Mendidik Anak Menjadi Penulis

“Bu, aku mau menjadi penulis seperti Ibu,” kata anak gadis yang sudah bisa menulis dan membaca ketika usia tiga tahun. Saya sendiri yang mengajarkan. Karena dua anak terbiasa saya bacakan buku sejak dalam kandungan maka proses belajar membaca menjadi mudah sekali.

“Bu aku juga mau punya buku.”
Saya mengangguk. Prosesnya untuk orang lain mungkin mudah. Ah, ibunya penulis. Maka bisa poles sana poles sini. Tapi sayangnya saya model Ibu yang tega. Saya tidak ingin anak instant untuk menulis lalu bangga menepuk dada, ini karyaku. Padahal karyanya masih mentah dan ibunya yang memoles di sana sini. Saya tidak mau seperti itu.
Saya ingin dia berproses panjaaang sekali.

Dari satu media cetak ke media cetak lain saya kirimkan tulisannya.
Dari satu lomba lain juga sama. Dan ini anak kerjanya super keras. Ketika karya kakaknya yang dibuat semenit dua menit langsung tembus media. Dia harus berjuang sekuat tenaga karena menerima penolakan.
Hingga akhirnya saat itu tiba.
Saat dimana kemenangan lomba untuknya tiba.
Saya ingat ia mengikuti lomba di sebuah penerbit anak dan kalah berkali-kali Sampai akhirnya saya pompa semangatnya lagi untuk ikut lomba lagi. Naskah terkirim.
Lalu suatu hari dia mengambil piala milik saya dan bilang. “Ibu foto aku pakai piala ini. Aku juga mau dapat piala.”

Alhamdulillah beberapa hari kemudian dia menang lomba menulis. Girangnya setengah mati. Apalagi naskahnya itu akan dibukukan.
Lalu lomba ini dan itu saya ikutkan.
Sampai akhirnya dari sekolah mendapatk kepercayaan untuk terus mewakili sekolah dalam lomba menulis cerpen. Dan dua tahun berturut-turut membawa pulang piala untuk sekolah.
“Ibu sayangnya piala aku ditaruh di sekolah. Coba dibawa pulang. Bisa saingan sama piala Ibu.”

Hidupnya terus berproses.
Saya bahagia. Dia semangat mengikuti lomba menulis. Bahkan lomba film pendek dari sekolah. Menjadi sutradara. Film pendeknya meraih juara pada kompetisi sekolah.

Minggu kemarin saya tawarkan lomba lagi untuknya.
Tidak menjadi pemenang pertama. Tapi menjadi pemenang favorit pilihan juri, karena karyanya kontensnya mengisnpirasi.

Jalannya masih sungguh panjang. Saya akan terus mendukungnya dan menjadi penguatnya.

Nugget dari Bawang Bombay

Anak gadis bermacam-macam permintaannya.
Apalagi hobinya menonton channel masakan di youtube. Lalu request pada Ibu. “Ibu bisa?”
Kalau ibunya menggeleng maka ada lanjutan kalimat lagi. “Masa Ibu enggak bisa?”
“Aku yang bikin aja kalau Ibu enggak bisa. Ibu siapin bahannya aja.”

Maka Ibu menyiapkan yang ia butuhkan. Bahan utamanya hanya bawang bombay katanya. Hanya diiris dan dijadikan seperti cincin terus digoreng.
Teori sederhana anak yang jarang masuk dapur.

Ibu tahu caranya. Seperti Ibu membuat jamur krispi.
Bawang bombay diiris. Lalu irisan itu masing-maing akan membentuk lingkaran. Dari satu potong irisan, akan terlihat beberapa lingkaran model gelang. Tarik pelan jangan sampai patah.

Siapkan telur yang sudah dicampur dengan bumbu penyedap.
Siapkan terigu.
Siapkan tepung roti.

Cincin atau gelang bawang bombay itu masukkan ke dalam kocokan telur.
Pindahkan ke tepung terigu di wadah sendiri dan kering. Tidak dicampur air.
Setelah itu masukkan lagi ke dalam kocokan telur pertama.
Pindahkan ke dalam wadah berisi tepung roti.
Goreng dengan minyak panas.

“Bekalku hari ini, ya, Bu? Hmmm rasanya kayak nugget.”
Ibu mengangguk. Ibu penyuka bawang bombay meski lebih suka ketika bawang itu hanya Ibu makan mentah dicampur dengan mayoinase pedas dan sayur atau buah lainnya.

Hari ini anak mendapat pengalaman baru.
Dan ia bahagia. Itu sudah cukup untuk Ibu.

South Lake, Tempat Pikniknya Penduduk Babelan

Saya harus sampai rumah secepatnya.
Itu yang ada di benak saya sepanjang perjalanan di kereta. Kereta dari Solo berangkat jam enam sore pas. Sampai Bekasi diprediksi jam tiga pagi. Alarm sudah saya pasang, takut kalau-kalau saya tidak terbangun ketika kereta sampai stasiun Bekasi.
Alhamdulillah jam dua lebih, di kursi belakang saya ada alarm suara ayam jago yang berbunyi. Sipemilik tidak terbangun. Padahal suara alarm itu keras sekali, sehingga beberapa kursi terganggu. Termasuk saya. Tapi saya terganggu dengan rasa syukur. Dibangunkan oleh alarm orang. Mata tiba-tiba terasa segar, dan saya matikan alarm saya, agar nanti jika berbunyi tidak mengganggu seperti alarm orang di bangku belakang saya.

Saya harus cepat sampai rumah.
Mata masih mengantuk. Bayangan bahwa jam delapan nanti ada kegiatan ibu-ibu di sekitar rumah. Mobil di rumah dipakai untuk tempat makanan dan untuk mengangkut yang lain, yang tidak membawa kendaraan. Ada tiga mobil yang disediakan. Di samping itu, saya belum beli air minum untuk keperluan piknik, plus untuk lomba anak-anak yang diserahkan ke saya, saya belum siap apa-apa, selain kertas yang saya printer dengan gambar.

Jam tiga sampai Bekasi.
Niatnya selonjoran di kursi panjang. Tapi kereta malam datang silih berganti. Dan semua kursi terpakai orang yang tiduran di sana. Mau ke musholla untuk tidur. Duh, musholla stasiun Bekasi juga sudah dipenuhi orang. Lagipula masa saya tidur di musholla?

Saya putuskan ke luar sambil menghitung waktu.
Perjalanan ke rumah dari stasiun setengah jam. Kalau saya menunggu suami jemput, suami akan menjemput setelah pulang dari masjid untuk shalat subuh. Itu artinya sampai rumah saya jam enam. Itu artinyaaaa….
Saya membayangkan tubuh yang lunglai sepanjang acara nanti. Saya membayangkan dada yang sesak karena kurang tidur. Saya membayangkan banyak hal.
Hingga saya putuskan ke luar dari stasiun. Menunggu setengah jam.
Jam empat kurang biasanya suami sudah bangun untuk mandi dan tahajud. Itu artinya jika saya mengetuk pintu, dan menelepon, akan cepat dibuka pintunya. Itu artinya saya punya banyak waktu untuk istirahat.
Jreng jreng, keluarlah nekad saya. Panggil tukang ojek, minta antar sampai rumah.
Sambil berdoa, maaf ya Allah, saya boncengan sama yang bukan mahram. Tapi ini darurat agar acara rihlah alias piknik ibu-ibu berjalan lancar dan semua senang.
Sehabis subuh saya tidur sampai jam setengah tujuh. Alhamdulillah badan segar. Langsung keluarkan motor cari air mineral dua box untuk keperluan.

Here I am

Piknik diundur jam setengah sembilan. Satu mobil sudah berangkat jam delapan pas. Tukang masak bilang, masakan baru siap jam setengah sembilan.
Oke tiga mobil menunggu. Satu mobil lainnya sudah bergerak.
Masakan dimasukkan ke dalam bagasi. Ada tiga mobil, jadi dibagi ketiga bagasi.
Saya bawa suami dan anak bungsu. Mereka berdua juga belum pernah piknik ke sana. Pernah lewat tapi tidak begitu sadar, di situ ada tempat piknik.
Murah meriah, masuknya 40 ribu. Tapi dengan kartu yang dijual bebas, harga tiket masuk bisa didiskon menjadi 20 ribu saja.

Ada apa di South Lake?
Ada banyak macam sarana. Tempatnya kecil tapi buat saya tidak masalah. Pertama-tama, banyak tempat selfong alias selfie di sana.
Begitu masuk buat beli tiket, bisa selfie di caravan yang dijadikan tempat menaruh banyak foto. Ada jalan yang dilapisi kaca juga di caravan itu. Dan saya yang awalnya pingin berfoto di sana, jadi takut melihat lapisan kaca. Takut kalau saya berdiri di situ, malah ambles.

.
Ini caravannya.

Kami masuk.
Gelar tikar.
Acara pun dimulai. Pembukaan sudah, hafalan sudah, baca doa sudah. Gelar daun untuk makan. Para suami, bapak-bapak yang mau repot mendampingi anak dan istrinya digelari tikar juga dan dapat nasi box. Thanks to my husband yang siap sedia ngikutin maunya istri.

Lomba pun dimulai.
Lomba mewarnai gambaaar.

Karena waktu terbatas. Anak-anak sudah ribut mau main ini main itu. Mana tempat kami menggelar tikar tidak jauh dari perosotan, ayunan dan lain sebagainya. Plus bebek-bebekan. Maka jadilah lomba dipercepat.
Hasil lomba mewarnai gambar saya serahkan pada tetangga, sedang saya memandu lomba lari dan lomba mendongeng. Awalnya mau lomba sambung ayat juz 30. Eh pada ribut karena mereka masing-masing beda pencapaian hafalannya. Okelah gurunya ngalah saja demi anak-anak.

Ini loh pemenang lomba dan bebekan yang membuat anak-anak gak konsen lagi buat makan juga ikutan lomba.

Ayo Kita Melayaaaaang

Flying fox. “Ayo Mama Bilqis. Ikutan. Ituuu, ibu-ibu aja banyak.”
Duh anak-anak bikin panas. Mereka antri.
Tiket diskon dari 40 ribu jadi 20 ribu itu bisa untuk naik bermacam permainan yang ada di sana. Termasuk flying fox.
Anak gadis saya duluan mencoba. Saya melihat dari kejauhan bagaimana ia menarik napas panjang lalu mengembuskan, seperti ingin menghimpun kekuatan. Saya kok jadi ngeri, ya. Membayangkan usia yang sudah menua, dan kalau tiba-tiba jantung saya tidak kuat.

Okelah akhirnya saya keliling. Termasuk melihat poster tentara Inggris.

Ada banyak yang bisa dilihat di sana. Termasuk kandang berisi kelinci juga rusa. Ada danau yang besar. Ada boat yang bikin ibu-ibu yang naik teriak karena si pengemudi sengaja beratraksi.

.

Okelah.
Saya sudah panas.
Anak-anak setiap datang cuma tanya. “Mama Bilqis enggak mau ikutan ngerasain flying fox? Enak loh, kayak terbang rasanya.”
Saya panas.
Makan rujak dulu dan titip tas ke suami.

Lalu memberanikan diri. Fokus tidak melihat ke bawah. Masa saya yang dulu ikut PMR pernah bergelantungan di tingkat empat sekolahan, sampai manjat pohon mangga hingga ke ujung tertinggi, jadi takut ketinggian?
Eng ing eeeeengggg.

Para pekerjanya sopan-sopan. Ketika menghadapi ibu-ibu mereka cuma bilang, “Bu, bagian depan coba dikancingin.” Jadi bukan mereka yang melakukan.
Ketika sampai di atas, kaget saya. Diminta berdiri di kursi. Juga pegangan tali. Lalu tiba-tibaaaa, syuuur. Sudah meluncur saya ke bawah. Ya ampun rasanya enaaaaak sekali. Betul kata anak-anak seperti terbang.

Well, pengalaman seru.
Saya kepingin mengajak ponakan, dan anak sulung juga ke sana.
Kami harus pulang karena sudah sore. Letihnya hilaaaang berganti bahagia dan legaaa.

Pengalaman Seru di SDIT Nur Hidayah Surakarta

“Bu, kalau akhir bulan ini, Ibu diundang di sekolah untuk acara kepenulisan, gimana?”
Itu pesan yang saya terima persis ketika saya siap berangkat ke Bandung untuk acara dissabilitas.
Sebagai ibu rumah tangga, tentu izin dari suami harus saya kantongi. Apalagi jadwal yang disodorkan satu minggu setelah kepergian saya ke Bandung. Dan dua hari setelah itu saya masih harus memenuhi jadwal perpisahan pengajian dengan ibu-ibu tetangga.
Saya bilang, saya izin dulu pada suami. Jawaban baru bisa saya berikan beberapa hari setelahnya.

Sepulangnya dari Bandung saya tanyakan hal itu pada suami. Suami mengizinkan.
Kalau sudah mengizinkan itu artinya amanah harus dijaga. Meski pulang ke Solo adalah artinya ke rumah Ibu saya, taoi sebagai istri saya harus tahu aturannya. Acara akan diadakan pada hari Ahad. Saya pergi hari Jumat siang. Sabtu istirahat untuk menemani Ibu. Ahad saya bisa mengajar. Dan Seninnya saya pulang. Itu rencana yang saya sodorkan pada suami. Plus memenuhi isi kulkas dengan bahan makanan yang bisa diolah suami dan Bungsu. Alhamdulillah Bungsu sedang libur sekolahnya.

Sebelumnya saya hanya memberi tahu pada penyelenggara untuk tidak perlu meminta anak-anak membawa laptop. Mereka cukup bawa alat tulis saja. Kalau perlu membawa pensil warna.
Ketika ditanya soal file yang mungkin bisa diprint panitia, saya bilang tidak perlu. Karena seperti biasa ketika mengajar, saya akan mengajak anak-anak untuk meluaskan imajinasi mereka. Dengan cara apa? Dengan cara praktik langsung.

SDIT Nur Hidayah

Apa itu SDIT Nur Hidayah?
Saya kenal nama itu ketika saya memang lomba yang diadakan majalah terbitan sekolah tersebut, sebagai pemenang pertama lomba cerita pendek untuk anak.
Namanya semakin familiar ketika saya menjadi juri Konperensi Penulis Cilik Anak, dan murid-murid dari SDIT ini masuk sebagai finalis dan juga pemenang.
Karena itu ketika undangan datang, saya penasaran dan ingin menerimanya. Alhamdulillah suami mengizinkan.

Kereta dari Jakarta menuju Solo terlambat dua jam. Saya tiba di rumah pukul 12 malam lebih. Bersyukur keponakan mau menunggu dua jam di stasiun. Sampai rumah sudah mengantuk berat. Ibu terbangun dan kita ngobrol sedikit.
Paginya sehabis Subuh masih mengantuk dan lanjut tidur.
Kurang tidur bisa membuat saya tidak enak badan sepanjang hari. Karena itu cukup tidur menjadi penting untuk saya, agar aktivitas bisa lancar.
Masih bisa bolak-balik cari bahan untuk bikin kue. Saya janji bikinin ibu kue kering sagu keju dan roti untuk Ibu.

Alhamdulillah kue buatan sendiri, membuat Ibu dan para ponakan suka.

Pas Hari H

Hari H nya datang juga. Panitia menjemput saya. Dan saya sudah siap.
Datang ke sana jam sembilan lebih. Langsung mengajar. Anak-anak lesehan dan saya pun lesehan juga.
Langsung bergerak.

Iya, mengajar anak-anak selalu saya suka. Karena apa? Karena ketika mereka dilemparkan imajinasi, mereka tidak akan bertanya. Kok bisa? Bagaimana caranya? Dan lain sebagainya.
Mereka langsung menyambut dengan antusias.

Yeeeah saatnya beraksi.
Mulai berjalan dari ujung ke ujung. Mulai mengecek satu persatu naskah. Melihat mana yang sudah bisa menulis dan mana yang belum bisa menulis. Kedua kelompok itu dipisah agar saya lebih mudah membimbing mereka.
Seperti biasa mereka belajar mencari ide yang unik, ide yang bisa didapat dari mana saja. Plus saya beri tahu bahwa menulis itu bekalnya jangan hanya sekedar berkahayal. Harus mau berani riset.

Ada kisah lucu juga. Beberapa anak kelas satu ikut. Jadi saya mengajari mereka membaca juga. Mereka memanggil karena belum bisa menulis. Dan minta saya mengejakan apa yang ada di benak mereka untuk ditulis. Sesi seperti ini selalu ada setiap saya mengisi talk show untuk SD.

Setiap sesi ada bagi-bagi hadiah.
Sampai akhirnya dua jam selesai.
Panitia sudah mengingatkan untuk selesai. Saya suka lupa diri untuk terus bicara dan bicara. Karena energi anak-anak membuat energi saya seperti bertambah.
Acara bagi-bagi hadiah pun dimulai.
Plus sesi foto terakhir bersama murid dan guru.

Alhamdulillah semua lancar.

Lomba Surat untuk Dissabilitas

Awal Februari saya dapat pesan dari mbak Liza Permasih yang bertanya. Apakah saya mau menjadi juri menulis surat untuk dissabilitas? Lalu sebuah nama disebutkan. Teh Tini Djayadi, seorang difabel yang memang mumpuni di bidangnya.
Sebuat surat untuk dissabilitas. Untuk perempuan>
Saya tidak berpikir panjang dan akhirnya mengiyakan permintaan itu.

Dissabilitas itu sebuah dunia yang tidak saya kenal, tidak tersentuh oleh saya. Interaksi saya paling hanya sekedar nya saja. Pernah bertetangga dengan suami istri tuna netra. Pernah mengajar di sebuah kelas yang berisi beberapa anak ABK, tapi hanya mengajar sehari saja. Karena itu ketika mengiyakan saya hanya berpikir bahwa saya akan dapat ilmu banyak di sana.
Alhamdulillah sebulan kemudian teh Tini menghubungi saya. Sebulan itu kerjaan menulis buku sedang banyak-banyaknya. Dan pada saat itu juga saya harus membuat konsep, untuk mengajar eskul kelas menulis di sebuah sekolah di kota Bogor.

Surat-surat yang masuk dimulai di awal bulan Maret. Satu, dua surat paling banyak sepuluh surat, bisa saya sambi menulis. Saya buat catatan di buku tulis saya.
Awal-awal surat belum ada yang membuat hati saya tergetar.
Lalu semakin lama surat yang datang mencapai 300 surat dalam satu hari. Sehingga total ada 891 surat yang datang.
Dan surat-surat itu membuat saya harus kerja ekstra keras untuk teliti membacanya. Surat-surat itu yang membuat saya merasa terbuka luas semua cakrawala berpikir saya.
Ada sebuah dunia yang tidak saya kenal. Saya jadi berpikir tentang sebuah dunia dalam novel Haruki Murakami yang pernah saya baca IQ84. Sudut pandang saya berubah. Dissabilitas ada tidak untuk dikasihani. Mereka punya kelebihan dan support non dissabilitas untuk mereka sungguh diperlukan.

Surat-surat yang sangat menyentuh mulai bermunculan, hingga akhirnya saya dan dua teman yang lain, teh Tina Sulyati dan mbak Liza Permasih berhasil mrngambil 3 pemenang utama dan 18 pemenang pilihan dengan kriteria surat yang beragam, membangun, memberi pencerahan dan membuat orang yang membacanya mendapat manfaat.
Dan uniknya saat-saat terakhir itu cobaan justru datang. Anak Sulung saya menelepon dari pondok pesantren. Minta jemput karena sakit matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Seminggu sebelumnya saya sambangi hanya satu matanya yang terkena.
Sungguh membaca pengalaman para difabel dalam surat mereka, saya menjadi baper. Takut terjadi apa-apa dengan mata Sulung saya, hingga akhirnya suami di tengah deadline menjemputnya dan membawanya ke dokter. Dan anak Sulung pun harus dirawat di rumah.
Pada saat itu juga ada dua penerbit yang masing-masing memesan dua naskah buku. Dan saya harus membaca banyak rujukan untuk menuntaskannya.

Saya pikir selesai.
Tugas saya sebagai juri selesai. Sudah. Saya tidak punya tanggung jawab lagi. Saya kembali fokus dengan naskah buku. Anak Sulung sudah sembuh dan dikembalikan ke pondok.
Tapi ternyata kami para juri dapat kejutan dari penyelenggara lomba. Kami diajak datang untuk penyerahan hadiah, dan menginap di Cinnamon Boutique Syariah Hotel di kota Bandung, yang letaknya persis di sebelah terminal Ledeng.
Qadarallah, saat itu suami baru saja selesai deadline majalah dan anak Bungsu saya sedang libur sekolah. Sengaja saya minta antar suami dan anak, agar mereka punya pengalaman baru, seperti saya mengalaminya setelah membaca ratusan surat.

Cinnamon Hotel Syariah

Begitu masuk kamar rasanya sudah ingin tidur.
Pemilik hotel Cinnamon diperkenalkan pada saya oleh teh Tini. Masih muda dan bersahaja. Pak Iman namanya.
Pinginnya sih, saya tiduran langsung seperti anak dan suami. Maklum perjalanan Bekasi Bandung yang biasanya memakan waktu tempuh hanya dua jam. Kemarin itu memakan waktu 5 jam. Tol macet, Bandung macet bahkan banyak jalan yang satu arah. Hingga mobil kami diarahkan ke gang sempit yang naik turun dan menikuk tajam oleh panduan aplikasi google map.
Tapi saya sudah janji pada teh Tini untuk turun setelah zuhur ke lantai satu dari kamar di lantai tiga. Ingin meliput lomba yang ada di sana.

Ada lomba apa saja?
Pas saya datang ada lomba menyanyi. Solo dan group. Personalnya banyak yang tuna netra.Tapi luar biasaaa, suara mereka keren, penampilan keren. Bahkan sebagian besar adalah para mahasiswa dan mahasiswi. Ada juga personel yang memang non dissabilitas. Justru lomba dengan memadukan dua komponen itu membuat persaingan sehat terjadi. Yang dipilih adalah yang terbaik apakah dia dissabilitas atau non dissabilitas. Yang penting kualitas.

Apa yang saya rasakan ketika berada di tengah mereka para difabel? Ya Allah saya seperti bisa melihat dunia lain. Terbukalah semua pikiran sempit saya. Mereka para difabel memiliki dunia mereka. Bagaimana mereka yang tuna netra saling bercengkrama dan seperti seorang peserta lomba bilang, bahwa untuk mereka jatuh cinta bukan dari mata turun ke hati. Tapi dari telinga turun ke hati.
Lalu ketika mereka lewat, mereka saling memegang punggung teman-temannya untuk saling membantu.
Masya Allah.

Saya sempat ngobrol dengan Urba dan Risman. Keduanya adalah pemenang lomba nyanyi juara satu dan dua. Saya sempat menyaksikan penampilan Urba. Suaranya bukan saja keren tapi dia layaknya penyanyi panggung. Mereka ternyata dua orang sahabat yang memang selalu berkompetisi di lomba nyanyi. Biasanya Risman yang jadi pemenang pertama, begitu kata Urba.
Mereka mahasiswa, Urba bahkan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Risman jurusan berbeda. Mereka keduanya tuna netra. Ketika saya tawarkan alternatif agar mereka bisa mencerahkan orang lain dan bermanfaat untuk orang lain, dengan memiliki channel di youtube, mereka bilang belum terpikir untuk itu. Tapi terima kasih sudah diberi pencerahan.

Lomba Menulis itu
Yang ditunggu akhirnya datang juga.Apa itu?
Pengumuman lomba menulis. Setelah pengumuman semua lomba termasuk lomba fotographi dengan juri Darwis Triadi, akhirnya lomba menulis diumumkan pemenangnya. Waktu mendekati mahgrib. Duuuh, saya pikir tidak diminta untuk maju ke depan. Tapi ternyata saya diminta teh Tini, untuk maju ke depan dan menjelaskan kenapa surat-surat itu terpilih menjadi pemenang. Karena saya tertulis sebagai ketua dewan juri, maka sayalah yang diminta untuk maju.

Okelah, tarik napas panjang.
Pemanasan dengan mewancarai Urba dan Risman membuat grogi saya hilang. Penjelasan tentang surat-surat yang datang dan kriteria pemenang yang terpilih akhirnya bisa juga saya berikan.

.

Pemenang kedua lomba menulis ternyata adalah seorang tuna netra.
Ceritanya membuat saya terharu. Dia menderita demam tinggi di usia 17 tahun dan akhirnya kehilangan penglihatannya.
Dia seorang mahasiswa yang suka menulis. Datang dari Semarang seorang diri dan menginap di hotel juga sendiri.
Saya ngobrol dengan dia plus jalan ke kamar bersamanya. Kamar kami berdekatan. Pas waktu itu juga, suami dan anak sudah ada di kamar, sedang saya tidak memegang kunci kamar. Jadi saya butuh orang yang sama satu lantai, untuk naik ke kamar. Karena lift hanya bisa berjalan dengan menempelkan kunci yang berbentuk kartu.
Agus Sri sama tawarkan untuk saya ajarkan membuat blog. Dia menyimpan nomor telepon saya dan email saya.

Dan akhirnyaaaa,
kami semua para juri senang. Tugas sudah selesai.
Maka kumpulan kami di sudut lobby. Berempat.

.
Ini pertemuan pertama saya dengan teh Tini dan teh Tina. Mbak Liza sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya.
Mereka bertiga adalah bagian dari komunitas Penulis Tangguh, yang saya dirikan di tahun 2012. Senang akhirnya Allah berikan waktu untuk kami bertemu dan saling berkenalan plus bekerja sama.

Alhamdulillah, sudah selesai semuanya.
Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari lomba ini.
Saya bersyukur Allah lebarkan pikiran sempit saya, sehingga bisa memandang dunia lebih luaaaaas lagi.

Pentingnya Anak Belajar Akhlak Rasulullah

Anak kita mencontoh dari siapa? Teladan keseharian anak-anak setelah orangtuanya siapa?
Apakah tokoh-tokoh dalam film kartun dari Barat? Atau tokoh lainnya?

Kita sebagai orangtua, lebih senang mengenalkan tokoh imajinatif yang datangnya dari Barat, dan melalaikan tokoh utama yang harusnya kita kenalkan sejak dulu pada anak-anak. Rasulullah tercinta sering kita lupakan.
Padahal teladan akhlak Rasulullah yang memang Allah utus sebagai penyempurna akhlak, harusnya dikenalkan lebih dahulu pada anak.

Saya ditantang penerbit Gema Insani Press untuk menuliskan kisah Rasulullah.
Ada 10 buku Akhlak Rasulullah. Masing-masing buku berisi dua contoh akhlak Rasulullah.
Itu artinya dalam 10 buku, ada 20 cerita sehari-hari anak. Kisah ini adalah pengembangan dari hadist dan kisah rujukan yang juga ada dalam buku tersebut.

Ada dua tokoh utama dalam buku tersebut.
Kisah anak laki-laki diwakili oleh tokoh anak bernama Zaki. Kisah merujuk dengan karakter seperti anak laki-laki pada umumnya.
Sedang kisah anak perempuan diwakili olehAisyah. Aisyah yang belajar banyak dari contoh-contoh di sekelilingnya.

Akhlak apa saja yang ada di dalam buku ini?
1. Lemah Lembut dan Bertanggung Jawab
2. Menjaga Kehormatan Diri dan Jujur
3. Ceria dan Murah Hati
4. Mendamaikan yang Berseteru dan Penyayang
5. Menepati Janji dan Pemaaf
6. Dapat Dipercaya dan Zuhud
7. Berkata Baik dan Pemberani
8. Malu Berbuat Dosa dan Bekerja Keras
9. Rendah Hati dan Sabar
10. Memuliakan Tamu dan Menghormati Tetangga

Kado Terindah untuk Sasi

Sasi menghitung.
Satu, dua, tiga, empat. Pada bilangan keempat puluh, Sasi menarik napas panjang. Tangannya mendadak menyentuh wajahnya. Mencubitnya. Tidak kenyal lagi seperti dulu. Tidak selicin kulit anak-anak bayi yang suka ia pinjam dari ibu-ibu tetangga, lalu ia nikmati aroma wangi mereka yang berbeda. Keringat, bedak, minyak kayu putih bercampur menjadi satu.

Sasi menghitung.
Meskipun ia biasanya mencoba untuk melupakan. Tanggal tahun berganti. Usianya bertambah. Lalu masa lalu hanya kenangan. Kenangan semu.

“Berapa umur Ibu?”
Sasi tersenyum. Memandang anak gadisnya. “Pantasnya berapa?”
“Ibu jujur, dooong.”

Sasi tertawa.
Sudah banyak bahagia ia dapat. Bahagia yang menurut orang lain susah menjalaninya. Ia harus menapaki banyak anak tangga demi meraih bahagianya. Ia harus bersusah payah mengayuh sepeda lalu berhenti di sebuah tempat, mengeluarkan kertas pulpen, juga bukum lalu bertanya,” Bisakah saya membacakan buku cerita untuk tempat ini? Atau mungkin mengajarkan menulis?”
Dan jawabannya tetap sama, dari satu gelengan ke gelengan lain, dengan tatapan memandanginya dari atas ke bawah, berujung pada sepeda yang teronggok begitu saja.
Sasi memahami.
Semua diukur dengan apa yang memang biasa diukur oleh manusia. Sepedanya, lalu motor bututnya selalu menjadi penilaian pertama dari orang-orang yang didatangi. Terkadang Sasi berpikir, apakah mereka menanam prasangka buruk di benak mereka dan merasa bahwa Sasi hanya seorang yang butuh pekerjaan?

“Jangan lupa tanggal 6 Mareeet.”
Suara riuh itu membuat ingatan Sasi kembali. Membuat Sasi tersenyum. Anak-anak yang belajar di rumahnya yang ia sulap sebagai sanggar, dan dibuka setiap Sabtu dan Minggu.
Anak yang datang silih berganti. Ada yang sekali datang lalu pergi. Ada yang bertahun-tahun tetap rajin datang, untu belajar apa saja yang Sasi ajarkan. Bahkan satu dua membawa teman.
“Kita patungan…”
“Sssst…., Ibu Sasi tidak ulang tahun. Ibu kan sudah tua.”
Tapi anak-anak berbisik lagi. Riuh lagi. “Pokoknya 6 Maret, yaaa.”

Sasi menarik napas panjang.
Panjang sekali. Sepanjang perjalanannya untuk berada pada satu titik bahagia seperti sekarang ini.
Sebuah sanggar yang ia putuskan untuk ia buka sendiri di rumah. Setelah menawarkan buku-buku koleksinya untuk ditaruh di tempat di mana anak-anak berkumpul, hanya mendapat jawaban nanti akan dipikirkan lagi pengurus. Berganti pengurus tetap jawaban yang sama.

“Ibu Sasi punya buku cerita. Ayoooo, siapa yang mau pinjam?”
Sasi ingat itu akhirnya yang ia lakukan. Menawarkan buku-bukunya pada anak-anak. Meminta mereka belajar di rumah. Tidak usah bayar. Gratis. Yang penting buku-buku koleksinya tidak hanya dinikmati anak-anaknya saja.
Hingga akhirnya anak-anak datang, untuk belajar apa saja. Memenuhi ruang tamu Sasi dengan cat, kuas, kertas origami, bahkan adonan kue.
Semua membuat Sasi sungguh bahagia.
Sasi tidak pernah bilang cinta pada anak-anak. Tapi Sasi yakin, anak-anak yang datang paham bahasa cintanya.

“Eh…, itu Ibu Sasi. Ayoooo.”
Sasi terkejut. Anak-anak juga terkejut ketika ia ke luar rumah, lalu cepat-cepat menyembunyikan kadonya di belakang punggung mereka.
“Ayooo, itu Ibu Sasi.”
Sasi pura-pura tidak melihat dan terus berjalan. Lalu anak-anak berlarian menyusulnya dan memberikan sebuah kado.
“Selamat ulang tahuuuun.”
Sebuah kado untuknya. Yang dibungkus kertas kado. Entah apa dalamnya.
“Jangan lupa dipakai besok, yaaaa.”
Sasi tersenyum. Bungkus kertas kado itu dibuka, di dalamnya ada bungkusan koran, di dalamnya lagi dibungkus kertas kado, di dalamnya lagi dibungkus koran, berujung pada sebuah kardus susu yang di dalamnya diisi koran dan sebuah kerudung manis berwarna kuning dan beberapa buah surat untuknya.

Apakah yang lebih manis dari ketulusan yang dibayar dengan cinta?
“Ibu Sasiiii, kerudungnya bikin Ibu Sasi tambah cantik.”
Sasi tertawa.
Seperti biasa mereka berkumpul. Sasi sudah siapkan semuanya untuk mereka. Brownies dengan coklat di tengahnya, plus vla coklat di atasnya juga parutan keju. Anak-anak minta keju lebih banyak lagi. Dan ia biarkan mereka mengambil juga memarutnya.

Sebuah pesta kecil akhirnya terjadi.
Dikelilingi anak-anak yang menerima kesungguhannya sepenuh hati. Sasi tahu, ia memang tidak perlu menghitung usia.

Ada Banyak Cara Menerbitkan Buku

Zaman sekarang ini segalanya menjadi lebih dimudahkan.
Mau membeli barang? Bisa mendapatkannya dengan mudah di online shop yang banyak bertebaran di dunia maya. Modalnya kuota internet dan kehati-hatian dalam memilih tentu saja. Karena selain orang baik, ada banyak juga orang yang tidak baik yang ingin memanfaatkan moment bernama kemudahan itu.

Menulis buku dan menerbitkannya juga semakin mudah.
Zaman dahulu saya jungkir balik ingin memiliki sebuah buku. Sekarang segalanya menjadi lebih mudah. Ada banyak penerbit yang butuh naskah dari penulis. Well, tanpa penulis penerbit tentu saja agak timpang jalannya.
Mengirim naskah ke penerbit prosesnya panjang. Kadang, ada naskah yang menurut kita sesuai timing dengan isu-isu yang muncul tidak bisa menunggu waktu lama.

Punya naskah dan ingin menerbitkannya tanpa harus susah payah menembus media cetak seperti saya dulu? Bisa tentu saja. Tapiii, tetap harus mau berproses. Paling tidak memiliki kebiasaan membaca. Paling tidak harus paham bagaimana cara agar tulisan kita enak dibaca oleh orang lain. Paling tidak ide-ide yang kita munculkan adalah ide-ide segar, yang akan membuat orang lain mendapatkan manfaat dari yang kita tulis itu.

Ada banyak penerbit indie.
Jadi, tulis naskah kita sampai selesai. Keluarkan uang untuk mencetaknya. Selesai. Kita punya buku. Buku itu bisa jadi kenangan dan simpan di lemari buku kita.
Kalau ingin dijual?
Pembaca di zaman sekarang sudah lebih pintar. Tentunya mereka tidak mau ke luar uang, untuk buku yang biasa-biasa saja. Apalagi buku yang tulisan di dalamnya berantakan. Berantakan cara penulisannya atau berantakan isi di dalamnya.

Lalu harus bagaimana?
Bersabar dalam proses.
Terus menerus menulis. Hingga pada satu titik, kita sudah yakin. Naskah kita bagus. Sebelumnya bisa kita lemparkan tester ke pembaca. Dengan mengupload bagian pembuka yang kita tulis di sosial media berupa status. Jika respon positif yang kita dapatkan, dan orang ingin membaca kelanjutannya. Itu artinya bolehlah kita berbangga, bahwa tulisan kita disuka.
Ini mirip dengan penjual kue. Orang biasanya mudah percaya ketika diberi tester. Satu dua sampai tiga kali tester, membuat mereka bisa mengambil kesimpulan. Aku suka dengan tulisan penulis ini. Okelah diterbitkan indie atau melalui penerbit mayor, tidak masalah denganku. Sepanjang bukunya itu bermanfaat dan isinya aku suka.

Jangan lupa, jika kita merasa butuh editor, keluarkan uang untuk membayar biaya editor naskah yang akan diterbitkan. Banyak editor profesional yang berseliweran di sosial media.
Jangan lupa juga, jika kita tidak bisa membuat cover yang bagus untuk buku kita, gunakan ilustrator profesional.
Atau cari aplikasi yang bisa membantu kita mengedit cover.

Jangan pernah bosan untuk terus menulis.Dan terus berproses.

Ancol, Setelah Sepuluh Tahun

Pantai, ombak, pasir adalah satu kesenangan untuk saya. Tidak bisa terganti dengan yang lain. Tapi, pantai, ombak dan pasir menjadi jauh ketika harus pindah ke Bekasi. Ada pantai di Bekasi dan Karawang, tapi kami belum familiar dan akses jalan ke sana juga belum terlalu bagus. Ketika masih di Jakarta hampir setiap bulan singgah ke pantai. Sejak masa SMA hingga kerja. Suami senang berkeliling ke Pasar Seni. Ada teman-temannya sesama seniman yang menyewa kios di sana.

Liburan mau ke mana?
Anak-anak bertanya.
Maklum liburan di benak anak-anak adalah libur bersama. Jadi mereka libur, ayah ibunya juga libur. Haduuuh. Harus disampaikan berulang bahwa ayah ibunya sebagai freelancer tetap harus bekerja. Ada kerjaan dari klien yang harus selesai. Jadi liburan itu hanya pada weekend saja.
Bersyukurlah mereka paham.

Tapi masalah ada lagi. Sulung membawa teman dari pondok asal Maluku yang belum pernah lihat Jakarta.
Sebagai tuan rumah selama dua minggu, tentunya ingin anak muda si tamu mendapat banyak kenangan indah. Maka akhirnya rencana jalan-jalan kami rancang.
“Ke mana?” anak-anak penasaran.
“Ke Ancol saja,” jawab saya. Murah meriah. Keluarga suami juga baru datang dari kampung, jadi pas situasinya.
Ke Ancol saja, bawa makanan dari rumah, gelar tikar di pinggir pantai.
“Diiih, kok cuma ke Ancol?” Bungsu mengeluh.
“Bersyukur saja,” seperti biasa saya katakan berulang-ulang.

Ke Ancol, pada hari Selasa tanggal 26 Desember 2017. Kami berpikir pada saat itu sepi pengunjung, karena bukan tanggal merah. Maklum freelancer seperti kami, patokannya hanya tanggal merah, dan tidak kenal cuti bersama. Tapi begitu datang. O la la. Kendaraan padat merayap. Kendaraan kami harus masuk dari pintu lain yang juga macet. Setelah masuk pun ternyata masih harus mencari tempat parkir karena penuhnya parkiran di sepanjang pantai.

Tidak ada yang perlu dikeluhkan untuk sebuah keputusan yang diambil. Harus tetap bersenang-senang.
Anak-anak merasakan pantai.
Saya dan Bungsu penasaran mencoba perahu. Dulu, saya pusing ketika naik perahu.
Saya mau mencoba lagi. Tidak mau fokus kepada kenangan masa lalu. Perasaan takut harus dilawan. Sulung tidak mau? Mungkin tidak mau basah-basahan. Temannya juga tidak mau mencoba, bisa jadi tidak enak hati. Sedang Suami? Uuh, dia punya pengalaman buruk di masa lalu. Ketika senang memancing di tengah laut, dan terhempas ombak setinggi beberapa meter, dan pengalaman traumatis itu tidak pernah mau diulanginya lagi.

Seperti apa sensasinya naik perahu?
Waah, ombak yang datang memerciki baju dan wajah, jadi sesuatu yang menyenangkan. Bungsu yang nyaman menikmati air. Saya yang seperti ditarik ke masa lalu dan melihat hamparan air di lautan. Seperti banyak ide mengucur deras di kepala.

Setelah sedikit bersenang-senang, ada yang tidak boleh kami lupa. It’s time for praying. Iya shalat. Larilah ke mushola yang ada di dekat pantai. Antri toiletnya. Alhmadulillah. Antri tempat wudhunya, Alhamdulillah. Antri tempat shalatnya juga Alhamdulillah.
Senang lihat musholla kecil penuh dengan para muslim dan muslimah yang shalat.

Pengunjung semakin banyak berdatangan.
Kami harus pulang.
Ada tugas lain menanti.
“Buu, ke toko buku, dong. Aku mau beli buku,” Sulung meminta.
Kami tinggalkan Ancol pulang menuju Bekasi dan meluncur ke toko buku seperti permintaan Sulung.

Ini cara kami mengikat kenangan.
Liburan bukan hanya berempat. Tapi dengan saudara dan teman yang lain tujuannya satu. Empati anak-anak untuk berbagi terasah lebih tajam lagi.

Jangan Menulis Jika Tidak Bahagia

Iya, menulis itu harusnya membuat bahagia. Jika menulis sudah menjadi pilihan dalam hidup. Untuk bahagia tentu ada banyak yang harus dilakukan.
Apa saja itu?

1. Tulis apa yang kita suka. Kalau kita tidak suka, jangan teruskan. Apalagi meneruskan hanya karena berpikiran akan mendapat banyak materi dari situ. Iya, materi dalam bentuk uang itu memang kita butuhkan. Tapi bukan berarti segalanya dan bisa membeli kebahagiaan.

2. Tuis yang ada dalam jangkaun ilmu kita. Itulah kenapa kita harus banyak-banyak riset. Jangan hanya bermodalkan satu tulisan saja yang kita cari di internet. Riset, riset dan riset. Karena itu jika profesi kita adalah perawat, alangkah lebih baiknya jika menulis tentang dunia yang digeluti setiap hari. Sehingga ketika dijadikan tulisan, banyak yang bisa merasakan manfaat tulisan itu.
Atau saya kenapa menulis buku anak? Karena saya banyak interaksi mengajar anak-anak. Sehingga sumber saya dari anak-anak tidak pernah habis.

3. Tulis dengan hati sehingga pesannya sampai ke pembaca. Menulis dengan hati artinya apa? Menulis dengan hati artinya, kita sungguh-sungguh melebur dalam tulisan kita. Jadi ketika kita menuliskan pengalaman yang sedih, kita bisa ikutan menangis ketika menulis hal itu.
Tulisan yang datangnya dari hati akan sampai ke hati.

4. Jangan kepingin dipuji. Mungkin jika awalnya menginginkan hal itu, adalah lumrah. Karena menulis bukan perkara mudah. Banyak orang yang tidak paham pekerjaan itu. Karena itu jika ada rasa ingin dipuji ketika di awal menulis, masihlah tidak mengapa. Tapi ketika sudah lebih dari dua tahun masih menginginkan hal itu, mungkin ada yang harus diperbaiki pada niat ketika kita menulis.

5. Jangan kepingin dianggap sempurna. Penulis yang mencari ide tulisannya, wajar jika ingin tulisannya dianggap sempurna. Tapi jika kesempurnaan di mata manusia yang ia cari, maka ia akan mudah untuk menjatuhkan penulis lain yang dianggap lebih tinggi darinya.

6. Jangan menjatuhkan orang lain dengan cara fitnah. Banyak kejadian di dunia menulis yang sumbernya adalah berita katanya. Entah itu di sosial media atau disampaikan oleh orang lain, tanpa cross check ke sumber utamanya. Pada akhirnya yang timbul adalah penulis yang satu dijatuhkan penulis lain.
Jangan lakukan itu, jika ingin bahagia dalam menulis.

Jangan mau menulis dan tidak bahagia.
Saya selalu memilih menulis dan bahagia. Dengan begitu saya menjadi sehat lahir batin.