Dakta Radio, Radionya Orang Bekasi

Bekasi?
Pertanyaan itu yang sering hinggap di kepala orang ketika menyebut satu kata itu. Bekasi punya apa? Bekasi punya banyak cerita tentu saja. Bekasi sama seperti kota besar lainnya, punya banyak fasilitas. Hanya karena tertutup oleh kota besar bernama Jakarta, maka Bekasi hanya menjadi bayang-bayang saja.

Bekasi punya banyak hal. Bekasi punya sekolah bagus. Bekasi punya mall juga. Bekasi juga punya radio yang membuat saya bersyukur karene menjadi pendengar radio tersebut. Radio yang menjadi kiblatnya orang Bekasi adalah Radio Dakta.

Menjadi pendengar radio Dakta adalah suatu pengalaman berharga untuk saya. Info-infonya akurat. Ceramah-ceramah agamanya benar-benar menambah ilmu. Sampai pada suatu kesempatan, saya ingin sekali bisa bertandang ke radio ini untuk bincang buku.

Akhirnya kesempatan itu datang juga pada saya. Kebetulan ada buku terbaru saya yang terbit. Kebetulan penerbit bekerja sama dengan pihak radio. Saya hanya tinggal datang, duduk dan menjelaskan tentang isi buku. Ketika ada penanya juga sudah disiapkan hadiah oleh pihak penerbit.

Kecil tapi syarat makna itu kesan yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Dakta.
Kebetulan ketika bincang buku, di halaman radio yang cukup luas, sedang dilangsung pengajian muslimah. Karpet dan tikar terhampar. Sayangnya saya tidak bisa ikut menikmati karena sudah ada agenda lain setelah itu.

Bekasi Dicinta, Bekasi Disayang

Bekasi namanya. Kabupaten Bekasi masuk wilayah Babelan, tempat saya tinggal. Tidak terasa sudah sepuluh tahun saya tinggal di sini. Berawal dari merasa Bekasi begitu jauuuuhnya, sampai merasa Bekasi begitu terpencilnya dan akhirnay merasa betapa beruntungnya saya bisa tinggal di Bekasi.

Bekasi yang saya tinggali masuk daerah Kabupaten Bekasi, artinya masuk ke dalam provinsi Jawa Barat. Meskipun Bekasi kota hanya selemparan batu dari tempat tinggal saya. Dan itu artinya kalau urusan ini itu saya harus lari ke Cikarang karena tidak diterima di Bekasi kota. Perjalanan ke Cikarang dari tempat saya tinggal, jauuuuhnya dan membuat malas.

Bekasi namanya.
Dulu saya hanya kenal kata itu dari sajak Chairil Anwar yang judulnya Karawang Bekasi. Pertama membeli rumah di daerah Bekasi juga karena tidak terpikir untuk membeli di daerah Jakarta. Saya anak yang lahir dan besar di Jakarta. Jakarta tempo dulu yang masih hangat dan penuh pepohonan tidak akan saya dapatkan jika anak-anak saya tumbuh berkembang. Maka alternatif kami adalah Bekasi disesuaikan dengan budget pasangan muda yang baru menikah.

Dulu sekeliling saya pepohonan yang tinggi besar. Udara masih sejuk. Tapi semakin lama ternyata peminat perumahan semakin besar. Maka lahan-lahan itu pun berganti menjadi perumahan cluster. Sejuknya sudah berganti. Meski masih ada bagian lain yang bisa saya syukuri.

Saya masih bisa menemukan jajaran pohon jati dekat pesantren At Taqwa. Saya juga masih bisa menemukan hamparan sawah yang luaaaas membentang di daerah Pebayuran yang hanya lima menit dari Karawang, tapi dua jam dari tempat saya tinggal. Itu pun harus melewati jalan pintas.

Saya juga masih bisa merasakan atmosfir desa, karena dekat rumah saya masih ada hamparan kebun, di mana para petani menanam kangkung dan bayam dan beberapa gembala kambing juga kerbau.

Banyak yang harus diperhatikan dari Bekasi. Pendatang yang semakin banyak datang menggeser para penghuni lama, para penduduk asli. Pendatang yang sebagian besar bekerja di Jakarta, memberikan pemandangan baru. Perumahan yang tampil saling bersaing keindahannya plus kendaraan pribadi harusnya memberikan imbas positif pada Bekasi. Misalnya mereka membuat Bekasi lebih bersih, lebih berwawasan dan lain sebagainya.

Meski saya pendatang, saya mencintai Bekasi sepenuh hati.
Seperti kata pepatah Di mana Bumi Dipijak, Di situ Langit Dijunjung.

5 Tips Efektif Bekerja Sebagai Penulis dari Rumah

Penulis lepas atau biasa disebut penulis freelancer seperti saya bekerja banyak di rumah. Artinya rumahlah kantor saya. Memang sejak dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya sudah fokuskan untuk menjadikan rumah sebagai kantor. Sehingga saya bisa memantau anak-anak hingga saatnya mereka saya lepaskan.

Bekerja dari rumah sebagai penulis lepas, banyak tantangannya. Penulis tidak akan bertetangga dengan sesama penulis. Karena itu orang lain tidak paham dengan kerja kita, wajar saja terjadi. Orang yang bekerja dari rumah biasanya akan bertetangga dengan orang yang bekerja sebagai pegawai. Salah sangka, buruk sangka sudah biasa muncul karena faktor ketidaktahuan.

Untuk saya bekerja dari rumah, bukan berarti banyak santainya. Bekerja dari rumah itu memindahkan kantor ke dalam rumah. Itu artinya jam kerja dan disiplin tetap harus diterapkan.

1. Tegas dengan waktu. Itu yang saya lakukan. Jadi ketika ada sesuatu yang tidak saya jadwalkan masuk ke dalam waktu kerja saya, saya tolak. Meski itu terlihat kejam, tapi ternyata efektif untuk membuat orang lain paham, bahwa saya punya pekerjaan.
2. Ada target yang dikejar. Jika bekerja di kantor setiap hari ada pekerjaan yang harus dikerjakan, maka bekerja dari rumah juga seperti itu. Harus punya target apa yang akan kita kerjakan. Karena itu pikirkan apa yang akan kita lakukan besok pagi, ketika kita akan berangkat tidur.
3. Ada jam istirahat. Iya bekerja dari rumah ada jam istirahatnya. Kalau saya bisa pakai setengah jam untuk tidur siang. Dan itu sunnah yang diajarkan Rasulullah. Setelah tidur siang, pikiran kembali fresh untuk diajak bekerja lagi.
4. Fokus ke target yang belum selesai. Bekerja dari rumah bukan berarti santai tanpa target. Dan bukan berarti seenaknya berpindah target. Kalau saya selesaikan target yang sedang saya kerjakan, sebelum akhirnya pindah ke target yang lain.
5. Lembur boleh, begadang no way. Saya biasa lembur untuk pekerjaan yang belum selesai. Lembur itu artinya melebihkan jam kerja satu atau dua jam. Tapi saya tidak mau jika komputer masih menyala di atas jam sembilan malam. Karena memang saya tidak terbiasa begadang. Di samping itu, ada kewajiban saya untuk bangun di sepertiga malam dan itu jadi haknya Allah Pemilik Tubuh saya, yang memberikan saya kesehatan.

Kegiatan Langka Bernama Mendengarkan Dongeng

Mendongeng?
Anak zaman dulu, yang belum digempur tekhnologi seperti anak zaman sekarang ini, mungkin paham bagaimana rasanya mendengarkan dongeng. Siaran radio zaman dahulu banyak diisi dengan sandiwara radio. Saya sendiri bersyukur, karena Bapak dan Ibu adalah pendengar sandiwara radio. Pada jam-jam tertentu di malam hari, mereka berdua duduk untuk mendengarkan sandiwara radio. Dan saya ikut menikmatinya.

Lalu zaman berlalu cepat. Wusss. Zaman berubah. Saya bukan anak kecil lagi. Tapi saya punya Kenangan manis dengan dongeng, cerita radio dan tumpukan buku-buku. Saya ingin hal yang sama yang saya dapatkan juga bisa didapatkan anak-anak di rumah.
Buku dan dongeng buat anak-anak saya sudah biasa. Sayangnya teman-teman mereka tidak biasa. Perjuangan akhirnya harus dimulai.

Satu Pintu Tertutup Seribu Pintu Terbuka Lebar

Kegiatan mendongeng, mendengarkan dongeng sama seperti kegiatan menulis. Pendongeng, penulis, idem dito adalah profesi yang akan dianggap sebelah mata oleh orang lain. Manfaatnya apa? Dapat duitnya dari mana? Dan pertanyaan lain yang berujung dengan ukuran materi.

Melihat begitu banyaknya anak-anak di lingkungan yang keranjingan gadget. Melihat minimnya ilmu pengasuhan dari orangtua tentang parenting pada anaknya. Memahami bahwa yang harus dilakukan bukan mengutuki keadaan, tapi berjuang untuk memperbaiki keadaan.

Kerelaan harus jadi kunci utamanya. Tidak dipahami jalan terus. Tidak dianggap, tidak masalah. Yang penting fokus berbuat baik. Anak-anak di zaman sekarang harus ditarik kembali ke masa lalu. Masa di mana imajinasi mereka bisa merajalela. Masa di mana dengan membayangkan sesuatu, mereka merasa bahagia. Dan salah satu yang saya ketahui, hal itu bisa didapatkan dengan buku dan dari mendongeng.

Mendongeng. Iya kegiatan itu yang ingin saya berikan pada anak-anak di sekitar tempat tinggal saya. Kalau imajinasi dari buku, mereka sudah dapat dari buku-buku yang mereka pinjam dari perpustakaan kecil milik saya.
Hingga akhirnya pada satu kesempatan rezeki datang ke saya. Seorang teman pendongeng menghubungi. Kak Cahyono Budi namanya. Kebetulan saya dan beliau pernah menjadi juri di Konferensi Penulis Cilik Indonesia tahun 2016. Saya juri penulis pemula, beliau juri dongeng. Ia tertarik menghibur anak-anak tetangga yang sering belajar di rumah saya pada hari Sabtu dan Minggu.

Semua persiapan saya lakukan. Koordinasi dengan tetangga kanan kiri, yang kebetulan sudah biasa saya ajak melakukan kegiatan, seperti tebar nasi bungkus atau membacakan buku di PAUD perkampungan.
Anak-anak yang datang ke rumah saya beri pesan berulang bahwa akan ada pendongeng yang datang. Pendongeng itu akan membawa boneka tangan dan bercerita banyak hal pada mereka. Alhasil mereka menunggu datangnya hari H, bertanya setiap hari pada saya.

Hari H Datang Juga

Kalau acara saya adakan di rumah, maka yang datang paling 10 anak yang biasa datang ke rumah. Atau jika acara mendongeng itu saya adakan di rumah juga, paling anak-anak di blok lain yang datang akan ada sekitaran 30 orang. Itu pun tidak pasti. Karena apa? Karena kendala tinggal di perumahan alias kompleks yang orangtuanya bekerja kantoran dengan penghasilan lumayan, dongeng mungkin masuk dalam katagori nomor akhir daftar kebutuhan mereka. Dongeng? Anak kita dapat apa? Kalau saya bilang akan dapat bahagia, maka mungkin saya akan jadi bahan tertawaan mereka, karena standar bahagia yang berbeda.

Bersyukur saya punya lingkungan mengaji, yang selalu percaya kalau saya memberikan program yang tidak sekedar hura-hura saja. Maka program itu memang harus jalan agar anak-anak bahagia. Saya sendiri ikut memikirkan dananya dari mana. Konfirmasi ke pendongeng. Termasuk memikirkan makanan yang akan diberikan pada anak-anak yang datang. Plus berbagi tugas, siapa yang beli dan bungkus makanan, dan siapa yang membuat kue untuk buah tangan ke pendongeng.

Acara saya pindahkan ke PAUD. Kebetulan perumahan tempat saya tinggal diapit oleh perkampungan, yang banyak pekerjanya adalah pemulung. Ada juga beberapa rumah mewah, tapi konotasi mereka adalah orang perumahan selalu lebih kaya ketimbang mereka.
Anak-anak pemulung, pekerja kasar dengan telepon genggam mahal di tangannya harus diisi pikirannya dengan sesuatu yang baru. Kebetulan teman memiliki PAUD di perkampungan dan dia punya akses lebih luas lagi. Sehingga dia mengusahakan program mendongeng itu bisa didengarkan oleh 50 anak lebih.

Semua siap. 100 snack dengan tujuan kalau yang datang lebih dari perkiraan, tidak ada anak yang nangis karena tidak kebagian.
Anak-anak sudah rapi jam sembilan pagi. Saya resah menunggu pendongeng yang belum datang. Pas jam sudah menunjukkan pukul 9.15 saya WA, dan ternyata beliau sudah ada di dekat rumah.
Karena takut tidak tahu belokan ke rumah, saya hampiri sampai depan. Tidak tanya pakai mobil apa. Ketika ada mobil dengan sen berbelok ke kiri, saya pikir itu dia sudah datang. Langsung saya lambaikan tangan dan arahkan mobil ke tempat saya.
Mobil berbelok, sebuah kepala tersembul memanggil. O alah.., ternyata orang lain, tetangga saya. Bukan orang yang saya tunggu.

Saya kembali lagi ke depan, dan menunggu. Kali ini tidak salah, mobilnya benar dan saya melambaikan tangan memberi tahu di mana saya.

Kami ngobrol sebentar di rumah saya. Anak-anak tetangga sudah diantar ke masjid tempat diadakan acara. Saya juga sudah siap dengan motor saya. Snack sudah dibawa.
Taraaa.
Jam sepuluh tepat acara dimulai. MC saya sendiri. Dengan alasan ini acara anak-anak bukan acara resmi. Saya tidak mau kalau acaranya jatuhnya resmi. Akan kehilangan aura anak-anaknya.
Ada bacaan Al Quran tapi saya ganti saya memanggil lima anak untuk maju ke depan membaca Al Fatihah. Yang berani maju saya hadiahkan buku. Itu juga atas usul suami agar saya memberikan hadiah buku.

Setelah itu dongeng dimulai.
Waah, ada empat cerita yang dibawakan selama satu jam penuh. Tenggorokan pasti tidak enak rasanya. Alhamdulillah lancar semuanya.

Anak gadis saya sudah saya pesankan untuk nanti bergerak aktif merekam semua adegan. Dia saya bawakan kamera juga telepon genggam. Duh, tapi si anak bukan ibunya. Si anak malu untuk bergerak aktif ke sana ke mari. Alhasil dia merekam dari kejauhan. Itu juga hanya separuh karena telepon genggam habis baterainya.
Malangnya hasil rekaman separuh itu ketika diperlihatkan ke suami, ternyata suami salah tekan dan terhapuslah rekaman tersebut.

Tapi saya bahagia. Acara berjalan lancar. Meski sebelumnya saya sudah memberitahu di group RT dan responnya minim, tapi saya bersyukur itu tidak membuat saya jadi kecil hati.
Anak-anak yang datang dan ibunya yang juga datang saya tanyakan bagaimana perasaan mereka? Mereka menjawab serentak senang dan ingin saya mendatangkan pendongeng lagi.
Snack masih tersisa. Kami membawanya ke panti asuhan terdekat dan anak-anak senang menerimanya.

Ups.
Ini langkah awal. Dan saya tidak akan berhenti melangkah untuk kebaikan. Apapun kendalanya.

Standar Internasional untuk Buku Anak Lokal

Sebagai penulis, saya menjadi orang yang agak sensi alias baper, ketika banyak orang di luar sana, yang tidak suka membaca, tapi dengan mudahnya menganggap bahwa kerja penulis hanya kerja berkhayal saja.
Sebagai penulis, saya juga menjadi orang yang sensi alias baper, ketika ada yang mau menulis, lalu menyepelekan proses menulis, dianggap semuanya mudah dengan hanya berkhayal saja.
Sebagai penulis, yang kerja menulis, membaca tumpukan bahan untuk tulisan, berkelanan untuk riset agar hasil tulisannya tidak asal tulis, saya menjadi malas bicara, ketika ada yang mengatakan bahwa standar buku di Indonesia tidak bagus. Level yang selalu mereka bandingkan adalah level luar negeri.

Sebagai penulis terus-terang saya merasa meradang. Karena itu saya paling rajin ikut pelatihan ini dan itu. Saya senang mendengarkan apa sih isi kepala orang lain. Dan di saat itu saya merenung sambil berpikir panjang.


Hingga akhirnya sampailah saya pada program Room to Read. Di sini saya merasakan betapa sulitnya membuang pola pikir saya yang rumit untuk menjadi sederhana dan bisa bekerja sama dalam sebuah tim.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Bagaimana saya yang terbiasa asyik menulis sendiri, menciptakan dunia sendiri dan tahunya naskah dilempar ke penerbit, ternyata harus merangkak dari awal. Merasakan proses revisi berulang kali dan nyaris patah hati.


Alhamdulillah hadiah patah hati, nangis sendiri, sampai berada pada titik gak bisa apa-apa sebagai penulis, ujungnya berbuah manis. Hadir buku ini.
Saya tahu tanpa editor yang handal dan ilustrator yang hebat, naskah saya tidak akan bisa jadi seperti ini.

Saya berharap ke depannya akan muncul banyak buku keren seperti ini. Hingga tidak ada lagi mata yang memincing dan mulut yang nyinyir melihat buku lokal yang bersanding dengan buku luar.

Perpustakaan dan Program Mendongkrak Budaya Baca Murid

Tempat yang dikenal di benak setiap orang di mana bisa ditemukan banyak buku dan bisa dipinjam adalah perpustakaan. Perpustakaan banyak bentuknya. Bisa berupa gedung besar atau rumah kecil, perpustakaan berjalan yang dikelola individu atau perpustakaan yang dikelola komunitas dan dibuka pada setiap ada acara seminggu sekali.
Setiap pengelola perpustakaan memiliki pikiran yang sama. Bahwa dengan buku mereka percaya, anak-anak akan menemukan banyak hal yang bisa menambah wawasan mereka. Pembaca bukan hanya sekedar tahu peristiwa di belahan dunia lain, tapi juga akan dapat mengetahui pengalaman orang lain, hanya dari kebiasaan membaca.
Mencintai membaca adalah sebuah proses panjang. Orangtua, lingkungan, teman dekat menjadi penguat untuk itu.
Tidak semua anak suka membaca. Tidak semua orangtua paham bahwa membaca selain buku pelajaran itu bisa bermanfaat untuk anak-anaknya. Dan tidak semua orangtua juga paham, bahwa membiarkan anak menghabiskan waktu untuk membaca buku untuk meluaskan pikiran mereka, adalah sama dengan berinvestasi untuk jangka panjang.
Konsep membaca memang tidak bisa datang begitu saja. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orangtua pembaca akan menjadi contoh positive untuk anak-anaknya, hingga akhirnya anaknya pun akan gemar membaca. Orangtua menyumbang 52, 5 persen untuk kebiasaan membaca.

Tidak semua sekolah dasar memiliki perpustakaan. Bahkan tidak semua sekolah yang memiliki gedung bernama perpustakaan mengoptimalkan perpustakaan tersebut. Banyak gedung bernama perpustakaan dan awalnya memang diperuntukkan untuk perpustakaan pada akhirnya bergeser fungsinya menjadi ruang tata usaha. Sehingga anak tidak bisa dengan bebas datang dan membaca sesuka hati di sana. Karena suara anak-anak yang riuh akan membuat para pegawai tata usaha menjadi tidak nyaman. Buku-buku yang ada di dalamnya juga lebih banyak berisi buku paket pelajaran, sehingga tidak ada daya magnet bernama buku yang berbeda dari buku yang biasa mereka pegang di kelas.
Dilansir dari Sindonews Bahkan penelitian pada 2006 lalu menyatakan, tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Dan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga pustakawan. Perpustakaan di sekolah negeri dan swasta pun hanya mempunyai koleksi buku terbatas.

Jika titik sentral untuk menggairahkan membaca ada pada pundak perpustakaan, maka perpustakaan harus melakukan berbagai bentuk kegiatan yang membuat perpustakaan menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak-anak didik. Beberapa hal ini bisa dilakukan oleh perpustakaan seperti ;

1. Mencari Ikon yang Gemar Membaca
Kebiasaan membaca tidak hadir dengan sendirinya. Orangtua sebagai ikon pertama yang bisa mengarahkan anak menjadi suka membaca. Tapi pada kenyataannya di sebuah sekolah tidak semua orangtua gemar membaca. Maka tugas itu bisa dilimpahkan ke guru untuk menjadikan dirinya sebagai ikon yang terlihat hebat di mata anak-anak, karena kebiasaannya membaca.
Ketika sekorang guru luas wawasannya karena membaca dan asyik dalam menyampaikan materi pelajaran yang tidak ada di buku pegangan anak-anak, maka anak-anak akan mencari tahu lebih lanjut lagi. Ketika si ikon ini mengarahkan anak untuk menemukan sesuatu yang baru di dalam sebuah buku, maka ketertarikan anak akan sebuah ilmu di dalam buku akan semakin berkembang. Tentu saja pihak sekolah harus memfasilitasi kebutuhan akan buku di perpustakaannya.
Thompson mangatakan bahwa anak-anak bicara sebab mereka butuh mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginannya. Dan hal ini tidak bisa mereka dapatkan dari menulis kalimat. Karena itu orang dewasa yang harus membuktikan bahwa menulis dan membaca adalah suatu kegiatan yang berguna.

Mengajarkan mencintai buku dan memahami bahwa dalam sebuah buku ada banyak ilmu pengetahuan adalah proses yang panjang. Untuk itu yang pertama harus diubah adalah pola pikir.
Menurut Jhon C Maxwell mengubah pola pikir itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena mengubah pola pikir tidak bisa terjadi dengan otomatis.
Albert Einstein malah menekankan bahwa berpikir itu sebuah kerja keras, karena itu hanya beberapa saja yang berminat melakukannya.

Guru yang dijadikan ikon ini tentu saja, harus diberi penghargaan atau mungkin tunjangan prestasi. Sehingga semua guru akan berlomba menjadikan dirinya ikon untuk itu.

2. Menjadikan Perpustakaan Sebagai Ruang Kreatif
Sebuah perpustakaan bukan tempat yang kaku. Perpustakaan adalah ruang di mana anak bisa belajar sambil bermain. Maka agar anak bisa nyaman di sekolah dengan perpustakaannya, selain harus memenuhi rak-rak buku di perpustakaan dengan buku-buku yang menarik perhatian mereka, maka perlu dipikirkan untuk mengajak anak-anak bertugas menjadi petugas piket bergantian, menjaga perpustakaan.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Kebutuhan masa bermain mereka lebih besar ketimbang orang dewasa. Anak yang cukup masa bermainnya dan bahagia dengan itu, akan menjadi orang dewasa yang tidak kekanak-kanakkan. Maka ajaklah anak untuk belajar sambil bermain. Bisa dengan melakukan percobaan dari buku yang ada di perpustakaan. Ketika satu percobaan berhasil mereka akan semakin tertarik untuk mencari-cari buku yang lainnya lagi.
Dan tentunya adalah yang paling penting partisipasi orangtua dalam mengikuti perkembangan anaknya membaca. Usahakan orangtua dan guru bersinergi dalam hal ini. Anak bukan sekedar membaca dan meminjam buku, tapi buku itu bisa dijadikan ajang perekat hubungan dengan orangtua. Ada keterlibatan orangtua untuk membaca bersama. Bisa dalam bentuk lomba atau bisa dalam bentuk laporan.
Perpustakaan yang dikondisikan sebagai ruang kreatif tentu harus ramah anak. Mungkin menggelar karpet warna-warni atau tikar sederhana, tapi tersedia mainan edukatif untuk anak, pasti akan membuat anak betah berlama-lama di perpustakaan sekolah mereka.

3. Hadirkan Penulis
Anak yang bersentuhan dengan buku mungkin sudah paham, bahwa buku yang mereka baca ditulis oleh seorang penulis. Tapi anak lain belum tentu seperti itu. Karena itu menghadirkan penulis langsung di hadapan anak-anak, lalu mengajarkan cara sederhana pada mereka membuat buku, akan membuat mereka takjub. Penulis itu juga tentunya membuat anak menjadi paham bahwa untuk bisa bekerja sebagai penulis, anak-anak harus mulai mencintai buku.
Untuk program seperti ini, kelas inspirasi sudah melukannya. Ratusan relawan bergerak setiap tahun di kota-kota yang berbeda, bahkan sampai menjelajahi pulau. Mereka bekerja sama untuk mengajar anak-anak di daerah pinggiran dan mengenalkan profesi yang selama ini belum mereka kenal. Karena pada umumnya mereka hanya mengenal profesi seperti guru, dokter atau insinyur.
Dengan program ini, anak-anak jadi paham bahwa mereka bisa meraih cita-cita setinggi mungkin dan bisa menjadi apa saja. Para relawan biasanya mengenalkan bagaimana mereka bekerja, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Biasanya para relawan juga datang dengan setumpuk buku untuk disumbangkan ke perpustakaan. Dan mereka memiliki program kembali ke sekolah untuk membantu membenahi perpustakaan.

4. Hidupkan Taman Bacaan
Ada banyak sekolah dasar negeri yang tidak memiliki perpustakaan. Tapi biasanya dalam satu lingkungan akan ada satu dua individu yang memiliki minat baca yang tinggi dan pada akhirnya membuka rumahnya sebagai taman bacaan. Buku-buku disediakan untuk dipinjamkan. Individu seperti ini yang harus didukung penuh.
Membuat taman bacaan di era tekhnologi seperti sekarang ini tidak semudah seperti dulu. Karena yang harus dihadapi bukan sekedar membudakayakan kebiasaan membaca. Yang dihadapi adalah pergeseran kebutuhan membaca yang dan mencari ilmu, yang membuat banyak anak didik lebih suka mencari referensi cepat lewat telepon genggam mereka. Mereka hanya membutuhkan paket data untuk mengakses banyak informasi. Tinggal tulis data yang mereka inginkan, lalu muncullah semua yang bisa mereka cari.
Menurut data statistik yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada survei 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta jiwa.

Mayoritas dari jumlah tersebut adalah pengguna aktif media sosial yang Facebook menjadi media sosial yang paling banyak dikunjungi dengan 71,6 juta pengguna, diikuti Instagram sebesar 19,9 juta.

Meskipun belum optimal, tapi paling tidak Pemerintah sudah berusaha bergerak untuk menjembatani kesenjangan akan buku danj perpustakaan ini. Program bebas biaya untuk pengiriman buku ke taman-taman bacaan yang terdaftar dalam program penerima buku gratis sudah dicanangkan Presiden Jokowi, dan berlaku setiap bulannya pada tanggal 17. Siapa saja para pencinta buku yang ingin menyumbangkan bukunya lewat kantor pos (bukan agen pos) mereka dibebaskan dari biaya ongkos pengiriman, yang selama ini dikeluhkan cukup besar nominalnya.
Kebijakan pembebasan biaya kirim buku ini ditetapkan sebagai solusi dari banyaknya keluhan para penggiat literasi karena tingginya biaya pengiriman buku khususnya ke wilayah pelosok. Untuk taman bacaan yang ingin terdaftar dalam program ini, mudah sekali mendaftarnya. Hanya tinggal memasukkan data lalu mengirimkannya lewat email.
Untuk taman bacaan ini, bisa dibuat program resmi pemerintah misalnya mengadakan program satu kelurahan satu taman bacaan. Sediakan tempatnya, penuhi buku-bukunya, buat programnya. Libatkan orangtua dan beri hadiah untuk orangtua yang anaknya sering mendatangi taman bacaan tersebut. Dengan demikian orangtua pasti akan berlomba-lomba mendukung anaknya ke taman bacaan dan menjadikan membaca sebagai suatu bentuk hobi untuk mereka.

Pada akhirnya mendongkrak minat baca bukan hanya tugas perpustakaan tapi tugas semuanya. Jika menginginkan generasi yang mencintai proses, memahami segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instant, yang harus dilakukan oleh semua adalah bahu membantu menjadikan membaca sebagai budaya kita. Indonesia pasti bisa.

Rujukan :
1. Reading habit and intersest of parents and their influence on the reading habit – Ntombifuthi Patricia
2. Reading Habit in Scotland – Vivienne Seonaid Dunstant
3. How Succesful People Think – Jhon C Maxwell
4. Psikologi Komunikasi – Dts Jalaluddin Rakhmat
5. Ilmu Komunikasi – Deddy Mulyana
6. www.mediaindonesia.com

Beban Mental Menulis Buku Ibadah untuk Anak

Beban mental, dan rasa takut yang luar biasa. Itu yang saya rasakan ketika dipercaya menulis buku ibadah untuk anak.
Beban mental dan rasa takut itu memang selalu saya hadirkan dalam hati ketika akan menulis. Karena tanpa rasa seperti itu, saya takut kalau-kalau saya jadi menulis sesuka hati.

Beban mental itu bukan hanya saya yang merasakan pastinya, tapi juga penulis lain. Terlebih penulis saat ini harus berani jungkir balik untuk promosi buku di sosial media. Padahal kondisi sosial media sama seperti sebuah pasar saat ini. Ada banyak toko, ada banyak orang lewat. Dan yang lewat itu bisa sambil lewat hanya melihat sekilas langsung memberi komentar yang negatif. Komentar ini yang akhirnya membuat orang lain terpancing untuk berkomentar yang negatif juga.

Ada banyak yang bisa ditulis memang. Ada banyak pilihan untuk menulis. Tapi ketika kesempatan itu datang, untuk menulis buku panduan ibadah untuk anak, apa yang harus kita lakukan?
1. Jangan terima kalau kita tidak mengerjakannya
2. Jangan terima kalau kita tidak paham ilmunya
3. Jangan terima kalau kita tidak punya kitab-kitab para ulama dan rujukan kita hanya dari google.
5. Jangan terima kalau kita menuliskannya hanya untuk dianggap lebih sholeh dan lebih pintar dari yang lain.

Menulis tutorial ibadah untuk anak itu cukup sulit. Kitab-kitab yang tebal itu harus dibaca semua, untuk dicari sari patinya. Lalu dibandingkan dengan kitab lain. Dicari juga rukuan dari video-video dari ulama yang terpercaya dan situs-situs ulama. Setelah itu tulis dalam bahasa yang dipahami anak. Untuk buku sekitar 40 halaman saya harus membaca lima kitab, masih bertanya langsung ke ulama pada saat kajian biar mendapatkan pencerahan.

Masih akan terus menulis tentang ibadah?
Masih, saya malah keranjingan menuliskannya. Karena ternyata ilmu agama saya bertambah menjadi lebih banyak setelah itu.

Menulis Buku Anak yang Dikemas Ringan

Menulis selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Menulis naskah remaja, dewasa, fiksi non fiksi. Semua jenis tulisan adalah tantangan tersendiri untuk saya.
Jadi karena biasa berjuang untuk menulis, saya termasuk orang yang suka jengkel jika diremehkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia menulis.

Beberapa tahun belakangan ini saya kecemplung menulis buku anak. Sebenarnya sederhana. Permintaan dua anak saya yang waktu itu masih kecil, yang selalu saya bacakan buku sebelum tidur. Mereka request kepada saya, minta dibacakan buku karangan ibu, begitu katanya.
Saya sendiri waktu itu hanya menulis naskah novel remaja juga dewasa. Ada cerita anak di majalah anak Bobo, tapi itu hanya satu dua saja. Tidak rutin saya buat.

Lalu ketika si anak sudah bisa mendesak saya untuk menulis cerita untuk mereka, saya yang terdesak pun akhirnya mencoba menulis. Sebuah novel yang sebenarnya berat karena berkisah tentang seorang anak yang punya dua ibu. Satu ibunya terkena sakit jiwa. Novel itu hasil riset saya berdasarkan pengalaman berteman dengan teman-teman yang anak yatim atau bahkan yang ayahnya menikah lagi.
Novel itu kemudian mendapat Award sebagai novel anak terbaik. Disusul dua tahun berikutnya, dua novel yang lain masuk nominasi novel anak terbaik juga.

Iya saya menulis dan konsisten menulis cerita anak sejak saat itu. Mulai membuka kelas untuk mengajari menulis cerita anak. Baik secara online maupun secara offline. Dan ternyata saya menemukan bahwa orang dewasa yang menulis cerita anak itu, jauh lebih sulit dari anak-anak sendiri. Kalau anak-anak yang menulis, wusss, idenya bebas. Mau jungkir balik dengan ide mereka santai saja. Ketika orang dewasa yang menulis cerita anak, waduh diajarkan untuk berimajinasi mereka sudah tersekat dengan pola pikir ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Belum lagi tidak bisa bebas menempatkan diri sebagai anak-anak dan pesan yang kadang terselip begitu banyak, sehingga membuat beban untuk yang membacanya.

Jika orang dewasa berniat menulis cerita anak, tentunya mereka harus menanggalkan diri sebagai orang dewasa. Harus mau bergaul banyak-banyak dengan anak-anak. Dan ujungnya mau kembali ke masa anak-anak. Jadi ketika menulis mereka harus mau jadi anak-anak kembali.

Untuk cerita-cerita fiksi seperti novel anak, saya bersyukur punya masa kecil yang indah dan rumit. Bukan karena hidup saya rumit. Tapi karena Allah perkenankan saya berteman dengan teman-teman yang hidupnya rumit. Ketika SD saya punya teman yang ibunya bahkan jadi wanita malam. Saya bersyukur orangtua menjaga saya dengan cara yang baik. Sehingga berteman dengan teman lain menambah wawasan saya tentang banyak hal.
Jadi kalau saya bisa mengemas hal rumit dan menyederhanakannya dalam bentuk buku anak, itu sudah biasa.

Yang sulit untuk saya adalah justru ketika saya dipercaya untuk menulis tutorial ibadah atau buku-buku agama lainnya untuk anak. Susahnya?
Susahnya adalah karena setelah saya membaca banyak kitab rujukan, saya harus mencari yang umum, agar anak-anak yang mebacanya tidak bingung. Kok yang ini beda dengan yang diajarkan guruku, misalnya seperti itu? Rujukan yang umum pun tetap harus berdasarkan apa yang Rasulullah ajarkan.
Ketika menulis naskah yang lain sehari bisa mendapat 10 halaman, maka menulis buku ibadah, sehari saya harus baca setumpuk kitab, paling hanya dapat empat sampai lima halaman.
Belum lagi beban takut salah. Belum lagi beban takut dihujat oleh orang-orang yang hobi menghujat ketika melihat sedikit kesalahan.

Sampai sekarang saya masih terus menulis. Pesanan buku anak datang silih berganti. Kalaupun pesanan sudah selesai, saya masih kotak-katik naskah untuk dikirim ke penerbit.
Masih ada yang meremehkan menulis buku anak?
Coba suruh saja dia menuliskannya.

Penulis Remah Rengginang

Penulis remah rengginang? Waktu saya membaca tulisan seperti itu saya tersenyum sendiri. Rengginang, makanan seperti kerupuk yang biasa disajikan pada saat lebaran itu memang unik. Rengginang, tidak pernah bisa membuat orang yang memakannya bersih dari kotoran. Karena setiap gigitan gigi kita pada rengginang, akan menyisakan remah yang jatuh.
Atau jika rengginang berada di dalam wadah dan wadah itu sering berpindah tempat, akan membuat rengginang itu menghasilkan banyak remah yang rontok dari si rengginang itu sendiri yang mengumpul di bagian bawah wadah.

Ops, saya sebenarnya mau ngomong apa, sih?
Yup, ini berkaitan dengan dunia menulis. Sejak dulu ketika saya masuk ke dunia menulis, saya sadar saya harus terus menulis. Ikut lomba ini itu untuk menunjang kepenulisan saya. Karena sebuah lomba menulis dari sebuah instansi atau lembaga yang diakui juga penerbit atau media yang memiliki banyak pembaca, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri saya sendiri.
Tapi bukan berarti setelah itu saya raih, lalu saya menjadi merasa paling besar.

Ada Kalanya Saya Hanya Remah Rengginang

“Pada masa lalu aku punya prestasi di bidang nulis, Bu,” ujar anak saya.
Saya mengangguk. Ia sadar akan hal itu. Pada masanya, di masa lalu, itu artinya tidak terjadi di masa sekarang. Orang juga sudah tidak ingat lagi akan hal itu, dan diri sendiri juga merasa tidak ada artinya dengan pencapaian itu. Karena ada banyak orang lain yang memiliki pencapaian yang lebih tinggi.

Bicara soal pencapaian, saya malah jadi teringat kisah remahnya rengginang. Orang-orang kecil yang merasa tidak ada artinya akan menganggap diri mereka seperti remah rengginang.
Saya?
Saya harus juga menempatkan diri seperti remah rengginang tersebut. Karena apa? Karena prestasi di masa lalu, meskipun sebulan atau seminggu yang lalu, tetap saja namanya masa lalu. Dan untuk hidup kita adalah masa kini dan masa depan.
Uangmu yang kamu dapat dari prestasi di masa lalu akan habis. Pujian akan sirna. Jika kamu menulis mengandalkan puja dan puji maka tidak akan bisa kamu melangkah lebih jauh lagi.

Saya selalu menempatkan diri bahwa saya tidak bisa apa-apa. Remah rengginanglah saya. Karena itu setiap ada program menulis dari ahlinya, untuk bidang yang belum saya kuasai, saya akan ikut mengirimkan lamaran untuk mengikuti audisi itu.
Pun di setiap kesempatan saya selalu meyakinkan diri sendiri saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan begitu saya jadi memiliki energi untuk menulis lebih banyak dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

“Kamu penulis remah rengginang?”
Jika ada yang menunjuk seperti itu, apa yang harus saya lakukan?
Tugas saya terus menulis. Dan tulisan saya yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tuduhan orang lain untuk saya, tidak akan jatuh membebani amalan saya.
Mari terus menulis saja.

Hubungan Penulis dan Penerbit, Harusnya Seperti Apa?

Penulis?
Penulis lepas seperti saya ketika dulu zamannya media cetak, akan terhubung dengan redaksi. Redaksi ini yang mengurusi naskah yang masuk, juga jadi penyambung lidah dengan bagian keuangan ketika penulis ingin mengambil honor.
Dulu zamannya saya masih suka mengambil honor langsung ke media, saya akan menunggu di ruang redaksi. Melihat cara kerja mereka. Lalu dapat tanda tangan dari redaksi plus nomor bukti majalah. Setelah itu saya akan meluncur menuju bagian keuangan untuk mengambil honor.
Eh itu dulu dan terjadi pada masanya. Alias zaman sekarang sudah berganti. Ada banyak yang berubah. Termasuk tumbangnya satu persatu media cetak berganti dengan media online.

Setelah media cetak tumbang penulis mau apa?
Sejak media cetak tumbang maka banyak sebenarnya pekerjaan untuk penulis. Produk-produk mencari blogger untuk mengiklankan produk mereka. Kalau di media cetak hitungannya berapa senti kali berapa senti iklan yang ditayangkan dan harganya bisa mencapai ratusan juta, sekarang kan budget untuk iklan bisa dikurangi.
Iya, blogger adalah salah satu profesi yang tumbuh subur setelah media cetak gugur.

Penulis buku?
Yup, termasuk penulis buku. Meski dari dulu sudah ada penulis buku, tapi sekarang ini semakin marak lagi. Penulis yang menulis buku semakin banyak. Saya yang termasuk akhirnya fokus untuk menulis buku.

Penulis buku akan berhubungan dengan penerbit. Lebih mengerucut lagi, biasanya penulis akan berhubungan dengan editor yang menangani naskah. Masing-masing penerbit punya editor sendiri untuk lini naskah mereka masing-masing. Ada lini naskah anak, remaja atau dewasa, fiksi dan non fiksi.
Hubungan yang harus dibina tentu saja hubungan baik. Penulis manusia, editor juga manusia. Maka membina hubungan baik dengan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan sinergi kerja yang bermanfaat untuk karya yang dihasilkan.

Penulis menulis buku dan editor menyeleksi naskahnya.
Beberapa editor yang saya kirimi naskah langsung suka dengan karya saya. Hanya memberi sedikit editan, setelah itu bahkan memberi order tulisan untuk saya.
Ada juga editor yang mengoreksi naskah saya. Tapi saya suka sepanjang tidak membuat naskah itu bukan lagi menjadi milik saya. Alias isi dirombak sana sini. Jika hanya untuk merubah satu dua kalimat efektif tidak masalah untuk saya. Misalnya bahasa di tulisan itu saya gunakan kata kamu, dan editor maunya kata kita.
Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya pakai kata kamu gunanya untuk mengakrabkan dengan pembaca karena ini non fiksi untuk remaja, maka editor pun setuju.

Mengunjungi penerbit sebenarnya salah satu cara efektif untuk membina hubungan baik. Tapi zaman semakin canggih, dan internet bisa membuat semuanya mudah dilakukan. Jarak bisa dilipat. Komunikasi bisa dijalin.
Hanya saya tetap sesekali mengunjungi penerbit. Salah satunya ketika saya ke Solo dan saya mengunjungi penerbit yang menerbitkan buku saya.
Dengan bertemu langsung, saya lebih paham kebutuhan penerbit seperti apa dan maunya editor juga bagaimana? Dan dari sini bisa melihat lebih jelas tentang penerbit yang saya kunjungi.

Ketika buku sudah jadi pun, penulis bukan berarti harus ongkang-ongkang kaki. Penulis harus mau berjuang untuk promosi agar buku itu laris manis. Laris manis bukan sekedar agar penulis dapat penghasilan. Kalau saya berjuang untuk promosi buku adalah agar pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku yang sudah saya tulis dengan susah payah, bisa sampai pada pembacanya.
Kalau saya tidak melakukannya, pembaca tidak akan pernah tahu ada buku saya yang baru terbit.
Lagipula ini juga sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap editor yang sudah menerima naskahnya atau juga memesan naskahnya.

Dan pada akhirnya sebelum berjuang membina hubungan baik dengan penerbit termasuk dengan editornya, sebaiknya membinalah hubungan baik dengan Allah yang membuat kita dilimpahi banyak ide untuk menulis. Allah yang membuka hati seseorang termasuk hati editor di penerbitan untuk menerima naskah kita.

Soal surat perjanjian, soal naskah yang bisa tembus ke penerbit dan soal royalti?
Next akan saya bahas di hari yang lain In syaa Allah.