Ibu Rumah Tangga Adalah Awal Sebuah Karir

DSCF2713

Kalau ditanya apa pekerjaan saya, maka biasanya saya akan menjawab bahwa saya penulis.
Kalau ditanya di mana kantor saya, maka saya akan bangga menjawab, kantor saya ada di rumah. Iya, rumah. Tempat saya berkreasi seluas-luasnya. Mengurus anak dan suami dengan segenap kemampuan saya. Mengoptimalkan apa yang dahulu tidak saya optimalkan, yaitu wilayah dapur.

Kalau dianggap sebagai ibu rumah tangga, ya tidak masalah. Memang kantor saya di rumah. Sehari-hari di rumah. Kalau pun ada tugas ke luar kota, itu juga tidak terlalu sering. Saya ibu rumah tangga. Menjaga amanah bernama anak dan patuh pada suami adalah tugas utama saya.
Maka memang mindset itu saya tanamkan di kepala.

Ibu Rumah Tangga yang Berbeda

Saya Ibu rumah tangga. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya resign dari pekerjaan, tetangga kiri kanan bingung. Kenapa resign. Padahal di otak saya berputar banyak pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah. Menulis tentu saja. Dan mengurus anak. Iya mengurus anak dengan segala macam teori yang sudah saya makan, dari buku-buku parenting sejak zaman saya sekolah.
Karena itu ketika semua heran dengan keputusan saya, saya justru tertantang untuk membuktikan. Bahwa saya adalah ibu rumah tangga yang berbeda. Saya ibu rumah tangga yang berjuang menghasilkan generasi penerus yang kualitasnya lebih baik dari saya.

Tentu saja jika ingin kualitas anak meningkat, maka artinya saya harus belajar.
Belajar yang banyak, termasuk meluaskan pikiran. Terus berteman dengan siapa saja. Berjuang juga untuk jadi kepala bukan ekor di lingkungan.
Kepala?
Iya, maklum jika kita tinggal di sebuah tempat, di manapun itu selama masih ada di wilayah Indonesia, maka mindset yang ada di setiap benak orang adalah, ibu rumah tangga itu artinya selesai. Tidak usah berpikir macam-macam lagi. Mengurus anak, suami, beres. Itu pekerjaannya.
Maka wajar ditemukan, ibu rumah tangga yang merasa sudah selesai itu, ketika anak-anak sekolah, suami berangkat kerja, mereka sibuk berkumpul dan menghabiskan waktu untuk ngerumpi.
Boleh? Boleh saja. Itu hak setiap orang. Tapi waktu yang terbuang itu andai saja diisi dengan hal yang bermanfaat, pasti akan jadi berbeda.

Jika ibu rumah tangga mengurangi waktu ngobrol, maka ia bisa saja melakukan hobinya. Jika satu jam waktu mengobrol dipotong, maka ibu rumah tangga yang belajar menjahit, jika setiap hari belajar, maka bisa menghasilkan jahitan pada suatu saat.
Yang belajar merajut, juga sama.
Yang mau membaca buku, bisa menyelesaikan buku yang dibacanya. Dan ilmunya pun bertambah.

Menjadi ibu rumah tangga untuk saya adalah langkah awal sebuah karir. Pintu pembuka. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa membentuk seperti apa anak saya, dan memberi asupan makanan coba-coba dari resep yang saya pelajari.
Kalau masih bekerja di kantor, mungkin saya masih menyerahkan pada makanan instant, atau warung terdekat. Saya dan anak-anak tidak sama berkembang.

Sebagai ibu rumah tangga tentu saya harus bergaul dengan lingkungan. Tapi, saya juga harus membatasi diri agar tidak terseret. Iya tidak terseret menikmati status ibu rumah tangga tanpa target. Saya juga tidak mau terpengaruh jadi ibu rumah tangga, yang hanya menghabiskan waktu di rumah, menonton televisi dan bermain telepon genggam, lalu merasa sudah cukup bermanfaat.
Saya harus jadi yang berbeda. Dan tentu harus memberi pengaruh yang berbeda juga pada lingkungan, sehingga yang dekat dengan saya sadar bahwa, ibu rumah tangga itu sebuah langkah awal bukan akhir.

Kok Bisa Penulis Bosan Menulis?

roti Ibu

Kenal banyak penulis?
Sosial media membuat saya dan yang lainnya mudah saling mengenal. Saya jadi kenal penulis yang satu dan yang lain. Saya juga kenal penulis yang semangat menulis dan yang bosan menulis.

Penulis bosan menulis?
Kalau anak-anak kecil disuguhi mainan baru, biasanya mereka akan langsung menyambarnya.
Mainan itu dimainkan sampai mereka bosan. Bahkan ketika mainan itu masih membuat mereka penasaran, mereka akan marah jika ada temannya meminjam. Sering kan kita lihat anak-anak kecil bertengkar hanya karena berebut satu mainan?
Mereka dalam proses sedang bergairah menghadapi permainan yang mereka anggap baru.
Tapi cobalah perhatikan, apa yang mereka lakukan setelah mereka bosan? Kadang-kadang mereka membongkarnya. Setelah bosan, mencari permainan baru lagi.

Sama seperti banyak kita dalam menulis.
Awalnya menganggap menulis itu mudah. Awalnya merasa iri melihat orang lain karyanya muncul terus-menerus. Awalnya merasa bisa dan menggampangkan.
Setelah merasa mampu itu, bisa menghasilkan satu dua tulisan, yang dipuji oleh orang lain, maka timbullah rasa puas.
Dan rasa puas itu membuat si penulis yang dipuji merasa tidak perlu belajar lagi. Terus-menerus melakukan hal yang sama. Tulisan yang tidak berkembang. Dan akhirnya timbul rasa bosan. Tidak ingin menulis lagi, karena tidak tahu apa yang harus ditulis.

Agar Tidak Bosan Menulis

Sampai saat ini saya bersyukur. Bersyukur karena saya menjadi penulis diawali dengan suka membaca. Ingin kisah yang saya baca, berubah ceritanya sesuai apa yang saya pikirkan. Ingin sesuatu yang saya pikirkan, dibaca orang lain, dan orang lain itu paham ada sesuatu yang berbeda. Iya berbeda. Karena saya suka melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Kebiasaan membaca itu membentuk saya untuk menulis berdasarkan apa yang saya baca. Kebiasaan saya penasaran dan ingin mencoba, membuat saya ingin menulis sesuatu dari apa yang saya kerjakan. Bukan sekedar dari apa yang saya khayalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan orang agar tidak bosan menulis?

1. Cobalah hal baru.
Saya mencoba belajar menggambar kembali. Untuk mendapatkan sensasi baru. Dan itu ternyata bermanfaat untuk tulisan-tulisan saya.
Saya juga belajar memasak hal yang tadinya saya hindari. Berkumpul dengan oven dan adonan. Tapi ternyata ketika kemampuan memasak saya meningkat, kemampuan menambah manfaat dalam tulisan juga meningkat.
Sekarang saya bisa menulis tentang resep masakan, yang tentu saja hasilnya bisa dimanfaatkan dan dipraktikkan bagi pembacanya.

2. Targetmu Apa, sih?
Target dalam dunia menulis selalu saya punya.
Dulu target saya adalah bisa membuat orang percaya, bahwa puisi yang saya tulis bisa menghasilkan.
Lalu makin jauh, target saya ingin bisa sekolah dari uang menulis.
Setelah itu saya ingin punya ini itu dari hasil menulis.
Selanjutnya saya ingin bermanfaat dari menulis.
Selanjutnya saya ingin masuk surga dari menulis, dan pahala menulis saya bisa menjadi pahala ilmu yang bermanfaat untuk saya.
Punyai target. Itu akan membuat kita melihat bahwa menulis itu memiliki hasil nyata bukan abstrak.

3. Mimpimu Apa?
Mimpi mungkin bisa dibilang target, ya.
Tapi begini. Dulu pernah ada yang tanya pada saya. “Mau sampai kapan berhenti menulis?”
Waktu ditanya itu karya saya sudah ratusan jumlah di media cetak dan sudah memenangkan lomba-lomba.
Saya ingat, saya menjawab.
“Sampai bisa menghasilkan seratus buku, baru berhenti menulis.”
Sekarang kalau ditanya lagi, maka saya akan menjawab berbeda. Saya tidak akan berhenti menulis sampai Allah mencabut kemampuan menulis saya.

4. Kamu dan Komunitas
Kalau dalam komunitas, tingkat kemalasan satu anggota akan menular pada anggota lain.
Nah kalau pada akhirnya kita masuk dalam komunitas yang ngakunya komunitas menulis, tapi lebih banyak sharing keluhan atau sesuatu yang tidak bermanfaat, putuskan. Iya putuskan berhenti dari komunitas itu, atau tetap di dalamnya dan jadi dirimu. Ubahlah apa yang harusnya diubah.

5. Kita Punya Jalan Sendiri
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin dianggap pintar.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin jadi orang terkenal.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin punya banyak uang.
Macam-macam alasannya.
Tapi punyailah jalan sendiri, jangan jadi siapa-siapa.
Berjuang saja agar menulis itu menjadi kebutuhan kita, sehingga kita tetap punya prinsip dalam menulis.

Petualangan Salman, Petualangan Batin yang Percaya

buku baru

Ada banyak buku yang saya tulis. Dan buku-buku itu saya tulis berdasarkan pengalaman nyata. Pengalaman batin yang saya olah sedemikian rupa. Ada pelajaran untuk saya dan tentu saya harap, pelajaran itu akan kena untuk pembacanya juga.

Bicara tentang Salman bukan sekedar bicara sekedar menulis buku. Riset, berkhayal, menulis dan lain sebagainya.
Buku Salman ini istimewa. Untuk saya bahkan sangat istimewa.
Di sini saya benar-benar merasa Allah mengangkat beban-beban saya.

An Nahl:7 ﴿
Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
.

Ada dua hal yang mengejutkan untuk saya datangnya. Bersamaan.
Yang pertama ketika saya menginginkan menulis dan diterbitkan oleh penerbit tertentu. Tiba-tiba datang kejutan. Seorang dari penerbit itu menghubungi saya, dan minta saya datang ke kantor mereka, untuk mendiskusikan sebuah naskah.

Yang kedua, ketika saya sedang sedih, karena tidak bisa ikut rombongan umrah keluarga. Saya memang memilih untuk tidak ikut. Alasannya yang Bungsu akan menghadapi ujian. Dan anak-anak sudah terbiasa belajar dengan saya, bukan ayahnya. Di saat itu, saya masih mencoba membuat paspor. Paspor yang beberapa bulan sebelumnya suami buat, hanya perlu menunggu satu hari saja. Pas saya ingin membuatnya, harus menunggu giliran dua minggu lebih. Padahal biro perjalanan minta waktu beberapa hari saja.
Ok menyerahlah saya. Pindah bikin paspor ke kota lain, tidak memungkinkan.

Saya menganggap bahwa ini jawaban, pilihan saya benar. Mengutamakan keluarga.
Tapi mendengar ibu dan kakak adik juga ponakan akan berangkat, saya sedih lagi. Merasa tidak dipilih lagi. Lalu pada satu hari setelah keluarga berangkat. Allah memberikan jawaban. Suami terkena typus. Di situ saya merasa, bahwa saya memang harus tinggal. Tidak ikut berangkat bersama rombongan dan mendampingi Ibu.

Oke saya sudah bisa menata hati.
Dan kejutan dari mampu menata hati itu adalah, telepon dari Gema Insani Press meminta saya, menulis ulang novel anak. Menulis ulang sebebas-bebasnya saya, dari novel anak yang best seller di negaranya. Novel tentang perjalanan umrah.
Kaget? Iya.
Saya seperti diberi penghiburan. Umrah keluarga saya, bahkan bisa bermanfaat banyak untuk saya. Maka telepon, pengalaman, foto dan semuanya sampai video, terus mengalir dari mereka ke hp saya. Ibu bahkan rela mencatat sepanjang perjalanan, apa yang diceritakan oleh travel guidenya.

IMG-20160329-WA0019

Muslim yang baik harus bisa memilih. Itu memang yang saya jadikan kalimat berulang dalam novel tersebut.
Iya, muslim yang baik harus memilih. Saya memilih untuk mengurus keluarga, dan Allah beri jawaban yang indah untuk itu, untuk menghapus beban saya.
Ada banyak godaan yang dihadapi kita sebagai orang dewasa, dan juga anak-anak.

Salman, tokoh anak dalam novel saya, adalah penghafal Al Quran. Abinya juga tentu saja. Dan Abi tidak memiliki telepon genggam yang memiliki fitur seperti game. Padahal ketika umrah, Salman satu rombongan dengan kakak beradik yang hobi sekali main game di telepon genggamnya.

Salman, anak yang mendapatkan hadiah umrah karena menang lomba menghafal Al Quran tergoda. Ia tergoda untuk mulai mencoba main game dengan meminjamnya. Lalu godaan itu meningkat. Hingga akhirnya Salman merasa hidupnya tidak asyik tanpa telepon genggam.
Hingga pada satu kesempatan di depan Kabah, Salman justru ingin sekali berdoa minta diberi game.

Abinya Salman ingin memberi banyak pelajaran memilih pada Salman. Ingin tahu konsekwensi yang didapatkan Salman dengan memilih itu.
Salman pun kehilangan hafalannya ketika ia memilih fokus pada game. Dan Salman merasa bersalah.
Bertambah paham Salman tentang pilihan itu, ketika ia bertemu dengan Kakek Raka. Kakek tua, yang berangkat umrah sendiri.

Nah, kisah kakek Raka yang suka tersesat ini nyata adanya. Kakek tua yang minta agar dia tidak sering ditinggal, karena ia sering lupa.
Ini foto Kakek yang berdiri itu, si Kakek Raka.

IMG-20160403-WA0006

Balik lagi ke Salman, apa yang selanjutnya Salman dapatkan?
Petualangan umrah, bertemu teman baru dan belajar jadi muslim yang bisa memilih.

Buku Salman dan petulangan umrahnya ini, akan mengajak pembacanya paham step by step langkah umrah. Dan perbedaan antara umrah dan haji.
Buku ini adalah perjalanan dari pengalaman batin saya. Dan saya tahu, tidak semua orang bisa mengalami hal seperti saya. Jadi saya harus banyak-banyak bersyukur.

Anak itu Hak Allah

Mbak Liza 2

Tak pernah terpikir olehku, bahwa doa yang kerap kulantunkan begitu gencar akhir-akhir ini akan dijawab Allah Swt dengan cepat. Dalam doaku, aku memohon agar Allah Yang Maha Kaya memberikan keluasan rezeki pada kami sekeluarga dengan rezeki yang halal, berkah dan banyak.

Akan tetapi Allah Swt sungguh tak terduga. Tak lama berselang, aku mulai merasakan datangnya rezeki yang tak terduga itu. Rezeki yang membuatku merasa panik, sekaligus cemas. Karena rezeki kali ini datang dalam wujud tanda-tanda kehamilan. Sebuah rezeki tak terduga dan, sungguh, tak kuharapkan, pada mulanya.
Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini, bahwa diusiaku yang tak lagi muda, aku harus menjalani kehamilan lagi. Ya, aku hamil lagi. Di saat putri sulungku sedang mencecap bangku kuliah, dan adik-adiknya butuh biaya besar untuk melanjutkan sekolah. Sementara satu-satunya sumber penghasilan rutin hanya mengandalkan suamiku yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta.

Seperti kehamilan yang sebelumnya, kali ini pun aku mengalami morning sickness yang melelahkan. Nyaris tak ada aktivitas yang bisa kulakukan selain tidur dan tidur. Aku tidak bisa memasak dan membersihkan rumah seperti biasa. Aku tidak bisa membaca, menulis dan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan lainnya.
Aku bahkan tidak bisa memeluk anak-anakku yang masih memerlukan pelukan. Kondisi fisik yang lemah karena kurangnya asupan makanan, juga sensitivitas hidung yang berlebihan membuatku menjadi sosok paling tak berguna dan menyebalkan sepanjang trisemester pertama kehamilanku.

Kehamilan ini juga membuatku menarik diri dari pergaulan. Baik interaksi di dunia nyata maupun di dunia maya. Aku enggan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kerap terkesan menuduh dan memojokkan. Alih-alih memberi suport yang lebih kubutuhkan, kebanyakan orang terpicu hanya untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan nyinyir yang membuatku tertekan.

Sungguh tak mudah menjalani kehamilan kali ini. Dengan kondisi seperti ini, suport dari teman-teman dekat terasa bagaikan oase bagiku. Mereka tidak hanya menguatkan, namun juga menumbuhkan keyakinan bagiku.
“Anak itu hak Allah,” ujar seorang teman.
Aku terdiam sejenak. Di tengah pergulatan batin antara penolakan dan penerimaan serta rasa cemas akan masa depan anak-anakku, aku seolah ingatkan kembali. Bahwa aku hanyalah seorang hamba yang harus menerima takdir yang ditetapkan atas hidupku. Teringat juga, betapa banyak calon ibu lain yang mendamba anak dan mengusahakan hingga menghabiskan dana yang tak sedikit.
Anak adalah hak Allah. Dzat yang memberikan kehidupan dan rezeki. Atas dasar apa aku merasa berhak menolak kehadiran anak yang tengah kukandung? Bukankah rezekinya sudah ditanggung oleh Dzat Yang Maha Kaya?

*

“Wah, sudah besar ya, Bu?” Dokter kandungan yang cantik itu pun tersenyum lembut seraya menggerakkan jemarinya mengatur posisi tampilan terbaik di layar monitor. Nanar mataku menatap gambaran janin yang tampak sudah terbentuk dengan baik.
“Sehatkah ia, Dok? Dibanding kakak-kakaknya, sepertinya kali ini agak lemah.”
“Sehat, baik. Agak lemah karena faktor usia ibu dan sudah kehamilan ke-7. Kita dengar detak jantungnya ya…”
Dokter memutar sebuah tombol. Seketika itu pula aku mendengar detak jantung yang terasa begitu merdu di telingaku. Keharuan sontak melingkupi hatiku. Maafkan, ibumu, Nak, bisikku pelan. Ibu akan belajar mencintaimu, sebagai anugerah ke tujuh. Karena kau pun berhak dicintai seperti yang lainnya.

Dalam Bulatan Kenangan

donatku

Jika burung-burung bisa bercerita.
Han memandangi piring di depannya. Ada sepuluh donat di sana. Ranti yang membelinya. Sepuluh donat seharga dua ribuan.
“Yang ini lebih empuk dari yang kemarin.”

Yang ini lebih empuk dari yang kemarin, yang itu lebih gurih dari yang kemarin dulu, dan buatan tukang kue sana lebih enak dari tukang kue sini.
Burung-burung kenari jantan berkicau. Tapi si betina nampaknya tidak tertarik pada kicauan si jantan. Mungkin sama dengan tidak tertariknya Han melihat tumpukan donat itu.

“Aku suka, kok.”
Tangan Ranti memasukkan donat itu ke dalam mulutnya. Donat ditaburi coklat dan kacang.
Han menggeleng. Kopi di meja sudah menjadi dingin.
Pagi ini mendadak dingin sekali. Ia jadi ingin mengambil jaket tebal, lalu tenggelam dalam pelukan hangat seorang bermata jernih.

“Haaan…,” Ranti merajuk.
Han menepuk perutnya. Mendadak ia merasa perutnya menjadi penuh.
Mungkin nasib donat di piring itu akan sama seperti donat yang lain. Ranti akan berteriak memanggil anak tetangga. Atau Ranti memberikannya pada kambing, juga ayam di tanah kosong sebelah rumah.

Pagi ini dingin sekali.
Han memandangi ke luar jendela. Masih banyak kabut. Mulai mendung.
Ia tersenyum sendiri.
Pada pagi yang diselimuti kabut tebal, ia akan mendengar suara dari dapur. Entah itu suara cobek yang saling beradu. Atau suara sesuatu yang dimasukkan ke dalam minyak goreng.

“Ibu bisa buat seperti ini?” tanyanya pelan. Menunjukkan sebuah gambar yang ia dapat di sekolah.
Ibu memandangi.
“Di warung sekolah dijual. Tapi yang ini lebih enak.”
Poster itu Han dapat dari temannya, yang katanya baru membeli donat itu di kota. Donat empuk. Di atasnya ada banyak coklat, bukan cuma coklat tabur.
Ada coklat dan juga kacang. Ada donat tanpa lubang yang ketika Han gigit, terasa buah yang belum pernah Han rasa. Teman Han bilang, itu rasa blueberry.
“Ibu bisa?”
Ibu mengangguk.

Han percaya Ibu pasti bisa. Ibu selalu bisa.
Maka pada suatu pagi yang riuh, Han terbangun.
“Ibu sudah dapat bahannya. Semalam titip sama tetangga sebelah. Semuanya beli di kota. Tapi Ibu utang dulu.”
Han melihat bahan-bahan itu. Bibir Ibu tersenyum.
Ibu sering bercerita ketika muda dulu, suka sekali membuat kue. Tapi setelah menikah, Ibu tidak boleh banyak-banyak membuat kue. Ibu bilang karena Bapak akan sakit kalau banyak makan kue. Tapi Han tahu, bukan itu. Bapak akan marah kalau uang yang Bapak beri cepat habis.

“Ibu bikin cara yang gampang, ya. Kamu juga bisa.”
Han mengangguk. Mengambil satu wadah.
Ada terigu, mentega, garam, gula, susu, ragi instant diaduk perlahan.
Lalu Ibu memasukkan dua butir telur dan diaduk lagi. Setelah itu Ibu masukkan mentega dan diaduk lagi.
“Ibu tidak punya timbangan.”
Han mengangguk. Ibu tidak perlu timbangan. Ibu selalu bisa mengukur semuanya dengan tepat.
“Ambilkan sedikit air.”
Han mengambil sedikit air untuk membuat adonan yang ada di wadah, yang telah bercampur rata, menjadi lebih lembut.
Han melihat Ibu membanting adonan itu beberapa kali. Ada urat-urat di punggung tangan Ibu yang semakin jelas terlihat.
“Donat ini untuk teman-teman kamu nanti.”
Han mengangguk.
Ibu bilang, adonan itu akan mengembang beberapa kali lipat. Menjadi besar dan besar.

“Haaan…”
Suara Ranti.
“Donatnya masih kurang enak, kah?”
Kali ini Han menarik napas panjang.
Ketika adonan itu sudah mengembang, Ibu membaginya. Mengajak Han membuat bulatan. Menekan bulatan itu di sebuah tempat. Lalu menyerahkan tutup botol pada Han.
“Letakkan di tengah, biar jadi lubang.”
Han mengikuti.
Iya. Seperti itu bentuknya. Seperti yang dibeli temannya.

Ketika semua sudah terbentuk, Ibu memanaskan minyak di wajan. Lalu memasukkan donat satu persatu. Ketika warnanya sudah berubah kecoklatan baru diangkat.
Belum.
Han belum boleh mengambilnya. Belum bagus bentuknya. Begitu yang Ibu bilang.
Lalu Ibu menunjuk selai coklat di dalam wadah plastik. Ibu memanaskan wajan lebih kecil. Mencampur selai coklat dengan mentega.
Setelah tercampur dan masih hangat, Han boleh mencelupkan permukaan donat ke dalam coklat itu.
Ibu memarut keju. Ibu bilang parutan itu baru Ibu pinjam juga. Lalu donat yang sudah dilumuri coklat itu, ditaburi keju. Han memilih taburan coklat mesis. Han harus menahan ludahnya agar tidak ke luar. Rasanya Han ingin cepat-cepat memakannya.

“Ada empat puluh donat. Bagi untuk teman-teman kamu, ya. Cuma ini hadiah ulang tahun yang bisa Ibu beri.”
Han menunduk.
Memeluk Ibu.
“Hush. Sudah. Tidak boleh cengeng. Ibu bau keringat.”
Han tertawa.
Donat itu akan ia bawa, lalu akan ia katakan pada yang lain, bahwa Ibu hebat. Ibunya bisa masak makanan kota.
“Hmm, kamu tidak usah jajan, sampai utang bahan donat itu lunas, ya?” ujar Ibu.
Han mengangguk.

Kabut di luar masih tebal. Kabut itu seperti menariknya pada masa puluhan tahun yang lalu. Sampai seseorang mengejutkannya.
“Kamu….”
Ranti menepuk bahu Han.
“Donatnya mau cari tukang yang lain lagi?”
Han menggeleng.
“Aku sebenarnya tidak suka donat. Belikan aku getuk lindri saja,” ujarnya berjalan meninggalkan Ranti.

Tidak akan ada donat seperti donat buatan Ibu.
Mungkin ia hanya sedang merindu dan menikmati kenangan.
Kabut di luar semakin tebal. Kali ini gerimis mulai turun.

Tips Menjadi Penulis yang Kreatif

aku-1-copy

“Ibu gambar lagi? Ampun, deh.”
Itu kalimat yang meluncur dari mulut anak-anak. Menggambar, kebiasaan lama yang dulu saya suka, dan saya tinggalkan. Ada banyak gambar. Hanya memakai pensil saja. Sudah saya hibahkan ke tukang loak, karena merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan gambar karya suami.

Tapi belakangan ini, saya butuh sesuatu yang lain selain menulis.
Anak-anak tetangga yang belajar di rumah, perlu sesuatu yang lain. Yang membuat mereka bergairah untuk belajar dan mencintai kehalusan seni.
Jika menulis membuat mereka kesulitan, maka keahlian lain yang saya miliki tentu bisa membuat mereka betah berlama-lama tanpa menyangka kalau mereka sedang belajar.

Maka membuat roti hal yang dulu saya anti, justru menjadi sesuatu yang saya suka saat ini. Melipat, menggulung, membuat aneka macam bentuk ternyata menjadi sensasi berbeda. Apalagi ilmu itu bisa saya terapkan dalam menulis. Saya bisa menulis cerita tentang roti. Dan tentunya akan lebih hidup, karena berdasarkan pengalaman nyata.

aku-3

Penulis harus tahu apa yang ditulisnya. Harus riset. Itu yang selalu saya katakan berulang kali, kepada murid-murid menulis saya. Jangan berpikir bahwa hanya dengan berkhayal, maka kita akan bisa terus menulis. Sekali dua kali mungkin bisa. Tapi selebihnya tulisan tidak akan ada peningkatan.

Bersyukur saya punya Ibu yang pandai menjahit. Dan sekolah dulu mewajibkan siswanya pelajaran tata busana. Jadi saya tahu pola-pola dasar. Dan itu membuat saya tahu, ketika membuat tulisan tentang penjahit atau alat jahit.
Bersyukur saya punya Bapak yang serba bisa. Bapak pernah jadi guru di sekolah, Bapak jadi imam di masjid, Bapak pintar membuat kerajinan, Bapak bisa mengetik sepuluh jari dengan cepat, Bapak menguasai bercocok tanam, bahkan Bapak tahu bagaimana mengobati putra-putrinya ketika sakit. Bukan asal obat. Tapi kucuran ilmu dari teman-teman kerjanya yang rata-rata dokter, membuat Bapak paham ilmu kedokteran.
Dan kucuran ilmu dari Bapak itu membuat saya bersyukur, karena paling tidak saya tahu sedikit lebih banyak, tanpa perlu masuk ke sekolah ini dan itu.

Okelah itu karena saya memang beruntung. Terus bagaimana dengan penulis yang kurang beruntung, alias tidak memiliki orangtua kreatif dan lingkungan yang mendukung?

Penulis itu harus berjuang menjadi kreatif sendiri.
Mulailah dengan mencoba hal-hal kecil.

1, Mewarnai gambar contohnya. Sekarang banyak gambar-gambar di interntet yang belum diwarnai. Tingkat kerumitannya juga macam-macam. Pilih satu gambar dan warnai. Nikmati. Dari situ bisa kita menulis sebuah cerita tentang mewarnai gambar.

2. Bercocok tanam. Jangan anggap sepele bercocok tanam. Karena melihat pohon tumbuh, rontok atau mati, itu sensasi sendiri dan jadi pengalaman sendiri, yang tentu saja bisa ditulis.

3. Belajar menjahit atau merajut. Memasukkan benang ke dalam lubang jarum, dan mengetahui ukuran jarum dan benang saja, juga merupakan ilmu baru yang bisa ditulis.

4. Memelihara binatang juga sama. Akan memancing kreativitas. Tingkah laku binatang peliharaan, tingkat kedekatan kita dengan binatang, bisa menjadi rangkaian cerita yang akan menyentuh pembacanya.

5. Menggambar. Iya menggambar apa saja. Mulai dari hal kecil. Mulai dari meniru dulu. Lama kelamaan, akan muncul ide baru di benak kita. Kalau tangan sudah terlatih, maka gambar itu sendiri sudah jadi rangkaian cerita.

6. Memasak tentu saja. Aroma bumbu masak, cara pengolahan, cara penyajian, akan membuat kita kehujanan banyak ilmu. Dan itu bisa dijadikan tulisan yang bermanfaat untuk orang lain.

Masih banyak tips lainnya.
Cobalah mulai dari sekarang, dan jangan ditunda.

Pada Senja yang Rapuh

2017-2

Pada sebuah senja di depan jendela, Ren mengerjapkan kedua kelopak matanya. Jalan setapak berujung pada kelokan yang tidak lagi tertangkap mata, membuat ia harus menarik napas berkali-kali.
“Kapan ia akan datang?”
Ren tersenyum. Menangkap suara yang datang bersamaan dengan suara lain. Kursi tua yang terlihat baru saja digeser.
“Kapan?”
Ia akan datang pada setiap senja pada awalnya. Lalu pelan tapi pasti, ia tak lagi tampak.
“Sudah ada satu plastik terigu.”
Ren menoleh. Ada si Mbok tampak terpekur memandangi lantai tanah. Lantai tanah yang Mbok bilang tidak perlu diganti, sebab Mbok tidak ingin terpeleset di lantai keramik.
Ia akan datang. Seharusnya lelaki itu datang. Lalu menyerahkan sebungkus kopi. Mbok biasanya akan bersemangat menyeduhkan untuknya. Dan Ren akan sibuk mengolah adonan terigu di dapur.

2017-3

“Roti yang berbeda,” katanya pada Ren pada suatu senja, setelah sebuah mobil bak terbuka menurunkan kulkas ukuran kecil untuk Ren. Mbok tertawa menyambutnya. Lalu bicara tentang banyak kue yang akan Mbok simpan di dalamnya. Dan pada hari pertama kulkas itu diisi, Mbok mengisinya dengan banyak macam barang yang seharusnya ada di lemari makan. Dari mulai gula sampai teh.

Roti yang berbeda.
Yang Ren tahu adonan roti yang ia dapatkan di tempatnya dulu. Terigu, gula, mentega dan ragi, juga susu. Hanya itu.
Tapi lelaki dengan bibir mengembang penuh senyum itu menyodorkan yang lain pada Ren. Katanya Ren harus tahu rasanya. Katanya kalau Ren bisa, maka akan ia buatkan sebuah toko kue di kota.
Ren merasakannya. Roti renyah dengan berbentu seperti keong. Mbok berteriak asin, ketika gigi tuanya menggigit irisan keju.
“Croissant namanya.”
Ren tahu, ini berbeda. Lidahnya seperti menari-nari ketika merasakan renyahnya roti memasuki rongga mulutnya.
“Zee tahu cara membuatnya.”
Zee tahu cara membuatnya. Kening Ren berkerut. Zee. Nama itu kembali dihadirkan. Zee tahu resepnya. Zee, seorang gadis yang punya toko roti di kota.
Kadang-kadang Ren menyesali panggilan keluarganya untuk kembali di rumah. Menjaga si Mbok yang sudah mulai pikun. Lalu sebagai bungsu yang patuh, ia harus pulang. Harus pulang sampai Ken melamar untuk jadi istrinya.

Ada adonan pasta mentega.
Maka Ken berikan setumpuk resep. Satu resep tulisan tangan. Itu tulisan tangan Zee. Croissant Zee paling laris. Ren bisa melihat wajah Ken penuh dengan senyum.
Pasta mentega buat dengan butter bukan margarine. Di desa tidak ada butter, Ken membawakannya. Sebuah kaleng kecil berharga lebih dari limapuluh ribu.
Ren harus mencampurnya dengan sedikit terigu. Sebelumnya harus memasukkan ke dalam kulkas, karena ketika kaleng dibuka, butter akan mudah mencair di tangan Ren.

Butter namanya. Ren mencium aroma susu. Menggoda selera.
“Kamu pasti bisa.”
Ren pasti bisa. Ren ingin bisa. Lalu melihat wajah Ken tersenyum sambil berkata, kamu hebat.
Butter dicampur dengan terigu, tambahkan sedikit margarine agar tidak terlalu cair.
Satu kaleng kecil butter gunakan separuh saja, tambahkan separuh lagi dari margarine. Campur dengan sesendok atau dua sendok makan terigu. Aduk rata dan bentuk menjadi persegi panjang. Bungkus plastik simpan di kulkas.

“Aku sudah ndak sabar,” begitu kata si Mbok.
Ada adonan lain.
Ren harus mencampur dua kuning telur dengan seperempat terigu. sedikit garam, sedikit gula, juga 180 ml air. Ken membelikan gelas ukuran itu, katanya seperti yang Zee pakai.
Aduk adonan kedua dengan tangan. Hingga tercampur. Lalu masukkan ke dalam plastik, tutup rapat, dan diamkan di kulkas semalaman. Iya semalaman lebih enak. Tapi Mbok tidak sabar. Ken bilang 30 menit tidak apa-apa.

Ren hanya perlu menyiapkan wadah lebar untuk menggilas adonan kedua. Ren tahu Mbok punya tempat minum dari plastik. Maka Ren menggunakan untuk menggilasnya. Wadah rata ditaburi terigu, lalu letakkan adonan kedua di atasnya. Giling hingga rata. Lalu ambil adonan pasta mentega di tengahnya. Lipat hingga adonan pasta tertutup rapat. Gilas lagi menjadi rata.
“Kapan?”
Ren memasukkan kembali adonan itu ke dalam kulkas setelah melipatnya.
“Sabar,” ujarnya menenangkan si Mbok, lalu menyodorkan pisang goreng pada si Mbok.
“Aku mau yang asin.”
Ren tahu asin yang Mbok maui sekarang bukan garam. Tapi keju.

Ada banyak senja.
Dan senja ini Ren mengeluarkan adonan dari dalam kulkas untuk menggilasnya kembali menjadi rata. Adonan pasta mentega ke luar dari lipatan, Ren harus berjuang membuat lipatan agar adonan pasta itu benar tertutup dan tidak bocor ke luar.
Tangannya licin.

Ada oven di atas kompor yang sudah menyala.
Adonan yang sudah digiling menjadi rata itu, Ren bagi menjadi beberapa bagian.
Gilas bagian kecil itu hingga rata. Lalu masukkan isi pisang, keju juga coklat. Ren membentuk sesuai dengan apa yang ia inginkan dengan bermacam angan berkelebat di benaknya.

“Yang asin.”
Ren terus menggilas.
Adonan yang digilas rata dipotong berbentuk segitiga. Diisi dengan irisan keju. Lalu digulung pelan tapi pasti.
Adonan lain berbentuk wajah dengan air mata.
Lainnya ia gulung sesuka hati.

Oven sudah memanas.
Adonan sudah semua dibentuk. Ren memasukkan ke dalam oven.

kue-nur

Pada senja yang menurunkan tetes hujan, adonan roti sudah Ren siapkan. Juga secangkir kopi. Tidak terlalu pahit. Campurkan sedikit susu. Itu selera Ken.
Mbok menikmatinya.
Ren juga.

“Kapan dia datang?”
Ren memandangi jalan setapak berkelok di kebun bambu. Kemarin tukang pos datang ke tempatnya. Sebuah undangan merah jambu diserahkan padanya.
Ada nama Ken dan Zee di sana dengan foto bersama. Mereka akan menikah.
Alangkah pintarnya Ken menyimpan rahasia. Atau Ren terlalu bodoh untuk memahami?
Tidak ada kalimat lain.
Tapi undangan itu langsung Ren masukkan ke dalam kompor yang menyala.

“Enak. Kapan Ken datang?”
Pada senja yang rapuh, Ren berjanji ini roti terakhir yang ia buat. Setelah itu ia tidak mau lagi tenggelam di dalam kenangan.

Resolusi Tahun Baru untuk Penulis. Perlu, kah?

2016

Akhirnya, tahun baru datang juga.
Akhirnya. Meskipun saya juga tidak terbiasa merayakan pergantian tahun. Karena sejak dulu dalam didikan Bapak, tidak suka acara ramai-ramai.

Hitungan tahun sudah berganti.
Artinya apa? Artinya usia kita bertambah tua. Artinya untuk saya anak-anak bertambah besar. Biaya pendidikan mereka juga semakin besar. Tenaga untuk menjaga mereka dengan doa dan nasihat juga akan semakin banyak.

Ada resolusi. Biasa dibuat oleh orang yang punya target tahunan. Perusahaan biasanya yang membuat hal ini. Tujuannya untuk mengukur kinerja perusahaan, keuntungan plus kerugian. Karena itu setiap menjelang akhir tahun, bagian keuangan pasti sibuk.

Sebagai penulis, ada banyak yang harus ditulis. Ada ide yang akan menguap jika tidak ditulis. Ada banyak hal, yang akan hilang momentum jika tidak ditulis. Jadi resolusi untuk saya sebagai penulis, tidak perlu.

Resolusi Harian

oke-8

Ada banyak penerbit, yang terus-menerus membutuhkan naskah.
Ada blog yang terus-menerus harus diisi, karena penulis tidak boleh menutup mata dengan perkembangan zaman.
Memang di saat yang sama, ada media-media cetak yang satu-persatu gugur. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti menulis.

Gugur satu tumbuh seribu, itu berlaku untuk dunia menulis.
Media cetak gugur, digantikan dengan media online yang jumlahnya tidak terhitung. Tapi perjuangan hidup yang ssungguhnya itu, bukan pada saat kesempatan terbuka luas. Kreativitas justru banyak yang tumbuh dari situasi terjepit.

Ketika ruang menulis tertutup, blog bisa dioptimalkan. Ada banyak perusahaan yang sekarang fokus mencari blogger untuk dioptimalkan. Ketika penerbit-penerbit konvensional bertambah ketat seleksinya, ada penerbit-penerbit online yang gencar mencari penulis.
Ada ruang terbuka untuk penulis mencari kesempatan, bukan hanya terpaku pada interaksi di sosial media, dan berebut rezeki dari sana.
Internet memudahkan penulis. Optimalkan hal itu. Memang tidak seramai sosial media, tapi itu justru lebih optimal.

Jadi soal resolusi untuk tahun baru?
Kalau saya setiap hari terus-menulis. Tidak fokus pada pergantian tahun, tapi pada pergantian hari.
Saya yakin sudah hukum alam, siapa yang terus bekerja, itu yang akan sering menuai hasilnya.

Terri Anjing dan Shepy Domba

terrianjingshepydombapic

Shepy Domba melihat ke arah Terri si anjing gembala. Huh, Shepy Domba mendengus. Enak sekali si Terri itu, kata Shepy Domba dengan kesal. Terri si anjing gembala duduk di bawah pohon yang rindang. Ia duduk di sebelah pak Tom. Sesekali, tangan pak Tom mengelus kepala Terri. Uh, pak Tom lebih menyayangi Terri, kata Shepy Domba dalam hati.
Shepy Domba dan rombongannya sedang makan rumput di tengah ladang. Panas matahari menyengat. Shepy Domba yang kepanasan jadi semakin sebal. Ia ingin berteduh seperti Terri. Tapi setiap Shepy Domba keluar dari kelompoknya untuk mencari tempat yang teduh, Terri selalu berlari dan menyuruhnya kembali. Terri selalu menyalak dengan ribut, bila ia tidak bergabung lagi dengan saudara-saudaranya. Suara salakan Terri itu selalu membangunkan pak Tom. Nah, Pak Tom lalu menggiringnya kembali ke tempat berkumpul domba-domba yang panas itu. Huh, Shepy Domba benar-benar jengkel dibuatnya.
***
Pagi itu pak Tom kembali membawa rombongan dombanya ke padang rumput. Seperti biasa, Terri dengan gembira membantu pak Tom menggiring domba-dombanya. Ia berlari di depan domba-domba itu. Pak Tom menjaga barisan domba di belakang. Kadang-kadang Terri berlari ke belakang. Ia mengelilingi pak Tom, lalu balik berlari di samping domba-domba itu.
“Selamat pagi semuanya. Nanti jangan terpencar ya.” Terri Anjing sibuk mengingatkan semua domba.
Debi Domba yang ada di depan rombongan mengangguk dengan senang. “Tentu saja,” sahutnya. Terri senang. Ia berlari lagi di depan.
Shepy Domba mendengus. Debi Domba mengernyitkan dahinya. Ia mendekati Shepy Domba. “Sebaiknya engkau tidak jauh-jauh.” Debi Domba memandang dengan serius.
“Sebaiknya tetap berkumpul. Di pojok padang yang rumputnya tinggi itu ada ular. Bahaya.” Dibo Domba mengingatkan. Terri kemarin memeriksa ke tempat yang rumputnya tinggi. Lalu ia memberi tahu Dibo kalau ada bahaya di tempat yang rumputnya tinggi.
“Tapi di tempat kita makan rumput itu panas. Kenapa tidak makan rumput di tempat teduh saja?” Shepy Domba merengut. Tapi, ia tetap mengikuti kawan-kawannya walaupun dengan bersungut-sungut.
***
Setelah memastikan semua domba-domba berkumpul di satu tempat, Terri kembali duduk di sebelah pak Tom. Ia duduk dengan tenang. Pak Tom yang menunggu ternak dombanya itu terkantuk-kantuk. Tak lama kemudian Pak Tom pun tertidur.
Terri mendatangi domba-domba yang sedang merumput. Ia memastikan semua masih berkumpul bersama. Lalu, ia kembali menjaga pak Tom. Ia melakukannya beberapa kali.
Tengah hari, matahari tepat di atas mereka. Shepy Domba mulai kepanasan. Ia melihat daerah yang rumputnya tinggi. Uh, disana pasti aku lebih cepat kenyang, pikirnya. Rumputnya lebih lebat. Lagipula rumput disana lebih gemuk. Shepy Domba ingin cepat kenyang jadi ia bisa cepat istirahat. Ia iri dengan Terri yang istirahatnya banyak. Istirahat di tempat teduh, tentu saja amat nyaman. Ia melihat Terri yang ada di bawah pohon. Ia cemberut.
Shepy Domba melanjutkan makan rumput. Tapi, ia selalu mengamati Terri. Ia bertekad akan makan rumput yang panjang itu. Rumputnya lebih besar-besar. Pasti enak, pikir Shepy Domba. Ia mengamati Terri dengan seksama. Ia menunggu kesempatan untuk pergi ke tempat yang rumput-rumputnya tinggi.
Saat Terri sedang menengok ke arah lain. Shepy Domba menyelinap pergi dari rombongan. Ia cepat-cepat menuju bagian padang rumput yang rumputnya tumbuh lebih tinggi. Ia berlari dengan semangat. Ia sudah ingin segera mencicipi rumput yangnampak hijau dan lebat itu.
Shepy Domba yakin tempat itu aman baginya. Terri Anjing hanya tidak mau membiarkan mereka makan enak saja. Apalagi sambil berteduh. Huh, pasti Terri tidak suka kalau domba-domba makan enak.
Shepy Domba segera melahap rumput-rumput yang gemuk itu. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Rumput-rumput itu memang enak dan mengenyangkan. Shepy Domba mendengar suatu gemerisik. Sepertinya ada sesuatu yang bergerak halus. Ia mengamati sebentar. Tapi ia tidak melihat apa-apa. Shepy Domba melanjutkan makannya.
Tiba-tiba Shepy Domba melihat mata yang berkilat-kilat tak jauh darinya. Ia berhenti mengunyah. Oh, seekor ular dengan kepala yang lebar. Ular itu badannya tegak dan menjulur-julurkan lidahnya. Ia ingat kata Dobi, ular yang kepalanya lebar itu berbisa. Aduh, seram.
Shepy Domba berteriak kaget. Ia takut. Ia tak dapat bergerak. Shepy Domba gemetar.
Tiba-tiba terdengar Terri berteriak, “Pergi. Jangan ganggu domba ini.” Terri mendekati ular itu dari samping. Terri berusaha menggigit ular itu di lehernya. Terri menyalak sambil berusaha melindungi Shepy Domba. Ular itu memutar kepalanya ke arah Terri. Sekarang ular itu berusaha menyambar Terri. Terri melompat menghindar.
“Larilah, Shepy. Cepat,” teriak Terri sambil tetap menatap ular itu. Sekali lagi Terri maju untuk menggigit ular itu. Sekarang, Terri dan ular itu saling berhadap-hadapan.
Shepy Domba yang masih kaget itu akhirnya tersadar. Ia berlari secepat-cepatnya ke gerombolan teman-temannya. Ia berlari tanpa menoleh lagi.
***
Sore itu, domba-domba berkumpul di dalam kandang. Mereka mengelilingi Shepy Domba. Shepy Domba masih agak gemetar. Debi Domba berusaha menenangkannya.
Shepy Domba gelisah. Ia belum melihat Terri Anjing. Ia khawatir Terri terluka. Shepy Domba berkali-kali menoleh ke pintu pagar. Tak lama kemudian, Terri datang ke samping kandang. Ia ingin melihat Shepy Domba.
“Shepy, kamu baik-baik?” Terri kelihatan cemas.
Shepy berlari ke pinggir kandang. Ia minta maaf dan lain kali akan makan rumput di dekat yang lain. Ia tahu kini, Terri bermaksud baik. Terri ingin memastikan semua domba selamat.

Terri mengangguk. Ia tersenyum. Shepy Domba lega. Senyumnya mulai mengembang. Ia tak mau lagi jauh-jauh dari Terri bila ke padang rumput.

Monster Pino di Candi Gedong Sono

k-tyas

Sore itu, Sekar masih sibuk chatting dengan Arum. Sekar sedang semangat menanyakan tentang Candi Gedong Songo. Ya, mereka sekeluarga akan berwisata ke sana besok pagi. Arum, sepupunya itu, sudah pernah kesana. Arum menceritakan tentang bagaimana serunya naik kuda menuju candi-candi tersebut. Wah, Sekar tak sabar rasanya ingin segera sampai di sana. Sebenarnya, ia agak takut naik kuda. Uh…., bagaimana kalau jatuh dari kuda, katanya dalam hati. Pasti sakit, tak sadar Sekar meringis. Ia membayangkan sakitnya jatuh dari kuda. Hiii….., seram juga kalau jatuh dari kuda, pikir Sekar.

“Candi Gedong Songo itu di gunung ya ibu?” Sekar bertanya kepada ibu. Ia teringat cerita Arum. Ada hutan pinus, ada sumber air panas. Hutan pinusnya lebat, kata Arum. Arum naik ke lereng gunung. Ia naik kuda.

“Iya…., candinya ada sembilan. Letaknya tersebar di lereng gunung Kendalisada, anak gunung Ungaran, makin lama makin naik ke atas letak candinya,” ibu menjawab dengan tenang.

Sekar membayangkan candi-candi yang tersebar di lereng gunung. Pemandangannya pasti indah, katanya dalam hati. Sekar ingin segera berangkat. Ia tak sabar menanti hari esok. Lagipula, Arum juga bilang udaranya sejuk sekali. Uuuhh…., rasanya ingin cepat-cepat pagi hari.

***

Pagi itu Sekar bangun dengan semangat. Ia ingin segera berangkat. Ia senang jalan-jalan dengan ayah dan ibu. Dengan cepat, Sekar bersiap-siap. Mereka akan berangkat pagi-pagi. Perjalanan dari Semarang akan memakan waktu kurang lebih dua jam.

Sekar menuju dapur dan bersiap-siap untuk sarapan. Ibu memberikan sebungkus pecel pincuk. Nasi pecel yang dibungkus daun pisang itu makanan kesukaan Sekar. Biasanya ibu membuat nasi goreng untuk sarapan. Horeee…., pecel pincuk, kata Sekar dalam hati. Ia senang.

“Ini pecel pincuk Mbok Darmi, bu?” Sekar mulai menyendok nasi pecel itu. Ibu mengangguk. Mbok Darmi membuka warung pecel. Rumahnya hanya berjarak dua rumah dari tempat mereka.

“Nanti kalau sudah selesai, tolong Sekar bereskan meja makan. Lalu semua sampahnya dibuang ke tempat sampah di depan ya.” Ibu membereskan tas bekal yang akan dibawa. “Jangan sampai berserakan membuang sampahnya. Supaya rumah kita bersih waktu kita tinggal pergi.”

Sekar ingat, hari ini pak sampah akan mengambil sampah di daerah mereka. Pak sampah lewat tiga kali dalam seminggu. Lingkungan di sepanjang jalan mereka memang bersih dan nyaman.

Tak lama kemudian, ibu dan ayah telah siap berangkat. Mereka menunggu Sekar. Sekar buru-buru menyelesaikan sarapannya. Lalu, ia segera mengumpulkan semua bekas sarapan. Sekar melemparkan bungkusan sampah itu ke samping kotak sampah.

“Nanti khan pak sampah akan memungutnya. Hari ini jadwal angkat sampah.” Sekar lalu segera berlari ke mobil ayah yang sudah siap berangkat.

***

Sepanjang perjalanan Sekar sibuk melihat ke jalan. Kadang-kadang ia bertanya ke ibu. Ia tak sabar. Uh…., lama sekali perjalanannya, katanya dalam hati. Sekar sudah mulai bosan melihat pemandangan di jalan. Ia mulai mengantuk. Ia teringat sampah yang ia buang di samping kotak sampah. Dibongkar kucing apa tidak ya, tanyanya dalam hati. Semoga pak sampah tepat waktu. Kalau tidak, bungkusan itu bisa berserakan diaduk-aduk kucing. Akhirnya, ia tertidur.

Sekar terbangun. “Oh…., gunungnya tinggi sekali. Hutan pinusnya lebat.” Sekar lalu sibuk memilih kuda yang akan ditungganginya. Ia pilih kuda coklat. Kudanya tinggi dan besar. Ekornya yang panjang berwarna hitam. Ada seleret warna putih di atas hidungnya. Ah….., kudanya gagah sekali.

Sekar menaiki kudanya yang berjalan pelan-pelan. Tadinya, ia agak takut naik kuda. Ternyata naik kuda menyenangkan. Ikuti saja irama langkah kuda. Jadi terasa nyaman nail kudanya. Ia tidak takut lagi. Kudanya masih berjalan pelan-pelan. Ia jadi mengantuk. Waduh…, kapan sampainya kalau begini, katanya dalam hati. Ia tak sabar. Ia menepuk perut kuda dengan kakinya. Kuda itupun melesat ke arah kiri. Masuk ke hutan pinus yang lebat. Sekar senang. Ia tertawa.

Kuda itu berlari masuk semakin dalam ke hutan. Sekar mulai cemas. Ia mulai takut. Kuda itu menerobos pepohonan yang berdahan rendah.” Aduuuhhh….., bagaimana cara menghentikan kuda ini.” Sekar mengangkat sebelah tangannya untuk melindungi wajahnya. Plaaakk…. Ia menabrak ranting. Sekar terpelanting. Ia jatuh telungkup. Uhh….., sakitnya.

Ia berusaha bangun. Lalu, ia merasakan bumi berguncang. Bum…. Bum…. Bum…. Diikuti suara geraman yang berat. Ia melihat bayangan tangan berkuku panjang hendak meraihnya. Sekar takut sekali. Ia membalikkan badannya. Matanya membelalak, mulutnya ternganga. Ia tak bisa berkata-kata. Lidahnya membeku.

Ia berhadap-hadapan dengan mata yang merah menyala. Makhluk itu tampak sangat marah. “Jangan kau kotori hutan pinusku ini. Buang sampah di tempatnya.” Mulutnya menyeringai. Dan tampaklah giginya yang besar dan panjang.

“Ka…..ka… kau… si..apa..?” tanya Sekar gemetaran. Ia benar-benar takut sekarang.

“Aku Monster Pino. Aku penjaga hutan yang indah ini.” Mulutnya masih menyeringai. Ia tinggi seperti pohon pinus. Tapi sangat menyeramkan.

“Jangan buang sampah sembarangan.” Kali ini alisnya mengkerut seperti halilintar di siang bolong. Ia mengangkat kedua tangannya. Jari-jarinya yang panjang, sungguh sangat menyeramkan.

“Mmmm….. Aa…aa…aku akan membuang sampah di…di… di tempatnya.” Sekar terbata-bata menjawab. Ia ingin menangis. Aduuuhhh……, dimana ayah dan ibu, katanya dalam hati.

“Sungguh….., aku berjanji tidak akan buang sampah sembarangan lagi.”

Makhluk itu mencengkeram Sekar dan menggoyang-goyangkannya. Sekar menutup matanya. Ia ketakutan.

Lama-kelamaan goyangan itu terasa semakin lembut. Sekar membuka matanya. Ia melihat ibu

sedang tersenyum. Ibu menggoyang bahunya. “Bangun Sekar.”

“Ibuuu….” Sekar berteriak sambil memeluk ibunya. Ibu memeluknya kembali dengan heran.

“Kita sudah sampai. Lihatlah…., pemandangannya indah. Nanti kita akan naik ke atas.” Ibu menunjukkan lereng gunung Kendalisada.

Sekar mengusap-usap matanya. Ia celingukan mencari Monster Pino.

“Sekar mencari apa?” tanya ibu dengan lembut. “Tadi Sekar tertidur sepanjang perjalanan. Mungkin Sekar kecapaian, tadi malam kurang tidur.”

“Eh…., iya bu.” Sekar mengernyitkan dahinya. Oh, rupanya aku bermimpi, katanya dalam hati. Ia lega. Ia memikirkan mimpinya. Lalu ia menghembuskan napas.

“Ibu….., Sekar minta maaf.” Sekar meremas-remas tangannya. “Tadi buang sampahnya tidak di kotak sampah.” Lalu ia menunduk.

“Tadi Sekar bermimpi didatangi monster Pino yang marah. Buang sampah tidak boleh sembarangan, katanya.” Ibu memeluk Sekar dan mengelus rambutnya.

“Sekar janji tidak akan buang sampah sembarangan.” Ya, Sekar tidak mau mengotori lingkungannya lagi. Ia mengerti itu tidak baik.

***

“Ayo….. Lihatlah, pemandangan disini indah. Udaranyapun sejuk karena kita berada di lereng gunung.” Ibu membujuk Sekar untuk menikmati pemandangan yang ada.

Sekar melihat lereng gunung yang hijau. Ada kabut tipis yang menggayut di langit. Wah…., indahnya. Warnanya yang hijau menyejukkan mata, batin Sekar. Kabut itu membuat suasananya menjadi tenang dan misterius. Hm…., udaranya benar-benar sejuk. Matanya berbinar-binar. Ia mencari-cari candinya. Wah, candi yang terendah letaknya masih naik lagi dari situ. Letak candi satu dengan lainnya saling berjauhan. Dan makin lama letaknya makin tinggi, naik ke atas gunung.

Sekar bahagia sekali. Ia tersenyum. Ada banyak pengalaman berharga yang ia dapat hari ini.