Novel Remaja Selamat Pagi Nona Peramal

buku novel 1

Ini novel pertama saya. Novel remaja. Bercerita tentang Salamah gadis kecil yang suka protes. Ia sering protes pada keadaan sekelilingnya. Termasuk protes pada kebiasaan kakaknya yang suka bermain ramalan. Memang mereka hidup di lingkungan yang dekat dengan hal seperti itu.
Salamah kritis meskipun ia juga ikut penasaran bagaimana caranya memainkan jailangkung. Sampai akhirnya kakaknya yang bernama Fitri diajak untuk tinggal di rumah pakdenya yang tidak memiliki anak. Di sana Fitri mendapat kelimapahan harta, tapi jiwanya kosong. Ia lupa shalat dan sudah lupa juga mengaji.
Setiap kali Salamah melihat keadaan itu, Salamah protes. Tapi Salamah sering dianggap anak kecil dan tidak didengarkan nasehatnya.

Lalu apa yang selanjutnya terjadi pada Fitri dan Salamah?
Semuanya ada lengkap di buku setebal 133 halaman yang diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House.

Tun dan Hujan

1625761_826957303986479_996557859_n

Tun tidak pernah membenci hujan. Tun bahkan sangat cinta dengan hujan. Hujan yang turun di halaman depan rumahnya yang sempit. Hujan yang turun dan tidak bisa mengalir di selokan tempat tinggalnya. Hujan yang dirutuki oleh tetangganya yang sudah capek terkena banjir dan hujan yang membuat anak-anak memilih merapat pada Tun sambil melihat berita kebanjiran di televisi tentang banjir di lingkungan mereka.
Tun juga tidak pernah membenci hujan seperti suaminya membenci hujan. Bim, suaminya sejak dua tahun yang lalu selalu saja histeris setiap kali melihat hujan turun salah tempat. Salah tempat karena hujan yang harusnya didorong ke lautan, turun di tengah jalan. Salah tempat karena harusnya hujan turun bukan di tempat Bim disewa sebagai pawang hujan.
Tun bahkan pernah membuang segala barang sesaji yang sudah dipersiapkan Bim pesanan dari tetangga depan rumah yang akan hajatan.
Tun sangat merindukan hujan di musim kemarau yang begitu panjang.
Tenggorokan Tun sering sakit karena ia tidak terbiasa dengan debu-debu yang selalu berterbangan. Tawuran antar kampung selalu terjadi di musim panas. Tawuran pada malam hari setelah mereka letih bekerja seharian mencari nafkah . Tawuran karena sedikit bunyi musik atau senggolan di jalan yang sempit.
Panas selalu memanaskan. Memanaskan hati, memanaskan kepala. Membuat tetangga teman berkumpul selama bertahun-tahun, bisa menjadi musuh dalam sedetik.
Tapi Bim akan bertambah panas jika hujan sampai turun. Bim tidak akan peduli betapa banyak jumlah kebakaran yang sudah terjadi dimulai dari kampung sebelah merembet ke kampung yang lain. Selalu terjadi setiap minggu di musim kemarau.
Tun bahkan tidak berani membenci hujan meski hujan pernah membuatnya terjerembab ke dalam selokan yang tidak terlihat karena dipenuhi genangan air. Tun bahkan juga tidak berani membenci hujan yang membuat satu anaknya hilang terbawa banjir dan tidak pernah ditemukan hingga saat ini.
Tun tidak seperti Bim. Bim luar biasa membenci hujan. Bim hanya ingin panas. Bim yakin hujan memang penting tapi tidak sepenting panas. Terlebih sejak di PHK dua tahun yang lalu dan berguru dengan seorang eyang yang meminta Bim menemaninya menjadi pawang hujan. Maka lengkaplah cara Bim membenci hujan.
Bim membenci hujan dengan berbagai cara. Bim tidak menyediakan jas hujan untuk anak-anak di rumah seperti para tetangga. Bim bahkan mengajari anak-anak cara menantang
hujan dengan tidak menggunakan pelindung apapun. Tun dan Bim akhirnya sering bersitegang karena anak-anak mereka sering sekali demam terkena hujan. Bim bilang Tun memanjakannya. Memanjakan hujan dan membiarkan hujan bersarang di tubuh anak-anak. Harusnya Tun membantu agar hujan tidak turun.
Tun tidak ingin membenci hujan.
Meski bertahun-tahun mereka tinggal di gang sempit di pinggir kali yang setiap tahun selalu menjadi langganan banjir. Meski hampir setiap minggu di musim penghujan rumah mereka terkena genangannya hingga Tun berjuang keras membersihkan lumpur kotor itu dari lantai rumah mereka.
Hujan untuk Tun adalah pengganti air mata. Air matanya yang tidak lagi bisa turun karena Bim mengeringkannya. Bim bilang salah satu cara agar ia sukses menjadi pawang hujan adalah tidak boleh membiarkan ada air mata di dalam rumahnya. Sebab air mata adalah sumber dari segala sumber air. Air mata ada pada kolam yang tidak bisa berhenti mengalir bahkan akan terus menerus menghasilkan air.
Pagi tadi, Bim berpesan agar Tun berdiri di depan rumah sambil membaca jampi-jampi yang sudah diajarkan oleh Bim. Musim hujan sudah akan datang. Beberapa kali mendung terlihat meski hujan baru turun dalam bentuk gerimis kecil lalu menghilang berganti panas kembali.
Bim memohon di malam hari. Berlanjut di pagi hari. Pekerjaannya harus Tun dukung karena memang itu yang harus Tun lakukan. Tidak ada yang lain. Atau Tun dan anak-anak harus berutang lagi pada tetangga dan rela dicemooh lagi.
“Pergi pergi….”
Kalimat itu yang Bim ajarkan untuk Tun ucapkan berkali-kali dan hanya boleh berhenti ketika Tun melihat awan sudah pergi.
Ramalan cuaca semalam mengatakan hari ini seluruh kota akan terkena hujan deras merata. Hujan pertama di musim penghujan.
“Sepuluh kali bayaran di tempat yang lain,” begitu yang Bim bilang pada Tun.
Sepuluh kali bayaran untuk pawang hujan di musim hujan memang bayaran yang layak. Sebab hujan sering membandel dan membuat pawang hujan yang satu kali mengalami kegagalan saja dijauhi pelanggan.
Sepuluh kali bayaran itu artinya utang Tun di tukang sayur bisa lunas. Utang anak-anak pada tukang nasi uduk yang menjadi kesenangan mereka untuk sarapan juga bisa lunas. Utang daster Tun juga bisa lunas.
“Terus bilang pergi, pergi…,” ujar Bim sebelum berangkat.
Tun mengerti.
Mata Tun memandangi punggung Bim yang jauh darinya.
Tun tidak perlu masak hari ini. Dua anaknya ketika berangkat sekolah sudah Tun bawakan roti yang mereka beli dari pedagang roti keliling. Roti isi coklat yang lumeran coklatnya bisa mengotori bibir anak-anak.
Tun juga cukup menganggukkan kepalanya ketika anak-anak minta ijin berangkat sekolah sambil mulutnya terus mengucap rapal pergi.
Pergi untuk awan yang sebenarnya Tun suka. Pergi untuk hujan yang sebenarnya membuat Tun mrasa nyaman. Pergi untuk setiap mendung yang membuat Tun jadi ingat masa lalunya ketika sering Tun dan ibu berlari-lari di bawah hujan untuk menyusul Bapak di sawah.
“Pergi pergi…”
Tun naik ke lantai dua rumahnya. Lantai sederhana. Itu juga bukan buatan tukang yang ahli. Tapi buatan Bim dengan kemampuan seadanya. Bim hanya belajar dari tukang. Dari melihatnya. Bim cuma memasang kayu-kayu, kayu bekas dari rumah besar yang baru dibangun dan Bim beli murah, Bim gunakan untuk membangun lantai dua.
Beberapa kayu melintang dipasang di tembok. Beberapa berdiri di tengah rumah sebagai penguat. Lalu Bim memasang triplek, itu pun bukan triplek baru tapi triplek bekas hasil orang yang membangun.
Di lantai dua Tun bisa tidur dengan bebas tanpa perlu takut hujan datang. Lemari pakaian juga diletakkan di lantai dua. Tun bahkan memindahkan kompor ketika musim hujan ke lantai dua rumahnya.
Dari atas rumahnya Tun bisa lebih dekat melihat awan. Awan yang bergumpal. Tetangga yang sibuk membetulkan atap. Mengetok, memaku. Tetangga lain yang mengomel dan berkata bahwa ketokan dan pukulan martil itu membuat atap rumah mereka jadi bergeser dan rumah mereka menjadi bocor.
Dari atas rumahnya Tun bisa melihat kehidupan di gang sempit di bawahnya. Gang sempit yang hanya bisa dilewati satu kendaran bermotor saja. Yang setiap rumah berlomba-lomba menaruh kursi di pinggir jalan untuk teras rumah mereka dan duduk-duduk di waktu sore.
Dari atas rumahnya Tun bisa melihat seorang lelaki berdiri. Beberapa tetangga juga ikutan berdiri.
Tun sudah biasa, di tempat tinggalnya yang saling berdempetan, setiap orang ingin tahu urusan orang lain.
“Tun…,” seorang tetangga yang melihat Tun di atap rumahnya berteriak memanggil.
Awan itu semakin gelap saja. Tun memandang ke langit. Jika hujan itu turun maka kesenangannya akan terpenuhi tapi bila tidak turun maka kesenangan anak dan suaminya yang akan terpenuhi. Tun merasakan tubuhnya bergoyang. Mungkin awan yang didorong oleh Bim membuat angin bertiup cukup kencang.
“Tun…”
“Pergi, pergi…,” Tun berucap berulang-ulang. Semakin khusuk, semakin keras, semakin tidak peduli pada orang yang berteriak memanggil-manggil namanya. Ia merasakan goyangan semakin keras.
“Tun…!” tetangga di bawah masih berteriak, mereka berhamburan ke luar rumah.
“Pergi, pergi…”
“Tun…, gempa.!”.
**

Doa yang Tidak Sederhana

DSCF2362

Tak lelo lelo lelo ledung
Cep meneng ojo pijer nangis
Anakku sing ayu rupane
Yen nangis ndak ilang ayune
Tak gadang biso urip mulyo
Dadio wanita utomo

(Song by Waljinah)

 

            Pernah membaca buku cerita Sewidak Loro? Buku cerita anak itu inspiratif sekali untuk saya. Bercerita tentang doa ibu untuk anak gadisnya yang buruk rupa dan hanya memiliki enam puluh dua rambut di kepalanya.

Anak gadis yang buruk rupa dan diejek tetangganya itu setiap malam selalu didoakan lewat lagu. Lagu yang mengatakan bahwa kelak ia akan menjadi istri seorang raja. Lagu yang diulang-ulang setiap malam itu membuat salah seorang tetangga yang merasa terganggu menghadap raja. Dan mengatakan bahwa tetangganya ada yang menginginkan anaknya untuk menjadi istrinya.

Maksud hati ingin membuat ibu yang baik hati itu berhenti mendoakan anaknya dan menina bobokan dengan lagu, ternyata membuat raja memiliki pikiran lain.

Raja justru yakin bila putri itu tentu saja cantik rupanya. Dan yakin ibu yang bernyanyi dan berharap seperti itu pasti tidak sedang berdusta.

Alkisah raja mengirimkan pengawalnya untuk menjemput Sewidak Loro dengan tandu. Dan si Ibu meminta agar sepanjang perjalanan tandu itu tidak boleh dibuka.

Sepanjang perjalanan, bidadari-bidadari dari kayangan turun. Merias Sewidak Loro dan menjadikan wajah buruknya menjadi wajah seorang wanita secantik bidadari. Tentu saja sang Raja jatuh hati dan meminangnya menjadi istri.

Moral cerita itu saya pegang terus sejak saya membaca buku itu ketika Sekolah Dasar. Tentang sebuah kekuatan doa dan sikap optimis dari seorang ibu kepada anaknya. Bahkan ketika orang lain tidak memiliki harapan sama sekali.

Doa itu menembus ke langit yang paling tinggi. Merubah nasib buruk menjadi nasib yang baik.

Hal yang sepele seperti itu yang sering dilupakan manusia zaman sekarang. Action berkali-kali dilakukan tapi mengabaikan sesuatu yang dianggap kecil yang dianggap doa.

Sewidak Loro cerita yang sederhana yang ketika dibacakan pada anak-anak, mereka akan paham maknanya.

 

Doa dan Klik

 

Lalu apa hubungannya doa dengan klik?

Saya menyebutnya klik sebagaimana anak-anak muda sering menyebutkan. Bila mereka cocok dengan seseorang mereka akan mengatakan klik.

Klik itu bunyi yang biasa. Bunyi yang bisa dihasilkan oleh dua benda yang beradu dan terbentur. Tidak semua benda memang menghasilkan bunyi klik.

Songket telepon dimasukkan ke ujungnya berbunyi klik. Tombol lampu ketika dinyalakan atau dimatikan akan berbunyi klik. Hingga akhirnya klik itu menjadi diperlebar maknanya menjadi sesuatu yang sering diartikan sebagai bentuk kecocokan.

Aku dan kamu klik. Itu artinya aku dan kamu cocok. Aku dan kamu menjadi satu kesatuan utuh.

Klik dan doa itu rangkaian yang menyatu untuk saya.

Karena saya selalu berdoa agar berada di dalam lingkungan yang tepat, teman-teman yang tepat, dan doa itu saya percayai bisa menjadi pembuka jalan untuk bertemu dengan orang-orang yang tepat juga berada di lingkungan yang tepat, maka ada signal tersendiri ketika saya berada pada suatu siatuasi yang tidak tepat.

Klik itu artinya, ketika saya melihat seseorang mendekat tapi signal di hati saya mengatakan bahwa ia bukan teman yang cocok untuk saya, maka saya serasa ada tembok menghalangi.

Maka doa itu membuat saya selalu bertemu dengan teman-teman yang memang klik untuk saya. Bukan karena teman-teman itu memahami saya, tapi karena kami saling memahami.

Bukan karena pertemanan arahnya juga di jalan yang lurus tanpa masalah. Tapi pertemanan itu hadir untuk saling membantu menguatkan ketika datang masalah.

Doa itu membuat segala yang rumit menjadi sederhana. Terkadang kemampuan doa bekerja melebihi kemampuan kita merencanakan. Segalanya menjadi mudah selesai ketika dibantu dengan doa.

Doa dan Action

Cerita Sewidak Loro memang tidak mengajarkan action. Si mbok, ibu Sewidak Loro terlalu lugu untuk melakukan action menjadikan putri buruk rupanya menjadi istri seorang raja. Si Mbok tahu diri. Dan saking tahu dirinya itu, ia berdoa terus menerus dengan suara lantang. Hingga suaranya itu terdengar oleh orang lain dan orang lain bertindak melakukan action yang akhirnya berwujud menjadi sebuah kenyataan.

Kita hanya berdoa dan merasa bahwa doa saja akan mengantar kita pada sesuatu perubahan bisa saja terjadi. Apalagi doa itu kita panjatkan bukan karena kita bukan karena kita orang yang selurus seperti Mbok-nya Sewidak Loro. Tapi karena kita orang yang malas untuk melakukan sebuah action.

Kita tidak mau berubah bukan karena keterbatasan diri kita tapi karena kita memang malas untuk melakukannya.

Di Negeria, seorang pengemis yang bertahun-tahun menjadi pengemis pada satu titik akhirnya melakukan action. Itu terjadi ketika seorang peramal melihat garis tangannya dan melihat tanggal lahirnya yang katanya sama dengan garis tangan dan tanggal lahir pelukis terkenal Leonardo Da Vinci.

Sebuah ramalan bagus tanpa action tetap menjadikannya pengemis selama bertahun-tahun. Hingga ia akhirnya bertemu peramal kedua dan meramalkan hal yang sama.
Lalu ia mulai melakukan perubahan.
Pengemis itu mulai belajar melukis. Ia mulai melakukan action dengan melukis. Berhari-berbulan hingga akhirnya lukisannya menjadi bagus dan memiliki daya jual tinggi. Akhirnya ia dikenal sebagai seorang pelukis terkenal yang lukisannya banyak digemari di negaranya.

Action bukan sekedar berharap dan berdoa.

Jika doa adalah landasan maka action adalah pesawat terbangnya yang akan membawa kita sampai pada tujuan.

Tinggal kita memilih yang mana. Apakah kita akan action menggunakan pesawat mainan, helicopter, pesawat penumpang atau sebuah pesawat jet. Masing-masing tentunya ditentukan dengan kapasitas kemampuan kita untuk menalar sampai sejauh mana kita bisa melakukan action itu.

Jika nyali kita kecil jangan bermimpi menggunakan pesawat jet. Bisa hancur berkeping kita karena tidak bisa mengendalikannya.

Lakukan action dari hal paling kecil yang kita bisa. Lalu bertahap setelah yang kecil itu menjadi kebiasaan, tingkatkan action pada sesuatu yang lebih besar dan lebih besar lagi. Hingga pada suatu saat kelak, kita akan berdiri di suatu tempat dimana kita merasa bahagia karena itulah hasil yang selama ini ingin kita dapatkan.

Mari kuatkan doa kita.

Ketika Linda Membenci Ibu

DSCF2365

“Pernah kah kamu membenci Ibu seperti aku membencinya?”

Mata Noura memandangi Linda yang sedang bicara. Linda sendiri memandang ke langit yang sudah gelap karena mendung.

“Pernah?” tanya Linda kali ini menoleh pada Noura.

Noura menggelengkan kepalanya.

Membenci Ibu tentu saja tidak pernah. Tapi kalau sebal dengan omelan Ibu pernah. Setelah itu ketika Ibu membuatkan kue, sebalnya hilang begitu saja.

“Benci, tidak suka. Tidak suka sampai ke dalam hati.”

Noura memandangi Linda. Noura tidak mengerti perasaan seperti itu.

“Ibuku suka marah, Ibuku suka mengomel, Ibuku suka membuat aku menangis. . Kamu tahu Ibuku, kan?”

Noura mengangguk.

Noura tahu ibunya Linda. Noura beberapa kali ke rumah Linda tapi tidak berani lama-lama. Ibunya Linda suka mengomel. Benar. Mengomel tidak berhenti. Ibunya Linda waktu itu mengomel karena Linda menaruh sandal di atas teras. Ibunya Linda juga mengomel karena baju seragam Linda basah. Oh iya Noura juga ingat, ibunya Linda juga mengomel ketika ada anak kecil yang bolanya terlempar sampai masuk ke halaman rumah Linda.

“Aku mau punya Ibu yang lain…”

Noura memandangi Linda.

Langitnya semakin gelap. Noura memutuskan untuk berlari pulang meninggalkan Linda masih di bawah pohon di pinggir lapangan.

**

Besoknya Noura bertemu Linda lagi.

“Aku tetap benci ibuku. Kemarin ibuku mengambil uang tabunganku katanya uang Ibu sudah habis.”

Noura mendengarkan. Semalam Noura bertanya pada Ibu tentang perasaan seperti Linda. Tapi Ibu hanya tersenyum. Ketika Noura mendesak, Ibu bilang harusnya Linda bicara pada ibunya apa yang Linda tidak suka.

“Aku mau kabur saja…”

Noura sungguh tidak mengerti.

“Kalau aku punya Ibu seperti Ibu kamu pasti aku suka.”

Sayangnya bel sudah berbunyi. Tapi sepanjang jam pelajaran, Noura melihat Linda menunduk saja.

**

“Bawakan kue untuk teman kamu dan ibunya.”

Hari ini Ibu membuat kue bolu kukus berwarna pelangi. Noura tidak ulang tahun tapi memang kebiasaan Bunda untuk selalu membuat kue.

“Bawakan kue ini, ya?”

Noura mengangguk. Mungkin Linda sedang sedih begitu kata Ibu. Noura boleh mengajak Linda ke rumah dan bermain di kamar Noura.

“Seringnya anak-anak tidak tahu apa yang orangtua pikirkan,” ujar Ibu sambil tersenyum.

Kue bolu kukus itu Noura bawa. Rumah Linda agak jauh dari rumah Noura. Berbeda blok. Dengan sepeda ungunya rumah Linda bisa cepat Noura datangi.

Tapi rumah itu sepi.

Tidak ada bel. Pintu pagarnya tertutup.

“Permisi…,” Noura berteriak. “Permisi….”

Tidak ada yang datang. Tapi sebentar kemudian, seorang tetangga di sebelah rumah Linda yang bicara.

“Yang punya rumah ke rumah sakit.”

“Linda?” tanya Noura.

“Bukan. Ibunya masuk rumah sakit. Pingsan tadi.”

**

“Pernah kah kamu membenci Ibu?”

Pertanyaan itu kembali Noura dengar dari Linda. Pertanyaan yang membuat Noura memandangi Linda.

Di rumah sakit Linda ditemukan. Untung Ibu mau mengantar Noura ke sana. Ibunya Linda dirawat karena tiba-tiba pingsan. Rupanya penyakit darah tinggi ibunya Linda kambuh sejak beberapa hari yang lalu.

“Ibu tidak punya uang. Ibu bingung. Beberapa hari jualan Ibu tidak laku terus,” Linda mulai menangis.

Noura tahu, ibunya Linda memang berdagang nasi uduk di depan rumahnya. Ayah Linda sudah meninggal sejak lama.

“Aku menyesal…”

Noura duduk mendekat pada Linda lalu merangkulkan tangannya di bahu Linda.

Mata Linda merah.

“Aku menyesal pernah membenci Ibu.”

Noura tidak perlu menjawab. Ibu yang berdiri di dekat mereka tersenyum.

Mungkin Ibu benar, kadang-kadang anak-anak tidak pernah tahu apa yang dipikirkan orangtuanya.

**

 

 

 

“Pernah kah kamu membenci Ibu seperti aku membencinya?”

Mata Noura memandangi Linda yang sedang bicara. Linda sendiri memandang ke langit yang sudah gelap karena mendung.

“Pernah?” tanya Linda kali ini menoleh pada Noura.

Noura menggelengkan kepalanya.

Membenci Ibu tentu saja tidak pernah. Tapi kalau sebal dengan omelan Ibu pernah. Setelah itu ketika Ibu membuatkan kue, sebalnya hilang begitu saja.

“Benci, tidak suka. Tidak suka sampai ke dalam hati.”

Noura memandangi Linda. Noura tidak mengerti perasaan seperti itu.

“Ibuku suka marah, Ibuku suka mengomel, Ibuku suka membuat aku menangis. . Kamu tahu Ibuku, kan?”

Noura mengangguk.

Noura tahu ibunya Linda. Noura beberapa kali ke rumah Linda tapi tidak berani lama-lama. Ibunya Linda suka mengomel. Benar. Mengomel tidak berhenti. Ibunya Linda waktu itu mengomel karena Linda menaruh sandal di atas teras. Ibunya Linda juga mengomel karena baju seragam Linda basah. Oh iya Noura juga ingat, ibunya Linda juga mengomel ketika ada anak kecil yang bolanya terlempar sampai masuk ke halaman rumah Linda.

“Aku mau punya Ibu yang lain…”

Noura memandangi Linda.

Langitnya semakin gelap. Noura memutuskan untuk berlari pulang meninggalkan Linda masih di bawah pohon di pinggir lapangan.

**

Besoknya Noura bertemu Linda lagi.

“Aku tetap benci ibuku. Kemarin ibuku mengambil uang tabunganku katanya uang Ibu sudah habis.”

Noura mendengarkan. Semalam Noura bertanya pada Ibu tentang perasaan seperti Linda. Tapi Ibu hanya tersenyum. Ketika Noura mendesak, Ibu bilang harusnya Linda bicara pada ibunya apa yang Linda tidak suka.

“Aku mau kabur saja…”

Noura sungguh tidak mengerti.

“Kalau aku punya Ibu seperti Ibu kamu pasti aku suka.”

Sayangnya bel sudah berbunyi. Tapi sepanjang jam pelajaran, Noura melihat Linda menunduk saja.

**

“Bawakan kue untuk teman kamu dan ibunya.”

Hari ini Ibu membuat kue bolu kukus berwarna pelangi. Noura tidak ulang tahun tapi memang kebiasaan Bunda untuk selalu membuat kue.

“Bawakan kue ini, ya?”

Noura mengangguk. Mungkin Linda sedang sedih begitu kata Ibu. Noura boleh mengajak Linda ke rumah dan bermain di kamar Noura.

“Seringnya anak-anak tidak tahu apa yang orangtua pikirkan,” ujar Ibu sambil tersenyum.

Kue bolu kukus itu Noura bawa. Rumah Linda agak jauh dari rumah Noura. Berbeda blok. Dengan sepeda ungunya rumah Linda bisa cepat Noura datangi.

Tapi rumah itu sepi.

Tidak ada bel. Pintu pagarnya tertutup.

“Permisi…,” Noura berteriak. “Permisi….”

Tidak ada yang datang. Tapi sebentar kemudian, seorang tetangga di sebelah rumah Linda yang bicara.

“Yang punya rumah ke rumah sakit.”

“Linda?” tanya Noura.

“Bukan. Ibunya masuk rumah sakit. Pingsan tadi.”

**

“Pernah kah kamu membenci Ibu?”

Pertanyaan itu kembali Noura dengar dari Linda. Pertanyaan yang membuat Noura memandangi Linda.

Di rumah sakit Linda ditemukan. Untung Ibu mau mengantar Noura ke sana. Ibunya Linda dirawat karena tiba-tiba pingsan. Rupanya penyakit darah tinggi ibunya Linda kambuh sejak beberapa hari yang lalu.

“Ibu tidak punya uang. Ibu bingung. Beberapa hari jualan Ibu tidak laku terus,” Linda mulai menangis.

Noura tahu, ibunya Linda memang berdagang nasi uduk di depan rumahnya. Ayah Linda sudah meninggal sejak lama.

“Aku menyesal…”

Noura duduk mendekat pada Linda lalu merangkulkan tangannya di bahu Linda.

Mata Linda merah.

“Aku menyesal pernah membenci Ibu.”

Noura tidak perlu menjawab. Ibu yang berdiri di dekat mereka tersenyum.

Mungkin Ibu benar, kadang-kadang anak-anak tidak pernah tahu apa yang dipikirkan orangtuanya.

**