunya?

buku-2016

“Nulis buku itu susah, Mbak. Kenapa harus pakai belajar jualan buku lagi?”
Hiks, benar. Itu perkataan yang benar. Dulu saya juga berpikir seperti itu. Nulis buku itu susah. Susahnya setengah mati, apalagi kalau menulis tidak ingin menulis asal saja, dan berjuang dengan riset. Maka setelah buku selesai ditulis, lalu penerbit mau menerima, rasanya plong yang ada di hati.
Lega. Iya, lega selega-seleganya.
Kita berharap, sih, sama seperti penulis di luar negeri yang jadi rujukan kita. Bisa plesiran ke mana saja, setelah bukunya selesai dicetak.
Kita mulai membandingkan kenikmatan, tapi tidak berjuang menuju satu titik kualitas yang sama.

Dulu Bukan Sekarang

Dulu, pada zaman kita belum diserbu tekhnologi, dan ketika tidak semua orang paham dunia menulis, menulis adalah sebuah bentuk ekspresi yang menyenangkan. Pengalaman dan isi hati kita, bisa bebas kita tulis, tanpa kita dituntut kelihatan identitasnya.
Maka biasanya para penulis yang muncul dari masa lalu, adalah penulis yang kebanyakan pemalu dan takut muncul di publik, termasuk saya.

Tapi dulu bukan sekarang.
Dulu media cetak masih jadi andalan. Telepon genggam ada tapi yang memiliki hanya segelintir orang saja. Untuk mendapatkan nomor pun, harus antri panjang. 16 tahun yang lalu nomor saya, saya beli seharga 250 ribu rupiah.
Dulu, para remaja menunggu media remaja, para orangtua menunggu harian dan para ibu menunggu tabloid. Semua sumber bacaan dari media cetak. Ada masa di mana pada sore hari, kalau di keluarga saya, kita akan berkumpul, dan masing-masing membawa bacaannya, lalu keluarlah banyak sekali perbincangan dari apa yang kita baca.
Sekarang?
Sekarang perbincangan dan diskusi banyak diambil dari berita-berita pendek dari timeline dan status orang lain. Saya masih berjuang mengambil buku untuk dibawa ke ajang diskusi dengan anak-anak dan pasangan. Dan sungguh, itu terasa melelahkan.
Karena itu, saya minta ada satu hari untuk anak-anak fokus membaca dan menulis yaitu di hari Sabtu.

Kondisi sekarang berbeda.
Media cetak satu persatu gugur. Karena industri mulai berpihak ke dunia digital, yang setiap individu memegang minimal satu.
Saya ingat perbincangan dua tahun yang lalu, ketika pemilik majalah Luar Biasa seorang motivator ingin menutup majalah. Ada satu pendapat dari seorang agen majalah yang sudah puluhan tahun berada di bidang tersebut. Beliau bilang kondisi memang seperti itu. Satu persatu kios media ditutup dan diganti dengan kios pulsa. Maka bisnis yang menjamur adalah bisnis pulsa.

Penerbit?
Penerbit masih ada. Tapi penerbit tidak mungkin menerbitkan sebuah naskah, tanpa proyeksi pada keuntungan. Untuk buku-buku yang kira-kira agak sulit untuk diterbitkan, semisal buku non fiksi dengan ukuran tebal, ada penerbit yang bertanya lebih dahulu, penulis bisa membeli berapa buku nanti jika buku itu terbit?

Seram pertanyaan itu?
Iya seram sekali untuk saya pertama kali. Meskipun tanpa ditanyai seperti itu, saya biasa membeli buku dari penerbit hingga 100 buku untuk dijual kembali. Kebetulan saya punya marketing sendiri, yang memasarkan dari satu sekolah ke sekolah lain.
Tapi ya itu. Saya tidak berani memasang target, takut target itu meleset jauh.
Belum lama ketika ada naskah yang di acc, saya juga ditanya, berani beli berapa buku? Dengan keyakinan penuh, saya bilang saya bisa beli 100 buku.
Kenapa saya berani?

Satu buku saya, saya endapkan cukukp lama. Lama sekali. Saya riset lama, lama sekali. Lalu ketika di acc penerbit, ternyata komunikasi lancar. Saya melihat proses bukunya, dan akhirnya saya jatuh cinta. Proses jatuh cinta, itu jadi semakin cinta ketika melihat hasilnya. Sebuah buku yang memang sesuai dengan apa yang ada di otak saya. Design huruf, warna buku dan tampilan covernya memang benar-benar sesuai yang saya inginkan.
Ketika sampai pada proses akhirnya buku itu sudah dicetak dan saya pegang, saya bertambah cinta. Melihat satu persatu halamannya, saya semakin cinta.
Dan saya memang berjuang menjual buku itu, baik secara online maupun secara offline. Target 100 buku akhirnya bisa saya penuhi, dan sampai sekarang saya terus memesan ke penerbit buku itu, karena ada teman-teman yang masih menanyakan buku itu.
Buku hasil jerih payah dan keringat saya, kenapa saya mesti malu menjualnya? Apalagi kiri kanan atas bawah, kita digempur oleh buku yang lain yang bisa jadi lebih merusak moral anak-anak kita.

Tekhniknya Pembelian Buku Seperti Apa?

“Tapi, Mbak, aku enggak punya uang untuk beli buku aku?”
Ada pertanyaan seperti itu.
Oh, membeli 100 buku langsung juga tidak saya lakukan. Tapi step by step saya melakukannya.

1. Untuk penerbit yang memberikan DP royalti, maka biasanya, saya tidak ambil uang DP itu. Saya minta agar uang itu diputar dalam bentuk buku.
Bukunya datang, bisa saya jual.

2. Untuk penerbit yang tidak pakai DP, saya membelinya pelan-pelan. Misalnya 20 buku dulu. Setelah 20 buku itu laku, uangnya saya putar lagi, untuk membeli buku yang lain.

3. Ada juga penerbit yang membolehkan membeli buku, dengan dipotong uang royalti kita nanti. Nah itu juga sangat memudahkan penulis yang tidak pegang uang cash pada saat itu.

Tidak akan rugi kok kita membeli buku kita sendiri.
Dari situ kita akhirnya bisa menyortir, buku apa yang harus kita tulis, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan isinya di mata pembaca dan di mata Allah kelak.

Mau Produktif Menulis, Gunakan Sosial Media Seperlunya

buku-buku-solo

“Hai, Mbak. Seneng, deh, bisa kenalan sama mbak di sini.”
“Aku suka tulisan Mbak dari remaja dulu, lho.”
“Boleh main ke rumah?”

Penulis dan sosial media, memang sudah jadi kesatuan utuh. Dari sosial media, penulis yang biasanya bersembunyi di belakang layar, dan membuat pembaca penasaran, akhirnya mulai timbul ke permukaan. Pembaca jadi bisa mengenal seorang penulis yang tulisannya disukai. Di atas contoh dialog yang biasa masuk ke inbox saya.
Tidak dipungkiri, itu salah satu efek kebaikan dari sosial media. Meskipun efek kebaikan itu pastilah akan diikuti dengan efek keburukan juga. Yaitu pembaca melihat penulis sebagai sosok yang sempurna, maka ketika timbul setitik noda di mata mereka, maka mereka akan berbondong-bondong mencaci.

Ada banyak wadah komunitas di sosial media. Saya sendiri memiliki beberapa komunitas menulis dengan anggota terbatas. Banyak komunitas yang gugur, padahal anggotanya ribuan. Menulis adalah kerja cinta. Sama seperti kerja bakti. Kerja bakti membersihkan got itu tidak menyenangkan untuk orang yang tidak cinta mengerjakannya, dan tidak fokus pada keuntungan kebersihan lingkungan. Menulis juga seperti itu. Banyak komunitas yang lebih suka ramai-ramai dan heboh dengan pertemuan di dunia nyata ketimbang kembali fokus menulis.
Satu, dua, tiga masih terus menulis. Empat, lima, enam, bahkan sampai seribu, harus dipecut dulu untuk kembali menulis.

Sosial media akhirnya jadi bumerang untuk penulis.
Lalu bagaimana cara yang efektif menggunakan sosial media?

Gunakan Sosial Media Seperlunya

Ada banyak sosial media.
Saya malah menemukan teman yang itu itu saja di berbagai sosial media.
Tapi saya juga menemukan sesuatu yang baru. Penerbit-penerbit, editor-editor yang mudah ditemui di sosial media. Cara marketing yang dicontohkan teman-teman penulis lain, juga bisa saya dapatkan di sosial media. Bahkan pembeli buku-buku saya, bisa dengan mudah saya dapatkan di sosial media.
Semua bisa kita dapatkan di sosial media. Tapi itu justru yang membuat seorang penulis akhirnya terjerumus. Menganggap sosial media adalah segalanya.
Iya segalanya. Keuntungan dan keberuntungan ada di sosial media. Demi keberuntungan dan keuntungan itu, sikut sana-sini pun mulai terjadi.

Penulis biasa punya banyak sosial media.
Tapi tetap kontrol harus ada di tangan penulis. Banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan menulis, sejak hadirnya sosial media hilang terbang waktu itu tergantikan dengan mengamati status, membuat status bahkan mengomentari status. Ujungnya tulisan yang harusnya selesai tidak jadi selesai. Banyak status penulis yang ujung-ujungnya mengeluh karena target tulisannya tidak selesai.

Ini tips dari saya, agar sosial media bisa bermanfaat dan tidak mengganggu jadwal menulis kita.

1. Buat target tulisan yang harus dibuat
2. Buat list daftar tulisan yang harus selesai.
3. Selesaikan dulu tulisan tersebut, sebelum akhirnya membuka akun sosial media.
4. Batasi penggunaan sosial media dan jadikan itu reward karena kita berhasil menyelesaikan tulisan.
5. Setelah itu harus menulis lagi.
6. Ketika membuka sosial media, langsung fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan dunia menulis saja. Misalnya akun penerbit atau akun teman-teman penulis yang bisa memompa semangat menulis kita.
7. Sepuluh tahun ke depan, jika kita sibuk terus dengan sosial media, maka kita tidak dapat apa-apa. Tapi jika kita terus menulis dan fokus pada tulisan yang akan kita selesaikan, maka tulisan kita menjelma menjadi bentuk lain, misalnya buku atau mungkin pembaca yang tercerahkan dengan tulisan kita.
8. Fokus pada menambah wawasan dengan membaca banyak buku, bukan dengan banyak-banyak membaca status apalagi status saling hujat.
9. Tutup akun sosial media jika itu mengganggu jadwal menulismu.
10. Dan kembalilah ke jalan yang sunyi dengan produktif menulis.

Percayalah, mengurangi sosial media dan menambah produktivitas kita, tidak akan membuat kita menjadi rugi. Materi yang kita hasilkan dari menulis, akan bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan kita dan juga untuk menolong orang lain.

Menulis itu Mudah tapi Jangan Dianggap Sepele

anak

Apa yang selalu saya katakan pada ibu-ibu dan murid-murid yang datang ke rumah. Iya, semua bisa menulis. Menulis itu mudah. Mudah sekali.
Tujuannya tentu saja, agar semua punya antusias yang sama dan akan menganggap bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan di dunia ini, termausk menulis. Bakat hanya bagian kecil yang bisa dikalahkan dengan kerja keras.

Kerja keras. Iya kerja keras.
Maka kerja keras dalam melalui proses menulis itu akhirnya jadi bagian kerja yang super keras.
Anak-anak yang belajar menulis di rumah, ketika tidak didukung orangtuanya, maka mereka malas-malasan datang. Menganggap hanya belajar menulis terus. Padahal dari situ, saya melhat perkembangan proses menulisnya dan mulai memasukkan riset sedikit demi sedikit.

Anak-anak yang didukung orangtuanya, tapi si anak merasa serba mudah alias tidak ada tantangan dan kelihatan sulit diajak berproses karena mungkin dibenaknya tercantum mindset bahwa menulis itu seperti pelajaran di sekolah yang diajarkan gurunya, maka tulisannya akan berputar ke itu itu saja.

Bahkan anak yang didukung orangtua-nya pun, tapi si anak merasa sudah hebat, maka segalanya akan menjadi sulit untuk saya mengajarinya.

Proses itu Mahal

Proses dalam mengejar cita-cita itu mahal. Saya dulu bahkan merasa jadi makhluk asing. Hobi ke perpustakaan, bukan perpustakaan sekolah saja. Tapi semua perpustakaan dulu. Di zaman SMP, SMA di Jakarta, saya senang berpindah dari perpustakaan Soemantri Bojonegoro di daerah KUningan alias Rasuna Said, perpustakaan HB Jassin di TIM, perpustakaan Balai Pustaka, perpustakaan di LIA dan masih banyak perpustakaan lainnya.
Kalau ada teman yang bosan saya ajak ke perpustakaan, maka itu artinya saya pergi sendiri saja. Naik bus ke sana ke mari. Atau saya membaca dalam tempo cepat, sehingga saya puas teman saya juga terpuaskan, karena tidak menunggu saya terlalu lama.

Proses menulis itu yang saya rasakan lebih mahal dari kemampuan menulis saya.
Saya suka baca, senang menulis buku harian. Itu biasa. Biasa menurut anggapan orang lain. Karena banyak anak yang juga melakukan hal itu.
Dan hal yang biasa itu dianggap tidak akan menghasilkan apa-apa. Tidak mungkin bisa membuat saya jadi apa-apa.

Maka proses menulis sebenarnya adalah belajar menggenggam mimpi sekuat tenaga agar tidak terlepas. Mahalnya adalah karena ketika orang lain sibuk membeli baju baru, saya sibuk membeli buku baru. Ketika yang lain sibuk membaca buku pelajarna dan les sana sini. Saya sibuk dengan buku-buku yang saya suka dan tidak ikut les sana-sini.

Karena itu setelah proses sekian lama, lalu ada yang meremehkan menulis, saya jengkel.
Dulu, ibu-ibu di seputaran rumah menganggap saya menganggur. Dilimpahkan tugas ini itu, dikiran pengangguran, waktunya banyak di rumah. Tapi setelah saya bilang, bahwa saya penulis, tetap mereka menganggap itu bukan pekerjaan, cuma selingan. Alias saya cuma bengong-bengong mengkhayal, persis seperti mereka berkhayal.

Proses itu mahal.
Semahal saya menggeleng dan menutup kursus private di rumah. Karena ibu-ibu yang datang kebanyakan meneruskan untuk tidak menjemput anak mereka tepat waktu. Mereka menitipkan pada saya, sedang akibat dari itu pekerjaan menulis saya terbengkalai.
Murid-murid les datang ke rumah dari pagi sampai malam. Kalau ibunya ingin pergi, itu artinya anak-anak usia TK dititipkan ke saya dan baru dijemput setelah si ibu puas bermain. Mereka tidak paham bahwa pekerjaan saya bukan sekedar mengurus rumah tangga dan mendapat uang dari kursus private yang tidak saya patok bayaran. Karena saya pikir saya masih bisa menghasilkan rupiah dari tulisan saya di media cetak.

“Kenapa ditutup lesnya?” tanya beberapa ibu-ibu.
“Banyak pekerjaan menulis,” jawab saya penuh keyakinan.
Lambat laun akhirnya lingkungan sadar, bahwa saya punya pekerjaan sebagai penulis. Dam menulis itu sebuah pekerjaan serius. Bukan cuma pekerjaan laki-laki saja. Tapi bisa dikerjakan oleh perempuan dan berkantor di rumah.
Maklum mindset kebanyakan ibu rumah tangga, para perempuan tidak perlu berpikir lagi, karena sudah disibukkan dengan urusan dapur, sumur dan kasur.

Bangga Sebagai Penulis

lemari

“Oooh penulis.”
“Oooh bukunya banyak.”
“Oooh setiap hari kerja.”
Dan oh oh lainnya akhirnya jadi pembuka kunci ketidaktahuan para tetangga saya.
Mereka masuk rumah, lihat buku-buku yang saya koleksi, dan boleh pinjam jika ingin ada yang dibaca oleh mereka. Meski kebanyakan juga hanya lihat-lihat saja.

Tapi paling tidak dari sana mereka paham bahwa ada pekerjaan bernama penulis. Pekerjaan itu bukan sekedar mengkhayal, tapi harus banyak baca buku. Pekerjaan itu bisa dikerjakan laki-laki dan perempuan. Pekerjaan itu bisa dikerjakan oleh ibu rumah tangga dari rumah.

“Ih, kapan karyaku dimuat?”
tanya salah satu murid menulis saya, yang yakin bahwa tulisannya bagus. Padahal dia baru benar-benar belajar dan nilai yang saya berikan berdasarkan kenaikan tingkat untuk setiap prosesnya.
“Aku baca buku aja,” ujar yang lain.
Tulisannya memang sudah bagus di lingkungan sedikit. Bukan di lingkungan yang lebih luas lagi, yang untuk anak seumurannya ternyata banyak yang lebih bagus lagi.

Seorang anak di sudut yang berproses dari tidak bisa menulis sampai akhirnya bisa menulis bagus, tapi dia terus belajar, justru jadi sumber keyakinan saya.
Sedikit polesan lagi, dia akan punya ide bagus dan membuat yang lain tercengang karenanya.

Hasil itu tidak bisa berbohong.
Hasil yang kita dapat itu adalah dari proses yang kita lakukan.