Jangan Fokus Pada Kekurangan Orang Lain

Suatu hari di depan televisi Bapak mengomentari seorang penyanyi. Penyanyi itu suaranya bagus, tapi penampilannya tidak menarik. Bapak lalu bilang. “Sayang, ya, tidak cantik.”
Tapi setelah itu Bapak beristighfar berkali-kali. “Tidak boleh seperti itu. Mencela ciptaan Allah berdosa.”

Saya belajar banyak dari Bapak.
Mencoba menerapkan apa yang Bapak terapkan pada saya.

Dulu saya pernah membeli sepatu di toko sepatu. Sampai di sekolah terasa bahwa sepatu itu ternyata sempit sebelah. Rasanya tidak enak. Memang tidak ada yang melihat perbedaa itu. Tapi saya merasa. Apalagi habis jam olah raga di siang hari, pada saat kaki memang jadi mengembang lebih besar.
Satu sepatu di satu kaki terasa masih longgar dan nyaman. Sedang di kaki lainnya sesak. Saya membeli sepatu itu di malam hari. Beli sendiri ke toko sepatu.
Saya lalu melihat di bagian bawah sepatu. Membandingkan nomornya. Baru sadarlah saya kalau ternyata sepatu saya besar sebelah, berbeda nomornya.
Saya masih berusaha untuk menukarnya. Tapi ternyata karena bawah sepatunya sudah kotor, oleh toko sepatu tidak diperbolehkan.
Tapi sejak itu, saya merasa trauma setiap kali membeli sepatu. Berkali-kali saya akan melihat nomornya. Lalu sebelum dimasukkan ke dalam kardusnya pun masih akan saya cek ulang.

Pelajaran dari Sepatu Sulung

Bertahun-tahun pengalaman itu membuat saya takut membeli sepatu. Biasanya kalau ada sepatu yang saya suka, adik-adik saya akan saya beri uang, lalu mereka yang akan membelikan sepatu dengan nomor dan warna yang saya pilih.
Sampai punya anak pun saya masih agak ngeri beli sepatu. Biasanya anak-anak membeli sepatu bersama ayahnya, dan ayahnya yang memilih untuk mereka.
Tapi suatu hari, tibalah Sulung butuh sepatu hitam. Waktunya mendesak. Kami akhirnya lari ke hypermall, yang ada satu toko sepatu.
Sulung memilih sepatu warna hitam untuk upacara. Dia jadi petugas upacara bendera.
Seperti mengurai kejadian di masa lalu, saya mengecek. Lalu setelah itu saya biarkan sepatu itu dimasukkan ke dalam kotak.
Sulung keesokan harinya memakai.

Tapi esok harinya, terjadilah peristiwa dengan apa yang saya alami.
“Ibu, Ibu tahu ada yang aneh dengan sepatuku?” tanyanya.
Ibu tidak mengerti.
“Menurut Ibu aneh tidak?” ia menjejerkan dua sepatu yang dipakainya.
Saya perhatikan sepasang sepatu itu. Tidak kelihatan bedanya. Sama-sama hitam warnanya, sama-sama masih bagus.
Lalu Sulung membalikkan sepatu itu dan menunjukkan nomornya. “Nomor sepatuku berbeda, Bu.”

Rasanya lemas saya melihatnya. Tidak bisa ditukar sepatu yang sudah dibeli dan sudah dipakai. Seperti pengalaman saya.
Saya mendekati Sulung. “Kamu merasa sepatu itu besar sebelah?”
Sulung menggeleng. “Tapi ada temanku yang ngomong begitu, terus teman yang lain lihat,” dia cemberut lalu menyebut satu nama temannya.
Satu teman itu saya kenal betul ibunya dan paham karakternya.
“Terus teman yang lain ngelihatin terus, atau gimana?”
“Enggak, sih. Terus pada lupa, main lagi.”

Saya menarik napas panjang.
Membayangkan dulu, ketika saya memakai sepatu berbeda nomor, hanya saya sendiri yang paham. Teman lain sibuk ngobrol dan tidak memikirkan sepatu saya. Hanya ketika saya fokus ke sepatu, lalu ada yang bertanya. Itu pun hanya pertanyaan kenapa?
Artinya. Saya yang melihat kekurangan saya. Yang lain tidak.

Sekarang Sulung bahkan tidak mengetahui kekurangan sepatu yang dipakainya. Tapi temannya, satu teman yang selama ini suka memberi kritik, yang melihatnya. Itu artinya.
“Kamu tahu. Orang yang sering melihat kekurangan orang lain, biasanya hanya fokus pada kekurangan teman-temannya. Dia tidak akan melihat kekurangannya sendiri. Dia tidak juga melihat kelebihan temannya.”
Sulung belum mengerti.
“Teman kamu melihat seorang pakai baju merah di siang hari juga diberi komentar. Melihat orang pakai topi yang kelihatan aneh, juga langsung diberi komentar.”
Sulung mengangguk. Lalu menjawab.
“Betul, Ibu. Teman yang lain diam aja. Cuma lihat terus main lagi sama aku. Lagipula, sepatu ini masih bagus kok. Aku juga enggak kesempitan.”

Alhamdulillah.
“Kalau kamu butuh sepatu baru, Ibu ajak kamu ke toko sepatu lagi.”
Sulung menggeleng. “Sayang uangnya Ibu. Ini masih bagus, kok.”
Saya tersenyum.
Sepatu itu masih dipakai sampai dia masuk SMP. Ketika saya tanya, apa tidak ada temannya yang melihat nomor sepatunya yang berbeda? Dia bilang, tidak. Apalagi masuk ke kelas sepatu harus dibuka dan ditaruh di rak.
Dua tahun sepatu berbeda nomor itu dipakainya, sampai ayahnya akhirnya pulang dari Malaysia dan membawakan oleh-oleh sepatu baru untuknya, yang nomornya tidak berbeda.

Hanya sepatu berbeda nomor, tapi untuk saya mengajarkan banyak hal. Jangan fokus pada kekurangan orang lain. Karena setiap orang pasti memiliki kekurangan. Fokus pada kelebihan mereka, maka kita akan bisa melihat potensi orang tersebut dan kita bisa mengarahkan ke arah yang lebih baik lagi.

Masakan Ibu yang Membosankan

Masakan Ibu yang membosankan

Apa Ibu akan marah kalau Attar bilang, Attar bosan makanan yang dimasak Ibu? Apa Ibu juga akan sedih kalau Attar bilang, Attar ingin makan siangnya dari catering langganan sekolah saja?
Attar berdiri di depan kamarnya. Di dekat kamarnya ada dapur di mana Ibu kelihatan sedang sibuk meracik bahan makanan.
“Mau bawa apa hari ini?”
Attar diam saja. Ia tidak berani bilang tapi langsung menuju kamar mandi. Di depan kamar mandi Attar bertemu Bilqis yang tersenyum padanya.
**
“Ibu tahu? Kakak bosan masakan Ibu.”
Attar yang sekarang sudah ke luar dari kamar mandi, menghentikan langkahnya. Bilqis sudah terlanjur cerita pada Ibu. Semalam memang Attar bilang pada Bilqis, kalau ia sudah bosan dengan bekal makanan yang dibawa dari rumah.
Attar ingin yang beda.
“Kakak tidak boleh langganan katering, Ibu?”
“Boleh. Ibu malah tidak repot pagi-pagi harus masak di dapur, kan?”
Mendengar kalimat itu diucapkan, Attar langsung berjalan dari kamar mandi menuju kamrnya sambil tersenyum.
“Boleh, Kak..,” ujar Bilqis.
**

Attar melompat kegirangan. Hore…, hari ini ia tidak perlu bawa bekal dari rumah. Hari ini Ibu bilang Attar bisa makan dari makanan katering yang sudah Ibu telepon. Katering itu sudah disediakan pihak sekolah, bagi anak-anak yang tidak membawa bekal.
Makanan Ibu bukannya tidak enak, tapi Attar bosan. Setiap pagi tas sekolahnya jadi bertambah penuh dengan bekal makanan dari Ibu. Belum lagi makanan itu kadang-kadang bukan makanan yang Attar pesan.
Ibu selalu membawakan sayur yang Attar tidak suka. Ibu juga memberikan potongan buah yang potongannya agak besar, padahal Ibu tahu Attar tidak suka buah.
Attar tersenyum ketika berangkat sekolah naik sepedanya.
Makanan katering yang sering dimakan teman-temannya kelihatan enak. Ada telur pedas, ada ikan yang diberi tepung. Ada ayam goreng juga.
Air liur Attar rasanya menetes ketika membayangkan makanan itu.
**
Ada dua puluh lima anak di kelas. Dan kebanyakan teman Attar di kelas, langganan katering. Cuma Attar dan Koko yang bawa makanan dari rumah. Koko bilang, jatah makanan di katering sedikit, dan Koko selalu merasa kurang.
Attar sudah tahu menu katering hari ini, karena sudah tertulis di kertas yang dibagikan setiap bulan pada murid-murid.
Hari ini ada ikan bakar dikasih sambal terus ada susu coklat ditambah lagi sayur bayam. Sayur itu nanti juga tidak akan Attar makan, karena kalau tidak habis Ibu tidak akan marah.
Sekarang sudah jam dua belas. Sebentar lagi istirahat dan makanan dari katering akan datang. Attar tersenyum sendiri.
**
Makanan dari katering hari ini datang terlambat. Tadi ada yang bilang motor orang yang bawa makanan katering, jatuh terpeleset di jalan.
Perut Attar sudah lapar sekarang. Di sampingnya ada Adin yang hari ini bawa bekal makanan dari rumah.
“Kamu tidak bawa bekal?”
Attar menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Hari ini Ibu sudah telepon katering, kata Ibu aku boleh langganan katering selama sebulan.”
Wajah Adin kelihatan kecewa.
“Kenapa?”
“Aku suka terung balado buatan Ibu kamu. Hari ini, Mama aku bawa ayam goreng renyah kesukaan kamu. Aku mau tuker dengan terung balado kamu.”
Perut Attar sudah keroncongan karena lapar.
“Makan sama-sama aku, yuk..”
Attar mengangguk. Nanti pulang sekolah, ia akan bilang sama Ibu untuk membatalkan langganan katering untuknya. Attar mau bawa makanan lagi dari rumah seperti biasanya.
**

Ibu dan Baju Cinderella

Ibu dan Baju Cinderella

Pink warnanya dengan bunga-bunga ungu juga merah. Bentuknya seperti gaun. Renata tertawa melihat Ibu berputar sambil tersenyum.
“Sepatu kacanya, Bu,” ujar Renata terkikik. Baju itu pernah Renata lihat. Sepertinya baju lama Ibu yang sudah tidak ingin Ibu pakai. Ibu bilang, malu Ibu memakainya karena Ibu sudah tua.
“Baju Cinderella…,” ujar Ayah sambil makan singkong rebus.
Ibu kembali berputar. Renata lihat Ayah menggelengkan kepalanya.
“Ibu mau jadi anak muda lagi,” begitu yang Ayah katakan.
Ibu terus berputar sambil bertanya. “Masih cocok, kan?” tanyanya pada Ayah.
Ayah mengangguk, bahkan menyalakan musik di radio. Dan Ibu berputar seperti saat Cinderella berdansa.
“Ibu punya rahasia?” tanya Renata mendekat pada Ayah.
“Mungkin…., Ibu sedang bermimpi jadi Cinderella,” ujar Ayah kali ini mulai meminum kopinya.
**
Baju Cinderella Ibu itu Renata pikirkan. Dan karena Renata tidak menemukan jawabannya, akhirnya ia ceritakan pada teman-temannya. Renata hanya ingin tahu, apakah ibu teman-temannya sama seperti Ibu?
“Hi hi, Ibu aku kalau di rumah suka ngomel,” ujar Diana sambil tersenyum. “Aku mau, dong, lihat Ibu kamu muter-muter berdansa seperti Cinderella.”
“Mami aku tidak suka baju panjang,” Lili menggeleng.
“Mami kamu jangan-jangan punya mimpi jadi artis,” kali ini Agustin yang bicara.
Renata mendengarkan semua kalimat teman-temannya. Ibu yang mengeluarkan koleksi baju di masa mudanya lalu bergaya seperti Cinderella, menurutnya adalah Ibu yang aneh.
Tapi baju berwarna pink dengan bunga ungu dan merah itu dipakai Ibu kembali, ketika Renata pulang sekolah. Ibu bahkan memakai bedak dan lipstik. Lalu Ibu berdiri di atas anak tangga paling atas. Persis seperti poster film Cinderella yang Renata lihat, ketika Cinderella kehilangan sepatu kacanya.
“Ibu mau apa?” tanya Renata pada Ibu ketika Ibu menyodorkan kamera telepon genggamnya pada Renata.
“Foto saja…,” ujar Ibu.
Renata mengikuti sambil geleng-geleng kepala. Ibu masih aneh juga.
**
Sudah dua minggu baju Cinderella sudah tidak Ibu pakai. Renata melihat baju itu sudah masuk di lemari. Renata senang, Ibu sudah tidak aneh lagi.
Tapi tadi ada seorang mengantar barang baru di rumah. Sebuah mesin jahit berwarna biru yang diletakkan di ruang keluarga.
“Punya siapa?” tanya Renata pada Ibu dan Ayah.
Ayah dan Ibu saling melempar senyum.
“Punya siapa?” Renata penasaran.
Ayah lalu membuka sebuah koran di hadapan Renata. Lalu menunjukkan pengumuman di koran itu.
Tertulis di sana, pemenang lomba foto untuk ibu-ibu yang berani bergaya seperti putri Cinderella. Ayah menunjuk satu foto Ibu yang menjadi juara pertama.
“Sudah lama Ibu ingin membelikan mesin jahit untuk Nenek. Tapi mesin jahit yang Nenek minta mahal harganya,” Ibu tersenyum. “Jadi satu-satunya cara adalah dengan menjadi Cinderella.”
Renata memeluk ibunya kuat-kuat. “Ah…, Ibu keren,” bisiknya dengan bangga.
**

Dalam Menulis Jangan Takut Pada Siapa-Siapa

Banyak yang ingin jadi penulis. Buanyak sekali. Saya temukan permintaan untuk mengajari menulis di sosial media sering membuat saya menggeleng untuk menolak. Sebab berdasarkan pengalaman, banyak yang hanya ingin ikut-ikutan saja untuk menulis. Sekali dua kali lalu bergugurlah dengan target yang saya berikan kepada mereka.

Banyak penulis yang lebih takut pada komentar orang lain. Karena biasanya komentar di sosial media memang lebih pedas daripada cabai. Padahal yang rajin memberi kritik di sosial media bukan kritikus, dan tidak juga menguasai satu jenis tulisan.

Naskah yang kita tulis sepenuh hati, pasti ada celahnya. Pasti tidak ada kurangnya. Sebab kita manusia, jadi khilap salah itu biasa.
Berlandaskan hal sepeti itu, maka kita siap sedia jika ada orang lain yang tidak suka dengan naskah kita. Karena masalahnya bisa jadi bukan terletak pada baik dan buruknya naskah kita. Seringnya karena perbedaan selera bacaan. Bisa juga bahkan merembet pada hal yang lebih pribadi.

Saya menulis sejak dulu, dan saya tidak mau takut pada siapa-siapa.
Kalau saya takut, mungkin langkah saya sudah terhenti jauh-jauh hari.
Menjadi penulis sejak dulu menguntungkan saya. Karena dulu saya berhadapan dengan orang yang tidak lazim dengan pekerjaan saya sebagai penulis. Jadi kalau sekarang hanya naskah yang dibantai tidak jadi masalah untuk saya.
Karena apa yang tulis bukan sesuatu yang dikarang-karang tapi berdasarkan hasil riset.

Penulis yang takut biasanya karena :
1. Naskah mereka tidak ada risetnya. Jadi data yang mereka dapatkan hanya berdasarkan khayalan belaka.
2. Naskah mereka bisa jadi meniru naskah orang lain, baik soal ide maupun soal nyawa tulisan.
3. Naskah mereka mengambil ide dari orang lain atau idenya sama dengan orang lain. Jadi tentu saja takut kalau ada yang mengenali naskah mereka itu.

Penulis tidak boleh takut pada komentar orang lain.
Takut saja pada yang Maha Memberi Ide, jika ide yang kita olah tidak baik, tidak benar, tidak mencerahkan, dan menulis apa saja sesuka hati kita tanpa batasan moral. Takut jika DIA mencabuat amanah ide dari kepala kita.

Biarkan Anak Belajar dari Nilai Ulangan yang Buruk

ulangan

Saya tidak menyimpan berkas ulangan saya yang nilainya jelek. Karena dulu tidak pernah terpikir manfaatnya.
Tapi setelah memiliki anak, saya baru merasakan manfaatnya menyimpan berkas ulangan bernilai buruk itu.
Untuk apa?
Untuk mengingatkan saya bahwa saya kalau agak tegang melihat nilai anak-anak.
Dengan begitu saya menjadi lebih kendor dan menyadari bahwa proses masihlah panjang jalannya.
Tapi untuk dua anak di rumah. Saya menyimpan nilai-nilai ulangan mereka. Dari yang jelek sampai yang bagus.Dari yang nilainya satu sampai yang nilainya sepuluh.

“Buat apa?” tanya anak-anak.
“Buat mengingatkan, kalau suatu hari kamu marah sama anak kamu karena nilainya jelek, kamu jadi cepat sadar.”
Semalam Bungsu resah. Nilai ulangan hariannya di bawah UKK.
Terlebih untuk Bahasa Indonesia.
Si Sulung langsung bicara,” Masa udah menghasilkan buku, ulangan Bahasa Indonesia-nya jelek.”
Nampaknya Bungsu tertekan.
Maka saya dan suami mengajaknya berkeliling cari susu segar kesukaannya. Biarkan dia memilih.

Setelah tenang di rumah saya bicara.
“Ulangan jelek akan ada remedial. Tidak masalah. Di kelas kamu 25 anak berjuang mencari nilai tertinggi. Kamu fokus cari celah yang lain dengan terus menulis.”
Dia diam.
“Nilai jelek bukan hasil akhir. Ini proses biar kamu merasa gagal.”
Sulung ikut mendengarkan.
Lalu bicara. “Lagian, yang bikin google aja gak lulus sekolah bisa punya google,” ujar Sulung.
Maklum Sulung agak santai. Memang saya sudah bilang sama gurunya kalau anak saya tidak bisa menguasai semuanya. Yang penting hapalan Al Qurannya harus jadi nomor satu.
Dan Sulung memang memenuhi itu.
Dan ternyata ketika saya tekankan untuk lebih menguasai hapalan, maka nilai-nilai beranjak naik dengan sendirinya.
“Ibu tahu, apakah kamu malas berusaha atau memang tidak bisa,” itu yang selalu saya bilang sama dia.

“Trus menurut Ibu kelebihan aku apa?” tanya Bungsu setelah menyeruput susu segar.
“Kamu baik. Itu kelebihan yang tidak dipunyai setiap anak.”
“Menurut Ibu begitu?”
Saya mengangguk.
Tanggal 17 kemarin, teman-teman SD datang ke rumah. Begitu dia buka pintu pagar, teman-temannya langsung berteriak dan memeluknya. “Aku kangen,” ujar teman-temannya bergantian memeluk.
“Tetap jadi baik dan terus berjuang.”
“Terus, Ibu pernah dapat nilai jelek?.”
Maka saya ceritakan panjang lebar perjalanan saya dengan nilai jelek juga nilai bagus. Dari yang takut pulang karena nilai jelek, bukan karena takut dimarahi tapi karena takut mengecewakan Bapak. Sampai yang biasa-biasa saja dapat nilai tertinggi.
“Ada Allah yang bisa merubah semuanya.”

Lalu sebelum tidur Bungsu bicara. “Ibu, bangunin aku tahajud nanti, ya.”
Saya mengangguk.
Dia terbangun untuk tahajud.
Lalu tidak seperti biasanya, sebelum berangkat sekolah, dia mengambil wudlu.
Kalau sudah begini, bukankah kegagalan akan jadi indah?
Mungkin perlu saya punya sudut untuk membingkai nilai-nilai ulangan yang jelek dan yang bagus, biar mereka paham. Hidup ini bisa naik bisa turun. Bisa di atas bisa di bawah.
Nikmati saja sambil bersyukur. Itu kata kuncinya.

Mencari Jodoh untuk Naskah Kita

Mencari jodoh itu bukan sesuatu yang mudah. Kalau pengalaman saya seperti itu. Jodoh, orang yang bisa membuat saya terus meningkat secara signifikan dalam segala aspek, harus dicari dengan matang dan keyakinan penuh bahwa saya pasti akan mendapatkannya.
Kalau dulu, saya cuma pingin seorang lelaki yang bisa menggambar. Dan lelaki itu harus bisa melakukan banyak hal seperti bapak saya. Sederhana memang keinginannya. Tapi ternyata sulit juga mendapatkannya.
Yang datang ternyata tidak dengan kriteria tersebut.

Eit…, saya mau ngomong apa, sih?
Yup, soal naskah dan soal jodoh naskah kita. Hampir miriplah dengan jodoh alias pasangan kita. Naskah kita jika ingin diterbitkan harus menemui tempat yang tepat.
Pasangan naskah adalah media cetak atau penerbit. Jika naskah diterbitkan maka sisi enaknya, kita akan mendapatkan honor, dan tulisan kita bisa dibaca banyak orang. Itu artinya manfaat tulisan kita tersebar tidak sekedar jadi penghuni komputer kita.
Setiap orang bebas melakukannya. Mengambil keputusan akan ke mana naskah itu berujung? Mau dicetak terbatas untuk diri sendiri, juga tidak masalah.

Kalau saya?
Kalau saya senang menulis. Senang tulisan saya bisa dibaca oleh orang lain. Kalau bisa dibaca sebanyak-banyaknya oleh orang lain. Karena apa? Karena akhirnya saya berjuang untuk meningkatkan kemampuan menulis saya. Tidak merasa puas hanya tulisan dipuji oleh satu dua orang saja.
Dulu, waktu baru belajar menulis, tulisan selalu saya berikan pada teman-teman yang tahu saya suka menulis. Mereka rata-rata memuji dan bilang bagus.
Iya baguslah. Wong mereka rata-rata tidak terlalu suka membaca seperti saya. Jadi tidak ada bahan perbandingannya.

Standar yang lebih tinggi saya dapatkan ketika naskah saya kirim ke media. Banyak sekali naskah ditolak. Itu artinya cuma satu buat saya. Saya harus menulis lebih baik dan lebih baik lagi.

Jodoh itu Tidak Mudah
Mencari jodoh untuk tulisan kita, entah itu di media atau penerbit buat saya bukan hal yang mudah. Iya kalau mudah tentu tulisan saya bisa setiap hari dimuat di media. Saya kan menulis setiap hari dan mengirim hampir setiap hari.
Kalau hari ini tidak mengirim, pasti besoknya saya bisa mengirim double tulisan saya ke media cetak.

Yang saya tahu jodoh itu harus diperjuangkan sekuat tenaga. Atas nama cinta. Kalau yang mengaku cinta. Kalau saya ukurannya adalah penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor.
Kenapa penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor? Karena saya masih yakin, naskah saya akan dicek oleh orang yang memang mampu di bidangnya. Semua sisi diperhatikan. Dan itu tentu membuat saya bahagia sebagai penulis.

Kalau ingin menjadi penulis yang naskahnya bisa cepat diterima, perjuangannya berat. Menulis setiap hari. Rajin ke toko buku dan menyisihkan dana bulanan untuk membeli buku. Jadi isi kepala penuh. Jadi kita juga bisa paham, mana tulisan yang belum pernah digarap oleh orang lain.
Nah, penerbit atau media suka dengan ide yang unik yang belum digarap oleh orang lain.
Untuk penulis yang sudah punya banyak tulisan, mungkin kriteria tidak terlalu sulit penulis yang baru mulai. Asal naskah tetap harus bagus dan dapat dipertanggungjawabkan.

Okelah semua tulisan ada jodohnya.
Dan kita terutama saya harus berjuang keras untuk mencarikan jodoh itu. Agar tulisan yang saya buat tersebar manfaatnya. Iya , dong. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk sesamanya.

Ada beberapa naskah saya yang ditolak oleh satu media cetak, malah jadi cerita utama di majalah lainnya.
Ada satu buku saya ditunda di satu penerbit, tapi akhirnya saya kirim ke penerbit lain dan berujung pada penghargaan sebagai buku terbaik versi IBF Award.
Ada buku saya yang ditolak dua penerbit dengan alasannya mereka belum punya tempat untuk menerbitkan buku tersebut, sampai saya hampir putus asa, lalu berjuang keras mencari penerbit lain. Ternyata mendapatkan tempat yang baik dan naskah digarap dengan sangat baik di penerbit tersebut.

Lalu apa yang harus dilakukan penulis dengan naskahnya?

1. Tulis yang terbaik. Kalau penulis yang sudah lama seperti saya, biasanya dapat order dari penerbit atau media. Dan tetap saya harus berjuang menulis yang terbaik.
2. Ke toko buku dong. Lihat dan bandingkan. Lihat buku-buku yang diterbitkan macam-macam penerbit. Dengan begitu kita bisa tahu, ide yang mana yang belum ada. Nah itu itu yang harus kita tulis.
3. Add fanpage penerbit atau twitternya. Biasanya penerbit besar sering membuat pengumuman menerima naskah. Nah cepatlah kirim ke penerbit tersebut. Pengalaman saya, ketika mengirim setelah pengumuman itu dibuat, naskah akan cepat di acc. Naskah novel anak karya saya pernah di acc dalam tempo dua hari setelah kirim. Buku saya yang akan terbit di acc seminggu setelah saya kirim.
4. Nah, kalau ingin seperti ini, tentu harus menulis setiap hari. Sehingga memiliki banyak tabungan naskah.
5. Kalau naskah ditolak, cari penerbit lagi. Ditolak lagi, cari lagi. Sampai akhirnya kita paham apakah naskah kita benar-benar layak terbit? Kalau naskha benar-benar layak terbit, yakinlah pasti akan ada saatnya naskah itu diterima oleh satu penerbit.

Full Day School, Orangtua yang Berani Memutuskan

At di Bandung

Full day school. Ngeri ya kedengarannya.
Sehari penuh di sekolah, di rumah tinggal capeknya. Anak-anak di sekolah, ibu bapaknya di tempat kerja. Ketika sampai di rumah sudah capeklah semuanya.

Wacana full day school mencuat belakangan ini, meski akhirnya peraturannya segera diganti karena banyaknya yang protes.
Banyak yang merasa harus mem full day kan anak, karena tidak sanggup mendidik mereka. Kata tidak sanggup itu, akhirnya membuat mereka pasrah dan menekan juga pada anak-anak. Pasrah dengan apa maunya sekolah dan peraturan dan menekan anak untuk jadi terbaik di semua bidang. Hayo, mana bisa kan terbaik di semua bidang?

Ada masa anak untuk bermain, maka penuhilah hak anak untuk itu.
Saya justru senang mengambil sesuatu yang berseberangan dengan orang lain. Ketika yang lain mem full day kan anak-anak di usia SD, saya siap dengan memasukkan mereka ke SD negeri yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja artinya satu kelas dibagi di tiga shift. Kelas satu masuk jam tujuh pulang jam sembilan. Seringnya masuknya jadi jam setengah delapan dan pulang setengah sembilan.
Hayo?
Dapat apa di sekolah?
Saya yakin mereka dapat pertemanan yang beragam. Sisa waktu mereka adalah tanggung jawab saya sebagai orangtua. Saya ajarkan banyak hal.

Ketika hujan deras dan orangtua lain melarang anak bermain, saya malah mengajak mereka mandi hujan pakai jas hujan.
Pura-puranya pakai jas hujan biar enggak dianggap aneh oleh yang lain. Terus kami ke tempat yang masih ada sungai dan banyak kodok berbunyi. Kodok yang berbunyi itu biasanya akan membuat lehernya jadi menggelembung. Itu yang saya tunjukkan pada anak-anak.
Jas hujan tidak menutupi kami dari hujan tidak apa-apa. Wong intinya kami belajar sambil bermain. Anak bukan sekedar mendapat ilmu tapi merasakan cinta kasih saya.

Saya merasa, saya harus memberikan semuanya, termasuk kebahagiaan bermain pada anak-anak hingga mereka masuk usia remaja, alias lulus SMP.
Ada banyak yang tidak sepaham dengan saya. Menyekolahkan anak di sd negeri kampung dengan pengajaran ala kadarnya, akan membuat anak tidak pintar. Ahai, tidak penting apakah mereka pintar untuk saya. Yang penting mereka punya empati besar. Dan empati itu yang akan membuat mereka jadi manusia bermanfaat. Pintar di sekolah itu masalah angka. Dan itu mudah didapatkan.

Akhirnya Full Day School

Full day school adalah sebuah keputusan untuk saya. Keputusan panjang.
Karena apa? Usia anak-anak sudah semakin besar. Mereka selama ini sudah banyak belajar dari saya dan pasangan. Mereka sudah melihat kami utuh berjuang menjadi teladan. Sekarang saatnya untuk mengambil teladan orang lain, yang sepaham dengan kami.

Full day school dipilih harus dipertimbangkan. Banyak SMPIT di kota Bekasi, tapi saya jatuh hati dengan satu tempat. Kalau SMPIT lain lelaki dan perempuan masih dicampur. Sekolah ini dipisah antara lelaki dan perempuan. Dan pola pendidikan antara anak lelaki dan perempuan berbeda. Maka kaget saya waktu ke sana dan mendapati anak-anak perempuannya bicara dengan lembut.
Tidak ada telepon genggam. Semua orangtua murid terhubung dengan guru.
Sabtu ada ekstra kurikuler. Jam belajar jam tujuh pagi teng sampai jam empat dengan asyar berjamaan dan tausiyah. Ada hapalan Al Quran, ada jam khusus bahasa Inggris dan Arab.
Ada juga program mentoring. Jadi anak-anak pergi dengan satu guru untuk menjelajah suatu tempat.
Dan yang lebih penting lagi, selepas mereka dari SMPIT itu, mereka tetap dipantau dengan program mentoring sampai lulus SMA. Kalau orangtua menolak, maka harus tanda tangan surat di atas materai.
Untuk orangtuanya, ada pengajian rutin setiap minggu. Dan ada seminar parenting setiap tiga bulan sekali.

Sekolahnya masih ada PR. Kadang bertumpuk. Tapi PR untuk saya bukan masalah besar. Ayo kerjakan bersama-sama. Jadi mereka merasa tidak sendirian. Ibu harus memeras otak lagi, agar anak-anak tahu Ibu berjuang untuk bisa, dan mereka juga harus melakukannya.

Full day school buat saya adalah sebuah keputusan. Apalagi mereka sudah abege dan condong mendengarkan orang lain ketimbang orangtuanya. Lalu apa salahnya memilihkan tempat yang visi dan misinya sama dengan saya? Sehingga mereka ada di jalur yang tepat.
Kenapa tidak di pesantren?
Tidak. Karena saya ingin anak melangkah pelan tapi pasti.
Dari SD negeri fokus dari saya pelajaran empati, masuk ke SMPIT dengan standar seperti pesantren. Hingga tumbuh kesadaran anak, bahwa ia harus masuk ke mana.
Alhamdulillah, Sulung sudah memutuskan ia akan melanjutkan SMA nya di sebuah pesantren.
Saya dan suami juga belajar banyak setelah anak-anak di SMPIT. Karena kadang ketika pulang, anak membawa pelajaran tentang akhlak juga adab. Dan itu dilakukan.
“Kenapa makannya tidak pakai sendok?”
“Ini sunnah,” jawab Sulung sambil menjilati jarinya.
Lalu lain waktu.
“Adab harus diperhatikan,” ujarnya pada adiknya yang pakai rok pendek. “Berpakaian juga ada adabnya.”

Well, semua berproses.
Full day school buat saya cocok, buat orangtua lain belum tentu.
Jadi nikmati saja apa yang cocok untuk diri kita, bukan untuk orang lain.

Jangan Mau Orang Mengganggu Mood Kita

Ada banyak orang di sekeliling kita. Orang dekat yang sehari-hari bersama kita. Dan orang yang jauh di luar lingkungan hidup kita.
Mereka berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung dengan kita. Mereka hidup berdampingan dan bersentuhan kulit dengan kita. Atau mereka hanya terjangkau pandangan kita saja.

Kita adalah makhluk sosial. Kita tidak mungkin bisa hidup sendiri. Kita akan menolong orang lain dan ditolong orang lain. Baik secara langsung maupun tidak langsung.
Ada pertolongan orang yang tidak kita sadari. Misalnya baju yang melekat di tubuh kita. Meski kita merasa membelinya dengan uang kerja kita, tapi ada rantai untuk sebuah baju pada akhirnya melekat di tubuh kita. Dari mulai uang kerja kita, kita tidak mungkin bekerja atau menghasilkan sesuatu tanpa orang lain. Dari orang yang menjual baju, dari penjahitnya, dari benangnya. Semua adalah jalinan alias mata rantai yang membuat kita adalah makhluk sosial.

Orang lain bisa membuat kita menjadi baik juga buruk. Semakin dewasa hal itu, kita akan semakin paham.
Kalau mereka kasar, mungkin kita bisa membalas kekasaran mereka. Tidak masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika orang-orang yang melakukan sesuatu yang tidak mengenakkan untuk kita, bisa membuat mood kita pada satu hari berubah.
Hanya karena orang tidak sengaja menginjak sepatu kita, kita langsung tidak enak hati sepanjang hari. Karena merasa sepatu itu baru kita cuci atau memang baru beli.
Atau ketika kita sedang gembiranya, lalu ada seorang yang marah pada kita tanpa sebab. Kita lalu merasa jadi orang yang paling menderita sedunia.

Mood kita milik kita.
Perasaan turun naik itu hak kita.
Kita bisa memilih mengisi hari dengan tersenyum atau dengan berduka.

Jika ada seorang yang kita rasa bisa mengubah mood kita, apa yang harus kita lakukan?
1. Tarik napas panjang. Pikirkan, bahwa hari ini kita harus mengisi hari dengan kebahagiaan. Bqahagia itu pilihan kita. Orang lain tidak berhak mengambil kebahagiaan itu dari kita.
2. Ketika ada orang marah dengan kita, bukan kita yang sedang bermasalah. Tapi dia. Maka kasihanilah dia.
3. Ketika datangnya perubahan mood itu dari rumah, coba ke luar rumah. Temui orang yang tidak seberuntung kita. Maka kita akan bersyukur dengan keadaan kita.
4. Kamu siapa? Hal seperti itu sering saya ulang-ulang dari hati saya, ketika ada orang yang tiba-tiba menyinggung perasaan saya. Iya. Dia itu siapa? Orang itu bukan siapa-siapa kita, maka tidak perlu dipikirkan apalagi dimasukkan ke hati.
5. Ketika sedang marah, jangan bergaul dengan yang mudah emosi. Tambah akan semakin tinggilah emosi kita.

Hak tubuh adalah dijaga kesehatannya. Hak hati juga begitu. Maka jagalah hati kita dengan selalu menjaga perasaan kita.

Kenapa Penulis Harus Promosi Bukunya?

Aku Keren

Pahala mengalir. Itu memang sengaja yang saya kejar dari menulis. Karena itu sekarang bukan lagi saya hanya sekedar menulis dan menuangkan ide. Atau hanya sekedar naskah dimuat atau buku terbit. Lalu saya terima honor atau royaltinya.
Tidak, tidak seperti itu.

Ada banyak yang saya kejar, terutama pahala mengalir, yang akan membuat saya menjadi terbantu di hari setelah kematian nanti. Ada tiga pahala mengalir yang saya paham betul memang dijanjikan untuk setiap muslim. Yaitu; 1. doa anak yang saleh, 2. Ilmu yang bermanfaat 3. amal jariyah.
Menulis yang bermanfaat untuk saya akan mengalirkan pahala berupa ilmu yang bermanfaat. Ketika kita tidak ada kelak, maka ilmu bermanfaat dari tulisan-tulisan kita yang dibagi lagi oleh orang yang membaca dan dijalankan, akan bermanfaat untuk kita.

Ilmu yang bermanfaat harus disebar.
Kenapa harus disebar? Karena dengan begitu orang akan meniru dan ingin ikut menjalani.
Ilmu yang bermanfaat dalam bentuk buku, juga harus disebar. Jadi orang paham bahwa diantara ribuan buku yang terbit, ada buku yang bermanfaat untuk orang lain.

Penulis di Zaman Sekarang

Setiap orang yang ingin maju, harus berani ke luar dari zona nyaman.
Saya penulis dari era masa lalu alias zaman jadul. Saya biasa nyaman tanpa ribet harus tampil ke permukaan. Maklum bukan karena saya yang pemalu, seperti kebanyakan para penulis lainnya. Tapi karena memang pada zamannya dulu, kita penulis hidup nyaman. Media cetak banyak yang membeli. Yang dilihat karya bukan si pembuat karya.
Buat saya waktu itu, yang penting saya menulis dan biaya kuliah saya lancar.

Penulis di zaman sekarang, terhubung dengan media sosial.
Sempat ikut-ikutan juga saya upload foto-foto wajah. Maklum belum paham bagaimana bermain di media sosial. Apalagi ketika bermain di media sosial, yang saya temui banyak yang mengaku penulis dan sering upload foto. Tapi ternyata mereka tidak menulis. Kalaupun menulis hanya satu dua karya saja.
Akhirnya memang saya menemukan format yang asyik untuk saya di media sosial.
Sesekali pasang foto tidak masalah asal jangan terlalu sering. Wong saya juga tidak cantik seperti para model. Sudah berumur pula.
Tapi sering-seringlah saya akan upload karya saya di media sosial. Buat apa? Biar orang tahu, dong, kalau menulis itu sebuah pekerjaan. Jadi bukan sekali dua kali saja karya bisa hadir di media cetak. Tapi bisa ratusan bahkan ribuan kali. Dan untuk mencapai karya yang banyak tentu harus mau menulis bukan sekedar bilang saya penulis tapi tidak pernah menulis selain hanya menulis di status.

Okelah penulis di zaman sekarang itu artinya saya harus paham.
Bahwa banyak dari pembaca yang tidak ingin sosok penulisnya itu sekedar bayang-bayang. Itu artinya penulis harus muncul ke permukaan. Tampil sedikit tapi bukan bergaya ala model. Sebab nanti malah yang dijadikan rujukan bukan tulisannya tapi gayanya. Kalau saya takutnya, saya sebagai pribadi malah takut kalau nanti terpeleset pingin dipuja dan dipuji. Sehingga harus terus-terusan eksis dengan tampilan diri, tampilan baju, dan ujungnya mengeluarkan semua sudut rahasia diri kita.
Biarlah penulis lain seperti itu, sedang saya lebih suka cari jalan yang berbeda.
Jalan yang berbeda saya seperti apa? Jalan berbeda saya adalah saya akan terus-menerus menulis, terus menerus menampilkan status tentang tulisan yang sudah dibukukan dan hadir di media cetak.
Dengan begitu orang jadi paham bahwa saya terus menulis.

Promosi oh Promosi
Pernah lihat iklan?
Iklan di televisi atau dengar di radio?
Apa yang dilakukan iklan itu?
Yaitu memasarkan produknya. Setiap hari, terus-menerus, hingga melekat di benak yang melihat atau mendengar. Ujung-ujungnya mereka yang mendengar atau melihat akan membeli produk iklan tersebut.

Dalam tempo tertentu, seperti buku yang pernah saya baca semasa kuliah dulu (ops, sayangnya saya lupa judulnya). Bahwa produk yang sudah lama, biar tetap melekat di benak konsumennya harus diganti covernya dan diulang lagi promosi seperti pada awalnya.
Makanya sering kan kita lihat produk minyak, misalnya, berganti warna kemasan atau dirubah logonya atau bahkan berganti namanya?

Lalu promosi buku seperti apa?
Tidak seheboh promosi yang di televisi tentu saja. Karena selama ini promosi buku banyak bertumpu pada penulisnya. Penerbit akan membantu, tapi jika penulis itu dianggap mampu untuk meraup pembeli yang banyak. Seperti contoh penulisnya seorang artis alias public figure.
Kalau yang bukan dari kalangan artis seperti apa?

Begini.
Media sosial membuat penulis memiliki kekuatan penuh untuk meraih pembaca.
Kalau saya selalu meyakinkan diri sendiri bahwa saya penulis dan bukan orang yang menghasilkan tulisan dari sekedar berkhayal. Saya menulis dengan riset dan pengalaman yang mendalam. Itu artinya, pembaca status saya akan paham hal itu.
Jadi suatu ketika saya menelurkan sebuah buku, mereka paham buku saya memang datang dari ide yang saya benar-benar melakukan riset untuk itu. Dan tentu saja hasilnya karya saya itu bisa dipertanggungjawabkan.
Media sosial membuat kita bisa terhubung banyak orang, banyak calon pembeli. Ketika mereka suka dengan gaya tulisan dan pemahaman kita, maka akan mudahlah sebenarnya meraup pembeli.
Jujur saya belajar marketing pada adik kandung saya.
Yang paling terasa adalah saya harus yakin dengan karya yang saya buat. Karena ketika saya yakin karya saya bermanfaat, maka orang lain akan tertular keyakinan itu. Lalu setelah tertular mereka akan mau membeli untuk membaca dan menikmati karya tersebut.

Membeli Buku dari Penerbit

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya selalu membeli buku yang terbit dari penerbit. Buku karya saya. Saya punya target membeli 100 buku dari sana untuk dijual kembali.
Itu artinya, lebih baik terbit indie, dong? Begitu yang dulu terlintas di benak saya.
Iya, indie. Saya bisa cetak buku sesuka hati, lalu jual. Berharap dapat meraih keuntungan dari 100 buku yang terjual.
Hiks, tapi ternyata tidak semudah seperti itu.
Energinya berbeda.
Di penerbit, saya kirim naskah, ada editor, ada tim marketing yang akan mendistribusikan buku-buku ke mana saja. Karena apa? Karena mereka harus menghidupi karyawan mereka. Penulis cuma dapat 10 persen royalti atau lebih sedikit.

Jika menerbitkan sendiri, maka saya akan menanggung biaya cetak, dan biaya lay out buku juga editing. Soal layout tidak masalah karena suami ilustator.
Tapi entah kenapa kendala itu selalu datang pada saya. Sehingga akhirnya saya berpikir, penulis lain mungkin bisa menerbitkan indie, tapi saya belum saatnya. Saya tidak boleh hanya melulu memikirkan keuntungan belaka. Saya cukup menulis, bantu promosi dan beli buku dari sana untuk dijual.
Dan itu artinya win win solution.
Penerbit menerbitkan buku. Saya dapat buku yang editing terjaga, cover menjual. Lalu saya beli buku saya untuk dijual kembali dengan harga diskon dari penerbit. Saya ke luar uang, tapi saya puas dengan hasilnya. Di samping itu jika penerbit berkelas yang mengeluarkan buku saya, maka orang punya tambahan keyakinan bahwa naskah saya memang benar-benar oke.

Saya biasanya akan menggandeng adik saya untuk jadi marketing buku saya. Adik saya ini memang sejak kecil suka berdagang. Energinya energi penjual. Jadi setiap buku saya terbit minimal 100 buku yang saya beli bisa dijual olehnya. Dengan catatan, semua pembeli minta saya memberi pesan khusus untuk mereka di buku yang mereka beli.

Akhirnya,
balik lagi ke pahala mengalir.
Ada rezeki mutlak, ada rezeki ikhtiar. Rezeki mutlak itu akan datang kepada kita meski kita tidak mencarinya. Contohnya warisan. Sedang rezeki ikhtiar beda lagi. Rezeki ikhtiar adalah rezeki yang harus kita ikhtiarkan.
Agar karya kita dikenal orang lain, dibaca dan terasa manfaatnya oleh orang lain, maka kita wajib sebagai penulis memiliki ikhtiar untuk itu.
Kasih foto dengan tanda tanga? Sudah enggak zaman.
Kasih reward aja.
Saya sendiri mencoba memberi reward kelas menulis selama satu minggu untuk yang membeli buku saya. Karena apa? Karena saya paham, saya dikenal sebagai penulis yang bisa dan biasa mengajar kelas menulis online. Karena itu reward seperti itu menyenangkan untuk mereka.

Akhirnya,
mari promosi buku sendiri.
Sepanjang buku itu bermanfaat agar pesan bisa terbaca banyak orang.

Alhamdulillah. Anak Kita Bukan Anak yang Sempurna dan Hebat

kami

Sempurna adalah hasil akhir.
Tidak ada yang sempurna. Semuanya berjalan menuju proses.
Kalimat itu selalu saya tanamkan di kepala setiap kali pulang dari sekolah anak-anak. Dulu ketika SD di sekolah negeri kabupaten yang sering dibilang sekolah kampung, saya menguatkan tekad untuk mendidik anak sesuai kemampuan saya. Agar mereka jadi berbeda. Berprestasi dan tidak terpengaruh lingkungannya.
Maklum, banyak ibu-ibu di sekolah itu punya prinsip. Bahwa hidup itu mengalir saja seperti air. Kalau takdirnya jadi orang hebat, akan pasti jadi orang hebat. Jadi tidak usah macam-macam.

Sedang saya ada pada prinsip bahwa takdir Allah itu mencakup kapan kita lahir, kapan kita mati, dan jenis kelamin kita. Soal rezeki, jodoh, kesuksesan kita, itu adalah bentuk takdir ikhtiar yang harus diperjuangkan dan tidak datang begitu saja dari langit seperti curahan hujan.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)

Sekarang, anak-anak ada di sebuah SMP pilihan. Iya pilihan. Berisi anak-anak yang lulus tes. SMP yang jadi incaran para orangtua, karena hanya buka satu gelombang saja. Dan sekolah itu sudah dikenal menghasilkan anak-anak yang akhlaknya terjaga, pergaulan lelaki dan perempuan terjaga, karena guru ikut memantau dan terhubung terus dengan orangtua.
Di sana juga saya menyadari bahwa format saya dalam mendidik anak harus diluruskan. Iya diluruskan sesuai jalur yang saya pikirkan matang-matang sejak dulu untuk mereka.

Karena apa?
Karena di sekolah itu, semua orangtua berlomba-lomba menjadikan anaknya hebat. Pelajaran bertumpuk dengan target hapalan dan juga penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Pulang sekolah anak sudah letih. Dan setiap kali pulang dari seminar di sekolah, atau rapat sekolah, saya harus berputar berkeliling untuk sekedar melihat sapi-sapi di peternakan sapi. Atau sekedar sekedar menikmati jalan berbelok dan tanah yang ditanami kangkung berhimpitan dengan ilalang yang cukup tinggi.

Apa yang terjadi?
Saya pusing dan takut menjadikan anak-anak robot. Sebab saya menyekolahkan anak di sana, karena ingin anak terjaga hapalan Al Qurannya dan mereka bertemu dengan anak lain yang melakukan hal yang sama. Itu artinya mereka akan berlomba untuk mengisi waktu dengan hal yang penting dan terjaga dari pergaulan yang tidak baik.
Saya tidak mau jadi ikut dalam lingkaran menjadikan anak harus sempurna.
Mereka tidak menguasai matematika tidak apa-apa. Asal mereka kreatif.
Mereka tidak menguasai IPA juga tidak masalah, asal mereka terjaga shalatnya.
Mereka tidak menjadi anak yang aktif dan dikenal guru juga tidak masalah, sepanjang Allah mengenal mereka dan menyayangi mereka. Sebab kalau Allah sudah sayang, semuanya akan jadi mudah untuk mereka.

Tidak Perlu Sempurna

Sempurna itu proses. Prosesnya panjang. Sepanjang perjalanan hidup kita, kita harus berproses. Sampai akhirnya Allah bilang, berakhir hidupmu. Di sanalah kita akan mempertanggungjawabkan hasil akhir itu.

Saya berproses dalam hidup juga.
Ketika SD dan SMP memang berprestasi selalu jadi juara. Tapi ketika SMA dan masuk lingkungan yang semua teman adalah orang-orang hebat, saya seperti tidak menemukan format diri saya. Saya merasa terbentur sana sini dan berujung pada kenyataan nilai tidak setinggi dulu.
Tempat yang tidak nyaman, lingkungan yang menekan membuat saya tidak bisa bebas dengan gaya belajar saya. Sehingga saya merasa tidak punya potensi seperti yang lain.
Syukurlah saya berproses ketika kuliah. Saya tahu tempat mana yang harus saya tuju.
Saya nyaman berada di tengah orang-orang yang justru tidak punya cita-cita, sehingga saya berjuang untuk meraih cita-cita lebih tinggi lagi dan punya motivasi untuk maju. Sedang berada di tempat yang semuanya hebat, membuat saya justru jadi ingin mengekor saja.

“Tidak ada yang sempurna. Tapi semua harus berjuang,” itu yang saya bisikkan pada anak-anak setiap hari mereka pulang sekolah.
Ada makanan untuk mereka. Memang saya biarkan mereka makan sepuasnya, karena mereka harus nyaman di rumah, setelah di sekolah dibebani dengan banyak pelajaran.
“Ibu juga berjuang. Lihat, Ibu belajar lagi,” ujar saya menunjuk tumpukan buku di meja kerja saya. Saya ingin mereka tahu, bahwa di luar sekolah formal pun, semuanya bernama sekolah. Tempat untuk belajar itu sekolah namanya. Mau di bawah pohon atau di mana saja.
“Santai saja. Kalau kamu tidak bisa, banyak teman lain yang tidak bisa. Justru kalau kamu tidak bisa, gurunya harus tahu. Jadi dia tahu ada muridnya yang belum bisa.”

Saya ingin mereka berproses.
Saya tidak mau seperti tukang sulap. Simsalabim jadi orang hebat. Tidak. Karena itu artinya saya tidak diberi kenikmatan berdoa sebagai orangtua, dan kenikmatan untuk menjalankan fungsi mengajari anak-anak melangkah setahap demi setahap.

“Juara berapa?” tanya seseorang.
“Bisa apa?”
“Kok pendiam, ya?”
“Kok matematikanya tidak sempurna ya nilainya?”
“Kooook.”

Ops tarik napas panjang.
Mereka selalu masuk sepuluh besar. Nilai hapalan Qurannya bahkan 99. Akhlak tercatat baik. Lalu saya mau apa lagi?
Lalu apa yang saya harapkan lagi? Mereka fokus pada nilai dan tidak punya waktu bermain dan bersenang-senang sebagai remaja? Jelas saya tidak inginkan seperti itu.

Saya pulang.
Setelah rapat orangtua.
Setelah beberapa orangtua berlomba untuk menonjolkan diri.
Setelah rapat belum benar-benar tuntas, karena saya takut malah berlomba untuk merasa paling hebat.
Saya pulang.
Melewati jalan berliku. Melewati peternakan sapi. Tarik napas panjang-panjang lagi.
Alhamdulillah anak-anak saya tidak sempurna. Mereka sering bikin kesal, sering bikin senang juga. Mereka kerap membantah, kerap juga menuruti nasehat saya. Mereka pernah bicara keras, tapi justru saya berjuang untuk memberi teladan bicara lembut.
Mereka tidak berani tampil di permukaan meski banyak prestasi di luar sekolah, justru itu yang membuat saya sadar untuk tidak pamer prestasi pada orang yang tidak paham dunia saya.
Alhamdulillah semua kebaikan dan keburukan mereka justru itu membuat saya punya ruang untuk bicara panjang pada mereka. Membuat saya harus tarik napas dan tarik bibir untuk tersenyum, mengajak mereka pelan tapi pasti untuk mengukir masa depannya.

Mereka tidak sempurna sekarang.
Tapi Insya Allah apa yang mereka lakukan, Allah mencatatnya.
Alhamdulillah justru karena mereka tidak sempurna, saya jadi khusyuk berdoa untuk kebaikan mereka ke depannya.