Ketika Linda Membenci Ibu

DSCF2365

“Pernah kah kamu membenci Ibu seperti aku membencinya?”

Mata Noura memandangi Linda yang sedang bicara. Linda sendiri memandang ke langit yang sudah gelap karena mendung.

“Pernah?” tanya Linda kali ini menoleh pada Noura.

Noura menggelengkan kepalanya.

Membenci Ibu tentu saja tidak pernah. Tapi kalau sebal dengan omelan Ibu pernah. Setelah itu ketika Ibu membuatkan kue, sebalnya hilang begitu saja.

“Benci, tidak suka. Tidak suka sampai ke dalam hati.”

Noura memandangi Linda. Noura tidak mengerti perasaan seperti itu.

“Ibuku suka marah, Ibuku suka mengomel, Ibuku suka membuat aku menangis. . Kamu tahu Ibuku, kan?”

Noura mengangguk.

Noura tahu ibunya Linda. Noura beberapa kali ke rumah Linda tapi tidak berani lama-lama. Ibunya Linda suka mengomel. Benar. Mengomel tidak berhenti. Ibunya Linda waktu itu mengomel karena Linda menaruh sandal di atas teras. Ibunya Linda juga mengomel karena baju seragam Linda basah. Oh iya Noura juga ingat, ibunya Linda juga mengomel ketika ada anak kecil yang bolanya terlempar sampai masuk ke halaman rumah Linda.

“Aku mau punya Ibu yang lain…”

Noura memandangi Linda.

Langitnya semakin gelap. Noura memutuskan untuk berlari pulang meninggalkan Linda masih di bawah pohon di pinggir lapangan.

**

Besoknya Noura bertemu Linda lagi.

“Aku tetap benci ibuku. Kemarin ibuku mengambil uang tabunganku katanya uang Ibu sudah habis.”

Noura mendengarkan. Semalam Noura bertanya pada Ibu tentang perasaan seperti Linda. Tapi Ibu hanya tersenyum. Ketika Noura mendesak, Ibu bilang harusnya Linda bicara pada ibunya apa yang Linda tidak suka.

“Aku mau kabur saja…”

Noura sungguh tidak mengerti.

“Kalau aku punya Ibu seperti Ibu kamu pasti aku suka.”

Sayangnya bel sudah berbunyi. Tapi sepanjang jam pelajaran, Noura melihat Linda menunduk saja.

**

“Bawakan kue untuk teman kamu dan ibunya.”

Hari ini Ibu membuat kue bolu kukus berwarna pelangi. Noura tidak ulang tahun tapi memang kebiasaan Bunda untuk selalu membuat kue.

“Bawakan kue ini, ya?”

Noura mengangguk. Mungkin Linda sedang sedih begitu kata Ibu. Noura boleh mengajak Linda ke rumah dan bermain di kamar Noura.

“Seringnya anak-anak tidak tahu apa yang orangtua pikirkan,” ujar Ibu sambil tersenyum.

Kue bolu kukus itu Noura bawa. Rumah Linda agak jauh dari rumah Noura. Berbeda blok. Dengan sepeda ungunya rumah Linda bisa cepat Noura datangi.

Tapi rumah itu sepi.

Tidak ada bel. Pintu pagarnya tertutup.

“Permisi…,” Noura berteriak. “Permisi….”

Tidak ada yang datang. Tapi sebentar kemudian, seorang tetangga di sebelah rumah Linda yang bicara.

“Yang punya rumah ke rumah sakit.”

“Linda?” tanya Noura.

“Bukan. Ibunya masuk rumah sakit. Pingsan tadi.”

**

“Pernah kah kamu membenci Ibu?”

Pertanyaan itu kembali Noura dengar dari Linda. Pertanyaan yang membuat Noura memandangi Linda.

Di rumah sakit Linda ditemukan. Untung Ibu mau mengantar Noura ke sana. Ibunya Linda dirawat karena tiba-tiba pingsan. Rupanya penyakit darah tinggi ibunya Linda kambuh sejak beberapa hari yang lalu.

“Ibu tidak punya uang. Ibu bingung. Beberapa hari jualan Ibu tidak laku terus,” Linda mulai menangis.

Noura tahu, ibunya Linda memang berdagang nasi uduk di depan rumahnya. Ayah Linda sudah meninggal sejak lama.

“Aku menyesal…”

Noura duduk mendekat pada Linda lalu merangkulkan tangannya di bahu Linda.

Mata Linda merah.

“Aku menyesal pernah membenci Ibu.”

Noura tidak perlu menjawab. Ibu yang berdiri di dekat mereka tersenyum.

Mungkin Ibu benar, kadang-kadang anak-anak tidak pernah tahu apa yang dipikirkan orangtuanya.

**

 

 

 

“Pernah kah kamu membenci Ibu seperti aku membencinya?”

Mata Noura memandangi Linda yang sedang bicara. Linda sendiri memandang ke langit yang sudah gelap karena mendung.

“Pernah?” tanya Linda kali ini menoleh pada Noura.

Noura menggelengkan kepalanya.

Membenci Ibu tentu saja tidak pernah. Tapi kalau sebal dengan omelan Ibu pernah. Setelah itu ketika Ibu membuatkan kue, sebalnya hilang begitu saja.

“Benci, tidak suka. Tidak suka sampai ke dalam hati.”

Noura memandangi Linda. Noura tidak mengerti perasaan seperti itu.

“Ibuku suka marah, Ibuku suka mengomel, Ibuku suka membuat aku menangis. . Kamu tahu Ibuku, kan?”

Noura mengangguk.

Noura tahu ibunya Linda. Noura beberapa kali ke rumah Linda tapi tidak berani lama-lama. Ibunya Linda suka mengomel. Benar. Mengomel tidak berhenti. Ibunya Linda waktu itu mengomel karena Linda menaruh sandal di atas teras. Ibunya Linda juga mengomel karena baju seragam Linda basah. Oh iya Noura juga ingat, ibunya Linda juga mengomel ketika ada anak kecil yang bolanya terlempar sampai masuk ke halaman rumah Linda.

“Aku mau punya Ibu yang lain…”

Noura memandangi Linda.

Langitnya semakin gelap. Noura memutuskan untuk berlari pulang meninggalkan Linda masih di bawah pohon di pinggir lapangan.

**

Besoknya Noura bertemu Linda lagi.

“Aku tetap benci ibuku. Kemarin ibuku mengambil uang tabunganku katanya uang Ibu sudah habis.”

Noura mendengarkan. Semalam Noura bertanya pada Ibu tentang perasaan seperti Linda. Tapi Ibu hanya tersenyum. Ketika Noura mendesak, Ibu bilang harusnya Linda bicara pada ibunya apa yang Linda tidak suka.

“Aku mau kabur saja…”

Noura sungguh tidak mengerti.

“Kalau aku punya Ibu seperti Ibu kamu pasti aku suka.”

Sayangnya bel sudah berbunyi. Tapi sepanjang jam pelajaran, Noura melihat Linda menunduk saja.

**

“Bawakan kue untuk teman kamu dan ibunya.”

Hari ini Ibu membuat kue bolu kukus berwarna pelangi. Noura tidak ulang tahun tapi memang kebiasaan Bunda untuk selalu membuat kue.

“Bawakan kue ini, ya?”

Noura mengangguk. Mungkin Linda sedang sedih begitu kata Ibu. Noura boleh mengajak Linda ke rumah dan bermain di kamar Noura.

“Seringnya anak-anak tidak tahu apa yang orangtua pikirkan,” ujar Ibu sambil tersenyum.

Kue bolu kukus itu Noura bawa. Rumah Linda agak jauh dari rumah Noura. Berbeda blok. Dengan sepeda ungunya rumah Linda bisa cepat Noura datangi.

Tapi rumah itu sepi.

Tidak ada bel. Pintu pagarnya tertutup.

“Permisi…,” Noura berteriak. “Permisi….”

Tidak ada yang datang. Tapi sebentar kemudian, seorang tetangga di sebelah rumah Linda yang bicara.

“Yang punya rumah ke rumah sakit.”

“Linda?” tanya Noura.

“Bukan. Ibunya masuk rumah sakit. Pingsan tadi.”

**

“Pernah kah kamu membenci Ibu?”

Pertanyaan itu kembali Noura dengar dari Linda. Pertanyaan yang membuat Noura memandangi Linda.

Di rumah sakit Linda ditemukan. Untung Ibu mau mengantar Noura ke sana. Ibunya Linda dirawat karena tiba-tiba pingsan. Rupanya penyakit darah tinggi ibunya Linda kambuh sejak beberapa hari yang lalu.

“Ibu tidak punya uang. Ibu bingung. Beberapa hari jualan Ibu tidak laku terus,” Linda mulai menangis.

Noura tahu, ibunya Linda memang berdagang nasi uduk di depan rumahnya. Ayah Linda sudah meninggal sejak lama.

“Aku menyesal…”

Noura duduk mendekat pada Linda lalu merangkulkan tangannya di bahu Linda.

Mata Linda merah.

“Aku menyesal pernah membenci Ibu.”

Noura tidak perlu menjawab. Ibu yang berdiri di dekat mereka tersenyum.

Mungkin Ibu benar, kadang-kadang anak-anak tidak pernah tahu apa yang dipikirkan orangtuanya.

**