Standar Internasional untuk Buku Anak Lokal

Sebagai penulis, saya menjadi orang yang agak sensi alias baper, ketika banyak orang di luar sana, yang tidak suka membaca, tapi dengan mudahnya menganggap bahwa kerja penulis hanya kerja berkhayal saja.
Sebagai penulis, saya juga menjadi orang yang sensi alias baper, ketika ada yang mau menulis, lalu menyepelekan proses menulis, dianggap semuanya mudah dengan hanya berkhayal saja.
Sebagai penulis, yang kerja menulis, membaca tumpukan bahan untuk tulisan, berkelanan untuk riset agar hasil tulisannya tidak asal tulis, saya menjadi malas bicara, ketika ada yang mengatakan bahwa standar buku di Indonesia tidak bagus. Level yang selalu mereka bandingkan adalah level luar negeri.

Sebagai penulis terus-terang saya merasa meradang. Karena itu saya paling rajin ikut pelatihan ini dan itu. Saya senang mendengarkan apa sih isi kepala orang lain. Dan di saat itu saya merenung sambil berpikir panjang.


Hingga akhirnya sampailah saya pada program Room to Read. Di sini saya merasakan betapa sulitnya membuang pola pikir saya yang rumit untuk menjadi sederhana dan bisa bekerja sama dalam sebuah tim.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Bagaimana saya yang terbiasa asyik menulis sendiri, menciptakan dunia sendiri dan tahunya naskah dilempar ke penerbit, ternyata harus merangkak dari awal. Merasakan proses revisi berulang kali dan nyaris patah hati.


Alhamdulillah hadiah patah hati, nangis sendiri, sampai berada pada titik gak bisa apa-apa sebagai penulis, ujungnya berbuah manis. Hadir buku ini.
Saya tahu tanpa editor yang handal dan ilustrator yang hebat, naskah saya tidak akan bisa jadi seperti ini.

Saya berharap ke depannya akan muncul banyak buku keren seperti ini. Hingga tidak ada lagi mata yang memincing dan mulut yang nyinyir melihat buku lokal yang bersanding dengan buku luar.

Perpustakaan dan Program Mendongkrak Budaya Baca Murid

Tempat yang dikenal di benak setiap orang di mana bisa ditemukan banyak buku dan bisa dipinjam adalah perpustakaan. Perpustakaan banyak bentuknya. Bisa berupa gedung besar atau rumah kecil, perpustakaan berjalan yang dikelola individu atau perpustakaan yang dikelola komunitas dan dibuka pada setiap ada acara seminggu sekali.
Setiap pengelola perpustakaan memiliki pikiran yang sama. Bahwa dengan buku mereka percaya, anak-anak akan menemukan banyak hal yang bisa menambah wawasan mereka. Pembaca bukan hanya sekedar tahu peristiwa di belahan dunia lain, tapi juga akan dapat mengetahui pengalaman orang lain, hanya dari kebiasaan membaca.
Mencintai membaca adalah sebuah proses panjang. Orangtua, lingkungan, teman dekat menjadi penguat untuk itu.
Tidak semua anak suka membaca. Tidak semua orangtua paham bahwa membaca selain buku pelajaran itu bisa bermanfaat untuk anak-anaknya. Dan tidak semua orangtua juga paham, bahwa membiarkan anak menghabiskan waktu untuk membaca buku untuk meluaskan pikiran mereka, adalah sama dengan berinvestasi untuk jangka panjang.
Konsep membaca memang tidak bisa datang begitu saja. Sebuah penelitian menyatakan bahwa orangtua pembaca akan menjadi contoh positive untuk anak-anaknya, hingga akhirnya anaknya pun akan gemar membaca. Orangtua menyumbang 52, 5 persen untuk kebiasaan membaca.

Tidak semua sekolah dasar memiliki perpustakaan. Bahkan tidak semua sekolah yang memiliki gedung bernama perpustakaan mengoptimalkan perpustakaan tersebut. Banyak gedung bernama perpustakaan dan awalnya memang diperuntukkan untuk perpustakaan pada akhirnya bergeser fungsinya menjadi ruang tata usaha. Sehingga anak tidak bisa dengan bebas datang dan membaca sesuka hati di sana. Karena suara anak-anak yang riuh akan membuat para pegawai tata usaha menjadi tidak nyaman. Buku-buku yang ada di dalamnya juga lebih banyak berisi buku paket pelajaran, sehingga tidak ada daya magnet bernama buku yang berbeda dari buku yang biasa mereka pegang di kelas.
Dilansir dari Sindonews Bahkan penelitian pada 2006 lalu menyatakan, tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Dan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga pustakawan. Perpustakaan di sekolah negeri dan swasta pun hanya mempunyai koleksi buku terbatas.

Jika titik sentral untuk menggairahkan membaca ada pada pundak perpustakaan, maka perpustakaan harus melakukan berbagai bentuk kegiatan yang membuat perpustakaan menjadi magnet yang menyenangkan untuk anak-anak didik. Beberapa hal ini bisa dilakukan oleh perpustakaan seperti ;

1. Mencari Ikon yang Gemar Membaca
Kebiasaan membaca tidak hadir dengan sendirinya. Orangtua sebagai ikon pertama yang bisa mengarahkan anak menjadi suka membaca. Tapi pada kenyataannya di sebuah sekolah tidak semua orangtua gemar membaca. Maka tugas itu bisa dilimpahkan ke guru untuk menjadikan dirinya sebagai ikon yang terlihat hebat di mata anak-anak, karena kebiasaannya membaca.
Ketika sekorang guru luas wawasannya karena membaca dan asyik dalam menyampaikan materi pelajaran yang tidak ada di buku pegangan anak-anak, maka anak-anak akan mencari tahu lebih lanjut lagi. Ketika si ikon ini mengarahkan anak untuk menemukan sesuatu yang baru di dalam sebuah buku, maka ketertarikan anak akan sebuah ilmu di dalam buku akan semakin berkembang. Tentu saja pihak sekolah harus memfasilitasi kebutuhan akan buku di perpustakaannya.
Thompson mangatakan bahwa anak-anak bicara sebab mereka butuh mengkomunikasikan kebutuhan dan keinginannya. Dan hal ini tidak bisa mereka dapatkan dari menulis kalimat. Karena itu orang dewasa yang harus membuktikan bahwa menulis dan membaca adalah suatu kegiatan yang berguna.

Mengajarkan mencintai buku dan memahami bahwa dalam sebuah buku ada banyak ilmu pengetahuan adalah proses yang panjang. Untuk itu yang pertama harus diubah adalah pola pikir.
Menurut Jhon C Maxwell mengubah pola pikir itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena mengubah pola pikir tidak bisa terjadi dengan otomatis.
Albert Einstein malah menekankan bahwa berpikir itu sebuah kerja keras, karena itu hanya beberapa saja yang berminat melakukannya.

Guru yang dijadikan ikon ini tentu saja, harus diberi penghargaan atau mungkin tunjangan prestasi. Sehingga semua guru akan berlomba menjadikan dirinya ikon untuk itu.

2. Menjadikan Perpustakaan Sebagai Ruang Kreatif
Sebuah perpustakaan bukan tempat yang kaku. Perpustakaan adalah ruang di mana anak bisa belajar sambil bermain. Maka agar anak bisa nyaman di sekolah dengan perpustakaannya, selain harus memenuhi rak-rak buku di perpustakaan dengan buku-buku yang menarik perhatian mereka, maka perlu dipikirkan untuk mengajak anak-anak bertugas menjadi petugas piket bergantian, menjaga perpustakaan.
Anak-anak tetaplah anak-anak. Kebutuhan masa bermain mereka lebih besar ketimbang orang dewasa. Anak yang cukup masa bermainnya dan bahagia dengan itu, akan menjadi orang dewasa yang tidak kekanak-kanakkan. Maka ajaklah anak untuk belajar sambil bermain. Bisa dengan melakukan percobaan dari buku yang ada di perpustakaan. Ketika satu percobaan berhasil mereka akan semakin tertarik untuk mencari-cari buku yang lainnya lagi.
Dan tentunya adalah yang paling penting partisipasi orangtua dalam mengikuti perkembangan anaknya membaca. Usahakan orangtua dan guru bersinergi dalam hal ini. Anak bukan sekedar membaca dan meminjam buku, tapi buku itu bisa dijadikan ajang perekat hubungan dengan orangtua. Ada keterlibatan orangtua untuk membaca bersama. Bisa dalam bentuk lomba atau bisa dalam bentuk laporan.
Perpustakaan yang dikondisikan sebagai ruang kreatif tentu harus ramah anak. Mungkin menggelar karpet warna-warni atau tikar sederhana, tapi tersedia mainan edukatif untuk anak, pasti akan membuat anak betah berlama-lama di perpustakaan sekolah mereka.

3. Hadirkan Penulis
Anak yang bersentuhan dengan buku mungkin sudah paham, bahwa buku yang mereka baca ditulis oleh seorang penulis. Tapi anak lain belum tentu seperti itu. Karena itu menghadirkan penulis langsung di hadapan anak-anak, lalu mengajarkan cara sederhana pada mereka membuat buku, akan membuat mereka takjub. Penulis itu juga tentunya membuat anak menjadi paham bahwa untuk bisa bekerja sebagai penulis, anak-anak harus mulai mencintai buku.
Untuk program seperti ini, kelas inspirasi sudah melukannya. Ratusan relawan bergerak setiap tahun di kota-kota yang berbeda, bahkan sampai menjelajahi pulau. Mereka bekerja sama untuk mengajar anak-anak di daerah pinggiran dan mengenalkan profesi yang selama ini belum mereka kenal. Karena pada umumnya mereka hanya mengenal profesi seperti guru, dokter atau insinyur.
Dengan program ini, anak-anak jadi paham bahwa mereka bisa meraih cita-cita setinggi mungkin dan bisa menjadi apa saja. Para relawan biasanya mengenalkan bagaimana mereka bekerja, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Biasanya para relawan juga datang dengan setumpuk buku untuk disumbangkan ke perpustakaan. Dan mereka memiliki program kembali ke sekolah untuk membantu membenahi perpustakaan.

4. Hidupkan Taman Bacaan
Ada banyak sekolah dasar negeri yang tidak memiliki perpustakaan. Tapi biasanya dalam satu lingkungan akan ada satu dua individu yang memiliki minat baca yang tinggi dan pada akhirnya membuka rumahnya sebagai taman bacaan. Buku-buku disediakan untuk dipinjamkan. Individu seperti ini yang harus didukung penuh.
Membuat taman bacaan di era tekhnologi seperti sekarang ini tidak semudah seperti dulu. Karena yang harus dihadapi bukan sekedar membudakayakan kebiasaan membaca. Yang dihadapi adalah pergeseran kebutuhan membaca yang dan mencari ilmu, yang membuat banyak anak didik lebih suka mencari referensi cepat lewat telepon genggam mereka. Mereka hanya membutuhkan paket data untuk mengakses banyak informasi. Tinggal tulis data yang mereka inginkan, lalu muncullah semua yang bisa mereka cari.
Menurut data statistik yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) pada survei 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta jiwa.

Mayoritas dari jumlah tersebut adalah pengguna aktif media sosial yang Facebook menjadi media sosial yang paling banyak dikunjungi dengan 71,6 juta pengguna, diikuti Instagram sebesar 19,9 juta.

Meskipun belum optimal, tapi paling tidak Pemerintah sudah berusaha bergerak untuk menjembatani kesenjangan akan buku danj perpustakaan ini. Program bebas biaya untuk pengiriman buku ke taman-taman bacaan yang terdaftar dalam program penerima buku gratis sudah dicanangkan Presiden Jokowi, dan berlaku setiap bulannya pada tanggal 17. Siapa saja para pencinta buku yang ingin menyumbangkan bukunya lewat kantor pos (bukan agen pos) mereka dibebaskan dari biaya ongkos pengiriman, yang selama ini dikeluhkan cukup besar nominalnya.
Kebijakan pembebasan biaya kirim buku ini ditetapkan sebagai solusi dari banyaknya keluhan para penggiat literasi karena tingginya biaya pengiriman buku khususnya ke wilayah pelosok. Untuk taman bacaan yang ingin terdaftar dalam program ini, mudah sekali mendaftarnya. Hanya tinggal memasukkan data lalu mengirimkannya lewat email.
Untuk taman bacaan ini, bisa dibuat program resmi pemerintah misalnya mengadakan program satu kelurahan satu taman bacaan. Sediakan tempatnya, penuhi buku-bukunya, buat programnya. Libatkan orangtua dan beri hadiah untuk orangtua yang anaknya sering mendatangi taman bacaan tersebut. Dengan demikian orangtua pasti akan berlomba-lomba mendukung anaknya ke taman bacaan dan menjadikan membaca sebagai suatu bentuk hobi untuk mereka.

Pada akhirnya mendongkrak minat baca bukan hanya tugas perpustakaan tapi tugas semuanya. Jika menginginkan generasi yang mencintai proses, memahami segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instant, yang harus dilakukan oleh semua adalah bahu membantu menjadikan membaca sebagai budaya kita. Indonesia pasti bisa.

Rujukan :
1. Reading habit and intersest of parents and their influence on the reading habit – Ntombifuthi Patricia
2. Reading Habit in Scotland – Vivienne Seonaid Dunstant
3. How Succesful People Think – Jhon C Maxwell
4. Psikologi Komunikasi – Dts Jalaluddin Rakhmat
5. Ilmu Komunikasi – Deddy Mulyana
6. www.mediaindonesia.com

Beban Mental Menulis Buku Ibadah untuk Anak

Beban mental, dan rasa takut yang luar biasa. Itu yang saya rasakan ketika dipercaya menulis buku ibadah untuk anak.
Beban mental dan rasa takut itu memang selalu saya hadirkan dalam hati ketika akan menulis. Karena tanpa rasa seperti itu, saya takut kalau-kalau saya jadi menulis sesuka hati.

Beban mental itu bukan hanya saya yang merasakan pastinya, tapi juga penulis lain. Terlebih penulis saat ini harus berani jungkir balik untuk promosi buku di sosial media. Padahal kondisi sosial media sama seperti sebuah pasar saat ini. Ada banyak toko, ada banyak orang lewat. Dan yang lewat itu bisa sambil lewat hanya melihat sekilas langsung memberi komentar yang negatif. Komentar ini yang akhirnya membuat orang lain terpancing untuk berkomentar yang negatif juga.

Ada banyak yang bisa ditulis memang. Ada banyak pilihan untuk menulis. Tapi ketika kesempatan itu datang, untuk menulis buku panduan ibadah untuk anak, apa yang harus kita lakukan?
1. Jangan terima kalau kita tidak mengerjakannya
2. Jangan terima kalau kita tidak paham ilmunya
3. Jangan terima kalau kita tidak punya kitab-kitab para ulama dan rujukan kita hanya dari google.
5. Jangan terima kalau kita menuliskannya hanya untuk dianggap lebih sholeh dan lebih pintar dari yang lain.

Menulis tutorial ibadah untuk anak itu cukup sulit. Kitab-kitab yang tebal itu harus dibaca semua, untuk dicari sari patinya. Lalu dibandingkan dengan kitab lain. Dicari juga rukuan dari video-video dari ulama yang terpercaya dan situs-situs ulama. Setelah itu tulis dalam bahasa yang dipahami anak. Untuk buku sekitar 40 halaman saya harus membaca lima kitab, masih bertanya langsung ke ulama pada saat kajian biar mendapatkan pencerahan.

Masih akan terus menulis tentang ibadah?
Masih, saya malah keranjingan menuliskannya. Karena ternyata ilmu agama saya bertambah menjadi lebih banyak setelah itu.

Menulis Buku Anak yang Dikemas Ringan

Menulis selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya. Menulis naskah remaja, dewasa, fiksi non fiksi. Semua jenis tulisan adalah tantangan tersendiri untuk saya.
Jadi karena biasa berjuang untuk menulis, saya termasuk orang yang suka jengkel jika diremehkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang dunia menulis.

Beberapa tahun belakangan ini saya kecemplung menulis buku anak. Sebenarnya sederhana. Permintaan dua anak saya yang waktu itu masih kecil, yang selalu saya bacakan buku sebelum tidur. Mereka request kepada saya, minta dibacakan buku karangan ibu, begitu katanya.
Saya sendiri waktu itu hanya menulis naskah novel remaja juga dewasa. Ada cerita anak di majalah anak Bobo, tapi itu hanya satu dua saja. Tidak rutin saya buat.

Lalu ketika si anak sudah bisa mendesak saya untuk menulis cerita untuk mereka, saya yang terdesak pun akhirnya mencoba menulis. Sebuah novel yang sebenarnya berat karena berkisah tentang seorang anak yang punya dua ibu. Satu ibunya terkena sakit jiwa. Novel itu hasil riset saya berdasarkan pengalaman berteman dengan teman-teman yang anak yatim atau bahkan yang ayahnya menikah lagi.
Novel itu kemudian mendapat Award sebagai novel anak terbaik. Disusul dua tahun berikutnya, dua novel yang lain masuk nominasi novel anak terbaik juga.

Iya saya menulis dan konsisten menulis cerita anak sejak saat itu. Mulai membuka kelas untuk mengajari menulis cerita anak. Baik secara online maupun secara offline. Dan ternyata saya menemukan bahwa orang dewasa yang menulis cerita anak itu, jauh lebih sulit dari anak-anak sendiri. Kalau anak-anak yang menulis, wusss, idenya bebas. Mau jungkir balik dengan ide mereka santai saja. Ketika orang dewasa yang menulis cerita anak, waduh diajarkan untuk berimajinasi mereka sudah tersekat dengan pola pikir ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Belum lagi tidak bisa bebas menempatkan diri sebagai anak-anak dan pesan yang kadang terselip begitu banyak, sehingga membuat beban untuk yang membacanya.

Jika orang dewasa berniat menulis cerita anak, tentunya mereka harus menanggalkan diri sebagai orang dewasa. Harus mau bergaul banyak-banyak dengan anak-anak. Dan ujungnya mau kembali ke masa anak-anak. Jadi ketika menulis mereka harus mau jadi anak-anak kembali.

Untuk cerita-cerita fiksi seperti novel anak, saya bersyukur punya masa kecil yang indah dan rumit. Bukan karena hidup saya rumit. Tapi karena Allah perkenankan saya berteman dengan teman-teman yang hidupnya rumit. Ketika SD saya punya teman yang ibunya bahkan jadi wanita malam. Saya bersyukur orangtua menjaga saya dengan cara yang baik. Sehingga berteman dengan teman lain menambah wawasan saya tentang banyak hal.
Jadi kalau saya bisa mengemas hal rumit dan menyederhanakannya dalam bentuk buku anak, itu sudah biasa.

Yang sulit untuk saya adalah justru ketika saya dipercaya untuk menulis tutorial ibadah atau buku-buku agama lainnya untuk anak. Susahnya?
Susahnya adalah karena setelah saya membaca banyak kitab rujukan, saya harus mencari yang umum, agar anak-anak yang mebacanya tidak bingung. Kok yang ini beda dengan yang diajarkan guruku, misalnya seperti itu? Rujukan yang umum pun tetap harus berdasarkan apa yang Rasulullah ajarkan.
Ketika menulis naskah yang lain sehari bisa mendapat 10 halaman, maka menulis buku ibadah, sehari saya harus baca setumpuk kitab, paling hanya dapat empat sampai lima halaman.
Belum lagi beban takut salah. Belum lagi beban takut dihujat oleh orang-orang yang hobi menghujat ketika melihat sedikit kesalahan.

Sampai sekarang saya masih terus menulis. Pesanan buku anak datang silih berganti. Kalaupun pesanan sudah selesai, saya masih kotak-katik naskah untuk dikirim ke penerbit.
Masih ada yang meremehkan menulis buku anak?
Coba suruh saja dia menuliskannya.

Penulis Remah Rengginang

Penulis remah rengginang? Waktu saya membaca tulisan seperti itu saya tersenyum sendiri. Rengginang, makanan seperti kerupuk yang biasa disajikan pada saat lebaran itu memang unik. Rengginang, tidak pernah bisa membuat orang yang memakannya bersih dari kotoran. Karena setiap gigitan gigi kita pada rengginang, akan menyisakan remah yang jatuh.
Atau jika rengginang berada di dalam wadah dan wadah itu sering berpindah tempat, akan membuat rengginang itu menghasilkan banyak remah yang rontok dari si rengginang itu sendiri yang mengumpul di bagian bawah wadah.

Ops, saya sebenarnya mau ngomong apa, sih?
Yup, ini berkaitan dengan dunia menulis. Sejak dulu ketika saya masuk ke dunia menulis, saya sadar saya harus terus menulis. Ikut lomba ini itu untuk menunjang kepenulisan saya. Karena sebuah lomba menulis dari sebuah instansi atau lembaga yang diakui juga penerbit atau media yang memiliki banyak pembaca, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri saya sendiri.
Tapi bukan berarti setelah itu saya raih, lalu saya menjadi merasa paling besar.

Ada Kalanya Saya Hanya Remah Rengginang

“Pada masa lalu aku punya prestasi di bidang nulis, Bu,” ujar anak saya.
Saya mengangguk. Ia sadar akan hal itu. Pada masanya, di masa lalu, itu artinya tidak terjadi di masa sekarang. Orang juga sudah tidak ingat lagi akan hal itu, dan diri sendiri juga merasa tidak ada artinya dengan pencapaian itu. Karena ada banyak orang lain yang memiliki pencapaian yang lebih tinggi.

Bicara soal pencapaian, saya malah jadi teringat kisah remahnya rengginang. Orang-orang kecil yang merasa tidak ada artinya akan menganggap diri mereka seperti remah rengginang.
Saya?
Saya harus juga menempatkan diri seperti remah rengginang tersebut. Karena apa? Karena prestasi di masa lalu, meskipun sebulan atau seminggu yang lalu, tetap saja namanya masa lalu. Dan untuk hidup kita adalah masa kini dan masa depan.
Uangmu yang kamu dapat dari prestasi di masa lalu akan habis. Pujian akan sirna. Jika kamu menulis mengandalkan puja dan puji maka tidak akan bisa kamu melangkah lebih jauh lagi.

Saya selalu menempatkan diri bahwa saya tidak bisa apa-apa. Remah rengginanglah saya. Karena itu setiap ada program menulis dari ahlinya, untuk bidang yang belum saya kuasai, saya akan ikut mengirimkan lamaran untuk mengikuti audisi itu.
Pun di setiap kesempatan saya selalu meyakinkan diri sendiri saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan begitu saya jadi memiliki energi untuk menulis lebih banyak dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

“Kamu penulis remah rengginang?”
Jika ada yang menunjuk seperti itu, apa yang harus saya lakukan?
Tugas saya terus menulis. Dan tulisan saya yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tuduhan orang lain untuk saya, tidak akan jatuh membebani amalan saya.
Mari terus menulis saja.

Hubungan Penulis dan Penerbit, Harusnya Seperti Apa?

Penulis?
Penulis lepas seperti saya ketika dulu zamannya media cetak, akan terhubung dengan redaksi. Redaksi ini yang mengurusi naskah yang masuk, juga jadi penyambung lidah dengan bagian keuangan ketika penulis ingin mengambil honor.
Dulu zamannya saya masih suka mengambil honor langsung ke media, saya akan menunggu di ruang redaksi. Melihat cara kerja mereka. Lalu dapat tanda tangan dari redaksi plus nomor bukti majalah. Setelah itu saya akan meluncur menuju bagian keuangan untuk mengambil honor.
Eh itu dulu dan terjadi pada masanya. Alias zaman sekarang sudah berganti. Ada banyak yang berubah. Termasuk tumbangnya satu persatu media cetak berganti dengan media online.

Setelah media cetak tumbang penulis mau apa?
Sejak media cetak tumbang maka banyak sebenarnya pekerjaan untuk penulis. Produk-produk mencari blogger untuk mengiklankan produk mereka. Kalau di media cetak hitungannya berapa senti kali berapa senti iklan yang ditayangkan dan harganya bisa mencapai ratusan juta, sekarang kan budget untuk iklan bisa dikurangi.
Iya, blogger adalah salah satu profesi yang tumbuh subur setelah media cetak gugur.

Penulis buku?
Yup, termasuk penulis buku. Meski dari dulu sudah ada penulis buku, tapi sekarang ini semakin marak lagi. Penulis yang menulis buku semakin banyak. Saya yang termasuk akhirnya fokus untuk menulis buku.

Penulis buku akan berhubungan dengan penerbit. Lebih mengerucut lagi, biasanya penulis akan berhubungan dengan editor yang menangani naskah. Masing-masing penerbit punya editor sendiri untuk lini naskah mereka masing-masing. Ada lini naskah anak, remaja atau dewasa, fiksi dan non fiksi.
Hubungan yang harus dibina tentu saja hubungan baik. Penulis manusia, editor juga manusia. Maka membina hubungan baik dengan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan sinergi kerja yang bermanfaat untuk karya yang dihasilkan.

Penulis menulis buku dan editor menyeleksi naskahnya.
Beberapa editor yang saya kirimi naskah langsung suka dengan karya saya. Hanya memberi sedikit editan, setelah itu bahkan memberi order tulisan untuk saya.
Ada juga editor yang mengoreksi naskah saya. Tapi saya suka sepanjang tidak membuat naskah itu bukan lagi menjadi milik saya. Alias isi dirombak sana sini. Jika hanya untuk merubah satu dua kalimat efektif tidak masalah untuk saya. Misalnya bahasa di tulisan itu saya gunakan kata kamu, dan editor maunya kata kita.
Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya pakai kata kamu gunanya untuk mengakrabkan dengan pembaca karena ini non fiksi untuk remaja, maka editor pun setuju.

Mengunjungi penerbit sebenarnya salah satu cara efektif untuk membina hubungan baik. Tapi zaman semakin canggih, dan internet bisa membuat semuanya mudah dilakukan. Jarak bisa dilipat. Komunikasi bisa dijalin.
Hanya saya tetap sesekali mengunjungi penerbit. Salah satunya ketika saya ke Solo dan saya mengunjungi penerbit yang menerbitkan buku saya.
Dengan bertemu langsung, saya lebih paham kebutuhan penerbit seperti apa dan maunya editor juga bagaimana? Dan dari sini bisa melihat lebih jelas tentang penerbit yang saya kunjungi.

Ketika buku sudah jadi pun, penulis bukan berarti harus ongkang-ongkang kaki. Penulis harus mau berjuang untuk promosi agar buku itu laris manis. Laris manis bukan sekedar agar penulis dapat penghasilan. Kalau saya berjuang untuk promosi buku adalah agar pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku yang sudah saya tulis dengan susah payah, bisa sampai pada pembacanya.
Kalau saya tidak melakukannya, pembaca tidak akan pernah tahu ada buku saya yang baru terbit.
Lagipula ini juga sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap editor yang sudah menerima naskahnya atau juga memesan naskahnya.

Dan pada akhirnya sebelum berjuang membina hubungan baik dengan penerbit termasuk dengan editornya, sebaiknya membinalah hubungan baik dengan Allah yang membuat kita dilimpahi banyak ide untuk menulis. Allah yang membuka hati seseorang termasuk hati editor di penerbitan untuk menerima naskah kita.

Soal surat perjanjian, soal naskah yang bisa tembus ke penerbit dan soal royalti?
Next akan saya bahas di hari yang lain In syaa Allah.

Horeee, Aku Punya Banyak Buku Baru

Buku. Itu menjadi masalah utama di masyarakat kita.
Sebuah buku tebal menarik untuk saya tentu saja. Karena saja sejak dulu memang gemar membaca. Bahkan saya tidak terlalu suka dengan buku yang dipenuhi banyak gambar. Buyar rasanya segala imajinasi yang sudah saya susun baik-baik di kepala ketika melihat ada gambar di ddalamnya.

Tapi orang seperti saya kan tidak akan ditempatkan di masyarakat yang memiliki kesamaan dengan saya. Kita semua diuji dari orang terdekat kita. Dan karena di rumah baik-baik saja, maka tantangan terberat untuk saya adalah membenahi lingkungan. Lingkungan yang tidak suka baca. Lingkungan yang saya lihat malah dengan santainya membuang buku cerita.
Pernah loh, zaman ketika SD saya suka sekali dengan satu buku. Saya mengidam-idamkan buku itu. Buku tentang seorang raja yang ditipu oleh tukang jahitnya.
Dan buku itu saya baca di rumah teman saya. Lalu teman saya bosan dan buku itu ada di tempat sampah.
Saya ingat, kakak saya membawa buku itu pulang. Iya, karena di rumah bacaan yang dibelikan kepada kami oleh Bapak, seperti barang berharga yang harus dijaga.

Ini ujian. Ujian setiap orang berbeda-beda. Dan ujian saya yang kukuh hanya ingin bekerja sebagai penulis adalah selalu terhubung dengan lingkungan yang tidak kenal buku. Lingkungan saya tidak suka membaca. Lingkungan saya harus dipengaruhi untuk cinta membaca. Dan menyodori mereka buku-buku tebal tidak mungkin. Tontonan televisi, dangdutan atau hiburan dalam bentuk lainnya dalam telepon genggam jauh lebih asyik daripada membaca buku tebal.

Lalu ketika mendapati lingkungan seperti itu, apa harus berdiam diri saja?
Saya penulis. Itu yang selalu ada di benak saya.
Dulu ketika tetangga kanan kiri belum paham profesi itu, menganggap bahwa waktu saya banyak habis di rumah untuk menonton sinetron dan lainnya seperti mereka. Maka tidak sedikit yang menyarankan agar saya membuka toko kelontong di sedikit halaman rumah saya daripada menganggur. Jujur, ketika mendengar kalimat itu rasanya pingin tangan bergerak untuk meninju wajah mereka.
But, it’s ok.
Bukankah di dunia ini banyak orang yang tak paham dan ternyata lebih sok tahu mengatur hidup orang lain.

Maka saya pikir kerja nyata jauh lebih bagus daripada memberi penjelasan.
Saya penulis, saya bahagia menjadi penulis. Orang lain tidak paham dengan profesi saya, itu masalah mereka bukan masalah saya.
Jadi ketika ada sesuatu tugas dilemparkan ke saya dengan alasan saya nganggur di rumah, saya akan menolak. Karena meski di rumah saya punya jam kerja yang jelas setiap harinya.

Waktu bergulir dan syukurlah sekarang hampir semua paham kalau saya penulis. Itu karena efek sosial media. Satu dua tetangga follow beberapa akun sosial media saya, jadi mereka paham kegiatan saya.
Saya penulis dan tugas saya memintarkan lingkungan. Banyak caranya. Salah satunya membuka pintu rumah untuk anak-anak tetangga belajar. Meminjamkan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi. Menambah jumlah buku-buku yang ada di lemari buku untuk dipinjamkan.

Yang lainnya?
Alhamdulillah, anak-anak tetangga suka membaca. Bacanya cepat. Pinjam tiga buku bisa selesai dalam sehari dan minta tukar buku yang lain.
Saya bingung juga pada awalnya.
Pernah saya pakai StoryWeaver. Buku yang ada di sana saya foto lalu saya setting ulang sebelum diprint dan dijadikan buku untuk anak-anak tetangga. Maklum anak-anak yang datang ke rumah sekarang anak-anak TK dan SD kelas satu, dua. Jadi pict book tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan.
Lalu kemarin saya mulai sadar ada situs lain. Bacanya sudah lama, tapi baru sadar kalau kebutuhan pict book anak-anak tetangga bisa saya dapatkan dari sana. Di Seru Setiap Saat. Di sini saya mudah mendownload dan saya print untuk saya jadikan buku yang bisa dipinjam para tetangga saya.

Ini cara saya bermanfaat sebagai penulis dan membuat orang lain paham bahwa saya di rumah bekerja bukan pengangguran.

Sekolah Masa Depan Bernama Pesantren

Pesantren? Kenapa pesantren? Saya tahu pertanyaan itu berkelebat di kepala beberapa orang yang belum paham tentang pendidikan di pesantren. Sama seperti orangtua saya dulu. Tidak kenal apa itu pesantren, sehingga ketika saya request ingin masuk pesantren pada zaman saya sekolah dulu, Bapak melarang. Alasan Bapak, saya mudah sakit.
Lalu ketika anak menjelang SMP saya berniat memasukkan ke pesantren, Bapak selalu bilang pada saya, bahwa saya loh, bisa mendidik anak sendiri. Kenapa mesti diserahkan ke pesantren? Bapak takut saya yang penyakitan akan sengsara dengan iklim pesantren, yang menurut Bapak tidak cocok untuk saya yang mudah sakit. Dan takut anak saya juga tidak kuat kondisi fisiknya sama seperti saya.

Banyak pertanyaan berkelebat di kepala saya tentang pesantren. Saya pikir dulu, sama saja pendidikan pesantren dengan sekolah berbasis kurikulum islam terpadu. Sama saja.
Tapi ternyata saya salah. Iya, saya masukkan kedua anak saya ke SMPIT dengan program paling ketat. Alias ruang kelas perempuan dan lelaki terpisah. Komunikasi di sosial media dikawal para guru.

Perubahan Orientasi Hidup

Bersyukur hidup saya berjalan selangkah demi selangkah. Tidak langsung berlari, tapi saya belajar menjalani setiap proses langkah saya.
Iya saya terlahir dari Bapak yang paham agama. Iya Bapak bukan cuma jadi imam di masjid, tapi Bapak juga paham Al Quran dan mendidik anaknya dengan cukup keras. Shalat adalah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda. Ketika melihat saya terburu-buru shalat hanya karena ingin cepat kembali main bersama teman-teman, Bapak tidak segan-segan dengan tegas meminta saya mengulang shalat saya.

Iya, saya dulu ikut kegiatan rohani islam di sekolah. Segelintir anak yang ada di mushola dan tetap berjuang melaksakan shalat zhuhur dan ashar ketika anak lain sibuk ke kantin atau bergurau di kelas. Saya menjadi bagian dari mereka.
Dari satu pengajian ke pengajian lain. Bukan sekedar duduk mendengarkan,tapi memang berproses mengaji. Mulai dari tajwid sampai cara melagukan Al Quran.
Lalu keseluruhan proses itu membuat saya merasa. It’s enough. Saya sudah cukup bisa mendidik saya sendiri.

Maka dua anak saya masukkan ke sekolah dasar negeri. Dasar utamanya prinsip. Bahwa mereka mnerasakan masa bermain yang puas, sepuas-puasnya. Jam belajar yang pendek di sana, membuat saya berjuang agar jam panjang di rumah diisi dengan kegiatan kreatif.
Seimbang antara menghafal Al Quran dan meyakini banyak teori Barat. Meski porsi seimbang itu tentunya ada pada mindset saya sendiri. Seimbang karena saya merasa cukup dan menurut saya bekal itu yang bisa membuat anak saya bahagia dunia dan akhirat.
Di sekolah negeri sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Anak-anak bersentuhan dengan anak-anak pemulung dan empati mereka bisa terasah. Termasuk, saya meminta mereka membawa teman-teman mereka yang anak pemulung untuk belajar di rumah gratis.
Jujur ketika anak masuk usia kelas lima sampai kelas enam SD, ini adalah masa tersulit. Mereka sulit diatur dan terpengaruh teman-temannya. Sekali dua kali ketahuan oleh saya ketika mereka melalaikan shalat, karena untuk teman-temannya hal itu adalah hal yang wajar.

Berangkat dari situ, saya memasukkan anak ke sekolah islam terpadu.
Usia mereka sudah cukup untuk diberi disiplin lebih tinggi lagi, selain disiplin saya. Mereka akan bersentuhan dengan guru-guru yang visi misinya dalam mendidik anak sama seperti saya. Paling tidak sejalan lah dengan apa yang menjadi visi misi saya.
Memasukkan anak ke sekolah itu, artinya jalan untuk saya menambah wawasan harus diluaskan. Mereka belajar, saya pun belajar. Mereka mendapat kucuran ilmu, saya pun harus paham kucuran ilmu itu agar ada diskusi panjang lebar dengan mereka.
Alhamdulillah proses anak-anak di sekolah ini membuka wawasan saya tentang sekolah lain bernama pesantren.

Alhamdulillah, Pesantren

“Alah, sama aja. Anak sekolah di mana saja sama.”
“Kok, dia masukin anak ke pesantren?”
Dua komentar itu saya dapat dari dua orang yang berbeda dengan dua latar pendidikan yang berbeda. Komentar pertama dari seorang ibu di lingkungan anak sekolah pertama. Sekolah negeri. Pendapat seperti itu biasa untuk saya. Karena di sekolah negeri, mungkin karena saya menyekolahkan anak di sekolah negeri kampung, maka banyak pemahaman yang menurut mereka wajar, tapi sungguh itu tidak wajar dari segi agama.
Memberi hadiah guru itu wajar. Padahal hadiah itu diberikan bukan pada saat penerimaan rapor kenaikan kelas. Di penerimaan rapor tengah semester hadiah untuk guru terlihat jor jor an. Saling berebut perhatian pada guru. Seorang tetangga malah harus mengisi amplopnya dengan beberapa lembar ratusan ribu. Katanya kalau tidak diberi sejumlah itu, nanti anaknya tidak diperhatikan oleh guru.

Komentar kedua malah saya dapat dari seseorang yang berpendidikan tinggi. Mungkin dia heran, kenapa saya menyekolahkan ke pesantren yang cuma belajar agama?
Marah? Enggak lah. Wogn saya dulu pernah punya pola pikir yang sama, dan berpikiran bahwa apa yang saya jalani sehari-hari sudah cukup. Baca Al Quran, sedekah, berbuat baik, sudah cukup. Tidak penting yang lain.

Alhamdulillah, Allah berikan hidayah pada saya sehingga saya bisa melebarkan wawasan.
Pesantren juga menjadi pilihan anak-anak. Hidayah itu harus dikejar. Maka ketika sesuatu tentang pesantren terselilp di benak, saya langsung survey satu pesantren ke pesantren lain. Saya harus tahu seperti apa yang namanya pesantren. Lalu saya ceritakan pada pasangan dan anak-anak. Saya ceritakan yang indah-indah untuk mereka. Dan proses lainnya.
Alhamdulillah Sulung punya cita-cita mendapat beasiswa sekolah agama, justru sebelum saya punya mimpi memasukkan anak ke pesantren.

Pesantren? Tempat apa sih itu?
Kalau Bapak masih hidup, ingin sekali saya membawa Bapak untuk melihat ke dalam isi pesantren.
Pesantren sekarang bukan lagi pesantren seperti di masa lalu. Pesantren sekarang lebih dikenal sebagai Islamic Boarding School.
Di sini anak belajar agama, belajar kehidupan, belajar memahami teman, belajar displlin, belajar antri, belajar prihatin juga.

Saya dan Sulung diskusi soal pesantren pilihan. Di pesantren pertama pilihannya, dia tidak lulus. Maka akhirnya keputusan ada di pesantren pilihan saya. Ketika akan tes saya hanya bilang. “Ibu tidak punya pilihan lain. Kalau kamu tidak berjuang untuk lulus di pesantren kedua ini, maaf tidak ada pilihan ketiga.”
Sulung saya tipikal anak yang memaang harus di push untuk itu. Tidak diberi target dia akan terlena. Jika diberi target ia akan mengejarnya sekuat tenaga.
Alhamdulillah dia lulus di pesantren itu. Tesnya dari pagi sampai sore, meliputi tes akademik, tes hafalan Al Quran, tes tanya jawab Bahasa Arab dan tes menerjemahkan hadist.

Pesantren tempat Sulung, berada di kawasan pinggiran. Luas lahan 8 hektar lebih. Pesantren itu berdampingan dengan pesantren lain.
Pesantren lain itu yang selalu dibilang oleh seorang tetangga saya, pesantren bagus, karena anaknya di sana. Tapi akhirnya saya paham standar bagus atau tidak bagus dari kacamata yang berbeda.
Bagus menurutnya karena di pesantren itu satu kamar dihuni oleh delapan anak. Ruang kelas dan ruang tidur berpendingin udara. Di pesantren Sulung, satu kelas dihuni oleh 20 anak dan hanya kipas angin.
Pelajaran sama.
Pemiliknya juga masih kerabat. Kolam renang dipakai bersama oleh dua pesantren itu. Bahkan lapangan futsal dan lapangan basket di pesantren Sulung kerap dipakai oleh pesantren di sebelahnya, karena fasilitas lapangan di tempat Sulung lebih lengkap.
Jadi?
Ini tentang standar yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Alhamdulillah, saya tipikal orang yang selalu menyelidiki dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Pesantren?
Sudah satu bulan lebih Sulung di pesantren. Apa yang saya dapati ketika dia pulang kemarin?
Wawasannya bertambah. Si Bapak kaget waktu meminta izin pulang ke wali kelas Sulung. Melihat Sulung dan wali kelasnya berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
Hafalan hadistnya tambah. Hadist dengan runutan sanadnya.
Hafalan Al Quran bertambah.
Dan saya jadi bisa merasakan bulan madu dalam tanda kutip seperti yang dikatakan ustadz pemilik pesantren di Cirebon yang juga tempat saya mengaji.
Katanya, ketika anak pesantren, bertemu dengan mereka seperti masa bulan madu. Indah rasanya.

Pesantren?
Jika masih under estimated terhadap pesantren. Mungkin itu artinya hidayah baru datang setengah hati ke dalam lubuk hati kita, sehingga kita sendiri ragu untuk menitipkan agama di bahu anak-anak kita.

Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?

Djoeroe Masak, Cinta di Ujung Lidah

Sebuah novel graphis. Begitu yang saya baca di status penulisnya ketika novel ini sedang dalam proses ditulis. Ada pertemuan dengan editor dan ilustrator. Jujur saya penasaran dan ingin tahu seperti apa buku yang akan dihasilkan nanti.
Apalagi naskah itu adalah naskah kuliner yang ditulis oleh penulis yang memang berkutat dengan masakan. Jelas saya menunggunya, karena ilmu masak saya luar biasa minimnya.

Pada akhirnya ketika buku itu dirilis, saya langsung memesannya plus tanda tangan penulisnya. Harus itu. Karena saya senang mengumpulkan buku yang ada tanda tangan penulisnya.

Ada empat buah buku dalam serial Djoroe Masak yang ditulis oleh Dyah Prameswarie dan diterbitkan oleh Tinta Media imprint dari Penerbit Tiga Serangkai.
Jumlah masing-masing halaman dari empat buku ini juga kurang lebih sekitar 150 halaman.
Setiap buku memiliki kisahnya sendiri. Dan kisah itu saling terhubung antara buku yang satu dengan buku yang lain. Meskipun kisah itu tidak terlalu terikat.
Kisah-kisah kehidupan yang ringan dan diolah dengan balutan resep sebuah masakan. Saya selalu suka ketika membaca bagaimana para tokohnya membuat adonan. Dari adonan lemper sampai adonan pasta.

Dalam buku pertama, Jenang Bukan Dodol dikisahkan tentang pertemuan Sedayu yang membantu ibuknya berjualan jenang di pasar Ngasem Yogjakarta. Di sana Sedayu berkenalan dengan Adian, seorang yang restoran pertamanya gagal dan ia ingin belajar masakan tradisional.
Nuansa pasar dan aroma masakan langsung tercium di beberapa halaman pertama buku ini, dan itu yang membuat saya suka. Rasanya saya seperti berada di tengah-tengah mereka.
Proses perkenalan yang dibalut indah dengan proses pelajaran memasak juga mendatangkan ilmu untuk saya. Oh, harusnya masak lemper seperti ini. Oh, santan harusnya seperti ini. Dan oh oh lain yang membuat saya berniat membuat sajian berdasarkan resep-resep yang ada di buku ini.

Dalam buku yang kedua Kelab Makan Siang Rahasia diceritakan tentang Sedayu dan Adian yang akhirnya menikah dan tinggal di Bandung, lalu Adian membuka restoran A+.
Sedayu yang belum kunjung hamil yang akhirnya memutuskan bekerja dan bertemu dengan bos Dahlia, yang punya kelab makan rahasia dan akhirnya mengundang Adian.
Ada cemburu Sedayu karena gosip tentang kelab makan rahasia.
Hanya sedikit kecewa dengan kelab makan rahasia yang tidak seperti dalam bayangan. Tapi tetap di buku ini saya senang, karena dimanja dengan beberapa resep masakan yang bisa diuij coba sendiri.

Buku Ketiga Nona Doyan Makan dalam buku ini dikisahkan tentang Sedayu yang membuka rumah makan bersama teman-temannya salah satunya dengan Freya. Freya ini -yang Sedayu ( biasa dipanggil Dayu)- kenal di kelab makan siang rahasia.
Di buku ini bercerita tentang gedung yang disewa dengan harga murah oleh Freya dan langsung dibayar cash. Hanya kisah lelaki gila yang berteriak ketika pembukaan gedung dan mengatakan bahwa jangan masuk ke gedung itu karena berbahaya, jadi agak dipaksakan untuk mengeksekusi akhir cerita. Apalagi ternyata lelaki itu adalah pemilik resmi gedung yang disewa yang keluarganya terbakar dan surat kepemilikan juga terbakar.
Resep-resep masakan dan gambarnya yang bagus tetap tersaji di sini.

Buku Keempat Sembah dan Berkah. Di buku ini dikisahkan tentang pasangan Sedayu dan Adian yang sudah memiliki seorang anak beusia empat bulan. Adian mulai melebarkan bisnisnya ke Bali. Ada investor yang siap menanam modal. Dan investor itu yang seorang perempuan yang cukup agresif dan membuat Dayu tidak nyaman.
Dalam buku ini emosi Sedayu dan Adian terasa sekali. Meleleh ketika membaca bagian di puncak keletihan Sedayu mengurus anak sendirian dan menenangkan Tatjana dengan suara parau karena menangis, terlihat oleh Adian.
Tetap ada resep masakan juga di buku ini.

Dari keempat buku seri Djoeroe Masak ini, saya suka dengan buku pertama dan keempat. Di buku pertama saya benar-benar merasakan aroma pasar dan masakan. Di buku keempat saya bisa merasakan emosi penulis yang teraduk-aduk ketika menuliskan kisah ini.

Saya suka buku ini.
Masuk ke dalam lemari untuk jadi koleksi.