Memahami Cita-Cita Anak yang Aneh

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman ayat 13)

Tidak ada cita-cita anak yang aneh. Itu yang selalu saya endapkan dalam hati.
Karena saya sering berinteraksi dengan banyak orang yang bahkan sejak kecil tidak punya cita-cita.
Anak-anak boleh punya cita-cita apa saja. Tugas saya menerima apa yang mereka anggap sebagai cita-cita. Mengarahkan. Bukan malah mematahkan hanya karena merasa cita-cita itu tidak bisa membuat mereka menjadi kaya di dunia. Orangtua harus terlibat dalam pendidikan karakter anak. Dan setiap rumah adalah awal sekolah untuk anak.

Ketika menjadi relawan mengenalkan profesi di kelas inspirasi, saya berhadapan dengan anak-anak yang membawa cita-cita sebagai guru, dokter, insinyur. Cita-cita yang puluhan tahun lalu juga biasa muncul dari mulut teman-teman saya. Ketika anak-anak itu mengetahui ada profesi bernama penulis, sutradara dan yang lainnya, mulut mereka ternganga. Mereka seperti tidak percaya.

Semua berhak berimajinasi dengan cita-citanya. Setiap anak ingin mencoba dan mendapat pengalaman. Orangtua harus selalu siap untuk mendampingi. Seperti yang tertulis di sini

Ke tempat pemadam kebakaran dan melihat mobil pemadam kebakaran, sudah pernah saya lakukan. Menaiki traktor juga anak sudah merasakan. Tapi ketika anak ingin menjadikan palang sebagai cita-cita, apa yang harus saya lakukan?
“Bu, cita-citaku mau jadi palang kereta api,” ujarnya dengan lugu.
“Palang kereta api?” saya mengulang.
“Iya, palang kereta. Naik turun…,” tangan kecilnya memperagakan gerakan palang kereta naik turun.
Saya ingat, kecintaannya pada kereta memang luar biasa. Mainan yang dipilihnya selalu kereta. Dipandangi, dimainkan. Dirombak hanya ingin melihat apa yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ia demam pun, demamnya akan turun ketika saya dan suami mengajaknya ke perlintasan kereta, untuk melihat kereta api yang melintas.
Setiap liburan ke rumah orangtua saya, ia selalu meminta untuk naik kereta. Pernah si anak sudah ada di dalam kereta, tapi melonjak kegirangan, ketika melihat kereta api yang lewat di sebelah kereta yang kami naiki.

“Aku mau jadi palang kereta api, Buuu.”
Kalimat itu lucu untuk yang mendengarnya. Apalagi diucapkan dengan sungguh-sungguh oleh anak Balita.
Saya menjadi ingat dengan cita-cita saya. Saya ingin bisa tidur di awan. Saya ingin bisa terbang. Dan cita-cita itu selalu menjadi bahan tertawaan oleh orang lain.
“Ibu tahu palang, kan?” tanyanya dengan serius.
Naik turun, naik turun. Saya mengangguk. Iya palang. Anak usia balita seperti itu belum terlalu tahu perbedaan antara benda mati dan benda hidup. Maka tugas saya sebagai Ibu memberi tahu.
“Ibu tahu palang?”
“Iya. Nanti kita lihat palang, ya,” saya memberi janji padanya.
**
Ingin menjadi palang itu diucapkan terus. Saya tidak mungkin pura-pura tuli atau memarahinya, dan menganggap cita-citanya konyol. Hingga suatu hari saya memutuskan untuk mengenalkan palang dan fungsi yang sesungguhnya pada si anak.
Dekat rumah Ibu di Solo ada perlintasan kereta api. Lima ratus meter jaraknya. Tidak terlalu jauh, untuk saya mengajak anak balita berjalan menuju ke sana.
Untuk mencapai ke sana, kami harus menyebrang jalan, melewati kebun singkong dan sampai di pinggir jalan. Duduk di pinggir jalan. Syukurlah ada batu besar tempat kami bisa duduk di atasnya.
“Mau ke mana?” begitu biasanya orang bertanya.
“Mau lihat palang,” ujar saya menggandeng tangan si anak.
Ya palang kereta. Naik turun.

Menunggu kereta tentu saja tidak seperti menunggu lalu lalang mobil dan motor. Kesabaran saya sebagai Ibu diuji. Dan momen menunggu itu saya gunakan untuk mengenalkan tentang berbagai macam kendaraan yang melintas di jalan depan kami menunggu.
Saatnya lampu merah menyala, sinyal tanda kereta akan lewat. Palang kereta pun turun.
“Itu palang. Dia benda mati. Masih mau jadi palang?” tanya saya.
Si anak mengangguk keras. Lalu melompat sambil berteriak, “Kereta, Buuu,” kata anak saya dengan gembira.
Pelan tapi pasti palang itu turun. Anak saya melonjak kegirangan. Mobil dan motor berhenti.
“Keretanya mau lewaaat.”
Saya mengangguk. Keretanya akan lewat. Melihat matanya bersinar memandangi rel kereta api, membuat saya semakin ingin menjelaskan tentang banyak hal.

Pengalaman itu ternyata tidak berakhir.
“Ibu aku mau jadi palang,” katanya lagi. Setiap saat dan itu artinya tugas saya belum berhenti.
“Palang ini benda mati, bukan benda hidup. Dia tidak bisa napas,” saya menggendongnya untuk menyentuh palang itu.
“Tapi aku tetap mau jadi palang, Bu.”
Saya minta izin pada penjaga perlintasan kereta api, untuk mengizinkan anak saya melihat ke dalam tempatnya bekerja. Lalu ia perkenalkan alat-alat yang membuat palang itu bisa turun.
“Palang, Ibu. Aku mau jadi palang.”
Oke palang. Palang kereta api. Saya mengangguk. Terus mengikuti keinginannya, untuk melihat turun naiknya palang. Sampai akhirnya cita-citanya berubah lagi.

“Aku mau jadi pemain bola aja, Bu,” ujarnya sungguh-sungguh.
Teman-temannya sering mengajaknya main bola. Tapi anak lelaki pendiam dan tidak agresif seperti sulung, ternyata diajak bermain bola untuk menjaga gawang alias kiper. Alasannya bukan karena dia hebat tapi karena tidak ada anak yang lain yang mau.
“Jangan mau jadi kiper kalau cuma tidak ada anak yang lain. Jadi pemain.”
Terus menerus saya ulang. Terus-menerus. Sebab saya yakin sesuatu yang terus-menerus diterima oleh seseorang, itu akan membuatnya berubah. Hingga akhirnya dia minta dimasukkan ke SSB. Sebuah SSB di kampung yang berlatihnya dengan kuburan. Seminggu dua kali.
“Aku mau jadi pemain bola,” ujarnya.
Saya mengangguk meski ada rasa patah hati. Berpikir kenapa ia tidak menyebut cita-cita, yang masuk dalam jangkauan pikiran saya?
“Ibu suka aku jadi pemain bola?”
“Cita-cita apa saja boleh. Tapi asal jangan sampai lupa waktu dan membuat orang jadi lupa shalat.”
“Kalau pemain bola bertandingnya suka pas azan Ibu….”

Saya sering mengantarnya bertanding dari satu tempat ke tempat lain. Sering jadwal bertanding membuat shalat jadi ditunda.
Mungkin si anak paham keresahan saya.
“Aku jadi pemain futsal aja, ya, Bu. Masih bisa shalat di pinggir lapangan.”
Saya mengangguk. Apa saja cita-citanya boleh. Asal jangan membuat lupa bahwa ada akhirat yang jadi prioritas utama. Bermanfaat untuk orang lain harus merasuk ke dalam hatinya.

Lalu suatu saat ketika si anak bertambah besar, saya dapati tulisan di buku tulisannya, di setiap buku yang saya berikan padanya. Syaikh Muhammad Attar LC.
Saya bahkan diberitahu banyak hal termasuk nama-nama Qori dan Ustadz kesenangannya.
“Aku suatu saat pingin jadi imam di masjid Madinah.”
Saya mengangguk, memberi dorongan, memasukkan ke sekolah yang bisa membuat ia dekat dengan cita-citanya. Saya hanya punya doa dan dukungan untuknya. Kelak jika cita-citanya berubah lagi, saya dan suami akan terus mendampingi dan mengarahkan.
“Ibu aku mau jadi pemain bola, ya,” suatu saat ia bicara lagi.
Saya tersenyum. Ia bukan balita lagi. Sudah remaja. “Fokus ke satu titik cita-cita,” ujar saya akhirnya.
Ia mengangguk. Entah apakah kelak cita-citanya berubah lagi.
Tapi saya tidak akan pernah lupa teriakan kecilnya ketika Balita. “Aku ingin jadi palang kereta api, Buuu. Palang aja bukan yang lain.”
In syaa Allah dengan lingkaran doa dari saya dan suami, juga kerja kerasnya kelak ia akan menjadi palang. Palang yang bisa menutup segala pintu keburukan, dan membuat kebaikan melaju kencang seperti lajunya kereta api #sahabatkeluarga.

Motivasi dan Pelatihan Menulis untuk Guru An Nahl Islamic School

“Bu Nur bersedia mengisi pelatihan menulis untuk guru-guru An Nahl?” begitu pesan dari Pak Agus, kepala sekolah SMPIT An Nahl.
Letak sekolahnya ada di Bogor. Masih kabupaten Bogor, tidak jauh dari Taman Buah Mekarsari. Tidak jauh juga dari tempat tinggal kakak saya, ternyata.

Rezeki itu ajaib. Saya sendiri tidak pernah tahu, pada akhirnya langkah saya bisa sampai titik kemarin.
Awalnya sederhana. Saya bincang-bincang dengan editor sebuah penerbitan, setelah saya mengisi talkshow di Sekolah Alam Bekasi plus promo buku. Editor itu bertanya, “Apa mbak Nur, mau mengajar di sekolah? Karena ada sekolah rekanan penerbit yang akan membuka eskul menulis di sekolahnya.”
Tanpa pikir panjang saya bilang, yes. Alasannya? Saya suka mengajar.

Cerita singkatnya akhirnya sampai juga saya di sekolah itu untuk bicara ini itu dan diantar berkeliling. Sekolah empat hektar itu langsung klik di hati saya. Saya suka visi misi dan metode pengajarannya. Sekolah Islam Terpadu dengan basic sekolah alam.
Menunggu timing yang tepat, akan ada kelas menulis di sana. Saya diminta mengajar guru-guru dan murid-murid di sana. Guru-gurunya masih awam dengan dunia menulis.
Wait.
Guru?
Tiba-tiba up and down muncul. Entah kenapa semakin banyak interaksi dengan anak-anak, saya jadi tidak semangat ketika berhadapan denan orang dewasa. Tapi akhirnya saya berpikir, bahwa ini adalah sebuah kepercayaan. Dan saya harus membuktikan.

Power Point Pertama

Pindah-pindah mengajar untuk mengisi talk show menulis, bekal saya memang bukan power point. Mengambil pelajaran dari banyak seminar yang saya ikuti dengan berbagai nara sumber. Rasanya kurang sreg jika hanya fokus ke power point. Apalagi beberapa kali saya menemukan, power point dari satu orang dengan orang lain sama. Ah, it’s not me. Saya suka yang berbeda.

Tapi ini Bapak Ibu guru di sekolah yang dikenal bagus. Biasa mengadakan seminar dan pastinya sudah terbiasa dengan para ahli di bidangnya. Saya? Apalah saya. Tanpa power point pula? Okelah akhirnya saya mendengar banyak masukan dan saya pun belajar membuat power point. Ada banyak yang saya buat. Dan malah saya menemukan banyak hal baru. Termasuk membuat video dari gambar-gambar di power point.

Saya membaca lagi surat permohonan untuk menjadi nara sumber. Pihak sekolah meminta saya memotivasi guru-guru dalam hal menulis. Oke, In syaa Allah saya siap.
Sebelum hari H semua power point sudah saya pindah dari komputer saya ke laptop. Sudah mengajari anak bungsu agar nanti dia yang mengoperasikan laptopnya. Sulung saya minta menjadi bagian dokumentasi dan suami menjadi supir he he.
Beberapa hari sebelumnya power point malah sudah saya kirim ke pihak panitia, untuk pegangan para peserta.

Pada hari H

Anak-anak kalau sudah libur itu artinyaaaa, habis Subuh mereka akan tidur lagi. Sudah saya ingatkan, siap-siap pada jam setengah enam pagi. Kami akan berangkat jam enam. Saya biasa datang setengah jam sebelum acara dimulai, untuk mengakrabkan diri dengan suasana.
Kenapa mereka harus ikut?
Saya ingin mereka paham seperti itulah kerja ibunya. Saya juga ingin kelak mereka bisa membagi ilmu.
Pagi yang ribet. Nasi goreng sudah dibuat hasilnya ternyata keras. Rupanya semalam Sulung saya minta memasak nasi, dan ternyata airnya sedikit. Jadi nasinya keras. Nasi goreng pun gagal.
Berebut kamar mandi dimulai. Padahal kamar mandi ada dua, entah kenapa tidak ada yang mau untuk memakai kamar mandi atas.
Hanya minum segelas air lalu kami meluncur. Takut jalanan macet. Karena kalau sudah macet bisa sampai empat jam ke suatu tempat yang dekat.

Jam enam kurang kami berangkat.
Masih lumayan gelap, jalan masih sepi. Dan taraaa, ternyata jalanan sangat lancar. Belum kena macet. Jam tujuh kurang lima belas kami sudah sampai di dekat sekolah. Perasaan tenang dan perut lapar. Kami ke tukang bubur dulu untuk sarapan. Dan meluncur ke sekolah.

Sekolah masih sepi.
Saya menghubungi beberapa panitia. Tidak lama kemudian saya lihat banyak kendaraan. Tidak lama setelah itu, saya lihat banyak yang datang menuju aula. Acara sudah siap. Panitia menemui saya dan kami naik ke tempat acara.

Allah yang Maha Hebat

Sampai saat ini saya bersyukur, Allah selalu menjaga dari hal-hal buruk.
Menjadi penulis, berbagi ilmu itu bukan sesuatu yang mudah. Banyak yang tidak paham ketika saya berbagi ilmu. Orang yang tidak paham jika itu datang dari orang awam, mungkin bisa dimengerti. Tapi jika itu datang dari kalangan yang paham, lalu menyudutkan dengan sesuatu yang membuat saya ngeri, sungguh itu cobaan yang berat.
Tapi setiap coban ternyata adalah tangga untuk naik ke atas, untuk naik derajat. Dan diuji bukan berarti berhenti. Harus jalan terus. Sebab saya terlalu mencintai dunia menulis dan mengajar.

Okelah para peserta sudah berdatangan.
Saya masuk ke aula. Bungsu saya ajak. Tarik napas panjang. Bismillah. Alhamdulillah shalat sunnah mutlak dua rakaat sebelum pergi mengajar, plus membaca Al Qur’an membuat saya menjadi lebih oke.

Bismillah.
Entah kenapa semuanya menjadi mudah. Kalimat saya mengalir. Murid-murid antusias untuk langsung praktik menulis. Sesusai dengan pesan saya pada Pak Agus, kepala sekolah, agar semua yang datang membawa alat tulis, karena kita akan langsung praktik menulis.
Syukurlah para bapak dan ibu guru antusias praktik. Karena mereka adalah pemula, maka praktiknya tidak dibatasi. Mereka boleh praktik menulis artikel, novel, cerita anak, remaja juga dewasa. Bebas sebebasnya.
Motto saya setiap mengisi pelatihan sama. Saya ingin semua peserta tidak ada yang zonk ketika ke luar dari pelatihan. Paling tidak 99 persen, apa yang saya ajarkan masuk dan mengendap, lalu akhirnya diaplikasikan.

Untuk itu saya harus siapkan tenaga ekstra. Saya harus berkeliling dari ujung yang satu ke ujung lain, untuk memastikan mereka paham. Agar mereka bisa tersentuh satu persatu.
Alhamdulillah semuanya dimudahkan Allah.
Bungsu juga senang melihat para bapak guru yang saya minta untuk maju ke depan, menyambungkan gambar dengan kalimat lucu. Dia belum pernah senyaman itu di depan orang banyak.

Dua jam waktu yang sebentar.
Masih banyak yang bertanya tapi panitia sudah memberi kertas pada saya, karena waktu terbatas,
Saya hanya berharap mereka pulang dengan kepala terang benderang dengan banyak ilmu.
Dan saya juga terang-benderang dengan banyaknya rasa syukur dan tentu saja harus terus menulis.

Sumber Maron, Tempat yang Asyik untuk River Tubing

Ke sumber Maron, begitu usulan kerabat pada kami, ketika kami bingung mau pergi ke mana. Suami mengusulkan untuk agro wisata ke daerah Batu. Bagus memang. Tapi jadi lucu kedengarannya. Karena apa? Karena kami menginap di desaa terletak di daerah Blitar, di mana setiap hari terhampar sawah, gunung dan banyak kebun jeruk juga apel yang sedang berbuah.

Sumber Maron. Fotonya ditunjukkan. Air terjun mini. Tidak menarik mata seperti ketika pertama melihat air terjun Coban Rondo. Tapi sebuah pengalaman baru, apa salahnya dicoba.
Maka pagi itu kami bergegas untuk menuju ke lokasi. Bawa air minum dan makanan kecil.
Tempatnya ada di Karangsuko, Pagelaran, Karangsuko, Pagelaran, Malang, Jawa Timur 65174. Tidak begitu jauh dari stadion Kanjuruhan di Kepanjen. Di pinggir jalan sudah ada tulisan Taman Wisata Sumber Maron Berbasis Edukasi.
Jujur melihat gang masuk ke tempat wisata, rasaya kurang tertarik. Jalan masuk cukup untuk satu mobil. Kami datang pas masih dalam situasi liburan lebaran. Jadi tempat parkir di sana-sini ditawarkan. Bersyukur kerabat paham tempat parkir yang jaraknya dekat dengan lokasi.

Tiket masuknya murah meriah. Tiga ribu. Begitu masuk, kita akan melewati jalan setapak, cukup licin. Tangga menurun yang cukup licin juga, apalagi musim penghujan, jadi harus hati-hati melangkah plus gunakan alas kaki yang enak untuk menapak.
Di kiri kanan jalan, penuh dengan penjual makanan dan juga souvenir.
Sampailah akhirnya saya melihat ke bagian kanan.
“Ini kolam renangnya.”
Ada rasa kecewa. Hallooo, kolam renang? Sungai besar itu biasa. Tidak semenarik waterbom. Ada banyak yang sedang berenang menggunakan ban.

“Di sini?” tanya saya.
“Jalan terus,” kata kerabat.
Okelah saya bersyukur. Kami jalan terus.
“Ini air terjunnya.”
Jalan terus dari sungai yang dipakai sebagai kolam renang, kami berada di air terjun yang tidak tinggi. Tapi pemandangan orang-orang membawa ban dan terapung di sungai dengan ban tersebut membuat mata saya mulai terbuka. Tubing alas meluncur ke sungai dengan menggunakan ban dalam. Begitu namanya.
Kami singgah di warung makan ada di sepanjang pinggir sungai.
Taruh barang, ada loker yang bisa disewa, harganya kurang tahu, karena kami tidak menyewa loker, sebab ada kerabat yang punya anak kecil dan tidak ikut berenang.

“Hayooo…”
Saya penasaran.
Kami menyewa ban. Lalu berjalan menuju lokasi peluncuran tertulis garis start untuk river tubing alias meluncur menggunakan ban.
Mulaiiii.
Saya, suami, dua anak remaja dan satu ponakan meluncur.
Resep sebelum meluncur. Harus ada orang yang memegangi ban agar kita mudah duduk di dalam ban yang sudah ada tempat duduknya dari tali temali.
Tips berikutnya. Orang yang di depan sebagai penunjuk arah. Yang lain di belakangnya, menjulurkan kaki dan kaki itu dikepitkan di ketiak orang di depannya.
Tujuannya agar tidak terlepas jika ingin tubing bersama. Tapi kalau mau sendiri tidak masalah. Catatan, arus air cukup deras.
Ketika bersama-sama pun kami terlepas rantai karena arus.
Hati-hati juga ketika arus membuat ban menghantam batu, jangan gunakan tangan untuk mencegahnya. Karena benturan akan keras dan bisa menyebabkan tangan keseleo atau terluka. Jadi gunakan badan untuk menggerakkan ban.
Akhirnya tibalah kami di tengah di bagian bawah air terjun.
Air sungai di bagian itu tidak dalam, tapi harus dibantu untuk turun dari ban. Cepat kepinggir, karena bisa terbawa arus lagi. Saya sendiri ditolong oleh seseorang memegangi ban saya. Anak perempuan saya, bahkan harus berkali-kali ditolong ayahnya karena hampir terbawa arus.
Gunakan alas kaki ketika di sini.Batu-batunya tajam. Jadi sebaiknya siap dengan sepatu yang enak dipakai dan tidak mudah lepas.

Here we are.

Menikmati mandi di pancuran alami. Lalu lanjut lagi naik ban lagi menuju garis finish.
Nah di bagian ini lebih dalam dari jalur sebelumnya, jadi hati-hati.
Arusnya deras, di garis finish akan ada yang menghentikan nanti dan menarik ban ke arah pinggir. Sebab kalau tidak ada, entah sampai mana ban akan membawa kita meluncur.

Saya pulang dengan perasaan puas.
Bahagia juga.
Untuk makanan, tukang makanan di wisata Sumber Maron ini tidak mengetok harga kok. Alhamdulillah. Air mineral di botol besar dipatok harga lima ribu. Harga makanan jagung manis diberi susu juga lima ribu. Serba lima ribu dan nimat.
Untuk souvenir juga harga masih terjangkau.

Catatan untuk saya adalah don’t judge a book by a cover.
Harusnya sebagai penulis yang seperti itu sudah saya hafal luar kepala.
Yuk, yang mau ke Sumber Maron. Mau juga saya ke sana lagi, ingin mencoba arung jeramnya.
Pemandangan sekeliling sebenarnya cukup bagus. Tapi karena kami datang ketika musim liburan, maka pemandangan yang terlihat hanya lautan manusia dan manusia saja.
Next In syaa Allah harus ke sana pada saat sepi dan bukan musim liburan.

Lebaran Kami yang Istimewa

Apa istimewanya lebaran untuk saya?
Lebaran untuk saya selalu istimewa. Lebaran di Solo jelas akhirnya paling istimewa. Istimewanya karena kami yang setahun sibuk dan sulit bertemu, akhirnya bisa berkumpul bersama. Karena istimewanya itu, maka lebaran di Solo selalu agendakan pada hari pertama lebaran. Untuk saya ada banyak alasan. Salah satunya karena lebaran di Solo ramainya hanya pada hari H saja, karena Ibu tinggal di kota. Setelah hari H itu, tetangga Ibu banyak yang pulang ke kampungnya seputaran Solo seperti Wonogiri sampai Tawangmangu.

Bukan Sekedar Berkumpul
Ibu memiliki delapan orang anak. Semuanya sudah berkeluarga. Setiap anak memiliki dua sampai tiga orang anak. Dan satu orang cucu sudah memberi Ibu buyut. Terbayangkan ramainya rumah Ibu pada saat lebaran tiba?

Ada kumpul yang bermanfaat di rumah Ibu. Sepuluh hari terakhir biasanya saya sudah memutuskan untuk pulang. Harus dipastikan urusan sekolah anak-anak dan urusan pekerjaan suami sudah beres.
Pada sepuluh hari terakhir itu, masjid dekat rumah milik ustadz pimpinan pondok pesantren di Klaten dan ketua dewan syariah kota Solo, selalu mengadakan shalat tahajjud.
Sepanjang Ramadhan ustadz juga akan mengisi taraweh dan shalat Subuh. Kalaupun berhalangan karena kesibukan mengisi di lain tempat, maka anak dan menantunya yang akan menggantikan. Diimami para hafidz Qur’an tentu saja rasanya berbeda. Ada rasa nyes di hati. Apalagi mendengarkan lantuanan suaranya. Shalat jadi terasa nikmat sekali. Ustadz atau anaknya kerap terisak di tengah shalat ketika membacakan ayat tentang surga atau neraka. Jadi saya berjuang untuk menambah ilmu Bahasa Arab saya.

Di rumah ketika Ramadhan, anak-anak dan sepupunya juga saling berlomba mengkhatamkan Al Quran. Alhamdulillah saya dan saudara yang lain punya visi misi yang sama dalam membentuk karakter anak. Sama-sama ingin anak berpegangan kuat pada Al Qur’an.

Ada dua puluh lima orang yang tinggal di rumah Ibu selama Ramadhan. Maka siapa yang datang lebih cepat, itu yang akan mendapatkan kamar. Kasur digelar di sana sini. Di kamar mandi harus cepat, karena sedikit lama sudah akan ada yang mengantri. Belum lagi antrian mesin cuci plus jemuran pakaian.

Ini Lebaran Kami
Anak-anak sudah tumbuh membesar. Sepupunya anak-anak sebagian besar, bersekolah di sekolah Islam Terpadu yang menerapkan hafalan Al Qur’an. Ada yang di pondok juga.
Ada yang bersekolah di sekolah umum juga.
Nah, moment langka bernama lebaran ini harus dimanfaatkan betul. Jangan sampai pertemuan hanya sebatas hura-hura saja.

Satu hari sebelum hari H sudah pasti sibuklah kami di dapur. Anak menantu turun ke dapur. Alhamdulillah si Ratu Dapur, Ibu kami sudah sehat. Beberapa bulan sebelumnya tiba-tiba tulang di mata kakinya retak dan Ibu tidak bisa berjalan, hingga harus dipasangi ven, plus Ibu harus latihan jalan. Terapi jalan dibantu dengan Ibu semakin meningkatkan membaca Al Qur’an. Alhamdulillah proses sembuhnya Allah percepat.

Apa masakan istimewa Ibu? Masakan yang selalu istimewa adalah gulai babat. Sejak saya SD sampai sekarang itu andalan Ibu. Kami dulu menyebutnya sayur handuk, sebab bentuknya seperti handuk. Aanak-anak sampai keheranan dengan sayur itu.
Yang lain adalah rendang dengan bumbu tambahan kelapa utuh yang disangrai, lalu hasil sangraian itu diulek sampai ke luar minyaknya. Nah nanti itu yang akan dimasukkan ke dalam rendang yang sudah hampir matang.
Ada sayur labu siam juga.
Tidak ada ketupat. Sejak Bapak di kursi roda dan akhirnya menghadap Allah, kami menggantinya dengan lontong pesan ke tetangga. Karena biasanya yang menangani masalah ketupat adalah Bapak yang ahli memasaknya.

Hari H sudah tibaaaa.
Kamar mandi antriannya padat merayap sejak selesai shalat tahajjud. Saya mandi jam setengah empat. Anak-anak dibangunkan untuk Subuh berjamaah ke masjid. Di rumah Ibu ada musholla kecil. Tapi musholla itu khusus untuk anak perempuan. Yang laki-laki wajib ke masjid.
Ketika semua sudah beres, kami berjalan kaki menuju lapangan sesuai sunnah. Ibu naik motor karena kakinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.
Mobil tidak bisa digunakan karena di tempat shalat juga susah dapat parkir.
Tidak boleh meninggalkan lapangan sebelum khatib selesai berceramah.

Pulaaang.
Kami bergegas ke masjid setelah sampai rumah. Hanya selemparan batu dari tempat Ibu.
Di situ semua warga berkumpul untuk silaturahmi. Diawali dengan pembacaan Al Qur’an, dan tausiah. Pembacanya anak ustadz yang baru pulang jadi imam di Jepang dan tausiah dari ustadz.
Kemudian para perempuan berkumpul sesama perempuan, yang lelaki dengan lelaki. Saling bermaafan.
Di masjid itu juga, jadi tempat para Bapak atau Ibu yang mau membagikan uang, seusai berma’afan. Nah anak-anak kecil senang dengan moment ini.

Kami ke rumah.
Di rumah ada acara khusus.
Ibu duduk dan kami ada di dekatnya. Kali ini pakai format baru. Biasanya kami berdiri, sekarang sambil duduk melingkar.
Kalau biasanya Kakak paling tua yang bicara dan yang lain menambahi, sekarang kami ubah susananya.
Aanak-anak yang bersekolah di pondok pesantren, harus berani memegang tongkat estafet itu. Maka yang dewasa akhirnya menyerahkan tongkat MC pada keponakan yang hafidz Qur’an 30 juz. Untuk tilawah Qur’an diserahkan ke anak Sulung saya, sedang untuk tausiah, diserahkan pada ponakan dari pondok juga, yang memang punya potensi untuk menjadi penceramah.
Yang dewasa bisa menambahkan satu dua patah kata. Setelah itu semua memutar bermaa’afan dengan Ibu. Ini yang disuka anak dan ponakan. Embah putri mereka akan bagi-bagi uang. Om dan Tante mereka, Bude Pakde mereka juga sama. Jadi semua sibuk dengan dompet dan kantong untuk memasukkan hasil pendapatan hari ini.
Selesaiiiii?

Blooom.
Kami foto-foto.
Berbagai gaya, berbagai cara. Termasuk menutupi kamera dengan handuk agar hasilnya bisa optimal bagusnya.

Ini lebaran istimewa versi saya.
In syaa Allah jika Allah panjangkan umur kami, maka kami akan berkumpul lagi.

Rinjani dan Brownies untuk Ayah

Gagal lagi.
Rinjani memandangi tumpukan bahan pembuat kue. Terigu, gula, telur. Hasilnya adalah bolu tanpa rasa. Bantet tak mengembang.
“Kapan Ayah datang, Bu?” tanyanya penuh harap.
“Dua hari lagi.”
Rinjani menahan air matanya. Ayah akan datang. Ia sudah berjanji jika Ayah datang setelah bertugas setahun di tempat lain, ia akan belajar menjadi gadis yang bisa melakukan banyak hal. Iya banyak hal. Agar Ayah tidak pergi lagi.

“Kamu mau buat apa?”
Rinjani menunjuk gambar yang terbuka dari telepon genggamnya.
“Semuanya sudah jelas di sini,” ujar Ibu.
“Iya, tapi aku enggak ngerti. Ibu tahu hasilnya, kan?”
Ibu mengangguk. “Mau Ibu bantu?”
Rinjani melotot. “Ibu mau?” tanyanya tidak percaya. Sejak Ayah tugas setahun, Ibu bahkan sudah tidak sempat masuk dapur, karena kesibukannya. Makanan yang tersedia untuk Rinjani di rumah dari katering yang Ibu pesan. Kadang Rinjani tidak suka rasanya.

“Ayo kita buat sama-sama.”
Rinjani mengikuti perintah Ibu.
Lima butir telur ayam. Bukan telur yang ada di dalam kulkas. Karena telur yang dingin akan membuat adonan susah mengembang. Rinjani ke warung untuk membeli yang baru.
Gula pasir seukuran gelas belimbing lebihkan sedikit. Ibu memberi tahu gelas belimbing yang dimaksud. Gelas yang bagian bawahnya berlekuk seperti buah belimbing. Ibu juga menunjukkan gelas lain. Ibu bilang boleh memakai gelas lain juga. Ukuran sedang.
Rinjani juga diminta mengambil tbm. Ibu bilang ada ovalet, tbm juga sp. Fungsinya hampir sama, warnanya kuning muda.

Rinjani diminta menyiapkan mikser. Lima butir telur Rinjani pecahkan. Satu gelas gula Rinjani masukkan. Tambahkan tbm seujung gagang sendok.
Ketiga bahan itu dicampur dan dimikser.
“Biarkan sampai mengembang dan berwarna putih kental.”
Rinjani memandangi. Mikser yang berputar. Seperti ketika ia diajak Ayah memutar tubuhnya. Sampai ia berteriak “Pusing, Ayaaaah.” Lalu Ayah tertawa.
“Sudah kental,” ujar Ibu.
Rinjani melihat Ibu mengambil sendok. “Tandanya ketika adonan ini diambil sedikit, lalu dituang kembali, adonan akan membentuk seperti jambul. Ini disebut jambul petruk atau kental berjejak.”
“Ibu kok tahu?”
Ibu tertawa. “Ibu mantan pernah punya toko kue,”ujar Ibu.

“Masukkan apa lagi?” tanya Rinjani.
Ibu menunjuk ke sebuah mangkuk.
Tadi Rinjani diminta Ibu untuk mengambil satu gelas lebih sedikit tepung terigu. Dua sendok tepung jagung maizena. Satu sachet susu bubuk putih dan vanila.
“”Kamu masukkan dan campur pakai spatula. Aduk terbalik.”
Rinjani sungguh tidak mengerti. Ibu memberi contoh. Campuran bahan di mangkuk Ibu masukkan ke adonan yang tadi dimikser.Masukkan sedikit ke dalam adonan, lalu aduk dengna tekhnik seperti membalik. Bukan diaduk acak. Lakukan itu sampai semua bahan habis.
Coklat bubuk Rinjani tuangkan. Dua sendok makan. Ditambah pasta coklat, setengah sendok teh saja.

“Belum selesai. Kamu lupa?” Ibu melihat ke arah kompor.”
Ya ampun, Rinjani lupa. Tadi coklat blok sudah Rinjani potong kecil-kecil. Kemudian dicampur dengan mentega dan minyak goreng.
Rinjani ingat ukuran coklat bloknya kira-kira saja. Ibu hanya membagi tiga coklat blok ukuran balok, lalu digunakan satu bagian saja. Mentega Ibu pakai seperapat dari ukuran 200 gram, ditambah minyak goreng enam sendok makan.
Semua bahan itu tadi Rinjani tim.
Rinjani harus memasak air lebih dahulu. Lalu coklat, mentega dan minyak Rinjani taruh di wadah kecil, dan letakkan di atas air yang dimasak sampai mendidih, hingga semuanya mencair.
Ketiga bahan itu yang Rinjani masukkan, sampur dengan adonan.

“Sudah selesai?”
Ibu menggeleng. Sebuah loyang Ibu ambil. Rinjani harus mengolesinya dengan mentega sampai rata.Rinajni menggunakan kuas untuk itu. Setelah itu masih harus ditaburi tepung terigu merata. Ibu bilang itu agar adonan kue tidak menempel nantinya.

Ibu lalu mengambil kukusan.
Adonan yang sudah tercampur Ibu tuang ke dalam loyang, yang sudah dioles mentega dan tepung terigu.
“Kok tidak semua?” tanya Rinjani ketika melihat Ibu hanya menuang separuh adonan saja.
Ibu hanya diam.
Kukusan sudah mendidih. Loyang itu ditaruh. Ditutup dengan panci yang sudah dibungkus kain.
“Bungkus kain ini fungsinya agar uap air tidak jauh ke dalam kue, dan membuat kue jadi tidak rata.”
Rinjani mengerti.
“Lima belas menit, ya.”
Rinjani mengangguk.
Setelah lima belas menit, Ibu membuka panci. Mengambil loyang. Kuenya sudah jadi.
“Ambil coklat mesis. Taburi di atasnya.”
Rinjani mengikuti. Mengambil coklat, menaburi di atas adonan kue yang terlihat sudah matang.
Setelah itu Ibu memasukkan sisa adonan ke atas taburan mesis.
“Tunggu sampai matang,”ujar Ibu.

Rinjani menunggu. Rinjani membyangkan. Ayah yang akan datang lalu berkata,” kamu anak hebat.”
Aroma kue sudah tercium.
Wangi menusuk hidung Rinjani.
Di kompor yang lain Ibu mengajari Rinjani cara membuat lapisan coklat. Tepung maizena dua sendok makan, dicampur dengan potongan coklat blok dan susu bubuk yang sudah dicairkan. Ibu bilang itu untuk olesan di atas kue.
Rinjani juga diajari memarut keju. Satu arah saja ketika memarut. Kejunya jadi cantik hasilnya.

Semua sudah selesai.
Kue sudah matang. Ibu tadi mengeceknya dengan menusuknya dengan garpu.
Ibu mengambil piring besar untuk membalik adonan itu. Benar, adonan tidak menempel. Lalu Ibu membalik lagi.
“Kamu bisa menghiasnya.”
Rinjani suka.
Ia menghiasnya.

Sekarang semuanya sudah siap. Ayah akan pulang. Lalu akan memeluk Rinjani dan berkata, Ayah tidak akan pergi lagi.
Tapi sampai tengah malam, Ayah belum datang juga.
“Nak…,” Ibu mendekat ke luar dari dalam kamarnya. Tubuhnya terbungkus jaket. Mata Ibu sembab. “Ayahmu sudah tidak akan datang lagi.”
“Kenapa?” tanya Rinjani.
“Sebab sudah ada perempuan lain yang lebih pintar mengambil hatinya.”
Rinjani tidak mengerti. Bahkan ketika Ibu memeluknya erat-erat.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak pernah memberi tahu kalau kami sudah lama berpisah. Maafkan.”
Rinjani diam.
Rinjani termangu.

Nugget Pisang

Alangkah susahnya mengubah mindset. Nugget di kepala adalah makanan untuk lauk. Dari daging ayam atau sapi. Maka ketika pisang nugget ini diolah dan tersaji di piring, dua orang yang ada di rumah, anak dan suami memandangi. Membawa piring berisi nasi dan sayur.
“Ini pisang, ya?” tanya suami.
“Harusnya pakai daging,” begitu kata anak bungsu saya.

Nugget pisang. Berawal dari masih adanya beerapa buah pisang baranang. Pisang yang konon paling enak itu, dan lebih mahal dibandingkan pisang yang lain, awalnya saya beli karena terpaksa. Iya terpaksa. Karena pada saat itu suami minta dibuatkan kolak. Dan saya sudah berkeliling dari satu tukang sayur ke tukang sayur lainnya. Saya tidak temukan pisang uli atau pisang kepok. Malah disodorkan pisang baranang oleh penjual.

Nugget pisang.
Resepnya bukan kreasi sendiri,tapi copas dan modifikasi dari beberapa resep.

Bahan utama
– 5 buah pisang atau 6 sesuai selera
– 1 sachet susu dancow
– 1 sachet vanili
– 1 butir telur
– 2 sendok makan gula pasir. Kalau pisangnya sudah manis cukup satu saja.
– 3 sendok makan terigu, 2 juga tidak mengapa.

Semua bahan utama ini dicampur. Pisangnya dilumatkan dulu dengan garpu. Lalu campurkan semua bahan.
Setelah semua bahan tercampur, siapkan loyang. Olesi dengan minyak atau mentega loyangnya. Setelah itu bahan yang sudah tercampur tadi dimasukkan.
Siapkan kukusan. Nyalakan kompor dan masukkan loyang yang sudah terisi ke dalam kukusan.

Setelah matang biarkan dingin. Setelah dingin baru dipotong.
Setelah dipotong itu siapkan mangkuk berisi telur yang dikocok, dan wadah lain untuk tepung panir.
Nah nugget yang sudah dipotong itu celupkan ke telur lalu pindah balur dengan tepung panir. Masukan lagi ke telur kembalikan ke tepung panir. Biar lebih tebal dan bagus hasilnya.
Setelah itu masukkan ke freezer kurang lebih satu jam. Ini untuk membuat tepung panir melekat dan tidak mudah rontok ketika digoreng.
Setelah satu jam, boleh digoreng.

Mengenang Khoir Murid Pemulung Pertama

Ramadhan writing programme 1439 H
Bengkel Cinta Literasi

Hari : ke 8

Tulisan ini saya tulis dalam proyek Ramadhan di group Bengkel Cinta Literasi

Namanya Khoir. Saya lupa nama lengkapnya.Khoir teman anak sulung saya ketika SD, di sebuah SD kampung di kabupaten Bekasi.
“Khoir belum bisa baca, Bu,” lapor anak saya ketika itu. “Buku tulisnya kosong terus.”
Kedua orangtua Khoir seorang pemulung. Ada beberapa anak pemulung lainnya, tapi Khoir untuk saya istimewa. Karena orangtunya tidak tahu cara mendidik Khoir yang anak tunggal.
“Khoir mau main ke rumah setiap sore?” Suatu hari saya dekati Khoir. “Khoir nanti belajar baca. Di rumah banyak buku cerita.”
Kedua bola mata Khoir bersinar. “Khoir bilang Emak dulu,” katanya. Pipinya bulat semakin bulat karena senyumnya yang lebar.

Sampai seminggu Khoir tidak juga datang. Saya kembali ke sekolah.
“Emak enggak mau anter,” katanya.
“Enggak apa-apa, nanti kasih tahu Emak, lesnya enggak bayar. Kasih tahu Emak, ya.”
Khoir mengangguk.
Esoknya saya ditunggu emaknya Khoir. Seorang perempuan sederhana. “Anaknya bilang mau les. Saya enggak percaya, Bu. Lagian siapa yang nganter?”
“Dianter terus tinggal, ya.” Saya menjelaskan segala macam bayangan masa depan pada emaknya Khoir. Emaknya hanya mengangguk saja. Dan tidak mengantar juga.

Setiap kali bertemu dengan saya seolah menghindar. Pernah saya bertemu di jalan, lalu saya panggil dengan berteriak karena ibunya Khoir ada di pinggir jalan yang lain. “Anter Khoir,” ujar saya.
Saya seperti orang ngotot dan memaksa. Tapi ini demi memutus mata rantai. Orangtua Khoir tidak tahu caranya mendidik anak mereka. Jangan sampai Khoir menjadi pemulung juga, karena tidak melihat masa depan yang lain.

Sampai akhirnya saya Khoir diantar ke sekolah oleh neneknya yang biasa dipanggil Nyai. Pada Nyai saya meminta Khoir untuk diantar ke rumah untuk belajar baca tulis.
“Khoir mah enggak pintar,” kata emaknya yang akhirnya mengantar Khoir ke rumah.
Ternyata Khoir mampu belajar. Pelan tapi pasti.
Setiap kali datang, dia selalu berpakaian rapi. “Khoir keren,” kata saya. Dan Khoir akan tersipu mendengarnya.
Sampai akhirnya Khoir tidak pernah datang lagi.
“Mama Attaaaar, aku habis sakit panas terus step,” katanya. “Emak enggak bisa anter. Emak kan mulung.” Dia bicara waktu saya mengantar anak ke sekolah.
“Enggak apa-apa, Khoir datang terus, ya. Minta antar Nyai.”

Sekali dua kali Khoir muncul. Lalu menghilang. Sudah hampir bisa membaca dan menulis. Sudah ingin sekali membawa pulang buku-buku yang saya tunjukkan padanya.
Tapi Khoir tidak pernah muncul lagi. Sampai sulung saya naik kelas, naik kelas hingga sebuah cerita meluncur dari mulut sulung saya.
“Khoir udah berhenti sekolah, Bu.”
Perih hati saya mendengar kalimat itu. Lebih perih lagi ketika anak saya menlanjutkan.
“Ibu tahu, enggak. Khoir sekarang jadi tukang ngamen. Aku tahu ngamennya di mana.”
Saya mencari. Menunggunya. Bertemu dengan Khoir. Tubuhnya sudah tinggi. Rambut kemerahan.
“Khoiiiir. Kenapa?” tanya saya.
Khoir menunduk malu lalu berlari cepat.

Besoknya saya bertemu lagi. Tapi Khoir lalu bicara kepada teman yang lain,” kabuuuur.”
Setiap kali bertemu dia akan langsung berlari. Tidak sempat saya duduk bersamanya untuk bicara masa depan agar dia tidak menjadi pemulung seperti kedua orangtuanya.
Sekarang anak sulung saya sudah SMA. Khoir entah kemana. Taman bacaan yang saya kelola di rumah juga sudah tumbuh dan banyak peminatnya. Sudah menjadi sanggar Sabtu dan Minggu, yang anak-anak bisa belajar apa saja. Termasuk belajar menulis, mendongeng juga membuat kerajinan.
Ramadhan ini saya kembali ingat Khoir. Ingin melihat sosok remaja Khoir. Ingin ia lewat di depan rumah dan saya katakana,” ayo, Khoir. Belajar baca lagi.”
Ada banyak Khoir lain. Makna Iqra (bacalah) sebagai ayat pertama yang diajarkan Jibril pada Rasulullah sering dilupakan para muslim.

Mendidik Anak Menjadi Penulis

“Bu, aku mau menjadi penulis seperti Ibu,” kata anak gadis yang sudah bisa menulis dan membaca ketika usia tiga tahun. Saya sendiri yang mengajarkan. Karena dua anak terbiasa saya bacakan buku sejak dalam kandungan maka proses belajar membaca menjadi mudah sekali.

“Bu aku juga mau punya buku.”
Saya mengangguk. Prosesnya untuk orang lain mungkin mudah. Ah, ibunya penulis. Maka bisa poles sana poles sini. Tapi sayangnya saya model Ibu yang tega. Saya tidak ingin anak instant untuk menulis lalu bangga menepuk dada, ini karyaku. Padahal karyanya masih mentah dan ibunya yang memoles di sana sini. Saya tidak mau seperti itu.
Saya ingin dia berproses panjaaang sekali.

Dari satu media cetak ke media cetak lain saya kirimkan tulisannya.
Dari satu lomba lain juga sama. Dan ini anak kerjanya super keras. Ketika karya kakaknya yang dibuat semenit dua menit langsung tembus media. Dia harus berjuang sekuat tenaga karena menerima penolakan.
Hingga akhirnya saat itu tiba.
Saat dimana kemenangan lomba untuknya tiba.
Saya ingat ia mengikuti lomba di sebuah penerbit anak dan kalah berkali-kali Sampai akhirnya saya pompa semangatnya lagi untuk ikut lomba lagi. Naskah terkirim.
Lalu suatu hari dia mengambil piala milik saya dan bilang. “Ibu foto aku pakai piala ini. Aku juga mau dapat piala.”

Alhamdulillah beberapa hari kemudian dia menang lomba menulis. Girangnya setengah mati. Apalagi naskahnya itu akan dibukukan.
Lalu lomba ini dan itu saya ikutkan.
Sampai akhirnya dari sekolah mendapatk kepercayaan untuk terus mewakili sekolah dalam lomba menulis cerpen. Dan dua tahun berturut-turut membawa pulang piala untuk sekolah.
“Ibu sayangnya piala aku ditaruh di sekolah. Coba dibawa pulang. Bisa saingan sama piala Ibu.”

Hidupnya terus berproses.
Saya bahagia. Dia semangat mengikuti lomba menulis. Bahkan lomba film pendek dari sekolah. Menjadi sutradara. Film pendeknya meraih juara pada kompetisi sekolah.

Minggu kemarin saya tawarkan lomba lagi untuknya.
Tidak menjadi pemenang pertama. Tapi menjadi pemenang favorit pilihan juri, karena karyanya kontensnya mengisnpirasi.

Jalannya masih sungguh panjang. Saya akan terus mendukungnya dan menjadi penguatnya.

Nugget dari Bawang Bombay

Anak gadis bermacam-macam permintaannya.
Apalagi hobinya menonton channel masakan di youtube. Lalu request pada Ibu. “Ibu bisa?”
Kalau ibunya menggeleng maka ada lanjutan kalimat lagi. “Masa Ibu enggak bisa?”
“Aku yang bikin aja kalau Ibu enggak bisa. Ibu siapin bahannya aja.”

Maka Ibu menyiapkan yang ia butuhkan. Bahan utamanya hanya bawang bombay katanya. Hanya diiris dan dijadikan seperti cincin terus digoreng.
Teori sederhana anak yang jarang masuk dapur.

Ibu tahu caranya. Seperti Ibu membuat jamur krispi.
Bawang bombay diiris. Lalu irisan itu masing-maing akan membentuk lingkaran. Dari satu potong irisan, akan terlihat beberapa lingkaran model gelang. Tarik pelan jangan sampai patah.

Siapkan telur yang sudah dicampur dengan bumbu penyedap.
Siapkan terigu.
Siapkan tepung roti.

Cincin atau gelang bawang bombay itu masukkan ke dalam kocokan telur.
Pindahkan ke tepung terigu di wadah sendiri dan kering. Tidak dicampur air.
Setelah itu masukkan lagi ke dalam kocokan telur pertama.
Pindahkan ke dalam wadah berisi tepung roti.
Goreng dengan minyak panas.

“Bekalku hari ini, ya, Bu? Hmmm rasanya kayak nugget.”
Ibu mengangguk. Ibu penyuka bawang bombay meski lebih suka ketika bawang itu hanya Ibu makan mentah dicampur dengan mayoinase pedas dan sayur atau buah lainnya.

Hari ini anak mendapat pengalaman baru.
Dan ia bahagia. Itu sudah cukup untuk Ibu.

South Lake, Tempat Pikniknya Penduduk Babelan

Saya harus sampai rumah secepatnya.
Itu yang ada di benak saya sepanjang perjalanan di kereta. Kereta dari Solo berangkat jam enam sore pas. Sampai Bekasi diprediksi jam tiga pagi. Alarm sudah saya pasang, takut kalau-kalau saya tidak terbangun ketika kereta sampai stasiun Bekasi.
Alhamdulillah jam dua lebih, di kursi belakang saya ada alarm suara ayam jago yang berbunyi. Sipemilik tidak terbangun. Padahal suara alarm itu keras sekali, sehingga beberapa kursi terganggu. Termasuk saya. Tapi saya terganggu dengan rasa syukur. Dibangunkan oleh alarm orang. Mata tiba-tiba terasa segar, dan saya matikan alarm saya, agar nanti jika berbunyi tidak mengganggu seperti alarm orang di bangku belakang saya.

Saya harus cepat sampai rumah.
Mata masih mengantuk. Bayangan bahwa jam delapan nanti ada kegiatan ibu-ibu di sekitar rumah. Mobil di rumah dipakai untuk tempat makanan dan untuk mengangkut yang lain, yang tidak membawa kendaraan. Ada tiga mobil yang disediakan. Di samping itu, saya belum beli air minum untuk keperluan piknik, plus untuk lomba anak-anak yang diserahkan ke saya, saya belum siap apa-apa, selain kertas yang saya printer dengan gambar.

Jam tiga sampai Bekasi.
Niatnya selonjoran di kursi panjang. Tapi kereta malam datang silih berganti. Dan semua kursi terpakai orang yang tiduran di sana. Mau ke musholla untuk tidur. Duh, musholla stasiun Bekasi juga sudah dipenuhi orang. Lagipula masa saya tidur di musholla?

Saya putuskan ke luar sambil menghitung waktu.
Perjalanan ke rumah dari stasiun setengah jam. Kalau saya menunggu suami jemput, suami akan menjemput setelah pulang dari masjid untuk shalat subuh. Itu artinya sampai rumah saya jam enam. Itu artinyaaaa….
Saya membayangkan tubuh yang lunglai sepanjang acara nanti. Saya membayangkan dada yang sesak karena kurang tidur. Saya membayangkan banyak hal.
Hingga saya putuskan ke luar dari stasiun. Menunggu setengah jam.
Jam empat kurang biasanya suami sudah bangun untuk mandi dan tahajud. Itu artinya jika saya mengetuk pintu, dan menelepon, akan cepat dibuka pintunya. Itu artinya saya punya banyak waktu untuk istirahat.
Jreng jreng, keluarlah nekad saya. Panggil tukang ojek, minta antar sampai rumah.
Sambil berdoa, maaf ya Allah, saya boncengan sama yang bukan mahram. Tapi ini darurat agar acara rihlah alias piknik ibu-ibu berjalan lancar dan semua senang.
Sehabis subuh saya tidur sampai jam setengah tujuh. Alhamdulillah badan segar. Langsung keluarkan motor cari air mineral dua box untuk keperluan.

Here I am

Piknik diundur jam setengah sembilan. Satu mobil sudah berangkat jam delapan pas. Tukang masak bilang, masakan baru siap jam setengah sembilan.
Oke tiga mobil menunggu. Satu mobil lainnya sudah bergerak.
Masakan dimasukkan ke dalam bagasi. Ada tiga mobil, jadi dibagi ketiga bagasi.
Saya bawa suami dan anak bungsu. Mereka berdua juga belum pernah piknik ke sana. Pernah lewat tapi tidak begitu sadar, di situ ada tempat piknik.
Murah meriah, masuknya 40 ribu. Tapi dengan kartu yang dijual bebas, harga tiket masuk bisa didiskon menjadi 20 ribu saja.

Ada apa di South Lake?
Ada banyak macam sarana. Tempatnya kecil tapi buat saya tidak masalah. Pertama-tama, banyak tempat selfong alias selfie di sana.
Begitu masuk buat beli tiket, bisa selfie di caravan yang dijadikan tempat menaruh banyak foto. Ada jalan yang dilapisi kaca juga di caravan itu. Dan saya yang awalnya pingin berfoto di sana, jadi takut melihat lapisan kaca. Takut kalau saya berdiri di situ, malah ambles.

.
Ini caravannya.

Kami masuk.
Gelar tikar.
Acara pun dimulai. Pembukaan sudah, hafalan sudah, baca doa sudah. Gelar daun untuk makan. Para suami, bapak-bapak yang mau repot mendampingi anak dan istrinya digelari tikar juga dan dapat nasi box. Thanks to my husband yang siap sedia ngikutin maunya istri.

Lomba pun dimulai.
Lomba mewarnai gambaaar.

Karena waktu terbatas. Anak-anak sudah ribut mau main ini main itu. Mana tempat kami menggelar tikar tidak jauh dari perosotan, ayunan dan lain sebagainya. Plus bebek-bebekan. Maka jadilah lomba dipercepat.
Hasil lomba mewarnai gambar saya serahkan pada tetangga, sedang saya memandu lomba lari dan lomba mendongeng. Awalnya mau lomba sambung ayat juz 30. Eh pada ribut karena mereka masing-masing beda pencapaian hafalannya. Okelah gurunya ngalah saja demi anak-anak.

Ini loh pemenang lomba dan bebekan yang membuat anak-anak gak konsen lagi buat makan juga ikutan lomba.

Ayo Kita Melayaaaaang

Flying fox. “Ayo Mama Bilqis. Ikutan. Ituuu, ibu-ibu aja banyak.”
Duh anak-anak bikin panas. Mereka antri.
Tiket diskon dari 40 ribu jadi 20 ribu itu bisa untuk naik bermacam permainan yang ada di sana. Termasuk flying fox.
Anak gadis saya duluan mencoba. Saya melihat dari kejauhan bagaimana ia menarik napas panjang lalu mengembuskan, seperti ingin menghimpun kekuatan. Saya kok jadi ngeri, ya. Membayangkan usia yang sudah menua, dan kalau tiba-tiba jantung saya tidak kuat.

Okelah akhirnya saya keliling. Termasuk melihat poster tentara Inggris.

Ada banyak yang bisa dilihat di sana. Termasuk kandang berisi kelinci juga rusa. Ada danau yang besar. Ada boat yang bikin ibu-ibu yang naik teriak karena si pengemudi sengaja beratraksi.

.

Okelah.
Saya sudah panas.
Anak-anak setiap datang cuma tanya. “Mama Bilqis enggak mau ikutan ngerasain flying fox? Enak loh, kayak terbang rasanya.”
Saya panas.
Makan rujak dulu dan titip tas ke suami.

Lalu memberanikan diri. Fokus tidak melihat ke bawah. Masa saya yang dulu ikut PMR pernah bergelantungan di tingkat empat sekolahan, sampai manjat pohon mangga hingga ke ujung tertinggi, jadi takut ketinggian?
Eng ing eeeeengggg.

Para pekerjanya sopan-sopan. Ketika menghadapi ibu-ibu mereka cuma bilang, “Bu, bagian depan coba dikancingin.” Jadi bukan mereka yang melakukan.
Ketika sampai di atas, kaget saya. Diminta berdiri di kursi. Juga pegangan tali. Lalu tiba-tibaaaa, syuuur. Sudah meluncur saya ke bawah. Ya ampun rasanya enaaaaak sekali. Betul kata anak-anak seperti terbang.

Well, pengalaman seru.
Saya kepingin mengajak ponakan, dan anak sulung juga ke sana.
Kami harus pulang karena sudah sore. Letihnya hilaaaang berganti bahagia dan legaaa.