Kisah Mesin Jahit Tua

Brown, si mesin jahit tua, teronggok di sudut halaman sebuah rumah. Tubuhnya sudah ditumbuhi karat. Penyangga kayu untuk menyangga tubuhnya pun, sudah banyak yang hancur. Jika ada hentakan keras, pasti tubuh besinya akan jatuh tergeletak di tanah.
Mereka akan pindah. Dua anak kecil berlarian memandangi barang-barang yang dimasukkan ke dalam truk. Sejak pagi Brown pandangi. Satu-persatu barang dimasukkan, tapi Brown tidak.

“Kirim saja ke tempat yang lain…”
Brown mendengar suara itu. Maka setelah itu munculah mobil kecil, yang mengangkut Brown. Sudah malam ketika Brown dibawa menuju suatu tempat, bersama barang rongsokan lain. Ada sepeda bekas yang berkarat, ada akuarium yang sudah rusak. Ada batu-batu kolam juga.

Di sebuah rumah, mereka diturunkan. Halaman kecil rumah itu menjadi penuh sesak. Brown teronggok sampai pagi buta, ketika melihat seorang Nyonya keluar rumah. Wajah Nyonya itu muram, dengan kepala menggeleng berkali-kali.
“Kenapa semua barang rongsokan ditaruh di sini semua?”
Brown melihat si Tuan diam.
Nyonya masih mencoba membersihkan halaman kecilnya, agar mudah dua anak ke luar rumah untuk sekolah. Beberapa kali Brown melihat tarikan napas si Nyonya. Dan gumaman dengan mata sedih, tentang barang-barang rongsokan yang berpindah tempat.

**

Si Tuan membawanya.
Brown merasakan besi tuanya dicopot dari tempatnya. Brown merasakan Tuan menaikannya ke atas motor. Nyonya sudah membersihkan teras. Beberapa barang, sudah berpindah ke gerobak tukang loak yang dipanggilnya.
“Kamu harus jadi bagus, biar Nyonya tidak mengomel…,” ujar Tuan.
Maka Brown dibawa ke sebuah tempat. Brown kaget. Ia bertemu dengan teman-teman sesama mesin jahit. Mereka sama tua seperti dirinya. Mereka bernasib malang, dibuang dan tidak diambil lagi.
“Tambah dinamo dan servis, ya…”
Brown mendengar suara Tuan bicara.
Lalu Brown ditinggalkan.

**

“Sudah betul? Bisa?” tanya Nyonya pada Tuan yang membawa Brown. Brown sudah ditambahi dinamo, dan beberapa kayu yang rusak sudah diganti oleh Tuan, sehingga Brown tidak akan jatuh lagi.
Brown melihat Nyonya itu belajar mencintainya. Meski kadang-kadang wajahnya terlihat kesal. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedih. Karena barang rongsokan yang datang ke rumah. Padahal Nyonya itu mampu untuk membeli mesin jahit lain yang lebih bagus.

Brown melihat Nyonya itu mengerjapkan mata beberapa kali. Brown tahu, Nyonya itu pasti sedang mengingat apa yang dikatakan orangtuanya. Untuk menerima pemberian orang lain, meski itu buruk. Agar orang yang memberi itu tidak sakit hati.
Brown tahu, Nyonya itu bukan tidak suka dengan Brown, tapi tidak suka dengan cara orang yang memindahkan barang rongsokan ke rumah. Nyonya itu merasa direndahkan.

“Bu…., celanaku sobek. Ibu bisa jahit?”
“Ayahmu yang bisa.”
Percakapan itu Brown dengar. Nyonya itu masih belajar mencintai Brown dan belum ingin menggunakan Brown.

Sampai suatu hari, datanglah sebuah hadiah untuk Nyonya. Sebuah hadiah manis yang teronggok di lemari. Kemudian hadiah itu digunting oleh kerabat si Nyonya. “Jahit saja.”
Maka Nyonya itu mulai mendekati Brown. Megelus Brown. Mencoba memutar benang.
Terus-menerus sepanjang hari.

Sebuah baju berhasil Nyonya buat. Baju lain menanti.
“Ibuuuu, aku suka bajunya. Buatkan aku baju yang lain, ya.”
Si Nyonya mengangguk.
Brown tahu, mulai tumbuh cinta Nyonya padanya.
Brown berjanji tidak akan mengecewakan si Nyonya.

Anak Hebat, Anak yang Berani

Tiba-tiba ada kasus heboh di dunia perbukuan. Kasus heboh seperti yang lalu lalu. Kejadiannya sama. Seorang mengambil halaman buku yang paling heboh, atau dianggap heboh. Difoto. Cekrek, lalu dimasukkan ke sosial media dan diberi kalimat yang penuh bumbu-bumbu curigaisme.

Aku anak yang berani.
Buku yang heboh itu sudah ditarik dari peredaran sejak beberapa bulan yang lalu. Penulisnya mendapat hukuman sosial. Dan sampai sekarang saya berpikir, bahwa kejadian seperti itu bisa menimpa siapa saja. Menulisnya susah, menjatuhkannya mudah. Tapi itulah, ujian dari Allah berbagai macam bentuknya.

Setelah dua minggu heboh berita tentang buku itu, termasuk beberapa ibu bertanya langsung pada saya, maka saya jadi penasaran dengan buku itu.
Sudah tidak bisa didapatkan di toko buku. Tapi melihat gambaran utuh dari buku itu, di blog-blog teman, saya paham. Sebenarnya buku itu biasa saja. Iya, biasa. Untuk orangtua model seperti saya, yang suka diskusi tentang banyak hal pada anak.
Dan ketika berita bertambah lagi dengan kenyataan, bahwa buku yang ditarik itu idenya sama dengan buku yang sudah muncul sebelumnya, saya bergegas memesannya.

Ah, Ide yang Sama

Hebohnya buku yang ditarik dari peredaran justru membuat saya tambah ilmu. Ternyata ada buku lain yang lebih dulu muncul. Ternyata buku yang ditarik itu, idenya sama dengan buku yang laris manis hingga cetak ulang beberapa kali.

Saya jadi membayangkan kejadian.
Apakah buku itu diminta oleh editor penerbitnya? Karena si editor melihat buku model seperti itu laris manis di pasaran? Lalu ingin membuat karya yang mirip, dengan tampilan isi yang berbeda, tapi memunculkan persoalan yang kira-kira sama, dialami oleh anak-anak?
Jadi ketika di toko buku, orang punya alternatif memilih, dan bisa jadi memilih buku dari penerbit tersebut.

Bukan rahasia umum di negeri ini. Ketika ada satu buku yang laris menis, maka banyak yang berlomba membuat buku yang sama.
Atau…, atau apakah si penulis yang menawarkan diri menulis tentang buku itu? Melihat buku yang pertama, lalu memikirkan ide apa yang belum dibahas dalam buku itu, dan akhirnya dibuatlah ide itu, untuk dikirimkan pada penerbit. Dan penerbit menyetujui?

Well, ide yang sama.
Saya selalu berpesan pada murid-murid menulis untuk riset luar dalam. Sehinga ide itu benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.
Ini kekhilafan dan harus dimaafkan. Membayangkan kalau saya jadi penulisnya, saya sendiri merasa mungkin tidak akan sanggup. Membayangkan tayangan tentang buku itu di televisi dan media online. Lalu para tetangga membacanya. Lalu mereka ambil sikap antipati seperti yang banyak dilakukan para ibu yang tidak suka membaca, tapi nomor satu menuduh di banyak group WA.
Membayangkan apakah si penulis jadi trauma untuk menulis lagi, sungguh membuat saya sendiri jadi sedih.

Pelecehan Oh Pelecehan

Pernah menjadi anak kecil?
Pernah.
Anak kecil yang hampir diculik. Tapi syukurlah saya banyak baca buku tentang penculikan, jadi bisa menghindar dari membuat taktik bersama teman saya. Lalu kabur dari penculik itu.
Pernah kena pelecehan. Ketika naik bus dan seseorang menempelkan kemaluannya pada saya. Dan saya merasa kotor dan malu. Bapak malah meminta saya untuk membawa pensil tajam atau peniti. Kalau ada orang seperti itu lagi, saya diminta menusuk langsung.
Pernah terkena lelaki exhibition di jembatan penyebrangan. Karena saya takut menyebrang jalan yang ramai. Lalu naik jembatan penyebrangan. Dan ternyata ada seorang Bapak di sana menurunkan celananya di hadapan saya. Saya panik dan lari ketakutan.
Pernah juga lari ketakutan karena setiap akan berangkat sekolah, ada seorang kakek yang siap untuk memeluk dan mencium. Hingga saya harus mencari jalan melewati tempat lain di pinggir sungai.

Ada banyak pelecehan, memang tidak fatal.
Ada banyak cerita pelecehan juga, dan saya tahu bisa fatal terjadi. Pemerkosaan, sodomi dan lain sebagainya. Karena itu saya bentengi anak-anak dengan pemahaman ilmu tentang banyak hal. Termasuk berhati-hati dengan orang lain, dan menghargai diri sendiri dengan tidak membolehkan orang menyentuhnya.

Buku karangan Watiek Ideo mengajarkan hal itu.
Anak yang melihat kemaluannya untuk membandingkan dengan adik perempuannya yang baru lahir.
Itu persis dengan Sulung saya dulu. Saya tinggal sebentar waktu itu, lalu saya lihat Sulung membuka-buka kemaluan adik bayinya. “Ibu, kok gak ada yang panjang seperti punyaku?” begitu yang ditanya Sulung.

Ada tentang anak yang harus memakai baju ketika ke luar rumah. Karena baju itu seperti helm ketika naik kendaraan. Meski panas tapi berfungsi untuk melindungi.
Ada cerita tentang anak yang terkena pelecehan seksual dan mengadu pada orangtuanya. Anak itu menyadari bahwa orangtualah tempat yang nyaman untuk berbagi.

Buku ini bagus.
Recommended sekali.
Diterbitkan penerbit Gramedia. Konon katanya karena peristiwa buku yang ditarik dengan judul yang sama, buku ini terkena imbasnya, tidak boleh di display. Jadi untuk yang mau membeli bisa bertanya pada pegawai tokonya.

Saya beli buku ini karena ingin meminjamkannya pada anak-anak tetangga yang belajar di rumah. Juga ibu-ibu tetangga. Agar mereka paham banyak dan bisa mengajarkan pada anak, bagaimana cara melindungi diri sendiri, dari orang-orang yang punya niat jahat.

Satu Gelas Kurma Saja

“Satu gelas kurma saja,” suara itu terdengar olehmu. “Satu gelas saja.”
Satu gelas kurma.
Kurma yang sebenarnya dulu tidak pernah ingin kau sentuh, karena kau tidak suka warna hitamnya. Kurma yang terasa di lidahmu terlalu manis.

“Dibelah kurmanya. Buang bijinya. Lima sampai tujuh butir kurma. Masukkan ke dalam gelas, Siram dengan air panas. Biarkan dingin. Buatlah di malam hari dan minum di pagi hari.”

Kau mengangguk.
Kurma, kurma dan kurma.
Kau tahu, tidak ada sesuatu yang tercipta sia-sia. Buah yang disunnahkah dan dijadikan contoh untuk berbuka puasa. Yang salah bukan buah itu. Yang salah lidahmu.

“Atau rebus saja sampai airnya mendidih.”

Kau mulai belajar mencoba.
Usia merangkak naik. Udara sepertinya tidak lagi ramah padamu. Angin cepat masuk ke dalam tubuh, menerjang semua tulang rusukmu.
Obat-obatan tidak kau sukai, karena sejak kecil sudah kenyang obat kimia masuk ke tubuh kurusmu.

“Kurma untuk kesehatan. Sambil berdoa.”
Maka ketika seorang lelaki yang sudah 16 tahun hidup bersamamu mulai mudah jatuh sakit juga, kau mulai mencoba.
Bukan permen lagi yang ada di toples-toples milikmu. Tapi buah-buah kurma.

Setelah Subuh, kau mulai berada di dapur.
Air kau masak. Lalu kau masukkan beberapa butir kurma yang sudah kau belah. Bijinya ikut di dalamnya. Kau tidak membuangnya. Kau berharap mengumpulkan bijinya, untuk kau oleh jadi kopi. Kopi yang bisa menemanimu ketika sedang berada di depan komputer. Meski niat itu belum juga terlaksana.

Segelas kurma di pagi hari disertai doa.
Manisnya terasa.
Segarnya menghangatkan tubuhmu.
Seorang lelaki yang hidup bersamamu, mulai terlihat semakin membaik karena minuman yang kau buat setiap pagi. Mungkin kekuatan doa-doamu juga jadi pewarna di dalamnya.

“Satu gelas kurma, saja,” ujar suara perempuan tua di seberang sana. “Jangan lupa olah raga.”‘
Kau tahu, memang harus melakukannya.

Satu gelas kurma.
Setelah segelas air putih.
Kau tahu, sekarang ia jadi minuman wajib untukmu.

Bola-Bola Biskuit Coklat

Kau mengerjapkan kelopak mata. Lagi dan lagi.
Satu plastik besar bertuliskan nama mini market tak jauh dari rumah, berhamburan isinya.
“Bukan yang ini.”
“Bukan pula yang itu.”

Kau mengerjap. Matamu hampir basah. Hujan di luar mungkin harus turun sempurna, agar kau bisa mewakili perasaan hatimu pada derasnya tetesan hujan.
“Kau selalu salah.”
Kepalamu menunduk.

Ada banyak roti.
Ada banyak biskuit.
Tapi tidak ada yang bisa membuat wajah itu tersenyum.

Kau memilih berlari ke belakang. Merasa putus asa. Lalu kau perhatikan satu persatu.
Kau harus menerobos hujan untuk mendapatkannya. Bahkan kau mengurai letih dan menggantinya dengan senyum.
Dua bungkus biskuit bulat yang kau dapatkan dengan harga diskon.
Satu kaleng susu masih tersimpan di lemari, pemberian seseorang yang baru kau kenal.
Ada coklat warna-warni yang warnanya sering mengingatkan kau pada suatu masa, di mana hidupmu penuh warna. Ketika seorang lelaki diam-diam selalu memujimu.

“Kau tahu apa yang ingin kumau?”
Kau tahu, apa yang ia inginkan. Tapi kau perlu yang lain.
Kau butuh lima menit saja untuk kembali ditarik ke masa lalu. Teman-teman yang baik, pesta kecil untuk gadis kecil. Makanan yang tersaji lalu pelukan-pelukan hangat.

Kau merasa berharga ketika mereka memberikan sesuatu yang berbeda.
Arisan yang membuat namamu muncul lebih dahulu. Ternyata kau tahu teman-teman membuat namamu lebih banyak, sehingga sebanyak apapun dikocok,kemungkinan besar namamu yang akan ke luar.
Kau merasa berharga ketika seorang teman menghadiahkan kue tart, hanya karena membaca coretan di buku pelajaran yang ia pinjam.
Kau merasa berharga ketika teman-teman baru di perusahaan baru, menahan langkah untuk pulang. Sebuah meja, sebuah tart, seorang boss dari negeri lain berkumpul. Memberikan doa-doa terbaik.

“Sudah, kah?”
Kau ingin kembali ke masa lalu sejenak saja.
Maka biskuit bundar itu kau buka bungkusnya. Kau ambil lima keping saja. Kau tekan dan hancurkan ,seperti ingin kau hancurkan segala sedih yang hadir di hati.
Biskuit itu berkeping.
Lalu kau beri sedikit air panas untuk membuatnya lembek dan hancur.
Kau ambil susu dalam kaleng yang sudah kau buka. Kau tuang sedikit saja. Kau campur dan aduk hingga rata.

Pada satu wadah kau tuangkan coklat mesis warna-warni.
Biskuit yang sudah kau hancurkan, kau bulatkan menggunakan dua buah sendok. Lalu bulatan kecil itu kau gulirkan ke dalam wadah berisi coklat warna-warni.
Kau ambil kertas mungkin dari dalam lemari. Lalu kau taruh di dalamnya bulatan itu.

“Kau buat apa?”
seseorang bertanya di belakangmu.
Kau menunjuk pada bulatan penuh warna itu.
Mata itu melihatnya, lalu tangannya bergerak. Memasukkan satu bulatan ke mulutnya.

“Enak,” ujarnya.
Kau merasa lega.
Kau seperti merasa seperti dipeluk sebuah ombak yang menenangkan.

Sayembara Penulisan Buku Balai Bahasa Jawa Tengah

Dewan Balai Bahasa membuka sayembara penulisan buku untuk anak.

Ketentuan Khusus

1. Tema dasar “sikap hidup dalam keluarga dan lingkungan sekitar”.
2. Naskah dalam Bahasa Indonesia berbentuk prosa.
3. Bahan bacaan ditujukan untuk anak sekolah dasar.
4.Naskah mengandung kearifan lokal Jawa Tengah.
5 Tidak mengandung unsur SARA.
6. Karya asli bukan terjemahan juga saduran.
7. Belum pernah diterbitkan.
8. Ketentuan naskah.
2500-1000 kata. Ditulis pada kertas HVS ukuran A5 dengan menggunakan font huruf Tahoma 12 spasi 1,5. Margin kanan 1,5 dan margin kiri 1 cm.
Halaman berkisar antara 20-50 halaman.
9. Naskah bahan bacaan dibagi menjadi beberapa episode dan setiap episode disertai ilustrasi.
10. Penilaian juri terhadap naskah meliputi ; tema, gaya penulisan dan penggunaan bahasa.

Ketentuan Umum
1. Sayembara terbuka untuk umum.
2. Peserta berdomisili di Jawa Tengah dan memiliki KTP Jawa Tengah
3. Peserta dapat mengirim maksimal 3 judul
4. Naskah lomba berupa dummy kirim ke :

PANITIA SAYEMBARA PENULISAN BAHAN BACAAN PENGAYAAN
PELAJARAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
JAWA tENGAH TAHUN 2017
Jalan Elang Raya no 1
Mangunharjo, Tembalang
SEMARANG 50272

5. Naskah dikirim dalam bentuk dummy print out tiga rangkap, selambatnya ditunggu hingga tanggal 3 April 2017
Penyeleksian penilaian naskah tanggal 10 – 22 April 2017.
Pengumuman pemenang tanggal 26 April 2017 lewat email juga telepon.

Ketika Senyum Tulus Menjadi Bayaranmu

Apa yang paling membuat bahagia?
Yang paling membuat bahagia belakangan ini untuk saya, adalah ketika melihat wajah-wajah polos tersenyum. Ketika senyum itu membuat saya melihat gambaran panjang tentang masa depan mereka. Sepuluh tahun ke depan, duapuluh ke depan dan tahun-tahun panjang lainnya.

Anak-anak yang bersemangat dengan ilmu baru, dan akhirnya menularkan semangat pada saya. Sehingga saya berjuang untuk melakukan banyak hal juga meminimalisir keluh.

Anak-anak menjadi prioritas utama pada saya belakangan ini.
Dulu pernah berjanji, kalau Allah hanya memberi saya dua anak sebagai rezeki, maka saya harus fokus memperbanyak anak-anak orang lain yang akan sama-sama saya kasihi juga akan saya beri limapahan ilmu.
Dan ternyata Allah memang hanya memberi saya dua anak yang sudah beranjak remaja. Maka saya harus memenuhi janji, untuk merengkuh anak-anak lain untuk saya beri limpahan ilmu juga kasih sayang.

Anak-anak membuat saya bahagia.
Mereka yang memiliki orangtua hanya fokus pada pelajaran justru membuat saya miris. Mereka yang punya orangtua hanya fokus pada rangking, justru membuat saya tertantang untuk memberikan banyak.
Ada banyak hal yang harus mereka ketahu dan membuat wawasan mereka luas. Jalannya tentu saja dengan menularkan apa yang saya miliki.

Mengajarkan kreativitas tidak mudah.
Meyakini bahwa kreativitas membuat bahagia juga tidak mudah. Apalagi untuk orang-orang yang yakin bahwa uang dan bekerja di kantorlah yang akan membuat bahagia.
Meyakini bahwa dengan banyak membaca membuat pintar, dan jika sudah pintar, maka akan mudalah meraih semuanya.

Langkah saya tertatih-tatih.
Mengetuk satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk minta jadi guru. Tapi saya ingin diberi ruang untuk mengajari anak-anak di sana tanpa bayaran.
Mereka suka dan bahagia sudah jadi bayaran untuk saya.
Ketukan tidak dijawab.
Satu-persatu pengurus masjid saya datangi, hanya ingin menggerakkan perpustakaan yang ada di masjid. Satu masjid menjawab, diberi ruang, tapi tidak berkelanjutan karena pengurus yang antusias kebetulan sedang hamil.
Masjid lainnya menguap tak memberi jawaban.
Masuk ke TK menawarkan diri juga tidak ditanggapi.
Saya pikir ada yang salah. Mungkin mereka berpikir saya meminta bayaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai dari rumah. Percaya pada potensi diri di rumah dan berjalan sendiri saja.
Satu persatu anak pemulung menerima sambutan.
Satu-persatu anak tetangga datang.
Satu-persatu anak dari lingkungan lain datang.
Alhamdulillah sampai juga di titik ini.

Ada saatnya uang tidak bisa bicara.
Ada yang pada saatnya lebih bernilai dari hanya lembaran rupiah. Yaitu ketika kerja keras kita dibayar dengan senyum dari orang yang butuh. Iya butuh.

Masih banyak pintu PAUD di perkampungan yang akan saya ketuk.
Mungkin akan mengetuk instansi atau lembaga yang berwenang juga.
Saya hanya ingin membuat perubahan kecil saja. Hanya kecil saja.
Sebab senyum mereka sudah membuat saya bahagia.

Membaca Membantu Menekan Emosi

“Saya penulis dan saya cinta membaca, bahkan bisa terbilang gila membaca.”
“Saya penulis dan geregetan kalau ada orang yang tidak ada sumber ilmunya, main share berita ini dan itu. Karena ketahuan ilmunya minim dan tidak suka membaca.”
“Saya ibu dua anak, yang punya hari wajib untuk anak-anak membaca. Setiap Sabtu sebelum mereka main komputer, maka saya akan meminta mereka membaca buku terlebih dahulu.”
“Saya pernah menawarkan untuk menyumbangkan buku bacaan ke tempat ini dan itu, tapi ditolak, hingga memutuskan untuk memiliki taman bacaan sendiri di rumah.”

Apa yang saya dapat dari membaca?
“Ibu kok tahu semuanya?” tanya anak-anak, yang sering merasa ibunya adalah perpustakaan berjalan, sehingga mereka malas untuk mencari dan tinggal tanya. “Ibu, yang ini jawabannya apa?”
“Ibu ngomomngnya kayak pakar politik aja. Jangan sombong, Ibu.” Itu kata anak lelaki saya, yang sedang asyik kasih laporan tentang berita-berita politik.

“Membaca membuat pintar dan membuat kita tidak mudah dibohongi,” itu penekanan yang selalu saya katakan pada anak-anak.
“Membaca juga membuat kita bersabar.”
Iya, ada poin lain yang memang selalu saya dapat dari membaca.
Proses saya membaca buku dari halaman awal sampai halaman akhir, ternyata

Model Membaca

Ada banyak model membaca.
Saya model pembaca yang suka membaca di bagian awal dua sampai tiga halaman. Setelah itu saya mulai dari belakang beberapa halaman. Setelah itu di bagian tengah. Setelah melihat semua bagian itu berkesinambungan jalan ceritanya, maka saya mulai lagi dari bagian awal sampai selesai buku itu saya baca.

Ternyata kebiasaan membaca seperti itu cukup membantu saya untuk menerapkan sebuah target.
Ketika satu target saya canangkan dan lakukan, maka selangkah dua langkah ketika melakukannya, saya mulai membayangkan berada di titik akhir target saya. Aapakah nanti titik akhir itu sesuai dengan langkah yang saya lakukan.
Lalu saya coba membayangkan berada di tengah perjalanan. Apakah saya kuat dan bisa bertahan.
Ketika semuanya sudah pas dengan kata hati, pembenahan di sana-sini, saya mulai akan melangkah dengan pasti dari awal sampai akhir.

Dan model membaca seperti ini ternyata tidak seirama dengan model menulis saya. Sebab saya tipikal penulis yang tidak bisa membuat tulisan berdasarkan outline.
Semua tulisan yang saya buat, hanya saya pikirkan ide utamanya saja. Setelah itu menulis pembuka, maka saya biarkan jari-jemari saya yang bekerja dan ending seperti apa bisa didapat tanpa saya pikirkan sebelumnya.

Membaca Menekan Emosi

Orang yang suka membaca, belajar menekan emosi.
Sebuah buku yang mereka baca, jika ingin tahu intisarinya harus dibaca semua. Bukan hanya membaca satu dua halaman saja.
Itu artinya para pembaca belajar berproses. Belajar sabar dan belajar memahami bahwa apa yang mereka pikirkan, seringnya berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulisnya.
Dalam kehidupan nyata bahkan maya, tulisan status orang yang suka membaca akan berbeda jauh dengan yang tidak suka membaca.
Akan proses pengendapan untuk mengetahui lebih dalam tentang satu hal.
Akan ada penelusuran, apakah tulisan itu betul atau tidak.
Akan ada proses
Orang yang gemar membaca, tidak akan mudah terpancing emosinya. Karena membaca akan meluaskan wawasan mereka pada banyak pemahaman. Dan pembaca yang baik, pasti akan belajar bagaimana menyaring berbagai sumber ilmu itu, dan mengendapkan apa yang mereka sudah pilih.

Peningkatan Level yang Dibaca

Hidup ini berwarna. Bacaan memberi pengaruh untuk kita. Karena itulah saya membaca banyak tulisan, banyak buku tujuannya agar level saya meningkat.
Membaca buku anak-anak dan menulis cerita anak terlalu banyak, berakibat pada pikiran dan hati. Saya sering merasa terlalu polos terhadap banyak hal. Emosi saya terkikis habis, bahkan untuk hal yang memang seharusnya saya perjuangkan.

Membaca dan menulis banyak fiksi, ternyata membuat saya sering susah memisahkan mana yang nyata dan mana yang fiksi. Semua terasa indah. Sering kaget saya ketika bertemu orang yang kasar, yang membuat saya harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya hidup di dunia nyata.

Membaca dan menulis banyak nonfiksi, membantu saya berpikir logik. Padahal seringnya juga hal-hal yang sifatnya masuk akal, jadi lebih manis kalau diberi bumbu imajinasi.

Ada banyak buku ada banyak bacaan.
Bacalah yang kita suka lebih dahulu.
Lalu tingkatkan level membaca kita.
Jangan hanya satu buku yang sama jenisnya saja. Sebab banyak buku akan memberi banyak warna pada hidup kita. Sehingga kita paham ketika ada yang berbeda dengan kita.

Buku Panduan Lengkap Percobaan Sains untuk Anak

percobaan sains

Bingung bagaimana mengajari anak-anak agar kreatif?
Perasaan dulu saya gampang sekali mengajari anak sendiri. Tapi setelah anak-anak besar, sedikit bingung juga waktu anak-anak tetangga berdatangan satu persatu ke rumah untuk belajar.

Untung saya masih menyimpan buku ini di rumah.
Ada juga buku yang lain, tapi buku ini bagus sekali.

Buku berwarna dan bergambar dengan tulisan langkah satu persatu untuk melakukan percobaan, membuat anak-anak paham bagaimana melakukan percobaan tersebut.

daun kering

Gambar ini saya ajarkan pada anak-anak. Mencetak daun dengan cat. Anak-anak suka melakukannya.
Ada panduan yang lain lagi, seperti menyatukan tiga batang cermin.
Iya, ini mengingatkan saya pada zaman dahulu kala, ketika masih menggunakan lampu petromak. Lampu petromak pada waktu itu menggukan kaca berbentuk batangan. Jadi ketika satu kaca lampu itu pecah, kami biasa menggunakannya untuk diikat. Lalu bagaian bawahnya kami tutup plastik dan di dalamnya kami masukkan potongan bahan berwarna-warni. Lalu kami mengintip dari atas. Alhasil, kami akan mendapat warna-warna yang bagus dan menakjubkan di dalam pecahan kaca tersebut.

percobaan sains 4

Ada juga percobaan yang lain.

Yang ini.

percobaan sains 2

Atau yang ini

percobaan sains 3.

Buku ini ditulis oleh Rebecca Gilpin dan Leonie Pratt.
Penerbit Tiga Ananda.
Semua halaman di dalam buku ini berwarna dan penuh gambar. Ada 95 halaman di dalamnya dan semuanya full color sehingga anak-anak senang melihatnya.

Room to Read, Proses Panjang untuk Membuat Buku Anak

Litara 4

Masih ingat cerita saya tentang Room to Read. Audisi Room to Read dan prosesnya, ternyata tidak semudah seperti yang saya bayangkan.
Prosesnya panjang dan lama.

Pada awalnya saya merasa menulis pict book bisa saya kuasai. Kalau melihat rujukan di buku-buku pict book yang beredar, saya pikir bisalah saya menulis seperti itu. Tapi ternyata saya keliru. Ada banyak hal yang saya kuasai di dunia menulis. Menulis berbagai genre. Tapi ternyata ada banyak hal juga yang tidak saya kuasai, yaitu menulis cerita bergambar. Bukan sekedar bergambar, tapi bergambar dengan standar Internasional.

litara 5

Pict book alias cerita bergambar mengandalkan banyak gambar. Itu artinya, saya sebagai penulis, harus berjuang agar bisa memberikan instruksi kepada ilustrator.
Iya, dalam menulis buku bergambar ini, penulis harus memberikan panduan pada ilustrator, gambar seperti apa yang harus dibuat.
Dan pada buku dari room to read ini, gambar itu harus berdampak tiga dimensi. Artinya ketika anak melihat gambar tersebut, mereka bisa membayangkan seperti melihat cerita hidup di depan mereka.
Jadi, porsi utama memang ada di tangan ilustrator.

Revisi Sampai 10 Kali

Saya biasa menulis cepat. Dengan riset yang mendalam.
Revisi paling pol tidak sampai lima kali. Paling hanya tiga kali revisi dari redaksi. Itu pun karena saya menulis buku dengan sedikit gambar.
Arahan editor paling hanya ingin naskah dibawa ke mana, dengan gaya seperti apa, tentunya dengan tidak meninggalkan karakter saya.

Tapi di room to read berbeda.
Saya dapat penerbit Litara dengan editor super teliti dan pengalaman yang luar biasa.
Ada mbak Eva Nukman dan Sofie Dewayanie sebagai penjaga gawangnya.
Dan di atas mereka ada Alfredo dari room to read, yang punya pengalaman segudang, yang akan membuat naskah kita terasa tidak ada apa-apanya.
Sampai-sampai saya berada pada satu titik bernama putus asa, karena revisi sampai sepuluh kali. Padahal di tempat lain, yang saya tahu, ada yang sampai harus mengalami 20 kali revisi.

Apa kurang naskah saya?
Kok bisa saya tidak bisa menulis?
Kok begini, kok begitu?
Kenapa naskah ini begitu menguras energi sehingga saya tidak bisa fokus ke naskah lain? Telepon, WA dan email membuat saya stress. Bahkan pada saat saya sedang berenang, saya melihat ada beruang duduk di kursi. Itu mungkin menandakan tingkat sress saya sudah tinggi. Tokoh utama saya memang beruang yang ingin belajar naik sepeda.
Tapi seiring perjalanan waktu, setelah jeda sebulan, saya mulai belajar dan memahami pelajaran.

Ini bukan sekedar masalah naskah sederhana. Ini masalah bagaimana, agar justru kalimat sederhana itu membuat anak bahagia. Dan bagaimana agar penulis memberi panduan untuk ilustrator.
“Kok enak banget jadi ilustator? Apa mereka gak bisa baca naskah terus langsung dijadikan gambar, tanpa panduan?”
Itu pertanyaan rata-rata penulis seperti saya.
Tapi kemudian sadar, bahwa otak ilustrator berbeda dengan penulis. Mereka tidak semudah itu menerjemahkan kalimat menjadi gambar.
Jadi penulis harus jeli menulis step by step langkah-langkah untuk ilustrasi.
Pembagian halaman juga harus dilakukan dengan cermat.
Jadi ingat kalau di rumah, suami suka tanya-tanya panduan untuk gambar seperti apa? Padahal naskah yang ada di tangan suami, menurut saya sudah jelas bisa dijadikan panduan untuk gambar.
Dulu saya kesal, tetapi setelah ikut room to read saya baru sadar. He he.

Akhirnya….

Litara 3

Litara

Setelah sepuluh kali revisi, ada workshop untuk ilustrator. Saya lega, Merasa paling tidak sudah selesai tugas saya. Saatnya ilustrator bekerja.
Tapi ternyata tidak seperti itu.
Setelah workshop ilustrator selesai, dan naskah dibuat mokap (contoh buku), naskah itu dibawa ke beberapa SD untuk dibacakan. Reaksi anak-anak itu yang akan menentukan nasib naskah. Apakah harus direvisi kecil, atau direvisi besar?
Jika masih ada yang bertanya isi naskah tersebut dan kurang jelas, itu artinya naskah harus direvisi.

Dan tibalah saat itu.
Dapat surat undangan untuk revisi naskah di Bandung. Dua hari revisi, tapi saya cuma bisa satu hari, karena keesokan harinya saya ada program sedekah Jumat yang tidak bisa ditinggal. Dan mengajar anak-anak di sanggar yang notabene rumah saya.
Malamnya dapat email memberitahukan revisi apa yang harus saya lakukan.
Alhamdulillah saya dapat jatah revisi kecil saja.

Jam empat pagi di hari Kamis, saya meluncur ke Bandung. Bertemu dengan ilustrator yang memegang naskah saya.
Saling diskusi.
Waktu dia tahu saya harus pulang hari itu juga, dia langsung mempercepat kerjanya. Diskusi ke ilustrator dan editor di Litara. Kerja cepat itu jadi judul hari ini.
Ketika hari menjelang sore, naskah saya paling tidak 99 persen disetujui.
Saya dan ilustrator sama-sama bekerja tanpa laptop. Naskah saya digambar, saya memberi masukan, lalu kalimat yang ada saling didiskusikan.

Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk dan merasakan room to read. Saya sangat bersyukur sudah sampai di titik ini. Titik di mana saya berproses untuk terus belajar.

Mendidik Anak Jangan Pakai Standar Tetangga

Aku dan anak-anak

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (QS Luqman ayat 14)

Ketika membangun rumah tangga, dan akhirnya punya anak, harusnya kita punya skala prioritas. Menyadari standar yang kita miliki. Bahkan harusnya standar itu kita tulis besar-besar dan tempel di dinding, yang bisa terlihat oleh kita dan pasangan.
Standar yang kita miliki berbeda. Dengan pasangan pasti juga berbeda, karena latar belakang berbeda. Tapi tahap-demi tahap yang kita lalui, tentunya perbedaan standar itu bisa kita minimalisir, sehingga tidak membuat kita saling menyalahkan dalam mendidik anak.
Yang tersulit adalah ketika kita menggunakan standar orang lain, dan standar itu adalah standar tetangga.

Ketika melihat tetangga membanggakan nilai ulangan anaknya yang seratus, kita langsung menyalahkan anak yang pulang membawa nilai lima. Kita tidak pernah memahami bahwa mereka belum mengerti pelajarannya. Kita juga tidak mau tahu, bahwa nilai lima itu adalah nilai hasil kerja mereka sendiri. Mereka tidak bertanya pada teman yang lain. Parahnya, kita justru merasa malu dan akhirnya keluarlah kalimat dari mulut kita, yang mengatakan bahwa anak kita bodoh dan lain sebagainya.

Standar tetangga membuat kita akhirnya menjauhkan diri kita dari anak-anak kita.
Ada tetangga baik ada tetangga buruk. Jangan meniru yang buruk tentu saja. Tapi jangan terlalu mengagungkan yang baik. Apalagi menerapkannya total untuk rumah tangga kita. Sebab masing-masing kita punya kelebihan dan kekurangan. Makanan yang enak di satu rumah, belum tentu akan sama-sama dibilang enak di rumah yang lain.

Anak kita naik pohon tinggi, kita bilang itu kreatif. Tetangga bilang itu anak.
Anak kita tidak masuk sekolah hari ini karena kita ajak menjelajah museum. Kita bilang itu pendidikan untuknya, karena sekolah tidak memberikannya. Tetangga bilang itu mengajarkan anaknya malas.
Anak lelaki kita, kita ajarkan masuk dapur dan beres-beres rumah, standar kita adalah ketrampilan. Tetangga bilang itu mengajarkan anak jadi banci.

Standar kita dan standar tetangga berbeda. Itulah kenapa kita sebagai orangtua harus mau berjuang untuk belajar mengenali diri kita sendiri dulu. Jika kita masih gamang, belajarlah untuk tidak mudah gamang. Setelah kita mengenali diri kita sendiir, mudah untuk membuat standar sendiri. Sehingga lebih nikmat ketika mendidik anak.
“Sekolah pilih di kota jangan di kabupaten. Nanti gampang ke depannya,” itu kata tetangga.
Kalau saya?
Kabupaten atau kota sama saja. Sepanjang orangtua punya pikiran global, maka tidak akan ada sekat lagi.

Yang pasti, seperti yang saya alami sendiri dengan orangtua saya, ketika orangtua memiliki standar sendiri dalam mendidik, maka ketika anak besar mereka akan menghargai kita dengan baik. Karena apa? Karena mereka dibiarkan menjadi diri sendiri dan selalu dihargai.