Wahai Perempuan, Perhatikan Mandimu

Dari kajian Ustadzah Umi Yunengsih

Mandi bukan sekedar membasahi tubuh. Di dalam agama Islam banyak catatan yang harus dilakukan ketika mandi, terutama ketika melakukan mandi yang biasa dinamakan dengan mandi janabat alias mandi wajib.

Mandi memiliki dua syarat ;
1. Niat
2. Mengalirkan air ke seluruh tubuh.

Sedangkan hukum mandi wajib sendiri ada dua, yaitu ;
1. hukumnya wajib jika tidak dilakukan berdosa. Jika dilakukan mendapat pahala.
2. Hukumnya sunnah jika tidak dilakukan tidak mengapa, tapi jika dilakukan mendapat pahala

Mandi menjadi wajib hukummnya apabila ;

1. Apabila ke luar mani (mani laki-laki itu kental dan putih, sedang mani perempuan encer dan kekuningan).
Yang ke luar dari fajri (alat kelamin perempuan) adalah ;
a. kencing, hukumnyanajis. Wajib wudlu jika ingin shalat.
b. wadi, kental ke luar biasanya mengiringi kencing. Hukumnya najis. Wajib wudlu jika ingin shalat.
c. Haid, hukumnya najis. Bila pakaian terkena haid, cuci dan kucek hingga nodanya menghilang dan hilang
najisnya.
d. Darah istiadhah, hukumnya suci, boleh tetap shalat. Karena ini adalah darah penyakit. Ke luarnya di luar
kebiasaan haid. Misalnya bagi yang biasa haid 7 hari, maka jika haidnya sampai 10 hari, berarti 3 hari itu
adalah darah istiadhah.
e. Mazi adalah cairah bening bergetah, ke luar ketika terangsang. Najis hukumnya dan harus wudlu. Jika terkena
pakaian juga harus dicuci.
f. Mani adalah air yan gke luar memancar diikuti rasa nikmat dan menurunnya syahwat. Wajib mandi.

2. Wanita wajib mandi bila
a. bermimpi dan melihat di pakaiannya ada mani.
b. bila berhubungan badan
c. apabila bersih dari haid dan nifas
d. kafir masuk Islam
e. apabila meninggal dunia.
Untuk laki-laki wajib mandi ketika akan shalat Jumat.

Mandinya Rasulullah adalah mandi yang seperti diutarakan oleh istrinya Ummu Aisyah dan Ummu Maemunah.
Menurut Aisyah, yang dilakukan Rasulullah adalah ;
1. mencuci kedua tangan
2. berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat
3. memasukkan jari ke bejana
4. menyela-nyela ke akar rambutnya sehingga kulit terasa basah
5. mengalirkan air ke kepala dengan tiga kali ciukan.
6. sira ke seluruh badan

Menurut Maemunah adalah ;
1. cuci kedua tangan 2 sampai 3 kali
2. menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kiri
3. cuci kemaluan
4. menggosokkan telapak tangan kiri ke tembok (ini sunnah yang sering dilupakan)
5. mencuci tangan
6. berkumur
7. instinja(membersihkan diri dari hadast kecil dan besar)
8. mencuci wajah
9. mencuci tangan
10. mengusap kepala
11. mengalirkan air ke seluruh tubuh
12. Mencuci kaki

Dan yang utama dalam mandi janabah adalah menyatukan dua pendapat di atas dengan tata cara ;
1. Niat
2. Membaca Basmallah
3. Mencuci tangan
4. Cebok
5. menggosok tangan
6. Berwudlu
7. Menyela air ke akar rambut
8. Menyiram seluruh tubuh

Untuk mandi haid, bukalah ikatan rambut dan gunakan daun bidara sebagai sunnah untuk wewangian. Digunakan untuk cebok.

Menulis Buku Apa?

Menulis buku apa?
Penulis buku apa? Anak? Remaja? Atau dewasa?
Pertanyaan seperti itu sering mampir ke saya. Ada yang bertanya bukunya apa? Penulis spesialisasi apa dan lain sebagainya?

Jujur sejak awal pertama menulis, saya berjuang untuk mampu menguasai jenis tulisan. Standar mampu untuk saya adalah ketika tulisan saya bisa menjadi juara lomba, itu artinya saya bisa berkata, “yes, memang bisa disematkan standar itu pada saya.”
Itu standar saya loh. Penulis lain berhak punya standar yang berbeda dengan saya tentu saja.

Penulis apa?
Saya mencintai semua jenis tulisan yang saya buat. Entah itu artikel maupun cerpen. Entah itu feature ataupun cerbung atau bahkan novel.
Fiksi untuk saya menghaluskan perasaan. Makin sering menulis fiksi, makin haluslah perasaan saya. Tapi juga harus hati-hati nanti terjebak halusinasi. Alias jadi suka berimajinasi. Kadang di tengah jalan, ketika sedang naik motor saya kaget sendiri ketika ada yang mengklakson. Rupanya saya sedang melamun.
Kadang kalau terlalu banyak menulis fiksi, terhampar dunia rekaan kita di hadapan kita. Sehingga ketika bertemu seseorang seringnya kita berpikir, sepertinya saya pernah bertemu dengan orang ini sebelumnya.
Non fiksi untuk saya berfungsi untuk mengasah logika. Dengan menulis non fiksi saya harus berjuang menambah daftar bacaan saya.
Mungkin karena otak kanan dan kiri saya seimbang, maka saya tidak bisa bilang saya cenderung di mana.

Menulis apa?
Buku anak, remaja dan dewasa adalah seperti memasuki dunia lain untuk saya.
Dengan menulis naskah anak, saya sungguh seperti ditarik kembali ke masa anak-anak, di mana tidak peduli ketika saya memanjat pohon mangga paling tinggi dan berteriak dari atasnya. Meskipun tetangga di bawah mengelus dada dan teriak-teriak menyuruh saya turun, karena takut jatuh.
Buku remaja seperti menarik saya pada sebuah masa remaja ketika SMP, di mana saya lompat pagar pembatas lapangan. Hingga pulang dalam keadaan kaki keseleo.
Dan buku dewasa adalah cerminan saya. Impian yang saya pendam, pengalaman yang tidak saya ungkapkan, semua bebas saya tulis dalam naskah dewasa. Juga solusi sebuah permasalahan.

Jadi kalau ada yang tanya lagi setelah saya jawab bahwa saya adalah penulis. Maka saya akan menjawab bahwa saya menulis semuanya. Anda mau memberi order tulisan apa pada saya?

Pilih Buku Digital atau Buku Cetak?

Pilih buku cetak atau digital?
Pertanyaan ini buat orang lain mudah menjawabnya, tapi sebagai pencinta buku, yang suka aroma harumnya kertas. Yang suka melihat perubahan kertas putih menjadi kuning. Yang sering menjaga hati-hati agar yang meminjam buku, lembarannya tidak sampai sobek.

Ebook alias buku digital atau buku versi cetak?
Sya la la la, saya harus berpikir keras sekali. Ini bukan sekedar masalah memilih. Ini adalah pilihan panjang karena ikatan masa lalu.
Saya hidup dan terpuaskan dengan buku cetak.
Saya bahagia dengan hadirnya buku cetak.Bisa dibawa ke kamar dan dibaca walaupun akhirnya ketiduran dengan buku menutupi wajah. Teman malah pernah meminjam buku novel tebal punya saya dan ujungnya dia memberi laporan. Bukunya kecemplung bak kamar mandi, karena dia bacanya sambil buang air besar.

Banyak suka dukanya memiliki kecintaan pada buku. Yang jelas buat saya sukanya lebih banyak dari dukanya. Orang mau suka atau tidak suka dengan kesukaan saya, yang penting karena buku saya sudah menjelma menjadi manusia seperti sekarang ini.

Tapi zaman memang berubah cepat. Wusss.
Tentunya saya tidak bisa bilang dengan seenaknya bahwa buku digital tidak berguna untuk saya. Buku cetak saya suka. Tapi kapasitas penyimpanan buku di rumah sudah penuh di sana di sini di situ di ujung sana. Semua ruangan penuh buku. Gak ada yang protes di rumah, tapi saya tetap harus tahu diri. Tahu diri kalau rumah sempit dan harus ada ruang untuk yang lain.

Maka saya mulai melirik buku versi digital.
Banyak loh buku-buku digital yang recommended. Itu juga saya download di komputer bukan di HP. Alasannya karena saya menyayangi mata tua saya. Terlalu banyak buka HP, maata akan mudah memerah dan sakit.

Tidak ada wangi kertas, tapi efisien tidak memakan tempat. Karena saya masukkan di komputer paling kalau komputer error dan file hilang, saya bisa mendownloadnya lagi.
Tidak bisa dipinjamkan. Uhum ini aman dari tangan peminjam yang seringnya lupa mengembalikan. Meskipun jadi berkurang pahala saya karena itu.

Untuk saya sekarang buku versi digital dan cetak sama saja.
Yang penting manfaatnya masih bisa saya dapatkan.

Pada Bayangan Stupa di Borobudur

Riama menghentikan langkahnya. Kaki kecilnya berhenti pada sebuah anak tangga. Lalu menoleh ke belakang sambil tersenyum.
“Siapa yang bisa naik ke atas lebih dahulu…”
Riama tersenyum. Puluhan anak tangga. Dari satu relief ke relief lainnya. Alvin sengaja memberikannya setumpuk majalah lama. Lalu bercerita tentang beberapa relief di candi.
“Porno…,” ujar Riama berapa kali menunjuk gambar di majalah.
“Iya. Porno. Pelajaran kehidupan. Kita toh tidak melakukan seperti itu.”

Riama berdiri.
Menarik napas panjang. Solo Magelang ditempuh dalam waktu enam jam. Bermacet ria dalam sebuah mobil, masih harus antri di pom bensin demi untuk mengantri di toilet kecil.
“Kenapa ke Borobudur?”
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa bangunan gagah bernama candi Borobudur itu begitu kuat menariknya. Ia seperti ditarik ke masa lalu keras. Ia seperti ditantang untuk menyelesaikan apa yang sebelumnya tidak pernah selesai.
“Kalau macetnya seperti ini, nanti kita pulangnya lewat jalur alternatif.”
Riama mengangguk saja. Enam jam perjalanan dari Solo menuju candi Borobudur, belum lagi harus kesulitan mencari tempat parkir.
“Apa bagusnya di sini, Ibu?”
Riama hanya tersenyum. Sebuah kenangan yang kadang-kadang masih menelusup masuk ke dalam ingatannya, memang harus dienyahkan dengan sempurna. Dan ini salah satu jalan yang harus ditempuhnya.
Sekarang Riama berada di bagian bawah candi. Memandangi relief-relief yang terpahat pada dinding candi.
Pada satu relief candi yang ia sentuh dengan jemarinya, ia seperti tersengat. Lalu matanya terpejam. Sebuah layar seperti terbuka di benaknya.

Mereka berjalan berdua. Bersisian. Lalu Alvin berhenti. Menunjukkan satu relief.
“Porno!” Riama melotot.
Alvin memang sengaja mengajaknya ke Candi Borobudur untuk meneliti relief candi seperti yang ia baca di buku. Ada banyak hal yang harus diteliti. Alvin juga menjelaskan tingkatan candi. Relief yang berkesan porno semakin ke atas semakin bersih dari hal itu.
“Hidup ini, semakin menuju kepadaNYA, harusnya semakin membersihkan hati.”
Riama mengangguk. Tangannya terus bergerak.

Solo Magelang dengan sepeda motor. Dua jam perjalanan. Dari satu candi ke candi lain. Membiarkan Romo berbisik pada Ibu tentang kecurigaan akan hubungan mereka berdua. Ransel besar Riama berisi catatan. Alvin akan menunjukkan tempat-tempat yang membuat Riama melotot lalu bersyukur. Cuma dengan Alvin segalanya jadi menyenangkan. Alvin memberinya banyak ilmu selain ilmu ilmu yang ia dapat dari bangku kuliah.
“Kamu tahu, kalau bisa menginap di desa sini dan menyaksikan matahari terbit. Ujung candi seperti sebuah teratai di lautan awan.”

Riama tertawa.
Romo membekalinya dengan ketegasan untuk boleh berteman dengan siapa saja, tapi bisa menjaga harga diri sebagai wanita.
“Pernah Santi menginap….,” kalimat itu terhenti.
Riama menarik napas panjang. Entah kenapa setelah itu relief yang menurut Alvin mengandung banyak daya magis jadi terasa biasa saja oleh Riama.

“Bagaimana aku bisa naik sampai atas?”
Riama membuka matanya seperti tersadar. Film di benaknya berhenti seketika dan membuat ia memandang ke atas.
Borobudur pada musim lebaran dipenuhi lautan manusia. Lalu para menusia itu berebut naik ke puncak, hingga anak tangga dibagi menjadi dua jalur untuk naik dan untuk turun. Beberapa orang membuang sampah seenaknya. Yang lain membuat satpam bekerja lebih keras lagi, karena duduk-duduk di stupa.

“Kamu bisa naik tangga putar dari arah sana…,” sebuah suara menyambut dari tempat lain.
Riama mengangguk.
Lalu terdengar suara langkah kaki berlari. Tidak lama kemudian terdengar teriakan dari atas. “Aku sudah sampai di atas, Ibuuuuu.”
Riama melambaikan tangannya.

Ia pernah sampai di atas. Terengah-engah. Lalu berteriak keras. “Alviiin, aku sudah sampai di atas. Capeeek.”
Seorang Alvin pada saat itu hanya melambaikan tangannya. Tidak lama kemudian menyusulnya ke atas dan bicara. “Nira ingin sekali ke sini. Mau tahu apa benar majalah-majalah dan buku yang aku pinjamkan tentang candi ini. Seperti kamu ia ingin melihat langsung relief candi dari bawah sampai ke atas.”
Riama terbakar.
Ia seperti merasakan mata Romo yang melotot setiap kali ia ijin untuk pergi meneliti candi bersama Alvin. “Kenapa kamu ndak meneliti resep masakan ibumu di dapur biar bisa jadi perempuan yang komplit?”

Matahari sebentar lagi tenggelam. Jemari Riama menyentuh relief candi.
“Kamu di sini terus? Mengenang apa?”
Riama tertawa memeluk pinggang suaminya. Handoko selalu paham perasaannya. Minggu lalu, ketika reuni digelar, Riama tersadar.
Sebuah cerita mengalir dari bibir para temannya tentang Alvin. Play Boy cap kerupuk itu sekarang sengsara hidupnya. Ia menjadi duda yang ditinggalkan istrinya. Pekerjaannya menjadi juru parkir di depan sebuah rumah makan.
“Kadang-kadang kekonyolan masa lalu harus dikenang, untuk membuat kita sadar, betapa beruntungnya kita sekarang,” ujar Riama mengerling pada suaminya.

“Ibuuu…!” sebuah teriakan terdengar.
Tangan Riama terbuka. Dua anak berlarian menuju pelukannya.
Pada bayangan stupa di Borobudur, ia beryukur. Hidupnya tidak sekelam malam tanpa bintang.

Pernikahan itu Harus Melejitkan Potensi Bukan Mematahkan Potensi

Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan mereka. Sungguh Dia Maha Perkasa Maha Bijaksana (QS Al Anfal ayat 63)

Sebuah ayat dalam surah yang berkisah tentang rampasan perang. Tapi ayat itu ada di kartu undangan yang Bapak buat untuk pernikahan saya. Terkejut saya membacanya ketika menyadari bahwa ayat ini berbeda dengan ayat-ayat umum dalam yang sering hadir di kartu undangan pernikahan. Bapak ingin memberikan sesuatu pesan pada saya, dan itu yang harus saya pertahankan.

Pernikahan.
Penyatuan lelaki dan perempuan dalam satu tempat bernama rumah tangga. Pernikahan itu bukan kurungan atau penjara. Pernikahan itu sebuah ruang besar yang dikelola bersama dan masing-masing memegang kunci satu pintu yang tersedia. Pernikahan buat saya adalah sebuah ruang kreatif, di mana salah satu pasangan memiliki waktu untuk memperhatikan pasangannya. Dan menemukan potensi si pasangan, lalu akhirnya potensi itu bisa membuat pasangan bahagia, karena ia punya sesuatu yang bisa membuatnya berharga.

Bagaimana cara agar kita dan pasangan bisa saling melejitkan potensi? :

1. Rumah tangga adalah tempat dua manusia saling bekerja sama, maka buat komitmen itu di awal menikah, untuk melakukan hal itu.
2. Buat komitmen juga untuk terbuka satu dengan yang lain. Setelah pada Sang Pencipta, maka rahasia teraman adalah dibagi pada pasangan, bukan orang lain. Dengan begitu tumbuh saling kepercayaandan, dan akan tertutup celah untuk masuknya orang lain.
3. Tunjukkan daftar mimpi kita pada pasangan dan pasangan juga begitu sebaliknya. Lalu berjanjilah untuk bersama-sama membantu impian-impian itu terwujud.
4. Andai hanya salah seorang yang memiliki mimpi dan pasangan sudah merasa nyaman dalam hidupnya, gandeng pasangan untuk melangkah bersama menuju mimpi kita. Tulari semangat kita, sehingga pada akhirnya pasangan memiliki mimpi juga.
5. Meskipun bersama, bukan berarti ke mana-mana harus berdua. Karena itu tetap sediakan ruang untuk teman dan yang lainnya. Kuncinya adalah saling menjaga kebersamaan.
6. Siap sedia untuk menjadi kasur yang empuk untuk yang terpuruk. Jika kita yang terpuruk, pasanganlah kasur yang empuk untuk itu. Sedang jika pasangan yang terpuruk, kitalah yang harus siap menjadi kasur itu.

Ternyata Bunga Edelweis Punya 10 Fakta Unik yang Jarang Diketahui


sumber:mtrinjanitrekking.com

Pernah berkunjung ke Gunung Gede atau Gunung Bromo dan melihat ada pedagang menjual bunga ungu, pink, atau bahkan warna-warna lainnya, dan ada pula yang berbentuk boneka lucu? Jangan khawatir. Kalau belum pernah, segera pesan tiket Citilink untuk terbang ke Jawa Barat menuju Cianjur, untuk bisa sampai ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kalau ingin tempat yang lebih jauh lagi, kamu bisa terbang ke Malang, dan berangkat ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Semua pasti tahu, bunga yang dijajakan para pedangang itu namanya Edelweis. Edelweis itu yang juga dikenal sebagai bunga abadi. Sebenarnya sudah ada himbauan untuk tidak memetik bunga ini. Di Gunung Gede Pangrango bahkan ada himbauan agar pengunjung tidak memetik bunga yang masih tersisa di sana. Tapi bunga itu memang membuat banyak yang penasaran sehingga masih saja ada yang nekat dan tak mau tahu, tetap memetiknya. Di sekitaran Gunung Bromo sendiri, bunga ini dikabarkan sudah punah. Tapi pada kenyataannya, masih banyak pedagang yang menjajakannya.


sumber:phinemo.com

Bunga Edelweis dalam bahasa latinnya disebut Anaphais javanica Ternyata ada banyak fakta-fakta tentang bunga yang satu ini. Kalau belum tahu, yuk simak fakta berikut ini ;

1. Edelweis dapat mencapai ketinggian 8 meter dan bisa memiliki batang hingga sebesar kaki manusia. Tapi pada umumnya, bungan ini lebih sering tumbuh tidak lebih dari 1 meter.

2. Bunga ini bisa bertahan hidup di atas tanah tandus, karena dia mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang bakal memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya. Hal ini tentu saja bisa meningkatkan efisiensi bunga ini dalam mencari zat hara.

3. Jika ingin melihatnya, kamu bisa datang ke tempat-tempat di mana bunga ini tumbuh, antara bulan April dan Agustus.

4. Bunga ini sangat disukai oleh serangga, termasuk kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, hingga lebah. Hingga 300 spesies serangga diteliti suka berkunjung ke dekat Edelweis.


sumber:jejakalam.net

5. Penelitian menghasilkan pengetahuan bahwa Edelweis bisa tumbuh banyak dengan mudah jika cabang-cabangnya dipotong. Mungkin potongan-potongan itu, ya, yang dijual pada pengunjung?

6. Kamu bisa melihat Edelweis tumbuh indah di kawasan wisata Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).

7. Kenapa dijuluki sebagai bunga abadi? Rupanya Edelweis ini punya hormon tertentu yang bisa mencegah kerontokan bunganya.

8. Bunga ini lebih banyak tumbuh di tempat dengan ketinggian sekitar 2000 mpdl atau lebih, dan tergantung suhu udara dan kelembapan pada ketinggian tersebut.

9. Jika kamu melihat ada bunga edelweis yang diperjualbelikan, biasanya itu merupakan hasil budidaya petani Edelweis, yang biasanya telihat lebih gemuk dan subur ketimbang yang tumbuh di alam bebas.

10. Bunga ini dilindungi, jadi jangan dipetik sembarangan ya. Kamu bisa dihukum dengan Sanksi pidana sesuai yang disebutkan dalam pasal 40 UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.


sumber:kumparan.com

Nah, itu tadi 10 fakta unik bunga edelweis yang mungkin kamu belum tahu. Jika ternyata kamu sudah tahu, jangan lupa berbagi informasinya pada teman-teman yang lain. Atau kamu berniat untuk mengajak mereka melihat langsung bunga ini? Well, langsung saja cek tiket Citilink, dan pilih perjalanan ke Jawa Barat atau Jawa Timur. Kamu bisa berangkat saat long weekend, supaya lebih puas jalan-jalannya.

Then, have a nice trip!

Dakta Radio, Radionya Orang Bekasi

Bekasi?
Pertanyaan itu yang sering hinggap di kepala orang ketika menyebut satu kata itu. Bekasi punya apa? Bekasi punya banyak cerita tentu saja. Bekasi sama seperti kota besar lainnya, punya banyak fasilitas. Hanya karena tertutup oleh kota besar bernama Jakarta, maka Bekasi hanya menjadi bayang-bayang saja.

Bekasi punya banyak hal. Bekasi punya sekolah bagus. Bekasi punya mall juga. Bekasi juga punya radio yang membuat saya bersyukur karene menjadi pendengar radio tersebut. Radio yang menjadi kiblatnya orang Bekasi adalah Radio Dakta.

Menjadi pendengar radio Dakta adalah suatu pengalaman berharga untuk saya. Info-infonya akurat. Ceramah-ceramah agamanya benar-benar menambah ilmu. Sampai pada suatu kesempatan, saya ingin sekali bisa bertandang ke radio ini untuk bincang buku.

Akhirnya kesempatan itu datang juga pada saya. Kebetulan ada buku terbaru saya yang terbit. Kebetulan penerbit bekerja sama dengan pihak radio. Saya hanya tinggal datang, duduk dan menjelaskan tentang isi buku. Ketika ada penanya juga sudah disiapkan hadiah oleh pihak penerbit.

Kecil tapi syarat makna itu kesan yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Dakta.
Kebetulan ketika bincang buku, di halaman radio yang cukup luas, sedang dilangsung pengajian muslimah. Karpet dan tikar terhampar. Sayangnya saya tidak bisa ikut menikmati karena sudah ada agenda lain setelah itu.

Bekasi Dicinta, Bekasi Disayang

Bekasi namanya. Kabupaten Bekasi masuk wilayah Babelan, tempat saya tinggal. Tidak terasa sudah sepuluh tahun saya tinggal di sini. Berawal dari merasa Bekasi begitu jauuuuhnya, sampai merasa Bekasi begitu terpencilnya dan akhirnay merasa betapa beruntungnya saya bisa tinggal di Bekasi.

Bekasi yang saya tinggali masuk daerah Kabupaten Bekasi, artinya masuk ke dalam provinsi Jawa Barat. Meskipun Bekasi kota hanya selemparan batu dari tempat tinggal saya. Dan itu artinya kalau urusan ini itu saya harus lari ke Cikarang karena tidak diterima di Bekasi kota. Perjalanan ke Cikarang dari tempat saya tinggal, jauuuuhnya dan membuat malas.

Bekasi namanya.
Dulu saya hanya kenal kata itu dari sajak Chairil Anwar yang judulnya Karawang Bekasi. Pertama membeli rumah di daerah Bekasi juga karena tidak terpikir untuk membeli di daerah Jakarta. Saya anak yang lahir dan besar di Jakarta. Jakarta tempo dulu yang masih hangat dan penuh pepohonan tidak akan saya dapatkan jika anak-anak saya tumbuh berkembang. Maka alternatif kami adalah Bekasi disesuaikan dengan budget pasangan muda yang baru menikah.

Dulu sekeliling saya pepohonan yang tinggi besar. Udara masih sejuk. Tapi semakin lama ternyata peminat perumahan semakin besar. Maka lahan-lahan itu pun berganti menjadi perumahan cluster. Sejuknya sudah berganti. Meski masih ada bagian lain yang bisa saya syukuri.

Saya masih bisa menemukan jajaran pohon jati dekat pesantren At Taqwa. Saya juga masih bisa menemukan hamparan sawah yang luaaaas membentang di daerah Pebayuran yang hanya lima menit dari Karawang, tapi dua jam dari tempat saya tinggal. Itu pun harus melewati jalan pintas.

Saya juga masih bisa merasakan atmosfir desa, karena dekat rumah saya masih ada hamparan kebun, di mana para petani menanam kangkung dan bayam dan beberapa gembala kambing juga kerbau.

Banyak yang harus diperhatikan dari Bekasi. Pendatang yang semakin banyak datang menggeser para penghuni lama, para penduduk asli. Pendatang yang sebagian besar bekerja di Jakarta, memberikan pemandangan baru. Perumahan yang tampil saling bersaing keindahannya plus kendaraan pribadi harusnya memberikan imbas positif pada Bekasi. Misalnya mereka membuat Bekasi lebih bersih, lebih berwawasan dan lain sebagainya.

Meski saya pendatang, saya mencintai Bekasi sepenuh hati.
Seperti kata pepatah Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung.

5 Tips Efektif Bekerja Sebagai Penulis dari Rumah

Penulis lepas atau biasa disebut penulis freelancer seperti saya bekerja banyak di rumah. Artinya rumahlah kantor saya. Memang sejak dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya sudah fokuskan untuk menjadikan rumah sebagai kantor. Sehingga saya bisa memantau anak-anak hingga saatnya mereka saya lepaskan.

Bekerja dari rumah sebagai penulis lepas, banyak tantangannya. Penulis tidak akan bertetangga dengan sesama penulis. Karena itu orang lain tidak paham dengan kerja kita, wajar saja terjadi. Orang yang bekerja dari rumah biasanya akan bertetangga dengan orang yang bekerja sebagai pegawai. Salah sangka, buruk sangka sudah biasa muncul karena faktor ketidaktahuan.

Untuk saya bekerja dari rumah, bukan berarti banyak santainya. Bekerja dari rumah itu memindahkan kantor ke dalam rumah. Itu artinya jam kerja dan disiplin tetap harus diterapkan.

1. Tegas dengan waktu. Itu yang saya lakukan. Jadi ketika ada sesuatu yang tidak saya jadwalkan masuk ke dalam waktu kerja saya, saya tolak. Meski itu terlihat kejam, tapi ternyata efektif untuk membuat orang lain paham, bahwa saya punya pekerjaan.
2. Ada target yang dikejar. Jika bekerja di kantor setiap hari ada pekerjaan yang harus dikerjakan, maka bekerja dari rumah juga seperti itu. Harus punya target apa yang akan kita kerjakan. Karena itu pikirkan apa yang akan kita lakukan besok pagi, ketika kita akan berangkat tidur.
3. Ada jam istirahat. Iya bekerja dari rumah ada jam istirahatnya. Kalau saya bisa pakai setengah jam untuk tidur siang. Dan itu sunnah yang diajarkan Rasulullah. Setelah tidur siang, pikiran kembali fresh untuk diajak bekerja lagi.
4. Fokus ke target yang belum selesai. Bekerja dari rumah bukan berarti santai tanpa target. Dan bukan berarti seenaknya berpindah target. Kalau saya selesaikan target yang sedang saya kerjakan, sebelum akhirnya pindah ke target yang lain.
5. Lembur boleh, begadang no way. Saya biasa lembur untuk pekerjaan yang belum selesai. Lembur itu artinya melebihkan jam kerja satu atau dua jam. Tapi saya tidak mau jika komputer masih menyala di atas jam sembilan malam. Karena memang saya tidak terbiasa begadang. Di samping itu, ada kewajiban saya untuk bangun di sepertiga malam dan itu jadi haknya Allah Pemilik Tubuh saya, yang memberikan saya kesehatan.

Kegiatan Langka Bernama Mendengarkan Dongeng

Mendongeng?
Anak zaman dulu, yang belum digempur tekhnologi seperti anak zaman sekarang ini, mungkin paham bagaimana rasanya mendengarkan dongeng. Siaran radio zaman dahulu banyak diisi dengan sandiwara radio. Saya sendiri bersyukur, karena Bapak dan Ibu adalah pendengar sandiwara radio. Pada jam-jam tertentu di malam hari, mereka berdua duduk untuk mendengarkan sandiwara radio. Dan saya ikut menikmatinya.

Lalu zaman berlalu cepat. Wusss. Zaman berubah. Saya bukan anak kecil lagi. Tapi saya punya Kenangan manis dengan dongeng, cerita radio dan tumpukan buku-buku. Saya ingin hal yang sama yang saya dapatkan juga bisa didapatkan anak-anak di rumah.
Buku dan dongeng buat anak-anak saya sudah biasa. Sayangnya teman-teman mereka tidak biasa. Perjuangan akhirnya harus dimulai.

Satu Pintu Tertutup Seribu Pintu Terbuka Lebar

Kegiatan mendongeng, mendengarkan dongeng sama seperti kegiatan menulis. Pendongeng, penulis, idem dito adalah profesi yang akan dianggap sebelah mata oleh orang lain. Manfaatnya apa? Dapat duitnya dari mana? Dan pertanyaan lain yang berujung dengan ukuran materi.

Melihat begitu banyaknya anak-anak di lingkungan yang keranjingan gadget. Melihat minimnya ilmu pengasuhan dari orangtua tentang parenting pada anaknya. Memahami bahwa yang harus dilakukan bukan mengutuki keadaan, tapi berjuang untuk memperbaiki keadaan.

Kerelaan harus jadi kunci utamanya. Tidak dipahami jalan terus. Tidak dianggap, tidak masalah. Yang penting fokus berbuat baik. Anak-anak di zaman sekarang harus ditarik kembali ke masa lalu. Masa di mana imajinasi mereka bisa merajalela. Masa di mana dengan membayangkan sesuatu, mereka merasa bahagia. Dan salah satu yang saya ketahui, hal itu bisa didapatkan dengan buku dan dari mendongeng.

Mendongeng. Iya kegiatan itu yang ingin saya berikan pada anak-anak di sekitar tempat tinggal saya. Kalau imajinasi dari buku, mereka sudah dapat dari buku-buku yang mereka pinjam dari perpustakaan kecil milik saya.
Hingga akhirnya pada satu kesempatan rezeki datang ke saya. Seorang teman pendongeng menghubungi. Kak Cahyono Budi namanya. Kebetulan saya dan beliau pernah menjadi juri di Konferensi Penulis Cilik Indonesia tahun 2016. Saya juri penulis pemula, beliau juri dongeng. Ia tertarik menghibur anak-anak tetangga yang sering belajar di rumah saya pada hari Sabtu dan Minggu.

Semua persiapan saya lakukan. Koordinasi dengan tetangga kanan kiri, yang kebetulan sudah biasa saya ajak melakukan kegiatan, seperti tebar nasi bungkus atau membacakan buku di PAUD perkampungan.
Anak-anak yang datang ke rumah saya beri pesan berulang bahwa akan ada pendongeng yang datang. Pendongeng itu akan membawa boneka tangan dan bercerita banyak hal pada mereka. Alhasil mereka menunggu datangnya hari H, bertanya setiap hari pada saya.

Hari H Datang Juga

Kalau acara saya adakan di rumah, maka yang datang paling 10 anak yang biasa datang ke rumah. Atau jika acara mendongeng itu saya adakan di rumah juga, paling anak-anak di blok lain yang datang akan ada sekitaran 30 orang. Itu pun tidak pasti. Karena apa? Karena kendala tinggal di perumahan alias kompleks yang orangtuanya bekerja kantoran dengan penghasilan lumayan, dongeng mungkin masuk dalam katagori nomor akhir daftar kebutuhan mereka. Dongeng? Anak kita dapat apa? Kalau saya bilang akan dapat bahagia, maka mungkin saya akan jadi bahan tertawaan mereka, karena standar bahagia yang berbeda.

Bersyukur saya punya lingkungan mengaji, yang selalu percaya kalau saya memberikan program yang tidak sekedar hura-hura saja. Maka program itu memang harus jalan agar anak-anak bahagia. Saya sendiri ikut memikirkan dananya dari mana. Konfirmasi ke pendongeng. Termasuk memikirkan makanan yang akan diberikan pada anak-anak yang datang. Plus berbagi tugas, siapa yang beli dan bungkus makanan, dan siapa yang membuat kue untuk buah tangan ke pendongeng.

Acara saya pindahkan ke PAUD. Kebetulan perumahan tempat saya tinggal diapit oleh perkampungan, yang banyak pekerjanya adalah pemulung. Ada juga beberapa rumah mewah, tapi konotasi mereka adalah orang perumahan selalu lebih kaya ketimbang mereka.
Anak-anak pemulung, pekerja kasar dengan telepon genggam mahal di tangannya harus diisi pikirannya dengan sesuatu yang baru. Kebetulan teman memiliki PAUD di perkampungan dan dia punya akses lebih luas lagi. Sehingga dia mengusahakan program mendongeng itu bisa didengarkan oleh 50 anak lebih.

Semua siap. 100 snack dengan tujuan kalau yang datang lebih dari perkiraan, tidak ada anak yang nangis karena tidak kebagian.
Anak-anak sudah rapi jam sembilan pagi. Saya resah menunggu pendongeng yang belum datang. Pas jam sudah menunjukkan pukul 9.15 saya WA, dan ternyata beliau sudah ada di dekat rumah.
Karena takut tidak tahu belokan ke rumah, saya hampiri sampai depan. Tidak tanya pakai mobil apa. Ketika ada mobil dengan sen berbelok ke kiri, saya pikir itu dia sudah datang. Langsung saya lambaikan tangan dan arahkan mobil ke tempat saya.
Mobil berbelok, sebuah kepala tersembul memanggil. O alah.., ternyata orang lain, tetangga saya. Bukan orang yang saya tunggu.

Saya kembali lagi ke depan, dan menunggu. Kali ini tidak salah, mobilnya benar dan saya melambaikan tangan memberi tahu di mana saya.

Kami ngobrol sebentar di rumah saya. Anak-anak tetangga sudah diantar ke masjid tempat diadakan acara. Saya juga sudah siap dengan motor saya. Snack sudah dibawa.
Taraaa.
Jam sepuluh tepat acara dimulai. MC saya sendiri. Dengan alasan ini acara anak-anak bukan acara resmi. Saya tidak mau kalau acaranya jatuhnya resmi. Akan kehilangan aura anak-anaknya.
Ada bacaan Al Quran tapi saya ganti saya memanggil lima anak untuk maju ke depan membaca Al Fatihah. Yang berani maju saya hadiahkan buku. Itu juga atas usul suami agar saya memberikan hadiah buku.

Setelah itu dongeng dimulai.
Waah, ada empat cerita yang dibawakan selama satu jam penuh. Tenggorokan pasti tidak enak rasanya. Alhamdulillah lancar semuanya.

Anak gadis saya sudah saya pesankan untuk nanti bergerak aktif merekam semua adegan. Dia saya bawakan kamera juga telepon genggam. Duh, tapi si anak bukan ibunya. Si anak malu untuk bergerak aktif ke sana ke mari. Alhasil dia merekam dari kejauhan. Itu juga hanya separuh karena telepon genggam habis baterainya.
Malangnya hasil rekaman separuh itu ketika diperlihatkan ke suami, ternyata suami salah tekan dan terhapuslah rekaman tersebut.

Tapi saya bahagia. Acara berjalan lancar. Meski sebelumnya saya sudah memberitahu di group RT dan responnya minim, tapi saya bersyukur itu tidak membuat saya jadi kecil hati.
Anak-anak yang datang dan ibunya yang juga datang saya tanyakan bagaimana perasaan mereka? Mereka menjawab serentak senang dan ingin saya mendatangkan pendongeng lagi.
Snack masih tersisa. Kami membawanya ke panti asuhan terdekat dan anak-anak senang menerimanya.

Ups.
Ini langkah awal. Dan saya tidak akan berhenti melangkah untuk kebaikan. Apapun kendalanya.