Pilih Buku Digital atau Buku Cetak?

Pilih buku cetak atau digital?
Pertanyaan ini buat orang lain mudah menjawabnya, tapi sebagai pencinta buku, yang suka aroma harumnya kertas. Yang suka melihat perubahan kertas putih menjadi kuning. Yang sering menjaga hati-hati agar yang meminjam buku, lembarannya tidak sampai sobek.

Ebook alias buku digital atau buku versi cetak?
Sya la la la, saya harus berpikir keras sekali. Ini bukan sekedar masalah memilih. Ini adalah pilihan panjang karena ikatan masa lalu.
Saya hidup dan terpuaskan dengan buku cetak.
Saya bahagia dengan hadirnya buku cetak.Bisa dibawa ke kamar dan dibaca walaupun akhirnya ketiduran dengan buku menutupi wajah. Teman malah pernah meminjam buku novel tebal punya saya dan ujungnya dia memberi laporan. Bukunya kecemplung bak kamar mandi, karena dia bacanya sambil buang air besar.

Banyak suka dukanya memiliki kecintaan pada buku. Yang jelas buat saya sukanya lebih banyak dari dukanya. Orang mau suka atau tidak suka dengan kesukaan saya, yang penting karena buku saya sudah menjelma menjadi manusia seperti sekarang ini.

Tapi zaman memang berubah cepat. Wusss.
Tentunya saya tidak bisa bilang dengan seenaknya bahwa buku digital tidak berguna untuk saya. Buku cetak saya suka. Tapi kapasitas penyimpanan buku di rumah sudah penuh di sana di sini di situ di ujung sana. Semua ruangan penuh buku. Gak ada yang protes di rumah, tapi saya tetap harus tahu diri. Tahu diri kalau rumah sempit dan harus ada ruang untuk yang lain.

Maka saya mulai melirik buku versi digital.
Banyak loh buku-buku digital yang recommended. Itu juga saya download di komputer bukan di HP. Alasannya karena saya menyayangi mata tua saya. Terlalu banyak buka HP, maata akan mudah memerah dan sakit.

Tidak ada wangi kertas, tapi efisien tidak memakan tempat. Karena saya masukkan di komputer paling kalau komputer error dan file hilang, saya bisa mendownloadnya lagi.
Tidak bisa dipinjamkan. Uhum ini aman dari tangan peminjam yang seringnya lupa mengembalikan. Meskipun jadi berkurang pahala saya karena itu.

Untuk saya sekarang buku versi digital dan cetak sama saja.
Yang penting manfaatnya masih bisa saya dapatkan.

Pada Bayangan Stupa di Borobudur

Riama menghentikan langkahnya. Kaki kecilnya berhenti pada sebuah anak tangga. Lalu menoleh ke belakang sambil tersenyum.
“Siapa yang bisa naik ke atas lebih dahulu…”
Riama tersenyum. Puluhan anak tangga. Dari satu relief ke relief lainnya. Alvin sengaja memberikannya setumpuk majalah lama. Lalu bercerita tentang beberapa relief di candi.
“Porno…,” ujar Riama berapa kali menunjuk gambar di majalah.
“Iya. Porno. Pelajaran kehidupan. Kita toh tidak melakukan seperti itu.”

Riama berdiri.
Menarik napas panjang. Solo Magelang ditempuh dalam waktu enam jam. Bermacet ria dalam sebuah mobil, masih harus antri di pom bensin demi untuk mengantri di toilet kecil.
“Kenapa ke Borobudur?”
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa bangunan gagah bernama candi Borobudur itu begitu kuat menariknya. Ia seperti ditarik ke masa lalu keras. Ia seperti ditantang untuk menyelesaikan apa yang sebelumnya tidak pernah selesai.
“Kalau macetnya seperti ini, nanti kita pulangnya lewat jalur alternatif.”
Riama mengangguk saja. Enam jam perjalanan dari Solo menuju candi Borobudur, belum lagi harus kesulitan mencari tempat parkir.
“Apa bagusnya di sini, Ibu?”
Riama hanya tersenyum. Sebuah kenangan yang kadang-kadang masih menelusup masuk ke dalam ingatannya, memang harus dienyahkan dengan sempurna. Dan ini salah satu jalan yang harus ditempuhnya.
Sekarang Riama berada di bagian bawah candi. Memandangi relief-relief yang terpahat pada dinding candi.
Pada satu relief candi yang ia sentuh dengan jemarinya, ia seperti tersengat. Lalu matanya terpejam. Sebuah layar seperti terbuka di benaknya.

Mereka berjalan berdua. Bersisian. Lalu Alvin berhenti. Menunjukkan satu relief.
“Porno!” Riama melotot.
Alvin memang sengaja mengajaknya ke Candi Borobudur untuk meneliti relief candi seperti yang ia baca di buku. Ada banyak hal yang harus diteliti. Alvin juga menjelaskan tingkatan candi. Relief yang berkesan porno semakin ke atas semakin bersih dari hal itu.
“Hidup ini, semakin menuju kepadaNYA, harusnya semakin membersihkan hati.”
Riama mengangguk. Tangannya terus bergerak.

Solo Magelang dengan sepeda motor. Dua jam perjalanan. Dari satu candi ke candi lain. Membiarkan Romo berbisik pada Ibu tentang kecurigaan akan hubungan mereka berdua. Ransel besar Riama berisi catatan. Alvin akan menunjukkan tempat-tempat yang membuat Riama melotot lalu bersyukur. Cuma dengan Alvin segalanya jadi menyenangkan. Alvin memberinya banyak ilmu selain ilmu ilmu yang ia dapat dari bangku kuliah.
“Kamu tahu, kalau bisa menginap di desa sini dan menyaksikan matahari terbit. Ujung candi seperti sebuah teratai di lautan awan.”

Riama tertawa.
Romo membekalinya dengan ketegasan untuk boleh berteman dengan siapa saja, tapi bisa menjaga harga diri sebagai wanita.
“Pernah Santi menginap….,” kalimat itu terhenti.
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa setelah itu relief yang menurut Alvin mengandung banyak daya magis jadi terasa biasa saja oleh Riama.

“Bagaimana aku bisa naik sampai atas?”
Riama membuka matanya seperti tersadar. Film di benaknya berhenti seketika dan membuat ia memandang ke atas.
Borobudur pada musim lebaran dipenuhi lautan manusia. Lalu para menusia itu berebut naik ke puncak, hingga anak tangga dibagi menjadi dua jalur untuk naik dan untuk turun. Beberapa orang membuang sampah seenaknya. Yang lain membuat satpam bekerja lebih keras lagi, karena duduk-duduk di stupa.

“Kamu bisa naik tangga putar dari arah sana…,” sebuah suara menyambut dari tempat lain.
Riama mengangguk.
Lalu terdengar suara langkah kaki berlari. Tidak lama kemudian terdengar teriakan dari atas. “Aku sudah sampai di atas, Ibuuuuu.”
Riama melambaikan tangannya.

Ia pernah sampai di atas. Terengah-engah. Lalu berteriak keras. “Alviiin, aku sudah sampai di atas. Capeeek.”
Seorang Alvin pada saat itu hanya melambaikan tangannya. Tidak lama kemudian menyusulnya ke atas dan bicara. “Nira ingin sekali ke sini. Mau tahu apa benar majalah-majalah dan buku yang aku pinjamkan tentang candi ini. Seperti kamu ia ingin melihat langsung relief candi dari bawah sampai ke atas.”
Riama terbakar.
Ia seperti merasakan mata Romo yang melotot setiap kali ia ijin untuk pergi meneliti candi bersama Alvin. “Kenapa kamu ndak meneliti resep masakan ibumu di dapur biar bisa jadi perempuan yang komplit?”

Matahari sebentar lagi tenggelam. Jemari Riama menyentuh relief candi.
“Kamu di sini terus? Mengenang apa?”
Riama tertawa memeluk pinggang suaminya. Handoko selalu paham perasaannya. Minggu lalu, ketika reuni digelar, Riama tersadar.
Sebuah cerita mengalir dari bibir para temannya tentang Alvin. Play Boy cap kerupuk itu sekarang sengsara hidupnya. Ia menjadi duda yang ditinggalkan istrinya. Pekerjaannya menjadi juru parkir di depan sebuah rumah makan.
“Kadang-kadang kekonyolan masa lalu harus dikenang, untuk membuat kita sadar, betapa beruntungnya kita sekarang,” ujar Riama mengerling pada suaminya.

“Ibuuu…!” sebuah teriakan terdengar.
Tangan Riama terbuka. Dua anak berlarian menuju pelukannya.
Pada bayangan stupa di Borobudur, ia beryukur. Hidupnya tidak sekelam malam tanpa bintang.

Pernikahan itu Harus Melejitkan Potensi Bukan Mematahkan Potensi

Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan mereka. Sungguh Dia Maha Perkasa Maha Bijaksana (QS Al Anfal ayat 63)

Sebuah ayat dalam surah yang berkisah tentang rampasan perang. Tapi ayat itu ada di kartu undangan yang Bapak buat untuk pernikahan saya. Terkejut saya membacanya ketika menyadari bahwa ayat ini berbeda dengan ayat-ayat umum dalam yang sering hadir di kartu undangan pernikahan. Bapak ingin memberikan sesuatu pesan pada saya, dan itu yang harus saya pertahankan.

Pernikahan.
Penyatuan lelaki dan perempuan dalam satu tempat bernama rumah tangga. Pernikahan itu bukan kurungan atau penjara. Pernikahan itu sebuah ruang besar yang dikelola bersama dan masing-masing memegang kunci satu pintu yang tersedia. Pernikahan buat saya adalah sebuah ruang kreatif, di mana salah satu pasangan memiliki waktu untuk memperhatikan pasangannya. Dan menemukan potensi si pasangan, lalu akhirnya potensi itu bisa membuat pasangan bahagia, karena ia punya sesuatu yang bisa membuatnya berharga.

Bagaimana cara agar kita dan pasangan bisa saling melejitkan potensi? :

1. Rumah tangga adalah tempat dua manusia saling bekerja sama, maka buat komitmen itu di awal menikah, untuk melakukan hal itu.
2. Buat komitmen juga untuk terbuka satu dengan yang lain. Setelah pada Sang Pencipta, maka rahasia teraman adalah dibagi pada pasangan, bukan orang lain. Dengan begitu tumbuh saling kepercayaandan, dan akan tertutup celah untuk masuknya orang lain.
3. Tunjukkan daftar mimpi kita pada pasangan dan pasangan juga begitu sebaliknya. Lalu berjanjilah untuk bersama-sama membantu impian-impian itu terwujud.
4. Andai hanya salah seorang yang memiliki mimpi dan pasangan sudah merasa nyaman dalam hidupnya, gandeng pasangan untuk melangkah bersama menuju mimpi kita. Tulari semangat kita, sehingga pada akhirnya pasangan memiliki mimpi juga.
5. Meskipun bersama, bukan berarti ke mana-mana harus berdua. Karena itu tetap sediakan ruang untuk teman dan yang lainnya. Kuncinya adalah saling menjaga kebersamaan.
6. Siap sedia untuk menjadi kasur yang empuk untuk yang terpuruk. Jika kita yang terpuruk, pasanganlah kasur yang empuk untuk itu. Sedang jika pasangan yang terpuruk, kitalah yang harus siap menjadi kasur itu.

Ternyata Bunga Edelweis Punya 10 Fakta Unik yang Jarang Diketahui


sumber:mtrinjanitrekking.com

Pernah berkunjung ke Gunung Gede atau Gunung Bromo dan melihat ada pedagang menjual bunga ungu, pink, atau bahkan warna-warna lainnya, dan ada pula yang berbentuk boneka lucu? Jangan khawatir. Kalau belum pernah, segera pesan tiket Citilink untuk terbang ke Jawa Barat menuju Cianjur, untuk bisa sampai ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kalau ingin tempat yang lebih jauh lagi, kamu bisa terbang ke Malang, dan berangkat ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Semua pasti tahu, bunga yang dijajakan para pedangang itu namanya Edelweis. Edelweis itu yang juga dikenal sebagai bunga abadi. Sebenarnya sudah ada himbauan untuk tidak memetik bunga ini. Di Gunung Gede Pangrango bahkan ada himbauan agar pengunjung tidak memetik bunga yang masih tersisa di sana. Tapi bunga itu memang membuat banyak yang penasaran sehingga masih saja ada yang nekat dan tak mau tahu, tetap memetiknya. Di sekitaran Gunung Bromo sendiri, bunga ini dikabarkan sudah punah. Tapi pada kenyataannya, masih banyak pedagang yang menjajakannya.


sumber:phinemo.com

Bunga Edelweis dalam bahasa latinnya disebut Anaphais javanica Ternyata ada banyak fakta-fakta tentang bunga yang satu ini. Kalau belum tahu, yuk simak fakta berikut ini ;

1. Edelweis dapat mencapai ketinggian 8 meter dan bisa memiliki batang hingga sebesar kaki manusia. Tapi pada umumnya, bungan ini lebih sering tumbuh tidak lebih dari 1 meter.

2. Bunga ini bisa bertahan hidup di atas tanah tandus, karena dia mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang bakal memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya. Hal ini tentu saja bisa meningkatkan efisiensi bunga ini dalam mencari zat hara.

3. Jika ingin melihatnya, kamu bisa datang ke tempat-tempat di mana bunga ini tumbuh, antara bulan April dan Agustus.

4. Bunga ini sangat disukai oleh serangga, termasuk kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, hingga lebah. Hingga 300 spesies serangga diteliti suka berkunjung ke dekat Edelweis.


sumber:jejakalam.net

5. Penelitian menghasilkan pengetahuan bahwa Edelweis bisa tumbuh banyak dengan mudah jika cabang-cabangnya dipotong. Mungkin potongan-potongan itu, ya, yang dijual pada pengunjung?

6. Kamu bisa melihat Edelweis tumbuh indah di kawasan wisata Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).

7. Kenapa dijuluki sebagai bunga abadi? Rupanya Edelweis ini punya hormon tertentu yang bisa mencegah kerontokan bunganya.

8. Bunga ini lebih banyak tumbuh di tempat dengan ketinggian sekitar 2000 mpdl atau lebih, dan tergantung suhu udara dan kelembapan pada ketinggian tersebut.

9. Jika kamu melihat ada bunga edelweis yang diperjualbelikan, biasanya itu merupakan hasil budidaya petani Edelweis, yang biasanya telihat lebih gemuk dan subur ketimbang yang tumbuh di alam bebas.

10. Bunga ini dilindungi, jadi jangan dipetik sembarangan ya. Kamu bisa dihukum dengan Sanksi pidana sesuai yang disebutkan dalam pasal 40 UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.


sumber:kumparan.com

Nah, itu tadi 10 fakta unik bunga edelweis yang mungkin kamu belum tahu. Jika ternyata kamu sudah tahu, jangan lupa berbagi informasinya pada teman-teman yang lain. Atau kamu berniat untuk mengajak mereka melihat langsung bunga ini? Well, langsung saja cek tiket Citilink, dan pilih perjalanan ke Jawa Barat atau Jawa Timur. Kamu bisa berangkat saat long weekend, supaya lebih puas jalan-jalannya.

Then, have a nice trip!

Dakta Radio, Radionya Orang Bekasi

Bekasi?
Pertanyaan itu yang sering hinggap di kepala orang ketika menyebut satu kata itu. Bekasi punya apa? Bekasi punya banyak cerita tentu saja. Bekasi sama seperti kota besar lainnya, punya banyak fasilitas. Hanya karena tertutup oleh kota besar bernama Jakarta, maka Bekasi hanya menjadi bayang-bayang saja.

Bekasi punya banyak hal. Bekasi punya sekolah bagus. Bekasi punya mall juga. Bekasi juga punya radio yang membuat saya bersyukur karene menjadi pendengar radio tersebut. Radio yang menjadi kiblatnya orang Bekasi adalah Radio Dakta.

Menjadi pendengar radio Dakta adalah suatu pengalaman berharga untuk saya. Info-infonya akurat. Ceramah-ceramah agamanya benar-benar menambah ilmu. Sampai pada suatu kesempatan, saya ingin sekali bisa bertandang ke radio ini untuk bincang buku.

Akhirnya kesempatan itu datang juga pada saya. Kebetulan ada buku terbaru saya yang terbit. Kebetulan penerbit bekerja sama dengan pihak radio. Saya hanya tinggal datang, duduk dan menjelaskan tentang isi buku. Ketika ada penanya juga sudah disiapkan hadiah oleh pihak penerbit.

Kecil tapi syarat makna itu kesan yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Dakta.
Kebetulan ketika bincang buku, di halaman radio yang cukup luas, sedang dilangsung pengajian muslimah. Karpet dan tikar terhampar. Sayangnya saya tidak bisa ikut menikmati karena sudah ada agenda lain setelah itu.

Bekasi Dicinta, Bekasi Disayang

Bekasi namanya. Kabupaten Bekasi masuk wilayah Babelan, tempat saya tinggal. Tidak terasa sudah sepuluh tahun saya tinggal di sini. Berawal dari merasa Bekasi begitu jauuuuhnya, sampai merasa Bekasi begitu terpencilnya dan akhirnay merasa betapa beruntungnya saya bisa tinggal di Bekasi.

Bekasi yang saya tinggali masuk daerah Kabupaten Bekasi, artinya masuk ke dalam provinsi Jawa Barat. Meskipun Bekasi kota hanya selemparan batu dari tempat tinggal saya. Dan itu artinya kalau urusan ini itu saya harus lari ke Cikarang karena tidak diterima di Bekasi kota. Perjalanan ke Cikarang dari tempat saya tinggal, jauuuuhnya dan membuat malas.

Bekasi namanya.
Dulu saya hanya kenal kata itu dari sajak Chairil Anwar yang judulnya Karawang Bekasi. Pertama membeli rumah di daerah Bekasi juga karena tidak terpikir untuk membeli di daerah Jakarta. Saya anak yang lahir dan besar di Jakarta. Jakarta tempo dulu yang masih hangat dan penuh pepohonan tidak akan saya dapatkan jika anak-anak saya tumbuh berkembang. Maka alternatif kami adalah Bekasi disesuaikan dengan budget pasangan muda yang baru menikah.

Dulu sekeliling saya pepohonan yang tinggi besar. Udara masih sejuk. Tapi semakin lama ternyata peminat perumahan semakin besar. Maka lahan-lahan itu pun berganti menjadi perumahan cluster. Sejuknya sudah berganti. Meski masih ada bagian lain yang bisa saya syukuri.

Saya masih bisa menemukan jajaran pohon jati dekat pesantren At Taqwa. Saya juga masih bisa menemukan hamparan sawah yang luaaaas membentang di daerah Pebayuran yang hanya lima menit dari Karawang, tapi dua jam dari tempat saya tinggal. Itu pun harus melewati jalan pintas.

Saya juga masih bisa merasakan atmosfir desa, karena dekat rumah saya masih ada hamparan kebun, di mana para petani menanam kangkung dan bayam dan beberapa gembala kambing juga kerbau.

Banyak yang harus diperhatikan dari Bekasi. Pendatang yang semakin banyak datang menggeser para penghuni lama, para penduduk asli. Pendatang yang sebagian besar bekerja di Jakarta, memberikan pemandangan baru. Perumahan yang tampil saling bersaing keindahannya plus kendaraan pribadi harusnya memberikan imbas positif pada Bekasi. Misalnya mereka membuat Bekasi lebih bersih, lebih berwawasan dan lain sebagainya.

Meski saya pendatang, saya mencintai Bekasi sepenuh hati.
Seperti kata pepatah Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung.

5 Tips Efektif Bekerja Sebagai Penulis dari Rumah

Penulis lepas atau biasa disebut penulis freelancer seperti saya bekerja banyak di rumah. Artinya rumahlah kantor saya. Memang sejak dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya sudah fokuskan untuk menjadikan rumah sebagai kantor. Sehingga saya bisa memantau anak-anak hingga saatnya mereka saya lepaskan.

Bekerja dari rumah sebagai penulis lepas, banyak tantangannya. Penulis tidak akan bertetangga dengan sesama penulis. Karena itu orang lain tidak paham dengan kerja kita, wajar saja terjadi. Orang yang bekerja dari rumah biasanya akan bertetangga dengan orang yang bekerja sebagai pegawai. Salah sangka, buruk sangka sudah biasa muncul karena faktor ketidaktahuan.

Untuk saya bekerja dari rumah, bukan berarti banyak santainya. Bekerja dari rumah itu memindahkan kantor ke dalam rumah. Itu artinya jam kerja dan disiplin tetap harus diterapkan.

1. Tegas dengan waktu. Itu yang saya lakukan. Jadi ketika ada sesuatu yang tidak saya jadwalkan masuk ke dalam waktu kerja saya, saya tolak. Meski itu terlihat kejam, tapi ternyata efektif untuk membuat orang lain paham, bahwa saya punya pekerjaan.
2. Ada target yang dikejar. Jika bekerja di kantor setiap hari ada pekerjaan yang harus dikerjakan, maka bekerja dari rumah juga seperti itu. Harus punya target apa yang akan kita kerjakan. Karena itu pikirkan apa yang akan kita lakukan besok pagi, ketika kita akan berangkat tidur.
3. Ada jam istirahat. Iya bekerja dari rumah ada jam istirahatnya. Kalau saya bisa pakai setengah jam untuk tidur siang. Dan itu sunnah yang diajarkan Rasulullah. Setelah tidur siang, pikiran kembali fresh untuk diajak bekerja lagi.
4. Fokus ke target yang belum selesai. Bekerja dari rumah bukan berarti santai tanpa target. Dan bukan berarti seenaknya berpindah target. Kalau saya selesaikan target yang sedang saya kerjakan, sebelum akhirnya pindah ke target yang lain.
5. Lembur boleh, begadang no way. Saya biasa lembur untuk pekerjaan yang belum selesai. Lembur itu artinya melebihkan jam kerja satu atau dua jam. Tapi saya tidak mau jika komputer masih menyala di atas jam sembilan malam. Karena memang saya tidak terbiasa begadang. Di samping itu, ada kewajiban saya untuk bangun di sepertiga malam dan itu jadi haknya Allah Pemilik Tubuh saya, yang memberikan saya kesehatan.

Kegiatan Langka Bernama Mendengarkan Dongeng

Mendongeng?
Anak zaman dulu, yang belum digempur tekhnologi seperti anak zaman sekarang ini, mungkin paham bagaimana rasanya mendengarkan dongeng. Siaran radio zaman dahulu banyak diisi dengan sandiwara radio. Saya sendiri bersyukur, karena Bapak dan Ibu adalah pendengar sandiwara radio. Pada jam-jam tertentu di malam hari, mereka berdua duduk untuk mendengarkan sandiwara radio. Dan saya ikut menikmatinya.

Lalu zaman berlalu cepat. Wusss. Zaman berubah. Saya bukan anak kecil lagi. Tapi saya punya Kenangan manis dengan dongeng, cerita radio dan tumpukan buku-buku. Saya ingin hal yang sama yang saya dapatkan juga bisa didapatkan anak-anak di rumah.
Buku dan dongeng buat anak-anak saya sudah biasa. Sayangnya teman-teman mereka tidak biasa. Perjuangan akhirnya harus dimulai.

Satu Pintu Tertutup Seribu Pintu Terbuka Lebar

Kegiatan mendongeng, mendengarkan dongeng sama seperti kegiatan menulis. Pendongeng, penulis, idem dito adalah profesi yang akan dianggap sebelah mata oleh orang lain. Manfaatnya apa? Dapat duitnya dari mana? Dan pertanyaan lain yang berujung dengan ukuran materi.

Melihat begitu banyaknya anak-anak di lingkungan yang keranjingan gadget. Melihat minimnya ilmu pengasuhan dari orangtua tentang parenting pada anaknya. Memahami bahwa yang harus dilakukan bukan mengutuki keadaan, tapi berjuang untuk memperbaiki keadaan.

Kerelaan harus jadi kunci utamanya. Tidak dipahami jalan terus. Tidak dianggap, tidak masalah. Yang penting fokus berbuat baik. Anak-anak di zaman sekarang harus ditarik kembali ke masa lalu. Masa di mana imajinasi mereka bisa merajalela. Masa di mana dengan membayangkan sesuatu, mereka merasa bahagia. Dan salah satu yang saya ketahui, hal itu bisa didapatkan dengan buku dan dari mendongeng.

Mendongeng. Iya kegiatan itu yang ingin saya berikan pada anak-anak di sekitar tempat tinggal saya. Kalau imajinasi dari buku, mereka sudah dapat dari buku-buku yang mereka pinjam dari perpustakaan kecil milik saya.
Hingga akhirnya pada satu kesempatan rezeki datang ke saya. Seorang teman pendongeng menghubungi. Kak Cahyono Budi namanya. Kebetulan saya dan beliau pernah menjadi juri di Konferensi Penulis Cilik Indonesia tahun 2016. Saya juri penulis pemula, beliau juri dongeng. Ia tertarik menghibur anak-anak tetangga yang sering belajar di rumah saya pada hari Sabtu dan Minggu.

Semua persiapan saya lakukan. Koordinasi dengan tetangga kanan kiri, yang kebetulan sudah biasa saya ajak melakukan kegiatan, seperti tebar nasi bungkus atau membacakan buku di PAUD perkampungan.
Anak-anak yang datang ke rumah saya beri pesan berulang bahwa akan ada pendongeng yang datang. Pendongeng itu akan membawa boneka tangan dan bercerita banyak hal pada mereka. Alhasil mereka menunggu datangnya hari H, bertanya setiap hari pada saya.

Hari H Datang Juga

Kalau acara saya adakan di rumah, maka yang datang paling 10 anak yang biasa datang ke rumah. Atau jika acara mendongeng itu saya adakan di rumah juga, paling anak-anak di blok lain yang datang akan ada sekitaran 30 orang. Itu pun tidak pasti. Karena apa? Karena kendala tinggal di perumahan alias kompleks yang orangtuanya bekerja kantoran dengan penghasilan lumayan, dongeng mungkin masuk dalam katagori nomor akhir daftar kebutuhan mereka. Dongeng? Anak kita dapat apa? Kalau saya bilang akan dapat bahagia, maka mungkin saya akan jadi bahan tertawaan mereka, karena standar bahagia yang berbeda.

Bersyukur saya punya lingkungan mengaji, yang selalu percaya kalau saya memberikan program yang tidak sekedar hura-hura saja. Maka program itu memang harus jalan agar anak-anak bahagia. Saya sendiri ikut memikirkan dananya dari mana. Konfirmasi ke pendongeng. Termasuk memikirkan makanan yang akan diberikan pada anak-anak yang datang. Plus berbagi tugas, siapa yang beli dan bungkus makanan, dan siapa yang membuat kue untuk buah tangan ke pendongeng.

Acara saya pindahkan ke PAUD. Kebetulan perumahan tempat saya tinggal diapit oleh perkampungan, yang banyak pekerjanya adalah pemulung. Ada juga beberapa rumah mewah, tapi konotasi mereka adalah orang perumahan selalu lebih kaya ketimbang mereka.
Anak-anak pemulung, pekerja kasar dengan telepon genggam mahal di tangannya harus diisi pikirannya dengan sesuatu yang baru. Kebetulan teman memiliki PAUD di perkampungan dan dia punya akses lebih luas lagi. Sehingga dia mengusahakan program mendongeng itu bisa didengarkan oleh 50 anak lebih.

Semua siap. 100 snack dengan tujuan kalau yang datang lebih dari perkiraan, tidak ada anak yang nangis karena tidak kebagian.
Anak-anak sudah rapi jam sembilan pagi. Saya resah menunggu pendongeng yang belum datang. Pas jam sudah menunjukkan pukul 9.15 saya WA, dan ternyata beliau sudah ada di dekat rumah.
Karena takut tidak tahu belokan ke rumah, saya hampiri sampai depan. Tidak tanya pakai mobil apa. Ketika ada mobil dengan sen berbelok ke kiri, saya pikir itu dia sudah datang. Langsung saya lambaikan tangan dan arahkan mobil ke tempat saya.
Mobil berbelok, sebuah kepala tersembul memanggil. O alah.., ternyata orang lain, tetangga saya. Bukan orang yang saya tunggu.

Saya kembali lagi ke depan, dan menunggu. Kali ini tidak salah, mobilnya benar dan saya melambaikan tangan memberi tahu di mana saya.

Kami ngobrol sebentar di rumah saya. Anak-anak tetangga sudah diantar ke masjid tempat diadakan acara. Saya juga sudah siap dengan motor saya. Snack sudah dibawa.
Taraaa.
Jam sepuluh tepat acara dimulai. MC saya sendiri. Dengan alasan ini acara anak-anak bukan acara resmi. Saya tidak mau kalau acaranya jatuhnya resmi. Akan kehilangan aura anak-anaknya.
Ada bacaan Al Quran tapi saya ganti saya memanggil lima anak untuk maju ke depan membaca Al Fatihah. Yang berani maju saya hadiahkan buku. Itu juga atas usul suami agar saya memberikan hadiah buku.

Setelah itu dongeng dimulai.
Waah, ada empat cerita yang dibawakan selama satu jam penuh. Tenggorokan pasti tidak enak rasanya. Alhamdulillah lancar semuanya.

Anak gadis saya sudah saya pesankan untuk nanti bergerak aktif merekam semua adegan. Dia saya bawakan kamera juga telepon genggam. Duh, tapi si anak bukan ibunya. Si anak malu untuk bergerak aktif ke sana ke mari. Alhasil dia merekam dari kejauhan. Itu juga hanya separuh karena telepon genggam habis baterainya.
Malangnya hasil rekaman separuh itu ketika diperlihatkan ke suami, ternyata suami salah tekan dan terhapuslah rekaman tersebut.

Tapi saya bahagia. Acara berjalan lancar. Meski sebelumnya saya sudah memberitahu di group RT dan responnya minim, tapi saya bersyukur itu tidak membuat saya jadi kecil hati.
Anak-anak yang datang dan ibunya yang juga datang saya tanyakan bagaimana perasaan mereka? Mereka menjawab serentak senang dan ingin saya mendatangkan pendongeng lagi.
Snack masih tersisa. Kami membawanya ke panti asuhan terdekat dan anak-anak senang menerimanya.

Ups.
Ini langkah awal. Dan saya tidak akan berhenti melangkah untuk kebaikan. Apapun kendalanya.

Standar Internasional untuk Buku Anak Lokal

Sebagai penulis, saya menjadi orang yang agak sensi alias baper, ketika banyak orang di luar sana, yang tidak suka membaca, tapi dengan mudahnya menganggap bahwa kerja penulis hanya kerja berkhayal saja.
Sebagai penulis, saya juga menjadi orang yang sensi alias baper, ketika ada yang mau menulis, lalu menyepelekan proses menulis, dianggap semuanya mudah dengan hanya berkhayal saja.
Sebagai penulis, yang kerja menulis, membaca tumpukan bahan untuk tulisan, berkelanan untuk riset agar hasil tulisannya tidak asal tulis, saya menjadi malas bicara, ketika ada yang mengatakan bahwa standar buku di Indonesia tidak bagus. Level yang selalu mereka bandingkan adalah level luar negeri.

Sebagai penulis terus-terang saya merasa meradang. Karena itu saya paling rajin ikut pelatihan ini dan itu. Saya senang mendengarkan apa sih isi kepala orang lain. Dan di saat itu saya merenung sambil berpikir panjang.


Hingga akhirnya sampailah saya pada program Room to Read. Di sini saya merasakan betapa sulitnya membuang pola pikir saya yang rumit untuk menjadi sederhana dan bisa bekerja sama dalam sebuah tim.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Bagaimana saya yang terbiasa asyik menulis sendiri, menciptakan dunia sendiri dan tahunya naskah dilempar ke penerbit, ternyata harus merangkak dari awal. Merasakan proses revisi berulang kali dan nyaris patah hati.


Alhamdulillah hadiah patah hati, nangis sendiri, sampai berada pada titik gak bisa apa-apa sebagai penulis, ujungnya berbuah manis. Hadir buku ini.
Saya tahu tanpa editor yang handal dan ilustrator yang hebat, naskah saya tidak akan bisa jadi seperti ini.

Saya berharap ke depannya akan muncul banyak buku keren seperti ini. Hingga tidak ada lagi mata yang memincing dan mulut yang nyinyir melihat buku lokal yang bersanding dengan buku luar.

Perpustakaan dan Program Mendongkrak Budaya Baca Murid

Tempat yang dikenal di benak setiap orang di mana bisa ditemukan banyak buku dan bisa dipinjam adalah perpustakaan. Perpustakaan banyak bentuknya. Bisa berupa gedung besar atau rumah kecil, perpustakaan berjalan yang dikelola individu atau perpustakaan yang dikelola komunitas dan dibuka pada setiap ada acara seminggu sekali.
Setiap pengelola perpustakaan memiliki pikiran yang sama. Bahwa dengan buku mereka percaya, anak-anak akan menemukan banyak hal yang bisa menambah wawasan mereka. Pembaca bukan hanya sekedar tahu peristiwa di belahan dunia lain, tapi juga akan dapat mengetahui pengalaman orang lain, hanya dari kebiasaan membaca.
Mencintai membaca adalah sebuah proses panjang. Orangtua, lingkungan, teman dekat menjadi penguat untuk itu.
Tidak semua anak suka membaca. Tidak semua orangtua paham bahwa membaca selain buku pelajaran itu bisa bermanfaat untuk anak-anaknya. Dan tidak semua orangtua juga paham, bahwa membiarkan anak menghabiskan waktu untuk membaca buku untuk meluaskan pikiran mereka, adalah sama dengan berinvestasi untuk jangka panjang.
Konsep membaca memang tidak bisa datang begitu saja. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orangtua pembaca akan menjadi contoh positive untuk anak-anaknya, hingga akhirnya anaknya pun akan gemar membaca. Orangtua menyumbang 52, 5 persen untuk kebiasaan membaca.

Tidak semua sekolah dasar memiliki perpustakaan. Bahkan tidak semua sekolah yang memiliki gedung bernama perpustakaan mengoptimalkan perpustakaan tersebut. Banyak gedung bernama perpustakaan dan awalnya memang diperuntukkan untuk perpustakaan pada akhirnya bergeser fungsinya menjadi ruang tata usaha. Sehingga anak tidak bisa dengan bebas datang dan membaca sesuka hati di sana. Karena suara anak-anak yang riuh akan membuat para pegawai tata usaha menjadi tidak nyaman. Buku-buku yang ada di dalamnya juga lebih banyak berisi buku paket pelajaran, sehingga tidak ada daya magnet bernama buku yang berbeda dari buku yang biasa mereka pegang di kelas.
Dilansir dari Sindonews Bahkan penelitian pada 2006 lalu menyatakan, tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Dan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga pustakawan. Perpustakaan di sekolah negeri dan swasta pun hanya mempunyai koleksi buku terbatas.

Jika titik sentral untuk menggairahkan membaca ada pada pundak perpustakaan, maka perpustakaan harus melakukan berbagai bentuk kegiatan yang membuat perpustakaan menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak-anak didik. Beberapa hal ini bisa dilakukan oleh perpustakaan seperti ;

1. Mencari Ikon yang Gemar Membaca
Kebiasaan membaca tidak hadir dengan sendirinya. Orangtua sebagai ikon pertama yang bisa mengarahkan anak menjadi suka membaca. Tapi pada kenyataannya di sebuah sekolah tidak semua orangtua gemar membaca. Maka tugas itu bisa dilimpahkan ke guru untuk menjadikan dirinya sebagai ikon yang terlihat hebat di mata anak-anak, karena kebiasaannya membaca.
Ketika sekorang guru luas wawasannya karena membaca dan asyik dalam menyampaikan materi pelajaran yang tidak ada di buku pegangan anak-anak, maka anak-anak akan mencari tahu lebih lanjut lagi. Ketika si ikon ini mengarahkan anak untuk menemukan sesuatu yang baru di dalam sebuah buku, maka ketertarikan anak akan sebuah ilmu di dalam buku akan semakin berkembang. Tentu saja pihak sekolah harus memfasilitasi kebutuhan akan buku di perpustakaannya.
Thompson mangatakan bahwa anak-anak bicara sebab mereka butuh mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginannya. Dan hal ini tidak bisa mereka dapatkan dari menulis kalimat. Karena itu orang dewasa yang harus membuktikan bahwa menulis dan membaca adalah suatu kegiatan yang berguna.

Mengajarkan mencintai buku dan memahami bahwa dalam sebuah buku ada banyak ilmu pengetahuan adalah proses yang panjang. Untuk itu yang pertama harus diubah adalah pola pikir.
Menurut Jhon C Maxwell mengubah pola pikir itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena mengubah pola pikir tidak bisa terjadi dengan otomatis.
Albert Einstein malah menekankan bahwa berpikir itu sebuah kerja keras, karena itu hanya beberapa saja yang berminat melakukannya.

Guru yang dijadikan ikon ini tentu saja, harus diberi penghargaan atau mungkin tunjangan prestasi. Sehingga semua guru akan berlomba menjadikan dirinya ikon untuk itu.

2. Menjadikan Perpustakaan Sebagai Ruang Kreatif
Sebuah perpustakaan bukan tempat yang kaku. Perpustakaan adalah ruang di mana anak bisa belajar sambil bermain. Maka agar anak bisa nyaman di sekolah dengan perpustakaannya, selain harus memenuhi rak-rak buku di perpustakaan dengan buku-buku yang menarik perhatian mereka, maka perlu dipikirkan untuk mengajak anak-anak bertugas menjadi petugas piket bergantian, menjaga perpustakaan.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Kebutuhan masa bermain mereka lebih besar ketimbang orang dewasa. Anak yang cukup masa bermainnya dan bahagia dengan itu, akan menjadi orang dewasa yang tidak kekanak-kanakkan. Maka ajaklah anak untuk belajar sambil bermain. Bisa dengan melakukan percobaan dari buku yang ada di perpustakaan. Ketika satu percobaan berhasil mereka akan semakin tertarik untuk mencari-cari buku yang lainnya lagi.
Dan tentunya adalah yang paling penting partisipasi orangtua dalam mengikuti perkembangan anaknya membaca. Usahakan orangtua dan guru bersinergi dalam hal ini. Anak bukan sekedar membaca dan meminjam buku, tapi buku itu bisa dijadikan ajang perekat hubungan dengan orangtua. Ada keterlibatan orangtua untuk membaca bersama. Bisa dalam bentuk lomba atau bisa dalam bentuk laporan.
Perpustakaan yang dikondisikan sebagai ruang kreatif tentu harus ramah anak. Mungkin menggelar karpet warna-warni atau tikar sederhana, tapi tersedia mainan edukatif untuk anak, pasti akan membuat anak betah berlama-lama di perpustakaan sekolah mereka.

3. Hadirkan Penulis
Anak yang bersentuhan dengan buku mungkin sudah paham, bahwa buku yang mereka baca ditulis oleh seorang penulis. Tapi anak lain belum tentu seperti itu. Karena itu menghadirkan penulis langsung di hadapan anak-anak, lalu mengajarkan cara sederhana pada mereka membuat buku, akan membuat mereka takjub. Penulis itu juga tentunya membuat anak menjadi paham bahwa untuk bisa bekerja sebagai penulis, anak-anak harus mulai mencintai buku.
Untuk program seperti ini, kelas inspirasi sudah melukannya. Ratusan relawan bergerak setiap tahun di kota-kota yang berbeda, bahkan sampai menjelajahi pulau. Mereka bekerja sama untuk mengajar anak-anak di daerah pinggiran dan mengenalkan profesi yang selama ini belum mereka kenal. Karena pada umumnya mereka hanya mengenal profesi seperti guru, dokter atau insinyur.
Dengan program ini, anak-anak jadi paham bahwa mereka bisa meraih cita-cita setinggi mungkin dan bisa menjadi apa saja. Para relawan biasanya mengenalkan bagaimana mereka bekerja, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Biasanya para relawan juga datang dengan setumpuk buku untuk disumbangkan ke perpustakaan. Dan mereka memiliki program kembali ke sekolah untuk membantu membenahi perpustakaan.

4. Hidupkan Taman Bacaan
Ada banyak sekolah dasar negeri yang tidak memiliki perpustakaan. Tapi biasanya dalam satu lingkungan akan ada satu dua individu yang memiliki minat baca yang tinggi dan pada akhirnya membuka rumahnya sebagai taman bacaan. Buku-buku disediakan untuk dipinjamkan. Individu seperti ini yang harus didukung penuh.
Membuat taman bacaan di era tekhnologi seperti sekarang ini tidak semudah seperti dulu. Karena yang harus dihadapi bukan sekedar membudakayakan kebiasaan membaca. Yang dihadapi adalah pergeseran kebutuhan membaca yang dan mencari ilmu, yang membuat banyak anak didik lebih suka mencari referensi cepat lewat telepon genggam mereka. Mereka hanya membutuhkan paket data untuk mengakses banyak informasi. Tinggal tulis data yang mereka inginkan, lalu muncullah semua yang bisa mereka cari.
Menurut data statistik yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada survei 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta jiwa.

Mayoritas dari jumlah tersebut adalah pengguna aktif media sosial yang Facebook menjadi media sosial yang paling banyak dikunjungi dengan 71,6 juta pengguna, diikuti Instagram sebesar 19,9 juta.

Meskipun belum optimal, tapi paling tidak Pemerintah sudah berusaha bergerak untuk menjembatani kesenjangan akan buku danj perpustakaan ini. Program bebas biaya untuk pengiriman buku ke taman-taman bacaan yang terdaftar dalam program penerima buku gratis sudah dicanangkan Presiden Jokowi, dan berlaku setiap bulannya pada tanggal 17. Siapa saja para pencinta buku yang ingin menyumbangkan bukunya lewat kantor pos (bukan agen pos) mereka dibebaskan dari biaya ongkos pengiriman, yang selama ini dikeluhkan cukup besar nominalnya.
Kebijakan pembebasan biaya kirim buku ini ditetapkan sebagai solusi dari banyaknya keluhan para penggiat literasi karena tingginya biaya pengiriman buku khususnya ke wilayah pelosok. Untuk taman bacaan yang ingin terdaftar dalam program ini, mudah sekali mendaftarnya. Hanya tinggal memasukkan data lalu mengirimkannya lewat email.
Untuk taman bacaan ini, bisa dibuat program resmi pemerintah misalnya mengadakan program satu kelurahan satu taman bacaan. Sediakan tempatnya, penuhi buku-bukunya, buat programnya. Libatkan orangtua dan beri hadiah untuk orangtua yang anaknya sering mendatangi taman bacaan tersebut. Dengan demikian orangtua pasti akan berlomba-lomba mendukung anaknya ke taman bacaan dan menjadikan membaca sebagai suatu bentuk hobi untuk mereka.

Pada akhirnya mendongkrak minat baca bukan hanya tugas perpustakaan tapi tugas semuanya. Jika menginginkan generasi yang mencintai proses, memahami segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instant, yang harus dilakukan oleh semua adalah bahu membantu menjadikan membaca sebagai budaya kita. Indonesia pasti bisa.

Rujukan :
1. Reading habit and intersest of parents and their influence on the reading habit – Ntombifuthi Patricia
2. Reading Habit in Scotland – Vivienne Seonaid Dunstant
3. How Succesful People Think – Jhon C Maxwell
4. Psikologi Komunikasi – Dts Jalaluddin Rakhmat
5. Ilmu Komunikasi – Deddy Mulyana
6. www.mediaindonesia.com