Menjadi Tetangga yang Bahagia

Mencari bahagia di mana?
Ada banyak dunia maya. Ada banyak penggunanya yang tidak berinteraksi dengan dunia nyata. Dan mereka benar-benar mencari bahagia di sana. Berinteraksi dengan teman-teman yang tidak pernah dijumpai. Ber ha ha hi hi. Dan tidak mau ambil pusing dengan yang ada di sekelilingnya.

Saya pernah sedih ketika bermanfaat di dunia maya, tapi tidak produktif di dunia nyata. Karena itu saya berjuang untuk menyamakan manfaat baik di dunia nyata juga dunia maya. Saling bersinergi antara dunia maya dan dunia nyata.
Adanya dunia nyata membuat para tetangga yang menyibukkan diri dengan gadget dan punya akun sosial media, jadi paham siapa saya. Dan mereka jadi semangat untuk mendorong anak-anak mereka belajar di rumah.

Seimbang dan Bahagia

Harus seimbang. Itu yang saya pikirkan masak-masak.
Saya tidak mau kelak ketika saya meninggal, yang mendoakan adalah orang-orang dari jauh. Teman-teman di dunia maya saja. Sedang tetangga kiri kanan tidak merasa apa-apa. Karena saya tidak memiliki kontribusi apa-apa untuk mereka.
Saya ingin seimbang.
Saling mendukung.
Hingga kelak Allah ridla dan merestui apa yang saya lakukan.

Para pembaca buku saya, bukan tetangga saya. Mereka banyak yang saya kenal dari dunia maya.
Tapi pada akhirnya, buku saya juga dibaca oleh tetangga saya. Karena apa? Karena mereka ingin tahu, seperti apakah buku seorang yang mengajarkan anak-anaknya menulis di rumah?

Bahagia itu sederhana.
Bahagia itu pilihan.
Dan saya bahagia karena menjalani hidup dengan seimbang. Anak-anak dan pasangan juga belajar banyak, dari apa yang mereka lihat dilakukan oleh ibu mereka.

Ibu Rumah Tangga Sebagai Awal Karir

DSCF2713

Kalau ditanya apa pekerjaan saya, maka biasanya saya akan menjawab bahwa saya ibu rumah tangga yang juga penulis.
Kalau ditanya di mana kantor saya, maka saya akan bangga menjawab, kantor saya ada di rumah. Iya, rumah. Tempat saya berkreasi seluas-luasnya. Mengurus anak dan suami dengan segenap kemampuan saya. Mengoptimalkan apa yang dahulu tidak saya optimalkan, yaitu wilayah dapur.

Saya ibu rumah tangga seutuhnya. Memang saya adalah penulis. Tapi prioritas utama saya adalah pasangan dan anak-anak, juga segala pekerjaan rumah tangga. Saya berbakti pada suami, dan melayani anak-anak saya di rumah. Jika ada pekerjaan ke luar rumah, itu pun harus seizin suami. Jika ada tugas ke luar kota hingga beberapa hari, itu juga harus saya pastikan anak-anak ada yang mengawasi.

Saya ibu rumah tangga, bisa menghasilkan rupiah dari rumah. Karena itu agak keki ketika ada yang bilang, ibu rumah tangga tidak menghasilkan apa-apa.

Ibu Rumah Tangga yang Berbeda

Saya Ibu rumah tangga. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya resign dari pekerjaan, tetangga kiri kanan bingung. Kenapa resign. Padahal di otak saya berputar banyak pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah. Menulis tentu saja. Dan mengurus anak. Iya mengurus anak dengan segala macam teori yang sudah saya makan, dari buku-buku parenting sejak zaman saya sekolah.
Karena itu ketika semua heran dengan keputusan saya, saya justru tertantang untuk membuktikan. Bahwa saya adalah ibu rumah tangga yang berbeda. Saya ibu rumah tangga yang berjuang menghasilkan generasi penerus yang kualitasnya lebih baik dari saya.

Tentu saja jika ingin kualitas anak meningkat, maka artinya saya harus belajar.
Belajar yang banyak, termasuk meluaskan pikiran. Terus berteman dengan siapa saja. Berjuang juga untuk jadi kepala bukan ekor di lingkungan.
Kepala?
Iya, maklum mindset yang ada di setiap benak orang adalah, menjadi ibu rumah tangga itu artinya selesai. Tidak usah berpikir macam-macam lagi. Mengurus anak, suami, beres. Itu pekerjaannya.
Maka wajar ditemukan, ibu rumah tangga yang merasa sudah selesai itu, ketika anak-anak sekolah, suami berangkat kerja, mereka sibuk berkumpul dan menghabiskan waktu untuk ngerumpi.
Boleh? Boleh saja. Itu hak setiap orang. Tapi waktu yang terbuang itu andai saja diisi dengan hal yang bermanfaat, pasti akan jadi berbeda.

Jika ibu rumah tangga mengurangi waktu ngobrol, maka ia bisa saja melakukan hobinya. Jika satu jam waktu mengobrol dipotong, maka ibu rumah tangga yang belajar menjahit, jika setiap hari belajar, maka bisa menghasilkan jahitan pada suatu saat.
Yang belajar merajut, juga sama.
Yang mau membaca buku, bisa menyelesaikan buku yang dibacanya. Dan ilmunya pun bertambah.

Menjadi ibu rumah tangga untuk saya adalah langkah awal sebuah karir. Pintu pembuka. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa membentuk seperti apa anak saya, dan memberi asupan makanan coba-coba dari resep yang saya pelajari.
Kalau masih bekerja di kantor, mungkin saya masih menyerahkan pada makanan instant, atau warung terdekat. Saya dan anak-anak tidak sama berkembang.
Saya yang dulu tidak bisa memasak, sekarang malah bisa memasak apa saja yang saya suka. Dan tentu imbasnya adalah saya paham bagaimana mengatur uang dengan baik. Dulu ketika ngantor, tidak terpikir hal seperti itu.
Saya juga paham bagaimana meningkatkan kemampuan, dengan banyak belajar dari ibu-ibu rumah tangga lain yang punya visi masa. Bahwa ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir.

Jika ibu rumah tangga punya kemampuan menjahit, ia bisa mulai membuat banyak kerajinan tangan, lalu dipasarkan. Itu karir untuknya.
Jika ia bisa mengajar, maka bisa mengajari anak-anak tetangganya. Dan itu juga karir.
Jika bisa memasak, maka bisa mulai menjual makanan buatannya. Banyak ibu-ibu muda yang keteteran dengan waktu mengurus dua anak balita, butuh sayuran matang. Dan itu pasti laris manis.
Jika bisa memasak kue, bisa titip ke warung-warung atau mulai menerima pesanan.
Bukankah itu artinya ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir?

“Bu, cita-cita aku mau jadi ibu rumah tangga.”
Ketika pola pikir kita tentang ibu rumah tangga sudah berubah, percayalah kita tidak akan resah ketika anak gadis kita punya cita-cita menjadi ibu rumah tangga. Justru kita mulai membekali anak gadis kita dengan banyak keahlian. Sehingga kelak ia akan menjadi ibu rumah tangga yang bisa mengubah lingkungan yang buruk menjadi baik.

Selembar Surat

selembar-surat

Batang-batang jati sudah membesar, sepertinya lebih besar dari selimut yang Win bawa, yang sekarang berada di bagian depan sepeda, yang dikayuh oleh Ken. Hawa gunung Kawi menyergap sempurna. Aroma dingin membuat Win ingin bergegas pergi.
“Dulu itu…”
Win tersenyum pada Ken.

Dulu itu sepenggal kisah pernah terukir. Ketika ia senang sekali menghentikan sepedanya. Berhenti pada satu belokan sebelum jembatan, lalu ia geletakkan sepedanya begitu saja. Biasanya setelah itu, tangannya akan meraih sesuatu dari tas yang dicangklongnya. Tas dari kain berwarna abu-abu, yang ia hias dengan pita hasil rajutan dari benang wol berbeda warna.
Kala itu kakinya masih bersepatu abu-abu tanpa hak. Dihiasi dengan kaos kaki berwarna abu-abu juga yang melindungi betis kecilnya dan kemudian ditutup dengan rok abu-abu sebatas betis.
Lalu Win akan berjongkok, karena harus melompati selokan kecil berair jernih, yang airnya mengalir cukup deras. Nanti ia akan berhenti pada satu pohon jati, dengan batang yang ditempeli nomor. Batang jati paling kecil. Seperti tubuhnya. Bernomor delapan nomor kesukaannya.
Win akan mengambil sekop kecil yang memang ia bawa di dalam tasnya. Terselip diantara buku-bukunya terbungkus kain cukup tebal, agar bagian sisinya yang tajam tidak melukainya, ketika ia tanpa sadar mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Selembar surat berwarna merah jambu. Selembar surat yang ditulis pada kertas surat warna merah jambu, dengan amplop manis berwarna biru bergambar sepasang pengantin kartun yang saling bergandengan tangan, dan mata saling menatap.
Win ingat, ia sangat semangat mengorek tanah di ujung kakinya dengan sekop itu, lalu menyimpan surat yang dipegang di tangan kirinya ke dalam lubang yang ia buat. Lubang itu ia alasi dengan daun jati yang cukup lebar, yang ia lipat sesuai ukuran lubang. Lalu menimbunnya dengan cepat, dan menutupi kembali dengan daun jati kering sebelum akhirnya menimbunnya dengan tanah.
Wajah Win berseri-seri. Selembar surat yang ke sepuluh untuk Pak Guru Warno.
Win ingat bahkan setelah itu ia akan terus menoleh ke arah pohon jati, hingga pernah sebuah motor membunyikan klakson berkali-kali ke arahnya.

“Bernama kenangan…,” ujar Ken merengkuh bahu istrinya. Mengajaknya kembali mengayuh sepeda.
Bernama kenangan yang cukup dalam, yang membuat Win berat meninggalkan desa. Bernama kenangan pula yang membuatnya patah hati lalu pergi ke kota untuk menunjukkan bukti bahwa Pak Warno telah salah karena tidak memilihnya.
“Kenangan itu membawa kamu kembali…”
Win mengangguk.
Bernama kenangan pula, yang membuatnya ingin kembali lalu menularkan kesukaanya pada puisi dan seni lainnya. Ken mendukungnya utuh. Tanpa protes. Dengan keyakinan Win dulu dibutakan cinta oleh lelaki tua yang tidak lebih gagah darinya, begitu yang Ken pikirkan.
Rumah untuk itu sudah ada. Bertahun-tahun Win menabung dari hasil kerja kerasnya di sebuah perusahaan swasta, juga dari uang puisi-puisinya di banyak media, dan kemenangan di beberapa lomba. Ken menambahi dari uang hasil penjualan lukisannya.

Tahun kemarin sepetak tanah di samping rumah ibunya dulu berhasil ia beli. Ia “sulap” menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk anak-anak desa meski belum utuh sempurna.
Seorang guru Win datangkan. Rencana ke depan, Ken juga akan ikut pindah ke desa bersama Win. Ken bisa melukis di desa dan Win bisa menulis puisi juga di sana.
“Bernama kenangan…,” Ken bersiul. Kepalanya menoleh pada seorang gadis SMA bersepeda berkepang dua. “Mungkin seperti itu, Win?”
Win cemberut. “Dia lebih cantik,” ujarnya seperti menggerutu.
Ada selimut tebal oleh-oleh untuk Bu Linda darinya. Selimut itu memenuhi sepeda yang dinaiki Ken.
Untuk mencapai rumah Pak Warno mereka harus melewati sekolah tempat Win dulu bertemu Pak Warno. Sebuah berita disampaikan temannya, yang masih tinggal di desa. Pak Warno sakit keras.
“Namanya siapa?” Ken menggoda. “Warno. Lebih keren aku, kan?”

Lelaki itu bernama Pak Warno dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya. Lelaki itu yang suka mengajari Win dan teman-teman sekelas lainnya berpuisi. Puisi-puisinya pada awalnya tidak Win mengerti.
“Apa itu namanya cinta?”
Win ingat, ketika kalimat itu terucap olehnya, wajah Pak Warno menjadi tegang. Pak Warno pasti mendengar suaranya. Tapi Pak Warno pasti juga tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Win suka sekali melihat rambut Pak Warno yang berbeda warna. Apalagi ketika sinar matahari menerobos masuk lewat jendela kaca yang besar.

Pak Warno, lelaki yang gagah di mata Win. Pasti di mata yang lain juga seperti itu.
Win tahu di meja kerja Pak Warno selalu ada getuk berwarna-warni kiriman dari Trinil biduan dangdut. Getuk itu sewarna dengan kostum penyanyi dangdut yang norak di mata Win. Getuk itu juga ada yang berwarna hitam mirip dengan bulu mata palsu Trinil yang diberi mascara tebal, hingga membuat matanya menjadi menakutkan, dan sering Win leletkan lidah di belakangnya. Suaranya nyaring bahkan ketika sudah jauh dari sekolah.

Di meja kerja Pak Warno juga akan ada kue bolu kukus dari tepung singkong, yang akan Lia beri padanya. Lia, janda pemilik toko kue di pasar yang laris manis. Yang bolunya selalu saja diminati banyak orang. Hanya saja, Pak Warno kelihatan tidak suka dengan Mbak Lia.
Juga ada singkong rebus dari Bu Janti sambil berdoa agar Pak Warno diberikan jodoh. Win tahu jodoh yang dimaksud itu adalah anak Bu Warno yang belum menikah juga meski sudah berumur.
“Siapa nama istrinya?” Ken memecah lamunan Win.
Kabut mulai turun. Ia merapatkan jaketnya. Kakinya mengayuh sepeda lebih kuat lagi. Mungkin ia harus balapan dengan Ken.
“Bu Linda…,” teriak Win menggeleng seperti malu mengenang masa lalunya.
“Jadi kita langsung ke rumahnya?”
Win mengangguk. Mereka harus cepat sampai ke rumah Bu Linda.
**
Mata tua perempuan itu memandangi jalan kecil yang membelah desa. Kabut sudah mulai turun. Seluruh jendela di ruangan tempat suaminya dirawat sudah ditutup rapat. Hanya angin sore menelusup lewat celah lubang angin yang cukup lebar.
“Mas sudah dengar?”
Warno menganggukkan kepalanya. Terbatuk. Selimut sudah menutupi tubuhnya. Jaket tebal sudah dipakai.
“Win datang dengan suaminya. Mas ingat dengannya?”
Warno mendengarkan. Ingatannya semakin menua. Tapi gadis kecil itu tidak pernah hilang dari ingatannya.
**
Mereka gagal bertemu. Rumah itu kosong sedang senja sudah ingin beranjak pergi.
Ken mengajaknya kuat-kuat mengayuh sepeda. Mereka harus pulang setelah berhenti di warung bakso, dan Ken menghabiskan dua mangkuk bakso plus separuh yang diminta dari Win.
Win merapatkan jaketnya. Hawa gunung Kawi di desa Jugo tempat ia dulu dibesarkan, mulai tidak bisa lagi diakrabinya. Delapan tahun yang lalu ia tinggalkan. Semenjak Ibu pergi untuk selamanya nyaris ia hanya datang hanya melongok, tidak ingin singgah lebih lama.

Malam sudah dipenuhi cahaya. Tiba-tiba Win rindu menulis pada kertas surat yang berada dalam sebuah buku. Seperti dulu.
Ken sudah tidur dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Sudah Win katakan berkali-kali bahwa Ken harus membawa selimut lebih tebal lagi Tapi Ken selalu menolak lalu berpikiran bahwa ia yakin akan kuat dengan hawa dingin.
Win tersenyum sendiri.
Delapan tahun sudah berlalu tapi bayangan Pak Warno masih lekat di ingatannya. Pak Warno lelaki yang membuat Win ingin menulis. Menulis segala rasa cinta, menulis segala rasa sakit hati.
Di depan jendela kamarnya, di bawah temaran lampu Win mulai menulis.
Win ingat pada setiap bulan purnama yang cahayanya terlihat dari jendela kayu yang ia buka lebar-lebar ia berharap cahaya. Cahaya cinta yang bisa ia ambil lalu energinya ia sebarkan pada selembar kertas yang terhampar di hadapannya.

Sebuah puisi Win tulis di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang dikumpulkan. Tugas dari Pak Warno. Lalu Pak Warno membacanya dan anak-anak di kelas yang mendengar bersuit-suit sehingga pipi Win memerah karenanya.
Sebatang pohon jati menanti.
Sepucuk hati aku titipkan pada akar-akar jati.
Purnama di langit Win pandangi.
Pada surat kedua puluh yang ia tulis pada Pak Guru Warno, Ibu datang padanya dan memintanya berhenti.
Terdengar suara Ken mengorok.
Win tahu, sudah saatnya Win tutup buku dan menemani Ken.
**
Jika itu Win, maka kenangan lama akan terseret kembali.
Bu Linda memandangi suaminya.
Gadis kecil bernama Win itu luar biasa hebatnya. Mampu mengungkapkan apa yang tidak pernah bisa ia ungkapkan. Gadis kecil itu suka sekali menulis puisi lalu puisi yang belum jadi itu diberikan pada dirinya untuk dikoreksi.

“Kamu jatuh cinta?” begitu dulu ia biasa bertanya.
Lalu Win menunduk. Tulisannya belum sempurna. Puisinya belum indah.
Gadis kecil itu dulu selalu memberikan terlebih dulu surat-surat itu pada dirinya lalu ia akan menyempurnakannya. Setelah sempurna, baru Win akan meletakkannya pada lubang dekat pohon jati di dekat jembatan setiap kali ia akan berangkat sekolah.
Win pasti terinspirasi dari cerita cinta yang Mas Warno sering ceritakan di kelas tentang surat-surat cinta di bawah pohon jati.
“Matamu bundar seperti bola….,” Ia tersenyum kala itu ketika membacanya. “Matamu indah dan teduh…,” ia bicara pada Win untuk membetulkan kalimat yang Win tulis.
“Mungkin samudra hatimu penuh kotoran…”
Kala itu ia terkikik. “Mungkin ada jentik di hatimu yang membuat sinyal di hatiku tak sampai kepadamu…”
Bu Linda menarik napas panjang.
Ia juga sudah mendengar banyak cerita tentang Win. Win yang menghilang seusai pernikahan dirinya dengan Mas Warno.

Dua tahun yang lalu, ia mendapat kabar tentang Win. Puisi-puisi indahnya hadir di banyak surat kabar. Nama Win juga ia lihat dalam sebuah majalah. Seorang penyair yang membuka sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Dan kemarin, ia sempat melihat papan nama besar di tempat dulu Win tinggal bertuliskan “Sekolah Win”.
**
Ken memaksa. Tapi Win suka dipaksa karena itu selalu cara Ken untuk membuatnya merasa jatuh cinta dan meninggalkan masa lalu. Pagi tadi seusai nasi pecel di warung pojok tempat langganan Win dulu, Ken mengajaknya bersepeda lagi. Menuju hutan jati. Hutan jati yang batang-batangnya sudah membesar.
Win menantang Ken untuk memboncengnya dan Ken setuju.
Win tidak lupa dimana ia pernah berhenti. Lalu mengambil sekop dari dalam tasnya dan melubangi satu tanah di dekat satu batang jati untuk meletakkan surat yang ia tulis sepenuh hati bagi Pak Warno. Pohon jati nomor delapan.

“Kapan aku menerima surat cinta darimu yang harus aku ambil dari dalam tanah?” Ken menggoda ketika mereka sudah sampai di depan hutan jati.
Banyak hutan jati tumbuh di desa. Ada hutan jati seluas satu hektar lalu dipisahkan oleh beberapa rumah, akan bertemu dengan hutan jati lagi yang lebih luas lagi.
“Kenapa tersenyum sendiri?” tanya Ken yang berjongkok di antara batang-batang jati. Tangannya mencongkel-congkel tanah di dekat kakinya. “Siapa tahu ada surat yang tertinggal,” ujarnya seperti menggoda.
Win memandangi Ken. Tidak akan mungkin ada surat yang tertinggal sebab semuanya sudah diambil oleh Pak Warno, lalu dijadikan seserahan pernikahan pada Bu Linda.
Win ingat, setelah tahu surat itu diambil, ia jadi sering mematut dirinya di depan cermin. Rambutnya ia buat digulung seperti gulungan kepunyaan Bu Linda. Wajahnya ia baluri dengan bedak dari bengkoang yang ia parut, lalu ia jemur agar hanya tersisa patinya saja. Agar kulit wajahnya seputih kulit wajah Bu Linda.
“Kenapa mesti Pak Warno?”
Win menggeleng lalu menahan tawanya ketika Ken mendapati sesuatu dari dalam tas. Bukan, bukan selembar surat tapi sebuah plastik berwarna hitam.
Bayangan Ken seolah berganti dengan bayangan lelaki yang sudah berumur. Duduk berjongkok mengambil surat-surat yang Win pendam. Surat berisi puisi yang sebagian besar dibetulkan oleh Bu Linda. Surat dipenuhi rindu dan rindu itu tidak tertangkap sempurna oleh Pak Warno, yang sudah menduda tiga kali karena ditinggal mati istrinya.
“Aku tahu itu namanya pelampiasan cinta…,” Ken membersihkan tangannya lalu menepuk pipi Win.
Win mengangguk. Bisa jadi itu pelampiasan cinta karena tidak pernah ia kenal sosok ayahnya semenjak bayi dan Ibu menutup mulut setiap kali ditanya.
“Ke gunung aku ikut….” Ken mulai bernyanyi.
Dan tangan Win langsung melayang mencubit pinggang Ken.
**
“Apa Win masih ingat?”
Bu Linda memandangi suaminya. Belakangan ini asma suaminya kambuh terlalu cepat. Berbagai macam terapi sudah dilakukan.
“Surat-surat itu…”
Bu Linda tersenyum sendiri. Mungkin Win tidak akan pernah lupa. Setumpuk surat yang dibungkus kain berwarna biru, yang ikut dijadikan seserahan mas kawin untuknya. Puisi-puisi milik Win yang dipoles olehnya. Puisi untuk Mas Warno yang tidak begitu dipahami bahasanya oleh Mas Warno karena terlalu kekanakan begitu katanya.
Belum lama Bu Linda akhirnya bicara jujur.
Tentang surat tanpa nama yang dipendam di salah satu pohon jati. Itu surat Win. Tanda cinta tapi tak berani diungkapkan.
“Kita berikan Win saja. Itu miliknya. Mungkin berguna untuk Win berikan pada suaminya.”
Warno memandangi Linda istrinya. Ia menganggukkan kepalanya.
**
Win tahu Ken memandangnya.
Mungkin memandang tumpukan surat itu. Mungkin juga memandangi pada saat Win tadi bicara dengan Pak Warno tanpa Bu Linda.
Setumpuk surat puisi dari Win yang tadi diserahkan Pak Warno padanya, sambil meminta maaf karena tidak pernah paham surat itu Win buat khusus untuknya.
Win menarik napas panjang.
“Seringlah main ke sini…,” ujar Bu Linda tadi ketika melepasnya pergi.
“Bapak juga mau mengajar menulis puisi di sekolahmu. Boleh?” tanya Pak Warno.
Sekarang, ia biarkan Ken mengayuh sepedanya mengikuti alur jalan desa yang berkelok dan sedikit curam. Di hutan jati Ken berhenti.
“Mau apa?” tanya Win.
Ken memandangi Win. “Sudah selesai cintanya dan tidak perlu ada kenangan, kan? Apalagi kenangan pahit?”
Win mengangguk. Membiarkan Ken turun dari sepeda menuju satu batang pohon jati. Ken mencongkel-congkel tanah di bawah pohon itu dengan sekop kecil yang Win juga tidak menyangka dibawa oleh Ken. Lalu mengubur surat-surat itu.
Selesai sudah. Tidak ada yang tersisa. Tidak rasa rindu juga sakit hati.
“Aku semakin cinta…,” ujar Ken merangkul bahu Win. “Kamu…
Win tidak perlu menjawab. Ken sudah paham isi hatinya. Sepanjang perjalanan pulang tangan Win memeluk pinggang Ken erat-erat.

Full Day School, Orangtua yang Berani Memutuskan

At di Bandung

Full day school. Ngeri ya kedengarannya.
Sehari penuh di sekolah, di rumah tinggal capeknya. Anak-anak di sekolah, ibu bapaknya di tempat kerja. Ketika sampai di rumah sudah capeklah semuanya.

Wacana full day school mencuat belakangan ini, meski akhirnya peraturannya segera diganti karena banyaknya yang protes.
Banyak yang merasa harus mem full day kan anak, karena tidak sanggup mendidik mereka. Kata tidak sanggup itu, akhirnya membuat mereka pasrah dan menekan juga pada anak-anak. Pasrah dengan apa maunya sekolah dan peraturan dan menekan anak untuk jadi terbaik di semua bidang. Hayo, mana bisa kan terbaik di semua bidang?

Ada masa anak untuk bermain, maka penuhilah hak anak untuk itu.
Saya justru senang mengambil sesuatu yang berseberangan dengan orang lain. Ketika yang lain mem full day kan anak-anak di usia SD, saya siap dengan memasukkan mereka ke SD negeri yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja artinya satu kelas dibagi di tiga shift. Kelas satu masuk jam tujuh pulang jam sembilan. Seringnya masuknya jadi jam setengah delapan dan pulang setengah sembilan.
Hayo?
Dapat apa di sekolah?
Saya yakin mereka dapat pertemanan yang beragam. Sisa waktu mereka adalah tanggung jawab saya sebagai orangtua. Saya ajarkan banyak hal.

Ketika hujan deras dan orangtua lain melarang anak bermain, saya malah mengajak mereka mandi hujan pakai jas hujan.
Pura-puranya pakai jas hujan biar enggak dianggap aneh oleh yang lain. Terus kami ke tempat yang masih ada sungai dan banyak kodok berbunyi. Kodok yang berbunyi itu biasanya akan membuat lehernya jadi menggelembung. Itu yang saya tunjukkan pada anak-anak.
Jas hujan tidak menutupi kami dari hujan tidak apa-apa. Wong intinya kami belajar sambil bermain. Anak bukan sekedar mendapat ilmu tapi merasakan cinta kasih saya.

Saya merasa, saya harus memberikan semuanya, termasuk kebahagiaan bermain pada anak-anak hingga mereka masuk usia remaja, alias lulus SMP.
Ada banyak yang tidak sepaham dengan saya. Menyekolahkan anak di sd negeri kampung dengan pengajaran ala kadarnya, akan membuat anak tidak pintar. Ahai, tidak penting apakah mereka pintar untuk saya. Yang penting mereka punya empati besar. Dan empati itu yang akan membuat mereka jadi manusia bermanfaat. Pintar di sekolah itu masalah angka. Dan itu mudah didapatkan.

Akhirnya Full Day School

Full day school adalah sebuah keputusan untuk saya. Keputusan panjang.
Karena apa? Usia anak-anak sudah semakin besar. Mereka selama ini sudah banyak belajar dari saya dan pasangan. Mereka sudah melihat kami utuh berjuang menjadi teladan. Sekarang saatnya untuk mengambil teladan orang lain, yang sepaham dengan kami.

Full day school dipilih harus dipertimbangkan. Banyak SMPIT di kota Bekasi, tapi saya jatuh hati dengan satu tempat. Kalau SMPIT lain lelaki dan perempuan masih dicampur. Sekolah ini dipisah antara lelaki dan perempuan. Dan pola pendidikan antara anak lelaki dan perempuan berbeda. Maka kaget saya waktu ke sana dan mendapati anak-anak perempuannya bicara dengan lembut.
Tidak ada telepon genggam. Semua orangtua murid terhubung dengan guru.
Sabtu ada ekstra kurikuler. Jam belajar jam tujuh pagi teng sampai jam empat dengan asyar berjamaan dan tausiyah. Ada hapalan Al Quran, ada jam khusus bahasa Inggris dan Arab.
Ada juga program mentoring. Jadi anak-anak pergi dengan satu guru untuk menjelajah suatu tempat.
Dan yang lebih penting lagi, selepas mereka dari SMPIT itu, mereka tetap dipantau dengan program mentoring sampai lulus SMA. Kalau orangtua menolak, maka harus tanda tangan surat di atas materai.
Untuk orangtuanya, ada pengajian rutin setiap minggu. Dan ada seminar parenting setiap tiga bulan sekali.

Sekolahnya masih ada PR. Kadang bertumpuk. Tapi PR untuk saya bukan masalah besar. Ayo kerjakan bersama-sama. Jadi mereka merasa tidak sendirian. Ibu harus memeras otak lagi, agar anak-anak tahu Ibu berjuang untuk bisa, dan mereka juga harus melakukannya.

Full day school buat saya adalah sebuah keputusan. Apalagi mereka sudah abege dan condong mendengarkan orang lain ketimbang orangtuanya. Lalu apa salahnya memilihkan tempat yang visi dan misinya sama dengan saya? Sehingga mereka ada di jalur yang tepat.
Kenapa tidak di pesantren?
Tidak. Karena saya ingin anak melangkah pelan tapi pasti.
Dari SD negeri fokus dari saya pelajaran empati, masuk ke SMPIT dengan standar seperti pesantren. Hingga tumbuh kesadaran anak, bahwa ia harus masuk ke mana.
Alhamdulillah, Sulung sudah memutuskan ia akan melanjutkan SMA nya di sebuah pesantren.
Saya dan suami juga belajar banyak setelah anak-anak di SMPIT. Karena kadang ketika pulang, anak membawa pelajaran tentang akhlak juga adab. Dan itu dilakukan.
“Kenapa makannya tidak pakai sendok?”
“Ini sunnah,” jawab Sulung sambil menjilati jarinya.
Lalu lain waktu.
“Adab harus diperhatikan,” ujarnya pada adiknya yang pakai rok pendek. “Berpakaian juga ada adabnya.”

Well, semua berproses.
Full day school buat saya cocok, buat orangtua lain belum tentu.
Jadi nikmati saja apa yang cocok untuk diri kita, bukan untuk orang lain.

Tips Keluar dari Perasaan Sensitif

IMG-20160617-WA0029

Perasaan sensitif sama seperti perasaan lainnya. Ia ada dalam diri setiap manusia. Hanya sebagian manusia cenderung untuk melebihkan perasaan ini. Sebagian lain melebihkan perasaan atau emosi yang lain.
Individu yang melebihkan perasaan sensitif ini, akhirnya jatuh pada perasaan mudah terluka. Entah itu terluka pada sikap orang lain atau pada kalimat orang lain.
Sensitif bisa dijadikan sikap yang positif bila itu mendatangkan empati. Tapi jika itu hanya mendatangkan perasaan luka dan tersisih, maka pada saat itu perasaan sensitif sudah harus ditinggalkan dari kehidupan kita.
Jika kita memiliki rasa sensitif berlebihan, ini yang harus kita lakukan .

1. Kenapa Bisa Terjadi?
Untuk keluar dari suatu kesalahan, maka kita harus tahu bahwa apa yang selama ini kita lakukan adalah salah. Ketika kita sudah tahu perasaan sensitif itu mengganggu aktivitas kita karena sudah terlalu berlebihan, maka yang harus kita lakukan adalah menyelesaikannya.
Ada banyak cara untuk menyelesaikan hal itu. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan berani menuliskan tentang diri kita sendiri secara jujur.
Tentunya hanya kita yang paham darimana awalnya sifat sensitif itu. Apakah dari didikan keluarga kita atau memang karena kita terlalu melindungi diri kita sendiri?
Jika itu didikan dari keluarga kita yang terlalu melindungi diri kita, sehingga kita menjadi sensitif ketika ada orang yang menyingung perasaan, maka ubahlah pelan-pelan.
Tapi jika masalah sensitif itu hadir karena memang kita memiliki masalah sakit hati atau trauma di masa lalu, jelas yang harus kita lakukan adalah berani untuk menyembuhkan luka itu terlebih dahulu sebelum akhirnya melupakannya.

2. Seberapa Pentingkah Kita?
Jika kita adalah pribadi yang sensitif kita akan selalu berpikir bahwa diri kita penting. Kita jadi mudah merasa kalau orang lain itu membicarakan kita. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Kita bahkan sering mengalami ketakutan berlebihan dan curiga ketika ada orang yang tidak jauh dari kita, melihat dengan pandangan tidak enak pada kita. Seolah-olah mereka sedang berpikiran yang tidak baik tentang kita.
Coba buang pikiran buruk tentang hal itu dan ganti dengan sesuatu yang positif. Sesuatu yang positif yang membuat kita sibuk pada diri kita sendiri.
Jadilah pribadi yang memang penting untuk dibicarakan kebaikannya bukan keburukannya. Sehingga ketika mulai muncul perasaan bahwa orang lain membicarakan kita, yang ada di hati kita adalah perasaan bangga. Sebab kita yakin mereka pasti sedang membicarakan kebaikan kita.

3. Jangan Berteman Dengan Masa Lalu
Masa lalu orang yang sekarang ini terlalu peka atau sensitif bukanlah masa lalu yang mudah pastinya. Masa lalu yang membuat seorang sulit bangkit di masa depan, pasti bukan sesuatu yang bisa ditanggung oleh semua orang. Tapi tenggelam dalam masa lalu juga tidak akan mungkin menyelesaikan masalah.
Meninggalkan masa lalu tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah menghapus semua jejak di masa lalu. Bisa dengan cara meninggalkan lingkungan tempat masa lalu kita berada, atau dengan memutus komunikasi dengan orang-orang di masa lalu yang menyakitkan hati kita.
Dan tentu saja cara yang paling efektif adalah merubah pola pikir kita. Camkan saja dalam pikiran bahwa masa lalu adalah hikmah, pasti kita akan terus beryukur karena sudah jadi pribadi yang berbeda.

4. Lawan Perasaan itu
Setiap kali perasaan sensitif muncul, maka yang harus kita lakukan adalah melawannya dengan hal lain yang lebih menyehatkan kita.
Ketika kita merasa tersisih, kita bisa berdiri di depan cermin sambil tersenyum lalu beri affirmasi positif pada diri sendiri. Katakan saja, bahwa kita hebat dan ada saatnya orang lain tahu akan kehebatan kita itu.
Atau tekuni hobi kita. Semisal kita hobi masak, maka ketika perasaan sensitif itu datang, lawan saja dengan berkutat pada masakan yang akan kita buat. Sehingga kita fokus pada masakan dan melupakan perasaan kita itu.
Kadang-kadang kita juga butuh orang lain untuk membuat kita mampu melawan perasaan itu. Membandingkan perjalanan hidup orang lain yang lebih sulit tentu saja, akan membuat kita akan merasa bahwa perasaan yang kita miliki sebenarnya hal yang sepele dan harus cepat ditinggalkan.

5. Buat Agenda Baru di Kehidupan Baru
Banyak hal penting yang belum kita raih. Banyak juga cita-cita kita di masa lalu yang mungkin memang harus mulai kita raih dari sekarang ini.
Lupakan usia kita dan coba kejar lagi impian kita yang pernah kita inginkan di masa lalu.
Kita akan merasakan hal yang membuat sensasi berbeda dan membuat kita bergairah.
Jika kita tidak bisa menghadirkan gairah untuk itu, maka bergabung saja dengan anak-anak muda yang optimis dalam menjalani hidup mereka.
Bergaul sekali dua kali mungkin tidak membawa dampak positif untuk kita. Tapi jika terus menerus melakukannya pasti kita akan terpengaruh juga.

6. Mari Bersenang-senang
Mayoritas individu yang sensitif tidak mampu bersenang-senang. Mereka tidak mungkin bersenang-senang jika perasannya selalu diliputi rasa gagal, rasa menyesal dan rasa semua orang membencinya.
Mari melupakan hal itu dengan cara bersenang-senang. Kita bisa memulainya dengan cara yang sederhana yaitu menonton acara komedi atau membaca buku-buku lucu yang membuat kita menjadi melupakan beban kita.
Kalau tidak mampu untuk melakukannya sendiri dan malu untuk bergabung dengan orang banyak, dekati dan tempel salah satu teman yang memang humoris daan selalu menjalani hidup tanpa beban. Lama kelamaan pasti kita akan terpengaruh juga.

7. Cari Penolong
Jika semua sudah kita lakukan dan ternyata tidak berhasil juga, itu artinya kita sudah berada dalam taraf butuh pertolongan. Carilah penolong orang yang tepat. Orang yang tepat ini adalah orang yang memahami kita.
Orang yang tepat ini bisa orang yang lebih tua atau orang yang menurut pandangan kita adalah orang yang bijaksana.
Yang terpenting ketika kita butuh pertolongan itu, kita harus mau membuka diri dan mau meninggalkan sifat sensitif kita yang berlebihan.

Disebabkan Oleh Cinta

hati

Jenuh, bosan, tidak bergairah, putus asa dan tidak tahu mau apa lagi sebenarnya adalah perkara yang sangat sederhana. Perkara yang bisa terjadi pada setiap orang di dunia ini yang masih abstrak dengan visi misi yang sedang mereka jalani.
Jenuh, bosan dan yang lainnya bisa menimpa siapa saja yang terkena rutinitas. Siapa saja juga yang tidak melakukan hal itu dengan cinta.
Seorang pemain bola yang cinta dengan apa yang mereka lakukan akan selalu memberikan permainan yang terbaik, ada atau tidak ada dukungan.
Seorang yang jatuh cinta, akan diuji dengan banyak hal. Hanya saja ujian itu biasanya akan membuat mereka bersemangat karena semangat itu lahir dari hati. Karena hati yang sedang mencinta.
Jika Anda jenuh atau bosan dengan apa yang Anda lakukan sekarang, sebenarnya jawabannya hanya ada dua.
Anda sudah jatuh cinta? Atau memang Anda tidak memiliki cinta?
Rangkaian pertanyaan di bawah ini akan membuat Anda paham apakah Anda memang benar-benar cinta dengan apa yang Anda tekuni saat ini atau hanya sekedar pemenuhan kewajiban belaka?

1. Apakah Anda selalu bergairah menghadapi pagi di awal Senin?
A. Ya B. Tidak

2. Bahkan, apakah Anda juga bergairah melewati setiap menit dan setiap detik pada hari-hari Anda?
A. Ya B. Tidak

3. Apakah kita bisa melihat sesuatu yang bermanfaat dari apa yang Anda kerjakan di hari ini?
A. Ya B. Tidak

4. Ketika melihat orang lain jenuh dengan apa yang mereka lakukan, apakah Anda merasa aneh dengan sikapnya itu?
A. Ya B. Tidak

5. Jika ada teman yang jauh lebih berhasil dari Anda, apakah Anda yakin suatu saat kelak bisa juga ada di titik itu?
A. Ya B. Tidak

6. Mimpi Anda sekarang, yakin akan terwujud lima tahun ke depan.
A. Ya B. Tidak

7. Apakah hidup ini begitu indahnya untuk Anda?
A. Ya B. Tidak

8. Anda pernah kecewa tentu saja, tapi apakah kekecewaan itu membuat Anda bangkit lagi?
A. Ya B. Tidak

9. Anda selalu ada di samping teman yang putus asa untuk menyadarkan bahwa hidup ini begitu indahnya.
A. Ya B. Tidak

10. Anda yakin yang Anda lakukan saat ini tidak akan sia-sia.
A. Ya B. Tidak

11. Anda menekuni pekerjaan Anda dengan penuh gairah.
A. Ya B. Tidak

12. Anda yakin, orang di sekeliling Anda merasakan energi cinta dari Anda.
A. Ya B. Tidak

13. Jika ada orang lain yang membenci Anda dan apa yang Anda lakukan, Anda tidak akan berhenti melakukan apa yang Anda lakukan, karena Anda melakukannya dengan cinta.
A. Ya B. Tidak

14. Kehilangan satu dua teman satu tim Anda tidak akan membuat Anda putus asa.
A. Ya B. Tidak

15. Bahkan jika dunia akan berhenti berputar, Anda akan tetap melakukan apa yang Anda kerjakan sampai dunai benar-benar berputar?
A. Ya B. Tidak

Jumlahkan skor Anda :

Jika Anda mendapat banyak jawaban A itu artinya :
Anda bukan saja tipe individu optimis dalam memandang suatu hal. Tapi Anda juga tipe individu yang melakukan apa yang Anda kerjakan dengan cinta. Bukan sekedar lips service atau demi dilihat oleh orang lain. Tapi karena memang Anda melakukannya dengan cinta.
Cinta ini memberi tambahan Anda energi sehingga Anda akan melakukan pekerjaan dengan melakukan yang terbaik.
Dan lebih bagusnya lagi, cinta yang Anda miliki menyebar sehingga orang-orang di dekat Anda benar-benar merasakan manfaat dari kehadiran Anda.
Dunia pasti akan banyak berubah dengan kehadiran banyak orang semacam Anda.

Jika Anda mendapat banyak jawaban B itu artinya :
Apa yang Anda lakukan saat ini tidak dijalani dengan cinta. Bahkan bila mulai tumbuh cinta, Anda cepat juga menguburnya dengan sikap pesimis sehingga benih cinta itu mati sebelum berkembang.
Tentu saja Anda tidak bisa mendapatkan cinta dengan mudah. Cinta itu harus dikejar, didekati dan kemudian dipelihara dengan baik.
Tugas Anda sekarang ini adalah mengejar cinta itu sehingga cinta itu datang dan melekat pada diri Anda.

Menjalin Persahabatan atau Permusuhan?

jabat tangan

Anda mungkin pernah bersahabat atau tengah menjalin persahabatan, atau bisa jadi sedang mencari seorang sahabat? Persahabatan, jalinan pertemanan yang akrab antara kita dan orang lain. Frank Tyger seorang penulis mengatakan bahwa “Persahabatan terdiri dari telinga yang bersedia mendengar , hati yang memahami dan tangan yang bisa menolong.”
Itu artinya jika Anda ingin memiliki sahabat, maka mulailah menyediakan dua telinga Anda untuk terbuka lebih lebar lagi dan mendengar apa yang ingin disampaikan orang lain kepada Anda.
Setelah itu sediakan hati yang terbuka lebar , sehingga apa yang didengar dari telinga bisa masuk ke hati, lalu menggerakkan tangan dan tubuh Anda untuk membantu lebih baik lagi.
Tidak semua bisa bersahabat dan menciptakan iklim persahabatan. Tidak semua orang juga mau bersahabat dengan alasan tidak pernah memiliki rasa percaya pada orang lain.
Mungkin Anda salah satunya. Tidak bisa membuka diri untuk bersahabat dikarenakan mungkin trauma masa lalu, dimana Anda begitu percaya pada seseorang tetapi justru kepercayaan yang Anda berikan dikhianati olehnya.
Jika Anda masih merasa ragu apakah Anda pribadi yang bersahabat atau bukan, kuis di bawah ini bisa Anda coba.
1. Jika memilih menjadi binatang, maka Anda adalah seekor binatang :
A. Harimau
B. Kalajengking
C. Kelinci

2. Jika Anda dekat dengan seseorang itu artinya :
A. Sedang mood untuk dekat dengan orang lain.
B. Pasti karena ada yang ingin Anda dapatkan.
C. Karena Anda memang selalu suka dekat dengan orang lain.

3. Seorang yang baru Anda kenal, menurut Anda sebaiknya Anda perlakukan :
A. Ramah dan percaya.
B. Hati-hati.
C. Kaku dan tidak bersahabat.
4. Jika ada aturan bahwa Anda dilarang bersahabat di lingkungan tempat Anda sekarang ini berada, apa yang akan Anda lakukan?
A. Protes dong sama aturan yang tidak membuat Anda nyaman itu.
B. Yap. Anda sangat setuju dengan peraturan ini.
C. Lihat situasi dan kondisinya dulu.

5. Usia persahabatan menurut Anda akan sampai :
A. Seumur hidup.
B. Tergantung nanti berjalannya seperti apa.
C. Satu hari juga tidak sampai.

6. Tiba-tiba Anda diajak berteman oleh seorang sahabat lama di sosial media. Orang ini pernah menorehkan luka di hati Anda bertahun-tahun yang lalu. Apa yang akan Anda lakukan?
A. Menerimanya karena itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Anda hidup untuk masa depan.
B. Menolak.
C. Menerima tapi tetap menyimpan di hati bahwa suatu saat, kalau dia bersikap yang tidak baik Anda akan langsung menghapusnya dari daftar pertemanan Anda.

7. Jika Anda berdua bersama orang yang baru Anda kenal, berada di sarang seekor macan yang konon kabarnya ganas, apa yang ada di pikiran Anda?
A. Dia pasti akan mencelakai Anda, dengan mendorong tubuh Anda hingga menjadi mangsa di macan.
B. Anda kok yakin dia pasti akan berada di depan untuk mellindungi Anda.
C. Anda setengah percaya dan tidak padanya. Yang jelas Anda siap dengan segala jurus bila dia tidak bisa dipercaya.

8. Jika Anda menonton berita kriminal di televisi, yang ada dalam pikiran Anda adalah :
A. Memang begitulah dunia. Terlalu banyak orang jahat.
B. Takut dan lebih waspada.
C. Ngeri. Tapi Anda yakin di sekeliling Anda masih jauh lebih banyak orang baik.

9. Seekor kelinci di mata Anda adalah :
A. Binatang yang menyenangkan.
B. Binatang yang terlalu lemah dan mudah diburu.
C. Ah, kadang-kadang Anda suka tapi pernah juga tidak suka karena ternyata susah mengurus makannya.

10. Persahabatan menurut Anda harus dimulai dengan :
A. Dimulai dari diri Anda sendiri. Membuka diri lebih dahulu sehingga orang lain percaya.
B. Dimulai bersama. Dari pihak Anda dan dari pihak yang ingin bersahabat.
C. Tidak perlu memulai persahabatan karena Anda tidak percaya.

1. A : 2 B : 4 C : 6
2. A : 4 B : 2 C : 6
3. A : 6 B : 4 C : 2
4. A : 6 B : 2 C : 4
5. A : 6 B : 4 C : 2
6. A : 6 B : 2 C : 4
7. A : 2 B : 6 C : 4
8. A : 2 B : 4 C : 6
9. A : 6 B : 2 C : 4
10. A : 6 B : 4 C : 2

Pilih salah satu jawaban lalu jumlahkan :

Jika skor Anda 47 sampai dengan 60 :
Orang mengenal Anda sebagai pribadi yang baik. Bahkan sangat baik. Begitu baiknya Anda di mata orang, sehingga membuat orang merasa bahwa mereka bisa memanfaatkan Anda. Begitu baiknya Anda juga kepada orang lain, sehingga tidak terbersit pikiran buruk di benak Anda tentang kemungkinan orang lain berbuat jahat kepada Anda.
Positifnya, Anda membuat orang lain nyaman karena sikap Anda seolah selalu menawarkan persahabatan untuk mereka. Negatifnya kalau tidak hati-hati Anda akan terjatuh kepada orang yang punya niat buruk pada Anda.

Jika skor Anda 33 sampai dengan 46
Anda pribadi yang bingung menentukan sikap. Setengah-setengah. Ada saatnya Anda merasa orang harus dihadapi dengan tegas dan galak. Ada saatnya Anda merasa tidak enak hati dan kasihan dengan mereka sehingga Anda begitu lembeknya.
Tapi paling tidak, Anda tidak begitu ditakuti oleh orang yang baru ingin mengenal Anda. Anda juga terkesan tidak mudah dimanfaatkan oleh orang lain, yang mendekati hanya untuk memanfaatkan.

Jika skor Anda 20 sampai dengan 32
Anda individu yang menakutkan untuk orang lain. Sikap Anda seperti menyodorkan permusuhan untuk orang yang dekat dengan Anda. Sikap Anda seperti ini, boleh jadi karena Anda pernah memiliki trauma masa lalu atas sikap baik Anda, sehingga Anda mengganti sikap baik itu dengan sikap yang tidak bersahabat di mata orang lain.
Di dunia ini Anda tidak bisa hidup sendiri. Mulailah mencari kelebihan dari orang lain. Dan tanamkan keyakinan pasti ada orang baik di dekat Anda.

Endingnya Seperti Apa? Buat Ending yang Berbeda

IMG-20160301-WA0002

Ada empat cerita dalam buku ini.
Judulnya adalah

1. Rebutan Kucing
Dalam cerita ini, diceritakan tentang geng Princess yang berbeda kamar sama-sama ingin mengurus kucing guru mereka, Miss Jasmine. Alasannya Miss Jasmine sedang flu dan sedang alergi dengan bulu kucing. Jadi Miss Jasmine mengeluarkan pengumuman, siapa saja murid Princess Academy yang berminat bisa menawarkan diri untuk mengurus kucing Miss Jasmine untuk sementara waktu.
Gengnya Ajeng dari kamar sembilan , meminta Ajeng yang baru kehilangan kucing, untuk mengambil kucing itu untuk diurus. Mereka ingin Ajeng melupakan kesedihannya karena kucingnya yang bernama Mandro hilang.
Gengnya Moniq dari kamar sepuluh juga ingin Moniq yang mengurus kucing itu. Alasannya kalau Moniq yang mengurus, siapa tahu Miss Jasmine akan memberikan nilai lebih untuk mata pelajaran melukis. Karena selama ini dalam pelajaran melukis, Moniq selalu melukis balon.
Mereka juga berharap, lomba lukis antara Princess di academy Princess yang akan berlangsung tidak lama lagi, akan dimenangkan oleh kamar 10.

Ajeng setuju mengurus kucing itu, Moniq juga sama.
Tapi terlambat, kucing itu sudah lebih dahulu diambil oleh Ajeng and the geng?
Lalu apa yang akan dilakukan Moniq and the geng?

2. Masalah Miss Carol
Ada masalah dengan Miss Carol, guru matematika di Princess Academy. Miss Carol kelihatan sedang sakit. Miss Carol juga suka cepat-cepat ke luar kelas, masuk lagi dan ke luar kelas lagi.
Semua murid di Princess Academy mencari tahu apa penyebab Miss Carol bisa seperti itu.
Penyelidikan menemukan bukti, bahwa Miss Carol ternyata sedang suka makan pizza. Pizza yang dipesan itu banyak dan dinikmati sendiri oleh Miss Carol.
Melihat Miss Carol seperti itu, para Princess di kamar sepuluh berjuang untuk membelikan pizza ke Miss Carol?

Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Miss Carol?

3. Ketika Grace Berubah Baik

Grace, Princess di kamar sepuluh mendadak jadi baik pada Ellen Princess dari kamar sembilan? Apa penyebabnya?
Penyebabnya hanya Grace yang tahu. Yang jelas Grace merasa takut ketika selembar kertas dari buku hariannya, melayang jatuh ke tempat sampah. Dan di tempat sampah itu ada Ellen, yang langsung memasukkan kertas itu ke dalam tasnya.

Apa sebenarnya rahasia yang disimpan Grace?

4. Rahasia Miss Bunga
Miss Bunga begitu namanya. Ia akan datang ke Princess Academy. Untuk apa? Untuk mengajarkan segala hal tentang bunga. Miss Bunga ini, adalah putri kecantikan. Terpilih sebagai Miss Bunga itu artinya, ia penyuka tumbuhan dan hatinya sewangi bunga.
Para Princess di kamar sembilan dan sepuluh senang mendengar kedatangan Miss Bunga. Mereka juga berebut simpati dari Miss Bunga.
Miss Bunga ramah pertama kali. Tapi kenyataannya?
Suatu hari Princess di kamar sembilan meminta Miss Bunga untuk mengajarkan cara bercocok tanam. Mereka juga memberikan buku untuk Miss Bunga.
Miss Bunga sendiri lebih cocok dengan para Princess di kamar sepuluh yang suka coklat.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Miss Bunga?

Ketentuan Give Away

1. Pilih salah satu dari empat judul di atas.
Lalu buat ide baru,. beberapa kalimat saja dari panduan ide di atas.

2. Atau…., buat ending yang berbeda. Bukan ending seperti di buku (mungkin saja ada yang sudah membaca bukunya).

3. Mention saya di twitter @NPastuti dengan hastag #Giveaway
4. Mention saya di FB Nurhayati Pujiastuti dengan hastag #Giveaway

Ada hadiah dua buku gratis untuk ide yang unik.
Dan ada satu hadiah bimbingan menulis cerita anak gratis selama seminggu, untuk ide yang terunik.

Hanya Ikan Kecil

ikan ikan

Alkisah seekor ikan kecil selalu diremehkan oleh beberapa ikan besar. Ikan kecil itu memang selalu menjadi santapan ikan besar. Dan sepanjang hari di dalam lautan, ia hanya bermain-main di tempat yang aman atau bersembunyi di dalam karang.
Ikan kecil tidak pernah bercita-cita menjadi ikan besar. Karena sadar bahwa ia terlahir sebagai ikan kecil dan tidak mungkin menjadi ikan besar. Tapi sebagai ikan yang sering jadi santapan ikan besar, ikan kecil belajar untuk mengasah intuisinya dan mengembangkan pola pikirnya. Ia tahu ketika gerak ada bayangan besar, itu artinya ada ikan besar yang akan menangkapnya. Ia juga tahu, seberapa jauh harus berenang agar posisinya tetap aman. Dan keahliannya itu menjadi panduan untuk ikan-ikan kecil lainnya.
Suatu hari, ada umpan dari atas lautan yang diperebutkan oleh ikan-ikan besar. Makanan itu sungguh menarik ikan kecil, tapi ia mengajak teman lainnya untuk bertahan. Intuisinya mengatakan bahwa makanan dadakan itu pasti akan diikuti sesuatu yang membahayakan.
Benar setelah ikan-ikan besar kekenyangan, turunlah sebuah jala yang membuat seluruh ikan besar terbawa jaring itu.
Ikan kecil selamat.
Anda mungkin pernah merasa sebagai ikan kecil. Berhadapan dengan orang-orang besar. Diremehkan dan membuat Anda merasa tidak memiliki harga diri.
Sekarang pertanyaannya, apakah Anda masuk dalam kategori ikan kecil yang lemah, atau ikan kecil yang bisa jadi pemimpin teman yang lain?
Kuis ini akan membantu Anda untuk menentukan langkah selanjutnya.

1. Anda selalu merasa direndahkan?
A. Ya
B. Tidak

2. Anda memang selalu merasa tidak mungkin bisa sama dengan orang lain yang sukses?
A. Ya
B. Tidak

3. Anda selalu saja merasa tidak bisa menemukan jalan keluar yang baik, untuk masalah Anda?
A. Ya
B. Tidak

4. Orang besar selalu membuat Anda merasa kecil.
A. Ya
B. Tidak

5. Mimpi besar Anda bahkan tidak diyakini oleh Anda sendir?
A. Ya
B. Tidak

6. Potensi dalam diri Anda biasa dan tidak bisa diperjuangkan?
A. Ya
B. Tidak

7. Anda yakin dengan takdir yang tidak bisa diubah terutama takdir yang menempatkan Anda sebagai orang kecil?
A. Ya
B. Tidak

8. Anda merasa rendah diri?
A. Ya
B. Tidak

9. Anda merasa bantuan orang lain pada Anda adalah sebuah keharusan?
A. Ya
B. Tidak

10. Anda selalu tidak percaya diri ketika berteman dengan orang lain, yang menurut Anda adalah hebat?
A. Ya
B. Tidak

11. Hebatnya lagi, Anda juga selalu yakin bahwa apa yang orang lain katakan tentang diri Anda adalah betul?
A. Ya
B. Tidak

12. Anda tidak tahu bagaimana caranya menentukan sikap?
A. Ya
B. Tidak

13. Anda lebih banyak berperan sebagai ekor bukan kepala, karena Anda memang selalu menjadi pengikut orang lain?
A. Ya
B Tidak

14. Anda tidak tahu potensi Anda ada diman?
A. Ya
B. Tidak

15. Anda tidak akan berjuang untuk menjadi lebih besar dari sekarang?
A. Ya
B. Tidak

Pilih jawaban Anda, lalu jumlahkan.

Jika Anda lebih banyak menjawab Ya dari semua pertanyaan yang ada, itu artinya :
Anda bukan sekedar ikan kecil, tapi memang Anda adalah manusia kerdil yang menganggap bahwa Anda tidak memiliki hal yang patut Anda banggakan.
Anda tidak pernah bermimpi besar, bukan karena Anda sudah berusaha. Tapi keyakinan itu karena Anda memang tidak pernah berusaha, dan percaya bahwa takdir Anda adalah tetap menjadi kecil.
Anda dalam bahaya yang akut dan membutuhkan bantuan orang lain untuk menyadarkan diri, bahwa dalam hidup yang penuh perjuangan ini, Anda bisa menjadi apa yang Anda mau.

Jika Anda lebih banyak menjawab Tidak artinya :
Anda mungkin saja bukan lagi menjadi ikan kecil. Tapi Anda adalah seekor ikan kecil tapi besar di mata teman Anda yang lain. Anda sadar bahwa hidup tidak selamanya harus untuk direndahkan. Dan salah satu yang harus Anda lakukan adalah terus belajar, agar ilmu itu berguna untuk orang yang bernasib sama seperti Anda.
Anda ikan kecil yang hebat. Di mata teman-teman Anda adalah pemimpin. Sedang di mata ikan besar Anda adalah seorang yang harus diperhitungkan.