Seperti Papa Mengenang Namira

“Seperti Papamu mengenang Namira, seperti itu pula Mama ingin melakukannya…”
Namira menarik napas panjang. Panjang sekali. Ia tahu nama Namira yang baru saja disebutkan oleh Mama pasti bukan namanya.
“Seperti Papamu selalu merasakan kehadirannya dengan hadirnya kamu, seperti itu pula Mama ingin merasakannya…”
Wajah Mama penuh air mata.
Ini air mata pertama yang Namira lihat secara langsung. Sebelumnya Mama tidak pernah mengeluarkan air mata. Sebelumnya Mama selalu tersenyum di hadapannya meskipun Namira kerap kali bertanya kenapa mata Mama seringkali sembab setiap kali ke luar dari dalam kamar.
“Mama harus jujur…”
Namira yang memulai pembicaraan. Bicara tentang kenangan dan masa lalu. Bicara tentang perasaannya saat ini yang sedang dilanda cinta. Dan ingin Mama menceritakan tentang masa lalunya.
Tapi wajah Mama menjadi mendung. Lalu mendung itu tiba-tiba menjadi hujan. Hujan air mata.
Namira sendiri tidak tahu apa sebabnya. Yang ia tahu pertanyaannya wajar saja. Teman-teman yang lain juga suka cerita kalau mereka sering tanya hal yang sama dengan Mamanya. Dan Mama mereka mau menceritakannya.
Tapi kenapa Mama menangis?
“Seperti Papamu mengenang Namira…”
Namira menarik napas panjang lagi.
Namanya Namira. Hanya Namira saja. Tidak ada tambahan yang lain. Entah apa artinya ia pun tidak pernah tahu. Mama selalu menggeleng jika ditanya. Dan selalu bilang kalau Mama tidak pernah mau memanggilnya dengan nama itu. Makanya Mama hanya memanggilnya dengan panggilan Dik saja. Atau Nak. Atau Sayang.
Sedang Papa yang ditanya selalu tersenyum simpul sambil menghelus-helus rambutnya.
Sebelumnya Namira tidak mau banyak bertanya. Tidak perlu dan tidak penting untuknya.
“Namira namanya…”
“Jadi Namira itu siapa?” tanya Namira akhirnya.
Rasanya ia sudah cukup besar untuk mengetahui sebuah rahasia. Kalaupun itu adalah sebuah rahasia.
Mama memandanginya.
Ah wajah Mama kelihatan layu sekali. Mata penuh air mata. Bibir yang pucat.
Yang Namira tahu Mama memang tidak pernah berdandan di rumah. Tidak juga kalau ke luar rumah. Tidak suka kata Mama. Tidak mau. Sudah tua jangan aneh-aneh. Padahal kalau saja Mama mau sedikit berdandan pasti wajah Mama lebih cantik ketimbang bintang sinetron.
Namira pernah lihat kok rambut Mama yang selalu digulung itu kalau dibiarkan terurai bagus sekali. Warnanya kecoklatan. Coklat asli bukan hasil semir rambut. Ikal bergelombang. Namira sendiri mewarisi rambut seperti Mama. Dan banyak teman-teman yang memujinya.
“Jadi Namira itu siapa, Ma?”
Mama menghembuskan napasnya. Memandang pada Namira.
“Aku tidak boleh tahu?”
Mama kelihatan seperti berpikir. Lalu menggeleng. “Biarlah Papamu yang menjawab.”
“Jadi Mama tidak mau?”
Mama menggeleng. “Seperti Papamu ingin mengenang Namira maka Mama pun ingin mengenang apa yang seharusnya Mama kenang,” ujar Mama sambil berjalan meninggalkan Namira.
Namira tahu ia tidak boleh banyak bertanya lagi.
**
“Kenapa tanya soal Namira?”
Papa baru pulang malam sekali. Pintu kamar sudah terkunci. Kedengaran beberapa kali Papa mengetuk tapi Mama tidak membukakan. Mungkin Mama sudah tertidur dengan lelapnya.
“Kenapa tanya soal Namira?” Papa meneguk kopi yang Namira buatkan. “Kamu seperti dia…”
“Namira?” tanya Namira cepat.
Papa mengangguk.
“Jadi Namira itu ada?”
Papa meneguk kopinya lagi. “Jadi Namira itu memang ada…”
“Pantas Mama cemburu…”
“Alah…, Mamamu memang selalu cemburu.”
“Ya kalau Papa selalu ingat sama pacar lama Papa pasti Mama bisa cemburu. Apalagi Papa kasih nama aku persis seperti itu…”
“Bukan Papa yang kasih nama kamu,” Papa mencubit pipi Namira. “Eyangmu yang kasih nama. Karena Namira begitu sempurnanya…”
“Kasihan Mama…”
Papa menepuk bahu Namira. “Biarkan Mama cemburu. Biar saja. Nanti Mamamu juga sadar sendiri bahwa memang Namira itu pantas untuk dikenang.”
Namira sungguh tidak mengerti.
**
“Ajarkan Mamamu untuk berdandan,” bisik tante Ros pada Namira. Pulang sekolah Namira langsung ke sana. Namira tidak tahan lihat Papa dan Mama saling mendiamkan.
Papa selalu berangkat kerja pagi-pagi sekali dan baru pulang di malam hari. Sedang Mama baru ke luar kamar ketika Papa pergi dan sudah mengunci kamarnya ketika Papa belum pulang.
“Apa karena Namira suka berdandan?”
Tante Ros menggeleng. “Tante kurang tahu.”
“Apa Namira begitu cantiknya?”
Tante Ros menggeleng lagi. “Tante juga tidak tahu.”
“Jadi Tante tidak pernah tahu siapa itu Namira?”
Tante Ros menghembuskan napasnya. “Ajak Mamamu bicara. Dan ajarkan menjadi lebih baik lagi….”
“Tapi kalau Papa mengenang Namira pacarnya dulu itu, Mama juga akan mengenang pacarnya yang dulu. Heran, kalau masih ingat sama pacarnya kok mereka mau menikah ya, Tante? Kalau mereka berdua gak nikah kan aku gak bingung seperti sekarang ini?”
Tante Ros menepuk pipi Namira. “Yang itu Tante juga tidak tahu.”
“Tapi masak Tante tidak tahu terus?”
Tante Ros diam.
“Kata Papa namaku itu yang kasih Eyang.”
Tante Ros diam.
“Tapi aku lupa Eyang dari Papa atau dari Mama, ya?”
“Sudah.., ajarkan Mama untuk berubah. Maka Papamu pasti akan berhenti mengenang Namira…”
Namira bingung. Namira hanya menganggukkan kepalanya saja.
**
Tapi di rumah, lipstik yang diberikan Tante Ros pada Namira langsung Namira berikan pada Mama. Dan Mama menggeleng tegas.
“Mama harus berdandan…”
“John tidak pernah suka Mama berdandan,” Mama menggeleng keras-keras.
“Tapi Papamu tidak mau tahu itu. Namira sendiri tidak pernah berdandan lalu buat apa aku harus berdandan. Mama tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Namira di hati Papamu…”
Mama mulai menangis.
Namira tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Lebih baik Mama mengenang John saja..”
Lebih baik mungkin Namira bicara langsung pada Papa saja.
**
“Aku mau Papa bicara soal Namira!”
Mata Namira sebenarnya sudah mengantuk. Tapi Namira menunggu Papa pulang. Sudah malam. Seharusnya ia sudah terlelap dalam tidurnya dan bermimpi.
“Aku mau Papa bicara soal Namira! Dan Mama juga berhenti bicara soal John?
Kening Papa membentuk kerutan. Lalu tertawa. “Ah.., John gundul yang culun itu yang masih dikenang Mamamu? Papa gak mungkin cemburu…”
“Papa…,” mata Namira memandang tajam pada Papanya. “Kalau hanya masa lalu Papa dan Mama jadi seperti ini lebih baik Papa menceraikan Mama. Jadi aku tidak bingung seperti sekarang ini…”
Namira tahu Papa pasti kaget mendengar kalimatnya. Tapi ia juga kaget. Kaget sendiri. Tapi kalimat itu benar-benar ke luar dari hatinya. Namira sudah capek melihat rumah tangga Papa dan Mamanya.
“Kenapa kamu bicara seperti itu?” Papa kelihatan terkejut.
“Karena Namira ingin Papa dan Mama tidak bertengkar terus…”
“Kami tidak pernah bertengkar…”
“Apa bedanya bertengkar dengan saling diam dan tidak menegur satu sama lain?”
Papa diam.
“Papa harus bicara…”
Papa mengangguk. Pelan sekali.
**
“Namanya Namira. Baik, pintar, cantik. Papa mengenalnya sejak kami sama-sama kecil dulu. Seperti Mamamu mengenang John.”
Pandangan mata Papa menerawang.
“Setiap orang yang mengenalnya pasti menyukainya. Namira begitu sempurna. Ia cantik dan baik. Ia sopan dan tahu menjaga perasaan orang lain.”
“Dan Papa mencintainya?”
“Dan Papa mencintainya sepenuh hati,” ujar Papa menganggukkan kepalanya. “John juga mencintainya. Hanya dia malu-malu mengakuinya.”
“Tapi itu kan masa lalu. Papa sudah menikah dan Namira pasti juga sudah menikah dengan orang lain. Kenapa jadi ribut sekarang ini?”
Papa diam.
“Bukan begitu, Pa…”
“Bukan begitu, Namira. Bukan begitu cerita yang selanjutnya.”
“Lalu bagaimana?”
“Lalu Namira yang sempurna itu mengatakan pada Papa untuk tidak menerima cinta Papa karena takut ada yang terluka.”
“Jadi Papa ditolak?”
Papa mengangguk. “Tapi Papa tahu ada yang ia sembunyikan. Karena tidak ada yang diterima cintanya. Tidak Papa. Tidak juga John dan tidak juga puluhan lelaki lainnya.”
“Memangnya kenapa?”
Papa menghembuskan napasnya. Mengusap wajahnya seperti ingin mengembalikan ingatannya dari masa lalu.
“Memangnya kenapa, Pa?”
“Ketika musim hujan tiba, kami semua terkena hujan air mata.”
“Papa kayak seniman saja. Pakai puisi…,” Namira tertawa.
“Namira dipanggilNYA persis ketika hujan turun dengan lebatnya. Dokter tidak bisa menyembuhkan sakit kanker darahnya. Papa menangis. Semua menangis. Eyangmu juga menangis.”
“Maksud Papa…”
“Mungkin kamu harus tahu sekarang ini…”
“Maksud Papa…”
“Namira itu kakaknya Mama…”
Namira diam.
Sungguh ia terkejut luar biasa.
**
“Seperti Papamu terus mengenang Namira, seperti itu pula Mama akan mengenang John…”
Namira hanya tersenyum memandangi Mama.
Papa sudah cerita semuanya. Termasuk John yang patah hati dan akhirnya sepeda motornya masuk jurang lalu John ditemukan mati.
“Seperti Papamu terus mengenang Namira…”
Namira tidak mau berkomentar lagi.
Papa dan Mama mungkin butuh waktu untuk menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata sekarang ini. Bukan di masa lalu.
**

Penagih Utang

“Sudah sesuaikah pekerjaanmu dengan hatimu, Kang?”
Baron yang sedang mematut dirinya di cermin menarik napas panjang. Tubuhnya tinggi. Tegap. Dengan kulit hitam. Dan mata menukik ke dalam seperti mata elang.
“Kang…,” Aisyah menarik napas panjang juga. “Sudah dipikirkan?” Jilbab panjangnya seperti sedang menertawainya ketika Aisyah menunduk.
Baron mengangguk. Ini keputusan final. Setelah bertahun-tahun didera ujian hidup dengan hutang yang bertumpuk-tumpuk.
Pekerjaan itu datang padanya tanpa ia pernah melamarnya. Dari seorang temannya. Ia bisa langsung kerja dengan system gaji dan komisi.
“Kang…”
Baron berbalik arah. “Dengar, Ai. Keimananku tidak setangguh keimananmu. Tapi ini adalah salah satu bentuk tanggung jawabku sebagai seorang suami. Tanggung jawabku sebagai seorang Bapak yang sudah perih telinganya karena mendengar rengekan anak-anak minta ini dan itu tapi tidak pernah bisa aku sanggupi.”
“Kalau permintaan anak-anak itu dalam kacamata dunia..”
“Ai,” Baron menggeleng. “Kamu istri yang salehah. Doakan aku melakukan yang terbaik. Doakan ini hanya batu loncatan. Doakan ada hikmah yang bisa aku dapat dari pekerjaan ini.”
Aisyah menunduk.
Ini mungkin bagian dari kesalahannya. Ini mungkin karena rengekannya. Ini mungkin karena ketidaktahanannya menghadapi ujian dunia. Ini mungkin teguran Sang Khalik untuknya.
“Aku berangkat, Ai. Assalamualaikum.”
“Alaikumsalam,” Ai menghembuskan napasnya kuat sekali.
**
“Besok kita makan apa, Bu.”
Telor di dalam piring Bintang utuh. Telur mata sapi yang biasanya harus berbagi dengan adiknya, Tiwi. Kadang Bintang mengeluh dan sedikit marah waktu tahu di perut Ai masih ada calon adik untuknya.
“Bapak udah dapat kerjaan kan, Bu?”
Ai mengangguk.
Kang Baron sudah dapat kerja. Bukan karena sebelumnya menganggur. Kang Baron orang yang sangat bertanggung jawab sehingga tidak mungkin bila menelantarkan dirinya dan anak-anak dengan menganggur.
Kang Baron berbisnis. Apa saja. Ini sebagai wujud kesungguhanku untuk berhasil menikahimu yang sarjana, begitu setiap kali Kang Baron berkata.
Kang Baron memang bukan sarjana. Ia hanya lulusan SMU. Tapi kesungguhannya bekerja membuat Ai yakin bahwa Ai akan merasa aman berdampingan dengan suaminya.
Mulai dari satu warung makan di depan rumah dengan masakan racikan Kang Baron dan Ai diminta hanya mengawasi anak-anak saja, sampai mereka punya tiga warung makan dan berakhir di titik nol karena satu warung makan terkena musibah kebakaran, satunya dekat jalan raya mendapat saingan warung makan dengan harga jauh lebih murah, sedang yang di depan rumah entah kenapa tiba-tiba menjadi sepi pelanggan.
Mungkin karena di daerah tempat tinggalnya sudah bertumbuh banyak ruko dan mall sehingga warung makan sederhana miliknya tidak mengakomidir kebutuhan perut pelanggan yang sudah beraneka ragam.
Ada bisik-bisik yang ia dengar katanya warung makannya sudah tidak enak lagi dan mereka membeli karena kasihan.
Aisyah menghembuskan napasnya.
Semuanya terjadi cepat.
Cepat menurut hitungan akalnya.
Berujung pada Kang Baron yang putus asa karena modal habis. Dan Ai tak punya kemampuan lain karena memang sejak anak-anak terlahir ia tidak diperkenankan untuk bekerja.
“Aku terlalu mencintaimu, Ai. Aku yakin anak-anak kita akan jadi anak yang berkualitas bila hanya kamu yang menjaga. Tidak yang lain.”
Memasak makananpun Kang Baron meminta bantuan kerabatnya. Kerabat yang datang silih berganti. Tidak bisa dihitungnya hingga kerabat yang menghilang satu persatu ketika tidak ada lagi sesuatu yang bisa dicari dengan tinggal bersamanya.
“Bu…, besok kita makan apa?”
“Pasti kita akan bisa makan,” Ai tersenyum pada Bintang. Anak tertuanya yang setahun ini paling merasakan perubahan ekonomi mereka. Anak yang cukup menurut dan kerap memeriksa tempat berasnya dengan bertanya, masih ada beras atau tidak?
“Besok aku mau makan nugget, Ibu.”
Aisyah menghelus kepala Tiwi. “Insya Allah.”
Ia tahu batinnya tegang.
Seperti tegangnya janin yang menendang perutnya.
**
Ia hitam.
Tinggi.
Berwajah menakutkan mungkin sehingga teman lamanya begitu saja menawarinya. Teman lamanya yang memiliki usaha dealer motor dan kerap memiliki pelangganan yang mangkir membayar.
“Harus ada orang berwajah sepertimu yang ketika kau mengetuk saja mereka sudah ketakutan dan langsung mengeluarkan dompet untuk membayar cicilannya.”
Baron mengerti. Pelanggan rumah makannya dulu pernah bercerita mengenai hal itu. Dan ia menasehati agar mencari pekerjaan lain.
Tapi sekarang?
Kalau saja modal tidak habis. Kalau saja perut Ai tidak sedang berisi. Kalau saja…
“Ini pelanggan yang sudah tiga kali menunggak..”
“Perempuan?”
Temannya sekaligus atasannya mengangguk. “Perempuan tapi cukup nakal dan suka marah kalau ditagih. Kemarin itu karyawanku yang cukup terpercaya bisa menagihnya dengan tegas. Tapi dia minta naik gaji. Sedang aku tidak bisa memenuhinya dan dia hengkang ke tempat lain.”
Ia dibekali map transparan berisi daftar nama-nama orang yang sulit untuk ditagih.Penghutang yang nakal. Alamat dan namanya jelas. Serta intruksi apa yang harus ia lakukan berikut pantangan untuk tidak menerima tips dari pelanggan karena hanya akan membuat ia jadi tidak punya taring lagi di depan mereka.
Ia dipinjami motor yang berkesan jantan. Ia dibekali jaket kulit yang akan membuatnya berkesan gagah dan tidak bisa diajak negoisasi. Tak perlu banyak senyum. Tak perlu banyak negoisasi. Kalau perlu motor itu ditarik maka harus ditarik.
“Siap kau, Baron?”
Baron mengangguk.
Ia siap.
Demi anak-anak. Demi Aisyah. Demi harga dirinya sebagai lelaki.
**
Ya Allah, ini pasti kesalahannya.
Ai mengambil air wudlu.
Kang Baron belum menelpon. Sudah malam. Masak pekerjaan itu sampai malam? Bukankah lebih mudah menagih ketika siang? Atau mungkin karena Allah tidak meridhoi pekerjaan itu?
Sujudnya berlinang air mata sampai ia sulit untuk bernapas.
Untung anak-anak sedang bermain di rumah temannya hingga ia bisa melepaskan tangis dengan sempurna.
Pekerjaan itu debt collector.
Tidak sesuai dengan pemahaman keimanannya.
Seoarang penagih hutang yang bekerja pada perusahaan bukan dengan aturan Islam. Mungkin tidak masalah masalah untuk istri lainnya. Tapi menjadi sangat masalah untuknya.
Ia takut keterpurukan ini membuat ia salah langkah dalam memaknai ujian.
Ia takut sekali.
“Ya Allah cukupkan kami dengan yang halal..”
Tangisnya kembali pecah.
**
Baron diam.
Mungkin ia tidak pulang.
Pulang dengan tangan hampa tentu hanya akan membuat anak-anak dan Aisyah semakin tertekan.
Aisyah mungkin bisa menjual koran bekas mereka yang sudah bertumpuk ke penjual barang bekas.
Tiga rumah yang dikunjunginya tidak mendatangkan hasil.
Satu orang kelihatan ke luar dengan wajah sembab seperti habis menangis. Satunya ia melihat dengan matanya sendiri akan berangkat setelah istrinya kelihatannya memarahinya. Satunya lagi rumah kosong tanpa penghuni.
Mungkin Ai tidak mensupportnya dengan doa.
Sekarang ia berada di sebuah rumah yang penghuninya baru saja pulang.
Ia memang memutuskan untuk menunggu.
Mengumpulkan kekuatan untuk marah.
Demi anak-anak. Demi Asiyah.
Penghuni itu sepertinya baru pulang. Mungkin baru bepergian. Itu berarti akan ada uang untuk…
“Permisi..,” Baron mendekat. “Saya dari…”
Wajah penghuni itu kaget.
“Permisi…”
**
Uang itu di tangannya.
Uang itu cukup banyak. Bisa untuk makan beberapa hari.
“Mas, kalau ditanya bilang aja saya sudah pindah rumah. Cicilan tinggal tiga bulan lagi. Usaha lagi seret ini. Saya tahu Mas orang baik dan pengertian. Tolong perasaannya ya..”
Uang itu diberikan padanya.
Langsung ke genggamannya.
Terbayang ayam goreng seperti permintaan Bintang dan Tiwi.
Terbayang Aisyah dan bayi di rahimnya yang pasti menahan lapar karena beras di rumah hanya tersisa sedikit.
“Maafkan aku, Ai..,” kali ini Baron menghembuskan napasnya kuat-kuat.
Entah kenapa malam ini ia merasa begitu pekatnya ketimbang malam kemarin.
**

Oh Utang – Hikmah Republika

Dan jika (orang yang berhutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Al baqarah ayat 280)

Pernahkah berhutang? Entah sesekali atau dua kali atau bahkan kerap kali sehingga ingin menangis rasanya bila membayangkankannya.
Atau bagi yang belum, mungkin pernah terlintas atau punya keinginan memenuhi sebagian standar kehidupan memalui hutang. Memiliki ini dan itu dengan bantuan kartu kredit yang nota bene hutang juga.
Hutang alias meminjam.
Kebanyakan dari kita semoga tidak punya keinginan untuk melakukan hal itu. Terlebih maraknya orang atau instansi yang memberi keringanan pinjaman akan membebani dengan bunga yang akan memusingkan. Dan bunga itu akan berlipat seiring dengan ketidakmampuan kita untuk melunasinya. Belum lagi si penagih hutang yang galak dan kailmat-kalimatnya menyakitkan telinga.
Ada sebagian orang yang berhutang karena tuntutan gaya hidup. Dan ada sebagaian orang yang berhutang karena memang terdesak kebutuhan makan hingga hutang adalah solusi yang paling ujung yang akhirnya harus mereka tempuh.
Coba renungkan, di manakah posisi kita?
Memiliki hutang dan tidak memiliki hutang tentu lain rasa dan bedanya. Tentunya bila yang memiliki hutang itu melakukannya bukan karena tuntutan gaya hidup.
Untuk yang terdesak kehidupannya, dan tidak pernah melakukannya mungkin akan malu rasanya bila berbelanja di sebuah warung dan mengatakan akan membayarnya kalau ada uang.
Tapi bila hal itu kerapkali dilakukan, mungkin rasa malu itu akan beralih fungsi menjadi bebal hingga tidak sungkan untuk mengingkari janjinya.
Andai kita tidak berada dalam posisi seperti itu, dan tentunya selain kita harus mensyukuri ada satu hal lagi yaitu kita harus empati.
Empati bila ada seorang teman atau tetangga yang tiba-tiba mengetuk pintu rumah kita dan membutuhkan dana serta memberikan janji kapan akan membayar hutang itu.
Empati itu juga berarti bahwa kita harus tahu benar bahwa yang akan dipinjami uang itu adalah orang yang benar-benar terdesak kebutuhannya. Bahwa kita juga akan berani tegas untuk menagihnya pada saat yang tepat. Karena kadang ketidaktegasan dan ketidakenakkan hati membuat sebuah hubungan menjadi tidak berlangsung dengan baik setelah itu.
Bila ternyata empati kita masih kurang tepat karena yang kita pinjami uang ternyata adalah orang yang tidak amanah dan selalu mengingkari hutangnya. Mungkin yang harus kita lakukan hanyalah berbesar hati serta percaya bahwa ini adalah pelajaran untuk kita dan mungkin kita bisa membagi pelajaran itu untuk orang lain agar tidak terkena akibat seperti kita.
Tapi yang sebaik-baiknya yang harus kita lakukan adalah membuka telinga lebar-lebar. Mata hati kita kuak sehingga terbuka.
Adakah orang di sekeliling kita yang kelaparan yang malu untuk meminjam pada tetangganya sehingga harus berpuasa demi untuk menekan rasa laparnya? Untuk yang satu ini kita wajib bersedekah dan membagi kekenyangan kita pada mereka.
Untuk yang merasa beban kehidupan semakin beratnya tapi tidak ingin membebani kehidupan dengan hutang, percayalah. Semakin ikhlas dan semakin banyak memberi, meskipun dalam keadaan terjepit, meskipun itu hanya pertolongan untuk menyebrangkan jalan, maka pintu rezeki akan terbuka. Mungkin saja ketika kita menginginkan sesuatu, tetangga kita akan mengetuk pintu rumah kita dan memberikan sesuatu pada kita.
Percayalah.

Air Mata Bunda Sudah Mengering

“Sudahkah Bunda tahu ada wanita lain di hati Ayah?” tanya Arlen pada suatu malam ketika ia tidak bisa tidur dan Bunda kelihatan sibuk dengan bukunya di depan televisi yang menyala.
Bunda tersenyum. Ada dekik di kedua pipinya. “Kamu jangan suka menuduh sembarangan..,” Bunda menghelus kepala Arlen. “Buku ini bagus sekali. Nanti kalau Bunda sudah selesai kamu bisa membacanya.”
Arlen diam. Kesukaan Bunda selalu begitu. Menghabiskan waktu dengan membaca. Di mana-mana di dalam rumah selalu ada buku. Buku di ruang tamu dan di kamar berbeda. Dan buku-buku itu adalah milik Bunda.
“Seseorang yang pulang terlambat bukan berarti melakukan perselingkuhan, Sayang. Kamu kenal Ayahmu dengan baik, kan?”
Arlen diam. Membayangkan Ayah. Seorang Ayah yang jarang ditemuinya ketika siang. Baru pulang ketika malam. Itupun tidak dijumpai ketika ia berangkat sekolah pagi-pagi.
Seorang Ayah yang kata teman-temannya ketika melihat fotonya mengatakan cukup tampan. Seorang Ayah yang bahkan pada hari minggu sekalipun tidak pernah meluangkan waktu untuknya.
“Sudahkah Bunda mengerti…”
“Ssst..,” Bunda meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Tapi kalau Ayah…”
“Ayahmu mencari uang untuk kita berdua..”
Kinan diam. Sulit sekali bicara dengan Bunda mengenai Ayah. Yang ada di kepala Bunda hanya yang baik-baik saja tentang Ayah.
Kemarin, Arlen melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Ayah? Di sebuah mall. Menggandeng mesra tangan perempuan berbaju seksi seumurannya.
“Bunda..”
“Nanti Bunda telpon Ayah dan minta Ayahmu untuk meluangkan waktu untukmu agar curigamu hilang, ya?’ kali ini Bunda menghelus kepala Arlen. “Sekarang tidur sana..”
Arlenpun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kata-kata Bundanya.
**
“Jadi Bundamu tidak percaya?’ tanya Sisi pada Arlen di sekolah.
Arlen menggelengkan kepalanya.
“Jadi Bundamu tidak mau mengerti juga kalau yang kamu lihat itu benar Ayahmu?”
“Bunda justru melarang aku berpikiran buruk pada Ayah.”
“Tapi itu kan Ayahmu. Berjalan dengan anak sepantaran kita.”
Arlen mengangguk sedih.
“Atau mungkin kamu harus bicara langsung pada Ayahmu?”
Arlen diam.
Bicara langsung pada Ayah? Rasanya tidak mungkin. Bukan karena selain jarang sekali bertemu tapi karena ia merasa kurang akrab dengan Ayahnya itu. Yang ia ingat dengan jelas bahkan ketika kecilpun ingatan tentang Ayah kabur.
Foto-foto kenangan masa kecil hanya banyak berisi ia dan Bunda. Ada sekali bersama Ayah. Satu-satunya. Ketika mereka berenang di pantai. Dan foto itu yang ia pajang di kamar dan terkadang ia pandangi ketika mengkhayalkan situasi seperti itu terjadi lagi.
“Mungkin kamu harus bicara langsung dengan Ayahmu.. Mungkin saja benar kita salah lihat atau kalau benar kita melihatnya itu adalah Ayahmu dengan saudaramu yang lain.”
Tapi Arlen tidak pernah mengenal saudaranya yang lain.
“Aku jadi takut kalau kita salah lihat…”
Arlen mengingat terus nasehat dari Sisi itu.
**
“Katakan apa yang ingin kamu bicarakan pada Ayahmu mungkin nanti Bunda yang akan menyampaikannya langsung..”
Arlen menghembuskan napasnya. “Saya ingin bicara langsung dengan Ayah, Bunda. Pembicaraan seorang anak dengan Ayahnya. Apa tidak boleh?”
“Tapi Arlen..”
“Saya bukan anak kecil lagi, kan?”
Bunda diam. Menarik napas panjang.
“Mungkin saya salah lihat dan ingin tahu apakah benar salah lihat.”
“Anggap saja benar kamu salah lihat.”
Arlen tidak suka kalimat itu.
“Anggap saja kamu salah lihat, Nak,” ulang Bunda menundukkan wajahnya.
Arlen menggeleng. “Mungkin saya akan ke mall lagi dan nanti kalau bertemu dengan Ayah kembali, saya akan langsung bertanya..”
“Arlen…”
“Saya sudah besar, Bunda,” ujar Arlen dengan emosi meninggalkan Bunda untuk masuk ke dalam kamarnya.
**
Malamnya Arlen menunggu. Tapi seorang Ayah yang diharapkan tidak datang. Bunda seperti biasa memang selalu menunggu. Sambil membaca buku. Entah jam berapa akhirnya Bunda masuk ke dalam kamar. Mungkin letih dengan penantiannya.
“Kalau siang ini saya bertemu dengan Ayah di mall..”
Bunda menarik napas panjang.
“Bunda relakah?”
Bunda mengangguk. “Kamu sudah besar. Dan kamu berhak melakukannya karena kamu adalah anaknya.”
Arlen puas.
**
“Tidak boleh ikut kata Ibuku,” ujar Sisi menolak ketika pulang sekolah Arlen mengajaknya ke mall.
“Kenapa?”
“Ibuku bilang itu masalah kamu dan akhirnya kamu bisa menemukan jawabannya. Tapi aku tidak boleh ikut campur.”
“Tapi…”
“Ibu bilang, jawabannya ada di Bundamu…”
“Tapi Ayah itu…”
“Bundamu, Len. Coba tanyakan padanya…”
Arlen diam. Merenungkan.
**
“Bunda sebenarnya tahu apa jawabannya, kan?” pulang sekolah Arlen langsung menanyakan hal itu pada Bunda. Bunda yang sedang dudukdi teras dengan pandangan mata menerawang.
Bunda memandang wajah Arlen.
“Ini soal Ayah…”
“Apa yang harus Bunda jelaskan, Sayang..?”
Arlen diam.
“Ayahmu laki-laki sibuk…”
“Tapi Ayah berjalan bersama perempuan lain dan saya melihatnya dalam sebuah mall.”
Bunda tesenyum.
“Apakah Bunda tidak punya air mata lagi bila mengetahui hati Ayah sudah mendua?”
Bunda mendekat pada Arlen. Memeluknya. “Air mata Bunda sudah mengering dan Bunda tidak memilikinya lagi.”
Arlen tidak mengerti.
“Seseorang yang bersama Ayahmu itu mungkin anaknya..”
“Bunda..”
Bunda tersenyum. “Bunda hanya istri simpanan Ayahmu, Sayang. Dan Bunda menyadari keadaan itu, makanya Bunda tidak pernah ingin menangisi keadaan ini.”
“Tapi..”
“Maafkan Bunda, ya?”
Arlen diam.
Kaget.
Tapi tidak ada air mata yang luruh di pipinya.
Mungkin ia juga sudah tidak memiliki air mata lagi seperti halnya Bunda.
**

Berhenti Memikirkan Apa Kata Orang

LB

Apa kata orang lain sering menjadi panduan untuk individu tertentu melangkah. Apa kata orang lain bahkan sering juga membuat seorang kita ingin menghentikan langkah yang sudah kita bangun karena kita tidak enak hati dengan orang lain.
Orang lain menjadi acuan adalah hal yang wajar karena kita makhluk sosial. Kita tidak mungkin hidup sendiri tanpa orang lain. Dan kita banyak dididik untuk toleransi dan menyenangkan orang lain dengan cara yang salah yaitu menekan keinginan kita hanya karena tidak ingin orang lain menjadi tidak nyaman.
Kita dilarang bicara tegas pada orang yang kita tidak sukai, karena takut orang itu sakit hati. Kita dilarang menolak permintaan orang lain, karena itu tandanya kita bukan individu yang baik.
Mitos-mitos tentang bagaimana berhadapan dan bersikap pada orang lain dengan mengenyahkankan keinginan dan kenyaman pribadi, pada akhirnya membuat kita bukan menjadi pribadi yang toleransi. Tapi menjadikan kita pribadi yang takut bersikap.
Salah satu sikap yang banyak terjadi adalah dengan selalu memikirkan apa kata orang lain.
Mendengarkan apa kata orang lain tentu saja baik, jika yang kita dengarkan adalah kalimat yang ke luar dari orang yang baik.
Tapi mendengarkan apa kata orang lain, hanya karena ukuran mereka adalah standar lingkungan tempat mereka berada, sedang kita ingin merubah lingkungan itu, tentu menjadi tidak baik jadinya.
Novelis Jerman, Johann Wolfgan Van Goethe mengatakan bahwa hal-hal yang paling penting seharusnya tidak pernah dikalahkan oleh hal-hal yang sebenarnya adalah masalah kecil.
Jika apa yang dikatakan orang lain menurut kita adalah sesuatu yang kecil, sedang mimpi kita jauh lebih besar, harusnya kita tutup telinga dan terus melaju.
Beberapa hal di bawah ini bisa kita lakukan agar kita terhindar dari terlalu fokus pada mendengarkan apa kata orang lain :

It’s My Life
Sedikit egois kedengarannya dengan mengungkapkan kalimat ini. Ini hidup kita. Kita tahu betul mana yang baik dan mana yang benar. Langkah-langkah kita sudah kita prediksi sebelumnya dan jika kita salah kita yang akan menanggungnya.
It’s my life, meyakini bahwa kita sudah melakukan yang terbaik tentu saja membuat kita paham bahwa apa yang kita lakukan benar. Dan benar itu artinya hasil dari intropkesi panjang yang sudah kita lakukan tidak asal bersikap saja.
Ini hidup kita tentunya bukan hanya sebagai jargon tapi harus benar-benar memahami jika yang kita jalani adalah bagian dari mimpi kita. Jika kita berhak melakukan apapun dengan hidup kita, harusnya kita juga menyeimbangkan dengan pemahaman bahwa kalimat di atas akan efektif untuk diri kita dan orang banyak bila kita melakukan hal yang sifatnya positif.
Tentunya kita juga harus menyadari bahwa semakin dewasa kita itu artinya semakin dewasa juga dalam bersikap dan bertindak. Tindakan it’s my life yang orang dewasa lakukan tentunya berbeda dengan apa yang anak baru beranjak remaja lakukan.

Kita Diperhatikan
Seorang membicarakan kita entah itu di belakang kita atau justru di depan kita, itu artinya satu, mereka memperhatikan kita. Sedemikian perhatiannya mereka pada kita hingga titik terkecil dari diri kita juga mereka perhatikan.
Bukankah itu sesuatu yang menyenangkan untuk kita?
Mereka akan membicarakan keburukan kita dan kita yang tanggap bisa intropeksi dan merubah segala yang buruk menjadi baik.
Mereka membicarakan mimpi konyol kita bukankah itu juga sebuah teguran yang membuat kita bisa merenung. Merenungi apakah mimpi kita benar-benar konyol? Atau hanya karena mereka yang menganggap konyol itu yang tidak paham makna sebuah mimpi yang sedang kita jalankan.
Ingat baik-baik, kita sedang diperhatikan. Dan bersyukurlah ada seseorang yang mau mengurusi hal-hal kecil dari diri kita.

Mimpi Besar Biasa Dapat Hambatan
Setiap yang besar berawal dari yang kecil. Sesuatu yang ingin menjadi besar pasti melewati banyak hal yang menyakitkan yang justru menguatkannya untuk semakin kokoh ketika menjadi besar.
Hukum alam di dunia ini sama. Semua cita-cita luhur akan mendapat tantangan dari orang yang tidak percaya dan semua mimpi besar pasti akan dikecilkan. Tidak ada yang instant di dunia ini.
Bahkan seorang Bill Gates yang sukses tidak ingin mewariskan hartanya yang berlimpah pada anak-anaknya dengan alasan bahwa ia tidak ingin memberi sukses yang instant pada mereka.
Jika kita ingin seperti pohon besar, maka ciptakan sesuatu yang berbeda. Perkataan orang lain itu, perkataan negatif khususnya, diubah saja dalam benak kita menjadi sesuatu yang lain.
Bila kita dikatakan pemimpi, ubah kalimat itu di benak kita menjadi sebuah pujian bahwa mereka sedang memuji kita.
Dengan begitu kita terus bergairah untuk mewujudkan mimpi kita.

Mereka Menunjukkan Jalan yang Harus Kita Tuju
Seringnya kita tidak menyadari bahwa orang yang membicarakan kita sebenarnya sedang menunjukkan tempat yang bisa kita tuju. Hanya kita sering karena egois tidak memahami apa makna kalimat mereka.
Biasanya seorang yang bicara itu akan mengatakan, seharusnya begini bukan begitu.
Kita yang terburu emosi menganggap mereka tidak mendukung kita. Kita sudah antipati terlebih dahulu, padahal bisa jadi mereka mengatakan hal itu karena memang mereka sudah berpengalaman atau mereka mendengar pengalaman dari orang lain.
Saring saja baik-baik apa yang mereka katakan dan telaah dengan lebih jeli lagi.
Nanti kita akan bisa mendapatkan pemahaman baru tentang jalan mana yang harusnya kita tempuh.

Sampai Dimana Tingkat Egoisme Kita?
Apa kata orang lain tentang kita, apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri adalah kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan.
Orang dekat melihat kita sebagaimana kita adanya melalui cara kita berinteraksi dengan mereka. Jadi bila mereka membicarakan kita, di depan kita, maka bukalah telinga kita. Bisa jadi mereka ingin membuat kita lebih baik atau terlalu melindungi kita sehingga mereka takut kalau-kalau kita melakukan kesalahan.
Panglima Terakhir Adalah Hati Nurani
Jika apa yang dikatakan orang lain begitu memusingkan kepala kita, sedang kita sendiri belum paham apa yang seharusnya kita lakukan, maka jalan terbaik yang harus kita lakukan adalah dengan mendengarkan apa kata hati nurani.
Hati nurani menjadi panglima kita yang terakhir, penunjuk kebenaran. Tentunya hati nurani ini bisa berfungsi sempurna bila kita sendiri sering menggunakannya.
Sering-seringlah melakukan perenungan dan intropeksi diri sehingga hati nurani kita menjadi jernih dan bisa menuntun kita ke arah yang paling baik.

Kejutan Allah Bernama Award

pemenang IBW award 20120

Sepanjang karir sebagai penulis, saya tidak pernah menyangka kalau suatu saat akan mendapatkan hadiah berupa IBF AWARD. Bahkan ketika membaca berita tentang IBF AWARD pun yang ada di kepala adalah bahwa itu sesuatu yang tidak pernah terbayangkan.
Pesimiskah saya sebagai penulis?
Tentunya tidak.
Justru saya adalah penulis yang optimis. Untuk karya yang saya tulis yang saya kirim ke media saya selalu yakin bahwa tulisan saya akan dimuat.
Untuk tulisan yang saya kirim ke penerbit, saya juga yakin kalau itu akan di acc menjadi sebuah buku.
Untuk sebuah karya yang saya kirimkan dalam ajang lomba penulisan, saya bahkan mantap dengan target menjadi salah satu pemenang.
Tapi tidak untuk menjadi pemenang IBF. Mendapat award? Saya bahkan tidak pernah membayangkan hal itu.Karena apa?
Karena saya bukan penulis yang aktif di organisasi kepenulisan. Saya penulis bebas tanpa ikatan organisasi. Saya merasa bisa bebas terbang tanpa ikatan.
Saya juga merasa belum bermanfaat total sebagai penulis. Saya cinta mati dengan dunia menulis yang sudah membuat saya menjadi sarjana. Mampu membiayai kuliah saya di dua tempat. Mampu membiayai kursus-kursus yang saya ikuti. Begitu cinta matinya dengan dunia menulis, maka saya berkeputusan untuk kerja di rumah dan menjadi ibu rumah tangga plus dengan menulis.

Lalu apa hebatnya saya ketimbang penulis lain?
Tidak. Saya tidak hebat.
Saya masih berkeinginan bermanfaat untuk orang banyak. Tapi saya baru bisa melakukannya dengan menulis. Dengan dua anak yang masih kecil, dan fokus saya untuk menjadikan rumah tangga saya rumah tangga yang berkualitas dengan meningkatkan kualitas saya, pasangan dan anak-anak, maka saya baru merasa manfaat saya hanya ada di situ. IBF AWARD hanya untuk penulis yang hebat dan banyak manfaat. Saya jauh dari kriteria itu.

Tapi rupanya Allah ingin memberi kejutan untuk saya.
Ini bukan lagi sebuah penghargaan. Ini adalah benar-benar sebuah kejutan. Kejutan yang buat saya luar biasa dan tidak terjadi begitu saja.

Ketika buku NAYLA MENCARI BUNDA sebelum berganti judul AKU SAYANG BUNDA saya kirim ke Indiva, buku itu pernah saya kirim ke sebuah penerbit lain. Mereka bilang akan menerbitkan tapi tidak tahu waktunya.
Untuk karya yang saya buat dengan hati jelas saya tidak bisa menunggu. Saya harus mengirimkan ke penerbit lain yang bisa menerbitkannya.
Buku ini saya buat dalam keadaan terpuruk setelah suami bangkrut dari usahanya. Saya mengetik dengan komputer yang layar monitornya menciut hingga separuhnya. Tidak berani menaruhnya ke tukang servis komputer karena prioritas utama kami adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Satu penerbit di Solo setelah hunting penerbit terasa klik di hati. Tidak pernah terpikirkan apakah itu penerbit besar atau kecil. Saya cuma ingin buku saya terbit. Buku anak karya saya yang pertama setelah saya memutuskan untuk hijrah menulis buku anak.
Ternyata buku itu laris manis dan cetak ulang. Design covernya cukup memikat dan eye catching. Dan berujung pada penghargaan IBF AWARD.

Dua minggu sebelumnya memang saya bermimpi mendapat hadiah. Begitu nyatanya mimpi itu sampai saya menuliskannya dalam buku harian. Tapi saya pikir itu hanya bunga tidur. Karena saya tidak sedang mengikuti sebuah lomba apapun.

Akhirnya…IBF AWARD 2012

Naik panggung dan mendapat hadiah dari lomba menulis? Sering. Tapi yang ini beda. Karena saya tidak merasa ikut berkompetisi di dalam sebuah lomba. Buku saya terpilih karena penerbit yang mengirimkannya untuk diseleksi.
Sebuah laptop warna biru penghargaan tambahan dari Pak Menteri membuat saya terharu. Bukan karena dari Pak Menterinya. Tapi karena laptopnya.
Sebagai penulis saya tidak memiliki laptop. Karena saya lebih suka memilih kertas untuk menulis ketika dalam perjalanan ketimbang laptop. Ada komputer di rumah dan saya pikir sudah cukup untuk saya pakai menulis.Tidak perlu lagi sebuah laptop.
Terbersit untuk membeli tapi saya singkirkan dengan alasan tidak ingin boros. Dan komputer itu yang layarnya hanya separuh. Yang ternyata pada tahun yang sama membuat saya bisa menghasilkan satu buku novel anak dan buku non fiksi panduan rumah tangga muslim. Dan keduanya cetak ulang.

Tapi Allah ternyata ingin memberikan kejutan pada saya. Sebuah laptop warna biru, warna kesukaan saya. Pak Mentri Pendidikan Mohammad Nuh merasa bahwa hadiah uang sebesar 7 juta untuk pemenang IBF masih kurang. Maka atas inisiatif beliau, semua pemenang mendapat hadiah tambahan uang sejumlah 2 juta lima ratus ribu rupiah. Plus laptop berwarna biru.
Laptop itu yang membuat saya di panggung dan suami di bawah panggung refleks saling berpandangan. Ini hadiah yang sama sekali tidak pernah kami duga.
Dan itu hadiah terindah dari Allah untuk ulang tahun saya (6 Maret), ulang tahun pernikahan (11 Maret) yang saya terima pada tanggal 9 Maret di hari ulang tahun si bungsu.

Allah punya rencana lain yang saya tidak tahu.
Tugas saya hanya terus menulis, terus mengurus rumah tangga, terus meningkatkan kualitas pasangan dan anak-anak dan terus menjadi manusia yang bersyukur.

Dania Gadis Bandara

Dania Gadis Bandara

Ayah mengangkat tubuh Dania dalam posisi tengkurap. Tangan Ayah tegak lurus ke atas. Kedua telapak tangan Ayah yang kuat mencengkeram pinggang Dania.
“Terbang, Ayah….” Dania bersorak.
Di pinggir rel kereta api di antara angin yang berembus cukup kencang. Jilbab Dania ujugnya berkibar terkena angin.
“Rentangkan tanganmu..,” Ayah berteriak.
Dania mengangguk, merentangkan kedua tangannya seperti sayap pesawat.
Wuss….
Ayah berputar kencang dengan tubuh Dania yang masih diangkatnya.
“Aku bisa terbang, Ayah…!”
Sore itu di pinggir rel kereta api. daun-daun bergerak diembus angin. Dania gadis kecil bermata bulat memejamkan kedua matanya.
Kejadian “terbang” bersama Ayah itu membuat Dania selalu ingin terbang. Majalah bekas kepunyaan Ayah yang Ayah beri bergambar pesawat selalu Dania baca.
Sampai suatu hari, Ayah Dania hilang di laut ketika diajak mencari ikan oleh tetangganya yang memang punya hobby mencari ikan di laut.
Tetangga itu pulang dalam keadaan sudah meninggal.
Ibu Dania akhirnya menitipkan Dania di rumah kerabatnya dekat bandara.

Based on true story.
Kisah ini lama sekali saya ingin tulis. Tapi saya endapkan.
Hingga dua tahun yang lalu saya kembali survey ke beberapa bandara untuk memastikan setting yang saya buat tidak melenceng dari alur bandara saat ini.