Jangan Bermimpi Semua Orang Suka Tulisan Kita

Pernah bermimpi?
Kalau saya sering. Mimpi buat saya bukan sekedar bunga tidur. Mimpi untuk saya adalah pelengkap dan kadang jadi sarana memghilangkan resah. Setiap tidur saya pasti bermimpi. Kadang-kadang mimpi yang konyol yang membuat saya terbangun dengan kesal. Di dalam mimpi pernah saya memegang uang. Bangun dan membuka telapak tangan yang kosong, saya jadi kaget. Butuh semenit dua menit untuk kembali ke alam nyata dan menyadari kalau saya sedang bermimpi.

Mimpi selalu mengasyikkan untuk saya. Mimpi terbang? Oooh sering sekali saya mimpi terbang. Teman saya bilang kalau mimpi terbang itu karena merasa ada sesuatu yang belum bisa diraih. Kalau saya sendiri tidak tahu. Sebab mimpi-mimpi saya tidak tinggi-tinggi sekali. Saya juga tidak punya impian keliling dunia. Cukup saya dikasih kabut, gunung, hutan dan hamparan sawah saja. Itu sudah cukup membuat saya bahagia.
Jadi mimpi terbang tanpa sayap itu, saya nikmati saja. Trecengang sendiri ketika terbangun, seperti baru merasakan terbang yang sesungguhnya.

Saya mau ngomong apa sebenarnya?
Saya mau mengatakan bahwa banyak dari penulis seperti saya punya mimpi. Mimpi yang paling menyenangkan adalah mimpi semua orang suka tulisan kita. Iya suka tulisan kita. Sering tersadar ketika menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka tulisan kita. Tapi soal suka atau tidak suka itu bukan masalah besar untuk saya. Karena sudah memahami itu sejak dulu. Lagipula sejak dulu juga saya punya prinsip, lupakan orang yang membenci dan juga orang yang memuji. Hidup kita terus berjalan dengan atau tanpa itu semua.

Ketika sosial media belum mewabah, penulis hanya tahu duduk tenang menulis. Ketika sudah mewabah, lalu orang merasa dekat dengan penulis, yang biasanya hanya karyanya yang mereka lihat di media, maka mulailah orang dengan mudah untuk berbuat sesuka hati. Tidak suka dengan tulisan seorang penulis, lalu mereka menulis dan mentag penulis tersebut. Pernah saya mendapatkan hal itu dan krenyes-krenyes di hati.
Seorang merasa saya tidak riset ketika menulis, padahal saya sejak dulu terbiasa riset. Dan kacamata pengalaman saya dengan dia berbeda.
Itulah sebenarnya sebuah karya ada. Untuk menghadirkan pemahaman dan pengalaman yang berbeda. Sehingga seorang pembaca bisa lebih lebar wawasannya. Karena itu pada anak-anak ketika diajarkan pada seseorang saya selalu bilang, reguk dulu ilmunya. Nanti kamu akan punya pemahaman lain kalau kamu terus-menerus haus membaca.

Jangan pernah bermimpi semua orang suka tulisan kita. Buang jauh-jauh pikiran itu ketika menulis. Fokus menulis saja. Karena ada orang yang suka warna biru dan benci warna lain. Sama seperti itu juga dengan tulisan. Akan selalu ada tulisan yang sreg di hati satu orang tapi tidak sreg di hati orang yang lain.
Saya bukan pencinta drama korea atau sinetron, maka saya tidak menonton itu. Tapi buat pencinta keduanya, saya akan dianggap melecehkan bila saya menuliskan tentang keburukan tersebut.
Ada pro dan kontra terus menerus.

Lalu menulis jadinya untuk apa?
Kalau saya menulis untuk membagi wawasan saya, membagi ilmu saya. Dan tentu saja untuk bahagia. Jujur saya tidak bahagia kalau tidak menulis. Dan sungguh menjalanhi hidup yang tidak bahagia itu tidak enak sekali. Karena itu sampai sekarang saya masih terus menulis. Dan akan terus menulis.

Kunci Penting untuk Kesehatan dan Kecantikan Wanita

Sebagai seorang perempuan, apa yang sudah kita ketahui tentang diri kita sendiri? Apa yang sudah kita pahami mana yang baik untuk kesehatan dan kecantikan kita sendiri? Apakah kita paham luar dalam tentang diri kita? Atau kita hanya mengikuti arus deras yang mempropragandakan cantik hanya dengan persepsi, putih, tinggi, langsing, berambut lurus saja?

Ada banyak salon kecantikan yang menawarkan program awet muda. Tapi jika perempuan paham apa yang menyebabkan ia mudah menua, tentu tidak akan terpengaruh dengan program yang menguras isi kantong.
Di lingkungan kita ada banyak bertebaran radikal bebas. Dan radikal bebas itu yang menjadi salah satu sebab penuaan.
Radikal bebas ini adalah molekul yang mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan di orbit, sehingga relatif tidak stabil. Agar stabil molekul tersebut secara reaktif mencari pasangan elektronnya. Dan biasanya cara yang ditempuh adalah meminta sumbangan atau mencuri elektron dari sel tubuh lain. Proses ini yang akhirnya menyebabkan kerusakan sel termasuk penuaan kulit ( halaman 2-3).
Untuk mencegah penuaan tentunya dibutuhkan penangkal radikal bebas. Dan ternyata penangkalnya itu mudah sekali didapatkan di sekeliling kita. Vitamin A contohnya. Vitamin A ini dapat mencegah penuaan. Bukan hanya vitamin A. Vitamin C pun bisa membantu mengurangi keriputan. Vitamin E bisa dijadikan sebagai sumber collagen.
Semua itu bisa didapat dari makanan yang murah dan bisa didapat di sekeliling kita. Tomat, tauge, pepaya, jeruk, mangga dan beberapa buah lainnya.

Jika merasa sehat saja belum cukup karena merasa tubuh masih terlalu gemuk, maka ada rahasia lain. Rahasia itu bernama kacang, yang bisa membantu wanita untuk melangsingkan tubuh. Dan ternyata kacang yang dimakan sebagai pengganti asupan energi tidak akan membuat gemuk.
Beda jika kacang itu dimakan hanya sebagai camilan tambahan dan memakannya tanpa takaran lalu dilakukan terus-menerus. Itu yang akan membuat tubuh menjadi gemuk.

Masih ada banyak lagi rahasia dalam buku 9 Secrets of Woman yang ditulis oleh Dyah Umiyarni Purnamasari, seorang dosen ilmu gizi di Universitas Jendral Soedirman Purwakarta, diterbitkan oleh Penerbit Andi. dengan tebal 134 halaman.
Termasuk rahasia mengurangi sakit yang diderita sebagian besar wanita ketika menstruasi.
Buku yang ditulis oleh seorang yang memang bergelut di bidanngnya, untuk saya tentu saja lebih well informed dan jadi pertimbangan. Karena info yang didapat diolah dengan dan dimatangkan dengan penelitan. Sehingga pembaca bisa mendapatkan poin manfaat.

Ada 9 bab dalam buku ini, dan setiap bab diakhiri dengan informasi yang sifatnya Fakta tentang apa yang dibahas dalam bab tersebut. Dan juga ada saran yang bisa memandu pembaca jika ingin mengkonsumsi makanan sesuai takaran dan aturan agar manfaatnya optimal.
Ada resep masakan yang tidak terlalu rumit yang bisa dicoba di dapur,

Buku ini selesai saya baca dalam sekali duduk di atas kereta commuter. Saya merasa jadi lebih bahagia sebagai wanita karena paham kebutuhan tubuh saya sendiri.

Fredy Harsongko Bukan Sekedar Kenangan Manis

Saya mengenalnya dan mencoba memahaminya dengan hati. Iya dengan hati saja. Dan ternyata memahaminya dalam hati itu berubah menjadi salah satu bentuk kasih sayang yang lain. Saya mulai menyayanginya sebagai seorang ibu kepada anaknya. Anak yang dari kalimat yang selalu ia tuliskan bisa saya pahami karakternya yang halus.

Ia memperkenalkan diri sebagai Koko. Nama lengkapnya Fredy Hasongko.
Bulan Oktober 2013, dia mendaftar ingin menjadi murid di kelas menulis online. Bulan-bulan berikutnya, saya menyaksikan kesungguhannya berkarya. Bagaimana ia berjuang membentuk dirinya agar membayangkan dirinya sebagai seorang wanita, ketika menulis untuk majalah wanita.

Usianya tidak pernah saya tanya. Tapi yang saya tahu ia kuliah di sebuah perguruan tinggi dan ingin menjadi guru. Perguruan tinggi yang agak bermasalah tapi akhirnya bisa membuatnya lulus dan mengajar di sebuah SMK.
Wajahnya jauh lebih muda dari usianya. Dari kalimat-kalimat yang ia tulis di kolom inbox, saya paham karakternya yang halus.
Rasa ingin belajarnya cukup besar, rasa tidak enak hatinya juga sama besarnya. Karena itu setiap buku saya terbit, ia berjuang untuk mencari bahkan membelinya dari saya.
Ia bahkan meminta waktu saya untuk bersedia diwawancara dan dimasukkan ke dalam blog yang dikelolanya.

Namanya Koko. Saya sering menggodanya untuk bertanya siapa calonnya? Karena pernah di foto profil whatsappnya tampak ia berdiri dan tersenyum di samping seorang perempuan. Ketika saya tanya, apakah ia calon pasangannya? Ia tertawa dan menulis kalau itu adalah adik kandungnya yang akan mendahuluinya menikah.

Koko saja, dan ia biasa menyebut saya Mbak atau Kak.
Karyanya manis. Tulisannya lembut. Berkali-kali bertanya kapan saya akan datang ke Malang? Berkali-kali berharap ingin sekali bertemu saya.
Lalu tibalah masanya setelah bertahun-tahun saya tidak ke Malang, Koko melihat foto yang saya upload di akun instragram saya dan dia bertanya, apakah saya sedang di Malang?

Saya tidak pernah tahu ia sedang sakit. Saya juga tidak bisa menemuinya karena sempitnya waktu. Hingga suatu hari sepulangnya dari mudik, saya jatuh sakit.
Entah kenapa ada sesuatu yang tidak biasa. Sesak napas tidak seperti biasanya. Tubuh melemah. Mirip seperti yang saya rasakan ketika kerabat dekat pergi dan ketika Bapak juga pergi. Tapi saya pikir itu efek saya terlalu lama di kampung orang.
Hingga akhirnya pada satu siang setelah saya paksakan diri untuk jalan kaki di pagi hari, dan akhirnya tubuh membaik, saya mendengar kabar itu. Kepergian Koko karena penyakit paru yang dideritanya.

Orang baik akan terasa ketika ia berpulang. Dua hari saya tidak bisa tidur, terbangun kaget dan mengeluarkan air mata. Berkali-kali.
Saya merasa sesuatu yang saya letakkan di hati hilang tiba-tiba. Anak baik yang selalu rajin bertanya dan santun, yang selalu mau menampung ilmu dari saya, sudah pergi. Yang ia tinggalkan jejak kebaikanya dan jejak tulisannya.

Saya mencoba memahaminya dengan hati.
Hanya dari hati.
Anak baik memang lebih cepat pergi, agar tetap berada dalam lingkaran kebaikan saja.

Lomba Menulis Konferensi Penulis Cilik Indonesia

Konferensi Penulis Cilik, ajang lomba untuk anak-anak usia SD seluruh Indonesia sudah dibuka lagi. Yuk cek ketentuan lombanya ;

· Peserta merupakan siswa SD/MI atau sederajat dan masih berstatus sebagai pelajar pada tahun ajaran 2017/2018.

· Peserta belum pernah menjadi juara 1, 2, dan atau 3 tingkat nasional pad kategori lomba yang sama.

· Peserta hanya boleh mengikuti satu kategori lomba dan hanya boleh mengirimkan satu karya.

· Karya bertema “Indahnya Persahabatan dalam Keberagaman” ditulis dalam Bahasa Indonesia dan tidak mengandung undur SARA atau Pornografi.

· Karya merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan atau diikutsertakan pada lomba sejenis.

· Karya diketik pada kertas HVS ukuran A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman ukuran 12 dengan jarak margin 4-3-3-3 cm. Atau bisa juga ditulis tangan pada kertas folio bergaris.

Untuk yang belum mengirim karya dan masih bingung akan ikut kategori lomba apa, lebih baik Sahabat lihat dulu baik-baik persyaratan dan ketentuan setiap kategori lombanya lewat tautan-tautan di bawah ini:

Lomba Menulis Cerpen Bagi Penulis

Lomba Menulis Cerpen Bagi Pemula

Lomba Cipta Pantun

Lomba Mendongeng

Lomba Cipta Syair

Ayo segera tentukan kategori yang Sahabat sukai, karena setiap peserta hanya boleh memilih satu kategori dan hanya boleh mengirimkan satu karya saja. Jadi, pikirkan baik-baik yah! Kalau semuanya sudah siap, Sahabat bisa langsung kirim karya Sahabat dengan tujuan sebagai berikut:

Direktur Pembinaan Sekolah Dasar

u.p. Kasubdit Peserta Didik, Subdit Peserta Didik

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar

Gd. E Kemdikbud Lt. 17,

Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270

Telepon: (021) 5725638 atau (021) 572564

Naskah yang akan dikirimkan harus dibuat sebanyak 3 rangkap dan kesemuanya itu harus disahkan keasliannya oleh kepala sekolah atau pihak yang mewakilinya (diberi cap dan tanda tangan kepala sekolah). Kemudian karya dimasukan ke dalam amplop yang diberi keterangan kategori lomba yang diikuti di sudut kiri atas amplop (contoh: KPCI – Lomba Cipta Syair).

Naskah atau karya yang dikirim harus dilengkapi fotokopi identitas berupa kartu pelajar serta biodata singkat yang mencantumkan nama peserta, tempat tanggal lahir, kewarganegaraan, alamat lengkap, nomor telepon yang bisa dihubungi, alamat e-mail, nama sekolah, alamat sekolah, dan kelas. Supaya panitia nanti tidak bingung untuk mengidentifikasi karya kamu. Kita tunggu karya Sahabat selambat-lambatnya pada 31 Agustus 2017 (cap pos).

Ayo diserbu.
Setiap tahunnya KPCI akan mengundang 150 anak dari seluruh Indonesia untuk berkumpul selama empat hari mengikuti konferensi.

Dalam Sebuah Pernikahan, Perempuan Harus Bahagia

Ia menunduk. Ia bicara. Lalu menarik napas panjang ketika lawan bicaranya mengusap air mata yang ke luar dari kedua matanya.
Bicara mereka lirih, karena tak jauh dari mereka, mungkin saja ada beberapa telinga yang bisa menangkap keluh kesah yang sedang dibagi.

“Dalam pernikahan, perempuan harus bahagia,” ujarnya meyakinkan. “Dan untuk bahagia, perempuan harus tahu apa yang ia inginkan.”
Masih ada air mata.
Ia mencoba menarik benang merah dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Rumah tangga pasangan lain yang baru melangkah, rumah tangga orangtuanya hingga masuk usia 53 tahun dan maut memisahkan, rumah tangga lain yang jauh di atas rumah tangganya.

Ia sendiri sudah menemukan bahagianya. Sederhana saja ia menemukannya. Bukan dengan limpahan harta, bukan dengan pujian yang melambungkannya. Ia hanya membuat lingkaran di kepalanya. Berisi dirinya sendiri. Fokus pada dirinya sendiri. Ketika ia sudah menemukan inginnnya, mimpinya, maunya, maka lingkaran itu ia lebarkan.

Kecewa yang Sewajarnya

Ia menarik napas panjang. Mencoba memahami. Dalam satu minggu ada beberapa wanita yang mengadu. Wanita-wanita tangguh tetap saja seorang wanita.
Ia mencoba memahami konsep ujian. Ketika ia diuji, ia selalu berpikir bahwa ini memang jalan yang harus ditempuhnya. Jalan karena pilihannya, bisa jadi untuk pelebur dosanya. Ketika itu ia pikirkan, ia menjadi lebih fokus untuk memperbaiki diri sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.

Seorang lelaki tangguh, akan dipertemukan dengan perempuan lemah. Begitu sebaliknya.
Seorang lelaki pintar, akan dipertemukan dengan perempuan yang tidak nyambung ketika diajak bicara tentang satu hal yang ia inginkan. Satu hal saja dan itu akan melebar. Setan akan menelusup ke dalam hati dan mengusiknya dengan pikiran bahwa pasangannya tidak bisa apa-apa.
Ketika seorang perempuan bekerja berlimpah harta, maka ia akan disandingkan dengan seorang lelaki yang diuji materinya. Sehingga setan akan membisikkan bahwa si lelaki tidak punya kemampuan sebagai lelaki.
Ketika seorang perempuan mulai berjalan di jalurNYA, maka ia akan mulai fokus pada perubahan besar yang diharapkan terjadi juga pada pasangan. Setan membisikkan itu, sehingga ia tidak menikmati lagi perubahan kecil yang dijalani pelan tapi pasti oleh pasangannya.

“Aku kecewa…”
Ia mengangguk. Membuka buku dan ingatan. Sebuah buku selalu dijadikan rujukan. Kitab-kitab perjalanan pada utusan Allah dan orang beriman lainnya.
Diuji dengan pasangan adalah biasa. Luth dan Nuh bahkan Asiyah istri Firaun pun seperti itu. Bukan setahun, dua tahun dan puluhan tahun. Tapi ratusan tahun.
Bukankah itu tanda bahwa Sang Khalik sebenarnya mencintai? Ujian diberikan, agar kita menangis dan berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Fokus Pada Orang Lain yang Tidak Berdaya

Dalam pernikahan seorang perempuan harus bahagia. Karena ketika perempuan bahagia, maka aura positifnya akan menular pada anak-anak. Tapi ciptakan dulu lingkaran itu, pahami betul apa yang diinginkan. Lalu setelah itu, ia akan menemukan jati dirinya. Apa yang membuatnya bahagia, apa yang tidak. Apa yang tidak perlu ditahannya apa yang tidak.

Ia melihat seorang di depannya mengangguk. Pernikahannya sudah dua puluh tahun, beberapa tahun lebih lama ketimbang pernikahannya.

“Tidak pernah ada hadiah untukku. Tidak pernah ada cincin emas.”
Ia menarik napas panjang.
Ketika perempuan sudah kecewa dengan pasangan, maka terlupalah kebaikan yang banyak dari pasangan. Itu yang selalu ia pegang dengan erat, ketika mendengar kalimat itu di sebuah kajian. Seorang sahabat Rasulullah yang mengucapkan hal itu.

“Bicara pada pasanganmu. Karena laki-laki bukan perempuan. Jadi bicaralah. Sampaikan keluhanmu, sampaikan inginmu.”
Perempuan di depannya diam.
Lalu ia mengurai apa yang pernah ia lakukan. Ketika jembatan komunikasi tidak dibangun. Ketika ia merasa tidak perlu bicara dan hanya memendamnya dalam diam, mengharap pasangannya mengerti. Ketika ia kecewa lalu menghabiskan waktu dengan tangisan dan energinya terkuras habis.

“Dia menyebutku boros. Selalu seperti itu.”
“Tulis apa saja pengeluaranmu untuk rumah tangga. Terkadang lelaki tidak paham perempuan bergelut dengan harga-harga. Dan mereka merasa masih saja pasangannya boros. Ajak dia belanja, atau serahkan uang padanya untuk belanja. Sehingga ia paham makna boros yang sesungguhnya.”

Matanya berbinar.
“Sungguhkah?”
Ia mengangguk.

Serahkan Tuntas Pada Pemilik Masalah

Perempuan dalam pernikahan harus bahagia. Dan untuk bahagia itu, perempuan harus menemukan dulu jati dirinya. Sehingga ketika masalah datang, ia paham harus menempatkannya di mana?

Ia menarik napas panjang.
Menemukan bahagianya, fokus membahagiakan orang lain, menjadi salah satu cara agar bahagia dan tidak lebur dalam duka. Bisa jadi ia hanya kurang bersyukur.

“Ini bayi-bayi yang kena HIV Positif. Mereka lebih malang, kan?”
Wajah permepuan di hadapannya terlihat takjub.
“Fokus pada orang lain, jangan terlalu fokus pada pasangan. Karena itu sama seperti terus-menerus melihat tanaman peliharaan. Semakin dipandangi terasa semakin tidak tumbuh berkembang. Tapi ketika ditinggal satu, dua minggu, akan terasa perubahannya.”

Perempuan di hadapannya mulai bisa tersenyum.
Lalu ia mengambil telepon genggam. “Serahkan semuanya pada Pemberi Masalah. Maka hidupmu akan jauh lebih tenang. Kalau dia yang salah, maka biar Allah yang mengurusnya. Jika dia tidak salah, kita juga sudah lega. Mungkin kita diberi petunjuk dengan banyak cara.” Ia mengirimkan doa yang selalu diucapkan setiap saat lewat telepon genggamnya.

Perempuan di hadapannya mengangguk.
Adzan sudah terdengar. Ia harus segera pulang.

Perempuan harus bahagia.
Dan sungguh, ia pernah juga pernah melewati fase tidak bahagia. Tapi intropeksi terus-menerus, membuat ia paham jalan bahagia datangnya dari mana.
Dan ia bersyukur bisa menapaki tangga bahagia.
Bukankah sejatinya hidup itu pilihan. Berkorban atau dikorbankan, bermanfaat atau dimanfaatkan adalah jalan pilihan.
Dan pernikahan yang dihuni oleh sepasang anak manusia sebagai sekolah yang terus-menerus dihujani pelajaran, harus diterima dengan pikiran terbuka. Bahu-membahu harus dilakukan. Jika seorang berada di depan harus ada yang mau berada di belakang. Karena sejajar dalam pernikahan hanya bisa tercipta ketika sudah melewati tahap gejolak. Siapa yang bersedia maju dan siapa yang bersedia mendorong kemajuan itu.

Perempuan harus bahagia dalam pernikahan.
Sudah malam.
Ia melangkah ke luar sambil terus berharap, ujian seberat apapun, ia akan selalu menerimanya sebagai proses tumbuh kembang sebagai makhluk ciptaanNYA.

Suatu Hari yang Dilumuri Kenangan

Suatu hari, libur mereka menjadi panjang. Hanya bincang-bincang kecil pada awalnya. Tentang anak-anak yang tumbuh besar. Yang besar akan berpisah dan masuk pondok. Ia harus mendapatkan kenangan yang mengikat tentang orangtuanya.

Suatu hari, sebelum liburan mereka saling bicara.
Seorang kepala keluarga yang setiap bulan sakit, pasti ada sesuatu. Berganti-ganti dokter bukan solusi. Mata dan bibirnya setiap bicara selalu bicara tentang kenangan. Masa kecilnya, masa lalunya. Dan itu artinya satu, Si Istri harus memahami kerinduannya pada masa lalunya, yang tidak mungkin bisa diberikan Istri padanya.

“Pulanglah,” ujar Si Istri setiap saat, setiap waktu.
Tapi lelaki itu kelihatan gamang. Pekerjaan dari klien menumpuk. Ketika ada waktu libur, anak-anak butuh biaya yang tidak sedikit pula.
“Pulanglah,” ujar Si Istri.
Hanya ada beberapa orang kakak. Tidak ada lagi orangtua. Bukankah pulang pada saat itu akan terasa sekali berbeda?

Pulang, gagal dan akhirnya berujung pada sebuah keputusan.
“Kita pulang,” ujarnya sambil menunjukkan tiket kereta menuju Malang.
Si Istri mengangguk setuju. Kebahagiaan pasangan adalah kebahagiaannya. Lagipula ada tali kekerabatan yang harus dirajut. Soal dana tidak perlu terlalu dipusingkan. Ada beberapa pekerjaan yang sudah selesai di muka, dan pembayaran akan dicicil beberapa bulan ke depan. Jadi tidak perlu khawatir.

And Bromo…

Suatu hari mereka mengenang. Perjalanan panjang 21 tahun yang lalu. Hanya saling kenal tidak berkelanjutan. Seorang penulis dan ilustrator. Seorang anak muda berambut panjang yang tidak dianggap oleh sang wanita. Tapi jodoh adalah mutlak kuasaNYA.

“Ke Bromo?” tanya Si Suami.
Si Istri mengangguk. Bromo. Ingin anak-anak bisa lebih mencintai alam. Ingin anak-anak merasakan ada kesulitan yang bisa ditaklukkan bersama. Ingin mereka paham bahwa cinta orangtua itu, artinya membuat wawasan mereka bertambah.

Maka semua direncanakan. Bahagia Si Suami adalah membahagiakan keluarganya. Maka Si Istri harus ikut bahagia. Anak-anak juga belajar. Membahagiakan orang lain itu, akan sangat menyehatkan.
Mereka bersama dengan tiga keluarga lainnya dengan mobil Espass tua dan motor naik menuju Bromo.
Anak-anak belajar tentang hidup di ujung maut, ketika mobil Espass tahun 1996, di mana mereka berempat ada di belakang, hampir saja tidak bisa menanjak karena kebanyakan beban. Dzikir mereka mengalun. Takjub disertai syukur ketika menyaksikan pemandangan kabut. Kabut yang menyelimuti cemara,jingga kemerahan. Mobil seperti berada di atas awan.
“Ini namanya negeri di atas awan,” ujar Si Istri sambil melilitkan syal yang dipakainya, karena hawa dingin mulai masuk dari sela jendala mobil tua yang tidak memakai pendingin udara.

Sebuah Home Stay

Jalan masih terus berbelok di tikungan tajam, menanjak dan menurun. Kiri kanan jurang dan kabut tebal mulai datang.
“Kita kesasar?” terdengar sebuah suara.
Mereka melewati jalan alternatif dari Purwodadi. Resikonya jalan akan naik turun, tidak seperti melewati jalan umum dari Lumajang. Jarak memang akan lebih dekat.
“Kita kesasar?”
Beberapa kali mobil berhenti untuk bertanya. Sudah mulai gelap, jalan tidak terlihat. Hawa dingin pun semakin menggigit.
Lampu-lampu mulai terlihat menyala. Vila-vila yang disewakan. Rumah-rumah penduduk yang mulai tertutup pintunya.

Mereka kesasar di satu tempat. Lalu bertanya pada seseorang yang berjaga di pintu gerbang vila yang disewakan. Mereka masih harus naik lagi dan turun lagi.
Sampai di sebuah lapangan dekat SMA, mobil pun berhenti. Tidak ada signal sama sekali. Sampai pada satu titik akhirnya signal didapatkan, dan pemilik rumah yang mereka sewa datang menghampiri.

Sebuah home stay dengan lima kamar. Savana Indah Home Stay.
Ada termos berisi air panas, gelas-gelas bersih, kopi, teh juga gula. Dua buah wadah kue di atas meja untuk mereka.
Tempat yang bersih. Setiap kamar memiliki kamar mandi. Ingin air hangat bisa ditekan tombol agar mesin penghangat air menyala.
Ada ruang tamu berisi televisi. Ada ruang makan. Dan satu tempat untuk shalat dengan Al Quran, sajadah, mukena juga sarung bersih tersedia.

Harga sewa permalam 250 ribu rupiah untuk setiap kamar.
Ada sebuah musholla persis di samping home stay. Di lantai bawah pemilik tinggal. Penyewa di lantai atas. Pemiliknya seorang kepala sekolah yang juga membuka warung sembako di lantai bawah.

Dan Bromo

Dan Bromo adalah kenangan. Ketika pada jam tiga malam, Mobil jip mengantar mereka pergi. 450 ribu harga sewa untuk dua tempat yang akan dikunjungi.
Si Suami khusyuk shalat sebelum berangkat. Si Istri berdoa, agar tidak sampai melalaikan kewajiban shalat hanya demi mengejar terbitnya matahari. Dalam doanya terselip permohonan, agar Allah gagalkan saja rencana untuk mendaki, jika itu hanya melalaikan shalat.
Sebab 21 tahun yang lalu, di jalur pendakian tidak ditemukan tempat untuk shalat.

Jip-jip yang melaju. Jip-jip yang berhenti di loket pembelian tiket. Harga tiket masuk pada musim liburan dipatok 32. 500 perkepala.
Mereka mengenakan pakaian berangkap-rangkap. Entah kenapa Si Istri bahagia melihat wajah dua remajanya yang takjub dengan pengalaman baru mereka.

“Tidak bisa naik jipnya,” ujar pengemudi. “Antrian panjang.”
Jip- jip yang parkir di pinggir jalan. Musim liburan membuat pengunjung memenuhi Bromo.
“Di sana ada Bukit Cinta.”
Iya di sana Bukit Cinta namanya. Anak-anak harus tahu bagaimana mendaki. Bukan gunung yang tinggi. Tapi pada jam empat dini hari, mereka harus naik di jalan gelap mendaki dengan sebuah senter yang kadang hidup kadang mati, adalah sebuah sensasi tersendiri.
“Di sebelah sana ada mushala,” ujar Si Suami menunjukkan satu bedeng tepat di atas sebuah toilet.

Semua pengunjung naik. Dalam gelap sambil terus-menerus berdzikir.
“Itu fajar Kadzib namanya,” ujar Si Istri pada anak lelaki yang duduk di sebelahnya.
Lalu cahaya datang dan menghilang. Kembali gelap. Lambat laun dari arah lain ada cahaya putih. “Yang itu fajar Shadiq namanya. Langit akan menjadi terang tidak gelap lagi. Tanda waktu Subuh sudah datang.”
Lalu semua tersingkap. Lautan kabut menipis pelan tapi pasti. Menghadirkan sosok gunung tinggi. Indah sekali.

“Masya Allah indah sekali,” Bungsu tergugu dalam kagum.
“Indah, kan?” tanya si Istri pada anak sulungnya yang lebih suka memendam rasa kagum dalam hati.

Waktu pun bergeser. Sebuah mushala mungil, air mineral yang masih penuh bisa dijadikan air untuk wudhu di saat toilet panjang antriannya.
Mereka harus terus berjalan menuju lautan pasir Bromo. Supir jip sudah menunggu. Iring-iringan jip mulai naik menuju tempat lain.

Debu-Debu yang Berterbangan

Suatu hari mereka mengulang kenangan. Sepasang anak manusia. Melangkah bersama. Ketika anak-anak sudah melesat ke arah anak tangga yang tinggi bersama dengan yang lain.
Mereka tertinggal berdua.
Si Istri menikmati antrian panjang toilet di kawah Bromo, sedang Si Suami setia menunggu sambil memandangi penjual bakso di sekitar lautan pasir Bromo.

“Kamu di sana, aku foto.” Si Suami menenteng kamera.
Mereka berjalan berdua di tengah debu-debu pasir yang terus berterbangan. Dingin masih menggigit. Kuda-kuda tunggangan melesat meninggalkan debu. Motor-motor sewaan juga sama.
Warung-warung makan berdiri berjejer. Lautan pasir penuh dengan para pengunjung. Anak-anak muda bercengkrama.

“Di sini saja,” ujar Si Istri. Semalam ia tidak bisa tidur. Sebab kewajiban ibu tetaplah harus dijalani meskipun sedang liburan. Menyuruh anak-anak tidur lalu membangunkan. Resah sendiri takut alarm terlambat berbunyi dan mereka kesiangan sesuai janji.
“Di sini saja, menunggu di warung,” ujar si Istri.
Si Suami melangkah pergi. Anak-anak harus didampingi. Kenangan manis mendaki bersama anak-anak mungkin yang sedang dikejarnya.

Jalan itu terlalu mendaki. 250 anak tangga rasanya sudah tidak mungkin lagi bisa didaki. Memaksakan diri takut berujung akan menyusahkan orang lain.
Lagipula kawah di atas sana sudah pernah didakinya ketika masih muda.
Si Istri ikhlas dengan kepala yang mulai pening, dan butuh tempat istirahat. Telepon genggam selalu berbunyi meskipun kadang signal tidak didapatkan.
“Anak-anak sudah naik,” ujar Si Suami dari arah pendakian.

Dan …

Dan suatu hari, ketika libur panjang untuk saling membahagiakan telah selesai, mereka duduk berdua. Di antara hutan jati dan sawah-sawah yang terbentang. Pada pagi yang kabutnya masih belum hilang, dan membuat tubuh mereka menggigil.
“21 tahun yang lalu kita pernah ada di sana,” ujar Si Istri.
“21 tahun? Sudah lama sekali,” ujar Si Suami sambil menikmati gorengan bakwan yang biasa disebut Weci, yang dibeli di pasar seharga lima ratus rupiah.

Ada banyak bahagia.
Dan membahagiakan orang lain terlebih dahulu, akan dibayar oleh Allah Maha Pemberi Bahagia. Awan-awan seperti berlomba dimasukkan ke dalam hati keduanya.

Coban Rondo dan Seorang Bidadari

Perempuan itu selalu bermimpi menjadi bidadari. Terbang tanpa sayap. Sejak dulu hingga saat ini. Sebab memandangi pepohonan, awan dan air adalah suatu bentuk ketenangan untuknya. Ketika ketegangan melanda, pada malam harinya ia selalu bermimpi. Terbang dan bahagia di antara gumpalan awan-awan.
Perempuan itu bermimpi menjadi seorang bidadari yang mandi di bawah air terjun, melepas selendangnya. Lalu seorang lelaki jatuh cinta dan menyembunyikannya. Menahannya untuk menjadi istri.

Sudah lama sekali mimpi yang terkubur dalam itu ingin diwujudkannya. Ia tidak butuh tempat yang mewah. Ia hanya ingin berada di pelukan alam. Berada di bawah air yang memercik. Air yang membasahi tubuh yang turun dari tempat tinggi. Setelah itu bisa luruh semua beban.

“Museum Angkut?” tanya Jaka Tarub yang sudah menjadi suaminya, pada malam hari ketika mereka tiba di Malang dari Blitar.
Bayangan air terjun itu menggoda. Sudah delapan hari lamanya dan setiap hari diisi dengan pergi dan pergi. Untuk anak-anak. Untuk ikatan keluarga. Untuk kenangan yang bisa mereka kais di masa depan nanti.
Hari hari mereka sudah terlalu padat. Emosi sudah tidak stabil. Mereka berdua sudah butuh liburan. Anak-anak juga punya beban berat. Sekolah mereka full day school.
Sebuah ketenangan. Air yang memercik, hawa dingin yang memeluk dan kabut yang terhampar yang akan membawanya ke negeri damai tanpa beban.
Sungguh ia ingin menjadi bidadari tanpa beban, melayang bebas, lalu setelah itu tidak ada masalah lagi ketika kenyataan memeluknya erat. Sebab besok dan besoknya, ia masih bisa mengenang pengulangan menjadi bidadari.

“Coban Rondo,” ujar Perempuan itu. Tersenyum sendiri. Membayangkan suatu masa ketika ia hadir sendiri tanpa teman. Lalu gamang. Dan air terjun yang memercik membuatnya seperti menemukan sesuatu kekuatan baru. Ketenanganan bercampur ketegaran.
Jaka Tarub-nya pada waktu itu adalah seorang ilustrator. Ia tidak pernah tahu akan ada sebuah pertemuan. Jaka Tarubnya biasa mengilustrasi naskah-naskahnya di buletin khusus yang terbit setiap bulan, dan di kartu-kartu ucapan. Selendangnya tidak diambil. Tapi perhatiannya diraih sedikit demi sedikit.

“Coban Rondo?” anak-anak bertanya.
“Air terjun. Biar kalian tahu lebih banyak tentang alam,” ujar Perempuan itu dengan mata dipenuhi kenangan. Ia membayangkan air terjun yang akan menenggelamkannya dalam kenangan, lalu membuatnya kembali memiliki selendang yang akan membawanya terbang kembali ke langit.

Coban Rondo itu masih di tempat semula. Di daerah wisata Batu Jl. Coban Rondo, Pandesari, Pujon, Malang, Jawa Timur 65391.
Perempuan itu harus bersabar. Membiarkan Jaka Tarub berkumpul bersama teman-teman masa lalunya pada satu malam. Untuk mengenang suatu masa. Malamnya matanya tidak bisa terpejam. Membayangkan air yang menghempas-hempas, tawa yang hadir dan kenangan yang memeluk.
“Kita mau ke mana?” tanya dua anak-anak padanya untuk memastikan.
Mereka sudah berangkat. Menuju jalan berbelok, mendaki dan menurun.
“Ikuti saja Ayah kalian maunya ke mana,” ujarnya sambil memejamkan mata. Terbuka sedikit matanya untuk melihat pohon-pohon, kabut juga jurang. Matanya kembali terpejam. Membayangkan juga mengenang.

Mereka tiba akhirnya.
Hawa dingin semakin menyergap. Jalan menanjak, berbelok dan menurun. Hutan-hutan jati. Bayangan tentang sekumpulan bidadari memenuhi benak.
Perempuan itu berusaha mengahalau bayangannya. Dua puluh satu tahun yang lalu, membayangkan diri sebagai bidadari. Dan bidadari itu sekang sudah menjelma menjadi ibu dari dua remaja. Waktu yang sangat panjang.
Pohon-pohon yang dulu liar sekarang berubah menjadi lebih bersahabat. Setiap sudut ditata dengan baik.

Ada harga yang harus dibayar untuk keindahan tersebut. Tiket masuk seharga 21 ribu rupiah.
Yang pertama Perempuan itu cari adalah mushala dan toilet. Lalu mencobanya. Di dekat air terjun, bukan mushala namanya. Tapi lebih pantas disebut masjid. Perempuan itu tidak masuk ke dalam karena belum waktunya shalat.
Tapi toilet, bahkan berkali-kali. Air dan air. Perempuan itu mencintainya dan sering ingin berlama-lama bersama air yang mengalir deras.

.

Ia memang bukan bidadari. Tapi selalu membayangkan seperti seorang bidadari. Bidadari yang tanpa beban. Turun untuk melihat dunia. Bersenang-senang bersama teman yang lain. Sampai akhirnya seorang Jaka Tarub mencuri selendangnya.
Air terjunnya masih sama seperti yang dulu. Percikannya turun jatuh ke batu, membuat siapa yang di dekatnya bisa basah bajunya. Tapi sensasi basah itulah yang dicari.
Perempuan itu melihat seorang gadis kecil dan ayahnya berbasah-basahan di bawah air terjun. Ada sungai juga dengan batu-batu besar yang dijadikan tempat berfoto untuk pengunjung.
“Ayo ke sini,” ajaknya pada anak gadisnya.
“Batunya licin, Bu,” Si Anak menolak.
“Ayo sama Ibu…,” Perempuan itu menggandeng tangan anak gadis. Naik ke atas batu.
“Di situ airnya muncrat, Bu. Nanti bajuku basah.”
“Justru itulah kenangannya,” ujar Perempuan itu meyakinkan.
Mereka bergandengan. Berada dekat sekali dengan air terjun yang tumpah. Daaan.
“Bajuku basah, Bu.”
Bajunya juga basah. Tapi ia bahagia. Sepertinya kenangan masa lalu telah melingkarinya seperti bulatan balon tranparan. Ia ada di dalamnya, tenggelam dalam bahagia.
Kerudung panjangnya berkibar dihempas angin dan air yang tercurah. Ia merasa sedang terbang dengan sayapnya. Dan ia bahagia, lepaslah semua beban.

Tidak jauh darinya ada seekor monyet sedang kedinginan di dekat sungai.
Ada papan peringatan yang dipasang dekat sungai. Pengunjung yang lain masuk dan berfoto di sana.
Tulisan itu terbaca. Si Perempuan memutuskan, tidak mau ikutan masuk ke sungai.

Labirin dan Spot Foto

Ia bukan bidadari. Hanya senang membayangkan. Juga bukan dicuri selendangnya. Ia berikan untuk sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Dan ia menyadari segala yang harus dijalaninya. Menjadi istri, ibu, bergulat dengan semua pekerjaan. Hanya kadang-kadang ia butuh selendang untuk terbang. Hingga ia bisa lepas dari beban, tidak sekedar hanya dalam mimpi saja.
Coban Rondo tidak seperti dulu lagi. Ada banyak yang berubah. Jalan yang bagus, sudut-sudut tertata rapi. Perempuan itu kagum dengan pembangunan yang ada. Toilet dan mushala ada di mana-mana. Bersih dan besar.

“Masih ada tempat yang lain,” ujar Jaka Tarub padanya.
Masih ada tempat yang lain dan ia hanya kenal satu tempat saja. Air terjun itu. Dulu tidak ada tempat yang lain.
Ia butuh waktu untuk menyendiri. Maka berjalanlah ia sendiri duduk di atas bebatuan.
Bukankah bersenang-senang tidak perlu sepanjang masa?
Bukankah seorang bidadari di bumi akan selalu membuat cemburu bidadari di langit?
“Ayo, Buuu.”
Ia mengangguk. Siap berjalan lagi.

Mereka mencoba tempat lain. Seorang bidadari yang sudah kembali menemukan jati diri. Kebahagiaan penuh melingkari.
Ada Labirin. Perempuan itu dan Bungsu yang mencoba, mau merasakan sensasi tersesat dengan harga sepuluh ribu.
Ada pohon yang diberi banyak pita warna-warni yang berjuntai. Ada sewa motor seharga tiga puluh ribu. Ada tempat lain untuk spot foto yang menarik. Semacam ayunan warna-warni yang digantung di antara dua pohon, dan pemandangannya jurang dan pohon-pohon pinus. Tapi mereka tidak mencobanya, karena badan sudah lelah, lagipula perempuan itu sudah janji dengan salah satu murid menulis yang sudah lama berteman, untuk singgah ke rumahnya.
Ada area pananah, yang bisa disewa dengan harga lima ribu rupiah, naik kuda juga bisa.

Perempuan itu dalam keadaan penat sering bermimpi. Melayang-layang terbang di udara.
Sekarang mimpi itu sudah terpenuhi.
Perempuan itu tersenyum, ia memutuskan untuk melipat kenangan 21 tahun silam di tempat yang sama. Ia sudah sangat bahagia.

Kampung Coklat, Wisata Edukasi Murah Meriah

“Ayo ke kampung coklat.”
Ajakan itu diucapkan oleh satu orang keponakan yang tinggal di Blitar. “Kampung coklat bagus.”
Wisata, wisata, wisata. Memang itu yang ada di kepala kami , ketika memutuskan untuk liburan panjang sekeluarga. Karena itu setiap lemparan ide tempat wisata, langsung kami tanggapi dengan pertanyaan. Di sana ada apa? Jauh tidaknya?
Karena bayangan saya tentang kampung coklat adalah sama seperti toko-toko coklat di Bekasi dan Jakarta. Menyediakan semua produk makanan dan minuman coklat dan berkreasi dengan coklat. Itu saja.

Here We Are

Rencananya kami berangkat pagi. Rencananya lho. Tapi rencana tinggal rencana. Bagaimana mungkin berangkat pagi, sedang tubuh orang kota seperti kami seperti sedang dipeluk dingin erat sekali. Beranjak dari tempat tidur malas rasanya.
Agak siangan ketika matahari sudah muncul kami baru mulai berangkat. Siap-siap. Piknik pertama kami untuk musim lebaran kali ini.

Kami harus melewati jalan melalui bendungan Karangkates, dan juga jajaran hutan jati. Pemandangan yang asyik untuk saya yang mata dan pikiran harus dibuat fresh.
Sampailah kami di Kampung Coklat. Musim liburan, maka ramai kendaraan di luar. Kami cari parkiran terdekat dengan pintu masuk, bersebelahan dengan masjid. Bersebalahn persis dengan pintu masuk Kampung Coklat.
Aalamatnya ada di Jl. Banteng – Blorok No. 18, Desa Plosorejo, RT. 01 / 06, Kademangan, Plosorejo, Kademangan, Blitar, Jawa Timur 66161
Sebuah gedung yang besar dan bagus. Paling tidak mindset tentang coklat di kepala saya tersingkirkan sudah.
Masuk di aula besar, menuju tempat penjualan tiket. Tiket masuknya hanya lima ribu rupiah. LIma ribu? Untuk penghuni kota seperti saya, itu cukup murah meriah.

Ada pohon-pohon coklat yang tinggi dan ada buahnya. Buah-buah coklat yang sudah matang menempel di batangnya.
Ada tempat seperti kolam. Di situ ada banyak ikan-ikan kecil. Kita bisa menyewa tempat di situ, duduk dapat bantalan untuk duduk, dan bisa merendam kaki untuk digigiti ikan sepuas hati kita. Harganya lima ribu rupiah juga.
Ada juga kebun coklat kecil, ditanami pohon-pohon coklat di dalam pot.

Kursus Menghias Coklat dan Spot untuk Foto

Tidak jauh dari kolam, ada restoran. Bukan hanya menjual produk coklat, sih. Tapi makanan lain seperti rujak juga dijual. Saya sendiri lebih suka membeli minuman coklat hangat untuk meningkatkan rasa bahagia. Salah satu manfaat coklat kan untuk meningkatkan rasa bahagia.

Tidak jauh dari sana ada ruangan tempat para pekerja membungkus produk coklat olahan mereka. Satu ruangan berdinding kaca menarik perhatian saya. Kursus menghias coklat.
Maka saya ajak Bungsu saya ke sana untuk belajar menghias coklat. Belajar mandiri, sih, karena tidak ada pembimbingnya. Bayar lima ribu untuk coklat kecil dan dua puluh ribu untuk coklat ukuran besar. Setelah membayar kita diberi nota untuk diberikan ke mbak yang akan memberikan kita coklat sesuai harga yang kita pilih. Lalu diberi beberapa pewarna untuk menghiasnya.
Ambil tempat di salah satu kursi maka hiaslah sesuka hati. Hasil hiasan itu buat kita sendiri untuk kita nikmati.

Tidak ada lagi yang dilihat, lagipula pengunjung cukup ramai, maka kami memutuskan untuk ke luar. Seperti jalan ke luar tempat wisata lain. Akan dihadang dengan rak-rak menjual produk yang mereka hasilkan. Ada coklat mulai dari permen sampai pop corn. Ada coklat bubuk bahkan ada t-shirt juga. Bungsu saya sarankan membeli coklat bubuk untuk teman-temannya.

Di jalan menuju pintu ke luar itulah ada beberapa spot foto. Harus sabar-sabar menunggu kosonglah, karena banyak yang ingin berfoto di situ.
Dan sepertinya ini spot yang paling menarik dibandingkan yang lain.

Kami harus pulang.
Anak-anak juga sudah puas.
Ini pengalaman yang pastinya akan mereka ingat dengan senang hati.

Ketika Penulis Diorder Penerbit

Diorder menulis?
Puluhan tahun menulis untuk media cetak, saya jaraaang sekali diorder nulis oleh media cetak, untuk menulis dengan tema tertentu. Biasanya dulu saya mengirim tulisan berupa artikel, puisi atau cerita pendek, dengan cara berlangganan majalah tersebut. Jadi dari satu tahun bisa mempelajari tema apa yang belum diangkat oleh majalah, sehingga ketika saya menulis, tulisan saya mudah diterima dan dimuat.
Cara seperti itu membuat saya tidak menggampangkan, dan terus mengasah feeling, juga berjuang untuk menulis yang berbeda.

Saya fokus untuk menulis di segala kondisi. Jungkir balik sebagai ibu baru, jungkir balik sebagai karyawan, jungkir balik sebagai istri, tetap menulis, tetap ikut lomba. Tidak pernah terpikir juga untuk diorder menulis oleh media cetak juga penerbit.

Ketika Masa itu Datang

Saya selalu percaya sebuah masa. Ada masa bersusah payah, pasti ada masa bersenang-senang. Ingat dengan mimpi di zaman Nabi Yusuf. Tentang tujuh tahun kekeringan dan tujuh tahun masa panen. Kita tidak akan pernah terpuruk selamanya, atau bersinar selamanya.
Dengan berpikir seperti itu, tidak akan sempat merasa hebat ketika diorder naskah oleh penerbit, tidak juga merasa putus asa ketika tidak diorder naskah.
Buat saya diorder naskah atau tidak, saya tetap mencari peluang untuk menulis. Dan justru itu yang membuat saya semakin bergairah dengan menulis. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti, dan bergantung pada Allah, Sang Maha Pembuat Kepastian.

Masa diorder oleh penerbit dan buku best seller akhirnya pernah saya rasakan juga.
Masa diorder dan sudah dibayar cash, buku tidak terbit, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai reviewer atau first reader untuk naskah yang mereka terima, pernah juga.
Masa pernah dibayar sebagai editor pernah juga.
Bahkan masa dikontrak sebagai pengisi kolom di sebuah media cetak, juga pernah.

Pengalaman seperti itu tidak datang begitu saja. Ada tulisan yang terus saya hasilkan. Ada lomba-lomba yang saya ikuti, dan saya menangkan. Sehingga ketika saya membuat proposal menawarkan naskah atau menawarkan kerja sama, pengalaman menulis di sana sini, membuat poin saya jadi lebih di mata mereka.

Penerbit itu diisi oleh para manusia. Artinya mereka punya hati punya misi juga. Mereka akan memilih penulis yang bisa cepat mengerjakan naskah. Bahkan lebih senang jika kreatif dan memberikan masukan terhadap naskah tersebut. Plus mau membantu menjualkan ketika naskah itu sudah berbentuk buku.
Penerbit juga mau dengan penulis yang total mengerjakan naskah itu. Biarpun naskah hanya lima puluh halaman, tapi mau membaca rujukan setebal seribu lima ratus halaman.
Dan para penjaga gawang di penerbitan ini, banyak berkeliaran di sosial media. Mereka akan menghubungi penulis yang mereka anggap layak dengan kriteria mereka.

Teruslah menulis.
Alhamdulillah tahun ini saya menulis 14 naskah pesanan penerbit. Duabelas sudah selesai, dua sedang disusun. Tapi bukan berarti saya santai-santai setelah itu.
Di sela-sela menulis, saya masih bisa mengajar kelas menulis, masih bisa menulis naskah sendiri, masih bisa ikut lomba, masih bisa ngajarin anak, masih nulis di blog juga.
Buku ini adalah buku yang diorder penerbit kepada saya. Beberapa foto di dalamnya, saya jepret sendiri dan susun sendiri.

Pingin diorder penerbit?
Tulis yang banyak, sebanyak-banyaknya.
Berdoa sebanyak-banyaknya.

Penulis, Perlukah Bisa Bicara di Depan Umum?

“Aku penulis.” Saya ingat dulu itu yang saya katakan dengan kaki gemetar.
Iya, saya penulis. Saya jadi penulis karena merasa nyaman tidak perlu tampil di atas panggung, untuk menyuarakan suara hati saya. Dulu zaman SD, saya memang terbiasa untuk tampil. Dari baca puisi sampai menyanyi, dan menari. Itu juga tanpa dorongan orangtua. Tapi kepercayaan itu datang dari guru, ustadz, juga teman.

Lama kelamaan setelah saya kenal menulis, saya lebih nyaman untuk tidak di panggung. Saya lebih suka menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Semuanya. Karena semuanya itu sudah saya luapkan dalam bentuk tulisan, maka dampak baiknya adalah saya tidak butuh bersuara. Saya merasa nyaman dengan dunia sendiri. Merasa orang menuduh ini dan itu tidak apa=apa. Sudah saya tuangkan semuanya dalam bentuk tulisan.

Semakin lama lagi ternyata saya seperti punya dunia sendiri. Membangun angan-angan sendiri, komunitas dalam angan-angan. Orang lain tidak mengerti tidak masalah. Saya sudah bahagia.

Akhirnya….

Akhirnya si katak dalam tempurung, Bapak selalu mengingatkan agar saya jangan jadi katak dalam tempurung. Saya jangan merasa sudah oke. Uh, jadi ingat si anak SMA yang sedang booming di sosial media. Seusianya berteman dengan berbagai macam buku, pastilah akan menemui kondisi seperti saya. Susah menemukan lingkungan yang pas untuk diajak ngobrol. Untung zaman dulu tidak ada sosial media. Jadi semua pikiran dan keanehan hanya berkecamuk untuk diri sendiri saja.

Begitu saya memutuskan untuk berubah, maka perubahan itu terbentang di depan mata. Ketika itu saya putuskan, saya harus kuliah di tempat yang umum, bukan lagi di Universitas Terbuka. Tujuannya biar saya punya lingkungan dan teman sepergaulan. Dari sana mungkin saya bisa belajar untuk berjalan mundur.

Terlambat lima tahun saya ketika masuk kuliah. Teman-teman saya lima tahun lebih mudah. Ada memang yang lebih tua dari saya, tapi kebanyakan pegawai yang butuh gelar untuk kenaikan jabatannya.
Bersyukur karena biasa menulis, dan semua beban masalah tersalurkan, sehingga wajah saya tidak menua. Artinya ketika kumpul dengan yang lebih tua, saya malah sering dianggap lebih muda.

Itu titik awal perubahan. Persis seperti satu ayat dalam Al Quran. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11.
Saya yang bisa merubah nasib. Bukan orang lain. Ketika saya berjuang untuk itu, membuka semua pintu kemungkinan, maka akan terbukalah semuanya.

Saya kuliah dan terus menulis. Uang pangkal kuliah saya bayar dari menang lomba cerita bersambung majalah Gadis dan nominasi majalah Gadis. 4 juta dulu uangnya. Uang kuliah saya bayar dengan honor-honor menulis saya.
Tentu saya memperkenalkan diri sebagai seorang penulis kepada dosen dan teman-teman. Pada masa itu, kebetulan saya produktif. Produktif yang menjadi keharusan, karena saya harus bayar kuliah.
Karena produktivitas itu, saya diminta beberapa media untuk tampil dalam acara media tersebut. Acara di beberapa kota.

Tampil? Iya, tampil yang sebenarnya tampil. Jadi pembicara pula. Dan lawannya orang-orang yang sudah punya nama besar. Alhamdulillah, saya tambah grogi. Tapi bahagia.
Lalu pihak universitas juga minta saya jadi pembicara di kampus beberapa kali. Audience dosen dan teman kampus. Grogi juga. Karena si audience anak-anak FISIP yang waktu itu lagi senang demo menentang orde baru. Tapi saya tidak dibantai kok. Tahulah mereka, saya bukan teman yang suka ribut dan suka menjatuhkan orang. Jadinya mereka pun hati-hati bersikap kepada saya ketika saya di panggung.

Lanjut Terus

Saya pikir pengalaman bicara di depan umum itu, akan berhenti sampai di situ. Jadi ibu rumah tangga, tetap nulis. Kembali ke zona nyaman. Bukan jadi pembicara setelah itu. Karena saya ngantor dan malah sering dipercaya jadi pengajar karyawan baru.
Keahlian mengajar melebar, akhirnya jadi mengajar anak-anak tetangga.
Saya nyaman menulis dalam keheningan. Baru sadar kalau saya harus tampil ketika saya menerbitkan buku dan diminta launching.
Saya tidak suka berpenampilan yang aneh-aneh. Maka saya selalu tampil seadanya. Adik-adik saya yang suka protes, kadang mereka memilihkan baju yang pas untuk saya. Biar enak dilihat, begitu kata mereka.

Saya harus mau berkembang. Saya harus berani tampil.
Satu jam atau setengah jam sebelum tampil, biasanya saya sudah ada di tempat. Saya harus membayangkan diri saya ada di sana. Saya bisa memahami lokasinya, audiencenya.
Biasanya saya juga hanya akan bicara tentang menulis sesuai keahlian saya.
Tapi pernah ketika jadi pembicara di UNS yang dihadiri dosen dan seratus orang mahasiswa, saya berdoa sambil memasukkan kekuatan ke otak saya. “Hei, Nur, mereka itu gak tahu apa-apa tentang menulis. Meski mereka ada di fakultas sastra, tapi pengetahuan mereka masih minim. Kamu punya banyak ilmu yang bisa dibagi untuk mereka.” Itu kalimat yang terus saya dengungkan di kepala saya.
Biasanya setelah itu lancar.
Di tempat lain juga seperti itu. Mereka yang datang, ingin mencari ilmu. Kenapa saya harus takut berbagi ilmu?

Saya terus berproses. Menyadari bahwa penulis zaman sekarang tidak bisa lagi bersembunyi di balik tulisannya. Orang ingin tahu lebih banyak, siapa penulisnya. Apakah kebaikan yang ditulis penulis, benar tercermin dari sikapnya? Apakah ilmunya benar diresapi atau sekedar copy paste.

Saya masih terus belajar untuk itu. Memperbaiki diri, memperbaiki kualitas tulisan, dan memperbaiki kualitas ketika harus tampil. Tujuannya biar yang menerima ilmu saya merasa nyaman dan ilmunya bisa merasuk lebih dalam lagi.