Penulis Remah Rengginang

Penulis remah rengginang? Waktu saya membaca tulisan seperti itu saya tersenyum sendiri. Rengginang, makanan seperti kerupuk yang biasa disajikan pada saat lebaran itu memang unik. Rengginang, tidak pernah bisa membuat orang yang memakannya bersih dari kotoran. Karena setiap gigitan gigi kita pada rengginang, akan menyisakan remah yang jatuh.
Atau jika rengginang berada di dalam wadah dan wadah itu sering berpindah tempat, akan membuat rengginang itu menghasilkan banyak remah yang rontok dari si rengginang itu sendiri yang mengumpul di bagian bawah wadah.

Ops, saya sebenarnya mau ngomong apa, sih?
Yup, ini berkaitan dengan dunia menulis. Sejak dulu ketika saya masuk ke dunia menulis, saya sadar saya harus terus menulis. Ikut lomba ini itu untuk menunjang kepenulisan saya. Karena sebuah lomba menulis dari sebuah instansi atau lembaga yang diakui juga penerbit atau media yang memiliki banyak pembaca, akan meningkatkan tingkat kepercayaan diri saya sendiri.
Tapi bukan berarti setelah itu saya raih, lalu saya menjadi merasa paling besar.

Ada Kalanya Saya Hanya Remah Rengginang

“Pada masa lalu aku punya prestasi di bidang nulis, Bu,” ujar anak saya.
Saya mengangguk. Ia sadar akan hal itu. Pada masanya, di masa lalu, itu artinya tidak terjadi di masa sekarang. Orang juga sudah tidak ingat lagi akan hal itu, dan diri sendiri juga merasa tidak ada artinya dengan pencapaian itu. Karena ada banyak orang lain yang memiliki pencapaian yang lebih tinggi.

Bicara soal pencapaian, saya malah jadi teringat kisah remahnya rengginang. Orang-orang kecil yang merasa tidak ada artinya akan menganggap diri mereka seperti remah rengginang.
Saya?
Saya harus juga menempatkan diri seperti remah rengginang tersebut. Karena apa? Karena prestasi di masa lalu, meskipun sebulan atau seminggu yang lalu, tetap saja namanya masa lalu. Dan untuk hidup kita adalah masa kini dan masa depan.
Uangmu yang kamu dapat dari prestasi di masa lalu akan habis. Pujian akan sirna. Jika kamu menulis mengandalkan puja dan puji maka tidak akan bisa kamu melangkah lebih jauh lagi.

Saya selalu menempatkan diri bahwa saya tidak bisa apa-apa. Remah rengginanglah saya. Karena itu setiap ada program menulis dari ahlinya, untuk bidang yang belum saya kuasai, saya akan ikut mengirimkan lamaran untuk mengikuti audisi itu.
Pun di setiap kesempatan saya selalu meyakinkan diri sendiri saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Dengan begitu saya jadi memiliki energi untuk menulis lebih banyak dan meningkatkan kualitas tulisan saya.

“Kamu penulis remah rengginang?”
Jika ada yang menunjuk seperti itu, apa yang harus saya lakukan?
Tugas saya terus menulis. Dan tulisan saya yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tuduhan orang lain untuk saya, tidak akan jatuh membebani amalan saya.
Mari terus menulis saja.

Hubungan Penulis dan Penerbit, Harusnya Seperti Apa?

Penulis?
Penulis lepas seperti saya ketika dulu zamannya media cetak, akan terhubung dengan redaksi. Redaksi ini yang mengurusi naskah yang masuk, juga jadi penyambung lidah dengan bagian keuangan ketika penulis ingin mengambil honor.
Dulu zamannya saya masih suka mengambil honor langsung ke media, saya akan menunggu di ruang redaksi. Melihat cara kerja mereka. Lalu dapat tanda tangan dari redaksi plus nomor bukti majalah. Setelah itu saya akan meluncur menuju bagian keuangan untuk mengambil honor.
Eh itu dulu dan terjadi pada masanya. Alias zaman sekarang sudah berganti. Ada banyak yang berubah. Termasuk tumbangnya satu persatu media cetak berganti dengan media online.

Setelah media cetak tumbang penulis mau apa?
Sejak media cetak tumbang maka banyak sebenarnya pekerjaan untuk penulis. Produk-produk mencari blogger untuk mengiklankan produk mereka. Kalau di media cetak hitungannya berapa senti kali berapa senti iklan yang ditayangkan dan harganya bisa mencapai ratusan juta, sekarang kan budget untuk iklan bisa dikurangi.
Iya, blogger adalah salah satu profesi yang tumbuh subur setelah media cetak gugur.

Penulis buku?
Yup, termasuk penulis buku. Meski dari dulu sudah ada penulis buku, tapi sekarang ini semakin marak lagi. Penulis yang menulis buku semakin banyak. Saya yang termasuk akhirnya fokus untuk menulis buku.

Penulis buku akan berhubungan dengan penerbit. Lebih mengerucut lagi, biasanya penulis akan berhubungan dengan editor yang menangani naskah. Masing-masing penerbit punya editor sendiri untuk lini naskah mereka masing-masing. Ada lini naskah anak, remaja atau dewasa, fiksi dan non fiksi.
Hubungan yang harus dibina tentu saja hubungan baik. Penulis manusia, editor juga manusia. Maka membina hubungan baik dengan komunikasi yang baik sangat penting untuk mewujudkan sinergi kerja yang bermanfaat untuk karya yang dihasilkan.

Penulis menulis buku dan editor menyeleksi naskahnya.
Beberapa editor yang saya kirimi naskah langsung suka dengan karya saya. Hanya memberi sedikit editan, setelah itu bahkan memberi order tulisan untuk saya.
Ada juga editor yang mengoreksi naskah saya. Tapi saya suka sepanjang tidak membuat naskah itu bukan lagi menjadi milik saya. Alias isi dirombak sana sini. Jika hanya untuk merubah satu dua kalimat efektif tidak masalah untuk saya. Misalnya bahasa di tulisan itu saya gunakan kata kamu, dan editor maunya kata kita.
Tapi setelah saya jelaskan bahwa saya pakai kata kamu gunanya untuk mengakrabkan dengan pembaca karena ini non fiksi untuk remaja, maka editor pun setuju.

Mengunjungi penerbit sebenarnya salah satu cara efektif untuk membina hubungan baik. Tapi zaman semakin canggih, dan internet bisa membuat semuanya mudah dilakukan. Jarak bisa dilipat. Komunikasi bisa dijalin.
Hanya saya tetap sesekali mengunjungi penerbit. Salah satunya ketika saya ke Solo dan saya mengunjungi penerbit yang menerbitkan buku saya.
Dengan bertemu langsung, saya lebih paham kebutuhan penerbit seperti apa dan maunya editor juga bagaimana? Dan dari sini bisa melihat lebih jelas tentang penerbit yang saya kunjungi.

Ketika buku sudah jadi pun, penulis bukan berarti harus ongkang-ongkang kaki. Penulis harus mau berjuang untuk promosi agar buku itu laris manis. Laris manis bukan sekedar agar penulis dapat penghasilan. Kalau saya berjuang untuk promosi buku adalah agar pesan yang ingin saya sampaikan dalam buku yang sudah saya tulis dengan susah payah, bisa sampai pada pembacanya.
Kalau saya tidak melakukannya, pembaca tidak akan pernah tahu ada buku saya yang baru terbit.
Lagipula ini juga sebagai bentuk tanggung jawab penulis terhadap editor yang sudah menerima naskahnya atau juga memesan naskahnya.

Dan pada akhirnya sebelum berjuang membina hubungan baik dengan penerbit termasuk dengan editornya, sebaiknya membinalah hubungan baik dengan Allah yang membuat kita dilimpahi banyak ide untuk menulis. Allah yang membuka hati seseorang termasuk hati editor di penerbitan untuk menerima naskah kita.

Soal surat perjanjian, soal naskah yang bisa tembus ke penerbit dan soal royalti?
Next akan saya bahas di hari yang lain In syaa Allah.

Horeee, Aku Punya Banyak Buku Baru

Buku. Itu menjadi masalah utama di masyarakat kita.
Sebuah buku tebal menarik untuk saya tentu saja. Karena saja sejak dulu memang gemar membaca. Bahkan saya tidak terlalu suka dengan buku yang dipenuhi banyak gambar. Buyar rasanya segala imajinasi yang sudah saya susun baik-baik di kepala ketika melihat ada gambar di ddalamnya.

Tapi orang seperti saya kan tidak akan ditempatkan di masyarakat yang memiliki kesamaan dengan saya. Kita semua diuji dari orang terdekat kita. Dan karena di rumah baik-baik saja, maka tantangan terberat untuk saya adalah membenahi lingkungan. Lingkungan yang tidak suka baca. Lingkungan yang saya lihat malah dengan santainya membuang buku cerita.
Pernah loh, zaman ketika SD saya suka sekali dengan satu buku. Saya mengidam-idamkan buku itu. Buku tentang seorang raja yang ditipu oleh tukang jahitnya.
Dan buku itu saya baca di rumah teman saya. Lalu teman saya bosan dan buku itu ada di tempat sampah.
Saya ingat, kakak saya membawa buku itu pulang. Iya, karena di rumah bacaan yang dibelikan kepada kami oleh Bapak, seperti barang berharga yang harus dijaga.

Ini ujian. Ujian setiap orang berbeda-beda. Dan ujian saya yang kukuh hanya ingin bekerja sebagai penulis adalah selalu terhubung dengan lingkungan yang tidak kenal buku. Lingkungan saya tidak suka membaca. Lingkungan saya harus dipengaruhi untuk cinta membaca. Dan menyodori mereka buku-buku tebal tidak mungkin. Tontonan televisi, dangdutan atau hiburan dalam bentuk lainnya dalam telepon genggam jauh lebih asyik daripada membaca buku tebal.

Lalu ketika mendapati lingkungan seperti itu, apa harus berdiam diri saja?
Saya penulis. Itu yang selalu ada di benak saya.
Dulu ketika tetangga kanan kiri belum paham profesi itu, menganggap bahwa waktu saya banyak habis di rumah untuk menonton sinetron dan lainnya seperti mereka. Maka tidak sedikit yang menyarankan agar saya membuka toko kelontong di sedikit halaman rumah saya daripada menganggur. Jujur, ketika mendengar kalimat itu rasanya pingin tangan bergerak untuk meninju wajah mereka.
But, it’s ok.
Bukankah di dunia ini banyak orang yang tak paham dan ternyata lebih sok tahu mengatur hidup orang lain.

Maka saya pikir kerja nyata jauh lebih bagus daripada memberi penjelasan.
Saya penulis, saya bahagia menjadi penulis. Orang lain tidak paham dengan profesi saya, itu masalah mereka bukan masalah saya.
Jadi ketika ada sesuatu tugas dilemparkan ke saya dengan alasan saya nganggur di rumah, saya akan menolak. Karena meski di rumah saya punya jam kerja yang jelas setiap harinya.

Waktu bergulir dan syukurlah sekarang hampir semua paham kalau saya penulis. Itu karena efek sosial media. Satu dua tetangga follow beberapa akun sosial media saya, jadi mereka paham kegiatan saya.
Saya penulis dan tugas saya memintarkan lingkungan. Banyak caranya. Salah satunya membuka pintu rumah untuk anak-anak tetangga belajar. Meminjamkan buku-buku yang menjadi koleksi pribadi. Menambah jumlah buku-buku yang ada di lemari buku untuk dipinjamkan.

Yang lainnya?
Alhamdulillah, anak-anak tetangga suka membaca. Bacanya cepat. Pinjam tiga buku bisa selesai dalam sehari dan minta tukar buku yang lain.
Saya bingung juga pada awalnya.
Pernah saya pakai StoryWeaver. Buku yang ada di sana saya foto lalu saya setting ulang sebelum diprint dan dijadikan buku untuk anak-anak tetangga. Maklum anak-anak yang datang ke rumah sekarang anak-anak TK dan SD kelas satu, dua. Jadi pict book tentu menjadi sesuatu yang mereka butuhkan.
Lalu kemarin saya mulai sadar ada situs lain. Bacanya sudah lama, tapi baru sadar kalau kebutuhan pict book anak-anak tetangga bisa saya dapatkan dari sana. Di Seru Setiap Saat. Di sini saya mudah mendownload dan saya print untuk saya jadikan buku yang bisa dipinjam para tetangga saya.

Ini cara saya bermanfaat sebagai penulis dan membuat orang lain paham bahwa saya di rumah bekerja bukan pengangguran.

Sekolah Masa Depan Bernama Pesantren

Pesantren? Kenapa pesantren? Saya tahu pertanyaan itu berkelebat di kepala beberapa orang yang belum paham tentang pendidikan di pesantren. Sama seperti orangtua saya dulu. Tidak kenal apa itu pesantren, sehingga ketika saya request ingin masuk pesantren pada zaman saya sekolah dulu, Bapak melarang. Alasan Bapak, saya mudah sakit.
Lalu ketika anak menjelang SMP saya berniat memasukkan ke pesantren, Bapak selalu bilang pada saya, bahwa saya loh, bisa mendidik anak sendiri. Kenapa mesti diserahkan ke pesantren? Bapak takut saya yang penyakitan akan sengsara dengan iklim pesantren, yang menurut Bapak tidak cocok untuk saya yang mudah sakit. Dan takut anak saya juga tidak kuat kondisi fisiknya sama seperti saya.

Banyak pertanyaan berkelebat di kepala saya tentang pesantren. Saya pikir dulu, sama saja pendidikan pesantren dengan sekolah berbasis kurikulum islam terpadu. Sama saja.
Tapi ternyata saya salah. Iya, saya masukkan kedua anak saya ke SMPIT dengan program paling ketat. Alias ruang kelas perempuan dan lelaki terpisah. Komunikasi di sosial media dikawal para guru.

Perubahan Orientasi Hidup

Bersyukur hidup saya berjalan selangkah demi selangkah. Tidak langsung berlari, tapi saya belajar menjalani setiap proses langkah saya.
Iya saya terlahir dari Bapak yang paham agama. Iya Bapak bukan cuma jadi imam di masjid, tapi Bapak juga paham Al Quran dan mendidik anaknya dengan cukup keras. Shalat adalah keharusan yang tidak bisa ditunda-tunda. Ketika melihat saya terburu-buru shalat hanya karena ingin cepat kembali main bersama teman-teman, Bapak tidak segan-segan dengan tegas meminta saya mengulang shalat saya.

Iya, saya dulu ikut kegiatan rohani islam di sekolah. Segelintir anak yang ada di mushola dan tetap berjuang melaksakan shalat zhuhur dan ashar ketika anak lain sibuk ke kantin atau bergurau di kelas. Saya menjadi bagian dari mereka.
Dari satu pengajian ke pengajian lain. Bukan sekedar duduk mendengarkan,tapi memang berproses mengaji. Mulai dari tajwid sampai cara melagukan Al Quran.
Lalu keseluruhan proses itu membuat saya merasa. It’s enough. Saya sudah cukup bisa mendidik saya sendiri.

Maka dua anak saya masukkan ke sekolah dasar negeri. Dasar utamanya prinsip. Bahwa mereka mnerasakan masa bermain yang puas, sepuas-puasnya. Jam belajar yang pendek di sana, membuat saya berjuang agar jam panjang di rumah diisi dengan kegiatan kreatif.
Seimbang antara menghafal Al Quran dan meyakini banyak teori Barat. Meski porsi seimbang itu tentunya ada pada mindset saya sendiri. Seimbang karena saya merasa cukup dan menurut saya bekal itu yang bisa membuat anak saya bahagia dunia dan akhirat.
Di sekolah negeri sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Anak-anak bersentuhan dengan anak-anak pemulung dan empati mereka bisa terasah. Termasuk, saya meminta mereka membawa teman-teman mereka yang anak pemulung untuk belajar di rumah gratis.
Jujur ketika anak masuk usia kelas lima sampai kelas enam SD, ini adalah masa tersulit. Mereka sulit diatur dan terpengaruh teman-temannya. Sekali dua kali ketahuan oleh saya ketika mereka melalaikan shalat, karena untuk teman-temannya hal itu adalah hal yang wajar.

Berangkat dari situ, saya memasukkan anak ke sekolah islam terpadu.
Usia mereka sudah cukup untuk diberi disiplin lebih tinggi lagi, selain disiplin saya. Mereka akan bersentuhan dengan guru-guru yang visi misinya dalam mendidik anak sama seperti saya. Paling tidak sejalan lah dengan apa yang menjadi visi misi saya.
Memasukkan anak ke sekolah itu, artinya jalan untuk saya menambah wawasan harus diluaskan. Mereka belajar, saya pun belajar. Mereka mendapat kucuran ilmu, saya pun harus paham kucuran ilmu itu agar ada diskusi panjang lebar dengan mereka.
Alhamdulillah proses anak-anak di sekolah ini membuka wawasan saya tentang sekolah lain bernama pesantren.

Alhamdulillah, Pesantren

“Alah, sama aja. Anak sekolah di mana saja sama.”
“Kok, dia masukin anak ke pesantren?”
Dua komentar itu saya dapat dari dua orang yang berbeda dengan dua latar pendidikan yang berbeda. Komentar pertama dari seorang ibu di lingkungan anak sekolah pertama. Sekolah negeri. Pendapat seperti itu biasa untuk saya. Karena di sekolah negeri, mungkin karena saya menyekolahkan anak di sekolah negeri kampung, maka banyak pemahaman yang menurut mereka wajar, tapi sungguh itu tidak wajar dari segi agama.
Memberi hadiah guru itu wajar. Padahal hadiah itu diberikan bukan pada saat penerimaan rapor kenaikan kelas. Di penerimaan rapor tengah semester hadiah untuk guru terlihat jor jor an. Saling berebut perhatian pada guru. Seorang tetangga malah harus mengisi amplopnya dengan beberapa lembar ratusan ribu. Katanya kalau tidak diberi sejumlah itu, nanti anaknya tidak diperhatikan oleh guru.

Komentar kedua malah saya dapat dari seseorang yang berpendidikan tinggi. Mungkin dia heran, kenapa saya menyekolahkan ke pesantren yang cuma belajar agama?
Marah? Enggak lah. Wogn saya dulu pernah punya pola pikir yang sama, dan berpikiran bahwa apa yang saya jalani sehari-hari sudah cukup. Baca Al Quran, sedekah, berbuat baik, sudah cukup. Tidak penting yang lain.

Alhamdulillah, Allah berikan hidayah pada saya sehingga saya bisa melebarkan wawasan.
Pesantren juga menjadi pilihan anak-anak. Hidayah itu harus dikejar. Maka ketika sesuatu tentang pesantren terselilp di benak, saya langsung survey satu pesantren ke pesantren lain. Saya harus tahu seperti apa yang namanya pesantren. Lalu saya ceritakan pada pasangan dan anak-anak. Saya ceritakan yang indah-indah untuk mereka. Dan proses lainnya.
Alhamdulillah Sulung punya cita-cita mendapat beasiswa sekolah agama, justru sebelum saya punya mimpi memasukkan anak ke pesantren.

Pesantren? Tempat apa sih itu?
Kalau Bapak masih hidup, ingin sekali saya membawa Bapak untuk melihat ke dalam isi pesantren.
Pesantren sekarang bukan lagi pesantren seperti di masa lalu. Pesantren sekarang lebih dikenal sebagai Islamic Boarding School.
Di sini anak belajar agama, belajar kehidupan, belajar memahami teman, belajar displlin, belajar antri, belajar prihatin juga.

Saya dan Sulung diskusi soal pesantren pilihan. Di pesantren pertama pilihannya, dia tidak lulus. Maka akhirnya keputusan ada di pesantren pilihan saya. Ketika akan tes saya hanya bilang. “Ibu tidak punya pilihan lain. Kalau kamu tidak berjuang untuk lulus di pesantren kedua ini, maaf tidak ada pilihan ketiga.”
Sulung saya tipikal anak yang memaang harus di push untuk itu. Tidak diberi target dia akan terlena. Jika diberi target ia akan mengejarnya sekuat tenaga.
Alhamdulillah dia lulus di pesantren itu. Tesnya dari pagi sampai sore, meliputi tes akademik, tes hafalan Al Quran, tes tanya jawab Bahasa Arab dan tes menerjemahkan hadist.

Pesantren tempat Sulung, berada di kawasan pinggiran. Luas lahan 8 hektar lebih. Pesantren itu berdampingan dengan pesantren lain.
Pesantren lain itu yang selalu dibilang oleh seorang tetangga saya, pesantren bagus, karena anaknya di sana. Tapi akhirnya saya paham standar bagus atau tidak bagus dari kacamata yang berbeda.
Bagus menurutnya karena di pesantren itu satu kamar dihuni oleh delapan anak. Ruang kelas dan ruang tidur berpendingin udara. Di pesantren Sulung, satu kelas dihuni oleh 20 anak dan hanya kipas angin.
Pelajaran sama.
Pemiliknya juga masih kerabat. Kolam renang dipakai bersama oleh dua pesantren itu. Bahkan lapangan futsal dan lapangan basket di pesantren Sulung kerap dipakai oleh pesantren di sebelahnya, karena fasilitas lapangan di tempat Sulung lebih lengkap.
Jadi?
Ini tentang standar yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Alhamdulillah, saya tipikal orang yang selalu menyelidiki dulu sebelum mengambil kesimpulan.

Pesantren?
Sudah satu bulan lebih Sulung di pesantren. Apa yang saya dapati ketika dia pulang kemarin?
Wawasannya bertambah. Si Bapak kaget waktu meminta izin pulang ke wali kelas Sulung. Melihat Sulung dan wali kelasnya berkomunikasi dalam Bahasa Arab.
Hafalan hadistnya tambah. Hadist dengan runutan sanadnya.
Hafalan Al Quran bertambah.
Dan saya jadi bisa merasakan bulan madu dalam tanda kutip seperti yang dikatakan ustadz pemilik pesantren di Cirebon yang juga tempat saya mengaji.
Katanya, ketika anak pesantren, bertemu dengan mereka seperti masa bulan madu. Indah rasanya.

Pesantren?
Jika masih under estimated terhadap pesantren. Mungkin itu artinya hidayah baru datang setengah hati ke dalam lubuk hati kita, sehingga kita sendiri ragu untuk menitipkan agama di bahu anak-anak kita.

Saya Menulis untuk Bahagia

Saya menulis untuk bahagia bukan untuk tertekan. Sebab tidak saya bayangkan jika saya tertekan dalam menulis. Maka pastilah penyakit maagh atau asma yang banyak dipicu oleh perasaan, pasti akan sering kambuh. Alhamdulillah, karena saya menulis untuk bahagia, maka penyakit bawaan itu bisa menyingkir. Kalaupun hadir, bukan karena dipicu oleh perasaan. Tapi karena saya salah makan atau tubuh terlalu lama berada di tempat dingin.

Saya menulis untuk bahagia.
Iya menulis itu pekerjaan dan mendatangkan materi untuk saya. Tapi tetap saya harus menjalaninya dengan bahagia, tidak dengan tertekan.
Pernah saya menulis skenario. Jam sepuluh malam ditelepon. Harus menyetor 75 halaman script di pagi harinya. Itu artinya saya korbankan semua yang bisa saya lakukan di malam hari.
Tidur saya biasa on time tidak mau saya geser keculai ada kondisi tertentu. Seperti kondisi sebulan penuh saya menjaga almarhum Bapak di rumah sakit.

Pada awalnya saya terima tawaran tersebut. Pada awalnya tergiur juga saya dengan iming-iming materi menulis dan dibayar per episode.
Dua kali menjalaninya saya putuskan untuk tidak mau melanjutkan. Padahal pada saat itu, seorang dari sebuah PH menawarkan saya untuk menulis stripping. Padahal saya dikejar untuk datang ke rumah produksi dan ditunggu oleh mereka.
Tapi tidak. Saya tidak bahagia di situ. Saya merasa khusyuk ibadah dalam keadaan badan melayang-laayng. Dan yang lebih penting, saya tidak fokus mengurus rumah tangga. Itu bukan tipe saya. Maka saya lepaskan karena saya tidak mau menulis jadi beban untuk saya.

Saya menulis untuk bahagia.
Maka saya bahagia menulis untuk penerbit dan menghasilkan buku. Ketika yang lain berproses dan pindah menjadi blogger, saya tetap fokus di buku. Karena passion saya di sini. Yang lebih penting saya bahagia karena pesan yang ingin saya sampaikan, lebih masuk jika saya menuliskan dalam sebuah buku.
Media satu persatu gugur, itu sebabnya saya tidak fokus lagi di media dan fokus menulis buku.

Menulis dan bahagia itu bukan berarti menulis sekedarnya saja.
Buat saya menulis dan bahagia itu ketika saya mampu menghasilkan tulisan yang bisa membuat senang pembaca saya. Dan pesan yang saya sampaikan masuk. Pesan yang sifatnya unviersal mengajak orang pada kebaikan dan empati, tentunya saya harap bisa menjadi pahala ilmu mengalir untuk saya. Meskipun pesan itu tidak dibalut dengan ayat-ayat suci.
Menulis untuk bahagia bukan berarti membebaskan semua keliaran imajinasi. Hei, yang memberi amanah ide untuk saya Allah. Jelas saya harus menjaga menulis sesuai dengan koridor garis yang diharuskan oleh aturan agama saya. Percayalah ide-ide liar itu selalu saja datang. Selalu ada keinginan untuk memasukkan hal-hal negatif dalam naskah dengan nama plotting atau alur cerita. Seolah-olah jika menghilangkan adegan itu maka rusaklah semua naskah.
Percaya saja, jika kita menghindari suatu hal negatif, pasti akan diberi seribu jalan positif. Karena itu jangan pernah merusak amanah ide dariNYA dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Sungguh saya menulis untuk bahagia.
Saya dapat imbalan materi tentu saja. Dari tulisan yang dibeli putus atau dengan sistem royalti. Tapi semuanya saya lakukan tidak dengan tertekan. Tidak ikut-ikutan dalam menulis. Jika ada teman yang menulis tentang A lalu laris manis, saya tidak mau mengekor. Saya yakin keorisinilan ide saya akan mendapatkan rezeki tersendiri.
Saya memang menerima pesanan buku dari penerbit untuk saya tulis. Tapi saya bebas mengeksekusinya dan tentu tetap mendengar apa yang ingin penerbit ingin saya tuliskan.

Saya bahagia dalam menulis karena saya berproses.
Setiap hari saya menulis. Jika tidak diorder naskah oleh penerbit, saya tetap mengetuk pintu satu persatu penerbit untuk menawarkan naskah saya. Ditolak itu biasa. Karena setiap penerbit memiliki kebutuhan yang berbeda. Dan bisa jadi naskah saya belum cocok atau mungkin buruk. Tapi dari situ saya terus berproses.

Saya harus bahagia dalam menulis.
Sama seperti seorang chef yang bahagia dalam membuat makanan, dan itu akan terlihat dari hasil olahan makanannya. Penulis juga seperti itu.
Kalau kamu tidak bahagia dalam menulis, jangan-jangan ada yang salah dalam prosesmu menulis?

Djoeroe Masak, Cinta di Ujung Lidah

Sebuah novel graphis. Begitu yang saya baca di status penulisnya ketika novel ini sedang dalam proses ditulis. Ada pertemuan dengan editor dan ilustrator. Jujur saya penasaran dan ingin tahu seperti apa buku yang akan dihasilkan nanti.
Apalagi naskah itu adalah naskah kuliner yang ditulis oleh penulis yang memang berkutat dengan masakan. Jelas saya menunggunya, karena ilmu masak saya luar biasa minimnya.

Pada akhirnya ketika buku itu dirilis, saya langsung memesannya plus tanda tangan penulisnya. Harus itu. Karena saya senang mengumpulkan buku yang ada tanda tangan penulisnya.

Ada empat buah buku dalam serial Djoroe Masak yang ditulis oleh Dyah Prameswarie dan diterbitkan oleh Tinta Media imprint dari Penerbit Tiga Serangkai.
Jumlah masing-masing halaman dari empat buku ini juga kurang lebih sekitar 150 halaman.
Setiap buku memiliki kisahnya sendiri. Dan kisah itu saling terhubung antara buku yang satu dengan buku yang lain. Meskipun kisah itu tidak terlalu terikat.
Kisah-kisah kehidupan yang ringan dan diolah dengan balutan resep sebuah masakan. Saya selalu suka ketika membaca bagaimana para tokohnya membuat adonan. Dari adonan lemper sampai adonan pasta.

Dalam buku pertama, Jenang Bukan Dodol dikisahkan tentang pertemuan Sedayu yang membantu ibuknya berjualan jenang di pasar Ngasem Yogjakarta. Di sana Sedayu berkenalan dengan Adian, seorang yang restoran pertamanya gagal dan ia ingin belajar masakan tradisional.
Nuansa pasar dan aroma masakan langsung tercium di beberapa halaman pertama buku ini, dan itu yang membuat saya suka. Rasanya saya seperti berada di tengah-tengah mereka.
Proses perkenalan yang dibalut indah dengan proses pelajaran memasak juga mendatangkan ilmu untuk saya. Oh, harusnya masak lemper seperti ini. Oh, santan harusnya seperti ini. Dan oh oh lain yang membuat saya berniat membuat sajian berdasarkan resep-resep yang ada di buku ini.

Dalam buku yang kedua Kelab Makan Siang Rahasia diceritakan tentang Sedayu dan Adian yang akhirnya menikah dan tinggal di Bandung, lalu Adian membuka restoran A+.
Sedayu yang belum kunjung hamil yang akhirnya memutuskan bekerja dan bertemu dengan bos Dahlia, yang punya kelab makan rahasia dan akhirnya mengundang Adian.
Ada cemburu Sedayu karena gosip tentang kelab makan rahasia.
Hanya sedikit kecewa dengan kelab makan rahasia yang tidak seperti dalam bayangan. Tapi tetap di buku ini saya senang, karena dimanja dengan beberapa resep masakan yang bisa diuij coba sendiri.

Buku Ketiga Nona Doyan Makan dalam buku ini dikisahkan tentang Sedayu yang membuka rumah makan bersama teman-temannya salah satunya dengan Freya. Freya ini -yang Sedayu ( biasa dipanggil Dayu)- kenal di kelab makan siang rahasia.
Di buku ini bercerita tentang gedung yang disewa dengan harga murah oleh Freya dan langsung dibayar cash. Hanya kisah lelaki gila yang berteriak ketika pembukaan gedung dan mengatakan bahwa jangan masuk ke gedung itu karena berbahaya, jadi agak dipaksakan untuk mengeksekusi akhir cerita. Apalagi ternyata lelaki itu adalah pemilik resmi gedung yang disewa yang keluarganya terbakar dan surat kepemilikan juga terbakar.
Resep-resep masakan dan gambarnya yang bagus tetap tersaji di sini.

Buku Keempat Sembah dan Berkah. Di buku ini dikisahkan tentang pasangan Sedayu dan Adian yang sudah memiliki seorang anak beusia empat bulan. Adian mulai melebarkan bisnisnya ke Bali. Ada investor yang siap menanam modal. Dan investor itu yang seorang perempuan yang cukup agresif dan membuat Dayu tidak nyaman.
Dalam buku ini emosi Sedayu dan Adian terasa sekali. Meleleh ketika membaca bagian di puncak keletihan Sedayu mengurus anak sendirian dan menenangkan Tatjana dengan suara parau karena menangis, terlihat oleh Adian.
Tetap ada resep masakan juga di buku ini.

Dari keempat buku seri Djoeroe Masak ini, saya suka dengan buku pertama dan keempat. Di buku pertama saya benar-benar merasakan aroma pasar dan masakan. Di buku keempat saya bisa merasakan emosi penulis yang teraduk-aduk ketika menuliskan kisah ini.

Saya suka buku ini.
Masuk ke dalam lemari untuk jadi koleksi.

Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.

Kunci Penting untuk Kesehatan dan Kecantikan Wanita

Sebagai seorang perempuan, apa yang sudah kita ketahui tentang diri kita sendiri? Apa yang sudah kita pahami mana yang baik untuk kesehatan dan kecantikan kita sendiri? Apakah kita paham luar dalam tentang diri kita? Atau kita hanya mengikuti arus deras yang mempropragandakan cantik hanya dengan persepsi, putih, tinggi, langsing, berambut lurus saja?

Ada banyak salon kecantikan yang menawarkan program awet muda. Tapi jika perempuan paham apa yang menyebabkan ia mudah menua, tentu tidak akan terpengaruh dengan program yang menguras isi kantong.
Di lingkungan kita ada banyak bertebaran radikal bebas. Dan radikal bebas itu yang menjadi salah satu sebab penuaan.
Radikal bebas ini adalah molekul yang mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan di orbit, sehingga relatif tidak stabil. Agar stabil molekul tersebut secara reaktif mencari pasangan elektronnya. Dan biasanya cara yang ditempuh adalah meminta sumbangan atau mencuri elektron dari sel tubuh lain. Proses ini yang akhirnya menyebabkan kerusakan sel termasuk penuaan kulit ( halaman 2-3).
Untuk mencegah penuaan tentunya dibutuhkan penangkal radikal bebas. Dan ternyata penangkalnya itu mudah sekali didapatkan di sekeliling kita. Vitamin A contohnya. Vitamin A ini dapat mencegah penuaan. Bukan hanya vitamin A. Vitamin C pun bisa membantu mengurangi keriputan. Vitamin E bisa dijadikan sebagai sumber collagen.
Semua itu bisa didapat dari makanan yang murah dan bisa didapat di sekeliling kita. Tomat, tauge, pepaya, jeruk, mangga dan beberapa buah lainnya.

Jika merasa sehat saja belum cukup karena merasa tubuh masih terlalu gemuk, maka ada rahasia lain. Rahasia itu bernama kacang, yang bisa membantu wanita untuk melangsingkan tubuh. Dan ternyata kacang yang dimakan sebagai pengganti asupan energi tidak akan membuat gemuk.
Beda jika kacang itu dimakan hanya sebagai camilan tambahan dan memakannya tanpa takaran lalu dilakukan terus-menerus. Itu yang akan membuat tubuh menjadi gemuk.

Masih ada banyak lagi rahasia dalam buku 9 Secrets of Woman yang ditulis oleh Dyah Umiyarni Purnamasari, seorang dosen ilmu gizi di Universitas Jendral Soedirman Purwakarta, diterbitkan oleh Penerbit Andi. dengan tebal 134 halaman.
Termasuk rahasia mengurangi sakit yang diderita sebagian besar wanita ketika menstruasi.
Buku yang ditulis oleh seorang yang memang bergelut di bidanngnya, untuk saya tentu saja lebih well informed dan jadi pertimbangan. Karena info yang didapat diolah dengan dan dimatangkan dengan penelitan. Sehingga pembaca bisa mendapatkan poin manfaat.

Ada 9 bab dalam buku ini, dan setiap bab diakhiri dengan informasi yang sifatnya Fakta tentang apa yang dibahas dalam bab tersebut. Dan juga ada saran yang bisa memandu pembaca jika ingin mengkonsumsi makanan sesuai takaran dan aturan agar manfaatnya optimal.
Ada resep masakan yang tidak terlalu rumit yang bisa dicoba di dapur,

Buku ini selesai saya baca dalam sekali duduk di atas kereta commuter. Saya merasa jadi lebih bahagia sebagai wanita karena paham kebutuhan tubuh saya sendiri.

Fredy Harsongko Bukan Sekedar Kenangan Manis

Saya mengenalnya dan mencoba memahaminya dengan hati. Iya dengan hati saja. Dan ternyata memahaminya dalam hati itu berubah menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang lain. Saya mulai menyayanginya sebagai seorang ibu kepada anaknya. Anak yang dari kalimat yang selalu ia tuliskan bisa saya pahami karakternya yang halus.

Ia memperkenalkan diri sebagai Koko. Nama lengkapnya Fredy Hasongko.
Bulan Oktober 2013, dia mendaftar ingin menjadi murid di kelas menulis online. Bulan-bulan berikutnya, saya menyaksikan kesungguhannya berkarya. Bagaimana ia berjuang membentuk dirinya agar membayangkan dirinya sebagai seorang wanita, ketika menulis untuk majalah wanita.

Usianya tidak pernah saya tanya. Tapi yang saya tahu ia kuliah di sebuah perguruan tinggi dan ingin menjadi guru. Perguruan tinggi yang agak bermasalah tapi akhirnya bisa membuatnya lulus dan mengajar di sebuah SMK.
Wajahnya jauh lebih muda dari usianya. Dari kalimat-kalimat yang ia tulis di kolom inbox, saya paham karakternya yang halus.
Rasa ingin belajarnya cukup besar, rasa tidak enak hatinya juga sama besarnya. Karena itu setiap buku saya terbit, ia berjuang untuk mencari bahkan membelinya dari saya.
Ia bahkan meminta waktu saya untuk bersedia diwawancara dan dimasukkan ke dalam blog yang dikelolanya.

Namanya Koko. Saya sering menggodanya untuk bertanya siapa calonnya? Karena pernah di foto profil whatsappnya tampak ia berdiri dan tersenyum di samping seorang perempuan. Ketika saya tanya, apakah ia calon pasangannya? Ia tertawa dan menulis kalau itu adalah adik kandungnya yang akan mendahuluinya menikah.

Koko saja, dan ia biasa menyebut saya Mbak atau Kak.
Karyanya manis. Tulisannya lembut. Berkali-kali bertanya kapan saya akan datang ke Malang? Berkali-kali berharap ingin sekali bertemu saya.
Lalu tibalah masanya setelah bertahun-tahun saya tidak ke Malang, Koko melihat foto yang saya upload di akun instragram saya dan dia bertanya, apakah saya sedang di Malang?

Saya tidak pernah tahu ia sedang sakit. Saya juga tidak bisa menemuinya karena sempitnya waktu. Hingga suatu hari sepulangnya dari mudik, saya jatuh sakit.
Entah kenapa ada sesuatu yang tidak biasa. Sesak napas tidak seperti biasanya. Tubuh melemah. Mirip seperti yang saya rasakan ketika kerabat dekat pergi dan ketika Bapak juga pergi. Tapi saya pikir itu efek saya terlalu lama di kampung orang.
Hingga akhirnya pada satu siang setelah saya paksakan diri untuk jalan kaki di pagi hari, dan akhirnya tubuh membaik, saya mendengar kabar itu. Kepergian Koko karena penyakit paru yang dideritanya.

Orang baik akan terasa ketika ia berpulang. Dua hari saya tidak bisa tidur, terbangun kaget dan mengeluarkan air mata. Berkali-kali.
Saya merasa sesuatu yang saya letakkan di hati hilang tiba-tiba. Anak baik yang selalu rajin bertanya dan santun, yang selalu mau menampung ilmu dari saya, sudah pergi. Yang ia tinggalkan jejak kebaikanya dan jejak tulisannya.

Saya mencoba memahaminya dengan hati.
Hanya dari hati.
Anak baik memang lebih cepat pergi, agar tetap berada dalam lingkaran kebaikan saja.

Lomba Menulis Konferensi Penulis Cilik Indonesia

Konferensi Penulis Cilik, ajang lomba untuk anak-anak usia SD seluruh Indonesia sudah dibuka lagi. Yuk cek ketentuan lombanya ;

· Peserta merupakan siswa SD/MI atau sederajat dan masih berstatus sebagai pelajar pada tahun ajaran 2017/2018.

· Peserta belum pernah menjadi juara 1, 2, dan atau 3 tingkat nasional pad kategori lomba yang sama.

· Peserta hanya boleh mengikuti satu kategori lomba dan hanya boleh mengirimkan satu karya.

· Karya bertema “Indahnya Persahabatan dalam Keberagaman” ditulis dalam Bahasa Indonesia dan tidak mengandung undur SARA atau Pornografi.

· Karya merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba sejenis.

· Karya diketik pada kertas HVS ukuran A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman ukuran 12 dengan jarak margin 4-3-3-3 cm. Atau bisa juga ditulis tangan pada kertas folio bergaris.

Untuk yang belum mengirim karya dan masih bingung akan ikut kategori lomba apa, lebih baik Sahabat lihat dulu baik-baik persyaratan dan ketentuan setiap kategori lombanya lewat tautan-tautan di bawah ini:

Lomba Menulis Cerpen Bagi Penulis

Lomba Menulis Cerpen Bagi Pemula

Lomba Cipta Pantun

Lomba Mendongeng

Lomba Cipta Syair

Ayo segera tentukan kategori yang Sahabat sukai, karena setiap peserta hanya boleh memilih satu kategori dan hanya boleh mengirimkan satu karya saja. Jadi, pikirkan baik-baik yah! Kalau semuanya sudah siap, Sahabat bisa langsung kirim karya Sahabat dengan tujuan sebagai berikut:

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar

u.p. Kasubdit Peserta Didik, Subdit Peserta Didik

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar

Gd. E Kemdikbud Lt. 17,

Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

Telepon: (021) 5725638 atau (021) 572564

Naskah yang akan dikirimkan harus dibuat sebanyak 3 rangkap dan kesemuanya itu harus disahkan keasliannya oleh kepala sekolah atau pihak yang mewakilinya (diberi cap dan tanda tangan kepala sekolah). Kemudian karya dimasukan ke dalam amplop yang diberi keterangan kategori lomba yang diikuti di sudut kiri atas amplop (contoh: KPCI – Lomba Cipta Syair).

Naskah atau karya yang dikirim harus dilengkapi fotokopi identitas berupa kartu pelajar serta biodata singkat yang mencantumkan nama peserta, tempat tanggal lahir, kewarganegaraan, alamat lengkap, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat e-mail, nama sekolah, alamat sekolah, dan kelas. Supaya panitia nanti tidak bingung untuk mengidentifikasi karya kamu. Kita tunggu karya Sahabat selambat-lambatnya pada 31 Agustus 2017 (cap pos).

Ayo diserbu.
Setiap tahunnya KPCI akan mengundang 150 anak dari seluruh Indonesia untuk berkumpul selama empat hari mengikuti konferensi.