Room to Read dan Belajar Menulis Lagi

R to R pengumuman

Seorang penulis harus berjuang untuk mau terus-menerus belajar. Itu sih keyakinan saya. Keyakinan seyakin-yakinnya bahwa ketika penulis tidak mau belajar dan langsung puas dengan hasil yang diperolehnya, maka justru itu adalah sumber kematian si penulis.

Saya suka belajar. Sarana apa pun yang bisa membuat saya tambah ilmu, saya akan mencarinya.
Kebetulan nih.
Kebetulan, suatu hari di kelas Kami Penulis Tangguh kita memiliki target untuk menembus lomba. Dan lomba itu audisi Room to Read. Di Merah Jambu Gabungan juga saya tawarkan, adakah yang mau mengikuti audisi tersebut.
Jadi kami sama-sama berdiskusi dengan melihat persyaratannya.
Lalu kami saling upload karya paling tidak untuk memberi tahu kepada yang lain bahwa mungkin kriteria yang diinginkan panitia seperti itu.
Empat naskah di Penulis Tangguh termasuk saya, ternyata Alhamdulillah masuk kriteria tersebut.

Eh tapi Room to Read itu apa, sih?
Room to Read itu sebuah organisasi yang ingin menghadirkan buku-buku yang baik untuk anak-anak. Biasanya buku itu akan disebarkan ke perpustakaan di daerah terpencil.
Itu gambaran umumnya.

Bayangan dan Realitas

Yang terbayang dari acara workshop itu sebenarnya tidak terlalu berlebihan. Kita belajar. Membuat tulisan untuk pictorial book. Itu yang saya pahami.
Tentang pengalaman teman sebelumnya, kalau di sana akan membuat tulisan, maka itu juga bisa saya pikirkan dengan santai. Karena masalahnya saya juga terus menulis setiap hari, jadi soal hambatan ide pasti bisa saya tanggulangi dengan baik.

Panitia meminta untuk membawa netbook alias laptop.
Nah itulah. Saya terbiasa menulis menggunakan komputer yang sudah menyatu dengan jiwa. Iya, tidak mudah untuk saya berpindah dari satu komputer ke komputer lain. Kalau saya sudah cocok dengan sesuatu itu artinya saya akan setia.
Jadi ceritanya laptop di rumah juga ukurannya agak besar. Itu laptop suami. Laptop dengan program ilustrasi dan design yang ribet untuk saya. Lagipula saya tidak mau ribet membawanya. Ada netbook kecil hadiah saya dari pak Mentri Pendidikan dulu ketika dapat Award. Tapi itu sudah saya berikan untuk anak bungsu saya, biar dia produktif menulis.
Tanya sana sini, baca pengalaman yang pernah ikutan workshop hasilnya saya putuskan saya akan menulis di kertas saja. Artinya saya bawa penggaris, pulpen, tip ex sampai rautan pensil. Komplit. Jadi kalau panitia minta hasilnya, tinggal saya foto dan kirim.
Untuk antisipasi, saya download program words di HP saya.

Teruuuus…
Saya cerita hari pertama dulu, ya.

Hari pertama, kami check ini.
Barengan saya dari stasiun Bandung, ada Luthfi, Widya dan Saptorini. Kami naik taksi sampai Green Resort Lembang.
Sampai di sana ternyata check ini baru bisa pukul dua siang.
Kami sampai jam sepuluh. Itu artinya….

14445622_637470359749224_1431247766_n

R to R la

Saya jalan-jalan bersama Fifa Dila asal Malang. Cekrek sana sini. Sampai cari musholla untuk shalat.
Dan ketika jam dua tiba, kami cepat-cepat masuk kamar.
Eit…, sebelum masuk kamar, datanglah Izzah Annisah dari Lampung. Berpelukan.

Oh iya ada masalah nih.
Saya berangkat pagi hari dari rumah. Jam empat saya berangkat karena kereta saya akan berangkat pukul setengah enam kurang. Jadi saya subuh di musholla stasiun. Maklumlah tinggal saya di ujung Bekasi yang tidak mudah dapat kendaraan di pagi hari. Lagipula, lebih baik datang lebih dahulu ketimbang ketinggalan kereta.
Saya bawa bekal air mineral dan beberapa butir kurma.
Udara cukup dingin. Teruuus. Kami hunting ke kamar-kamar penulis lain. Ngobrol sana sini. Dan…, rupanya saya dan Izzah punya masalah yang sama. Kita berdua kelaparan. Hi hi, sampai kita kedinginan. Hingga akhirnya kami cari alternatif main ke kamar Yuniar Khairani dan Saptorini untuk cari pengganjal perut.
Lumayan, lapar sedikit berkurang.
Saya dan Izzah cekikikan setelah itu.

Karena resort maka tanahnya berkontur. Saya dapat kamar di lantai dua. Untuk makan kami harus turun ke bawah, melewati jembatan yang menurun yang di bawahnya ada kolam ikan.
Tempatnya bagus.

aku dan room to read

kamarku

Jam tujuh saatnya makaaaan.
Ada di restoran sistem prasmanan. Nasi beserta lauk pauk silakan ambil sendiri.
Setelah itu kami tidur dan bangun di pagi hari dengan segar dan sarapan lagi.

Saatnya Belajar di Hari Pertama

belajar di room to read

Belajarnya apa?
Belajarnya banyak. Tapi lebih utama pada pembuatan naskah buku anak. Pictorial book.
Susah?
Buat saya susahnya adalah, ketika diajarkan untuk memikirkan awal, tengah dan ending cerita. Padahal hiks, padahal, saya tipe penulis yang tidak punya konsep yang harus dicoret-coret dulu. Semua coretan ada di kepala saya.
Yang mengisi workshop adalah Alfredo Santos dari Filipina. Ada penerjemah. Tapi karena bahasanya mudah dimengerti jadi bisalah. Lagipula untuk menangkap kalimat dalam Bahasa Inggris juga membaca buku Bahasa Inggris saya tidak kesulitan. Yang sulit buat saya adalah ketika bicara Bahasa Inggris. Mulut dan otak rasanya susah connect. Haduh.

Jadi Alfredo menyampaikan materi. Kita dipisah menjadi beberapa kelompok. Saya dengan beberapa teman. Horee, saya kelompok dengan mbak Yuniar dan Saptorini. Kita udah akrab di PT, jadi senanglah.
Setiap kelompok ada pendamping. Kami dapat pendamping mbak Eva Nukman dari Litara (penerbit yang khusus menerbitkan buku bacaan anak dan disebar untuk program perpustakaan di daerah terpencil). Dan Pak Agus Raymon dari Bestari.

kita PT

Alfredo menerangkan sesuatu.
Tangan saya sih bergerak. Bukan buat nyatat. Tapi buat bikin coretan beberapa ide yang kebetulan nempel di kepala.
Oh ya, pada hari pertama kita diminta memikirkan satu ide yang akan kita presentasikan besok.
Alhamdulillah ide itu ada.
Dan editor siap diskusi tentang itu.

Workshop ada waktu istirahatnya. Istirahat untuk coffee break, makan siang, coffee break lagi. Pokoknya soal makanan memang sudah dijamin jadi jangan takut kelaparan.
Hari pertama kita dikasih kertas untuk kita kerjakan perkelompok. Macam-macam pertanyaannya. Termasuk apa yang kita inginkan dalam workshop tersebut.

Hari pertama selesai.
Bawa PR di kepala.
Dan tidur pun mulai resah.

Hari kedua

Hari kedua artinyaaa.
Eit karena membuat pict book adalah masalah baru buat saya, maka tidur saya mulai tidak tenang. Ide udah ada sih. Sudah langsung saya buat jadi adegan pict book. Sudah disetujui editor pendamping.
Seperti biasa saya sih biasa menulis idenya jadi cerita dulu. Baru saya pisah mana awal, tengah dan ending.
Tapi tengah malam saya terbangun. Ada ide lain yang menurut saya lebih menariik.
Langsung saya catat dan selesaikan dalam sebuah cerita.

Eng ing eng, ternyata. Di hari kedua ide saya yang saya dapat itu, kata editor kurang mengena karena tokohnya harus anak dan yang mengambil inisiatif anak bukan orang dewasa, lebih bagus yang pertama.
Maka saya kembali ke ide pertama.

Oh ya ada juga warming up dari Olivia dari Amerika kalau tidak salah. Dia memberi pemanasan dengan mengajak setiap kelompok untuk menciptakan tarian dengan modal, beginning, middle dan ending. Seperti sebuah cerita.
Kelompok kami bikin tarian tentang ikan yang tertangkap dan akhirnya dimasak.
Olivia ini membuat kelas menjadi lebih segar. Karena dia selalu meminta kelompok untuk tampil dan memikirkan jalan cerita yang seru untuk ditampilkan. Mikirnya harus serba cepat.

Oh ya untuk presentasi.
Setiap ide itu dipilihlah satu orang di kelompok yang akan presentasi.
Siapa yang merasa yakin silakan presentasi untuk kemudian diberi masukan oleh teman, Alfredo juga editor dari beberapa penerbit.

Saya diskusi matang pada editor tentang ide itu.
Jadi ketika masuk kamar, saya sudah menggambar dan menulis ide itu. Lalu cekrek, kirim ke panitia.
Maklum kan saya tidak bawa laptop.

Ini editor saya yang kayaknya sih jadi editor favorit dan harapan semua peserta karena kejeliannya. Mbak Eva Nukman.

izzah, aku dan mbak eva

Hari kedua malam ini, karena workshopnya panjang. Dan banyak wajah-wajah yang mulai stress, maka bawaannya masuk kamar udah capek. Saya masuk kamar malah masih ditodong Bungsu dengan pesan soal-soal matematikanya yang minta dibantu cari jalan ke luarnya.
Sambil ngantuk saya ajarkan matematika dan kirim pesan ke WA Bungsu. Ternyata ujungnya pesan itu salah kirim. Untung salahnya ke Saptorini. Dan lucunya Saptorini merasa pesan itu adalah kode dari saya, untuk mengarahkan jalan cerita yang sedang dia buat.
Hari kedua kami dikasih pesan bahwa di hari ketiga, kami akan diminta untuk merevisi naskah yang kami kirim untuk audisi.

Hari Ketiga

PR room to read

Hari ketiga. Wajah-wajah tegang.
Kita dipisah kelompok lagi.
Lagi-lagi saya bersyukur dapat kelompok dengan mentor mbak Eva Nukman dan mas Agus Raymon lagi. Saya sekelompok dengan Fifa Dila juga Maharani Aulia dan Arleen pakarnya pict book karena buku pict booknya udah lebih dari seratus.

Kita diskusi ide yang kita kirim untuk audisi.
Nah, waktu semua sibuk diskusi, saya pindahkan cerita dalam bentuk tabel yang saya buat di kertas ke dalam HP. Ketak ketik di HP. Itu pertama kalinya lho saya menulis di HP.
Jadi saya ulang ketik tabel berisi cerita dan panduan untuk ilustrator. Kirim dalam bentuk words ke panitia.
Beres, saya tidak punya utang tulisan.

Lalu cerita yang kita kirim dibahas. Saya dengarkan masukannya. Lalu saya buat tabel yang baru.
Iya tabel.
Pict book itu penulis bukan sekedar membuat tulisan. Tapi harus memikirkan konsep ilustrasinya yang akan membuat ilustrator jadi mudah nanti menggambarkan ide yang kita tulis.
Porsi terbanyak adalah porsi ilustrator.

Ada presentasi lagi.
Dan pada saat presentasi itu, saya kotak-katik naskah kedua. Saya tulis di HP. Sudah disetujui editor, lalu kirim ke panitia.
Di hari ketiga ini ada materi tentang folktale dari mbak Dina Amalia dari Badan Bahasa. Membahas seberapa banyak kita boleh mengadaptasi dan mengembangkan ide dari cerita rakyat.
Kebetulan yang saya tanya adalah boleh tidak saya membuat cerita dari sudut pandang berbeda? Misalnya Maling Kundang saya buat versi semutnya yang bercerita.
MBak Dina bilang boleh.

Kami masing-masing diberi satu naskah cerita rakyat yang harus kami tulis ulang.
Saya dapat cerita dari Kalimantan Barat dan saya memikirkan sudut pandang berbeda. Cerita ditulis lalu, mbak Eva bilang, sudut pandang itu belum berbeda dan ceritanya masih sama.
Berpikir, berpikir, berpikir.
Teman yang lain juga berpikir, berpikir dan berpikir. Cuma untungnya saya hanya memikirkan satu naskah cerita rakyat, karena dua cerita sudah terkirim. Teman lain ada yang masih ada yang tiga ceritanya belum selesai. Pusing, kan?
Makanya jangan kaget lihat gelas kopi di meja-meja yang ada. Termasuk meja saya.

Room to Read ruang belajar

Hari Keempat

Malamnya saya tidur dengan tenang.
Karena saya merasa tidak akan ada presentasi. Di kelompok saya ada dua orang yang belum presentasi naskah. Saya pikir sebagai senior (cie cie..), saya wajib memberi kesempatan untuk yang mau belajar presentasi.
Tapi ternyata.
Ketika kelas dimulai pada jam setengah sembilan. Mbak Eva bilang. “Nur, kamu yang maju ya untuk presentasi.”
O alah, naskah belum jadi. Yang kemarin masih mentah.
Tapi semalam saya terbangun sih dan tulis judul baru yang nempel di kepala. Judul itu artinya untuk saya, sudah mencakup semuanya.

Presentasi itu artinya…, saya harus ngebut bikin naskah.
Saya tulis di buku. Berikan ke mentor editor saya. Dan dia bilang oke.
Kasih ke mentor lain, dia bilang idenya menarik. Tapi untuk lebih afdol sebaiknya saya tanya mbak Dina. Saya langsung ke mbak Dina dan bilang oke. Itu adaptasi dari cerita rakyat dengan sudut pandang berbeda. Dan tidak masalah kalau akhirnya jadi cerita baru.

Sudah oke. Jam makan siang. Semua menghadap laptop. Saya malah ketak ketik di smartphone bikin tabel.
Saya simpan dan screen shoot. Kenapa screen shot? Soalnya saya belum tahu caranya simpan ke google drive dan sudah dicoba ternyata gagal terus.
Setelah jadi saya kirim.
Satu persatu kelompok maju. Kok saya tidak dipanggil. Ada dari kelompok lain yang maju. Ada yang protes karena aturannya satu kelompok satu orang yang maju. Saya bilang ke mbak Rina dan mbak Rina langsung cari file saya.
Majulah saya.

Maju ke depan.

Saya maju, deh.
Kasih folktale yang saya buat.
Ada yang bertanya kok bisa dibuat seperti itu termasuk Alfredo bertanya pada mbak Dina. Alhamdulillah mbak Dina bilang tidak masalah dan mbak Eva juga membantu memberi penjelasan.

Terus masanya panik.
Karena ternyata panitia minta kita mengirim file yang kita buat dikirim dalam versi ZIP.
Saya kotak-katik HP dan ternyata baru nemu cara simpan ke google drive. Pak Raymon mentor saya juga tanya. “MBak Nur gimana? Mbak Nur kirim pakai apa?”
He he, saya tunjukkan file di HP saya.
Saya kirim dalam versi words.

Selesai.
Kami masing-masing dapat sertifikat dari Alfredo. Kasih kesan dan pesan. Lalu berfoto bersama.

Aku di Room to Read

terakhir di Room to Read

Ada 30 penulis yang masing-masing kirim 3 naskah.
Tapi dari tiga naskah itu, hanya akan dipilih satu naskah saja untuk revisi.
Dan dari 30 naskah itu, hanya akan dipilih 20 naskah saja.
Jadi pulang dari sana, kami masih harus revisi lagi dengan cepat bila ingin naskah itu terpilih.
Kalau saya sih, terpilih atau tidak terpilih pada akhirnya itu masalah rezeki. Yang penting ilmu sudah saya dapatkan.

Sebagai tambahan catatan :

Pict book yang diajarkan terdiri dari beberapa level.
Tapi kemarin sepertinya fokus ke level pemula pertama, kedua dan ketiga.
Pemula dalam artian seperti apa? Saya tanya ke mbak Eva Nukman. Karena berangkat dari pengalaman menurut saya, orang yang tidak terbiasa, bahkan orangtua pun bisa disebut pembaca pemula.
Mbak Eva membenarkan.
Pemula itu range usia 6 -9 tahun.
Kosakata masih sederhana. Jadi tulisan juga harus sederhana dan gambar menguatkan tulisan itu.
Orang yang tidak terbiasa membaca dan belum pernah membaca, meski usia 12 tahun bahkan orangtua sekalipun, bisa masuk katagori ini. Contohnya di daerah-daerah terpencil yang sulit mendapatkan buku.
Semakin meningkat levelnya artinya tulisannya bisa lebih banyak. Misalnya bisa beberapa kalimat. Dan kosakata yang lebih sulit bisa dimasukkan.

Oh ya di Room to Read ini semua transportasi kita diganti, ya.
Plus kita belajar setiap hari di sana, dibayar juga hitungan perhari kok.
Di malam sebelum kita check out semua biaya itu akan dirinci untuk diganti. Karena itu bukti tiket jangan sampai hilang. Print out atau difoto atau bahkan bawa kwitansi untuk ditandatangani supir angkot atau supir taksi yang kita naiki.

Ini catatan sederhana yang nanti kalau ada tambahan lagi, akan saya tambahkan yaaa.

Pisau Runcing Dalam Pernikahan

AQUA, aku dan suami

Sakit hati yang paling sering terjadi adalah karena sesuatu yang keluar dari mulut kita atau pasangan. Dan yang ke luar dari mulut itu sering tidak disadari oleh yang bersangkutan dikarenakan mereka memang terbiasa melakukan hal seperti itu.
Yang ke luar dari mulut kita bisa jadi kita rasakan biasa saja dikarenakan kita terbiasa mengeluarkan kalimat seperti itu.
Kalimat bodoh tidak berpendidikan, bisa jadi hal yang biasa di beberapa keluarga yang mengutamakan pendidikan formal. Biasanya mereka mengambil pola asuh kalimat seperti sebagai acuan motivasi tapi tidak melihat bahwa terkadang kalimat seperti itu justru menjadi bahan pelajaran untuk anggota lainnya.
Melihat tidak bisa melakukan hal kecil, kata-kata itu bisa jadi terlontar. Dan dalam pernikahan, banyak interaksi, banyak kesalahan terjadi, maka dari situ kalimat yang seperti itu akan menjadi biang keladi masalah antar pasangan.
Kalimat buruk yang biasa dikeluarkan seorang Ibu, akan dipahami anak-anaknya sebagai kalimat yang biasa saja, berlaku di rumah itu artinya kalimat itu normal dan boleh juga ia ucapkan.
Karena itu biasanya anak-anak dengan orangtua yang biasa bicara kasar, akan juga tertular kekasarannya sampai pada batas usia tertentu ia paham dan mengambil keputusan untuk meneruskan atau menghentikan kalimat kasar itu. Menghentikan bisa jadi karena ia sudah tidak nyaman karena ia bergaul dengan orang-orang yang bersikap lembut. Meneruskan karena ia sudah terbiasa dengan kalimat seperti itu. Sudah mendarah daging.

Sesungguhnya Allah itu lemah lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara (HR Bukhari Muslim.

Ada kalimat keras ada kalimat kasar. Dan tentu saja ada perbedaan antara kalimat yang diucapkan keras dan kalimat yang diucapkan kasar.
Kalimat keras bisa jadi volumenya diucapkan tinggi dengan nada tinggi, memekakkan telinga bagi yang tidak terbiasa mendengarnya.
Kalimat kasar sendiri adalah kalimat yang melukai hati. Sering bukan karena tingginya volume ketika mengucapkan tapi karena apa yang terucap itu yang menyakitkan hati.
Misal, kalimat bodoh yang diucapkan lembut untuk kesalahan yang kita perbuat dari orang lain yang selama ini ada di samping kita, pasti menyakitkan.
Kalimat bukan istri yang baik yang diucapkan oleh tetangga yang tidak pernah tahu diri kita sebenarnya seperti apa, pasti juga menyakitkan meski diucapkan sambil tersenyum.

Perhatikan apa yang ke luar dari mulut kita. Jika kita mudah terluka untuk kalimat yang ke luar dari mulut orang lain kepada kita, coba intropeksi apakah kalimat kita mudah melukai orang lain?
Biasanya bila kita minta Allah membukakan segalanya untuk bahan intropeksi akan mudah Allah membuat apa yang selama ini tidak terasa akan menjadi terasa.
Sebab banyak sekali para wanita yang kasar menangis dan merasa orang lain bersikap kasar padanya. Padahal ia sendiri kasar setiap kali bersikap pada orang lain.
Atau wanita yang suka menjelekkan orang lain, akan kaget sendiri ketika ada gossip dari orang lain tentang dirinya.
Yang paling efektif adalah meneliti kalimat yang ke luar dari mulut anak-anak kita. Jika mereka kasar, coba intropeksi diri. Tanya juga pada pasangan. Jika kalimat kasar itu datangnya bukan dari kita atau pasangan, itu artinya ada yang harus dibenahi yang ke luar dari mulut kita.
Untuk kalimat kasar seperti ini, kita dan pasangan harus sama-sama memiliki persepsi yang sama tentang kalimat kasar itu sendiri. Sebab satu kalimat yang kita anggap kasar adakalanya dianggap tidak kasar oleh pasangan. Misal, kalimat bodoh. Untuk kita kasar untuk pasangan tidak kasar.
Maka sebelum mematenkan bahwa kalimat itu kasar dan kalimat itu tidak di dalam rumah tangga kita sebaiknya kita juga harus memiliki persepsi yang sama tentang kalimat itu sendiri.
Acuan yang lebih baik adalah sebuah pertanyaan, apakah kalimat itu melukai perasaan orang lain atau tidak?
Selebihnya kita dan pasangan bisa saling mengkaji ulang lebih baik. Semakin dalam pemahaman agama semakin kita tahu kalimat apa yang pantas diucapkan dalam rumah tangga kita dan dengan intonasi yang seperti apa.

Kalimatmu Kasar. Kalimatku?
Kita dan pasangan berbeda. Jelas. Pernikahan memang Allah jadikan untuk menyatukan dua orang memiliki beberapa kesamaan dan juga beberapa perbedaan. Bukan menyatukan orang yang benar-benar sama atau benar-benar berbeda.
Ketika menyadari hal mendasar seperti ini, kita akan lebih menyadari bahwa jika kita dan pasangan memiliki perbedaan, itu artinya kita dan pasangan masih juga memiliki kesamaan.
Coba perhatikan orangtua kita. Apakah ayah dan ibu kita sama? Tentu tidak. Bisa jadi ayah kita punya cita-cita tinggi sedang ibu kita tidak atau sebaliknya. Tapi mereka memiliki persamaan pada hobi bercocok taman.

Bisa jadi ibu kita suka berpergian tapi ayah suka di rumah. Tapi persamaannya mereka akan optimal ketika mengurus kita sebagai anak-anaknya di rumah.
Atau bisa jadi ayah kita adalah orang yang sabar dan ibu kita tegas. Tapi mereka pasti memiliki benang merah sendiri kapan sabar dan tegas itu menjadi satu kesatuan yang membuat kita tumbuh kembang secara optimal.
Tentang kalimat kasar yang bisa jadi keluar dari mulut pasangan kita dan kita sakit hati? Cari yang paling tepat tentu saja mengucapkan langsung pada pasangan.

Pernikahan adalah proses itu yang wajib diingat. Proses itu diisi dengan saling mengingatkan satu dengan yang lain sehingga tercipta kenikmatan berproses untuk akhirnya sama-sama menuju ujung yang baik.
Sepanjang kita sadar, punya rambu yang jelas mana kalimat kasar dan mana tidak dan rambu-rambu itu adalah rambu yang diperintah oleh agama, maka akan lebih mudah untuk meluruskan pasangan kita.
Yang banyak terjadi, kalimat kasar pada pasangan (suami) membuat para istri menjadi merasa tidak bisa bergerak, runtuh harga dirinya. Lalu menyimpan bara lebih dalam lagi. KDRT karena kekerasan verbal ini juga banyak dilaporkan oleh para wanita yang merasa tidak kuat lagi dengan kata-kata kasar pasangannya.
Jika memang pasangan memiliki kalimat yang menurut kita senantiasa kasar, benahi pasangan pelan tapi pasti.
Ingat, ada indikator kalimat itu kasar :
1. Orang yang mendengarnya bukan hanya kita bisa sakit hati
2. Banyak dari kata kasar tidak ada manfaatnya sama sekali
3. Yang mengucapkan seringkali meluapkannya dalam keadaan emosi
4. Ketika tidak dalam keadaan emosi mengucapkannya itu artinya kata-kata kasar sudah menjadi kebiasaan.
5. Kata-kata kasar yang diucapkan berulangkali dan didengar oleh orang di dekatnya berkali-kali sering malah menjadi intimidasi dan membuat yang mendengarnya jadi merasa seperti itulah dirinya.

Tulis, Jangan Bicara
Jika kita adalah tipe yang memang mudah tersakiti mendengar kata-kata kasar ke luar dari mulut pasangan, kenapa kita tidak melakukan tindakan yang membuat pasangan sadar?
Atau jika kita sendiri yang memang suka bicara kasar sehingga anak-anak ikut terbawa dan bicara kasar, mungkin memang kita harus melakukan sesuatu.
Cara yang paling ampuh adalah lewat gambar atau tulisan.
Jika kita tidak terbiasa menggambar atau menulis, bukan berarti kita tidak bisa melakukannya.
Pernahkan kita melihat anak kecil yang sedang menggambar dan dalam keadaan emosi? Apa yang dihasilkannya? Gambar yang coret moret tidak menentu. Ia menggabungkan semua warna dalam satu tumpukan dan tidak ada maknanya. Ia kadang tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Tapi setelah itu? Ia akan merasa lebih mudah terkontrol ketimbang sebelumnya.

Jika kalimat kasar yang ke luar dari mulut kita adalah kalimat yang selalu saja hadir tidak terkontrol dalam keadaan kita marah, coba carilah pengalihan sehingga kalimat itu tidak menyakiti seorang yang terkena.
Ambil kertas. Coret apa saja dalam keadaan kita marah. Atau kita tulis apa saja yang ingin kita ungkapkan dalam bentuk tulisan. Kita memerlukan sarana untuk mengeluarkan emosi kita.
Waldron dan Kelly 2008 mengatakan bahwa salah satu alasan dari tiga alasan kenapa pasangan bercerai adalah karena kalimat yang tidak membangun (destructive communicaton). Kalimat seperti ini kadang-kadang tidak bisa ditoleransi.
Ketidakmampuan mengendalikan konflik, kurangnya kedekatan dan tidak bisa menciptakan komunikasi yang sportif juga menjadi alasan lain dalam sebuah perceraian.

Ketika apa yang ada di hati sudah kita tumpahkan semua dalam bentuk coretan, endapkan dalam beberapa jam. Selang waktu beberapa jam itu, kita bisa melakukan banyak hal. Kita bisa membuka Al Quran, kita bisa membaca buku, kita bisa shalat, kita bisa juga tidur.
Setelah keadaan kita tenang, buka apa yang kita tulis dalam keadaan marah itu. Dan lihatlah. Betapa kadang-kadang apa yang seharusnya tidak tertulis jadi kita tulis ketika kita emosi. Bahkan hal-hal yang harusnya sudah selesai kembali kita buka kembali ketika kita dalam keadaan marah.
Ini artinya, ketika kita tidak menulis tapi memilih untuk bicara, maka akan ada kalimat yang menyakitkan orang lain terutama pasangan kita, akan ada juga kalimat yang mungkin disimpan sebagai luka baru oleh pasangan.
Cerdaslah mengelola kalimat yang keluar dari mulut kita.

Seberapa Dalam Sakit Hati Itu?
Jika memang pasangan kita, orang terdekat kita gemar sekali mengeluarkan kata-kata kasar, meski tidak diucapkan dengan nada tinggi, dan kita menjadi sakit hati karenanya, coba tanya dalam hati kita sendiri. Seberapa dalamkah sakit hati itu ada di dalam hati kita? Apakah sakit hati itu mengganggu hubungan kita dengan pasangan dan rumah tangga menjadi sesuatu yang menyebalkan untuk kita?
Kita harus jujur dengan diri sendiri, karena yang menjalani adalah kita. Sama sebenarnya dengan kita berada di dalam sebuah rumah. Rumah yang nyaman adalah rumah yang kokoh tiang penyangganya, atapnya, dindingnya. Kebocoran sedikit tidak masalah karena bisa ditambal.
Rumah yang nyaman itu tentu menyamankan kita. Tapi jika rumah itu bukan hanya keropos atap atau dindingnya tapi justru mau roboh menimpa kita yang ada di dalamnya, apa yang kita lakukan? Apakah kita tidak berbuat apa-apa dalam kondisi rumah yang seperti itu?
Tentunya ada dua alternative yang harus kita lakukan. Jika kita tidak mampu membenahi, maka minta tolonglah pada orang yang ahli melakukan pembenahan. Jika kita memang siap berada di dalam rumah itu, maka itu artinya kita harus memiliki kekuatan kalau suatu saat tubuh kita menjadi hancur karena tertimpa bangunan.

Pernikahan ditujukan untuk sakinah mawadah warohmah, yaitu rumah tangga yang tenang dan penuh kasih sayang.
Jika kalimat kasar dari pasangan membuat kita memendam bara sakit hati, itu artinya kasih sayang dalam rumah tangga kita sudah diracuni oleh perasaan seperti itu.
Tentu saja perlu ada komunikasi yang intensif dengan pasangan untuk membahas hal ini. Selain itu, tentu juga harus ada kemauan keras melanjutkan rumah tangga dengan meminimalisir sakit hati.
Kita benahi pasangan yang rajin mengucapkan kalimat kasar dan sikapi dengan selalu mengucapkan kalimat positif dan lemah lembut. Sekali dua kali mungkin tidak akan terpengaruh. Tapi setahun, dua tahun bahkan tiga tahun jika pesan itu diungkapkan berulang dengan contoh kelembutan dan santun pasti pasangan akan mengerti dan mengurangi hal itu.
Sedang sakit hati juga harus kita tekan dan bahkan hilangkan demi kelanggengan rumah tangga kita.

kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu mengingatnya. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tegak barang sedikitpun. (Ibrahim: 24-26)

Memelihara Semangat Pada Anak

Atong_Balqos

Semangat bukan jamur yang bisa tumbuh subur di musim hujan. Kadar semangat pada orang dewasa bisa naik turun. Kadar semangat pada anak-anak juga seperti itu. Bisa naik dan bisa turun.
Jika orang dewasa sudah memiliki sensor sendiri agar semangat terus tumbuh, anak-anak tentu tidak seperti itu.
Anak-anak belajar banyak dari segala hal di lingkungannya. Semangat mereka bisa tumbuh karena banyak hal, sama seperti semangat mereka turun.
Beberapa hal ini yang bisa membuat semangat pada anak bisa turun :

1. Orangtua
Anak-anak naik semangatnya karena orangtua. Tapi anak-anak bisa turun juga semangatnya karena orangtua. Karena itulah maka pakar pendidikan di mana pun, selalu meminta orangtua untuk menjadi teladan pertama pada anak-anak mereka.
Teladan dalam bentuk sikap yang bisa diteladani oleh anak-anak.
Orangtua harus memberi contoh itu dalam perbuatan nyata. Untuk hal yang paling mudah adalah ketika cuaca tidak bersahabat.
Ketika musim hujan, orangtua tetap melakukan aktivitas penuh semangat seperti biasanya dan tidak memilih tidur, maka anak-anak akan melihat hal itu sebagai contoh yang bisa mereka teladani.

2. Lingkaran teman-teman
Teman selalu membawa pengaruh besar pada anak-anak, terutama anak yang semakin besar. Ketika kontrol orangtua mulai mengendur maka di sinilah peran teman mulai berperan.
Teman yang suka mengeluh akan membuat anak tertular mengeluh. Teman yang tidak bersemangat akan membuat anak-anak juga ikut tidak bersemangat.
Dalam kondisi seperti ini orangtua tetap harus memegang kontrol utama. Orangtua yang paham kondisi anak akan menjaga agar semangat anak hanya kendur, bukan menghilang.

3. Manfaat
Anak akan tumbuh semangatnya jika mereka paham manfaatnya. Jika mereka tidak paham, maka mereka tidak bisa mengambil keputusan memilih untuk semangat atau justru kendur semangatnya.
Orangtua yang bisa menyadarkan hal ini dengan bukan hanya rajin memantau tapi juga rajin mencatat.
Misalnya membuat foto-foto ketika anak-anak belajar, berlatih karate atau sepak bola. Tunjukkan foto-foto itu ketika mereka akhirnya berhasil meraih kemenangan. Dengan begitu anak-anak sadar bahwa sikap terus bersemangat sangat bermanfaat untuk mereka.

4. Belum Bisa Fokus
Kita bisa terus bersemangat ketika sudah bisa fokus dengan tujuan. Anak-anak perlu diajarkan tentang hal itu. Mengajarkan fokus pada apa yang ingin mereka capai. Ajarkan mereka membuat catatan target yang ingin mereka raih. Misalnya menabung untuk pergi ke suatu tempat. Bantu mereka untuk mencapai targetnya. Ketika mereka sudah melihat hasil dari fokus itu, pasti mereka akan bisa belajar untuk semangat melakukan hal yang lain lagi.

5. Mereka Tetap Anak-anak
Jika semangat kita suka naik turun, kenapa anak-anak tidak boleh? Biarkan mereka berproses dan menjalani semuanya dengan riang gembira. Biarkan mereka bermain dan dalam bermain itu mereka bisa memutuskan, apakah akan bermain terus menerus atau mengisi bermain itu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Kita harus tetap di samping mereka untuk mengingatkan dan menjadi teladan untuk mereka.

Jangan Fokus Pada Kekurangan Orang Lain

Suatu hari di depan televisi Bapak mengomentari seorang penyanyi. Penyanyi itu suaranya bagus, tapi penampilannya tidak menarik. Bapak lalu bilang. “Sayang, ya, tidak cantik.”
Tapi setelah itu Bapak beristighfar berkali-kali. “Tidak boleh seperti itu. Mencela ciptaan Allah berdosa.”

Saya belajar banyak dari Bapak.
Mencoba menerapkan apa yang Bapak terapkan pada saya.

Dulu saya pernah membeli sepatu di toko sepatu. Sampai di sekolah terasa bahwa sepatu itu ternyata sempit sebelah. Rasanya tidak enak. Memang tidak ada yang melihat perbedaa itu. Tapi saya merasa. Apalagi habis jam olah raga di siang hari, pada saat kaki memang jadi mengembang lebih besar.
Satu sepatu di satu kaki terasa masih longgar dan nyaman. Sedang di kaki lainnya sesak. Saya membeli sepatu itu di malam hari. Beli sendiri ke toko sepatu.
Saya lalu melihat di bagian bawah sepatu. Membandingkan nomornya. Baru sadarlah saya kalau ternyata sepatu saya besar sebelah, berbeda nomornya.
Saya masih berusaha untuk menukarnya. Tapi ternyata karena bawah sepatunya sudah kotor, oleh toko sepatu tidak diperbolehkan.
Tapi sejak itu, saya merasa trauma setiap kali membeli sepatu. Berkali-kali saya akan melihat nomornya. Lalu sebelum dimasukkan ke dalam kardusnya pun masih akan saya cek ulang.

Pelajaran dari Sepatu Sulung

Bertahun-tahun pengalaman itu membuat saya takut membeli sepatu. Biasanya kalau ada sepatu yang saya suka, adik-adik saya akan saya beri uang, lalu mereka yang akan membelikan sepatu dengan nomor dan warna yang saya pilih.
Sampai punya anak pun saya masih agak ngeri beli sepatu. Biasanya anak-anak membeli sepatu bersama ayahnya, dan ayahnya yang memilih untuk mereka.
Tapi suatu hari, tibalah Sulung butuh sepatu hitam. Waktunya mendesak. Kami akhirnya lari ke hypermall, yang ada satu toko sepatu.
Sulung memilih sepatu warna hitam untuk upacara. Dia jadi petugas upacara bendera.
Seperti mengurai kejadian di masa lalu, saya mengecek. Lalu setelah itu saya biarkan sepatu itu dimasukkan ke dalam kotak.
Sulung keesokan harinya memakai.

Tapi esok harinya, terjadilah peristiwa dengan apa yang saya alami.
“Ibu, Ibu tahu ada yang aneh dengan sepatuku?” tanyanya.
Ibu tidak mengerti.
“Menurut Ibu aneh tidak?” ia menjejerkan dua sepatu yang dipakainya.
Saya perhatikan sepasang sepatu itu. Tidak kelihatan bedanya. Sama-sama hitam warnanya, sama-sama masih bagus.
Lalu Sulung membalikkan sepatu itu dan menunjukkan nomornya. “Nomor sepatuku berbeda, Bu.”

Rasanya lemas saya melihatnya. Tidak bisa ditukar sepatu yang sudah dibeli dan sudah dipakai. Seperti pengalaman saya.
Saya mendekati Sulung. “Kamu merasa sepatu itu besar sebelah?”
Sulung menggeleng. “Tapi ada temanku yang ngomong begitu, terus teman yang lain lihat,” dia cemberut lalu menyebut satu nama temannya.
Satu teman itu saya kenal betul ibunya dan paham karakternya.
“Terus teman yang lain ngelihatin terus, atau gimana?”
“Enggak, sih. Terus pada lupa, main lagi.”

Saya menarik napas panjang.
Membayangkan dulu, ketika saya memakai sepatu berbeda nomor, hanya saya sendiri yang paham. Teman lain sibuk ngobrol dan tidak memikirkan sepatu saya. Hanya ketika saya fokus ke sepatu, lalu ada yang bertanya. Itu pun hanya pertanyaan kenapa?
Artinya. Saya yang melihat kekurangan saya. Yang lain tidak.

Sekarang Sulung bahkan tidak mengetahui kekurangan sepatu yang dipakainya. Tapi temannya, satu teman yang selama ini suka memberi kritik, yang melihatnya. Itu artinya.
“Kamu tahu. Orang yang sering melihat kekurangan orang lain, biasanya hanya fokus pada kekurangan teman-temannya. Dia tidak akan melihat kekurangannya sendiri. Dia tidak juga melihat kelebihan temannya.”
Sulung belum mengerti.
“Teman kamu melihat seorang pakai baju merah di siang hari juga diberi komentar. Melihat orang pakai topi yang kelihatan aneh, juga langsung diberi komentar.”
Sulung mengangguk. Lalu menjawab.
“Betul, Ibu. Teman yang lain diam aja. Cuma lihat terus main lagi sama aku. Lagipula, sepatu ini masih bagus kok. Aku juga enggak kesempitan.”

Alhamdulillah.
“Kalau kamu butuh sepatu baru, Ibu ajak kamu ke toko sepatu lagi.”
Sulung menggeleng. “Sayang uangnya Ibu. Ini masih bagus, kok.”
Saya tersenyum.
Sepatu itu masih dipakai sampai dia masuk SMP. Ketika saya tanya, apa tidak ada temannya yang melihat nomor sepatunya yang berbeda? Dia bilang, tidak. Apalagi masuk ke kelas sepatu harus dibuka dan ditaruh di rak.
Dua tahun sepatu berbeda nomor itu dipakainya, sampai ayahnya akhirnya pulang dari Malaysia dan membawakan oleh-oleh sepatu baru untuknya, yang nomornya tidak berbeda.

Hanya sepatu berbeda nomor, tapi untuk saya mengajarkan banyak hal. Jangan fokus pada kekurangan orang lain. Karena setiap orang pasti memiliki kekurangan. Fokus pada kelebihan mereka, maka kita akan bisa melihat potensi orang tersebut dan kita bisa mengarahkan ke arah yang lebih baik lagi.

Masakan Ibu yang Membosankan

Masakan Ibu yang membosankan

Apa Ibu akan marah kalau Attar bilang, Attar bosan makanan yang dimasak Ibu? Apa Ibu juga akan sedih kalau Attar bilang, Attar ingin makan siangnya dari catering langganan sekolah saja?
Attar berdiri di depan kamarnya. Di dekat kamarnya ada dapur di mana Ibu kelihatan sedang sibuk meracik bahan makanan.
“Mau bawa apa hari ini?”
Attar diam saja. Ia tidak berani bilang tapi langsung menuju kamar mandi. Di depan kamar mandi Attar bertemu Bilqis yang tersenyum padanya.
**
“Ibu tahu? Kakak bosan masakan Ibu.”
Attar yang sekarang sudah ke luar dari kamar mandi, menghentikan langkahnya. Bilqis sudah terlanjur cerita pada Ibu. Semalam memang Attar bilang pada Bilqis, kalau ia sudah bosan dengan bekal makanan yang dibawa dari rumah.
Attar ingin yang beda.
“Kakak tidak boleh langganan katering, Ibu?”
“Boleh. Ibu malah tidak repot pagi-pagi harus masak di dapur, kan?”
Mendengar kalimat itu diucapkan, Attar langsung berjalan dari kamar mandi menuju kamrnya sambil tersenyum.
“Boleh, Kak..,” ujar Bilqis.
**

Attar melompat kegirangan. Hore…, hari ini ia tidak perlu bawa bekal dari rumah. Hari ini Ibu bilang Attar bisa makan dari makanan katering yang sudah Ibu telepon. Katering itu sudah disediakan pihak sekolah, bagi anak-anak yang tidak membawa bekal.
Makanan Ibu bukannya tidak enak, tapi Attar bosan. Setiap pagi tas sekolahnya jadi bertambah penuh dengan bekal makanan dari Ibu. Belum lagi makanan itu kadang-kadang bukan makanan yang Attar pesan.
Ibu selalu membawakan sayur yang Attar tidak suka. Ibu juga memberikan potongan buah yang potongannya agak besar, padahal Ibu tahu Attar tidak suka buah.
Attar tersenyum ketika berangkat sekolah naik sepedanya.
Makanan katering yang sering dimakan teman-temannya kelihatan enak. Ada telur pedas, ada ikan yang diberi tepung. Ada ayam goreng juga.
Air liur Attar rasanya menetes ketika membayangkan makanan itu.
**
Ada dua puluh lima anak di kelas. Dan kebanyakan teman Attar di kelas, langganan katering. Cuma Attar dan Koko yang bawa makanan dari rumah. Koko bilang, jatah makanan di katering sedikit, dan Koko selalu merasa kurang.
Attar sudah tahu menu katering hari ini, karena sudah tertulis di kertas yang dibagikan setiap bulan pada murid-murid.
Hari ini ada ikan bakar dikasih sambal terus ada susu coklat ditambah lagi sayur bayam. Sayur itu nanti juga tidak akan Attar makan, karena kalau tidak habis Ibu tidak akan marah.
Sekarang sudah jam dua belas. Sebentar lagi istirahat dan makanan dari katering akan datang. Attar tersenyum sendiri.
**
Makanan dari katering hari ini datang terlambat. Tadi ada yang bilang motor orang yang bawa makanan katering, jatuh terpeleset di jalan.
Perut Attar sudah lapar sekarang. Di sampingnya ada Adin yang hari ini bawa bekal makanan dari rumah.
“Kamu tidak bawa bekal?”
Attar menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Hari ini Ibu sudah telepon katering, kata Ibu aku boleh langganan katering selama sebulan.”
Wajah Adin kelihatan kecewa.
“Kenapa?”
“Aku suka terung balado buatan Ibu kamu. Hari ini, Mama aku bawa ayam goreng renyah kesukaan kamu. Aku mau tuker dengan terung balado kamu.”
Perut Attar sudah keroncongan karena lapar.
“Makan sama-sama aku, yuk..”
Attar mengangguk. Nanti pulang sekolah, ia akan bilang sama Ibu untuk membatalkan langganan katering untuknya. Attar mau bawa makanan lagi dari rumah seperti biasanya.
**

Ibu dan Baju Cinderella

Ibu dan Baju Cinderella

Pink warnanya dengan bunga-bunga ungu juga merah. Bentuknya seperti gaun. Renata tertawa melihat Ibu berputar sambil tersenyum.
“Sepatu kacanya, Bu,” ujar Renata terkikik. Baju itu pernah Renata lihat. Sepertinya baju lama Ibu yang sudah tidak ingin Ibu pakai. Ibu bilang, malu Ibu memakainya karena Ibu sudah tua.
“Baju Cinderella…,” ujar Ayah sambil makan singkong rebus.
Ibu kembali berputar. Renata lihat Ayah menggelengkan kepalanya.
“Ibu mau jadi anak muda lagi,” begitu yang Ayah katakan.
Ibu terus berputar sambil bertanya. “Masih cocok, kan?” tanyanya pada Ayah.
Ayah mengangguk, bahkan menyalakan musik di radio. Dan Ibu berputar seperti saat Cinderella berdansa.
“Ibu punya rahasia?” tanya Renata mendekat pada Ayah.
“Mungkin…., Ibu sedang bermimpi jadi Cinderella,” ujar Ayah kali ini mulai meminum kopinya.
**
Baju Cinderella Ibu itu Renata pikirkan. Dan karena Renata tidak menemukan jawabannya, akhirnya ia ceritakan pada teman-temannya. Renata hanya ingin tahu, apakah ibu teman-temannya sama seperti Ibu?
“Hi hi, Ibu aku kalau di rumah suka ngomel,” ujar Diana sambil tersenyum. “Aku mau, dong, lihat Ibu kamu muter-muter berdansa seperti Cinderella.”
“Mami aku tidak suka baju panjang,” Lili menggeleng.
“Mami kamu jangan-jangan punya mimpi jadi artis,” kali ini Agustin yang bicara.
Renata mendengarkan semua kalimat teman-temannya. Ibu yang mengeluarkan koleksi baju di masa mudanya lalu bergaya seperti Cinderella, menurutnya adalah Ibu yang aneh.
Tapi baju berwarna pink dengan bunga ungu dan merah itu dipakai Ibu kembali, ketika Renata pulang sekolah. Ibu bahkan memakai bedak dan lipstik. Lalu Ibu berdiri di atas anak tangga paling atas. Persis seperti poster film Cinderella yang Renata lihat, ketika Cinderella kehilangan sepatu kacanya.
“Ibu mau apa?” tanya Renata pada Ibu ketika Ibu menyodorkan kamera telepon genggamnya pada Renata.
“Foto saja…,” ujar Ibu.
Renata mengikuti sambil geleng-geleng kepala. Ibu masih aneh juga.
**
Sudah dua minggu baju Cinderella sudah tidak Ibu pakai. Renata melihat baju itu sudah masuk di lemari. Renata senang, Ibu sudah tidak aneh lagi.
Tapi tadi ada seorang mengantar barang baru di rumah. Sebuah mesin jahit berwarna biru yang diletakkan di ruang keluarga.
“Punya siapa?” tanya Renata pada Ibu dan Ayah.
Ayah dan Ibu saling melempar senyum.
“Punya siapa?” Renata penasaran.
Ayah lalu membuka sebuah koran di hadapan Renata. Lalu menunjukkan pengumuman di koran itu.
Tertulis di sana, pemenang lomba foto untuk ibu-ibu yang berani bergaya seperti putri Cinderella. Ayah menunjuk satu foto Ibu yang menjadi juara pertama.
“Sudah lama Ibu ingin membelikan mesin jahit untuk Nenek. Tapi mesin jahit yang Nenek minta mahal harganya,” Ibu tersenyum. “Jadi satu-satunya cara adalah dengan menjadi Cinderella.”
Renata memeluk ibunya kuat-kuat. “Ah…, Ibu keren,” bisiknya dengan bangga.
**

Dalam Menulis Jangan Takut Pada Siapa-Siapa

Banyak yang ingin jadi penulis. Buanyak sekali. Saya temukan permintaan untuk mengajari menulis di sosial media sering membuat saya menggeleng untuk menolak. Sebab berdasarkan pengalaman, banyak yang hanya ingin ikut-ikutan saja untuk menulis. Sekali dua kali lalu bergugurlah dengan target yang saya berikan kepada mereka.

Banyak penulis yang lebih takut pada komentar orang lain. Karena biasanya komentar di sosial media memang lebih pedas daripada cabai. Padahal yang rajin memberi kritik di sosial media bukan kritikus, dan tidak juga menguasai satu jenis tulisan.

Naskah yang kita tulis sepenuh hati, pasti ada celahnya. Pasti tidak ada kurangnya. Sebab kita manusia, jadi khilap salah itu biasa.
Berlandaskan hal sepeti itu, maka kita siap sedia jika ada orang lain yang tidak suka dengan naskah kita. Karena masalahnya bisa jadi bukan terletak pada baik dan buruknya naskah kita. Seringnya karena perbedaan selera bacaan. Bisa juga bahkan merembet pada hal yang lebih pribadi.

Saya menulis sejak dulu, dan saya tidak mau takut pada siapa-siapa.
Kalau saya takut, mungkin langkah saya sudah terhenti jauh-jauh hari.
Menjadi penulis sejak dulu menguntungkan saya. Karena dulu saya berhadapan dengan orang yang tidak lazim dengan pekerjaan saya sebagai penulis. Jadi kalau sekarang hanya naskah yang dibantai tidak jadi masalah untuk saya.
Karena apa yang tulis bukan sesuatu yang dikarang-karang tapi berdasarkan hasil riset.

Penulis yang takut biasanya karena :
1. Naskah mereka tidak ada risetnya. Jadi data yang mereka dapatkan hanya berdasarkan khayalan belaka.
2. Naskah mereka bisa jadi meniru naskah orang lain, baik soal ide maupun soal nyawa tulisan.
3. Naskah mereka mengambil ide dari orang lain atau idenya sama dengan orang lain. Jadi tentu saja takut kalau ada yang mengenali naskah mereka itu.

Penulis tidak boleh takut pada komentar orang lain.
Takut saja pada yang Maha Memberi Ide, jika ide yang kita olah tidak baik, tidak benar, tidak mencerahkan, dan menulis apa saja sesuka hati kita tanpa batasan moral. Takut jika DIA mencabuat amanah ide dari kepala kita.

Biarkan Anak Belajar dari Nilai Ulangan yang Buruk

ulangan

Saya tidak menyimpan berkas ulangan saya yang nilainya jelek. Karena dulu tidak pernah terpikir manfaatnya.
Tapi setelah memiliki anak, saya baru merasakan manfaatnya menyimpan berkas ulangan bernilai buruk itu.
Untuk apa?
Untuk mengingatkan saya bahwa saya kalau agak tegang melihat nilai anak-anak.
Dengan begitu saya menjadi lebih kendor dan menyadari bahwa proses masihlah panjang jalannya.
Tapi untuk dua anak di rumah. Saya menyimpan nilai-nilai ulangan mereka. Dari yang jelek sampai yang bagus.Dari yang nilainya satu sampai yang nilainya sepuluh.

“Buat apa?” tanya anak-anak.
“Buat mengingatkan, kalau suatu hari kamu marah sama anak kamu karena nilainya jelek, kamu jadi cepat sadar.”
Semalam Bungsu resah. Nilai ulangan hariannya di bawah UKK.
Terlebih untuk Bahasa Indonesia.
Si Sulung langsung bicara,” Masa udah menghasilkan buku, ulangan Bahasa Indonesia-nya jelek.”
Nampaknya Bungsu tertekan.
Maka saya dan suami mengajaknya berkeliling cari susu segar kesukaannya. Biarkan dia memilih.

Setelah tenang di rumah saya bicara.
“Ulangan jelek akan ada remedial. Tidak masalah. Di kelas kamu 25 anak berjuang mencari nilai tertinggi. Kamu fokus cari celah yang lain dengan terus menulis.”
Dia diam.
“Nilai jelek bukan hasil akhir. Ini proses biar kamu merasa gagal.”
Sulung ikut mendengarkan.
Lalu bicara. “Lagian, yang bikin google aja gak lulus sekolah bisa punya google,” ujar Sulung.
Maklum Sulung agak santai. Memang saya sudah bilang sama gurunya kalau anak saya tidak bisa menguasai semuanya. Yang penting hapalan Al Qurannya harus jadi nomor satu.
Dan Sulung memang memenuhi itu.
Dan ternyata ketika saya tekankan untuk lebih menguasai hapalan, maka nilai-nilai beranjak naik dengan sendirinya.
“Ibu tahu, apakah kamu malas berusaha atau memang tidak bisa,” itu yang selalu saya bilang sama dia.

“Trus menurut Ibu kelebihan aku apa?” tanya Bungsu setelah menyeruput susu segar.
“Kamu baik. Itu kelebihan yang tidak dipunyai setiap anak.”
“Menurut Ibu begitu?”
Saya mengangguk.
Tanggal 17 kemarin, teman-teman SD datang ke rumah. Begitu dia buka pintu pagar, teman-temannya langsung berteriak dan memeluknya. “Aku kangen,” ujar teman-temannya bergantian memeluk.
“Tetap jadi baik dan terus berjuang.”
“Terus, Ibu pernah dapat nilai jelek?.”
Maka saya ceritakan panjang lebar perjalanan saya dengan nilai jelek juga nilai bagus. Dari yang takut pulang karena nilai jelek, bukan karena takut dimarahi tapi karena takut mengecewakan Bapak. Sampai yang biasa-biasa saja dapat nilai tertinggi.
“Ada Allah yang bisa merubah semuanya.”

Lalu sebelum tidur Bungsu bicara. “Ibu, bangunin aku tahajud nanti, ya.”
Saya mengangguk.
Dia terbangun untuk tahajud.
Lalu tidak seperti biasanya, sebelum berangkat sekolah, dia mengambil wudlu.
Kalau sudah begini, bukankah kegagalan akan jadi indah?
Mungkin perlu saya punya sudut untuk membingkai nilai-nilai ulangan yang jelek dan yang bagus, biar mereka paham. Hidup ini bisa naik bisa turun. Bisa di atas bisa di bawah.
Nikmati saja sambil bersyukur. Itu kata kuncinya.

Mencari Jodoh untuk Naskah Kita

Mencari jodoh itu bukan sesuatu yang mudah. Kalau pengalaman saya seperti itu. Jodoh, orang yang bisa membuat saya terus meningkat secara signifikan dalam segala aspek, harus dicari dengan matang dan keyakinan penuh bahwa saya pasti akan mendapatkannya.
Kalau dulu, saya cuma pingin seorang lelaki yang bisa menggambar. Dan lelaki itu harus bisa melakukan banyak hal seperti bapak saya. Sederhana memang keinginannya. Tapi ternyata sulit juga mendapatkannya.
Yang datang ternyata tidak dengan kriteria tersebut.

Eit…, saya mau ngomong apa, sih?
Yup, soal naskah dan soal jodoh naskah kita. Hampir miriplah dengan jodoh alias pasangan kita. Naskah kita jika ingin diterbitkan harus menemui tempat yang tepat.
Pasangan naskah adalah media cetak atau penerbit. Jika naskah diterbitkan maka sisi enaknya, kita akan mendapatkan honor, dan tulisan kita bisa dibaca banyak orang. Itu artinya manfaat tulisan kita tersebar tidak sekedar jadi penghuni komputer kita.
Setiap orang bebas melakukannya. Mengambil keputusan akan ke mana naskah itu berujung? Mau dicetak terbatas untuk diri sendiri, juga tidak masalah.

Kalau saya?
Kalau saya senang menulis. Senang tulisan saya bisa dibaca oleh orang lain. Kalau bisa dibaca sebanyak-banyaknya oleh orang lain. Karena apa? Karena akhirnya saya berjuang untuk meningkatkan kemampuan menulis saya. Tidak merasa puas hanya tulisan dipuji oleh satu dua orang saja.
Dulu, waktu baru belajar menulis, tulisan selalu saya berikan pada teman-teman yang tahu saya suka menulis. Mereka rata-rata memuji dan bilang bagus.
Iya baguslah. Wong mereka rata-rata tidak terlalu suka membaca seperti saya. Jadi tidak ada bahan perbandingannya.

Standar yang lebih tinggi saya dapatkan ketika naskah saya kirim ke media. Banyak sekali naskah ditolak. Itu artinya cuma satu buat saya. Saya harus menulis lebih baik dan lebih baik lagi.

Jodoh itu Tidak Mudah
Mencari jodoh untuk tulisan kita, entah itu di media atau penerbit buat saya bukan hal yang mudah. Iya kalau mudah tentu tulisan saya bisa setiap hari dimuat di media. Saya kan menulis setiap hari dan mengirim hampir setiap hari.
Kalau hari ini tidak mengirim, pasti besoknya saya bisa mengirim double tulisan saya ke media cetak.

Yang saya tahu jodoh itu harus diperjuangkan sekuat tenaga. Atas nama cinta. Kalau yang mengaku cinta. Kalau saya ukurannya adalah penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor.
Kenapa penerbit mayor dan media cetak yang memberikan honor? Karena saya masih yakin, naskah saya akan dicek oleh orang yang memang mampu di bidangnya. Semua sisi diperhatikan. Dan itu tentu membuat saya bahagia sebagai penulis.

Kalau ingin menjadi penulis yang naskahnya bisa cepat diterima, perjuangannya berat. Menulis setiap hari. Rajin ke toko buku dan menyisihkan dana bulanan untuk membeli buku. Jadi isi kepala penuh. Jadi kita juga bisa paham, mana tulisan yang belum pernah digarap oleh orang lain.
Nah, penerbit atau media suka dengan ide yang unik yang belum digarap oleh orang lain.
Untuk penulis yang sudah punya banyak tulisan, mungkin kriteria tidak terlalu sulit penulis yang baru mulai. Asal naskah tetap harus bagus dan dapat dipertanggungjawabkan.

Okelah semua tulisan ada jodohnya.
Dan kita terutama saya harus berjuang keras untuk mencarikan jodoh itu. Agar tulisan yang saya buat tersebar manfaatnya. Iya , dong. Karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk sesamanya.

Ada beberapa naskah saya yang ditolak oleh satu media cetak, malah jadi cerita utama di majalah lainnya.
Ada satu buku saya ditunda di satu penerbit, tapi akhirnya saya kirim ke penerbit lain dan berujung pada penghargaan sebagai buku terbaik versi IBF Award.
Ada buku saya yang ditolak dua penerbit dengan alasannya mereka belum punya tempat untuk menerbitkan buku tersebut, sampai saya hampir putus asa, lalu berjuang keras mencari penerbit lain. Ternyata mendapatkan tempat yang baik dan naskah digarap dengan sangat baik di penerbit tersebut.

Lalu apa yang harus dilakukan penulis dengan naskahnya?

1. Tulis yang terbaik. Kalau penulis yang sudah lama seperti saya, biasanya dapat order dari penerbit atau media. Dan tetap saya harus berjuang menulis yang terbaik.
2. Ke toko buku dong. Lihat dan bandingkan. Lihat buku-buku yang diterbitkan macam-macam penerbit. Dengan begitu kita bisa tahu, ide yang mana yang belum ada. Nah itu itu yang harus kita tulis.
3. Add fanpage penerbit atau twitternya. Biasanya penerbit besar sering membuat pengumuman menerima naskah. Nah cepatlah kirim ke penerbit tersebut. Pengalaman saya, ketika mengirim setelah pengumuman itu dibuat, naskah akan cepat di acc. Naskah novel anak karya saya pernah di acc dalam tempo dua hari setelah kirim. Buku saya yang akan terbit di acc seminggu setelah saya kirim.
4. Nah, kalau ingin seperti ini, tentu harus menulis setiap hari. Sehingga memiliki banyak tabungan naskah.
5. Kalau naskah ditolak, cari penerbit lagi. Ditolak lagi, cari lagi. Sampai akhirnya kita paham apakah naskah kita benar-benar layak terbit? Kalau naskha benar-benar layak terbit, yakinlah pasti akan ada saatnya naskah itu diterima oleh satu penerbit.

Full Day School, Orangtua yang Berani Memutuskan

At di Bandung

Full day school. Ngeri ya kedengarannya.
Sehari penuh di sekolah, di rumah tinggal capeknya. Anak-anak di sekolah, ibu bapaknya di tempat kerja. Ketika sampai di rumah sudah capeklah semuanya.

Wacana full day school mencuat belakangan ini, meski akhirnya peraturannya segera diganti karena banyaknya yang protes.
Banyak yang merasa harus mem full day kan anak, karena tidak sanggup mendidik mereka. Kata tidak sanggup itu, akhirnya membuat mereka pasrah dan menekan juga pada anak-anak. Pasrah dengan apa maunya sekolah dan peraturan dan menekan anak untuk jadi terbaik di semua bidang. Hayo, mana bisa kan terbaik di semua bidang?

Ada masa anak untuk bermain, maka penuhilah hak anak untuk itu.
Saya justru senang mengambil sesuatu yang berseberangan dengan orang lain. Ketika yang lain mem full day kan anak-anak di usia SD, saya siap dengan memasukkan mereka ke SD negeri yang biasa-biasa saja. Biasa-biasa saja artinya satu kelas dibagi di tiga shift. Kelas satu masuk jam tujuh pulang jam sembilan. Seringnya masuknya jadi jam setengah delapan dan pulang setengah sembilan.
Hayo?
Dapat apa di sekolah?
Saya yakin mereka dapat pertemanan yang beragam. Sisa waktu mereka adalah tanggung jawab saya sebagai orangtua. Saya ajarkan banyak hal.

Ketika hujan deras dan orangtua lain melarang anak bermain, saya malah mengajak mereka mandi hujan pakai jas hujan.
Pura-puranya pakai jas hujan biar enggak dianggap aneh oleh yang lain. Terus kami ke tempat yang masih ada sungai dan banyak kodok berbunyi. Kodok yang berbunyi itu biasanya akan membuat lehernya jadi menggelembung. Itu yang saya tunjukkan pada anak-anak.
Jas hujan tidak menutupi kami dari hujan tidak apa-apa. Wong intinya kami belajar sambil bermain. Anak bukan sekedar mendapat ilmu tapi merasakan cinta kasih saya.

Saya merasa, saya harus memberikan semuanya, termasuk kebahagiaan bermain pada anak-anak hingga mereka masuk usia remaja, alias lulus SMP.
Ada banyak yang tidak sepaham dengan saya. Menyekolahkan anak di sd negeri kampung dengan pengajaran ala kadarnya, akan membuat anak tidak pintar. Ahai, tidak penting apakah mereka pintar untuk saya. Yang penting mereka punya empati besar. Dan empati itu yang akan membuat mereka jadi manusia bermanfaat. Pintar di sekolah itu masalah angka. Dan itu mudah didapatkan.

Akhirnya Full Day School

Full day school adalah sebuah keputusan untuk saya. Keputusan panjang.
Karena apa? Usia anak-anak sudah semakin besar. Mereka selama ini sudah banyak belajar dari saya dan pasangan. Mereka sudah melihat kami utuh berjuang menjadi teladan. Sekarang saatnya untuk mengambil teladan orang lain, yang sepaham dengan kami.

Full day school dipilih harus dipertimbangkan. Banyak SMPIT di kota Bekasi, tapi saya jatuh hati dengan satu tempat. Kalau SMPIT lain lelaki dan perempuan masih dicampur. Sekolah ini dipisah antara lelaki dan perempuan. Dan pola pendidikan antara anak lelaki dan perempuan berbeda. Maka kaget saya waktu ke sana dan mendapati anak-anak perempuannya bicara dengan lembut.
Tidak ada telepon genggam. Semua orangtua murid terhubung dengan guru.
Sabtu ada ekstra kurikuler. Jam belajar jam tujuh pagi teng sampai jam empat dengan asyar berjamaan dan tausiyah. Ada hapalan Al Quran, ada jam khusus bahasa Inggris dan Arab.
Ada juga program mentoring. Jadi anak-anak pergi dengan satu guru untuk menjelajah suatu tempat.
Dan yang lebih penting lagi, selepas mereka dari SMPIT itu, mereka tetap dipantau dengan program mentoring sampai lulus SMA. Kalau orangtua menolak, maka harus tanda tangan surat di atas materai.
Untuk orangtuanya, ada pengajian rutin setiap minggu. Dan ada seminar parenting setiap tiga bulan sekali.

Sekolahnya masih ada PR. Kadang bertumpuk. Tapi PR untuk saya bukan masalah besar. Ayo kerjakan bersama-sama. Jadi mereka merasa tidak sendirian. Ibu harus memeras otak lagi, agar anak-anak tahu Ibu berjuang untuk bisa, dan mereka juga harus melakukannya.

Full day school buat saya adalah sebuah keputusan. Apalagi mereka sudah abege dan condong mendengarkan orang lain ketimbang orangtuanya. Lalu apa salahnya memilihkan tempat yang visi dan misinya sama dengan saya? Sehingga mereka ada di jalur yang tepat.
Kenapa tidak di pesantren?
Tidak. Karena saya ingin anak melangkah pelan tapi pasti.
Dari SD negeri fokus dari saya pelajaran empati, masuk ke SMPIT dengan standar seperti pesantren. Hingga tumbuh kesadaran anak, bahwa ia harus masuk ke mana.
Alhamdulillah, Sulung sudah memutuskan ia akan melanjutkan SMA nya di sebuah pesantren.
Saya dan suami juga belajar banyak setelah anak-anak di SMPIT. Karena kadang ketika pulang, anak membawa pelajaran tentang akhlak juga adab. Dan itu dilakukan.
“Kenapa makannya tidak pakai sendok?”
“Ini sunnah,” jawab Sulung sambil menjilati jarinya.
Lalu lain waktu.
“Adab harus diperhatikan,” ujarnya pada adiknya yang pakai rok pendek. “Berpakaian juga ada adabnya.”

Well, semua berproses.
Full day school buat saya cocok, buat orangtua lain belum tentu.
Jadi nikmati saja apa yang cocok untuk diri kita, bukan untuk orang lain.