Sebab Al Quran Bukan Tongkat Sulap, Nak

Magician wand

Al Quran. Ada getaran tersendiri setiap kali membukanya. Berbaris di kamar saya. Masing-masing kami punya dua. Untuk saya, satu untuk saya gunakan mengaji rutin mengejar target satu juz (Qiraah) setiap hari. Biasanya untuk ini, saya berjuang melakukannya setelah salat tahajud atau setelah salat Subuh. Satu untuk saya baca dengan memahami artinya (tilawah). Saya juga berjuang untuk melakukannya setiap hari. Satunya, saya gunakan telepon genggam dengan Al Quran versi android yang qorinya bisa bersuara hingga saya bisa memilih yang paling sreg di telinga. Yang itu khusus untuk menghafal dan mengulang hafalan Al Quran saya.
Anak-anak di rumah punya tiga. Satu untuk dibawa ke sekolah, satu untuk dibaca di rumah, dan satu dibawa ketika mereka berpergian.
Suami juga punya, hanya satu. Satunya menggunakan aplikasi HP untuk hafalan.

Ada getaran sendiri dan ikatan yang membuat Al Quran jadi begitu penting. Penting untuk saya karena semuanya saya pelajari secara perlahan tapi pasti. Dengan proses panjang.
Panjaaang. Dari mulai merasa bisa, karena sudah mengaji sejak kecil di madrasah. Lalu merasa bisa hanya dengan panduan membaca dan melihat yang tersaji di youtube dan radio.
Sampai akhirnya tersadar, bahwa ternyata saya belum bisa apa-apa.

“Ibu baca Al Quran pagi-pagi buat apa?” tanya Bungsu.
Saya mengangguk. “Ini benteng. Cara membuat waktu bisa Ibu kendalikan.”

Ada kewajiban di rumah untuk setiap hari membaca Al Quran. Ah, terkadang saya juga suka mengancam dengan dunia gelap di alam kubur, yang akan bisa diterangi dengan amal dan Al Quran yang kita baca.
Anak-anak bersekolah di sekolah semi pesantren, yang di rumah hanya numpang tidur. Karena guru juga terus mengontrol bahkan hingga akun ke sosial media.
Saya terjaga.
Tapi saya juga menyadari bahwa terkadang anak-anak butuh sesuatu bukan sekedar doktrin. Doktrin bahwa harus begini karena…, harus begitu karena….
Duh, anak saya adalah produk saya. Saya dulu tidak bisa langsung terima ketika orangtua berkata. Saya minta penjelasan agar saya lebih paham.

Al Quran Ajaib

“Ibu tahu. Teman-temanku yang sepuluh besar itu, hobinya pada main game.”
Deg, saya mencoba mencerna perkataannya.
“Yang penting hafalin Al Quran saja.”
Oooh, saya setuju itu. Dulu ketika saya bolos ngaji satu hari saja, lalu besoknya ulangan. Maka nilai ulangan saya sudah pasti jelek. Bukan karena pola pikir atau saya membentuk opini seperti itu. Tapi karena memang selalu itu terjadi.
Anak-anak juga tahu ketika mereka sakit, maka yang pertama saya lakukan adalah berzikir di dekat mereka, memberikan air putih yang saya bacakan doa untuk mereka. Lalu saya pijat-pijat tubuh mereka sambil saya bacakan asmaul husna. Alhamdulillah cara seperti itu membuat kami tidak menjadi langganan dokter. Cara itu saya dapatkan dari Bapak.

“Hafalan saja, Bu…”
Iya. Hafalan. Saya sering ajarkan pada anak-anak. Tentang sebuah pesantren yang hanya mengajarkan kecintaan pada Al Quran bukan kurikulum pelajaran sekolah. Tapi murid-muridnya bisa mendapat nilai tinggi ketika tes ikut ujian persamaan. Padahal hanya belajar tiga bulan.
Saya coba amati Sulung. IQ nya di atas rata-rata. Ia mudah menguasai sesuatu, dan cenderung mudah bosan. Sama seperti saya, suka kotak-katik. Mudah menguasai dengan cepat. Tapi mudah bosan. Hanya dunia menulis yang membuat saya tidak pernah bosan. Sulung juga seperti itu, hanya dunia bola yang membuatnya tidak pernah bosan.
Nilai pelajarannya?
Sulung selalu berada pada posisi anak-anak berprestasi dari SD sampai sekarang. Ketika pada rapor bayangan nilainya menurun, guru-gurunya saling bertanya, apa yang terjadi dengannya?

“Bu…, ada bola nanti malam,” katanya.
Iya cuma bola yang membuatnya bergairah. Ia akan merayu meski tidak pernah saya kabulkan untuk membeli tiket pertandingan bola. Duh, saya takut kalau-kalau salat-nya jadi terbengkalai, karena itu saya selalu menolak permintaannya untuk menonton bola. Ayahnya takut karena pernah berada pada satu pertandingan sepak bola dan terjadi kericuhan.
Maka televisi yang sengaja saya taruh di kamar atas, yang tidak dihuni hanya tempat saya menaruh setrikaan, seringnya menjadi tempatnya untuk menyendiri menonton bola. Kadang turun sambil berteriak. “Ibu…., goool. Ayo, Ayah, nonton bareng aku. Lihat, tuh. Arema kalah.”
Kadang-kadang dia merayu. “Buu, itu bepe kesukaan Ibu. Ada bepe main.”
Saya memang suka dengan Bambang Pamungkas. Alasannya dia tidak mudah emosi alias tenang. Setenang Ruud Gullit pemain bola kesukaan saya dulu, yang juga pernah membuat saya rela begadang.”
Kadang-kadang dia mengusir. “Ibuuu, jangan ke sini. Aku heran sama Ibu, kalau aku lagi nonton bola ada Ibu, pasti tim kesayanganku kalah. Kalau gak ada Ibu bisa menang.”

Biasanya dia juga merayu ke saya. “Bu, aku mau tahajud nanti malam.”
“Tahajud biar bisa nonton bola?” saya biasanya sudah bisa menebak.
“Ibu dulu begitu?”
Saya toh harus belajar jujur, bahwa saya juga pernah muda dan pernah melakukan hal yang sama. Sehingga anak akan tahu kalau ibunya tidak sempurna. Dan mereka merasa punya orang yang bisa dipercaya karena sama-sama pernah melakukan hal yang sama (Teori komunikasi bilang ini adalah field of experienced).
Saya mengangguk. “Tapi sekarang sayang. Sayang kalau tahajud Ibu diganti cuma sama nonton bola.”
“Terang aja, Ibu kan udah tua.”

Bukan Tongkat Sulap

Sulung sekarang kelas 9. Sebentar lagi dia tes masuk pesantren. Setiap pulang sekolah dia akan mencari video qori kesukaannya. Sungguh, saya juga tahu nama-nama qori dari Sulung. Saya juga jadi tahu lagu yang dinyanyikan qori. Dulu saya pernah belajar selama tiga tahun menjadi qiraah dari seorang qori yang menang di Medinah. Tapi ternyata saya menyadari kelemahan saya. Suara saya tidak merdu. Untunglah tidak merdu, mungkin kalau suara saya merdu, saya disibukkan dengan memamerkan suara saya di sana-sini.

Saya lebih banyak di rumah. Jarang bersentuhan dengan televisi. Seringnya bersentuhan dengan komputer. Tapi ketika anak-anak pulang, komputer juga sudah saya tutup. Karena saya ingin fokus dengan mereka. Kalaupun ada murid-murid yang datang ke rumah, itu juga pada saat Jumat dan Sabtu sore, di saat anak-anak juga luang. Dan mereka paham itu juga menerima, termasuk tidak akan meminta kue yang saya sediakan untuk anak-anak yang datang. Termasuk jika ada satu kue tersisa, mereka akan relakan untuk yang datang.
Artinya apa? Artinya saya tahu apa yang mereka lakukan.

Semalam saya lihat aktivitas Sulung. Besok UAS. Dia menyetel Al Kahfi qori kesukaannya Hasballah.
Sudah, dia sudah membaca Al Quran. Hari Minggu kemarin dia tidur lagi setelah salat Subuh. Tapi sesudah maghrib dia kembali tiduran di atas tempat tidur saya.
Saya tahu ada yang salah. Mukjizat Al Quran rasanya sudah dianggap seperti tongkat sulap olehnya. Bahwa dia tidak perlu belajar tapi dengarkan saja Al Quran.

“Kamu tahu…,” ujar saya di sebelahnya. “Kenapa santri-santri yang hafal Quran nilainya tinggi?”
Dia masih diam.
“Karena Al Quran menguasai otaknya. Bukan sedikit dari otaknya.”
Dia masih diam.
“Kamu tahu, kenapa Ibu terus belajar, ngaji di sana ngaji di sini? Karena Ibu merasa bodoh. Kalau Ibu merasa pintar, maka setan akan masuk dari banyak pintu. Setan akan merasa berhasil kalau membuat orang yang suka belajar, jadi berhenti belajar.”
Badannya mulai bergerak. Mungkin tidak nyaman.
“Kamu tahu, kenapa ayat pertama itu Iqra?”
Tahu, Bu. Bacalah, bacalah. Makanya Ibu suka bacakan? Iya, aku tahu Ibu memang pintar.”

Dia mulai tidak nyaman. Ada jawaban itu artinya mulai terbuka pintu komunikasi.
“Al Quran menguasai seluruh kepala. Itu artinya tidak ada yang lain yang menguasai. Kalaupun ada maka porsinya itu kecil. Kalau kamu? Bola menguasai.”
“Ibu tahu. Karena bola temanku jadi banyak. Teman, Bu. Yang bikin aku bisa tukar pikiran, yang bikin aku bisa ke mana-mana.”
“Ibu ngerti,” saya mengangguk. “Ibu enggak melarang kamu berteman. Tapi tolong lakukan bakti pada orangtua. Dengan cara apa? Sebagai pelajar, jadilah pelajar yang baik. Saatnya belajar, belajarlah. Tidak mungkin berhasil kalau tanpa belajar, hanya setel Al Quran terus menganggap Al Quran seperti tongkat ajaib. Enggak akan bisa.”
Hening.
Pas kebetulan suami sedang menyetel radio dengan ceramah tentang bakti anak. Sulung mendengarkan. Ini bukan kesengajaan. Radio itu menyala sepanjang suami di depan komputernya. Dan pas selesai saya menasehati, seorang ustadz memberikan materi tentang hal itu.
Si anak berdiri.
Ke kamar atas.
“Jangan dikecilin tivinya, ya. Belajar, ya, belajar.”
“Kok Ibu tahu, sih? Iiih, kenapa Ibu selalu tahu?” ujarnya naik ke kamar atas.

Ah, paling tidak saya si anak sudah paham apa yang saya inginkan dan saya bisa meluruskan pemahamannya tentang Al Quran.
Paginya, setelah saya libur bikin roti untuk pagi ini. Karena saya mulai bosan seminggu penuh membuat roti sendiri. Maka saya belikan roti isi untuknya. Ada dua susu coklat saya buatkan untuk keduanya.
Ibu rasanya harus mulai lagi.
Kami duduk melingkar. Saya, suami dan anak-anak.
“Jadi…, Al Quran bukan jimat. Sebab ada yang tidak mau menghafal, minta orang yang dianggap pintar nulis ayat Quran. Ditaruh di dompet, di kalung, dijadikan jimat.”
“Iya, aku tahu itu.” Kata Bungsu. “Kok bisa gitu, ya, Bu?”
“Karena banyak yang punya Quran tapi tidak mau mempelajari. Ada juga yang sudah bisa tapi tidak mau ngajak orang lain untuk bisa.”
Bungsu manggut-manggut.
Saya memandang Sulung. Sudah santai pikirannya. Semalam minta dibangunkan tahajud, ternyata saya dibuat khilaf dan baru terbangun juga pas Subuh.
“Boleh berteman dengan siapa saja,” ujar saya. Saya lihat dia mengambil dua potongan roti isi coklat. “Ibu tidak larang. Tapi ingat, teman kamu dan kamu punya kemampuan beda dan mimpi berbeda. Ada teman yang dibiarkan sama ibunya fokus di bola saja. Karena ibunya sendiri cerita, bingung enggak tahu mau gimana? Mau ngarahin seperti apa? Si anak tidak mau belajar, tidak mau apa-apa. Anaknya mau ke bola karena enak enggak usah mikir.”
Hening. Mungkin bosan.
“Kamu punya potensi. Kamu punya orangtua yang bisa mengarahkan. Muslim itu harus pintar biar tidak dipintari orang lain.”
Dia berdiri. “Aku tahu.” Masuk kamar saya dan mengulang pelajarannya lagi.

Ooh pembicaraan panjang lebar. Tapi saya puas.
Ada ruang diskusi terbuka. Ada ruang pengaruh yang masih bisa saya kuasai, hingga otaknya terbuka dan wawasannya bisa bertambah.
“Ingat menjadi terbaik dan jujur,” ujar saya ketika dia mencium tangan saya dan pergi dengan adiknya diantar oleh ayahnya.

Al Quran. Alangkah indahnya jika kita mencintainya dengan cara tidak hanya memandanginya. Tidak hanya puas dengan belajar sendiri tapi mencari guru. Karena ada ayat-ayat yang turun dalam kondisi tertentu yang harus dibantu penerjemahannya oleh ahlinya yang memang belajar untuk itu.

Kepingan Coklat dari Hati

kue-4

Bukankah muslim yang baik harus selalu belajar?
Seiris coklat.
Segelas coklat.
Semangat yang selalu tak boleh padam.

Ibu-ibu pengajian dan makanan yang tersaji dari olahan dapur dihabiskan adalah sesuatu yang mengharukan.
“Ibu mau buat yang ini,” Ibu menunjuk satu gambar.
“Goodtime. Ibu bisa?” Anak Bungsu memandang tak percaya.
Ibu mengangguk yakin.

Sederhana saja bahannya, begitu yang dikatakan tetangga.
Campur semua bahan dari terigu, mentega, gula, coklat, maizena, susu bubuk, baking powder juga kuning telur.
Tapi takarannya.

Kembali memandangi angka pada timbangan.
240 gram tepung terigu. Beli saja yang setengah kilo lalu bagi dua.
200 gram margarin. Mentega merk apa saja. Yang murah yang mahal fungsinya sama. Gunakan semua.
120 gram gula halus. Ah gula biasa pun bisa. Lima, enam sendok saja.
Pisahkan putih telur dan kuningnya. Gunakan dua kuning telur.
Susu buku sachetan putih merk D.
2 sendok makan maizena.
2 sendok makan coklat bubuk, jika kurang coklat tambahkan saja lagi,
Baking powder seujung gagang sendok.
Vanili satu sachet.

Kocok, kocok mentega dan gula hingga tercampur rata. Masukkan terigu, kuning telur, vanili, susu buku, maizena terakhir coklat.
Pastikan semuanya tercampur.
Rasakan. Sedikit saja apakah sudah pas rasanya dengan keinginan lidah kita?

Siapkan oven. Nyalakan api kecil saja.
Siapkan loyang olesi dengan mentega.
Bentuk bulatan kecil saja. Gepengkan bulatan itu. Tidak terlalu tipis, jangan terlalu tebal. Gepengkan dengan pangkal garpu hingga terlihat garis melintang.
Beri taburan chococip jika ada, jika tidak ada seadanya saja.
Ada tiga tingkat dalam oven.
Tingkat paling atas, tengah dan bawah. Harus hati-hati jika memanggang di bagian bawah, jangan sampai menjadi gosong, karena dekat dengan api.
Lima menit saja lalu pindahkan ke bagian tengah atau atas.

Akan ada aroma kue.
Hangat masih terasa empuk. Biarkan panasnya pergi. Lalu biskuit itu berubah menjadi mengeras.
Nikmati dengan secangkir kopi atau teh hangat.

Seiris Roti Manis Coklat Keju

kue-5

Pagi itu seperti biasanya dua remaja mengeluh. Ada bayangan kecewa di wajah keduanya, ketika pulang dari tukang sayur, di tas belanja Ibu tidak ada kue pesanan mereka.
Kue-kue di pagi hari akan menambah belanjaan Ibu bisa sampai 15 ribu.
Kue dan kue pengganjal perut. Nasi uduk atau yang lainnya.

“Harus selalu bersyukur,” ujar saya pada kedunya.
“Ibu mau buat apa?” tanya mereka.
Terigu, mentega, ragi, coklat, keju. Ibu bongkar semuanya.
Timbangan berwarna merah, yang Ibu beli hari itu juga, setelah mempelajari resep roti di sebuah web.

“Mudah, mudah dan mudah,” begitu yang dibilang teman pengajian. Anaknya empat. Katanya di rumah selalu ada persediaan terigu dan mentega. Katanya mengolah bahan sendiri adalah salah satu cara pengiritan yang paling efektif.

Bahan sederhana dengan banyak angka.
Duh, bersentuhan dengan angka membuat kepala pusing. Suami paham saya tidak teliti dengan angka. Berapa pun uang yang ia berikan, saya tidak akan bertanya banyak. Jika kurang saya berjuang untuk mencari tambahan. Jika lebih, saya berjuang untuk memasukkan ke tabungan anak-anak.

Taizhong itu kunci utama pembuat roti.
Bahannya hanya terigu yang dicampur air pelan tapi pasti, diaduk di atas kompor.
Untuk terigu 50- gram dibutuhkan air 250 ml.
Bahan itu akan dicampur ke dalam terigu ukuran 540 gram dicampur garam, gula, fermipan, susu bubuk yang dicairkan juga mentega cair.

Ada banyak jalan menuju Roma.
Ada banyak jalan menuju apa yang saya inginkan. Bukan sebuah toko roti. Tapi dua perut remaja dan satu perut suami yang akan terisi makanan yang saya asupkan doa di setiap racikannya, dengan bahan yang saya ketahui betul tingkat kehalalannya.

Semua bahan sudah dipersiapkan. Ditimbang. Ikuti aturan resep. Belajar mengakrabi angka.
Taizhong alias biang roti.
Awalnya saya mencoba memahami 50 gram terigu dengan 250 ml air.
Akhirnya saya pahami bahwa 50 gram terigu bisa ditakar dengan seggenggam terigu dan segelas air.
Kedua bahan dicampur di atas kompor.
Terigu dan sedikit air, diaduk di api kecil. Kecil saja. Tambahi air sedikit demi sedikit. Karena langsung segelas air, hanya akan membuat terigu menggumpal.
Terus aduk hingga menjadi seperti lem.
Encerkan 50 gram mentega.
Tapi suami suka dengan kue banyak mentega. Maka 50 gram akhirnya berubah menjadi separuh mentega isi 200 gram.

Sebuah wadah lain.
Terigu 540 gram ditambahi gula 86 gram. Angka-angka itu mengusik konsentrasi.
Terigu 500 gram terlalu banyak. Gunakan sepatuh lebih sedikit.
Tambahi gula tiga sendok. Tambahi sedikit garam. Aduk dengan sendok.
Campurkan taizong. Putar mikser menggunakan putaran berbentuk spiral. Bercampurlah semua bahan.
Gunakan ragi pengembang satu sendok teh saja.
Satu sachet vanila.
Satu sachet susu putih merek D.
Lupakan telur, lupakan. Tidak perlu menggunakannya.
Aduk terus.
Tambahi mentega cair.
Terus putar.
Hentikan dan perhatikan bahan di dalamnya. Sudahkan tercampur sempurna. Lalu gunakan tangan untuk membuatnya tercampur sempurna.
Ambil wadah yang sudah diolesi minyak sayur. Sedikit saja. Adonan itu sekali lagi diuleni dengan tangan.
Letakkan di wadah dengan minyak sayur. Diamkan minimal 30 menit.
Dia akan mengembang, membesar dan empuk.

Ah api harus dinyalakan.
Tidak perlu api besar. Siapkan oven. Panaskan.

Adonan yang sudah membesar itu, ambil beberapa bagian, lalu tipiskan.
Isi parutan keju dan taburan coklat.
Lalu gulung. Tempatkan dalam wadah yang kecil saja berbentuk bujur sangkar.
Biarkan pas dengan wadahnya.
Lalu olesi atasnya dengan kocokan telur. Jangan katakan tidak ada kuas. Sebab akal sehat bisa mengantar kita menggunakan sendok dioleskan sedikit demi sedikit.
Atas nama oven yang sudah menyala, biarkan adonan itu masuk ke dalamnya.
Jangan pergi. Karena lalai sering hinggap jika berjauhan.
Tunggu 15 menit.
Lihatlah perubahan bagian atasnya.
Pindahkan ke bagian tengah atau atas.
Setelah cukup bagian atasnya berwarna coklat, ambil.

Resapi harumnya, harum mentega dan terigu yang tercampur. Meski tidak seharum roti dengan aroma menyengat yang tidak pernah diketahui kehalalannya.
Iris pelan penuh perasaan.

Ah, pagi itu tidak seperti biasanya.
Sudah ada tiga pagi.
Bola mata mereka melebar sempurna.
“Ibuu, rotinya enak.”

Belajar Empati Lewat Cerita Anak

img-20160628-wa0000

Empati?
Apa itu empati?
Dulu saya tahunya, sih, hanya simpati. Kalau ada orang jatuh, kasihan. Sudah begitu saja. Kalau ada orang kehilangan, kasihan. Sudah berlalu saja. Kalau ada orang kelihatan menangis di depan kita, sudah biarkan saja.
Itu simpati namanya. Tumbuh rasa kasihan. Tapi tidak bergerak dari rasa itu.

Empati jelas berbeda dengan simpati.
Empati lebih masuk ke dalam hati. Empati itu memosisikan diri kita sama seperti orang lain. Ketika kita melihat ada orang yang jatuh dan berdarah, kita merasakan rasa sakit yang sama. Dan rasa itu membuat kita bergerak untuk akhirnya mendekati orang tersebut, untuk memberi pertolongan.
Ketika ada orang menangis, kita merasakan sakit yang sama. Dan akhirnya rasa itu membuat kita duduk di dekatnya, dengan keinginan untuk menghibur dirinya.

Ada banyak pelajaran empati.
Empati akan mengasah banyak hal, termasuk bagaimana cara berkomunikasi yang baik.
Untuk anak-anak, proses pengajaran yang paling efektif adalah dengan teladan. Orangtua langsung memberi contoh. Tentunya diperlukan orangtua yang sadar akan hal itu.

Jika orangtua tidak paham apa yang harus dilakukan?
Bacakan buku cerita dan pilih buku yang bisa mengajarkan anak untuk sedikit demi sedikit paham akan hal itu.
Ada banyak buku tentang itu, salah satunya adalah buku ini.

Ada 15 cerita dalam buku Permen (Pendidikan Empati dan Motivasi untuk Anak). Ke 15 cerita itu adalah cerita keseharian yang dialami oleh anak-anak.
Mulai dari cerita anak yang diajarkan empati pada ibunya yang berjualan. Dan jualannya itu tidak laku. Sampai pada satu titik, justru ketika si Ibu yakin rezeki adanya di tangan Allah dan anak sudah putus asa, justru pada saat itu seseorang memanggil untuk memborong kue-kue tersebut (halaman 11).

Ada juga cerita tentang Rena dalam “Sepatu dari Meri” (halaman 37). Rena kebingungan mendapatkan sepatu bagus dari Meri, tapi sepatu itu ternyata ukuran nomornya berbeda kiri dan kanan.

Ada juga tentang Bee yang bingung dalam “Ide Boros Ayah”. Kenapa si Ayah suka sekali jajan. Setiap tukang jajanan lewat pasti dipanggil Ayah untuk dibeli (halaman 48.

Lalu apa yang membuat cerita di dalamnya bisa mengasah empati?
Ada pelajaran untuk tidak langsung menuduh dalam 15 cerita yang ada. Semua harus berproses belajar, meski dalam belajar itu pada akhirnya akan muncul rasa tidak sabar.
Tidak boleh menuduh, tapi coba dekati orang yang dicurigai itu. Siapa tahu dia tidak bermaksud seperti itu.

Contoh dalam kisah “Sepatu dari Meri.” Rena tahu kalau sepatu itu besar sebelah, tadi dia tidak mau bertanya langsung pada Meri, karena tidak enak hati. Jadi Rena menyimpan saja sepatu itu. Meski ada rasa sedikit kecewa di dalam hatinya.
Tapi akhirnya justru Meri bicara. Kalau sepatu itu sepatu kesayangannya. Dan sepatu itu Meri beli dan tidak dipakai, karena Meri salah mengambil sepatu dengan nomor yang berbeda.

Dalam ilmu komunikasi ada standar baku.
Bahwa salah satu tanda komunikasi berhasil adalah, ketika pesan yang disampaikan oleh komunikator (pelempar pesan) diterima dengan baik oleh komunikan (si penerima pesan).
Pesan-pesan sederhana untuk mengajarkan cara berempati yang baik di dalam buku ini, ditulis juga dengan sederhana. Dengan harapan adik-adik yang membacanya akan menjadi mudah terbentuk empatinya, meskipun mereka membaca buku itu sendiri tanpa didampingi orangtua.

Segenggam Dunia untuk Nenek

img-20160510-wa0005

“Senajan aku ki ora tau sekolah tapi kowe kudu sekolah sing dhuwur yo, Ngger, ben pinter dadi Presiden.”

***

Aku tahu arti sebuah kenangan. Kenangan yang melekat menjadi pelecut untuk prestasi lebih tinggi lagi. Kalimat Nenek itu terus melekat di benakku.
Jepang di musim dingin membuat aku harus sering-sering merapatkan jaket. Kabut dan hujan rintik-rintik sering menemaniku.

Aku di sini untuk presentasi paper penelitian di Osaka. Ada amanah juga yang harus aku jalani sebagai Session Chair dalam konferensi tersebut. Osaka 1st International Conference on Bussiness Economics Social Science and Humanities BESSH 2016. Sebuah paper dengan judul Peer Assisted Learning Program: How does It Contribute to Build Positive Learning Environment for Language Learners? akan aku jabarkan di depan para tamu undangan yang hadir.
Sebuah meeting room dengan banyak meja dan kursi. Akan ada banyak tamu dari berbagai negara. Ini pengalaman kesekian kalinya aku menjelajah negara lain dalam rangka presentasi ilmiah.
Tidak akan ada soto ayam kesukaanku dengan aroma khas bumbu rempah. Tidak ada wajah penuh senyum yang dihiasi keriput yang akan memandangi wajahku sambil bertanya, “Tambah lagi, ya, Le .…”
Aku menarik napas panjang.
Bayangan wajah almarhumah Nenek berkelebat di langit Osaka yang mulai gelap.

**

Panggil aku Iqwan atau Iwan saja. Anak pertama dari dua bersaudara yang sejak kecil dalam pengasuhan Nenek juga Kakek. Ayah harus ke Semarang untuk bekerja. Ibu dan satu adikku ikut ke sana. Lahirku di Ponorogo, 8 Mei 1994.
Pernah aku hanya punya mimpi untuk terus berada di samping Nenek. Merasakan aroma tubuh Nenek dan merasakan kehangatan pelukan Nenek. Pernah aku takut untuk bermimpi setinggi-tingginya. Sebab aku takut kehilangan. Aku takut perpisahan. Perpisahan dengan Bapak dan Ibu juga adikku selama lima tahun sudah cukup meninggalkan jejak ketakutan untuk diriku.

“Cita-citamu ingin jadi apa?” tanya Nenek.
Aku memandangi Nenek. “Nenek mau jadi apa?”
Nenek tertawa. Memandang satu gambar yang tergantung di dinding rumah. Gambar Kakbah. Lalu tangan Nenek menggenggam tanganku. Aku tahu apa yang Nenek inginkan. Aku mengerti Nenek ingin sekali bisa merasakan pergi haji bersama.
“Kita nanti pergi bersama, Nek …,” ujarku memeluknya.

***

Ketika namaku diumumkan, aku tahu wajah siapa yang berkelebat di benakku. Nenek dan wajah-wajah orang yang mencintaiku.
Best presenter dalam Global Youth Enterpreneurship Summit 2015.
Jantungku berdebar kencang. Global Youth Enterpreneurship Summit (GYES) yang diadakan oleh National University of Singapore Enterpreneur Society membuatku terbayang suatu masa. Sebuah masa ketika aku belajar berani untuk menghimpun mimpiku.

Mimpiku sederhana seperti anak-anak yang lain. Ponorogo yang tenang menghadirkan ketenangan juga di dalam pikiranku. Bermain di sawah, sungai, dan tanah lapang adalah keseharianku.
Semakin besar aku semakin tahu bahwa aku harus punya mimpi. Aku mulai membandingkan mimpiku dengan mimpi teman-teman yang lain. Mereka selalu berkata bahwa mimpi mereka adalah kuliah di kota pelajar Yogyakarta, di sebuah universitas terkenal. Aku ikut terpengaruh mereka dan menggenggam satu mimpi saja. Kuliah di kampus negeri yang cukup terkenal.
“Jangan lupa sholat,” pesan Bapak dan Ibu padaku.

Nenek juga memelukku. Mengelus-elus punggungku. Aku lihat matanya berkaca-kaca. Bertahun-tahun tinggal bersama, di bawah atap yang sama, membuat aku juga sedih dengan perpisahan ini.
Namun, aku harus memulai mimpiku. Aku dipenuhi semangat dan keyakinan bisa lolos tes perguruan tinggi yang aku inginkan. Rupanya Yang Kuasa berkehendak lain. Aku gagal. Rasanya ingin kembali ke pangkuan Nenek dan menyerah saat itu juga.
Paklik Kustomo bicara padaku. Tentang banyak hal. Termasuk banyak kesempatan di tempat lain.
Aku menggeleng, tidak semangat lagi. Ketika Paklik mengajakku melihat kampus Universitas Ahmad Dahlan semangat itu tetap tak tumbuh.

“Kamu mau kuliah di sini?”
Aku tidak bereaksi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa tidak memiliki masa depan. Akhirnya aku serahkan semuanya pada Paklik. Beliau mengisi formulirku bahkan memilihkan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris untukku. Sejujurnya yang ada di benakku adalah jurusan Hubungan Internasional.
Pada suatu sore, aku dan Paklik duduk di teras depan rumahnya. Paklik bicara pelan setelah meneguk segelas kopi.

“Wan …, kalau kamu tidak bisa diterima di universitas yang terkenal, buatlah universitas yang menerimamu terkenal karena kamu.”
Kalimat itu membuat aku tersentak. Membuat universtas terkenal karena aku? Mataku memandangi jalan di depan rumah Paklik. Pikiranku justru bercabang memikirkan Nenek.
Hidupku memang mengalir. Aku kuliah, lalu ditakdirkan masuk ke komunitas debat. Kami biasa menyebutnya Debating Community. Di sana aku bertemu sosok Mas Berli. Dia orang yang pandai memberi motivasi. Pandai menjabarkan tahun-tahun ke depan yang bisa aku isi dengan prestasi dari kemampuan berdebat.
Aku pernah merasakan menjadi grandfinalist dalam National University Debating Championship kopertis wilayah 5 dan semifinalist di event yang sama di tingkat nasional.

***

Osaka di musim dingin membuat aku jadi kangen soto buatan Nenek. Negeri dingin lainnya pernah juga aku singgahi. Hongaria. Aku juga pernah ke Budapest.
Ada banyak kesedihan setiap kali mengenang almarhumah Nenek. Namun aku tahu, takdir sedih akan berdampingan dengan takdir senang.

Takdir senangku pernah jadi presenter untuk memberikan presentasi ilmiah di International conference on education teaching and learning di Linton University College Malaysia. Pada saat itu lembaga Global Research and Development Services mengadakan International Conference on Education Teaching and Learning.
Aku tahu jalanku masih panjang. Sepanjang kenanganku akan almarhumah Nenek.
Kabut di Osaka mulai turun. Aku tahu arah yang akan aku tuju.

Mengajari Anak Berdoa tanpa Perantara

bersama-ibu

“Ibu tidak bisa apa-apa. Kalian yang harus berjuang dengan berdoa.” Kalimat itu biasa saya katakan pada anak-anak, jika mereka berharap total pada saya.
Tidak.
Orangtua bukanlah makhluk sempurna. Bisa diandalkan tapi tidak bisa memenuhi semuanya. Pada saat itu anak harus paham, bahwa orangtua tetaplah manusia biasa. Yang harus mereka andalkan adalah yang menciptakan mereka.

“Berdoa minta apa, Bu?”
Berdoa minta apa saja, itu yang selalu saya katakan pada anak-anak. Iya, minta apa saja dengan penuh keyakinan, bahwa permintaan akan dikabulkan. Karena Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Karena ada waktu di mana doa mudah diijabah. Karena doa yang diucapkan pada hati yang dipenuhi harap dan cinta, akan mudah terkabul.
Itulah kenapa doa Nabi Muhammad untuk Umar selama enam tahun, dikabulkan. Umar yang dianggap tidak mungkin berpindah keyakinan, berubah menjadi panglima yang setia mendampingi.
Itulah kenapa doa orangtua pada anaknya mudah untuk dikabulkan, karena orangtua punya banyak cinta untuk anaknya. Begitupun sebaliknya.

Ada waktu doa mudah untuk dikabulkan.
Pada saat sujud terakhir, antara hujan dan iqomah, juga pada saat hujan turun.
Ada cara agar doa dikabulkan. Seperti nasehat Rasul pada pamannya Sa’ad yang doanya selalu Allah kabulkan. Jaga apa yang kita makan. Haruslah makanan kita adalah makanan yang dihasilkan dengan cara yang baik, dan tidak menzalimi orang lain.

Jadi ingat zaman dulu, ketika masa abege. Saya pernah berdoa. Berdoa minta apa saja.
Minta agar Bapak tidak marah jika saya pulang dengan ulangan yang buruk. Doa agar guru ngaji saya terlambat, biar saya bisa main dulu, dan doa agar seseorang yang saya taksir juga punya perasaan yang sama.

Ada banyak doa yang dikabulkan dan ada banyak yang juga tidak.
Doa yang selalu saya ucapkan berulang-ulang dengan perasaan terzalimi terasa sampai sekarang.
Dulu tubuh saya gemuk, dan entah kenapa kok selalu ada mulut iseng yang mengatai macam-macam, padahal saya tidak melakukan hal yang saja. Maka saya berdoa. “Ya Allah, tolong buat saya kurus dan tidak pernah gendut lagi.”
Alhasil sampai sekarang, tubuh saya sulit untuk menjadi gemuk. Banyak makan sedikit, pasti perut saya akan protes dan saya akan mudah bab berkali-kali.

Tidak Perlu Perantara

Ada orang yang disucikan yang selalu dimintai doa. Ada ziarah kubur, yang harusnya membuat kita sadar bahwa hidup di dunia tidak selamanya, tapi malah dipakai untuk meminta doa dan keberkahan pada yang sudah meninggal. Ada dukun-dukun yang dimintai doa yang datang padanya.

Saya hanya belajar dari yang Bapak ajarkan.
Berdoa hanya pada Allah, tidak perlu pakai perantara. Bersihkan dulu sebersih-bersihnya.
Maka saya berdoa apa saja hingga kini.
Saya berdoa agar utang-utang kami lunas tidak menyisakan jejak, ketika suami ditipu dan usaha bangkrut menyisakan utang dan sulit makan sehari-hari.
Saya berdoa minta uang pada Allah. Tentunya saya terus bekerja. Ternyata rezeki mengalir dari mana saja. Tawaran jadi editor bahkan kemenangan di berbagai lomba menulis, membuat hutang itu lunas tak tersisa.

“Ibu…, aku mau bangun tahajud dan berdoa.”
Saya mengangguk. “Memang harus kamu yang berdoa. Sebab doa anak yang sholeh akan tembus ke langit.”
Maka di rumah, anak-anak sudah terbiasa.
Ketika ingin nilai ulangan bagus, selain belajar mereka juga bangun tengah malam untuk tahajud. Bahkan ditambah dengan puasa sunnah.
Ketika mendapat masalah, saya lihat mereka berlama-lama di atas sajadahnya.
“Jangan pernah mendoakan orang lain dengan doa yang buruk. Doakan yang terbaik untuk mereka.”
Anak-anak paham.

Saya sendiri bahagia.
Doa mereka tembus ke langit, diterima atau tidak, dikabulkan sekarang atau nanti, adalah proses untuk mereka belajar berharap dan bergantung hanya pada Allah.
Kelak mereka akan berada pada satu zaman yang sulit, yang harus melangkah sendiri karena sebuah keyakinan, tapi mereka tetap tangguh. Karena mereka yakin, ada Allah yang selalu bersama mereka.

Kenapa Penulis Harus Mau Jadi Marketing Bukunya?

buku-2016

“Nulis buku itu susah, Mbak. Kenapa harus pakai belajar jualan buku lagi?”
Hiks, benar. Itu perkataan yang benar. Dulu saya juga berpikir seperti itu. Nulis buku itu susah. Susahnya setengah mati, apalagi kalau menulis tidak ingin menulis asal saja, dan berjuang dengan riset. Maka setelah buku selesai ditulis, lalu penerbit mau menerima, rasanya plong yang ada di hati.
Lega. Iya, lega selega-seleganya.
Kita berharap, sih, sama seperti penulis di luar negeri yang jadi rujukan kita. Bisa plesiran ke mana saja, setelah bukunya selesai dicetak.
Kita mulai membandingkan kenikmatan, tapi tidak berjuang menuju satu titik kualitas yang sama.

Dulu Bukan Sekarang

Dulu, pada zaman kita belum diserbu tekhnologi, dan ketika tidak semua orang paham dunia menulis, menulis adalah sebuah bentuk ekspresi yang menyenangkan. Pengalaman dan isi hati kita, bisa bebas kita tulis, tanpa kita dituntut kelihatan identitasnya.
Maka biasanya para penulis yang muncul dari masa lalu, adalah penulis yang kebanyakan pemalu dan takut muncul di publik, termasuk saya.

Tapi dulu bukan sekarang.
Dulu media cetak masih jadi andalan. Telepon genggam ada tapi yang memiliki hanya segelintir orang saja. Untuk mendapatkan nomor pun, harus antri panjang. 16 tahun yang lalu nomor saya, saya beli seharga 250 ribu rupiah.
Dulu, para remaja menunggu media remaja, para orangtua menunggu harian dan para ibu menunggu tabloid. Semua sumber bacaan dari media cetak. Ada masa di mana pada sore hari, kalau di keluarga saya, kita akan berkumpul, dan masing-masing membawa bacaannya, lalu keluarlah banyak sekali perbincangan dari apa yang kita baca.
Sekarang?
Sekarang perbincangan dan diskusi banyak diambil dari berita-berita pendek dari timeline dan status orang lain. Saya masih berjuang mengambil buku untuk dibawa ke ajang diskusi dengan anak-anak dan pasangan. Dan sungguh, itu terasa melelahkan.
Karena itu, saya minta ada satu hari untuk anak-anak fokus membaca dan menulis yaitu di hari Sabtu.

Kondisi sekarang berbeda.
Media cetak satu persatu gugur. Karena industri mulai berpihak ke dunia digital, yang setiap individu memegang minimal satu.
Saya ingat perbincangan dua tahun yang lalu, ketika pemilik majalah Luar Biasa seorang motivator ingin menutup majalah. Ada satu pendapat dari seorang agen majalah yang sudah puluhan tahun berada di bidang tersebut. Beliau bilang kondisi memang seperti itu. Satu persatu kios media ditutup dan diganti dengan kios pulsa. Maka bisnis yang menjamur adalah bisnis pulsa.

Penerbit?
Penerbit masih ada. Tapi penerbit tidak mungkin menerbitkan sebuah naskah, tanpa proyeksi pada keuntungan. Untuk buku-buku yang kira-kira agak sulit untuk diterbitkan, semisal buku non fiksi dengan ukuran tebal, ada penerbit yang bertanya lebih dahulu, penulis bisa membeli berapa buku nanti jika buku itu terbit?

Seram pertanyaan itu?
Iya seram sekali untuk saya pertama kali. Meskipun tanpa ditanyai seperti itu, saya biasa membeli buku dari penerbit hingga 100 buku untuk dijual kembali. Kebetulan saya punya marketing sendiri, yang memasarkan dari satu sekolah ke sekolah lain.
Tapi ya itu. Saya tidak berani memasang target, takut target itu meleset jauh.
Belum lama ketika ada naskah yang di acc, saya juga ditanya, berani beli berapa buku? Dengan keyakinan penuh, saya bilang saya bisa beli 100 buku.
Kenapa saya berani?

Satu buku saya, saya endapkan cukukp lama. Lama sekali. Saya riset lama, lama sekali. Lalu ketika di acc penerbit, ternyata komunikasi lancar. Saya melihat proses bukunya, dan akhirnya saya jatuh cinta. Proses jatuh cinta, itu jadi semakin cinta ketika melihat hasilnya. Sebuah buku yang memang sesuai dengan apa yang ada di otak saya. Design huruf, warna buku dan tampilan covernya memang benar-benar sesuai yang saya inginkan.
Ketika sampai pada proses akhirnya buku itu sudah dicetak dan saya pegang, saya bertambah cinta. Melihat satu persatu halamannya, saya semakin cinta.
Dan saya memang berjuang menjual buku itu, baik secara online maupun secara offline. Target 100 buku akhirnya bisa saya penuhi, dan sampai sekarang saya terus memesan ke penerbit buku itu, karena ada teman-teman yang masih menanyakan buku itu.
Buku hasil jerih payah dan keringat saya, kenapa saya mesti malu menjualnya? Apalagi kiri kanan atas bawah, kita digempur oleh buku yang lain yang bisa jadi lebih merusak moral anak-anak kita.

Tekhniknya Pembelian Buku Seperti Apa?

“Tapi, Mbak, aku enggak punya uang untuk beli buku aku?”
Ada pertanyaan seperti itu.
Oh, membeli 100 buku langsung juga tidak saya lakukan. Tapi step by step saya melakukannya.

1. Untuk penerbit yang memberikan DP royalti, maka biasanya, saya tidak ambil uang DP itu. Saya minta agar uang itu diputar dalam bentuk buku.
Bukunya datang, bisa saya jual.

2. Untuk penerbit yang tidak pakai DP, saya membelinya pelan-pelan. Misalnya 20 buku dulu. Setelah 20 buku itu laku, uangnya saya putar lagi, untuk membeli buku yang lain.

3. Ada juga penerbit yang membolehkan membeli buku, dengan dipotong uang royalti kita nanti. Nah itu juga sangat memudahkan penulis yang tidak pegang uang cash pada saat itu.

Tidak akan rugi kok kita membeli buku kita sendiri.
Dari situ kita akhirnya bisa menyortir, buku apa yang harus kita tulis, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan isinya di mata pembaca dan di mata Allah kelak.

Agar Semua Terasa Cukup

“Ya Allah, kenapa baru tengah bulan begini uang belanja sudah habis? Padahal tidak beli macam-macam. Tidak kredit ini itu,” keluh Bunda Tito pada ibu lainnya ketika mereka sedang menghabiskan sore menjelang maghrib di luar pagar rumah mereka.
“Sama, saya juga begitu. Makanya besok mau cari hutangan deh biar bisa makan.”

Percakapan itu percakapan biasakan? Percakapan yang biasa kita dengar bila berada pada suatu lingkungan yang memang seragam. Biasa terjadi di perumahan sederhana di mana para Bunda banyak yang menjadi ibu rumah tangga sejati dan sang suami berangkat pagi baru pulang malam hari.

Ya Allah cukupkan aku dengan yang halal, jauhkan dari yang haram. Dan cukupkanlah aku dengan Rahmatmu sehingga tidak meminta-minta kepada selain Engkau.

Percayakan kalau berapapun uang yang ada di tangan tidak akan cukup bila kita tidak belajar untuk mencukupkan? Tidak mau berusaha menekan apa yang harusnya ditekan?
Harga-harga kebutuhan pokok melonjak itu terjadi dari tahun ke tahun. Yang mengeluh soal hal ini bukan datang dari kalangan tidak berpunya saja, tapi dari kalangan yang berpunya sekalipun.

Di sekolah mahal dan sekolah negri sekalipun sama ributnya mengenai biaya ini dan itu . Di tukang sayur tradisional dan supermarket para Bunda sama telitinya untuk memilih mana barang yang efiien untuk kantong mereka.
Lalu apa yang membedakan?
Rasa syukur tentu saja. Itu hal paling penting yang akan membuat perbedaan besar. Dari rasa syukur itu akan ada keahlian lain yang mengimbanginya. Keahlian untuk mengedepankan kebutuhan utama dan menekan kebutuhan yang tidak cukup penting.

Kita memiliki uang seratus ribu tentu tidak akan cukup bila berpikir akan makan mie di warung mie ayam. Setelah itu membelikan anak-anak jajan di mini market. Kita juga akan merasa sangat tidak beruntung karena uang itu tidak cukup untuk membeli hal-hal lain yang masih diangankan. Sprei baru, lipstick baru atau kerudung baru.
Coba kalau dari uang yang seratus ribu itu kita berpikir untuk menyisihkan beberapa bagian untuk bersedekah. Setelah itu periksa beras di rumah. Beli satu atau dua liter. Telur, minyak, susu anak, deterjen, sabun. Insya Allah akan masih ada sisa yang bisa kita berikan pada anak-anak untuk jajan di warung terdekat. Masing-masing anak seribu saja. Mereka pasti akan senang karena masih diberi uang jajan sama seperti teman yang lain. Bila perut mereka kenyang di rumah tentu mereka tidak akan merengek ini dan itu lagi.

Kebanyakan dari kita merasa tidak cukup bukan karena tidak cukup yang sebenarnya. Tapi karena memaksakan kebutuhan yang seharusnya tidak perlu. Dan kurangnya rasa bersyukur.

Kita sering merasa kurang harga dirinya bila tidak memasukkan anak ke less ini dan itu karena takut dianggap sebagai Ibu yang tidak tahu persaingan ketat di masa depan. Padahal dengan meningkatkan kualitas kita sebagai ibundanya di ruma,h anak-anak pasti akan lebih nyaman dan mudah mengerti ketimbang belajar pada orang lain.
Allah akan memberi dari arah yang tidak disangka-sangka pada orang yang pandai bersyukur dan bersabar.

Bila merasa pemberian pasangan tidak mencukupi coba hitung dengan lebih jelas lagi. Kurangi standar kita. Tagihan listrik bisa dikurangi dengan lebih efisein menggunakan peralatan rumah tangga. Bila siang jangan nyalakan lampu. Matahari mampu menerangi ruangan dengan sempurna bila jendela kaca tidak tertutup kain hordeng. Televisi jangan dijadikan seperti radio. Ketika tidak ditonton ya matikan. Jangan sambil tidurpun televisi masih menyala dengan alasan tidak mendengar bunyi-bunyi. Berzikir pasti akan lebih menyamankan ketimbang mendengar acara televisi.
Anak-anak beri makanan yang cukup. Sarapan sebelum berangkat sekolah. Jangan ke luar rumah dalam keadaan lapar sehingga ia tergiur makanan temannya atau tergiur tukang jajanan yang justru akan membuat mereka sakit perut nantinya.

Kita sebagai Ibu, harus banyak membaca dan menambah wawasan sehingga anak-anak menjadikan kita sebagai perpustakaan pertama.
Sedekah.
Apa yang kita miliki coba sedekahnya. Jadikan sebagai rutinitas harian. Kalau takut membuat tetangga yang kelihatan susah tersinggung dengan sedekah uang, ganti saja dengan sayur dan lauk pauk yang tentu akan mengenyangkan mereka dan membuat mereka bisa tertidur pulas tanpa menahan perih kelaparan.
Kalau punya tanah kosong di depan rumah, tanam pohon cabe atau tomat dan biarkan siapa yang membutuhkan mengambilnya tanpa perlu minta ijin dulu pada kita.

Setelah itu serahkan pada yang Kuasa. Beliau akan memberikan keajaiban yang tak terduga-duga. Apa yang kita rasakan dan apa yang anak-anak inginkan akan datang dengan sendirinya ke rumah, tanpa kita perlu memintanya pada orang lain.
“Bu ayam ini dari mana? Tadi kan aku minta makan ayam tapi uang Ibu tidak cukup. Kok sekarang bisa beli ayam?”
Kalau sudah bersyukur, yakinlah tidak ada yang tidak cukup. Semuanya jadi begitu berlebihan.
Apa yang kita inginkan akan menembus langit dan Allah bisikkan ke telinga orang-orang tertentu yang akan datang ke rumah dan memberikan sesuatu yang kita dan anak-anak inginkan itu.

Percayalah.

Mau Produktif Menulis, Gunakan Sosial Media Seperlunya

buku-buku-solo

“Hai, Mbak. Seneng, deh, bisa kenalan sama mbak di sini.”
“Aku suka tulisan Mbak dari remaja dulu, lho.”
“Boleh main ke rumah?”

Penulis dan sosial media, memang sudah jadi kesatuan utuh. Dari sosial media, penulis yang biasanya bersembunyi di belakang layar, dan membuat pembaca penasaran, akhirnya mulai timbul ke permukaan. Pembaca jadi bisa mengenal seorang penulis yang tulisannya disukai. Di atas contoh dialog yang biasa masuk ke inbox saya.
Tidak dipungkiri, itu salah satu efek kebaikan dari sosial media. Meskipun efek kebaikan itu pastilah akan diikuti dengan efek keburukan juga. Yaitu pembaca melihat penulis sebagai sosok yang sempurna, maka ketika timbul setitik noda di mata mereka, maka mereka akan berbondong-bondong mencaci.

Ada banyak wadah komunitas di sosial media. Saya sendiri memiliki beberapa komunitas menulis dengan anggota terbatas. Banyak komunitas yang gugur, padahal anggotanya ribuan. Menulis adalah kerja cinta. Sama seperti kerja bakti. Kerja bakti membersihkan got itu tidak menyenangkan untuk orang yang tidak cinta mengerjakannya, dan tidak fokus pada keuntungan kebersihan lingkungan. Menulis juga seperti itu. Banyak komunitas yang lebih suka ramai-ramai dan heboh dengan pertemuan di dunia nyata ketimbang kembali fokus menulis.
Satu, dua, tiga masih terus menulis. Empat, lima, enam, bahkan sampai seribu, harus dipecut dulu untuk kembali menulis.

Sosial media akhirnya jadi bumerang untuk penulis.
Lalu bagaimana cara yang efektif menggunakan sosial media?

Gunakan Sosial Media Seperlunya

Ada banyak sosial media.
Saya malah menemukan teman yang itu itu saja di berbagai sosial media.
Tapi saya juga menemukan sesuatu yang baru. Penerbit-penerbit, editor-editor yang mudah ditemui di sosial media. Cara marketing yang dicontohkan teman-teman penulis lain, juga bisa saya dapatkan di sosial media. Bahkan pembeli buku-buku saya, bisa dengan mudah saya dapatkan di sosial media.
Semua bisa kita dapatkan di sosial media. Tapi itu justru yang membuat seorang penulis akhirnya terjerumus. Menganggap sosial media adalah segalanya.
Iya segalanya. Keuntungan dan keberuntungan ada di sosial media. Demi keberuntungan dan keuntungan itu, sikut sana-sini pun mulai terjadi.

Penulis biasa punya banyak sosial media.
Tapi tetap kontrol harus ada di tangan penulis. Banyak waktu yang bisa dihabiskan dengan menulis, sejak hadirnya sosial media hilang terbang waktu itu tergantikan dengan mengamati status, membuat status bahkan mengomentari status. Ujungnya tulisan yang harusnya selesai tidak jadi selesai. Banyak status penulis yang ujung-ujungnya mengeluh karena target tulisannya tidak selesai.

Ini tips dari saya, agar sosial media bisa bermanfaat dan tidak mengganggu jadwal menulis kita.

1. Buat target tulisan yang harus dibuat
2. Buat list daftar tulisan yang harus selesai.
3. Selesaikan dulu tulisan tersebut, sebelum akhirnya membuka akun sosial media.
4. Batasi penggunaan sosial media dan jadikan itu reward karena kita berhasil menyelesaikan tulisan.
5. Setelah itu harus menulis lagi.
6. Ketika membuka sosial media, langsung fokus pada sesuatu yang berhubungan dengan dunia menulis saja. Misalnya akun penerbit atau akun teman-teman penulis yang bisa memompa semangat menulis kita.
7. Sepuluh tahun ke depan, jika kita sibuk terus dengan sosial media, maka kita tidak dapat apa-apa. Tapi jika kita terus menulis dan fokus pada tulisan yang akan kita selesaikan, maka tulisan kita menjelma menjadi bentuk lain, misalnya buku atau mungkin pembaca yang tercerahkan dengan tulisan kita.
8. Fokus pada menambah wawasan dengan membaca banyak buku, bukan dengan banyak-banyak membaca status apalagi status saling hujat.
9. Tutup akun sosial media jika itu mengganggu jadwal menulismu.
10. Dan kembalilah ke jalan yang sunyi dengan produktif menulis.

Percayalah, mengurangi sosial media dan menambah produktivitas kita, tidak akan membuat kita menjadi rugi. Materi yang kita hasilkan dari menulis, akan bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan kita dan juga untuk menolong orang lain.

Selai Rasa Kopi

“Mau?”
Kinkin menggelengkan kepalanya. Aroma roti tawar sudah tercium. Mami membuat roti tawar lagi untuk kesekian kalinya dalam seminggu ini.
Kin sudah hapal apa yang akan Mami berikan pada roti tawar itu setelah dipotong-potong. Untuk Kin, terserah mau dioleskan apa. Untuk Papi juga terserah. Tapi untuk Mami?
Kin menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Ada biji kopi yang tersedia di toples. Kopi robusta. Mami nanti akan memblendernya. Setelah itu Mami mencampurkan dengan sedikit susu. Dan setelah itu…
Kin sudah merasakannya. Pahitnya terasa betul di lidah Kin.
“Mau coba?”
Kin menggeleng keras.
“Kadang kala dalam hidup ini, Kin, kamu harus belajar mengakrabi rasa pahit. Jadi kamu akan terbiasa dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.”
“Kenapa Mami tidak makan ampas kopi saja?” tanya Kin tidak mengerti.
Mami tertawa. “Sebab Mami ingin membungkus rasa pahit itu sedemikian rupa agar tidak terlalu jelas. Jadi Mami menjadikannya selai untuk roti tawar.”
Kin dulu tidak mengerti. Tapi sekarang ia sudah mengerti, meski sungguh Kin juga tidak ingin melakukan hal yang seperti Mami lakukan.
Roti tawar untuk Kin masih kosong tanpa olesan.
Di luar ada yang mengetuk. Keras sekali. Mami memberi isyarat agar Kin melihatnya.
Kin berdiri dari duduknya. Jus mangga buatan Mami membuat perutnya agak mulas. Sudah Kin bilang berkali-kali kalau Kin ingin sarapan dulu, bukan minum jus dulu.
“Mami kamu mana?”
Seorang perempuan berdiri di depan pagar. Kin mencoba mengenali.
“Mami kamu mana? Bilang sama Mami kamu kalau air dari kamar mandi kamu netes sampai kamar mandi Tante. Minta cari tukang buat betulin rumah kamu!”
Kin menarik napas panjang. Mami pasti sudah mendengarnya. Mungkin tetangga lain juga. Tante Ros bicaranya selalu keras.
“Mi…”
Mami meneguk air putih lalu menggigit rotinya. Selai kopi pasti sudah dimasukkan ke dalam roti itu.
“Oke, nanti Mami pindah mandi hanya di kamar mandi bawah saja. Untuk sementara sampai Mami punya uang, kamar mandi di atas biarkan saja tidak dipakai. Gampang, kan?”
Kin garuk-garuk kepala.
Ada selai kacang, selai coklat juga selai strawberry.
Kin memilih selai kacang lalu memasukkan roti isi selai kacang ke dalam kotak bekalnya.
**
Ada roti dengan selai kacang yang sekarang Kin pegang. Ia duduk di bangku paling pojok di kantin.
“Kinkin?”
Telinga Kin langsung tegak mendengar namanya disebut. Tapi ia tidak berani menoleh.
“Kinkin yang kurus itu? Kamu tahu, aku pura-pura jadi teman dia. Soalnya kenapa? Soalnya Mami dia itu kan photographer yang fotonya oke.”
Kin hapal suara itu.
“Kalau di tempat lain di foto mahal. Kalau sama Maminya Kin bisa gratis. Nih…, hasil fotonya keren, kan? Udah aku print terus aku masukin ke agensi model. Siapa tahu aku bisa jadi model terkenal suatu saat nanti.”
Wajah Kin memerah.
“Yakin Kinkin enggak tahu modus kamu?”
“Enggaklah. Kinkin itu baik lagi dan polos.”
Kali ini Kinkin menarik napas panjang lalu mengembuskan kuat-kuat. Sebelum akhirnya ia menoleh ke belakang. Ada Rena di sana.
“Hai..,” sapa Kin sambil tersenyum.
Rena dan kawannya terlihat kaget. “Kin, kamu..”
Kinkin berdiri dari duduknya.
Masih ada roti yang baru setengahnya ia makan tadi, dan sekarang sudah kembali ia masukkan ke kotak bekal.
Besok, Kin akan minta Mami buat selai kopi yang banyak. Kin mau tahu kalau menelan rasa pahit seperti apa. Jadi Kin bisa tersenyum ketika ada teman yang menyakiti perasaannya, bukan menangis seperti sekarang ini.