Apa yang Dilakukan Penulis tanpa Sosial Media?

Penulis tanpa sosial media? Terbayangkan di zaman tekhnologi seperti sekarang ini. Ketika semua orang sibuk berselancar di media sosial?
Penulis bisa melakukan banyak hal di sosial media. Cari teman sesama penulis, membuka kelas menulis, ngobrol, kumpul-kumpul dan lain sebagainya.
Editor penerbitan juga banyak yang mencari penulis di sosial media. Ketika ada penulis yang aktif, maka mereka menghubungi dan meminta naskah dari penulis itu.
Editor senang, penulis juga senang. Meskipun untuk laris atau tidaknya lagi-lagi juga tergantung campur tangan Pemilik Rezeki.

Sosial Media Sekarang Berbeda

Tujuh tahun yang lalu saya membuat sosial media. Terkaget-kaget juga ketika melihat ternyata banyak yang mengenali nama saya. Dan itu tentunya berimbas pada kenaikan kepercayaan diri. Bahwa apa yang saya tulis tidak sia-sia. Tapi tahun berganti tahun. Yang terjadi tujuh tahun lalu, tidak terjadi lagi pada saat sekarang ini.

Ada banyak sekali sosial media. Semuanya terhubung satu dengan yang lain. Kadang apa yang dishare di IG, dishare lagi di FB. Padahal lingkup pertemanan masih sama, bukan orang yang berbeda.
Tujuh tahun lalu sosial media fokus untuk menjalin pertemanan. tapi sekarang berbeda. Entah kenapa ketika membuka akun sosial media saya seperti berada pada sebuah pasar dengan suara berisik. Dan ketika ada orang yang protes, semua menyerbu si tukang protes.
Suasana jadi terasa panas. Dan setiap orang jadi merasa aku berhak tersinggung, dong. Aku berhak marah. Aura kemarahan seperti itu menular.

Ini yang Bisa Kita Lakukan tanpa Sosial Media

Saya tipikal yang tidak bisa jalan di tempat. Lima tahun di tempat yang sama akan membuat saya bosan. Karena itu dulu saya selalu mencanangkan perubahan besar setiap lima tahun sekali.
Karena itu sebelum masuk lima tahun, saya coba merancang banyak hal. Sering sekali menonaktifkan akun sosial media, untuk bisa melihat apa yang bisa saya lakukan.

Dan ternyata yang saya bisa lakukan banyak sekali.
Saya bisa belajar fotography. Saya bisa belajar bikin video. Saya bisa belajar banyak hal lainnya. Dan semua itu menyenangkan untuk saya.

Terus apa yang harus dilakukan penulis untuk promo bukunya biar laris?
Yang pertama, perbanyak pertemuan dengan Allah, Maha Pemberi Rezeki. Percaya saja, setelah kerja keras, lalu kamu mudah berbagi pada orang lain, maka rezekimu tidak akan pernah tertukar. Berdoa saja agar minta bukumu laris manis.
Yang kedua, terus menulis. Blog di beberapa web juga bisa.
Yang ketiga, sekarang mudah sekali untuk membuka channel di youtube. Manfaatkan saja itu untuk menambah kreativitas. Percaya deh, hidup rasanya menjadi segar karena terus bergerak dan bergerak.

Kirim Naskahmu Ke Penerbit Grasindo

Tertarik Menjadi Penulis?
Jangan ragu untuk mengirimkan naskah Anda ke Grasindo. Jika Anda memiliki keahlian atau cerita untuk dibagikan kepada pembaca, kenapa tidak mencoba? Siapa tahu Anda adalah calon penulis besar.
Berikut adalah 3 kategori naskah yang bisa Anda coba.

Fiksi: (Fiksi Anak, Novel Remaja, Novel Dewasa, K-fiction (fiksi bernuansa Korea) dan J-Fiction(fiksi bernuansa Jepang)
Non Fiksi: (Pengembangan Diri, Psikologi, Parenting, Kumpulan Soal Psikotes, Bisnis & Ekonomi, Buku Panduan (How to), Hobi (misal.: traveling, fotografi), Pengetahuan Populer, dan Entertainment.)
Buku Referensi: (Kumpulan Soal, Buku Pengayaan {TK – Perguruan Tinggi}, Buku Sekolah Berbasis Kurikulum {TK – Perguruan Tinggi}, Buku Referensi Pendidikan.)

Prosedur Pengajuan Naskah
Syarat umum pengiriman naskah:

Diketik rapi menggunakan font Times New Roman (atau yang sejenis) dengan ukuran font 12 pt., dengan jarak 1,5 spasi.
Panjang halaman 100 – 150 halaman A4.
Kirimkan melalui email dengan alamat: redaksi@grasindo.id , dan bubuhkan kategori naskah Anda di kolom subject (FIKSI, NON-FIKSI, atau BUKU SEKOLAH) – JUDUL NASKAH

Setiap pengiriman naskah, wajib disertai dengan lampiran berupa data-data berikut ini.
1. Sinopsis
Tulisan singkat (tidak lebih dari 2 halaman) yang merangkum keseluruhan isi naskah Anda. Pastikan, kami bisa menangkap garis besar isi naskah Anda dengan membaca tulisan tersebut.
2. Proposal
Tulisan singkat (tidak lebih dari 2 halaman) yang menjelaskan mengapa naskah Anda layak untuk kami terbitkan.
3. Data Diri
Tulisan singkat tentang identitas Anda, berikut latar belakang dan kompetensi Anda. Anda bisa juga melengkapi dengan data-data lain yang mendukung, seperti keanggotaan pada organisasi tertentu, keterlibatan dalam program tertentu, dan lain sebagainya.

Cara Mengirim Naskah Melalui Website
Anda tidak perlu repot mengirimkan naskah Anda melalui pos, sebab Anda bisa melakukannya dengan 1 kali klik melalui website ini. Bagaimana cara mengirimkan naskah melalui website?
Pastikan Anda sudah mempersiapkan semua file, yang meliputi: (1) naskah, (2) sinopsis, (3) proposal, dan (4) data diri.
Masukkan keempat file tersebut dalam 1 folder.
Compress folder tersebut menjadi file .rar (pastikan di komputer Anda terdapat program winrar atau winzip). Caranya: (1) klik kanan folder tersebut, (2) pilih Add to archive… (3) beri nama.
Kini folder Anda sudah menjadi 1 file dalam format .rar
Klik KIRIM NASKAH, dan ikuti instruksi yang muncul.
Penerbit tidak mengirim notifikasi atau pemberitahuan atas pengiriman naskah.
Naskah Anda akan direview oleh editor kami. Dalam proses selambat-lambatnya 2 bulan, dengan kemungkinan sebagai berikut.
Jika naskah Anda lolos seleksi maka Anda editor kami akan menghubungi Anda.
Jika setelah 2 bulan tidak ada tanggapan, berarti naskah Anda tidak lolos seleksi dan Anda berhak mengirimkan naskah tersebut ke penerbit lain. Terhadap naskah yang tidak lolos, kami akan menghapus semua data yang telah Anda kirim.
Selain cara di atas, Anda tetap bisa mengirimkan naskah secara pos melalui alamat redaksi Grasindo yang tertera di website ini. Tetapi lebih di utamakan pengiriman melalui e-mail/soft copy.

Info lebih lanjut bisa cek di sini

Standar Internasional untuk Buku Anak Lokal

Sebagai penulis, saya menjadi orang yang agak sensi alias baper, ketika banyak orang di luar sana, yang tidak suka membaca, tapi dengan mudahnya menganggap bahwa kerja penulis hanya kerja berkhayal saja.
Sebagai penulis, saya juga menjadi orang yang sensi alias baper, ketika ada yang mau menulis, lalu menyepelekan proses menulis, dianggap semuanya mudah dengan hanya berkhayal saja.
Sebagai penulis, yang kerja menulis, membaca tumpukan bahan untuk tulisan, berkelanan untuk riset agar hasil tulisannya tidak asal tulis, saya menjadi malas bicara, ketika ada yang mengatakan bahwa standar buku di Indonesia tidak bagus. Level yang selalu mereka bandingkan adalah level luar negeri.

Sebagai penulis terus-terang saya merasa meradang. Karena itu saya paling rajin ikut pelatihan ini dan itu. Saya senang mendengarkan apa sih isi kepala orang lain. Dan di saat itu saya merenung sambil berpikir panjang.


Hingga akhirnya sampailah saya pada program Room to Read. Di sini saya merasakan betapa sulitnya membuang pola pikir saya yang rumit untuk menjadi sederhana dan bisa bekerja sama dalam sebuah tim.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Bagaimana saya yang terbiasa asyik menulis sendiri, menciptakan dunia sendiri dan tahunya naskah dilempar ke penerbit, ternyata harus merangkak dari awal. Merasakan proses revisi berulang kali dan nyaris patah hati.


Alhamdulillah hadiah patah hati, nangis sendiri, sampai berada pada titik gak bisa apa-apa sebagai penulis, ujungnya berbuah manis. Hadir buku ini.
Saya tahu tanpa editor yang handal dan ilustrator yang hebat, naskah saya tidak akan bisa jadi seperti ini.

Saya berharap ke depannya akan muncul banyak buku keren seperti ini. Hingga tidak ada lagi mata yang memincing dan mulut yang nyinyir melihat buku lokal yang bersanding dengan buku luar.

Perpustakaan dan Program Mendongkrak Budaya Baca Murid

Tempat yang dikenal di benak setiap orang di mana bisa ditemukan banyak buku dan bisa dipinjam adalah perpustakaan. Perpustakaan banyak bentuknya. Bisa berupa gedung besar atau rumah kecil, perpustakaan berjalan yang dikelola individu atau perpustakaan yang dikelola komunitas dan dibuka pada setiap ada acara seminggu sekali.
Setiap pengelola perpustakaan memiliki pikiran yang sama. Bahwa dengan buku mereka percaya, anak-anak akan menemukan banyak hal yang bisa menambah wawasan mereka. Pembaca bukan hanya sekedar tahu peristiwa di belahan dunia lain, tapi juga akan dapat mengetahui pengalaman orang lain, hanya dari kebiasaan membaca.
Mencintai membaca adalah sebuah proses panjang. Orangtua, lingkungan, teman dekat menjadi penguat untuk itu.
Tidak semua anak suka membaca. Tidak semua orangtua paham bahwa membaca selain buku pelajaran itu bisa bermanfaat untuk anak-anaknya. Dan tidak semua orangtua juga paham, bahwa membiarkan anak menghabiskan waktu untuk membaca buku untuk meluaskan pikiran mereka, adalah sama dengan berinvestasi untuk jangka panjang.
Konsep membaca memang tidak bisa datang begitu saja. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orangtua pembaca akan menjadi contoh positive untuk anak-anaknya, hingga akhirnya anaknya pun akan gemar membaca. Orangtua menyumbang 52, 5 persen untuk kebiasaan membaca.

Tidak semua sekolah dasar memiliki perpustakaan. Bahkan tidak semua sekolah yang memiliki gedung bernama perpustakaan mengoptimalkan perpustakaan tersebut. Banyak gedung bernama perpustakaan dan awalnya memang diperuntukkan untuk perpustakaan pada akhirnya bergeser fungsinya menjadi ruang tata usaha. Sehingga anak tidak bisa dengan bebas datang dan membaca sesuka hati di sana. Karena suara anak-anak yang riuh akan membuat para pegawai tata usaha menjadi tidak nyaman. Buku-buku yang ada di dalamnya juga lebih banyak berisi buku paket pelajaran, sehingga tidak ada daya magnet bernama buku yang berbeda dari buku yang biasa mereka pegang di kelas.
Dilansir dari Sindonews Bahkan penelitian pada 2006 lalu menyatakan, tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Dan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga pustakawan. Perpustakaan di sekolah negeri dan swasta pun hanya mempunyai koleksi buku terbatas.

Jika titik sentral untuk menggairahkan membaca ada pada pundak perpustakaan, maka perpustakaan harus melakukan berbagai bentuk kegiatan yang membuat perpustakaan menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak-anak didik. Beberapa hal ini bisa dilakukan oleh perpustakaan seperti ;

1. Mencari Ikon yang Gemar Membaca
Kebiasaan membaca tidak hadir dengan sendirinya. Orangtua sebagai ikon pertama yang bisa mengarahkan anak menjadi suka membaca. Tapi pada kenyataannya di sebuah sekolah tidak semua orangtua gemar membaca. Maka tugas itu bisa dilimpahkan ke guru untuk menjadikan dirinya sebagai ikon yang terlihat hebat di mata anak-anak, karena kebiasaannya membaca.
Ketika sekorang guru luas wawasannya karena membaca dan asyik dalam menyampaikan materi pelajaran yang tidak ada di buku pegangan anak-anak, maka anak-anak akan mencari tahu lebih lanjut lagi. Ketika si ikon ini mengarahkan anak untuk menemukan sesuatu yang baru di dalam sebuah buku, maka ketertarikan anak akan sebuah ilmu di dalam buku akan semakin berkembang. Tentu saja pihak sekolah harus memfasilitasi kebutuhan akan buku di perpustakaannya.
Thompson mangatakan bahwa anak-anak bicara sebab mereka butuh mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginannya. Dan hal ini tidak bisa mereka dapatkan dari menulis kalimat. Karena itu orang dewasa yang harus membuktikan bahwa menulis dan membaca adalah suatu kegiatan yang berguna.

Mengajarkan mencintai buku dan memahami bahwa dalam sebuah buku ada banyak ilmu pengetahuan adalah proses yang panjang. Untuk itu yang pertama harus diubah adalah pola pikir.
Menurut Jhon C Maxwell mengubah pola pikir itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena mengubah pola pikir tidak bisa terjadi dengan otomatis.
Albert Einstein malah menekankan bahwa berpikir itu sebuah kerja keras, karena itu hanya beberapa saja yang berminat melakukannya.

Guru yang dijadikan ikon ini tentu saja, harus diberi penghargaan atau mungkin tunjangan prestasi. Sehingga semua guru akan berlomba menjadikan dirinya ikon untuk itu.

2. Menjadikan Perpustakaan Sebagai Ruang Kreatif
Sebuah perpustakaan bukan tempat yang kaku. Perpustakaan adalah ruang di mana anak bisa belajar sambil bermain. Maka agar anak bisa nyaman di sekolah dengan perpustakaannya, selain harus memenuhi rak-rak buku di perpustakaan dengan buku-buku yang menarik perhatian mereka, maka perlu dipikirkan untuk mengajak anak-anak bertugas menjadi petugas piket bergantian, menjaga perpustakaan.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Kebutuhan masa bermain mereka lebih besar ketimbang orang dewasa. Anak yang cukup masa bermainnya dan bahagia dengan itu, akan menjadi orang dewasa yang tidak kekanak-kanakkan. Maka ajaklah anak untuk belajar sambil bermain. Bisa dengan melakukan percobaan dari buku yang ada di perpustakaan. Ketika satu percobaan berhasil mereka akan semakin tertarik untuk mencari-cari buku yang lainnya lagi.
Dan tentunya adalah yang paling penting partisipasi orangtua dalam mengikuti perkembangan anaknya membaca. Usahakan orangtua dan guru bersinergi dalam hal ini. Anak bukan sekedar membaca dan meminjam buku, tapi buku itu bisa dijadikan ajang perekat hubungan dengan orangtua. Ada keterlibatan orangtua untuk membaca bersama. Bisa dalam bentuk lomba atau bisa dalam bentuk laporan.
Perpustakaan yang dikondisikan sebagai ruang kreatif tentu harus ramah anak. Mungkin menggelar karpet warna-warni atau tikar sederhana, tapi tersedia mainan edukatif untuk anak, pasti akan membuat anak betah berlama-lama di perpustakaan sekolah mereka.

3. Hadirkan Penulis
Anak yang bersentuhan dengan buku mungkin sudah paham, bahwa buku yang mereka baca ditulis oleh seorang penulis. Tapi anak lain belum tentu seperti itu. Karena itu menghadirkan penulis langsung di hadapan anak-anak, lalu mengajarkan cara sederhana pada mereka membuat buku, akan membuat mereka takjub. Penulis itu juga tentunya membuat anak menjadi paham bahwa untuk bisa bekerja sebagai penulis, anak-anak harus mulai mencintai buku.
Untuk program seperti ini, kelas inspirasi sudah melukannya. Ratusan relawan bergerak setiap tahun di kota-kota yang berbeda, bahkan sampai menjelajahi pulau. Mereka bekerja sama untuk mengajar anak-anak di daerah pinggiran dan mengenalkan profesi yang selama ini belum mereka kenal. Karena pada umumnya mereka hanya mengenal profesi seperti guru, dokter atau insinyur.
Dengan program ini, anak-anak jadi paham bahwa mereka bisa meraih cita-cita setinggi mungkin dan bisa menjadi apa saja. Para relawan biasanya mengenalkan bagaimana mereka bekerja, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Biasanya para relawan juga datang dengan setumpuk buku untuk disumbangkan ke perpustakaan. Dan mereka memiliki program kembali ke sekolah untuk membantu membenahi perpustakaan.

4. Hidupkan Taman Bacaan
Ada banyak sekolah dasar negeri yang tidak memiliki perpustakaan. Tapi biasanya dalam satu lingkungan akan ada satu dua individu yang memiliki minat baca yang tinggi dan pada akhirnya membuka rumahnya sebagai taman bacaan. Buku-buku disediakan untuk dipinjamkan. Individu seperti ini yang harus didukung penuh.
Membuat taman bacaan di era tekhnologi seperti sekarang ini tidak semudah seperti dulu. Karena yang harus dihadapi bukan sekedar membudakayakan kebiasaan membaca. Yang dihadapi adalah pergeseran kebutuhan membaca yang dan mencari ilmu, yang membuat banyak anak didik lebih suka mencari referensi cepat lewat telepon genggam mereka. Mereka hanya membutuhkan paket data untuk mengakses banyak informasi. Tinggal tulis data yang mereka inginkan, lalu muncullah semua yang bisa mereka cari.
Menurut data statistik yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada survei 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta jiwa.

Mayoritas dari jumlah tersebut adalah pengguna aktif media sosial yang Facebook menjadi media sosial yang paling banyak dikunjungi dengan 71,6 juta pengguna, diikuti Instagram sebesar 19,9 juta.

Meskipun belum optimal, tapi paling tidak Pemerintah sudah berusaha bergerak untuk menjembatani kesenjangan akan buku danj perpustakaan ini. Program bebas biaya untuk pengiriman buku ke taman-taman bacaan yang terdaftar dalam program penerima buku gratis sudah dicanangkan Presiden Jokowi, dan berlaku setiap bulannya pada tanggal 17. Siapa saja para pencinta buku yang ingin menyumbangkan bukunya lewat kantor pos (bukan agen pos) mereka dibebaskan dari biaya ongkos pengiriman, yang selama ini dikeluhkan cukup besar nominalnya.
Kebijakan pembebasan biaya kirim buku ini ditetapkan sebagai solusi dari banyaknya keluhan para penggiat literasi karena tingginya biaya pengiriman buku khususnya ke wilayah pelosok. Untuk taman bacaan yang ingin terdaftar dalam program ini, mudah sekali mendaftarnya. Hanya tinggal memasukkan data lalu mengirimkannya lewat email.
Untuk taman bacaan ini, bisa dibuat program resmi pemerintah misalnya mengadakan program satu kelurahan satu taman bacaan. Sediakan tempatnya, penuhi buku-bukunya, buat programnya. Libatkan orangtua dan beri hadiah untuk orangtua yang anaknya sering mendatangi taman bacaan tersebut. Dengan demikian orangtua pasti akan berlomba-lomba mendukung anaknya ke taman bacaan dan menjadikan membaca sebagai suatu bentuk hobi untuk mereka.

Pada akhirnya mendongkrak minat baca bukan hanya tugas perpustakaan tapi tugas semuanya. Jika menginginkan generasi yang mencintai proses, memahami segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instant, yang harus dilakukan oleh semua adalah bahu membantu menjadikan membaca sebagai budaya kita. Indonesia pasti bisa.

Rujukan :
1. Reading habit and intersest of parents and their influence on the reading habit – Ntombifuthi Patricia
2. Reading Habit in Scotland – Vivienne Seonaid Dunstant
3. How Succesful People Think – Jhon C Maxwell
4. Psikologi Komunikasi – Dts Jalaluddin Rakhmat
5. Ilmu Komunikasi – Deddy Mulyana
6. www.mediaindonesia.com

Beban Mental Menulis Buku Ibadah untuk Anak

Beban mental, dan rasa takut yang luar biasa. Itu yang saya rasakan ketika dipercaya menulis buku ibadah untuk anak.
Beban mental dan rasa takut itu memang selalu saya hadirkan dalam hati ketika akan menulis. Karena tanpa rasa seperti itu, saya takut kalau-kalau saya jadi menulis sesuka hati.

Beban mental itu bukan hanya saya yang merasakan pastinya, tapi juga penulis lain. Terlebih penulis saat ini harus berani jungkir balik untuk promosi buku di sosial media. Padahal kondisi sosial media sama seperti sebuah pasar saat ini. Ada banyak toko, ada banyak orang lewat. Dan yang lewat itu bisa sambil lewat hanya melihat sekilas langsung memberi komentar yang negatif. Komentar ini yang akhirnya membuat orang lain terpancing untuk berkomentar yang negatif juga.

Ada banyak yang bisa ditulis memang. Ada banyak pilihan untuk menulis. Tapi ketika kesempatan itu datang, untuk menulis buku panduan ibadah untuk anak, apa yang harus kita lakukan?
1. Jangan terima kalau kita tidak mengerjakannya
2. Jangan terima kalau kita tidak paham ilmunya
3. Jangan terima kalau kita tidak punya kitab-kitab para ulama dan rujukan kita hanya dari google.
5. Jangan terima kalau kita menuliskannya hanya untuk dianggap lebih sholeh dan lebih pintar dari yang lain.

Menulis tutorial ibadah untuk anak itu cukup sulit. Kitab-kitab yang tebal itu harus dibaca semua, untuk dicari sari patinya. Lalu dibandingkan dengan kitab lain. Dicari juga rukuan dari video-video dari ulama yang terpercaya dan situs-situs ulama. Setelah itu tulis dalam bahasa yang dipahami anak. Untuk buku sekitar 40 halaman saya harus membaca lima kitab, masih bertanya langsung ke ulama pada saat kajian biar mendapatkan pencerahan.

Masih akan terus menulis tentang ibadah?
Masih, saya malah keranjingan menuliskannya. Karena ternyata ilmu agama saya bertambah menjadi lebih banyak setelah itu.

Menjadi Tetangga yang Bahagia

Mencari bahagia di mana?
Ada banyak dunia maya. Ada banyak penggunanya yang tidak berinteraksi dengan dunia nyata. Dan mereka benar-benar mencari bahagia di sana. Berinteraksi dengan teman-teman yang tidak pernah dijumpai. Ber ha ha hi hi. Dan tidak mau ambil pusing dengan yang ada di sekelilingnya.

Saya pernah sedih ketika bermanfaat di dunia maya, tapi tidak produktif di dunia nyata. Karena itu saya berjuang untuk menyamakan manfaat baik di dunia nyata juga dunia maya. Saling bersinergi antara dunia maya dan dunia nyata.
Adanya dunia nyata membuat para tetangga yang menyibukkan diri dengan gadget dan punya akun sosial media, jadi paham siapa saya. Dan mereka jadi semangat untuk mendorong anak-anak mereka belajar di rumah.

Seimbang dan Bahagia

Harus seimbang. Itu yang saya pikirkan masak-masak.
Saya tidak mau kelak ketika saya meninggal, yang mendoakan adalah orang-orang dari jauh. Teman-teman di dunia maya saja. Sedang tetangga kiri kanan tidak merasa apa-apa. Karena saya tidak memiliki kontribusi apa-apa untuk mereka.
Saya ingin seimbang.
Saling mendukung.
Hingga kelak Allah ridla dan merestui apa yang saya lakukan.

Para pembaca buku saya, bukan tetangga saya. Mereka banyak yang saya kenal dari dunia maya.
Tapi pada akhirnya, buku saya juga dibaca oleh tetangga saya. Karena apa? Karena mereka ingin tahu, seperti apakah buku seorang yang mengajarkan anak-anaknya menulis di rumah?

Bahagia itu sederhana.
Bahagia itu pilihan.
Dan saya bahagia karena menjalani hidup dengan seimbang. Anak-anak dan pasangan juga belajar banyak, dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh ibu mereka.

Ibu Rumah Tangga Sebagai Awal Karir

DSCF2713

Kalau ditanya apa pekerjaan saya, maka biasanya saya akan menjawab bahwa saya ibu rumah tangga yang juga penulis.
Kalau ditanya di mana kantor saya, maka saya akan bangga menjawab, kantor saya ada di rumah. Iya, rumah. Tempat saya berkreasi seluas-luasnya. Mengurus anak dan suami dengan segenap kemampuan saya. Mengoptimalkan apa yang dahulu tidak saya optimalkan, yaitu wilayah dapur.

Saya ibu rumah tangga seutuhnya. Memang saya adalah penulis. Tapi prioritas utama saya adalah pasangan dan anak-anak, juga segala pekerjaan rumah tangga. Saya berbakti pada suami, dan melayani anak-anak saya di rumah. Jika ada pekerjaan ke luar rumah, itu pun harus seizin suami. Jika ada tugas ke luar kota hingga beberapa hari, itu juga harus saya pastikan anak-anak ada yang mengawasi.

Saya ibu rumah tangga, bisa menghasilkan rupiah dari rumah. Karena itu agak keki ketika ada yang bilang, ibu rumah tangga tidak menghasilkan apa-apa.

Ibu Rumah Tangga yang Berbeda

Saya Ibu rumah tangga. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya resign dari pekerjaan, tetangga kiri kanan bingung. Kenapa resign. Padahal di otak saya berputar banyak pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah. Menulis tentu saja. Dan mengurus anak. Iya mengurus anak dengan segala macam teori yang sudah saya makan, dari buku-buku parenting sejak zaman saya sekolah.
Karena itu ketika semua heran dengan keputusan saya, saya justru tertantang untuk membuktikan. Bahwa saya adalah ibu rumah tangga yang berbeda. Saya ibu rumah tangga yang berjuang menghasilkan generasi penerus yang kualitasnya lebih baik dari saya.

Tentu saja jika ingin kualitas anak meningkat, maka artinya saya harus belajar.
Belajar yang banyak, termasuk meluaskan pikiran. Terus berteman dengan siapa saja. Berjuang juga untuk jadi kepala bukan ekor di lingkungan.
Kepala?
Iya, maklum mindset yang ada di setiap benak orang adalah, menjadi ibu rumah tangga itu artinya selesai. Tidak usah berpikir macam-macam lagi. Mengurus anak, suami, beres. Itu pekerjaannya.
Maka wajar ditemukan, ibu rumah tangga yang merasa sudah selesai itu, ketika anak-anak sekolah, suami berangkat kerja, mereka sibuk berkumpul dan menghabiskan waktu untuk ngerumpi.
Boleh? Boleh saja. Itu hak setiap orang. Tapi waktu yang terbuang itu andai saja diisi dengan hal yang bermanfaat, pasti akan jadi berbeda.

Jika ibu rumah tangga mengurangi waktu ngobrol, maka ia bisa saja melakukan hobinya. Jika satu jam waktu mengobrol dipotong, maka ibu rumah tangga yang belajar menjahit, jika setiap hari belajar, maka bisa menghasilkan jahitan pada suatu saat.
Yang belajar merajut, juga sama.
Yang mau membaca buku, bisa menyelesaikan buku yang dibacanya. Dan ilmunya pun bertambah.

Menjadi ibu rumah tangga untuk saya adalah langkah awal sebuah karir. Pintu pembuka. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa membentuk seperti apa anak saya, dan memberi asupan makanan coba-coba dari resep yang saya pelajari.
Kalau masih bekerja di kantor, mungkin saya masih menyerahkan pada makanan instant, atau warung terdekat. Saya dan anak-anak tidak sama berkembang.
Saya yang dulu tidak bisa memasak, sekarang malah bisa memasak apa saja yang saya suka. Dan tentu imbasnya adalah saya paham bagaimana mengatur uang dengan baik. Dulu ketika ngantor, tidak terpikir hal seperti itu.
Saya juga paham bagaimana meningkatkan kemampuan, dengan banyak belajar dari ibu-ibu rumah tangga lain yang punya visi masa. Bahwa ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir.

Jika ibu rumah tangga punya kemampuan menjahit, ia bisa mulai membuat banyak kerajinan tangan, lalu dipasarkan. Itu karir untuknya.
Jika ia bisa mengajar, maka bisa mengajari anak-anak tetangganya. Dan itu juga karir.
Jika bisa memasak, maka bisa mulai menjual makanan buatannya. Banyak ibu-ibu muda yang keteteran dengan waktu mengurus dua anak balita, butuh sayuran matang. Dan itu pasti laris manis.
Jika bisa memasak kue, bisa titip ke warung-warung atau mulai menerima pesanan.
Bukankah itu artinya ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir?

“Bu, cita-cita aku mau jadi ibu rumah tangga.”
Ketika pola pikir kita tentang ibu rumah tangga sudah berubah, percayalah kita tidak akan resah ketika anak gadis kita punya cita-cita menjadi ibu rumah tangga. Justru kita mulai membekali anak gadis kita dengan banyak keahlian. Sehingga kelak ia akan menjadi ibu rumah tangga yang bisa mengubah lingkungan yang buruk menjadi baik.

Selembar Surat

selembar-surat

Batang-batang jati sudah membesar, sepertinya lebih besar dari selimut yang Win bawa, yang sekarang berada di bagian depan sepeda, yang dikayuh oleh Ken. Hawa gunung Kawi menyergap sempurna. Aroma dingin membuat Win ingin bergegas pergi.
“Dulu itu…”
Win tersenyum pada Ken.

Dulu itu sepenggal kisah pernah terukir. Ketika ia senang sekali menghentikan sepedanya. Berhenti pada satu belokan sebelum jembatan, lalu ia geletakkan sepedanya begitu saja. Biasanya setelah itu, tangannya akan meraih sesuatu dari tas yang dicangklongnya. Tas dari kain berwarna abu-abu, yang ia hias dengan pita hasil rajutan dari benang wol berbeda warna.
Kala itu kakinya masih bersepatu abu-abu tanpa hak. Dihiasi dengan kaos kaki berwarna abu-abu juga yang melindungi betis kecilnya dan kemudian ditutup dengan rok abu-abu sebatas betis.
Lalu Win akan berjongkok, karena harus melompati selokan kecil berair jernih, yang airnya mengalir cukup deras. Nanti ia akan berhenti pada satu pohon jati, dengan batang yang ditempeli nomor. Batang jati paling kecil. Seperti tubuhnya. Bernomor delapan nomor kesukaannya.
Win akan mengambil sekop kecil yang memang ia bawa di dalam tasnya. Terselip diantara buku-bukunya terbungkus kain cukup tebal, agar bagian sisinya yang tajam tidak melukainya, ketika ia tanpa sadar mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Selembar surat berwarna merah jambu. Selembar surat yang ditulis pada kertas surat warna merah jambu, dengan amplop manis berwarna biru bergambar sepasang pengantin kartun yang saling bergandengan tangan, dan mata saling menatap.
Win ingat, ia sangat semangat mengorek tanah di ujung kakinya dengan sekop itu, lalu menyimpan surat yang dipegang di tangan kirinya ke dalam lubang yang ia buat. Lubang itu ia alasi dengan daun jati yang cukup lebar, yang ia lipat sesuai ukuran lubang. Lalu menimbunnya dengan cepat, dan menutupi kembali dengan daun jati kering sebelum akhirnya menimbunnya dengan tanah.
Wajah Win berseri-seri. Selembar surat yang ke sepuluh untuk Pak Guru Warno.
Win ingat bahkan setelah itu ia akan terus menoleh ke arah pohon jati, hingga pernah sebuah motor membunyikan klakson berkali-kali ke arahnya.

“Bernama kenangan…,” ujar Ken merengkuh bahu istrinya. Mengajaknya kembali mengayuh sepeda.
Bernama kenangan yang cukup dalam, yang membuat Win berat meninggalkan desa. Bernama kenangan pula yang membuatnya patah hati lalu pergi ke kota untuk menunjukkan bukti bahwa Pak Warno telah salah karena tidak memilihnya.
“Kenangan itu membawa kamu kembali…”
Win mengangguk.
Bernama kenangan pula, yang membuatnya ingin kembali lalu menularkan kesukaanya pada puisi dan seni lainnya. Ken mendukungnya utuh. Tanpa protes. Dengan keyakinan Win dulu dibutakan cinta oleh lelaki tua yang tidak lebih gagah darinya, begitu yang Ken pikirkan.
Rumah untuk itu sudah ada. Bertahun-tahun Win menabung dari hasil kerja kerasnya di sebuah perusahaan swasta, juga dari uang puisi-puisinya di banyak media, dan kemenangan di beberapa lomba. Ken menambahi dari uang hasil penjualan lukisannya.

Tahun kemarin sepetak tanah di samping rumah ibunya dulu berhasil ia beli. Ia “sulap” menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk anak-anak desa meski belum utuh sempurna.
Seorang guru Win datangkan. Rencana ke depan, Ken juga akan ikut pindah ke desa bersama Win. Ken bisa melukis di desa dan Win bisa menulis puisi juga di sana.
“Bernama kenangan…,” Ken bersiul. Kepalanya menoleh pada seorang gadis SMA bersepeda berkepang dua. “Mungkin seperti itu, Win?”
Win cemberut. “Dia lebih cantik,” ujarnya seperti menggerutu.
Ada selimut tebal oleh-oleh untuk Bu Linda darinya. Selimut itu memenuhi sepeda yang dinaiki Ken.
Untuk mencapai rumah Pak Warno mereka harus melewati sekolah tempat Win dulu bertemu Pak Warno. Sebuah berita disampaikan temannya, yang masih tinggal di desa. Pak Warno sakit keras.
“Namanya siapa?” Ken menggoda. “Warno. Lebih keren aku, kan?”

Lelaki itu bernama Pak Warno dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya. Lelaki itu yang suka mengajari Win dan teman-teman sekelas lainnya berpuisi. Puisi-puisinya pada awalnya tidak Win mengerti.
“Apa itu namanya cinta?”
Win ingat, ketika kalimat itu terucap olehnya, wajah Pak Warno menjadi tegang. Pak Warno pasti mendengar suaranya. Tapi Pak Warno pasti juga tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Win suka sekali melihat rambut Pak Warno yang berbeda warna. Apalagi ketika sinar matahari menerobos masuk lewat jendela kaca yang besar.

Pak Warno, lelaki yang gagah di mata Win. Pasti di mata yang lain juga seperti itu.
Win tahu di meja kerja Pak Warno selalu ada getuk berwarna-warni kiriman dari Trinil biduan dangdut. Getuk itu sewarna dengan kostum penyanyi dangdut yang norak di mata Win. Getuk itu juga ada yang berwarna hitam mirip dengan bulu mata palsu Trinil yang diberi mascara tebal, hingga membuat matanya menjadi menakutkan, dan sering Win leletkan lidah di belakangnya. Suaranya nyaring bahkan ketika sudah jauh dari sekolah.

Di meja kerja Pak Warno juga akan ada kue bolu kukus dari tepung singkong, yang akan Lia beri padanya. Lia, janda pemilik toko kue di pasar yang laris manis. Yang bolunya selalu saja diminati banyak orang. Hanya saja, Pak Warno kelihatan tidak suka dengan Mbak Lia.
Juga ada singkong rebus dari Bu Janti sambil berdoa agar Pak Warno diberikan jodoh. Win tahu jodoh yang dimaksud itu adalah anak Bu Warno yang belum menikah juga meski sudah berumur.
“Siapa nama istrinya?” Ken memecah lamunan Win.
Kabut mulai turun. Ia merapatkan jaketnya. Kakinya mengayuh sepeda lebih kuat lagi. Mungkin ia harus balapan dengan Ken.
“Bu Linda…,” teriak Win menggeleng seperti malu mengenang masa lalunya.
“Jadi kita langsung ke rumahnya?”
Win mengangguk. Mereka harus cepat sampai ke rumah Bu Linda.
**
Mata tua perempuan itu memandangi jalan kecil yang membelah desa. Kabut sudah mulai turun. Seluruh jendela di ruangan tempat suaminya dirawat sudah ditutup rapat. Hanya angin sore menelusup lewat celah lubang angin yang cukup lebar.
“Mas sudah dengar?”
Warno menganggukkan kepalanya. Terbatuk. Selimut sudah menutupi tubuhnya. Jaket tebal sudah dipakai.
“Win datang dengan suaminya. Mas ingat dengannya?”
Warno mendengarkan. Ingatannya semakin menua. Tapi gadis kecil itu tidak pernah hilang dari ingatannya.
**
Mereka gagal bertemu. Rumah itu kosong sedang senja sudah ingin beranjak pergi.
Ken mengajaknya kuat-kuat mengayuh sepeda. Mereka harus pulang setelah berhenti di warung bakso, dan Ken menghabiskan dua mangkuk bakso plus separuh yang diminta dari Win.
Win merapatkan jaketnya. Hawa gunung Kawi di desa Jugo tempat ia dulu dibesarkan, mulai tidak bisa lagi diakrabinya. Delapan tahun yang lalu ia tinggalkan. Semenjak Ibu pergi untuk selamanya nyaris ia hanya datang hanya melongok, tidak ingin singgah lebih lama.

Malam sudah dipenuhi cahaya. Tiba-tiba Win rindu menulis pada kertas surat yang berada dalam sebuah buku. Seperti dulu.
Ken sudah tidur dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Sudah Win katakan berkali-kali bahwa Ken harus membawa selimut lebih tebal lagi Tapi Ken selalu menolak lalu berpikiran bahwa ia yakin akan kuat dengan hawa dingin.
Win tersenyum sendiri.
Delapan tahun sudah berlalu tapi bayangan Pak Warno masih lekat di ingatannya. Pak Warno lelaki yang membuat Win ingin menulis. Menulis segala rasa cinta, menulis segala rasa sakit hati.
Di depan jendela kamarnya, di bawah temaran lampu Win mulai menulis.
Win ingat pada setiap bulan purnama yang cahayanya terlihat dari jendela kayu yang ia buka lebar-lebar ia berharap cahaya. Cahaya cinta yang bisa ia ambil lalu energinya ia sebarkan pada selembar kertas yang terhampar di hadapannya.

Sebuah puisi Win tulis di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikumpulkan. Tugas dari Pak Warno. Lalu Pak Warno membacanya dan anak-anak di kelas yang mendengar bersuit-suit sehingga pipi Win memerah karenanya.
Sebatang pohon jati menanti.
Sepucuk hati aku titipkan pada akar-akar jati.
Purnama di langit Win pandangi.
Pada surat kedua puluh yang ia tulis pada Pak Guru Warno, Ibu datang padanya dan memintanya berhenti.
Terdengar suara Ken mengorok.
Win tahu, sudah saatnya Win tutup buku dan menemani Ken.
**
Jika itu Win, maka kenangan lama akan terseret kembali.
Bu Linda memandangi suaminya.
Gadis kecil bernama Win itu luar biasa hebatnya. Mampu mengungkapkan apa yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Gadis kecil itu suka sekali menulis puisi lalu puisi yang belum jadi itu diberikan pada dirinya untuk dikoreksi.

“Kamu jatuh cinta?” begitu dulu ia biasa bertanya.
Lalu Win menunduk. Tulisannya belum sempurna. Puisinya belum indah.
Gadis kecil itu dulu selalu memberikan terlebih dulu surat-surat itu pada dirinya lalu ia akan menyempurnakannya. Setelah sempurna, baru Win akan meletakkannya pada lubang dekat pohon jati di dekat jembatan setiap kali ia akan berangkat sekolah.
Win pasti terinspirasi dari cerita cinta yang Mas Warno sering ceritakan di kelas tentang surat-surat cinta di bawah pohon jati.
“Matamu bundar seperti bola….,” Ia tersenyum kala itu ketika membacanya. “Matamu indah dan teduh…,” ia bicara pada Win untuk membetulkan kalimat yang Win tulis.
“Mungkin samudra hatimu penuh kotoran…”
Kala itu ia terkikik. “Mungkin ada jentik di hatimu yang membuat sinyal di hatiku tak sampai kepadamu…”
Bu Linda menarik napas panjang.
Ia juga sudah mendengar banyak cerita tentang Win. Win yang menghilang seusai pernikahan dirinya dengan Mas Warno.

Dua tahun yang lalu, ia mendapat kabar tentang Win. Puisi-puisi indahnya hadir di banyak surat kabar. Nama Win juga ia lihat dalam sebuah majalah. Seorang penyair yang membuka sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Dan kemarin, ia sempat melihat papan nama besar di tempat dulu Win tinggal bertuliskan “Sekolah Win”.
**
Ken memaksa. Tapi Win suka dipaksa karena itu selalu cara Ken untuk membuatnya merasa jatuh cinta dan meninggalkan masa lalu. Pagi tadi seusai nasi pecel di warung pojok tempat langganan Win dulu, Ken mengajaknya bersepeda lagi. Menuju hutan jati. Hutan jati yang batang-batangnya sudah membesar.
Win menantang Ken untuk memboncengnya dan Ken setuju.
Win tidak lupa dimana ia pernah berhenti. Lalu mengambil sekop dari dalam tasnya dan melubangi satu tanah di dekat satu batang jati untuk meletakkan surat yang ia tulis sepenuh hati bagi Pak Warno. Pohon jati nomor delapan.

“Kapan aku menerima surat cinta darimu yang harus aku ambil dari dalam tanah?” Ken menggoda ketika mereka sudah sampai di depan hutan jati.
Banyak hutan jati tumbuh di desa. Ada hutan jati seluas satu hektar lalu dipisahkan oleh beberapa rumah, akan bertemu dengan hutan jati lagi yang lebih luas lagi.
“Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Ken yang berjongkok di antara batang-batang jati. Tangannya mencongkel-congkel tanah di dekat kakinya. “Siapa tahu ada surat yang tertinggal,” ujarnya seperti menggoda.
Win memandangi Ken. Tidak akan mungkin ada surat yang tertinggal sebab semuanya sudah diambil oleh Pak Warno, lalu dijadikan seserahan pernikahan pada Bu Linda.
Win ingat, setelah tahu surat itu diambil, ia jadi sering mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya ia buat digulung seperti gulungan kepunyaan Bu Linda. Wajahnya ia baluri dengan bedak dari bengkoang yang ia parut, lalu ia jemur agar hanya tersisa patinya saja. Agar kulit wajahnya seputih kulit wajah Bu Linda.
“Kenapa mesti Pak Warno?”
Win menggeleng lalu menahan tawanya ketika Ken mendapati sesuatu dari dalam tas. Bukan, bukan selembar surat tapi sebuah plastik berwarna hitam.
Bayangan Ken seolah berganti dengan bayangan lelaki yang sudah berumur. Duduk berjongkok mengambil surat-surat yang Win pendam. Surat berisi puisi yang sebagian besar dibetulkan oleh Bu Linda. Surat dipenuhi rindu dan rindu itu tidak tertangkap sempurna oleh Pak Warno, yang sudah menduda tiga kali karena ditinggal mati istrinya.
“Aku tahu itu namanya pelampiasan cinta…,” Ken membersihkan tangannya lalu menepuk pipi Win.
Win mengangguk. Bisa jadi itu pelampiasan cinta karena tidak pernah ia kenal sosok ayahnya semenjak bayi dan Ibu menutup mulut setiap kali ditanya.
“Ke gunung aku ikut….” Ken mulai bernyanyi.
Dan tangan Win langsung melayang mencubit pinggang Ken.
**
“Apa Win masih ingat?”
Bu Linda memandangi suaminya. Belakangan ini asma suaminya kambuh terlalu cepat. Berbagai macam terapi sudah dilakukan.
“Surat-surat itu…”
Bu Linda tersenyum sendiri. Mungkin Win tidak akan pernah lupa. Setumpuk surat yang dibungkus kain berwarna biru, yang ikut dijadikan seserahan mas kawin untuknya. Puisi-puisi milik Win yang dipoles olehnya. Puisi untuk Mas Warno yang tidak begitu dipahami bahasanya oleh Mas Warno karena terlalu kekanakan begitu katanya.
Belum lama Bu Linda akhirnya bicara jujur.
Tentang surat tanpa nama yang dipendam di salah satu pohon jati. Itu surat Win. Tanda cinta tapi tak berani diungkapkan.
“Kita berikan Win saja. Itu miliknya. Mungkin berguna untuk Win berikan pada suaminya.”
Warno memandangi Linda istrinya. Ia menganggukkan kepalanya.
**
Win tahu Ken memandangnya.
Mungkin memandang tumpukan surat itu. Mungkin juga memandangi pada saat Win tadi bicara dengan Pak Warno tanpa Bu Linda.
Setumpuk surat puisi dari Win yang tadi diserahkan Pak Warno padanya, sambil meminta maaf karena tidak pernah paham surat itu Win buat khusus untuknya.
Win menarik napas panjang.
“Seringlah main ke sini…,” ujar Bu Linda tadi ketika melepasnya pergi.
“Bapak juga mau mengajar menulis puisi di sekolahmu. Boleh?” tanya Pak Warno.
Sekarang, ia biarkan Ken mengayuh sepedanya mengikuti alur jalan desa yang berkelok dan sedikit curam. Di hutan jati Ken berhenti.
“Mau apa?” tanya Win.
Ken memandangi Win. “Sudah selesai cintanya dan tidak perlu ada kenangan, kan? Apalagi kenangan pahit?”
Win mengangguk. Membiarkan Ken turun dari sepeda menuju satu batang pohon jati. Ken mencongkel-congkel tanah di bawah pohon itu dengan sekop kecil yang Win juga tidak menyangka dibawa oleh Ken. Lalu mengubur surat-surat itu.
Selesai sudah. Tidak ada yang tersisa. Tidak rasa rindu juga sakit hati.
“Aku semakin cinta…,” ujar Ken merangkul bahu Win. “Kamu…
Win tidak perlu menjawab. Ken sudah paham isi hatinya. Sepanjang perjalanan pulang tangan Win memeluk pinggang Ken erat-erat.

Full Day School, Orangtua yang Berani Memutuskan

At di Bandung

Full day school. Ngeri ya kedengarannya.
Sehari penuh di sekolah, di rumah tinggal capeknya. Anak-anak di sekolah, ibu bapaknya di tempat kerja. Ketika sampai di rumah sudah capeklah semuanya.

Wacana full day school mencuat belakangan ini, meski akhirnya peraturannya segera diganti karena banyaknya yang protes.
Banyak yang merasa harus mem full day kan anak, karena tidak sanggup mendidik mereka. Kata tidak sanggup itu, akhirnya membuat mereka pasrah dan menekan juga pada anak-anak. Pasrah dengan apa maunya sekolah dan peraturan dan menekan anak untuk jadi terbaik di semua bidang. Hayo, mana bisa kan terbaik di semua bidang?

Ada masa anak untuk bermain, maka penuhilah hak anak untuk itu.
Saya justru senang mengambil sesuatu yang berseberangan dengan orang lain. Ketika yang lain mem full day kan anak-anak di usia SD, saya siap dengan memasukkan mereka ke SD negeri yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja artinya satu kelas dibagi di tiga shift. Kelas satu masuk jam tujuh pulang jam sembilan. Seringnya masuknya jadi jam setengah delapan dan pulang setengah sembilan.
Hayo?
Dapat apa di sekolah?
Saya yakin mereka dapat pertemanan yang beragam. Sisa waktu mereka adalah tanggung jawab saya sebagai orangtua. Saya ajarkan banyak hal.

Ketika hujan deras dan orangtua lain melarang anak bermain, saya malah mengajak mereka mandi hujan pakai jas hujan.
Pura-puranya pakai jas hujan biar enggak dianggap aneh oleh yang lain. Terus kami ke tempat yang masih ada sungai dan banyak kodok berbunyi. Kodok yang berbunyi itu biasanya akan membuat lehernya jadi menggelembung. Itu yang saya tunjukkan pada anak-anak.
Jas hujan tidak menutupi kami dari hujan tidak apa-apa. Wong intinya kami belajar sambil bermain. Anak bukan sekedar mendapat ilmu tapi merasakan cinta kasih saya.

Saya merasa, saya harus memberikan semuanya, termasuk kebahagiaan bermain pada anak-anak hingga mereka masuk usia remaja, alias lulus SMP.
Ada banyak yang tidak sepaham dengan saya. Menyekolahkan anak di sd negeri kampung dengan pengajaran ala kadarnya, akan membuat anak tidak pintar. Ahai, tidak penting apakah mereka pintar untuk saya. Yang penting mereka punya empati besar. Dan empati itu yang akan membuat mereka jadi manusia bermanfaat. Pintar di sekolah itu masalah angka. Dan itu mudah didapatkan.

Akhirnya Full Day School

Full day school adalah sebuah keputusan untuk saya. Keputusan panjang.
Karena apa? Usia anak-anak sudah semakin besar. Mereka selama ini sudah banyak belajar dari saya dan pasangan. Mereka sudah melihat kami utuh berjuang menjadi teladan. Sekarang saatnya untuk mengambil teladan orang lain, yang sepaham dengan kami.

Full day school dipilih harus dipertimbangkan. Banyak SMPIT di kota Bekasi, tapi saya jatuh hati dengan satu tempat. Kalau SMPIT lain lelaki dan perempuan masih dicampur. Sekolah ini dipisah antara lelaki dan perempuan. Dan pola pendidikan antara anak lelaki dan perempuan berbeda. Maka kaget saya waktu ke sana dan mendapati anak-anak perempuannya bicara dengan lembut.
Tidak ada telepon genggam. Semua orangtua murid terhubung dengan guru.
Sabtu ada ekstra kurikuler. Jam belajar jam tujuh pagi teng sampai jam empat dengan asyar berjamaan dan tausiyah. Ada hapalan Al Quran, ada jam khusus bahasa Inggris dan Arab.
Ada juga program mentoring. Jadi anak-anak pergi dengan satu guru untuk menjelajah suatu tempat.
Dan yang lebih penting lagi, selepas mereka dari SMPIT itu, mereka tetap dipantau dengan program mentoring sampai lulus SMA. Kalau orangtua menolak, maka harus tanda tangan surat di atas materai.
Untuk orangtuanya, ada pengajian rutin setiap minggu. Dan ada seminar parenting setiap tiga bulan sekali.

Sekolahnya masih ada PR. Kadang bertumpuk. Tapi PR untuk saya bukan masalah besar. Ayo kerjakan bersama-sama. Jadi mereka merasa tidak sendirian. Ibu harus memeras otak lagi, agar anak-anak tahu Ibu berjuang untuk bisa, dan mereka juga harus melakukannya.

Full day school buat saya adalah sebuah keputusan. Apalagi mereka sudah abege dan condong mendengarkan orang lain ketimbang orangtuanya. Lalu apa salahnya memilihkan tempat yang visi dan misinya sama dengan saya? Sehingga mereka ada di jalur yang tepat.
Kenapa tidak di pesantren?
Tidak. Karena saya ingin anak melangkah pelan tapi pasti.
Dari SD negeri fokus dari saya pelajaran empati, masuk ke SMPIT dengan standar seperti pesantren. Hingga tumbuh kesadaran anak, bahwa ia harus masuk ke mana.
Alhamdulillah, Sulung sudah memutuskan ia akan melanjutkan SMA nya di sebuah pesantren.
Saya dan suami juga belajar banyak setelah anak-anak di SMPIT. Karena kadang ketika pulang, anak membawa pelajaran tentang akhlak juga adab. Dan itu dilakukan.
“Kenapa makannya tidak pakai sendok?”
“Ini sunnah,” jawab Sulung sambil menjilati jarinya.
Lalu lain waktu.
“Adab harus diperhatikan,” ujarnya pada adiknya yang pakai rok pendek. “Berpakaian juga ada adabnya.”

Well, semua berproses.
Full day school buat saya cocok, buat orangtua lain belum tentu.
Jadi nikmati saja apa yang cocok untuk diri kita, bukan untuk orang lain.

Tips Keluar dari Perasaan Sensitif

IMG-20160617-WA0029

Perasaan sensitif sama seperti perasaan lainnya. Ia ada dalam diri setiap manusia. Hanya sebagian manusia cenderung untuk melebihkan perasaan ini. Sebagian lain melebihkan perasaan atau emosi yang lain.
Individu yang melebihkan perasaan sensitif ini, akhirnya jatuh pada perasaan mudah terluka. Entah itu terluka pada sikap orang lain atau pada kalimat orang lain.
Sensitif bisa dijadikan sikap yang positif bila itu mendatangkan empati. Tapi jika itu hanya mendatangkan perasaan luka dan tersisih, maka pada saat itu perasaan sensitif sudah harus ditinggalkan dari kehidupan kita.
Jika kita memiliki rasa sensitif berlebihan, ini yang harus kita lakukan .

1. Kenapa Bisa Terjadi?
Untuk keluar dari suatu kesalahan, maka kita harus tahu bahwa apa yang selama ini kita lakukan adalah salah. Ketika kita sudah tahu perasaan sensitif itu mengganggu aktivitas kita karena sudah terlalu berlebihan, maka yang harus kita lakukan adalah menyelesaikannya.
Ada banyak cara untuk menyelesaikan hal itu. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan berani menuliskan tentang diri kita sendiri secara jujur.
Tentunya hanya kita yang paham darimana awalnya sifat sensitif itu. Apakah dari didikan keluarga kita atau memang karena kita terlalu melindungi diri kita sendiri?
Jika itu didikan dari keluarga kita yang terlalu melindungi diri kita, sehingga kita menjadi sensitif ketika ada orang yang menyingung perasaan, maka ubahlah pelan-pelan.
Tapi jika masalah sensitif itu hadir karena memang kita memiliki masalah sakit hati atau trauma di masa lalu, jelas yang harus kita lakukan adalah berani untuk menyembuhkan luka itu terlebih dahulu sebelum akhirnya melupakannya.

2. Seberapa Pentingkah Kita?
Jika kita adalah pribadi yang sensitif kita akan selalu berpikir bahwa diri kita penting. Kita jadi mudah merasa kalau orang lain itu membicarakan kita. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Kita bahkan sering mengalami ketakutan berlebihan dan curiga ketika ada orang yang tidak jauh dari kita, melihat dengan pandangan tidak enak pada kita. Seolah-olah mereka sedang berpikiran yang tidak baik tentang kita.
Coba buang pikiran buruk tentang hal itu dan ganti dengan sesuatu yang positif. Sesuatu yang positif yang membuat kita sibuk pada diri kita sendiri.
Jadilah pribadi yang memang penting untuk dibicarakan kebaikannya bukan keburukannya. Sehingga ketika mulai muncul perasaan bahwa orang lain membicarakan kita, yang ada di hati kita adalah perasaan bangga. Sebab kita yakin mereka pasti sedang membicarakan kebaikan kita.

3. Jangan Berteman Dengan Masa Lalu
Masa lalu orang yang sekarang ini terlalu peka atau sensitif bukanlah masa lalu yang mudah pastinya. Masa lalu yang membuat seorang sulit bangkit di masa depan, pasti bukan sesuatu yang bisa ditanggung oleh semua orang. Tapi tenggelam dalam masa lalu juga tidak akan mungkin menyelesaikan masalah.
Meninggalkan masa lalu tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah menghapus semua jejak di masa lalu. Bisa dengan cara meninggalkan lingkungan tempat masa lalu kita berada, atau dengan memutus komunikasi dengan orang-orang di masa lalu yang menyakitkan hati kita.
Dan tentu saja cara yang paling efektif adalah merubah pola pikir kita. Camkan saja dalam pikiran bahwa masa lalu adalah hikmah, pasti kita akan terus beryukur karena sudah jadi pribadi yang berbeda.

4. Lawan Perasaan itu
Setiap kali perasaan sensitif muncul, maka yang harus kita lakukan adalah melawannya dengan hal lain yang lebih menyehatkan kita.
Ketika kita merasa tersisih, kita bisa berdiri di depan cermin sambil tersenyum lalu beri affirmasi positif pada diri sendiri. Katakan saja, bahwa kita hebat dan ada saatnya orang lain tahu akan kehebatan kita itu.
Atau tekuni hobi kita. Semisal kita hobi masak, maka ketika perasaan sensitif itu datang, lawan saja dengan berkutat pada masakan yang akan kita buat. Sehingga kita fokus pada masakan dan melupakan perasaan kita itu.
Kadang-kadang kita juga butuh orang lain untuk membuat kita mampu melawan perasaan itu. Membandingkan perjalanan hidup orang lain yang lebih sulit tentu saja, akan membuat kita akan merasa bahwa perasaan yang kita miliki sebenarnya hal yang sepele dan harus cepat ditinggalkan.

5. Buat Agenda Baru di Kehidupan Baru
Banyak hal penting yang belum kita raih. Banyak juga cita-cita kita di masa lalu yang mungkin memang harus mulai kita raih dari sekarang ini.
Lupakan usia kita dan coba kejar lagi impian kita yang pernah kita inginkan di masa lalu.
Kita akan merasakan hal yang membuat sensasi berbeda dan membuat kita bergairah.
Jika kita tidak bisa menghadirkan gairah untuk itu, maka bergabung saja dengan anak-anak muda yang optimis dalam menjalani hidup mereka.
Bergaul sekali dua kali mungkin tidak membawa dampak positif untuk kita. Tapi jika terus menerus melakukannya pasti kita akan terpengaruh juga.

6. Mari Bersenang-senang
Mayoritas individu yang sensitif tidak mampu bersenang-senang. Mereka tidak mungkin bersenang-senang jika perasannya selalu diliputi rasa gagal, rasa menyesal dan rasa semua orang membencinya.
Mari melupakan hal itu dengan cara bersenang-senang. Kita bisa memulainya dengan cara yang sederhana yaitu menonton acara komedi atau membaca buku-buku lucu yang membuat kita menjadi melupakan beban kita.
Kalau tidak mampu untuk melakukannya sendiri dan malu untuk bergabung dengan orang banyak, dekati dan tempel salah satu teman yang memang humoris daan selalu menjalani hidup tanpa beban. Lama kelamaan pasti kita akan terpengaruh juga.

7. Cari Penolong
Jika semua sudah kita lakukan dan ternyata tidak berhasil juga, itu artinya kita sudah berada dalam taraf butuh pertolongan. Carilah penolong orang yang tepat. Orang yang tepat ini adalah orang yang memahami kita.
Orang yang tepat ini bisa orang yang lebih tua atau orang yang menurut pandangan kita adalah orang yang bijaksana.
Yang terpenting ketika kita butuh pertolongan itu, kita harus mau membuka diri dan mau meninggalkan sifat sensitif kita yang berlebihan.