Ketika Senyum Tulus Menjadi Bayaranmu

Apa yang paling membuat bahagia?
Yang paling membuat bahagia belakangan ini untuk saya, adalah ketika melihat wajah-wajah polos tersenyum. Ketika senyum itu membuat saya melihat gambaran panjang tentang masa depan mereka. Sepuluh tahun ke depan, duapuluh ke depan dan tahun-tahun panjang lainnya.

Anak-anak yang bersemangat dengan ilmu baru, dan akhirnya menularkan semangat pada saya. Sehingga saya berjuang untuk melakukan banyak hal juga meminimalisir keluh.

Anak-anak menjadi prioritas utama pada saya belakangan ini.
Dulu pernah berjanji, kalau Allah hanya memberi saya dua anak sebagai rezeki, maka saya harus fokus memperbanyak anak-anak orang lain yang akan sama-sama saya kasihi juga akan saya beri limapahan ilmu.
Dan ternyata Allah memang hanya memberi saya dua anak yang sudah beranjak remaja. Maka saya harus memenuhi janji, untuk merengkuh anak-anak lain untuk saya beri limpahan ilmu juga kasih sayang.

Anak-anak membuat saya bahagia.
Mereka yang memiliki orangtua hanya fokus pada pelajaran justru membuat saya miris. Mereka yang punya orangtua hanya fokus pada rangking, justru membuat saya tertantang untuk memberikan banyak.
Ada banyak hal yang harus mereka ketahu dan membuat wawasan mereka luas. Jalannya tentu saja dengan menularkan apa yang saya miliki.

Mengajarkan kreativitas tidak mudah.
Meyakini bahwa kreativitas membuat bahagia juga tidak mudah. Apalagi untuk orang-orang yang yakin bahwa uang dan bekerja di kantorlah yang akan membuat bahagia.
Meyakini bahwa dengan banyak membaca membuat pintar, dan jika sudah pintar, maka akan mudalah meraih semuanya.

Langkah saya tertatih-tatih.
Mengetuk satu sekolah ke sekolah lain. Bukan untuk minta jadi guru. Tapi saya ingin diberi ruang untuk mengajari anak-anak di sana tanpa bayaran.
Mereka suka dan bahagia sudah jadi bayaran untuk saya.
Ketukan tidak dijawab.
Satu-persatu pengurus masjid saya datangi, hanya ingin menggerakkan perpustakaan yang ada di masjid. Satu masjid menjawab, diberi ruang, tapi tidak berkelanjutan karena pengurus yang antusias kebetulan sedang hamil.
Masjid lainnya menguap tak memberi jawaban.
Masuk ke TK menawarkan diri juga tidak ditanggapi.
Saya pikir ada yang salah. Mungkin mereka berpikir saya meminta bayaran.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memulai dari rumah. Percaya pada potensi diri di rumah dan berjalan sendiri saja.
Satu persatu anak pemulung menerima sambutan.
Satu-persatu anak tetangga datang.
Satu-persatu anak dari lingkungan lain datang.
Alhamdulillah sampai juga di titik ini.

Ada saatnya uang tidak bisa bicara.
Ada yang pada saatnya lebih bernilai dari hanya lembaran rupiah. Yaitu ketika kerja keras kita dibayar dengan senyum dari orang yang butuh. Iya butuh.

Masih banyak pintu PAUD di perkampungan yang akan saya ketuk.
Mungkin akan mengetuk instansi atau lembaga yang berwenang juga.
Saya hanya ingin membuat perubahan kecil saja. Hanya kecil saja.
Sebab senyum mereka sudah membuat saya bahagia.

Membaca Membantu Menekan Emosi

“Saya penulis dan saya cinta membaca, bahkan bisa terbilang gila membaca.”
“Saya penulis dan geregetan kalau ada orang yang tidak ada sumber ilmunya, main share berita ini dan itu. Karena ketahuan ilmunya minim dan tidak suka membaca.”
“Saya ibu dua anak, yang punya hari wajib untuk anak-anak membaca. Setiap Sabtu sebelum mereka main komputer, maka saya akan meminta mereka membaca buku terlebih dahulu.”
“Saya pernah menawarkan untuk menyumbangkan buku bacaan ke tempat ini dan itu, tapi ditolak, hingga memutuskan untuk memiliki taman bacaan sendiri di rumah.”

Apa yang saya dapat dari membaca?
“Ibu kok tahu semuanya?” tanya anak-anak, yang sering merasa ibunya adalah perpustakaan berjalan, sehingga mereka malas untuk mencari dan tinggal tanya. “Ibu, yang ini jawabannya apa?”
“Ibu ngomomngnya kayak pakar politik aja. Jangan sombong, Ibu.” Itu kata anak lelaki saya, yang sedang asyik kasih laporan tentang berita-berita politik.

“Membaca membuat pintar dan membuat kita tidak mudah dibohongi,” itu penekanan yang selalu saya katakan pada anak-anak.
“Membaca juga membuat kita bersabar.”
Iya, ada poin lain yang memang selalu saya dapat dari membaca.
Proses saya membaca buku dari halaman awal sampai halaman akhir, ternyata

Model Membaca

Ada banyak model membaca.
Saya model pembaca yang suka membaca di bagian awal dua sampai tiga halaman. Setelah itu saya mulai dari belakang beberapa halaman. Setelah itu di bagian tengah. Setelah melihat semua bagian itu berkesinambungan jalan ceritanya, maka saya mulai lagi dari bagian awal sampai selesai buku itu saya baca.

Ternyata kebiasaan membaca seperti itu cukup membantu saya untuk menerapkan sebuah target.
Ketika satu target saya canangkan dan lakukan, maka selangkah dua langkah ketika melakukannya, saya mulai membayangkan berada di titik akhir target saya. Aapakah nanti titik akhir itu sesuai dengan langkah yang saya lakukan.
Lalu saya coba membayangkan berada di tengah perjalanan. Apakah saya kuat dan bisa bertahan.
Ketika semuanya sudah pas dengan kata hati, pembenahan di sana-sini, saya mulai akan melangkah dengan pasti dari awal sampai akhir.

Dan model membaca seperti ini ternyata tidak seirama dengan model menulis saya. Sebab saya tipikal penulis yang tidak bisa membuat tulisan berdasarkan outline.
Semua tulisan yang saya buat, hanya saya pikirkan ide utamanya saja. Setelah itu menulis pembuka, maka saya biarkan jari-jemari saya yang bekerja dan ending seperti apa bisa didapat tanpa saya pikirkan sebelumnya.

Membaca Menekan Emosi

Orang yang suka membaca, belajar menekan emosi.
Sebuah buku yang mereka baca, jika ingin tahu intisarinya harus dibaca semua. Bukan hanya membaca satu dua halaman saja.
Itu artinya para pembaca belajar berproses. Belajar sabar dan belajar memahami bahwa apa yang mereka pikirkan, seringnya berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulisnya.
Dalam kehidupan nyata bahkan maya, tulisan status orang yang suka membaca akan berbeda jauh dengan yang tidak suka membaca.
Akan proses pengendapan untuk mengetahui lebih dalam tentang satu hal.
Akan ada penelusuran, apakah tulisan itu betul atau tidak.
Akan ada proses
Orang yang gemar membaca, tidak akan mudah terpancing emosinya. Karena membaca akan meluaskan wawasan mereka pada banyak pemahaman. Dan pembaca yang baik, pasti akan belajar bagaimana menyaring berbagai sumber ilmu itu, dan mengendapkan apa yang mereka sudah pilih.

Peningkatan Level yang Dibaca

Hidup ini berwarna. Bacaan memberi pengaruh untuk kita. Karena itulah saya membaca banyak tulisan, banyak buku tujuannya agar level saya meningkat.
Membaca buku anak-anak dan menulis cerita anak terlalu banyak, berakibat pada pikiran dan hati. Saya sering merasa terlalu polos terhadap banyak hal. Emosi saya terkikis habis, bahkan untuk hal yang memang seharusnya saya perjuangkan.

Membaca dan menulis banyak fiksi, ternyata membuat saya sering susah memisahkan mana yang nyata dan mana yang fiksi. Semua terasa indah. Sering kaget saya ketika bertemu orang yang kasar, yang membuat saya harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya hidup di dunia nyata.

Membaca dan menulis banyak nonfiksi, membantu saya berpikir logik. Padahal seringnya juga hal-hal yang sifatnya masuk akal, jadi lebih manis kalau diberi bumbu imajinasi.

Ada banyak buku ada banyak bacaan.
Bacalah yang kita suka lebih dahulu.
Lalu tingkatkan level membaca kita.
Jangan hanya satu buku yang sama jenisnya saja. Sebab banyak buku akan memberi banyak warna pada hidup kita. Sehingga kita paham ketika ada yang berbeda dengan kita.

Buku Panduan Lengkap Percobaan Sains untuk Anak

percobaan sains

Bingung bagaimana mengajari anak-anak agar kreatif?
Perasaan dulu saya gampang sekali mengajari anak sendiri. Tapi setelah anak-anak besar, sedikit bingung juga waktu anak-anak tetangga berdatangan satu persatu ke rumah untuk belajar.

Untung saya masih menyimpan buku ini di rumah.
Ada juga buku yang lain, tapi buku ini bagus sekali.

Buku berwarna dan bergambar dengan tulisan langkah satu persatu untuk melakukan percobaan, membuat anak-anak paham bagaimana melakukan percobaan tersebut.

daun kering

Gambar ini saya ajarkan pada anak-anak. Mencetak daun dengan cat. Anak-anak suka melakukannya.
Ada panduan yang lain lagi, seperti menyatukan tiga batang cermin.
Iya, ini mengingatkan saya pada zaman dahulu kala, ketika masih menggunakan lampu petromak. Lampu petromak pada waktu itu menggukan kaca berbentuk batangan. Jadi ketika satu kaca lampu itu pecah, kami biasa menggunakannya untuk diikat. Lalu bagaian bawahnya kami tutup plastik dan di dalamnya kami masukkan potongan bahan berwarna-warni. Lalu kami mengintip dari atas. Alhasil, kami akan mendapat warna-warna yang bagus dan menakjubkan di dalam pecahan kaca tersebut.

percobaan sains 4

Ada juga percobaan yang lain.

Yang ini.

percobaan sains 2

Atau yang ini

percobaan sains 3.

Buku ini ditulis oleh Rebecca Gilpin dan Leonie Pratt.
Penerbit Tiga Ananda.
Semua halaman di dalam buku ini berwarna dan penuh gambar. Ada 95 halaman di dalamnya dan semuanya full color sehingga anak-anak senang melihatnya.

Room to Read, Proses Panjang untuk Membuat Buku Anak

Litara 4

Masih ingat cerita saya tentang Room to Read. Audisi Room to Read dan prosesnya, ternyata tidak semudah seperti yang saya bayangkan.
Prosesnya panjang dan lama.

Pada awalnya saya merasa menulis pict book bisa saya kuasai. Kalau melihat rujukan di buku-buku pict book yang beredar, saya pikir bisalah saya menulis seperti itu. Tapi ternyata saya keliru. Ada banyak hal yang saya kuasai di dunia menulis. Menulis berbagai genre. Tapi ternyata ada banyak hal juga yang tidak saya kuasai, yaitu menulis cerita bergambar. Bukan sekedar bergambar, tapi bergambar dengan standar Internasional.

litara 5

Pict book alias cerita bergambar mengandalkan banyak gambar. Itu artinya, saya sebagai penulis, harus berjuang agar bisa memberikan instruksi kepada ilustrator.
Iya, dalam menulis buku bergambar ini, penulis harus memberikan panduan pada ilustrator, gambar seperti apa yang harus dibuat.
Dan pada buku dari room to read ini, gambar itu harus berdampak tiga dimensi. Artinya ketika anak melihat gambar tersebut, mereka bisa membayangkan seperti melihat cerita hidup di depan mereka.
Jadi, porsi utama memang ada di tangan ilustrator.

Revisi Sampai 10 Kali

Saya biasa menulis cepat. Dengan riset yang mendalam.
Revisi paling pol tidak sampai lima kali. Paling hanya tiga kali revisi dari redaksi. Itu pun karena saya menulis buku dengan sedikit gambar.
Arahan editor paling hanya ingin naskah dibawa ke mana, dengan gaya seperti apa, tentunya dengan tidak meninggalkan karakter saya.

Tapi di room to read berbeda.
Saya dapat penerbit Litara dengan editor super teliti dan pengalaman yang luar biasa.
Ada mbak Eva Nukman dan Sofie Dewayanie sebagai penjaga gawangnya.
Dan di atas mereka ada Alfredo dari room to read, yang punya pengalaman segudang, yang akan membuat naskah kita terasa tidak ada apa-apanya.
Sampai-sampai saya berada pada satu titik bernama putus asa, karena revisi sampai sepuluh kali. Padahal di tempat lain, yang saya tahu, ada yang sampai harus mengalami 20 kali revisi.

Apa kurang naskah saya?
Kok bisa saya tidak bisa menulis?
Kok begini, kok begitu?
Kenapa naskah ini begitu menguras energi sehingga saya tidak bisa fokus ke naskah lain? Telepon, WA dan email membuat saya stress. Bahkan pada saat saya sedang berenang, saya melihat ada beruang duduk di kursi. Itu mungkin menandakan tingkat sress saya sudah tinggi. Tokoh utama saya memang beruang yang ingin belajar naik sepeda.
Tapi seiring perjalanan waktu, setelah jeda sebulan, saya mulai belajar dan memahami pelajaran.

Ini bukan sekedar masalah naskah sederhana. Ini masalah bagaimana, agar justru kalimat sederhana itu membuat anak bahagia. Dan bagaimana agar penulis memberi panduan untuk ilustrator.
“Kok enak banget jadi ilustator? Apa mereka gak bisa baca naskah terus langsung dijadikan gambar, tanpa panduan?”
Itu pertanyaan rata-rata penulis seperti saya.
Tapi kemudian sadar, bahwa otak ilustrator berbeda dengan penulis. Mereka tidak semudah itu menerjemahkan kalimat menjadi gambar.
Jadi penulis harus jeli menulis step by step langkah-langkah untuk ilustrasi.
Pembagian halaman juga harus dilakukan dengan cermat.
Jadi ingat kalau di rumah, suami suka tanya-tanya panduan untuk gambar seperti apa? Padahal naskah yang ada di tangan suami, menurut saya sudah jelas bisa dijadikan panduan untuk gambar.
Dulu saya kesal, tetapi setelah ikut room to read saya baru sadar. He he.

Akhirnya….

Litara 3

Litara

Setelah sepuluh kali revisi, ada workshop untuk ilustrator. Saya lega, Merasa paling tidak sudah selesai tugas saya. Saatnya ilustrator bekerja.
Tapi ternyata tidak seperti itu.
Setelah workshop ilustrator selesai, dan naskah dibuat mokap (contoh buku), naskah itu dibawa ke beberapa SD untuk dibacakan. Reaksi anak-anak itu yang akan menentukan nasib naskah. Apakah harus direvisi kecil, atau direvisi besar?
Jika masih ada yang bertanya isi naskah tersebut dan kurang jelas, itu artinya naskah harus direvisi.

Dan tibalah saat itu.
Dapat surat undangan untuk revisi naskah di Bandung. Dua hari revisi, tapi saya cuma bisa satu hari, karena keesokan harinya saya ada program sedekah Jumat yang tidak bisa ditinggal. Dan mengajar anak-anak di sanggar yang notabene rumah saya.
Malamnya dapat email memberitahukan revisi apa yang harus saya lakukan.
Alhamdulillah saya dapat jatah revisi kecil saja.

Jam empat pagi di hari Kamis, saya meluncur ke Bandung. Bertemu dengan ilustrator yang memegang naskah saya.
Saling diskusi.
Waktu dia tahu saya harus pulang hari itu juga, dia langsung mempercepat kerjanya. Diskusi ke ilustrator dan editor di Litara. Kerja cepat itu jadi judul hari ini.
Ketika hari menjelang sore, naskah saya paling tidak 99 persen disetujui.
Saya dan ilustrator sama-sama bekerja tanpa laptop. Naskah saya digambar, saya memberi masukan, lalu kalimat yang ada saling didiskusikan.

Saya yakin banyak penulis yang ingin masuk dan merasakan room to read. Saya sangat bersyukur sudah sampai di titik ini. Titik di mana saya berproses untuk terus belajar.

Mendidik Anak Jangan Pakai Standar Tetangga

Aku dan anak-anak

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (QS Luqman ayat 14)

Ketika membangun rumah tangga, dan akhirnya punya anak, harusnya kita punya skala prioritas. Menyadari standar yang kita miliki. Bahkan harusnya standar itu kita tulis besar-besar dan tempel di dinding, yang bisa terlihat oleh kita dan pasangan.
Standar yang kita miliki berbeda. Dengan pasangan pasti juga berbeda, karena latar belakang berbeda. Tapi tahap-demi tahap yang kita lalui, tentunya perbedaan standar itu bisa kita minimalisir, sehingga tidak membuat kita saling menyalahkan dalam mendidik anak.
Yang tersulit adalah ketika kita menggunakan standar orang lain, dan standar itu adalah standar tetangga.

Ketika melihat tetangga membanggakan nilai ulangan anaknya yang seratus, kita langsung menyalahkan anak yang pulang membawa nilai lima. Kita tidak pernah memahami bahwa mereka belum mengerti pelajarannya. Kita juga tidak mau tahu, bahwa nilai lima itu adalah nilai hasil kerja mereka sendiri. Mereka tidak bertanya pada teman yang lain. Parahnya, kita justru merasa malu dan akhirnya keluarlah kalimat dari mulut kita, yang mengatakan bahwa anak kita bodoh dan lain sebagainya.

Standar tetangga membuat kita akhirnya menjauhkan diri kita dari anak-anak kita.
Ada tetangga baik ada tetangga buruk. Jangan meniru yang buruk tentu saja. Tapi jangan terlalu mengagungkan yang baik. Apalagi menerapkannya total untuk rumah tangga kita. Sebab masing-masing kita punya kelebihan dan kekurangan. Makanan yang enak di satu rumah, belum tentu akan sama-sama dibilang enak di rumah yang lain.

Anak kita naik pohon tinggi, kita bilang itu kreatif. Tetangga bilang itu anak.
Anak kita tidak masuk sekolah hari ini karena kita ajak menjelajah museum. Kita bilang itu pendidikan untuknya, karena sekolah tidak memberikannya. Tetangga bilang itu mengajarkan anaknya malas.
Anak lelaki kita, kita ajarkan masuk dapur dan beres-beres rumah, standar kita adalah ketrampilan. Tetangga bilang itu mengajarkan anak jadi banci.

Standar kita dan standar tetangga berbeda. Itulah kenapa kita sebagai orangtua harus mau berjuang untuk belajar mengenali diri kita sendiri dulu. Jika kita masih gamang, belajarlah untuk tidak mudah gamang. Setelah kita mengenali diri kita sendiir, mudah untuk membuat standar sendiri. Sehingga lebih nikmat ketika mendidik anak.
“Sekolah pilih di kota jangan di kabupaten. Nanti gampang ke depannya,” itu kata tetangga.
Kalau saya?
Kabupaten atau kota sama saja. Sepanjang orangtua punya pikiran global, maka tidak akan ada sekat lagi.

Yang pasti, seperti yang saya alami sendiri dengan orangtua saya, ketika orangtua memiliki standar sendiri dalam mendidik, maka ketika anak besar mereka akan menghargai kita dengan baik. Karena apa? Karena mereka dibiarkan menjadi diri sendiri dan selalu dihargai.

Kursus Menulis Online Nurhayati Pujiastuti

Merah Jambu

Penulis Tangguh

Ada banyak yang ingin belajar menulis, tapi selalu berpikiran bahwa menulis itu susah.
Ada yang ingin belajar menulis, tapi merasa bahwa membaca saja ia tidak suka.
Ada yang ingin bisa menulis, tapi beranggapan menulis itu percuma dan tidak ada hasilnya.

Saya kebetulan sudah suka menulis sejak kecil. Jadi kebiasaan sudah terbangun. Bisa dilihat di Nurhayati Pujiastuti. Ada orang yang baru ingin belajar menulis ketika sudah besar, atau pada saat ia merasa sudah tua. Lalu merasa, ia tidak akan mungkin bisa menulis.

“Pasti bisa,” itu yang selalu saya katakan untuk yang ingin belajar menulis.
Iya, pasti bisa.
Karena ketika menulis dianggap mudah, maka segala hal yang kita rasa sulit, akan mudah kita kendalikan.

“Mbak buka kursus menulis?”
Iya, saya membuka kursus menulis online. Sarananya bisa melalui email, WA atau messenger.
Belajarnya private.
Waktu belajarnya setiap hari selama 8 minggu. Libur pada hari besar, Sabtu juga Minggu.
Kenapa setiap hari? Karena dengan setiap hari, saya menerapkan metode pembiasaan. Dan dengan setiap hari, saya jadi mampu mengontrol kemampuan menulis siswanya. Saya jadi tahu, sudah sampai di mana tahap kemampuan menulisnya berkembang.
Untuk biaya?
Biaya untuk sekarang masih kisaran Rp 350 ribu dibayar di muka.
Peserta akan dibimbing sampai bisa menulis.
Ke depannya, saya persiapkan buku panduan menulis, sehingga pelajaran dari saya akan mudah diingat oleh teman-teman yang belajar.

“Jam berapa, mbak?”
Jam fleksible tergantung kenyamanan peserta.
Jika tidak bisa pada hari kerja, maka bisa dipadatkan pada Sabtu juga Minggu. Yang penting serius mengikuti jalannya pelajaran. Karena yang saya sampaikan adalah praktik bukan sekedar materi.
Peserta bebas. Boleh anak, sampai orang tua. Lelaki juga perempuan.
Kelas menulis yang saya buka adalah, kelas menulis untuk cerita anak, cerita remaja dan juga cerita dewasa, juga artikel meliputi resensi dan artikel di media cetak.
Ke depannya, saya akan merencanakan membuka kelas menulis buku dan novel juga.

Ingin informasi lebih banyak?
Bisa WA saya di 0812 9926 446
Atau bisa cek FB, juga fanpage saya di Nurhayati Pujiastuti.

Ingin lihat karya penulis yang sudah belajar.
Bisa baca karya mereka di Penulis Tangguh
Merah Jambu
juga di Kelas Biru.

Karya-karya itu sudah hadir di media cetak, dan mendapatkan honor.
Ada juga karya yang untuk lomba yang dimenangkan. Termasuk lomba yang membuat penulisnya jalan-jalan ke Beijing. Juga memenangkan lomba-lomba menulis lainnya.

Ibu Rumah Tangga Sebagai Awal Karir

DSCF2713

Kalau ditanya apa pekerjaan saya, maka biasanya saya akan menjawab bahwa saya ibu rumah tangga yang juga penulis.
Kalau ditanya di mana kantor saya, maka saya akan bangga menjawab, kantor saya ada di rumah. Iya, rumah. Tempat saya berkreasi seluas-luasnya. Mengurus anak dan suami dengan segenap kemampuan saya. Mengoptimalkan apa yang dahulu tidak saya optimalkan, yaitu wilayah dapur.

Saya ibu rumah tangga seutuhnya. Memang saya adalah penulis. Tapi prioritas utama saya adalah pasangan dan anak-anak, juga segala pekerjaan rumah tangga. Saya berbakti pada suami, dan melayani anak-anak saya di rumah. Jika ada pekerjaan ke luar rumah, itu pun harus seizin suami. Jika ada tugas ke luar kota hingga beberapa hari, itu juga harus saya pastikan anak-anak ada yang mengawasi.

Saya ibu rumah tangga, bisa menghasilkan rupiah dari rumah. Karena itu agak keki ketika ada yang bilang, ibu rumah tangga tidak menghasilkan apa-apa.

Ibu Rumah Tangga yang Berbeda

Saya Ibu rumah tangga. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya resign dari pekerjaan, tetangga kiri kanan bingung. Kenapa resign. Padahal di otak saya berputar banyak pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah. Menulis tentu saja. Dan mengurus anak. Iya mengurus anak dengan segala macam teori yang sudah saya makan, dari buku-buku parenting sejak zaman saya sekolah.
Karena itu ketika semua heran dengan keputusan saya, saya justru tertantang untuk membuktikan. Bahwa saya adalah ibu rumah tangga yang berbeda. Saya ibu rumah tangga yang berjuang menghasilkan generasi penerus yang kualitasnya lebih baik dari saya.

Tentu saja jika ingin kualitas anak meningkat, maka artinya saya harus belajar.
Belajar yang banyak, termasuk meluaskan pikiran. Terus berteman dengan siapa saja. Berjuang juga untuk jadi kepala bukan ekor di lingkungan.
Kepala?
Iya, maklum mindset yang ada di setiap benak orang adalah, menjadi ibu rumah tangga itu artinya selesai. Tidak usah berpikir macam-macam lagi. Mengurus anak, suami, beres. Itu pekerjaannya.
Maka wajar ditemukan, ibu rumah tangga yang merasa sudah selesai itu, ketika anak-anak sekolah, suami berangkat kerja, mereka sibuk berkumpul dan menghabiskan waktu untuk ngerumpi.
Boleh? Boleh saja. Itu hak setiap orang. Tapi waktu yang terbuang itu andai saja diisi dengan hal yang bermanfaat, pasti akan jadi berbeda.

Jika ibu rumah tangga mengurangi waktu ngobrol, maka ia bisa saja melakukan hobinya. Jika satu jam waktu mengobrol dipotong, maka ibu rumah tangga yang belajar menjahit, jika setiap hari belajar, maka bisa menghasilkan jahitan pada suatu saat.
Yang belajar merajut, juga sama.
Yang mau membaca buku, bisa menyelesaikan buku yang dibacanya. Dan ilmunya pun bertambah.

Menjadi ibu rumah tangga untuk saya adalah langkah awal sebuah karir. Pintu pembuka. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka. Saya bisa membentuk seperti apa anak saya, dan memberi asupan makanan coba-coba dari resep yang saya pelajari.
Kalau masih bekerja di kantor, mungkin saya masih menyerahkan pada makanan instant, atau warung terdekat. Saya dan anak-anak tidak sama berkembang.
Saya yang dulu tidak bisa memasak, sekarang malah bisa memasak apa saja yang saya suka. Dan tentu imbasnya adalah saya paham bagaimana mengatur uang dengan baik. Dulu ketika ngantor, tidak terpikir hal seperti itu.
Saya juga paham bagaimana meningkatkan kemampuan, dengan banyak belajar dari ibu-ibu rumah tangga lain yang punya visi masa. Bahwa ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir.

Jika ibu rumah tangga punya kemampuan menjahit, ia bisa mulai membuat banyak kerajinan tangan, lalu dipasarkan. Itu karir untuknya.
Jika ia bisa mengajar, maka bisa mengajari anak-anak tetangganya. Dan itu juga karir.
Jika bisa memasak, maka bisa mulai menjual makanan buatannya. Banyak ibu-ibu muda yang keteteran dengan waktu mengurus dua anak balita, butuh sayuran matang. Dan itu pasti laris manis.
Jika bisa memasak kue, bisa titip ke warung-warung atau mulai menerima pesanan.
Bukankah itu artinya ibu rumah tangga adalah awal sebuah karir?

“Bu, cita-cita aku mau jadi ibu rumah tangga.”
Ketika pola pikir kita tentang ibu rumah tangga sudah berubah, percayalah kita tidak akan resah ketika anak gadis kita punya cita-cita menjadi ibu rumah tangga. Justru kita mulai membekali anak gadis kita dengan banyak keahlian. Sehingga kelak ia akan menjadi ibu rumah tangga yang bisa mengubah lingkungan yang buruk menjadi baik.

Kok Bisa Penulis Bosan Menulis?

roti Ibu

Kenal banyak penulis?
Sosial media membuat saya dan yang lainnya mudah saling mengenal. Saya jadi kenal penulis yang satu dan yang lain. Saya juga kenal penulis yang semangat menulis dan yang bosan menulis.

Penulis bosan menulis?
Kalau anak-anak kecil disuguhi mainan baru, biasanya mereka akan langsung menyambarnya.
Mainan itu dimainkan sampai mereka bosan. Bahkan ketika mainan itu masih membuat mereka penasaran, mereka akan marah jika ada temannya meminjam. Sering kan kita lihat anak-anak kecil bertengkar hanya karena berebut satu mainan?
Mereka dalam proses sedang bergairah menghadapi permainan yang mereka anggap baru.
Tapi cobalah perhatikan, apa yang mereka lakukan setelah mereka bosan? Kadang-kadang mereka membongkarnya. Setelah bosan, mencari permainan baru lagi.

Sama seperti banyak kita dalam menulis.
Awalnya menganggap menulis itu mudah. Awalnya merasa iri melihat orang lain karyanya muncul terus-menerus. Awalnya merasa bisa dan menggampangkan.
Setelah merasa mampu itu, bisa menghasilkan satu dua tulisan, yang dipuji oleh orang lain, maka timbullah rasa puas.
Dan rasa puas itu membuat si penulis yang dipuji merasa tidak perlu belajar lagi. Terus-menerus melakukan hal yang sama. Tulisan yang tidak berkembang. Dan akhirnya timbul rasa bosan. Tidak ingin menulis lagi, karena tidak tahu apa yang harus ditulis.

Agar Tidak Bosan Menulis

Sampai saat ini saya bersyukur. Bersyukur karena saya menjadi penulis diawali dengan suka membaca. Ingin kisah yang saya baca, berubah ceritanya sesuai apa yang saya pikirkan. Ingin sesuatu yang saya pikirkan, dibaca orang lain, dan orang lain itu paham ada sesuatu yang berbeda. Iya berbeda. Karena saya suka melihat sesuatu dengan sudut pandang berbeda.

Kebiasaan membaca itu membentuk saya untuk menulis berdasarkan apa yang saya baca. Kebiasaan saya penasaran dan ingin mencoba, membuat saya ingin menulis sesuatu dari apa yang saya kerjakan. Bukan sekedar dari apa yang saya khayalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan orang agar tidak bosan menulis?

1. Cobalah hal baru.
Saya mencoba belajar menggambar kembali. Untuk mendapatkan sensasi baru. Dan itu ternyata bermanfaat untuk tulisan-tulisan saya.
Saya juga belajar memasak hal yang tadinya saya hindari. Berkumpul dengan oven dan adonan. Tapi ternyata ketika kemampuan memasak saya meningkat, kemampuan menambah manfaat dalam tulisan juga meningkat.
Sekarang saya bisa menulis tentang resep masakan, yang tentu saja hasilnya bisa dimanfaatkan dan dipraktikkan bagi pembacanya.

2. Targetmu Apa, sih?
Target dalam dunia menulis selalu saya punya.
Dulu target saya adalah bisa membuat orang percaya, bahwa puisi yang saya tulis bisa menghasilkan.
Lalu makin jauh, target saya ingin bisa sekolah dari uang menulis.
Setelah itu saya ingin punya ini itu dari hasil menulis.
Selanjutnya saya ingin bermanfaat dari menulis.
Selanjutnya saya ingin masuk surga dari menulis, dan pahala menulis saya bisa menjadi pahala ilmu yang bermanfaat untuk saya.
Punyai target. Itu akan membuat kita melihat bahwa menulis itu memiliki hasil nyata bukan abstrak.

3. Mimpimu Apa?
Mimpi mungkin bisa dibilang target, ya.
Tapi begini. Dulu pernah ada yang tanya pada saya. “Mau sampai kapan berhenti menulis?”
Waktu ditanya itu karya saya sudah ratusan jumlah di media cetak dan sudah memenangkan lomba-lomba.
Saya ingat, saya menjawab.
“Sampai bisa menghasilkan seratus buku, baru berhenti menulis.”
Sekarang kalau ditanya lagi, maka saya akan menjawab berbeda. Saya tidak akan berhenti menulis sampai Allah mencabut kemampuan menulis saya.

4. Kamu dan Komunitas
Kalau dalam komunitas, tingkat kemalasan satu anggota akan menular pada anggota lain.
Nah kalau pada akhirnya kita masuk dalam komunitas yang ngakunya komunitas menulis, tapi lebih banyak sharing keluhan atau sesuatu yang tidak bermanfaat, putuskan. Iya putuskan berhenti dari komunitas itu, atau tetap di dalamnya dan jadi dirimu. Ubahlah apa yang harusnya diubah.

5. Kita Punya Jalan Sendiri
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin dianggap pintar.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin jadi orang terkenal.
Ada yang ingin menjadi penulis karena ingin punya banyak uang.
Macam-macam alasannya.
Tapi punyailah jalan sendiri, jangan jadi siapa-siapa.
Berjuang saja agar menulis itu menjadi kebutuhan kita, sehingga kita tetap punya prinsip dalam menulis.

Petualangan Salman, Petualangan Batin yang Percaya

buku baru

Ada banyak buku yang saya tulis. Dan buku-buku itu saya tulis berdasarkan pengalaman nyata. Pengalaman batin yang saya olah sedemikian rupa. Ada pelajaran untuk saya dan tentu saya harap, pelajaran itu akan kena untuk pembacanya juga.

Bicara tentang Salman bukan sekedar bicara sekedar menulis buku. Riset, berkhayal, menulis dan lain sebagainya.
Buku Salman ini istimewa. Untuk saya bahkan sangat istimewa.
Di sini saya benar-benar merasa Allah mengangkat beban-beban saya.

An Nahl:7 ﴿
Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
.

Ada dua hal yang mengejutkan untuk saya datangnya. Bersamaan.
Yang pertama ketika saya menginginkan menulis dan diterbitkan oleh penerbit tertentu. Tiba-tiba datang kejutan. Seorang dari penerbit itu menghubungi saya, dan minta saya datang ke kantor mereka, untuk mendiskusikan sebuah naskah.

Yang kedua, ketika saya sedang sedih, karena tidak bisa ikut rombongan umrah keluarga. Saya memang memilih untuk tidak ikut. Alasannya yang Bungsu akan menghadapi ujian. Dan anak-anak sudah terbiasa belajar dengan saya, bukan ayahnya. Di saat itu, saya masih mencoba membuat paspor. Paspor yang beberapa bulan sebelumnya suami buat, hanya perlu menunggu satu hari saja. Pas saya ingin membuatnya, harus menunggu giliran dua minggu lebih. Padahal biro perjalanan minta waktu beberapa hari saja.
Ok menyerahlah saya. Pindah bikin paspor ke kota lain, tidak memungkinkan.

Saya menganggap bahwa ini jawaban, pilihan saya benar. Mengutamakan keluarga.
Tapi mendengar ibu dan kakak adik juga ponakan akan berangkat, saya sedih lagi. Merasa tidak dipilih lagi. Lalu pada satu hari setelah keluarga berangkat. Allah memberikan jawaban. Suami terkena typus. Di situ saya merasa, bahwa saya memang harus tinggal. Tidak ikut berangkat bersama rombongan dan mendampingi Ibu.

Oke saya sudah bisa menata hati.
Dan kejutan dari mampu menata hati itu adalah, telepon dari Gema Insani Press meminta saya, menulis ulang novel anak. Menulis ulang sebebas-bebasnya saya, dari novel anak yang best seller di negaranya. Novel tentang perjalanan umrah.
Kaget? Iya.
Saya seperti diberi penghiburan. Umrah keluarga saya, bahkan bisa bermanfaat banyak untuk saya. Maka telepon, pengalaman, foto dan semuanya sampai video, terus mengalir dari mereka ke hp saya. Ibu bahkan rela mencatat sepanjang perjalanan, apa yang diceritakan oleh travel guidenya.

IMG-20160329-WA0019

Muslim yang baik harus bisa memilih. Itu memang yang saya jadikan kalimat berulang dalam novel tersebut.
Iya, muslim yang baik harus memilih. Saya memilih untuk mengurus keluarga, dan Allah beri jawaban yang indah untuk itu, untuk menghapus beban saya.
Ada banyak godaan yang dihadapi kita sebagai orang dewasa, dan juga anak-anak.

Salman, tokoh anak dalam novel saya, adalah penghafal Al Quran. Abinya juga tentu saja. Dan Abi tidak memiliki telepon genggam yang memiliki fitur seperti game. Padahal ketika umrah, Salman satu rombongan dengan kakak beradik yang hobi sekali main game di telepon genggamnya.

Salman, anak yang mendapatkan hadiah umrah karena menang lomba menghafal Al Quran tergoda. Ia tergoda untuk mulai mencoba main game dengan meminjamnya. Lalu godaan itu meningkat. Hingga akhirnya Salman merasa hidupnya tidak asyik tanpa telepon genggam.
Hingga pada satu kesempatan di depan Kabah, Salman justru ingin sekali berdoa minta diberi game.

Abinya Salman ingin memberi banyak pelajaran memilih pada Salman. Ingin tahu konsekwensi yang didapatkan Salman dengan memilih itu.
Salman pun kehilangan hafalannya ketika ia memilih fokus pada game. Dan Salman merasa bersalah.
Bertambah paham Salman tentang pilihan itu, ketika ia bertemu dengan Kakek Raka. Kakek tua, yang berangkat umrah sendiri.

Nah, kisah kakek Raka yang suka tersesat ini nyata adanya. Kakek tua yang minta agar dia tidak sering ditinggal, karena ia sering lupa.
Ini foto Kakek yang berdiri itu, si Kakek Raka.

IMG-20160403-WA0006

Balik lagi ke Salman, apa yang selanjutnya Salman dapatkan?
Petualangan umrah, bertemu teman baru dan belajar jadi muslim yang bisa memilih.

Buku Salman dan petulangan umrahnya ini, akan mengajak pembacanya paham step by step langkah umrah. Dan perbedaan antara umrah dan haji.
Buku ini adalah perjalanan dari pengalaman batin saya. Dan saya tahu, tidak semua orang bisa mengalami hal seperti saya. Jadi saya harus banyak-banyak bersyukur.

Anak itu Hak Allah

Mbak Liza 2

Tak pernah terpikir olehku, bahwa doa yang kerap kulantunkan begitu gencar akhir-akhir ini akan dijawab Allah Swt dengan cepat. Dalam doaku, aku memohon agar Allah Yang Maha Kaya memberikan keluasan rezeki pada kami sekeluarga dengan rezeki yang halal, berkah dan banyak.

Akan tetapi Allah Swt sungguh tak terduga. Tak lama berselang, aku mulai merasakan datangnya rezeki yang tak terduga itu. Rezeki yang membuatku merasa panik, sekaligus cemas. Karena rezeki kali ini datang dalam wujud tanda-tanda kehamilan. Sebuah rezeki tak terduga dan, sungguh, tak kuharapkan, pada mulanya.
Sulit bagiku untuk menerima kenyataan ini, bahwa diusiaku yang tak lagi muda, aku harus menjalani kehamilan lagi. Ya, aku hamil lagi. Di saat putri sulungku sedang mencecap bangku kuliah, dan adik-adiknya butuh biaya besar untuk melanjutkan sekolah. Sementara satu-satunya sumber penghasilan rutin hanya mengandalkan suamiku yang berprofesi sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta.

Seperti kehamilan yang sebelumnya, kali ini pun aku mengalami morning sickness yang melelahkan. Nyaris tak ada aktivitas yang bisa kulakukan selain tidur dan tidur. Aku tidak bisa memasak dan membersihkan rumah seperti biasa. Aku tidak bisa membaca, menulis dan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan lainnya.
Aku bahkan tidak bisa memeluk anak-anakku yang masih memerlukan pelukan. Kondisi fisik yang lemah karena kurangnya asupan makanan, juga sensitivitas hidung yang berlebihan membuatku menjadi sosok paling tak berguna dan menyebalkan sepanjang trisemester pertama kehamilanku.

Kehamilan ini juga membuatku menarik diri dari pergaulan. Baik interaksi di dunia nyata maupun di dunia maya. Aku enggan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan yang kerap terkesan menuduh dan memojokkan. Alih-alih memberi suport yang lebih kubutuhkan, kebanyakan orang terpicu hanya untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan nyinyir yang membuatku tertekan.

Sungguh tak mudah menjalani kehamilan kali ini. Dengan kondisi seperti ini, suport dari teman-teman dekat terasa bagaikan oase bagiku. Mereka tidak hanya menguatkan, namun juga menumbuhkan keyakinan bagiku.
“Anak itu hak Allah,” ujar seorang teman.
Aku terdiam sejenak. Di tengah pergulatan batin antara penolakan dan penerimaan serta rasa cemas akan masa depan anak-anakku, aku seolah ingatkan kembali. Bahwa aku hanyalah seorang hamba yang harus menerima takdir yang ditetapkan atas hidupku. Teringat juga, betapa banyak calon ibu lain yang mendamba anak dan mengusahakan hingga menghabiskan dana yang tak sedikit.
Anak adalah hak Allah. Dzat yang memberikan kehidupan dan rezeki. Atas dasar apa aku merasa berhak menolak kehadiran anak yang tengah kukandung? Bukankah rezekinya sudah ditanggung oleh Dzat Yang Maha Kaya?

*

“Wah, sudah besar ya, Bu?” Dokter kandungan yang cantik itu pun tersenyum lembut seraya menggerakkan jemarinya mengatur posisi tampilan terbaik di layar monitor. Nanar mataku menatap gambaran janin yang tampak sudah terbentuk dengan baik.
“Sehatkah ia, Dok? Dibanding kakak-kakaknya, sepertinya kali ini agak lemah.”
“Sehat, baik. Agak lemah karena faktor usia ibu dan sudah kehamilan ke-7. Kita dengar detak jantungnya ya…”
Dokter memutar sebuah tombol. Seketika itu pula aku mendengar detak jantung yang terasa begitu merdu di telingaku. Keharuan sontak melingkupi hatiku. Maafkan, ibumu, Nak, bisikku pelan. Ibu akan belajar mencintaimu, sebagai anugerah ke tujuh. Karena kau pun berhak dicintai seperti yang lainnya.