Rinjani dan Brownies untuk Ayah

Gagal lagi.
Rinjani memandangi tumpukan bahan pembuat kue. Terigu, gula, telur. Hasilnya adalah bolu tanpa rasa. Bantet tak mengembang.
“Kapan Ayah datang, Bu?” tanyanya penuh harap.
“Dua hari lagi.”
Rinjani menahan air matanya. Ayah akan datang. Ia sudah berjanji jika Ayah datang setelah bertugas setahun di tempat lain, ia akan belajar menjadi gadis yang bisa melakukan banyak hal. Iya banyak hal. Agar Ayah tidak pergi lagi.

“Kamu mau buat apa?”
Rinjani menunjuk gambar yang terbuka dari telepon genggamnya.
“Semuanya sudah jelas di sini,” ujar Ibu.
“Iya, tapi aku enggak ngerti. Ibu tahu hasilnya, kan?”
Ibu mengangguk. “Mau Ibu bantu?”
Rinjani melotot. “Ibu mau?” tanyanya tidak percaya. Sejak Ayah tugas setahun, Ibu bahkan sudah tidak sempat masuk dapur, karena kesibukannya. Makanan yang tersedia untuk Rinjani di rumah dari katering yang Ibu pesan. Kadang Rinjani tidak suka rasanya.

“Ayo kita buat sama-sama.”
Rinjani mengikuti perintah Ibu.
Lima butir telur ayam. Bukan telur yang ada di dalam kulkas. Karena telur yang dingin akan membuat adonan susah mengembang. Rinjani ke warung untuk membeli yang baru.
Gula pasir seukuran gelas belimbing lebihkan sedikit. Ibu memberi tahu gelas belimbing yang dimaksud. Gelas yang bagian bawahnya berlekuk seperti buah belimbing. Ibu juga menunjukkan gelas lain. Ibu bilang boleh memakai gelas lain juga. Ukuran sedang.
Rinjani juga diminta mengambil tbm. Ibu bilang ada ovalet, tbm juga sp. Fungsinya hampir sama, warnanya kuning muda.

Rinjani diminta menyiapkan mikser. Lima butir telur Rinjani pecahkan. Satu gelas gula Rinjani masukkan. Tambahkan tbm seujung gagang sendok.
Ketiga bahan itu dicampur dan dimikser.
“Biarkan sampai mengembang dan berwarna putih kental.”
Rinjani memandangi. Mikser yang berputar. Seperti ketika ia diajak Ayah memutar tubuhnya. Sampai ia berteriak “Pusing, Ayaaaah.” Lalu Ayah tertawa.
“Sudah kental,” ujar Ibu.
Rinjani melihat Ibu mengambil sendok. “Tandanya ketika adonan ini diambil sedikit, lalu dituang kembali, adonan akan membentuk seperti jambul. Ini disebut jambul petruk atau kental berjejak.”
“Ibu kok tahu?”
Ibu tertawa. “Ibu mantan pernah punya toko kue,”ujar Ibu.

“Masukkan apa lagi?” tanya Rinjani.
Ibu menunjuk ke sebuah mangkuk.
Tadi Rinjani diminta Ibu untuk mengambil satu gelas lebih sedikit tepung terigu. Dua sendok tepung jagung maizena. Satu sachet susu bubuk putih dan vanila.
“”Kamu masukkan dan campur pakai spatula. Aduk terbalik.”
Rinjani sungguh tidak mengerti. Ibu memberi contoh. Campuran bahan di mangkuk Ibu masukkan ke adonan yang tadi dimikser.Masukkan sedikit ke dalam adonan, lalu aduk dengna tekhnik seperti membalik. Bukan diaduk acak. Lakukan itu sampai semua bahan habis.
Coklat bubuk Rinjani tuangkan. Dua sendok makan. Ditambah pasta coklat, setengah sendok teh saja.

“Belum selesai. Kamu lupa?” Ibu melihat ke arah kompor.”
Ya ampun, Rinjani lupa. Tadi coklat blok sudah Rinjani potong kecil-kecil. Kemudian dicampur dengan mentega dan minyak goreng.
Rinjani ingat ukuran coklat bloknya kira-kira saja. Ibu hanya membagi tiga coklat blok ukuran balok, lalu digunakan satu bagian saja. Mentega Ibu pakai seperapat dari ukuran 200 gram, ditambah minyak goreng enam sendok makan.
Semua bahan itu tadi Rinjani tim.
Rinjani harus memasak air lebih dahulu. Lalu coklat, mentega dan minyak Rinjani taruh di wadah kecil, dan letakkan di atas air yang dimasak sampai mendidih, hingga semuanya mencair.
Ketiga bahan itu yang Rinjani masukkan, sampur dengan adonan.

“Sudah selesai?”
Ibu menggeleng. Sebuah loyang Ibu ambil. Rinjani harus mengolesinya dengan mentega sampai rata.Rinajni menggunakan kuas untuk itu. Setelah itu masih harus ditaburi tepung terigu merata. Ibu bilang itu agar adonan kue tidak menempel nantinya.

Ibu lalu mengambil kukusan.
Adonan yang sudah tercampur Ibu tuang ke dalam loyang, yang sudah dioles mentega dan tepung terigu.
“Kok tidak semua?” tanya Rinjani ketika melihat Ibu hanya menuang separuh adonan saja.
Ibu hanya diam.
Kukusan sudah mendidih. Loyang itu ditaruh. Ditutup dengan panci yang sudah dibungkus kain.
“Bungkus kain ini fungsinya agar uap air tidak jauh ke dalam kue, dan membuat kue jadi tidak rata.”
Rinjani mengerti.
“Lima belas menit, ya.”
Rinjani mengangguk.
Setelah lima belas menit, Ibu membuka panci. Mengambil loyang. Kuenya sudah jadi.
“Ambil coklat mesis. Taburi di atasnya.”
Rinjani mengikuti. Mengambil coklat, menaburi di atas adonan kue yang terlihat sudah matang.
Setelah itu Ibu memasukkan sisa adonan ke atas taburan mesis.
“Tunggu sampai matang,”ujar Ibu.

Rinjani menunggu. Rinjani membyangkan. Ayah yang akan datang lalu berkata,” kamu anak hebat.”
Aroma kue sudah tercium.
Wangi menusuk hidung Rinjani.
Di kompor yang lain Ibu mengajari Rinjani cara membuat lapisan coklat. Tepung maizena dua sendok makan, dicampur dengan potongan coklat blok dan susu bubuk yang sudah dicairkan. Ibu bilang itu untuk olesan di atas kue.
Rinjani juga diajari memarut keju. Satu arah saja ketika memarut. Kejunya jadi cantik hasilnya.

Semua sudah selesai.
Kue sudah matang. Ibu tadi mengeceknya dengan menusuknya dengan garpu.
Ibu mengambil piring besar untuk membalik adonan itu. Benar, adonan tidak menempel. Lalu Ibu membalik lagi.
“Kamu bisa menghiasnya.”
Rinjani suka.
Ia menghiasnya.

Sekarang semuanya sudah siap. Ayah akan pulang. Lalu akan memeluk Rinjani dan berkata, Ayah tidak akan pergi lagi.
Tapi sampai tengah malam, Ayah belum datang juga.
“Nak…,” Ibu mendekat ke luar dari dalam kamarnya. Tubuhnya terbungkus jaket. Mata Ibu sembab. “Ayahmu sudah tidak akan datang lagi.”
“Kenapa?” tanya Rinjani.
“Sebab sudah ada perempuan lain yang lebih pintar mengambil hatinya.”
Rinjani tidak mengerti. Bahkan ketika Ibu memeluknya erat-erat.
“Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak pernah memberi tahu kalau kami sudah lama berpisah. Maafkan.”
Rinjani diam.
Rinjani termangu.

Nugget Pisang

Alangkah susahnya mengubah mindset. Nugget di kepala adalah makanan untuk lauk. Dari daging ayam atau sapi. Maka ketika pisang nugget ini diolah dan tersaji di piring, dua orang yang ada di rumah, anak dan suami memandangi. Membawa piring berisi nasi dan sayur.
“Ini pisang, ya?” tanya suami.
“Harusnya pakai daging,” begitu kata anak bungsu saya.

Nugget pisang. Berawal dari masih adanya beerapa buah pisang baranang. Pisang yang konon paling enak itu, dan lebih mahal dibandingkan pisang yang lain, awalnya saya beli karena terpaksa. Iya terpaksa. Karena pada saat itu suami minta dibuatkan kolak. Dan saya sudah berkeliling dari satu tukang sayur ke tukang sayur lainnya. Saya tidak temukan pisang uli atau pisang kepok. Malah disodorkan pisang baranang oleh penjual.

Nugget pisang.
Resepnya bukan kreasi sendiri,tapi copas dan modifikasi dari beberapa resep.

Bahan utama
– 5 buah pisang atau 6 sesuai selera
– 1 sachet susu dancow
– 1 sachet vanili
– 1 butir telur
– 2 sendok makan gula pasir. Kalau pisangnya sudah manis cukup satu saja.
– 3 sendok makan terigu, 2 juga tidak mengapa.

Semua bahan utama ini dicampur. Pisangnya dilumatkan dulu dengan garpu. Lalu campurkan semua bahan.
Setelah semua bahan tercampur, siapkan loyang. Olesi dengan minyak atau mentega loyangnya. Setelah itu bahan yang sudah tercampur tadi dimasukkan.
Siapkan kukusan. Nyalakan kompor dan masukkan loyang yang sudah terisi ke dalam kukusan.

Setelah matang biarkan dingin. Setelah dingin baru dipotong.
Setelah dipotong itu siapkan mangkuk berisi telur yang dikocok, dan wadah lain untuk tepung panir.
Nah nugget yang sudah dipotong itu celupkan ke telur lalu pindah balur dengan tepung panir. Masukan lagi ke telur kembalikan ke tepung panir. Biar lebih tebal dan bagus hasilnya.
Setelah itu masukkan ke freezer kurang lebih satu jam. Ini untuk membuat tepung panir melekat dan tidak mudah rontok ketika digoreng.
Setelah satu jam, boleh digoreng.

Mengenang Khoir Murid Pemulung Pertama

Ramadhan writing programme 1439 H
Bengkel Cinta Literasi

Hari : ke 8

Tulisan ini saya tulis dalam proyek Ramadhan di group Bengkel Cinta Literasi

Namanya Khoir. Saya lupa nama lengkapnya.Khoir teman anak sulung saya ketika SD, di sebuah SD kampung di kabupaten Bekasi.
“Khoir belum bisa baca, Bu,” lapor anak saya ketika itu. “Buku tulisnya kosong terus.”
Kedua orangtua Khoir seorang pemulung. Ada beberapa anak pemulung lainnya, tapi Khoir untuk saya istimewa. Karena orangtunya tidak tahu cara mendidik Khoir yang anak tunggal.
“Khoir mau main ke rumah setiap sore?” Suatu hari saya dekati Khoir. “Khoir nanti belajar baca. Di rumah banyak buku cerita.”
Kedua bola mata Khoir bersinar. “Khoir bilang Emak dulu,” katanya. Pipinya bulat semakin bulat karena senyumnya yang lebar.

Sampai seminggu Khoir tidak juga datang. Saya kembali ke sekolah.
“Emak enggak mau anter,” katanya.
“Enggak apa-apa, nanti kasih tahu Emak, lesnya enggak bayar. Kasih tahu Emak, ya.”
Khoir mengangguk.
Esoknya saya ditunggu emaknya Khoir. Seorang perempuan sederhana. “Anaknya bilang mau les. Saya enggak percaya, Bu. Lagian siapa yang nganter?”
“Dianter terus tinggal, ya.” Saya menjelaskan segala macam bayangan masa depan pada emaknya Khoir. Emaknya hanya mengangguk saja. Dan tidak mengantar juga.

Setiap kali bertemu dengan saya seolah menghindar. Pernah saya bertemu di jalan, lalu saya panggil dengan berteriak karena ibunya Khoir ada di pinggir jalan yang lain. “Anter Khoir,” ujar saya.
Saya seperti orang ngotot dan memaksa. Tapi ini demi memutus mata rantai. Orangtua Khoir tidak tahu caranya mendidik anak mereka. Jangan sampai Khoir menjadi pemulung juga, karena tidak melihat masa depan yang lain.

Sampai akhirnya saya Khoir diantar ke sekolah oleh neneknya yang biasa dipanggil Nyai. Pada Nyai saya meminta Khoir untuk diantar ke rumah untuk belajar baca tulis.
“Khoir mah enggak pintar,” kata emaknya yang akhirnya mengantar Khoir ke rumah.
Ternyata Khoir mampu belajar. Pelan tapi pasti.
Setiap kali datang, dia selalu berpakaian rapi. “Khoir keren,” kata saya. Dan Khoir akan tersipu mendengarnya.
Sampai akhirnya Khoir tidak pernah datang lagi.
“Mama Attaaaar, aku habis sakit panas terus step,” katanya. “Emak enggak bisa anter. Emak kan mulung.” Dia bicara waktu saya mengantar anak ke sekolah.
“Enggak apa-apa, Khoir datang terus, ya. Minta antar Nyai.”

Sekali dua kali Khoir muncul. Lalu menghilang. Sudah hampir bisa membaca dan menulis. Sudah ingin sekali membawa pulang buku-buku yang saya tunjukkan padanya.
Tapi Khoir tidak pernah muncul lagi. Sampai sulung saya naik kelas, naik kelas hingga sebuah cerita meluncur dari mulut sulung saya.
“Khoir udah berhenti sekolah, Bu.”
Perih hati saya mendengar kalimat itu. Lebih perih lagi ketika anak saya menlanjutkan.
“Ibu tahu, enggak. Khoir sekarang jadi tukang ngamen. Aku tahu ngamennya di mana.”
Saya mencari. Menunggunya. Bertemu dengan Khoir. Tubuhnya sudah tinggi. Rambut kemerahan.
“Khoiiiir. Kenapa?” tanya saya.
Khoir menunduk malu lalu berlari cepat.

Besoknya saya bertemu lagi. Tapi Khoir lalu bicara kepada teman yang lain,” kabuuuur.”
Setiap kali bertemu dia akan langsung berlari. Tidak sempat saya duduk bersamanya untuk bicara masa depan agar dia tidak menjadi pemulung seperti kedua orangtuanya.
Sekarang anak sulung saya sudah SMA. Khoir entah kemana. Taman bacaan yang saya kelola di rumah juga sudah tumbuh dan banyak peminatnya. Sudah menjadi sanggar Sabtu dan Minggu, yang anak-anak bisa belajar apa saja. Termasuk belajar menulis, mendongeng juga membuat kerajinan.
Ramadhan ini saya kembali ingat Khoir. Ingin melihat sosok remaja Khoir. Ingin ia lewat di depan rumah dan saya katakana,” ayo, Khoir. Belajar baca lagi.”
Ada banyak Khoir lain. Makna Iqra (bacalah) sebagai ayat pertama yang diajarkan Jibril pada Rasulullah sering dilupakan para muslim.

Mendidik Anak Menjadi Penulis

“Bu, aku mau menjadi penulis seperti Ibu,” kata anak gadis yang sudah bisa menulis dan membaca ketika usia tiga tahun. Saya sendiri yang mengajarkan. Karena dua anak terbiasa saya bacakan buku sejak dalam kandungan maka proses belajar membaca menjadi mudah sekali.

“Bu aku juga mau punya buku.”
Saya mengangguk. Prosesnya untuk orang lain mungkin mudah. Ah, ibunya penulis. Maka bisa poles sana poles sini. Tapi sayangnya saya model Ibu yang tega. Saya tidak ingin anak instant untuk menulis lalu bangga menepuk dada, ini karyaku. Padahal karyanya masih mentah dan ibunya yang memoles di sana sini. Saya tidak mau seperti itu.
Saya ingin dia berproses panjaaang sekali.

Dari satu media cetak ke media cetak lain saya kirimkan tulisannya.
Dari satu lomba lain juga sama. Dan ini anak kerjanya super keras. Ketika karya kakaknya yang dibuat semenit dua menit langsung tembus media. Dia harus berjuang sekuat tenaga karena menerima penolakan.
Hingga akhirnya saat itu tiba.
Saat dimana kemenangan lomba untuknya tiba.
Saya ingat ia mengikuti lomba di sebuah penerbit anak dan kalah berkali-kali Sampai akhirnya saya pompa semangatnya lagi untuk ikut lomba lagi. Naskah terkirim.
Lalu suatu hari dia mengambil piala milik saya dan bilang. “Ibu foto aku pakai piala ini. Aku juga mau dapat piala.”

Alhamdulillah beberapa hari kemudian dia menang lomba menulis. Girangnya setengah mati. Apalagi naskahnya itu akan dibukukan.
Lalu lomba ini dan itu saya ikutkan.
Sampai akhirnya dari sekolah mendapatk kepercayaan untuk terus mewakili sekolah dalam lomba menulis cerpen. Dan dua tahun berturut-turut membawa pulang piala untuk sekolah.
“Ibu sayangnya piala aku ditaruh di sekolah. Coba dibawa pulang. Bisa saingan sama piala Ibu.”

Hidupnya terus berproses.
Saya bahagia. Dia semangat mengikuti lomba menulis. Bahkan lomba film pendek dari sekolah. Menjadi sutradara. Film pendeknya meraih juara pada kompetisi sekolah.

Minggu kemarin saya tawarkan lomba lagi untuknya.
Tidak menjadi pemenang pertama. Tapi menjadi pemenang favorit pilihan juri, karena karyanya kontensnya mengisnpirasi.

Jalannya masih sungguh panjang. Saya akan terus mendukungnya dan menjadi penguatnya.

Nugget dari Bawang Bombay

Anak gadis bermacam-macam permintaannya.
Apalagi hobinya menonton channel masakan di youtube. Lalu request pada Ibu. “Ibu bisa?”
Kalau ibunya menggeleng maka ada lanjutan kalimat lagi. “Masa Ibu enggak bisa?”
“Aku yang bikin aja kalau Ibu enggak bisa. Ibu siapin bahannya aja.”

Maka Ibu menyiapkan yang ia butuhkan. Bahan utamanya hanya bawang bombay katanya. Hanya diiris dan dijadikan seperti cincin terus digoreng.
Teori sederhana anak yang jarang masuk dapur.

Ibu tahu caranya. Seperti Ibu membuat jamur krispi.
Bawang bombay diiris. Lalu irisan itu masing-maing akan membentuk lingkaran. Dari satu potong irisan, akan terlihat beberapa lingkaran model gelang. Tarik pelan jangan sampai patah.

Siapkan telur yang sudah dicampur dengan bumbu penyedap.
Siapkan terigu.
Siapkan tepung roti.

Cincin atau gelang bawang bombay itu masukkan ke dalam kocokan telur.
Pindahkan ke tepung terigu di wadah sendiri dan kering. Tidak dicampur air.
Setelah itu masukkan lagi ke dalam kocokan telur pertama.
Pindahkan ke dalam wadah berisi tepung roti.
Goreng dengan minyak panas.

“Bekalku hari ini, ya, Bu? Hmmm rasanya kayak nugget.”
Ibu mengangguk. Ibu penyuka bawang bombay meski lebih suka ketika bawang itu hanya Ibu makan mentah dicampur dengan mayoinase pedas dan sayur atau buah lainnya.

Hari ini anak mendapat pengalaman baru.
Dan ia bahagia. Itu sudah cukup untuk Ibu.

South Lake, Tempat Pikniknya Penduduk Babelan

Saya harus sampai rumah secepatnya.
Itu yang ada di benak saya sepanjang perjalanan di kereta. Kereta dari Solo berangkat jam enam sore pas. Sampai Bekasi diprediksi jam tiga pagi. Alarm sudah saya pasang, takut kalau-kalau saya tidak terbangun ketika kereta sampai stasiun Bekasi.
Alhamdulillah jam dua lebih, di kursi belakang saya ada alarm suara ayam jago yang berbunyi. Sipemilik tidak terbangun. Padahal suara alarm itu keras sekali, sehingga beberapa kursi terganggu. Termasuk saya. Tapi saya terganggu dengan rasa syukur. Dibangunkan oleh alarm orang. Mata tiba-tiba terasa segar, dan saya matikan alarm saya, agar nanti jika berbunyi tidak mengganggu seperti alarm orang di bangku belakang saya.

Saya harus cepat sampai rumah.
Mata masih mengantuk. Bayangan bahwa jam delapan nanti ada kegiatan ibu-ibu di sekitar rumah. Mobil di rumah dipakai untuk tempat makanan dan untuk mengangkut yang lain, yang tidak membawa kendaraan. Ada tiga mobil yang disediakan. Di samping itu, saya belum beli air minum untuk keperluan piknik, plus untuk lomba anak-anak yang diserahkan ke saya, saya belum siap apa-apa, selain kertas yang saya printer dengan gambar.

Jam tiga sampai Bekasi.
Niatnya selonjoran di kursi panjang. Tapi kereta malam datang silih berganti. Dan semua kursi terpakai orang yang tiduran di sana. Mau ke musholla untuk tidur. Duh, musholla stasiun Bekasi juga sudah dipenuhi orang. Lagipula masa saya tidur di musholla?

Saya putuskan ke luar sambil menghitung waktu.
Perjalanan ke rumah dari stasiun setengah jam. Kalau saya menunggu suami jemput, suami akan menjemput setelah pulang dari masjid untuk shalat subuh. Itu artinya sampai rumah saya jam enam. Itu artinyaaaa….
Saya membayangkan tubuh yang lunglai sepanjang acara nanti. Saya membayangkan dada yang sesak karena kurang tidur. Saya membayangkan banyak hal.
Hingga saya putuskan ke luar dari stasiun. Menunggu setengah jam.
Jam empat kurang biasanya suami sudah bangun untuk mandi dan tahajud. Itu artinya jika saya mengetuk pintu, dan menelepon, akan cepat dibuka pintunya. Itu artinya saya punya banyak waktu untuk istirahat.
Jreng jreng, keluarlah nekad saya. Panggil tukang ojek, minta antar sampai rumah.
Sambil berdoa, maaf ya Allah, saya boncengan sama yang bukan mahram. Tapi ini darurat agar acara rihlah alias piknik ibu-ibu berjalan lancar dan semua senang.
Sehabis subuh saya tidur sampai jam setengah tujuh. Alhamdulillah badan segar. Langsung keluarkan motor cari air mineral dua box untuk keperluan.

Here I am

Piknik diundur jam setengah sembilan. Satu mobil sudah berangkat jam delapan pas. Tukang masak bilang, masakan baru siap jam setengah sembilan.
Oke tiga mobil menunggu. Satu mobil lainnya sudah bergerak.
Masakan dimasukkan ke dalam bagasi. Ada tiga mobil, jadi dibagi ketiga bagasi.
Saya bawa suami dan anak bungsu. Mereka berdua juga belum pernah piknik ke sana. Pernah lewat tapi tidak begitu sadar, di situ ada tempat piknik.
Murah meriah, masuknya 40 ribu. Tapi dengan kartu yang dijual bebas, harga tiket masuk bisa didiskon menjadi 20 ribu saja.

Ada apa di South Lake?
Ada banyak macam sarana. Tempatnya kecil tapi buat saya tidak masalah. Pertama-tama, banyak tempat selfong alias selfie di sana.
Begitu masuk buat beli tiket, bisa selfie di caravan yang dijadikan tempat menaruh banyak foto. Ada jalan yang dilapisi kaca juga di caravan itu. Dan saya yang awalnya pingin berfoto di sana, jadi takut melihat lapisan kaca. Takut kalau saya berdiri di situ, malah ambles.

.
Ini caravannya.

Kami masuk.
Gelar tikar.
Acara pun dimulai. Pembukaan sudah, hafalan sudah, baca doa sudah. Gelar daun untuk makan. Para suami, bapak-bapak yang mau repot mendampingi anak dan istrinya digelari tikar juga dan dapat nasi box. Thanks to my husband yang siap sedia ngikutin maunya istri.

Lomba pun dimulai.
Lomba mewarnai gambaaar.

Karena waktu terbatas. Anak-anak sudah ribut mau main ini main itu. Mana tempat kami menggelar tikar tidak jauh dari perosotan, ayunan dan lain sebagainya. Plus bebek-bebekan. Maka jadilah lomba dipercepat.
Hasil lomba mewarnai gambar saya serahkan pada tetangga, sedang saya memandu lomba lari dan lomba mendongeng. Awalnya mau lomba sambung ayat juz 30. Eh pada ribut karena mereka masing-masing beda pencapaian hafalannya. Okelah gurunya ngalah saja demi anak-anak.

Ini loh pemenang lomba dan bebekan yang membuat anak-anak gak konsen lagi buat makan juga ikutan lomba.

Ayo Kita Melayaaaaang

Flying fox. “Ayo Mama Bilqis. Ikutan. Ituuu, ibu-ibu aja banyak.”
Duh anak-anak bikin panas. Mereka antri.
Tiket diskon dari 40 ribu jadi 20 ribu itu bisa untuk naik bermacam permainan yang ada di sana. Termasuk flying fox.
Anak gadis saya duluan mencoba. Saya melihat dari kejauhan bagaimana ia menarik napas panjang lalu mengembuskan, seperti ingin menghimpun kekuatan. Saya kok jadi ngeri, ya. Membayangkan usia yang sudah menua, dan kalau tiba-tiba jantung saya tidak kuat.

Okelah akhirnya saya keliling. Termasuk melihat poster tentara Inggris.

Ada banyak yang bisa dilihat di sana. Termasuk kandang berisi kelinci juga rusa. Ada danau yang besar. Ada boat yang bikin ibu-ibu yang naik teriak karena si pengemudi sengaja beratraksi.

.

Okelah.
Saya sudah panas.
Anak-anak setiap datang cuma tanya. “Mama Bilqis enggak mau ikutan ngerasain flying fox? Enak loh, kayak terbang rasanya.”
Saya panas.
Makan rujak dulu dan titip tas ke suami.

Lalu memberanikan diri. Fokus tidak melihat ke bawah. Masa saya yang dulu ikut PMR pernah bergelantungan di tingkat empat sekolahan, sampai manjat pohon mangga hingga ke ujung tertinggi, jadi takut ketinggian?
Eng ing eeeeengggg.

Para pekerjanya sopan-sopan. Ketika menghadapi ibu-ibu mereka cuma bilang, “Bu, bagian depan coba dikancingin.” Jadi bukan mereka yang melakukan.
Ketika sampai di atas, kaget saya. Diminta berdiri di kursi. Juga pegangan tali. Lalu tiba-tibaaaa, syuuur. Sudah meluncur saya ke bawah. Ya ampun rasanya enaaaaak sekali. Betul kata anak-anak seperti terbang.

Well, pengalaman seru.
Saya kepingin mengajak ponakan, dan anak sulung juga ke sana.
Kami harus pulang karena sudah sore. Letihnya hilaaaang berganti bahagia dan legaaa.

Pengalaman Seru di SDIT Nur Hidayah Surakarta

“Bu, kalau akhir bulan ini, Ibu diundang di sekolah untuk acara kepenulisan, gimana?”
Itu pesan yang saya terima persis ketika saya siap berangkat ke Bandung untuk acara dissabilitas.
Sebagai ibu rumah tangga, tentu izin dari suami harus saya kantongi. Apalagi jadwal yang disodorkan satu minggu setelah kepergian saya ke Bandung. Dan dua hari setelah itu saya masih harus memenuhi jadwal perpisahan pengajian dengan ibu-ibu tetangga.
Saya bilang, saya izin dulu pada suami. Jawaban baru bisa saya berikan beberapa hari setelahnya.

Sepulangnya dari Bandung saya tanyakan hal itu pada suami. Suami mengizinkan.
Kalau sudah mengizinkan itu artinya amanah harus dijaga. Meski pulang ke Solo adalah artinya ke rumah Ibu saya, taoi sebagai istri saya harus tahu aturannya. Acara akan diadakan pada hari Ahad. Saya pergi hari Jumat siang. Sabtu istirahat untuk menemani Ibu. Ahad saya bisa mengajar. Dan Seninnya saya pulang. Itu rencana yang saya sodorkan pada suami. Plus memenuhi isi kulkas dengan bahan makanan yang bisa diolah suami dan Bungsu. Alhamdulillah Bungsu sedang libur sekolahnya.

Sebelumnya saya hanya memberi tahu pada penyelenggara untuk tidak perlu meminta anak-anak membawa laptop. Mereka cukup bawa alat tulis saja. Kalau perlu membawa pensil warna.
Ketika ditanya soal file yang mungkin bisa diprint panitia, saya bilang tidak perlu. Karena seperti biasa ketika mengajar, saya akan mengajak anak-anak untuk meluaskan imajinasi mereka. Dengan cara apa? Dengan cara praktik langsung.

SDIT Nur Hidayah

Apa itu SDIT Nur Hidayah?
Saya kenal nama itu ketika saya memang lomba yang diadakan majalah terbitan sekolah tersebut, sebagai pemenang pertama lomba cerita pendek untuk anak.
Namanya semakin familiar ketika saya menjadi juri Konperensi Penulis Cilik Anak, dan murid-murid dari SDIT ini masuk sebagai finalis dan juga pemenang.
Karena itu ketika undangan datang, saya penasaran dan ingin menerimanya. Alhamdulillah suami mengizinkan.

Kereta dari Jakarta menuju Solo terlambat dua jam. Saya tiba di rumah pukul 12 malam lebih. Bersyukur keponakan mau menunggu dua jam di stasiun. Sampai rumah sudah mengantuk berat. Ibu terbangun dan kita ngobrol sedikit.
Paginya sehabis Subuh masih mengantuk dan lanjut tidur.
Kurang tidur bisa membuat saya tidak enak badan sepanjang hari. Karena itu cukup tidur menjadi penting untuk saya, agar aktivitas bisa lancar.
Masih bisa bolak-balik cari bahan untuk bikin kue. Saya janji bikinin ibu kue kering sagu keju dan roti untuk Ibu.

Alhamdulillah kue buatan sendiri, membuat Ibu dan para ponakan suka.

Pas Hari H

Hari H nya datang juga. Panitia menjemput saya. Dan saya sudah siap.
Datang ke sana jam sembilan lebih. Langsung mengajar. Anak-anak lesehan dan saya pun lesehan juga.
Langsung bergerak.

Iya, mengajar anak-anak selalu saya suka. Karena apa? Karena ketika mereka dilemparkan imajinasi, mereka tidak akan bertanya. Kok bisa? Bagaimana caranya? Dan lain sebagainya.
Mereka langsung menyambut dengan antusias.

Yeeeah saatnya beraksi.
Mulai berjalan dari ujung ke ujung. Mulai mengecek satu persatu naskah. Melihat mana yang sudah bisa menulis dan mana yang belum bisa menulis. Kedua kelompok itu dipisah agar saya lebih mudah membimbing mereka.
Seperti biasa mereka belajar mencari ide yang unik, ide yang bisa didapat dari mana saja. Plus saya beri tahu bahwa menulis itu bekalnya jangan hanya sekedar berkahayal. Harus mau berani riset.

Ada kisah lucu juga. Beberapa anak kelas satu ikut. Jadi saya mengajari mereka membaca juga. Mereka memanggil karena belum bisa menulis. Dan minta saya mengejakan apa yang ada di benak mereka untuk ditulis. Sesi seperti ini selalu ada setiap saya mengisi talk show untuk SD.

Setiap sesi ada bagi-bagi hadiah.
Sampai akhirnya dua jam selesai.
Panitia sudah mengingatkan untuk selesai. Saya suka lupa diri untuk terus bicara dan bicara. Karena energi anak-anak membuat energi saya seperti bertambah.
Acara bagi-bagi hadiah pun dimulai.
Plus sesi foto terakhir bersama murid dan guru.

Alhamdulillah semua lancar.

Lomba Surat untuk Dissabilitas

Awal Februari saya dapat pesan dari mbak Liza Permasih yang bertanya. Apakah saya mau menjadi juri menulis surat untuk dissabilitas? Lalu sebuah nama disebutkan. Teh Tini Djayadi, seorang difabel yang memang mumpuni di bidangnya.
Sebuat surat untuk dissabilitas. Untuk perempuan>
Saya tidak berpikir panjang dan akhirnya mengiyakan permintaan itu.

Dissabilitas itu sebuah dunia yang tidak saya kenal, tidak tersentuh oleh saya. Interaksi saya paling hanya sekedar nya saja. Pernah bertetangga dengan suami istri tuna netra. Pernah mengajar di sebuah kelas yang berisi beberapa anak ABK, tapi hanya mengajar sehari saja. Karena itu ketika mengiyakan saya hanya berpikir bahwa saya akan dapat ilmu banyak di sana.
Alhamdulillah sebulan kemudian teh Tini menghubungi saya. Sebulan itu kerjaan menulis buku sedang banyak-banyaknya. Dan pada saat itu juga saya harus membuat konsep, untuk mengajar eskul kelas menulis di sebuah sekolah di kota Bogor.

Surat-surat yang masuk dimulai di awal bulan Maret. Satu, dua surat paling banyak sepuluh surat, bisa saya sambi menulis. Saya buat catatan di buku tulis saya.
Awal-awal surat belum ada yang membuat hati saya tergetar.
Lalu semakin lama surat yang datang mencapai 300 surat dalam satu hari. Sehingga total ada 891 surat yang datang.
Dan surat-surat itu membuat saya harus kerja ekstra keras untuk teliti membacanya. Surat-surat itu yang membuat saya merasa terbuka luas semua cakrawala berpikir saya.
Ada sebuah dunia yang tidak saya kenal. Saya jadi berpikir tentang sebuah dunia dalam novel Haruki Murakami yang pernah saya baca IQ84. Sudut pandang saya berubah. Dissabilitas ada tidak untuk dikasihani. Mereka punya kelebihan dan support non dissabilitas untuk mereka sungguh diperlukan.

Surat-surat yang sangat menyentuh mulai bermunculan, hingga akhirnya saya dan dua teman yang lain, teh Tina Sulyati dan mbak Liza Permasih berhasil mrngambil 3 pemenang utama dan 18 pemenang pilihan dengan kriteria surat yang beragam, membangun, memberi pencerahan dan membuat orang yang membacanya mendapat manfaat.
Dan uniknya saat-saat terakhir itu cobaan justru datang. Anak Sulung saya menelepon dari pondok pesantren. Minta jemput karena sakit matanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Seminggu sebelumnya saya sambangi hanya satu matanya yang terkena.
Sungguh membaca pengalaman para difabel dalam surat mereka, saya menjadi baper. Takut terjadi apa-apa dengan mata Sulung saya, hingga akhirnya suami di tengah deadline menjemputnya dan membawanya ke dokter. Dan anak Sulung pun harus dirawat di rumah.
Pada saat itu juga ada dua penerbit yang masing-masing memesan dua naskah buku. Dan saya harus membaca banyak rujukan untuk menuntaskannya.

Saya pikir selesai.
Tugas saya sebagai juri selesai. Sudah. Saya tidak punya tanggung jawab lagi. Saya kembali fokus dengan naskah buku. Anak Sulung sudah sembuh dan dikembalikan ke pondok.
Tapi ternyata kami para juri dapat kejutan dari penyelenggara lomba. Kami diajak datang untuk penyerahan hadiah, dan menginap di Cinnamon Boutique Syariah Hotel di kota Bandung, yang letaknya persis di sebelah terminal Ledeng.
Qadarallah, saat itu suami baru saja selesai deadline majalah dan anak Bungsu saya sedang libur sekolah. Sengaja saya minta antar suami dan anak, agar mereka punya pengalaman baru, seperti saya mengalaminya setelah membaca ratusan surat.

Cinnamon Hotel Syariah

Begitu masuk kamar rasanya sudah ingin tidur.
Pemilik hotel Cinnamon diperkenalkan pada saya oleh teh Tini. Masih muda dan bersahaja. Pak Iman namanya.
Pinginnya sih, saya tiduran langsung seperti anak dan suami. Maklum perjalanan Bekasi Bandung yang biasanya memakan waktu tempuh hanya dua jam. Kemarin itu memakan waktu 5 jam. Tol macet, Bandung macet bahkan banyak jalan yang satu arah. Hingga mobil kami diarahkan ke gang sempit yang naik turun dan menikuk tajam oleh panduan aplikasi google map.
Tapi saya sudah janji pada teh Tini untuk turun setelah zuhur ke lantai satu dari kamar di lantai tiga. Ingin meliput lomba yang ada di sana.

Ada lomba apa saja?
Pas saya datang ada lomba menyanyi. Solo dan group. Personalnya banyak yang tuna netra.Tapi luar biasaaa, suara mereka keren, penampilan keren. Bahkan sebagian besar adalah para mahasiswa dan mahasiswi. Ada juga personel yang memang non dissabilitas. Justru lomba dengan memadukan dua komponen itu membuat persaingan sehat terjadi. Yang dipilih adalah yang terbaik apakah dia dissabilitas atau non dissabilitas. Yang penting kualitas.

Apa yang saya rasakan ketika berada di tengah mereka para difabel? Ya Allah saya seperti bisa melihat dunia lain. Terbukalah semua pikiran sempit saya. Mereka para difabel memiliki dunia mereka. Bagaimana mereka yang tuna netra saling bercengkrama dan seperti seorang peserta lomba bilang, bahwa untuk mereka jatuh cinta bukan dari mata turun ke hati. Tapi dari telinga turun ke hati.
Lalu ketika mereka lewat, mereka saling memegang punggung teman-temannya untuk saling membantu.
Masya Allah.

Saya sempat ngobrol dengan Urba dan Risman. Keduanya adalah pemenang lomba nyanyi juara satu dan dua. Saya sempat menyaksikan penampilan Urba. Suaranya bukan saja keren tapi dia layaknya penyanyi panggung. Mereka ternyata dua orang sahabat yang memang selalu berkompetisi di lomba nyanyi. Biasanya Risman yang jadi pemenang pertama, begitu kata Urba.
Mereka mahasiswa, Urba bahkan mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia. Risman jurusan berbeda. Mereka keduanya tuna netra. Ketika saya tawarkan alternatif agar mereka bisa mencerahkan orang lain dan bermanfaat untuk orang lain, dengan memiliki channel di youtube, mereka bilang belum terpikir untuk itu. Tapi terima kasih sudah diberi pencerahan.

Lomba Menulis itu
Yang ditunggu akhirnya datang juga.Apa itu?
Pengumuman lomba menulis. Setelah pengumuman semua lomba termasuk lomba fotographi dengan juri Darwis Triadi, akhirnya lomba menulis diumumkan pemenangnya. Waktu mendekati mahgrib. Duuuh, saya pikir tidak diminta untuk maju ke depan. Tapi ternyata saya diminta teh Tini, untuk maju ke depan dan menjelaskan kenapa surat-surat itu terpilih menjadi pemenang. Karena saya tertulis sebagai ketua dewan juri, maka sayalah yang diminta untuk maju.

Okelah, tarik napas panjang.
Pemanasan dengan mewancarai Urba dan Risman membuat grogi saya hilang. Penjelasan tentang surat-surat yang datang dan kriteria pemenang yang terpilih akhirnya bisa juga saya berikan.

.

Pemenang kedua lomba menulis ternyata adalah seorang tuna netra.
Ceritanya membuat saya terharu. Dia menderita demam tinggi di usia 17 tahun dan akhirnya kehilangan penglihatannya.
Dia seorang mahasiswa yang suka menulis. Datang dari Semarang seorang diri dan menginap di hotel juga sendiri.
Saya ngobrol dengan dia plus jalan ke kamar bersamanya. Kamar kami berdekatan. Pas waktu itu juga, suami dan anak sudah ada di kamar, sedang saya tidak memegang kunci kamar. Jadi saya butuh orang yang sama satu lantai, untuk naik ke kamar. Karena lift hanya bisa berjalan dengan menempelkan kunci yang berbentuk kartu.
Agus Sri sama tawarkan untuk saya ajarkan membuat blog. Dia menyimpan nomor telepon saya dan email saya.

Dan akhirnyaaaa,
kami semua para juri senang. Tugas sudah selesai.
Maka kumpulan kami di sudut lobby. Berempat.

.
Ini pertemuan pertama saya dengan teh Tini dan teh Tina. Mbak Liza sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya.
Mereka bertiga adalah bagian dari komunitas Penulis Tangguh, yang saya dirikan di tahun 2012. Senang akhirnya Allah berikan waktu untuk kami bertemu dan saling berkenalan plus bekerja sama.

Alhamdulillah, sudah selesai semuanya.
Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari lomba ini.
Saya bersyukur Allah lebarkan pikiran sempit saya, sehingga bisa memandang dunia lebih luaaaaas lagi.

Pentingnya Anak Belajar Akhlak Rasulullah

Anak kita mencontoh dari siapa? Teladan keseharian anak-anak setelah orangtuanya siapa?
Apakah tokoh-tokoh dalam film kartun dari Barat? Atau tokoh lainnya?

Kita sebagai orangtua, lebih senang mengenalkan tokoh imajinatif yang datangnya dari Barat, dan melalaikan tokoh utama yang harusnya kita kenalkan sejak dulu pada anak-anak. Rasulullah tercinta sering kita lupakan.
Padahal teladan akhlak Rasulullah yang memang Allah utus sebagai penyempurna akhlak, harusnya dikenalkan lebih dahulu pada anak.

Saya ditantang penerbit Gema Insani Press untuk menuliskan kisah Rasulullah.
Ada 10 buku Akhlak Rasulullah. Masing-masing buku berisi dua contoh akhlak Rasulullah.
Itu artinya dalam 10 buku, ada 20 cerita sehari-hari anak. Kisah ini adalah pengembangan dari hadist dan kisah rujukan yang juga ada dalam buku tersebut.

Ada dua tokoh utama dalam buku tersebut.
Kisah anak laki-laki diwakili oleh tokoh anak bernama Zaki. Kisah merujuk dengan karakter seperti anak laki-laki pada umumnya.
Sedang kisah anak perempuan diwakili olehAisyah. Aisyah yang belajar banyak dari contoh-contoh di sekelilingnya.

Akhlak apa saja yang ada di dalam buku ini?
1. Lemah Lembut dan Bertanggung Jawab
2. Menjaga Kehormatan Diri dan Jujur
3. Ceria dan Murah Hati
4. Mendamaikan yang Berseteru dan Penyayang
5. Menepati Janji dan Pemaaf
6. Dapat Dipercaya dan Zuhud
7. Berkata Baik dan Pemberani
8. Malu Berbuat Dosa dan Bekerja Keras
9. Rendah Hati dan Sabar
10. Memuliakan Tamu dan Menghormati Tetangga

Kado Terindah untuk Sasi

Sasi menghitung.
Satu, dua, tiga, empat. Pada bilangan keempat puluh, Sasi menarik napas panjang. Tangannya mendadak menyentuh wajahnya. Mencubitnya. Tidak kenyal lagi seperti dulu. Tidak selicin kulit anak-anak bayi yang suka ia pinjam dari ibu-ibu tetangga, lalu ia nikmati aroma wangi mereka yang berbeda. Keringat, bedak, minyak kayu putih bercampur menjadi satu.

Sasi menghitung.
Meskipun ia biasanya mencoba untuk melupakan. Tanggal tahun berganti. Usianya bertambah. Lalu masa lalu hanya kenangan. Kenangan semu.

“Berapa umur Ibu?”
Sasi tersenyum. Memandang anak gadisnya. “Pantasnya berapa?”
“Ibu jujur, dooong.”

Sasi tertawa.
Sudah banyak bahagia ia dapat. Bahagia yang menurut orang lain susah menjalaninya. Ia harus menapaki banyak anak tangga demi meraih bahagianya. Ia harus bersusah payah mengayuh sepeda lalu berhenti di sebuah tempat, mengeluarkan kertas pulpen, juga bukum lalu bertanya,” Bisakah saya membacakan buku cerita untuk tempat ini? Atau mungkin mengajarkan menulis?”
Dan jawabannya tetap sama, dari satu gelengan ke gelengan lain, dengan tatapan memandanginya dari atas ke bawah, berujung pada sepeda yang teronggok begitu saja.
Sasi memahami.
Semua diukur dengan apa yang memang biasa diukur oleh manusia. Sepedanya, lalu motor bututnya selalu menjadi penilaian pertama dari orang-orang yang didatangi. Terkadang Sasi berpikir, apakah mereka menanam prasangka buruk di benak mereka dan merasa bahwa Sasi hanya seorang yang butuh pekerjaan?

“Jangan lupa tanggal 6 Mareeet.”
Suara riuh itu membuat ingatan Sasi kembali. Membuat Sasi tersenyum. Anak-anak yang belajar di rumahnya yang ia sulap sebagai sanggar, dan dibuka setiap Sabtu dan Minggu.
Anak yang datang silih berganti. Ada yang sekali datang lalu pergi. Ada yang bertahun-tahun tetap rajin datang, untu belajar apa saja yang Sasi ajarkan. Bahkan satu dua membawa teman.
“Kita patungan…”
“Sssst…., Ibu Sasi tidak ulang tahun. Ibu kan sudah tua.”
Tapi anak-anak berbisik lagi. Riuh lagi. “Pokoknya 6 Maret, yaaa.”

Sasi menarik napas panjang.
Panjang sekali. Sepanjang perjalanannya untuk berada pada satu titik bahagia seperti sekarang ini.
Sebuah sanggar yang ia putuskan untuk ia buka sendiri di rumah. Setelah menawarkan buku-buku koleksinya untuk ditaruh di tempat di mana anak-anak berkumpul, hanya mendapat jawaban nanti akan dipikirkan lagi pengurus. Berganti pengurus tetap jawaban yang sama.

“Ibu Sasi punya buku cerita. Ayoooo, siapa yang mau pinjam?”
Sasi ingat itu akhirnya yang ia lakukan. Menawarkan buku-bukunya pada anak-anak. Meminta mereka belajar di rumah. Tidak usah bayar. Gratis. Yang penting buku-buku koleksinya tidak hanya dinikmati anak-anaknya saja.
Hingga akhirnya anak-anak datang, untuk belajar apa saja. Memenuhi ruang tamu Sasi dengan cat, kuas, kertas origami, bahkan adonan kue.
Semua membuat Sasi sungguh bahagia.
Sasi tidak pernah bilang cinta pada anak-anak. Tapi Sasi yakin, anak-anak yang datang paham bahasa cintanya.

“Eh…, itu Ibu Sasi. Ayoooo.”
Sasi terkejut. Anak-anak juga terkejut ketika ia ke luar rumah, lalu cepat-cepat menyembunyikan kadonya di belakang punggung mereka.
“Ayooo, itu Ibu Sasi.”
Sasi pura-pura tidak melihat dan terus berjalan. Lalu anak-anak berlarian menyusulnya dan memberikan sebuah kado.
“Selamat ulang tahuuuun.”
Sebuah kado untuknya. Yang dibungkus kertas kado. Entah apa dalamnya.
“Jangan lupa dipakai besok, yaaaa.”
Sasi tersenyum. Bungkus kertas kado itu dibuka, di dalamnya ada bungkusan koran, di dalamnya lagi dibungkus kertas kado, di dalamnya lagi dibungkus koran, berujung pada sebuah kardus susu yang di dalamnya diisi koran dan sebuah kerudung manis berwarna kuning dan beberapa buah surat untuknya.

Apakah yang lebih manis dari ketulusan yang dibayar dengan cinta?
“Ibu Sasiiii, kerudungnya bikin Ibu Sasi tambah cantik.”
Sasi tertawa.
Seperti biasa mereka berkumpul. Sasi sudah siapkan semuanya untuk mereka. Brownies dengan coklat di tengahnya, plus vla coklat di atasnya juga parutan keju. Anak-anak minta keju lebih banyak lagi. Dan ia biarkan mereka mengambil juga memarutnya.

Sebuah pesta kecil akhirnya terjadi.
Dikelilingi anak-anak yang menerima kesungguhannya sepenuh hati. Sasi tahu, ia memang tidak perlu menghitung usia.